Share

TIGA KALI

Author: Rania Arkana
last update publish date: 2026-09-26 10:09:52

Senin, 18 Maret 2002.

Yuli datang ke kos Nadya menjelang sore untuk mengambil oleh-oleh dari Bali. Begitu pintu dibuka, bukannya melihat kantong-kantong yang sudah berjejer di lantai, matanya justru berhenti pada wajah sepupunya.

“Kau kurang tidur, ya?”

Nadya menyodorkan sebungkus kacang. “Makan saja.”

Yuli menangkapnya sambil tertawa. “Berarti benar.”

Selain kacang, Nadya membawa kopi, beberapa makanan ringan, kaus Bali,

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nadya di Antara Dua Dunia   TIGA KALI

    Senin, 18 Maret 2002.Yuli datang ke kos Nadya menjelang sore untuk mengambil oleh-oleh dari Bali. Begitu pintu dibuka, bukannya melihat kantong-kantong yang sudah berjejer di lantai, matanya justru berhenti pada wajah sepupunya.“Kau kurang tidur, ya?”Nadya menyodorkan sebungkus kacang. “Makan saja.”Yuli menangkapnya sambil tertawa. “Berarti benar.”Selain kacang, Nadya membawa kopi, beberapa makanan ringan, kaus Bali, dan gantungan kecil. Tidak ada yang mahal, tetapi Yuli tetap memeriksa semuanya seperti Nadya baru kembali dari luar negeri.“Empat hari saja bawa begini. Kalau nanti benar-benar ke Jepang, jangan pura-pura lupa punya sepupu.”“Aku belajar bahasa Jepang bukan buat jadi kurir oleh-oleh.”Yuli terkekeh. “Sekarang ngomongnya sudah kayak orang sibuk.”Mereka duduk bersila di lantai sambil membuka makanan. Cerita Bali mengalir tanpa urut

  • Nadya di Antara Dua Dunia   SATU PAGI LAGI

    Minggu, 17 Maret 2002.Nadya terbangun sekitar pukul tujuh ketika cahaya pagi baru menyusup dari sela tirai. Matanya masih berat dan tubuhnya menyisakan pegal dari kemarin, tetapi begitu pandangannya jatuh pada pintu balkon, kantuk itu perlahan menghilang. Rencana liar yang semalam hanya hidup di kepalanya kembali begitu jelas hingga bagian bawah perutnya berdenyut pelan.Yamamoto masih tertidur pulas di sebelahnya. Nadya menatap wajah lelaki itu sebentar, kemudian turun dari tempat tidur tanpa membangunkannya dan masuk ke kamar mandi.Air hangat membersihkan sisa keringat dan rasa lengket pada tubuhnya. Di depan cermin Nadya teringat obrolan perempuan-perempuan Ginza tentang cara mereka merawat tubuh. Salah satunya pernah bercerita bahwa merapikan rambut sampai sangat pendek membuat sentuhan terasa berbeda. Waktu itu Nadya hanya tertawa.Pagi ini rasa penasarannya menang.Dengan gunting kecil dari perlengkapan pribadinya, Nadya merapikannya perlah

  • Nadya di Antara Dua Dunia   JANGAN LEMBUT

    Sabtu, 16 Maret 2002.Yamamoto berhenti tepat di belakang Nadya. Beberapa detik tidak ada yang bergerak. Hanya suara pendingin udara, napas mereka yang semakin berat, dan debur laut samar dari balik pintu balkon.Nadya masih mencengkeram sandaran sofa. Ia bisa merasakan keraguan lelaki itu, sisa dari dua malam sebelumnya. Ketika menoleh dari balik bahu, Yamamoto masih menunggu.“Sekarang.”Barulah tangannya turun ke pinggang Nadya.Sentuhan pertama masih terlalu tertahan. Nadya langsung mengembuskan napas tidak sabar.“Jangan lembut.”Kalimat itu seperti memutus sesuatu. Yamamoto menariknya lebih dekat dan Nadya mendesis pelan, lalu tersenyum. Sejak pantai ia memang menginginkan ini. Bukan Yamamoto yang terus menjaga jarak, melainkan lelaki yang sudah hampir dua jam dipaksanya menahan diri.Sofa bergeser sedikit.Tawa pendek Nadya segera berubah menjadi desahan. Napas Yamamoto terdengar semakin be

