Mag-log inCahaya pagi masuk melalui celah dinding rumah Mak Su, tetapi Nadya masih duduk di tempat yang sama.Gunting terletak di atas pahanya. Riko tertidur sambil bersandar pada tiang ruang tengah, seolah sejak malam tadi ia sengaja menempatkan tubuhnya di antara Nadya dan pintu.Mak Su tidak menyuruh mereka masuk kamar. Ia membiarkan pintunya sendiri terbuka, lalu bergerak pelan agar setiap suara dapat didengar Nadya lebih dahulu.Ketika hendak menutup jendela, ia berhenti beberapa langkah dari tempat Nadya duduk.“Aku mau tutup jendela.”Nadya mengangguk.Tangannya tetap menggenggam gunting sampai kait jendela terpasang.Mak Su kemudian meletakkan baskom berisi air hangat, kain bersih, dan pakaian lama milik Yuli di dekat dapur.“Pak Karim sudah melarang Hendra datang ke sini,” katanya. “Ada orang yang menjaga jalan kebun sampai tadi subuh.”“Aku bersihkan sendiri.”“Baik.”Mak Su mengajak Riko ke halaman belakang dan menutup tirai dapur. Ia tidak mendekat, tidak bertanya, dan tidak mencoba
Rumah Hendra tidak lagi terlihat ketika Nadya mencapai pagar kebun.Di persimpangan kecil, ia berhenti sesaat untuk memilih jalan. Jalan besar lebih terang, tetapi Hendra dapat mengejarnya dengan motor. Nadya memilih jalur kebun lada menuju rumah Mak Su.Satu tangannya menggenggam gunting, sedangkan tangan lainnya menahan pakaiannya yang robek.Ranting mengenai wajah dan lengannya.Jalan besar lebih terang, tetapi Hendra dapat mengejarnya dengan motor. Nadya memilih jalur kebun lada menuju rumah Mak Su.Ranting mengenai wajah dan lengannya. Setiap daun yang menyentuh kulit membuat tubuhnya tersentak seolah ada tangan yang kembali meraihnya.Suara motor terdengar dari jalan besar.Nadya merunduk di antara tanaman dan menutup mulut. Cahaya kendaraan melintas tanpa berbelok ke kebun. Ia tetap berdiam sampai suara mesinnya benar-benar menjauh.Jalur menuju sumur tua sulit dikenali dalam gelap. Nadya tersandung akar dan jatuh pada lututnya. Gunting terlepas, menghilang di antara daun kerin
Gagang pintu turun.Selot beradu dengan besi pengait, disusul bunyi kaki kursi yang menggesek lantai. Nadya tidak bergerak dari sisi ranjang. Gunting sudah berada dalam genggamannya, tetapi telapak tangannya begitu basah hingga gagangnya terasa licin.Di luar, Hendra tidak mengetuk.Ia juga tidak memanggil nama Nadya atau mengulang alasan bahwa dirinya hanya ingin bicara. Tidak ada lagi usaha untuk terdengar seperti seorang ayah yang hendak menasihati anaknya.Hanya ada napas berat dari balik pintu.Nadya melihat sekeliling kamar. Ranjang menempel pada dinding. Jendela kecil di atas meja terlalu sempit untuk dilewati. Satu-satunya jalan keluar berada di belakang tubuh Hendra.Kamar yang selama ini menjadi tempatnya belajar, menyimpan pakaian, dan bersembunyi kini terasa tidak lebih besar daripada sebuah kotak.Riko berada di rumah Mak Su.Lina berada di warung.Tidak ada langkah kaki lain di rumah itu.Untuk pertama kalinya, Nadya mengerti bahwa malam ini ia tidak dapat menunggu seseo
Senin pagi, Nadya berjalan kaki ke sekolah.Sepedanya masih dirantai pada tiang warung. Hendra tidak menjualnya seperti yang diancamkan. Ia sengaja membiarkan sepeda itu terlihat, tetapi tidak dapat digunakan sebelum Nadya membawa Riko pulang.Uang Rp17.500 disimpan di dalam kotak pensil. Sejak malam sebelumnya, Nadya telah membaginya menjadi tiga bagian: Rp10.000 untuk sekolahnya, Rp5.000 untuk Riko, dan Rp2.500 yang tidak boleh disentuh kecuali ia harus pergi.Ketika tiba, halaman sekolah sudah dipenuhi murid. Nadya langsung menuju ruang tata usaha.Bu Sulastri berdiri di samping meja petugas.“Hari ini saya bayar sepuluh ribu dulu, Bu.”Petugas menghitung uang itu, lalu mencatatnya pada buku pembayaran.“Sisanya dua puluh lima ribu,” kata Bu Sulastri. “Seragam penggantimu masih disimpan sampai lunas.”Nadya menerima tanda pembayaran.“Jumat saya bayar lagi.”“Berapa?”“Berapa pun yang saya dapat.”Bu Sulastri memandangnya dari balik kacamata.“Jangan berjanji kalau belum tahu caran
Ketukan di pintu depan terdengar lagi sebelum Riko sempat menaiki sepedanya.“Pergi,” bisik Nadya.“Ce ikut.”“Kalau keluar berdua, mereka lihat.”Dari kamar Hendra terdengar ranjang berderit.“Lewat kebun lada,” kata Nadya. “Jangan ambil jalan besar. Setelah sumur tua, belok kiri.”Riko masih menatapnya.“Kalau Hendra pukul Ce?”“Cepat, Ko.”Nadya mengangkat roda depan sepeda melewati ambang agar tidak membentur papan. Begitu kedua rodanya menyentuh tanah, Riko naik dan mengayuh tanpa menyalakan lampu.Bayangannya segera hilang di antara rumpun pisang.Nadya menutup pintu belakang.Langkah Hendra terdengar dari lorong.“Kalian mau ke mana?”Ia berdiri di pintu dapur dengan rambut berantakan. Pandangannya jatuh pada sepeda Nadya yang masih berada dekat tungku.“Riko mana?”“Dak tahu.”Hendra berjalan cepat menuju kamar Riko. Beberapa detik kemudian ia kembali dengan wajah mengeras.“Mana dia?”Ketukan kembali menghantam pintu depan.“Buka!” teriak Bahar.Hendra menyambar lengan Nadya
Jumat pagi, Nadya dipanggil ke ruang guru saat jam istirahat. Bu Sulastri duduk di balik meja dengan buku pembayaran terbuka. Kacamatanya turun hingga ujung hidung ketika mencari nama Nadya.“Sisa buku, iuran, sama cicilan seragam penggantimu masih tiga puluh lima ribu,” katanya. “Sudah lewat dua minggu.”Nadya melihat angka di samping namanya. Dari kewajiban sebesar Rp75.000, Lina baru membayar Rp40.000. Seragam penggantinya masih disimpan sekolah sampai cicilannya lunas.“Bisa Senin, Bu?”“Senin harus dibawa.” Bu Sulastri menyerahkan selembar surat. “Kau sudah kelas tiga. Jangan sampai urusan pembayaran mengganggu sekolahmu.”Bel masuk berbunyi. Nadya menyelipkan surat itu ke dalam tas dan kembali ke kelas.Uangnya tinggal Rp7.500 setelah membeli selot, gembok, dan paku.Jumlah itu bahkan belum cukup untuk membayar setengah tunggakannya.Ketika Nadya tiba di warung, Riko sedang memasukkan kayu ke tungku. Lina sibuk membungkus nasi untuk dua pekerja, sementara beberapa gelas kotor me







