LOGINMinggu, 17 Maret 2002.
Nadya terbangun sekitar pukul tujuh ketika cahaya pagi baru menyusup dari sela tirai. Matanya masih berat dan tubuhnya menyisakan pegal dari kemarin, tetapi begitu pandangannya jatuh pada pintu balkon, kantuk itu perlahan menghilang. Rencana liar yang semalam hanya hidup di kepalanya kembali begitu jelas hingga bagian bawah perutnya berdenyut pelan.
Yamamoto masih tertidur pulas di sebelahnya. Nadya menatap wajah lelaki itu sebentar, kemudian turun dari te
Selasa, 4 Maret 2003Nadya tiba di gedung perusahaan Takahashi menjelang pukul sebelas dengan map Bumi Lintas di tangan. Kali ini tidak ada lampu redup, musik, atau meja penuh botol seperti ketika mereka bertemu di Ginza. Ia menyebut nama lengkapnya kepada resepsionis, menyerahkan kartu Bumi Lintas, lalu mengatakan Takahashi dari Production Control sudah bersedia menerima company profile yang dibawanya.Ia menunggu hampir dua puluh menit sebelum lelaki Jepang itu muncul dari pintu di ujung lobby. Takahashi masih mengenakan seragam kerja perusahaan dan terlihat sedikit terburu-buru, tetapi wajahnya berubah ketika mengenali Nadya.“Dira.”“Nadya kalau di sini,” jawabnya dalam bahasa Jepang.Takahashi tersenyum. “Saya harus ingat dua nama sekarang?”“Cukup satu kalau urusan kerja.”Lelaki itu tertawa kecil dan mengajaknya duduk di ruang tamu dekat lobby. Nadya mengeluarkan company profile y
Senin, 3 Maret 2003Satu truk masih terparkir di sisi gudang ketika Nadya tiba di Cakung menjelang siang. Biasanya pada jam seperti itu kendaraan tersebut sudah bergerak membawa barang Yamashiro, tetapi sejak Sabtu status hold berlaku dan belum ada pekerjaan lain yang mengisi jadwalnya.Di kantor kecil, Arman sedang membuka kembali beberapa quotation lama. Januar duduk di seberangnya dengan telepon di dekat tangan, sesekali menghubungi pelanggan yang pernah meminta harga tetapi tidak melanjutkan pembicaraan. Tidak ada suasana panik, hanya meja yang lebih penuh kertas daripada biasanya.“Belum ada?” tanya Nadya sambil meletakkan tas.“Yang kecil ada,” jawab Arman. “Yang bisa gantiin Yamashiro, belum.”Januar menutup telepon setelah percakapan singkat yang tampaknya tidak menghasilkan apa-apa. “Makanya jangan nyari pengganti persis. Cari kerjaan dulu.”Nadya menarik kursi kosong lalu membuka domp
Jumat, 28 Februari 2003Mesin fax di kantor kecil Cakung berbunyi ketika Januar sedang berdiri di depan meja Arman. Nadya yang baru datang dari kampus belum sempat meletakkan tas ketika lembar pertama keluar perlahan, disusul halaman berikutnya dengan logo Yamashiro di bagian atas.Tidak seorang pun langsung bicara.Arman mengambil kertas itu setelah halaman terakhir selesai tercetak. Sebagian isinya menggunakan bahasa Jepang dengan beberapa keterangan dalam bahasa Inggris. Nadya berdiri di sampingnya, mencoba membaca bagian yang mampu dipahaminya sebelum Arman menyerahkan halaman kedua kepada Januar.Ada tiga kalimat yang tidak perlu diterjemahkan panjang-panjang.Pengiriman yang sudah berjalan dapat diselesaikan sampai akhir Februari.Mulai 1 Maret, tidak ada purchase order baru untuk Bumi Lintas.Status vendor ditahan sampai proses evaluasi berikutnya selesai.“Jadi hold,” kata Januar.Arman mengangguk pel
Selasa, 25 Februari 2003Pukul setengah sembilan pagi, halaman gudang Bumi Lintas sudah berjalan seperti biasa. Satu truk sedang dipanaskan mesinnya, dua pekerja memindahkan beberapa barang di sisi gudang, sementara Arman berdiri di depan kantor kecil dengan map di tangan.Januar keluar dari dalam dan melihat sekeliling. “Jangan ada yang dibikin beda cuma karena mereka datang.”Arman tersenyum tipis. “Kalau ada kardus miring, dibiarin juga?”“Kalau memang biasanya miring, iya.”Nadya yang berdiri dekat pintu menahan senyum. Sejak tadi pagi Januar sudah tiga kali mengingatkan hal yang sama: tidak ada bunga baru, tidak ada meja yang sengaja dikosongkan, tidak ada truk pinjaman yang didatangkan hanya supaya halaman terlihat penuh.Permintaan Kuroda sehari sebelumnya terlalu jelas.Ia ingin melihat Bumi Lintas sebagaimana adanya.Mobil dari Yamashiro masuk beberapa menit sebelum pukul sembilan. K
Senin, 24 Februari 2003Mobil Januar masuk ke gerbang Yamashiro beberapa menit sebelum pukul sembilan. Nadya duduk di belakang bersama Arman, mengenakan blus putih, rok hitam di bawah lutut, dan blazer tipis. Di dalam tasnya tersimpan kartu nama Bumi Lintas serta salinan kronologi yang selama seminggu terakhir sudah mereka baca berkali-kali.Gedung kantor tidak berbeda dari kunjungannya tiga bulan lalu. Dulu Nadya melewati gerbang itu membawa kartu baru bertuliskan Nadya Thung, Sales Executive, berharap Bumi Lintas mendapat kesempatan. Sekarang nama yang sama tercantum dalam dokumen kantor pusat dan menjadi salah satu alasan seseorang datang dari Tokyo.Seorang staf Purchasing membawa mereka ke ruang meeting. Yamamoto sudah berada di sana bersama dua staf Indonesia. Di ujung meja duduk lelaki Jepang berkacamata tipis, mungkin awal empat puluhan, mengenakan setelan gelap dengan map tebal di depannya. Seorang perempuan Indonesia duduk di sam
Selasa, 25 Februari 2003Pukul setengah sembilan pagi, halaman gudang Bumi Lintas sudah berjalan seperti biasa. Satu truk sedang dipanaskan mesinnya, dua pekerja memindahkan beberapa barang di sisi gudang, sementara Arman berdiri di depan kantor kecil dengan map di tangan.Januar keluar dari dalam dan melihat sekeliling. “Jangan ada yang dibikin beda cuma karena mereka datang.”Arman tersenyum tipis. “Kalau ada kardus miring, dibiarin juga?”“Kalau memang biasanya miring, iya.”Nadya yang berdiri dekat pintu menahan senyum. Sejak tadi pagi Januar sudah tiga kali mengingatkan hal yang sama: tidak ada bunga baru, tidak ada meja yang sengaja dikosongkan, tidak ada truk pinjaman yang didatangkan hanya supaya halaman terlihat penuh.Permintaan Kuroda sehari sebelumnya terlalu jelas.Ia ingin melihat Bumi Lintas sebagaimana adanya.Mobil dari Yamashiro masuk beberapa menit sebelum pukul sembilan. K







