LOGINTubuhku lemas. Punggungku pasrah menyandar pada sandaran kasur. Gadis bernama Hanna begitu cemas memandangiku. Sementara aku, bengong seperti orang bodoh.
Kucerna betul-betul apa yang tengah terjadi kepadaku.
Aku, Nancy. Beberapa saat lalu hal terakhir yang kuingat adalah bersama sahabatku Abigail. Seperti biasa kami makan siang bersama di taman kampus. Aku dan dia belakangan ini membahas sebuah permainan yang cukup seru. Permainan berkencan dengan judul 'Jodoh Pangeran Naga'.
Tidak tahu dari mana Abigail tahu permainan itu. Tapi memainkannya cukup bikin aku ketagihan. Siang dan malam sampai lupa waktu mengerjakan tugas-tugas kuliah. Entah berapa kali pula aku gagal mendapatkan akhir bahagia. Berujung terbunuhnya si tokoh utama, Aegon Valerya, atau terbunuhnya gadis lajang yang kuinginkan, tiba-tiba terjadi perang, dan sebagainya.
Tapi kini aku malah berada dalam dunia permainan itu! Parahnya lagi aku menjadi tokoh yang seharusnya mati di awal cerita!
Lysa Valerya. Aku bahkan tidak terlalu ingat namanya. Yang kutahu dia mati di bagian prolog. Alasan pastinya aku tidak tahu, karena ....
Aku selalu 'skip' bagian membosankan itu! Sial!
Aegon Valerya kehilangan tunangannya dalam sebuah kecelakaan bla bla bla. Tidak penting. Sialnya bagian membosankan dan tidak penting itu menjadi kehidupanku! Akh! Pantas saja aku merasa kenal dengan kamar ini. Kamar ini adalah tempat pertama adegan prolog dan pembuka permainan.
Kucoba sekeras mungkin mengingat-ingat apa yang ada di bagian itu.
Tiba-tiba seluruh kepalaku terasa nyeri dan nyut-nyutan. Aku mengerang. Mataku terpejam erat menahan sakit yang luar biasa. Di dalam kepalaku, sekelibat ingatan masa lalu tubuh ini tergambar.
Potongan-potongan ingatan itu datang seperti pecahan kaca yang dipaksa masuk ke dalam kepalaku. Lysa Valerya ... gadis ini selalu diperlakukan buruk dan ditindas oleh orang-orang. Itu semua karena Lysa menjadi tunangan Aegon menggantikan Lyla Valerya, kakaknya. Lyla tewas karena sebuah kecelakaan maut. Dan Lysa dianggap sosok yang menjadi penyebab kecelakaan maut itu. Lysa Valerya yang malang begitu mencintai Aegon dan rela diperlakukan seburuk apapun olehnya, dan juga oleh orang-orang.
Ingatan lain muncul. Seorang pria tinggi, berambut hitam legam, berdiri di balkon dengan tatapan dingin. Angin menerpa jubahnya. Mata itu ... tajam. Menekan. Menghakimi. Aegon Valerya.
Dadaku sesak.
Lalu berganti cepat, seekor naga hitam kutunggangi. Hujan turun begitu deras. Naga ini menggeram panik. Begitu samar, pemandangan berubah menjadi langit gelap dengan rintikan hujan yang jatuh. Langit menjauh dariku dengan tubuh ini yang jatuh menimpa bumi. Teriakan terdengar samar.
"LYSA!"
Benturan keras.
Gelap.
Napas tercekat di tenggorokanku. Tubuhku refleks menegang sebelum akhirnya aku tersentak membuka mata.
"Hah—!"
"Nona Lysa!" suara Hanna pecah, panik. Tangannya segera menggenggam tanganku erat. "Nona baik-baik saja?!"
Aku tidak langsung menjawab.
Dadaku naik turun, napasku berantakan. Keringat dingin membasahi pelipis. Tapi bukan itu yang membuatku gemetar. Aku ... ingat. Sedikit, tapi cukup. Kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa.
Itu seperti ... disengaja. Seakan ada seseorang yang memang ingin aku mati.
Mataku perlahan bergerak, menatap langit-langit kamar yang megah, persis seperti di dalam game. Lalu beralih ke Hanna. Gadis itu terlihat begitu tulus ... terlalu tulus untuk seseorang yang hidup di dunia penuh intrik seperti ini.
Kalau ini mengikuti alur game. Aku seharusnya mati beberapa saat setelah kecelakaan itu. Apa mungkin ... waktuku tidak banyak? Apakah aku akan mati sebentar lagi?
Sial.
Tanganku perlahan mengepal di atas selimut.
"Oke ... pikir, Nancy ... pikir ...," gumamku pelan, hampir tak terdengar.
Aku tidak mati.
Seharusnya aku mati di prolog seperti karakter NPC tidak penting.
Kalau aku ingat benar, kematian Lysa adalah pemicu awal mula pencarian cinta Aegon. Dia yang dingin dan kejam akan menghempaskan egonya jauh-jauh demi mendekati para gadis lajang di dalam permainan ini.
Hanna masih menatapku cemas. "Nona... Anda tampak pucat. Apa saya perlu memanggil dokter lagi?"
Aku menoleh padanya, menatap lurus.
"Hanna."
"Iya, Nona?"
"Sejak kapan aku tak sadarkan diri?"