  • Nadya di Antara Dua Dunia   LIHAT AKU

    Sabtu, 16 Maret 2002.Pagi itu Nadya sudah mengenakan bikini biru di balik kaus putih dan celana pendek krem ketika Yamamoto keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengatakan ingin ke pantai. Yamamoto mengikutinya tanpa banyak bertanya, mungkin masih mengingat ucapan semalam bahwa hari itu Nadya yang menentukan.Di bawah payung pantai, Yamamoto melepas kaus. Tangan Nadya yang sedang membuka tas langsung berhenti. Selama ini ia lebih sering melihat lelaki itu dalam kemeja atau jas. Di bawah matahari, tubuhnya ternyata masih sangat terawat. Bahunya lebar, dada dan lengannya padat, sementara perutnya cukup rata. Garis otot di punggung ikut bergerak ketika ia membungkuk mengambil handuk.“Umur kamu sebenarnya berapa?”“Thirty-nine.”Nadya memandang sekali lagi, kali ini terang-terangan. Yamamoto menangkap tatapannya dan tersenyum sebelum berjalan menuju air. Nadya ikut menahan senyum. Ia teringat lelaki itu pernah menyebut jogging da

  • Nadya di Antara Dua Dunia   JARAK

    Jumat, 15 Maret 2002.Nadya terbangun ketika cahaya dari sela tirai sudah memenuhi kamar. Sisi tempat tidur di sebelahnya kosong. Sofa pun sudah rapi, bantal dan selimut tipis terlipat, sementara jas serta sepatu kerja Yamamoto tidak terlihat.Hampir pukul delapan ketika ia menemukan secarik kertas di meja samping tempat tidur.I’m sorry about last night.You said stop. I should stop.No excuse.I come back this afternoon.Yamamoto.Nadya membacanya dua kali. Kertas itu sempat hendak diremas sebelum akhirnya hanya dilipat sekali dan diletakkan kembali.Setelah mandi, ia mengenakan celana pendek krem, atasan putih ringan, dan sandal datar. Saat keluar kamar, Nadya sempat menoleh ke meja tempat surat tadi berada.Ia tidak membawanya.Di lobby, bahasa Jepang terdengar hampir di mana-mana. Rombongan wisatawan menunggu bus dengan kamera dan tas belanja. Beberapa perempuan muda sibuk berfoto, sementara pasangan yang lebih tua membaca brosur. Seorang pemandu Bali berbicara dengan campuran ba

  • Nadya di Antara Dua Dunia   TERLALU JAUH

    Kamis, 14 Maret 2002.Dinner berlangsung di restoran sebuah hotel di Nusa Dua sebagai bagian dari koordinasi regional yang dihadiri orang-orang dari Jakarta dan Surabaya. Di meja itu ada dua orang Jepang, Sato dan Takahashi, serta tiga orang Indonesia dari customer dan partner bisnis, termasuk Arman Pranoto.Yamamoto memperkenalkan Nadya hanya dengan namanya.“This is Nadya.”Mereka bersalaman lalu duduk. Arman, lelaki sekitar empat puluhan yang berada hampir berhadapan dengan Nadya, paling mudah membuka percakapan. Berbeda dengan Gunawan yang pernah ditemuinya di Jakarta, lelaki itu banyak tersenyum dan cepat berpindah dari urusan pekerjaan ke obrolan ringan.Nadya lebih banyak mendengarkan pembicaraan tentang hasil meeting siang, agenda keesokan hari, kebutuhan customer, dan jadwal pengiriman. Bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang bercampur. Sebulan tambahan di Evergreen membuatnya tidak lagi sepenuhnya kehilangan arah. Ia masih terti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status