"Nona tidak sadarkan diri selama dua hari setelah kecelakaan."
Dua hari.
Jadi ... linimasa permainan ini belum terlalu jauh.
Bagus. Masih ada kesempatan untuk mengubah segalanya. Aku menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Kepalaku masih berdenyut, tapi pikiranku mulai jernih. Kalau aku mau hidup, aku harus keluar dari jalur cerita asli. Dan itu berarti ... aku harus menghindari Aegon. Atau justru ... aku harus mendekatinya sebelum semuanya terlambat?
Sial.
Pilihan yang sama buruknya. Aku tersenyum tipis, senyum yang bahkan terasa asing di wajah ini.
"Sepertinya ...," gumamku pelan, "aku harus bertindak."
Hanna mengerjap bingung. "Bertindak?"
Aku menatap ke arah jendela. Cahaya matahari sore masuk, menerangi ruangan dengan hangat kontras dengan dinginnya nasib yang menantiku.
"Tidak apa-apa," kataku ringan. "Mulai hari ini ... semuanya akan berubah."
'Tenang saja, Lysa Valerya. Aku tidak akan membiarkanmu ditindas lagi. Aku tidak akan membiarkan kita berdua mati.'
Di dalam hati, aku bertekad, aku tidak akan memilih pilihan yang salah. Tidak boleh seperti di dalam game. Aku tidak tahu berapa kesempatan yang kumiliki. Taruhannya adalah hidupku sendiri.
Cahaya lampu neon yang putih menusuk retinaku. Bau antiseptik yang tajam menyengat hidung, memicu ingatan samar tentang sesuatu yang jauh, sesuatu yang gelap dan penuh kode. Aku mengerang, berusaha menggerakkan jari-jariku yang terasa kaku."Pasien sudah sadar. Monitor detak jantungnya stabil," suara dingin seorang pria memecah keheningan.Dokter dan perawat tampak sibuk di sekeliling ranjangku, wajah mereka serius dan profesional. Aku menatap mereka dengan tatapan bingung yang mendalam. Suaraku tercekat saat bertanya, "Aku... di mana?"Dokter itu menghela napas, melepas kacamatanya. "Selamat datang kembali, Nancy. Kau berada di fasilitas medis milik perusahaan AEON, pengembang game 'Jodoh Pangeran Naga'."Tubuhku menegang. Nama itu ... itu bukan sekadar permainan."Secara medis, seharusnya kau sudah meninggal tiga tahun lalu," lanjut dokter itu dengan nada datar. "Namun, keluarga dan perusahaan sepakat untuk tidak membiarkanmu
Enma melepaskan genggamannya, dan dunia di sekitarku kembali ke realita yang mencekam. Lututku lemas, hampir saja aku ambruk ke tanah marmer yang dingin, jika saja Aegon tidak sigap memegang bahuku. Napasku memburu, paru-paruku serasa disumpal kapas.Segala kenangan yang kulihat barusan—ratusan kematian yang menyakitkan, kegagalan yang berulang-ulang, setiap kali aku harus memilih pria yang berbeda, dan setiap kali pula permainan ini mereset diriku kembali ke titik awal—semuanya membanjiri kepalaku seperti air bah. Aku bukan hanya Lysa. Aku adalah Nancy yang terjebak di dalam neraka simulasi."Lysa, jawab aku! Apa yang dia katakan soal 'Nancy'?" Aegon mendesak, suaranya dipenuhi kecemasan yang asing, namun tatapannya kini beralih pada Enma dengan kebencian yang murni. "Enma, apa yang kau lakukan pada tunanganku?!""Tunangan?" Enma tertawa kecil, suara tawa itu begitu dingin, begitu familiar. "Kau masih terjebak dalam skrip yang mereka t
Langit Akademi Aurelion tampak kelabu, seolah turut berduka atas kepergian sang penjaga kuil yang bijaksana. Kakek Daeruz telah tiada. Upacara pemakaman dilakukan dengan khidmat di pelataran kuil yang luas.Ikaruz berdiri di depan altar, tubuhnya tampak ringkih dibalut jubah hitam. Matanya sembab karena menangis semalaman, namun saat ia menatap kerumunan, ia berusaha menegakkan bahunya."Kakek Daeruz bukan hanya seorang penjaga kuil," Ikaruz memulai, suaranya parau namun perlahan menguat. "Bagi kalian, dia mungkin hanyalah orang tua yang mengoceh tentang masa lalu. Tapi bagiku, dia adalah perpustakaan hidup. Dia mengajarkanku bahwa mencintai seseorang dengan tulus, meski dunia memisahkanmu dengan tembok klan, adalah bentuk keberanian tertinggi. Dia tidak pernah menyesali pilihannya untuk tetap mencintai Maika hingga hembusan napas terakhirnya. Dia mengajarkanku bahwa kesetiaan bukan tentang apa yang kita dapatkan, tapi tentang apa yang kita pertahankan di dalam hat
Kejadian di kolam bawah tanah menyisakan gema yang panjang di Akademi Aurelion. Klan duyung kini tampak menarik diri, bayang-bayang mereka tak lagi sesering sebelumnya, seolah sedang menunggu perintah baru dari para tetua mereka. Namun, perhatian yang hilang dari klan duyung justru dialihkan oleh tatapan-tatapan intens dari klan serigala. Ke mana pun aku melangkah, bisik-bisik mereka mengikutiku, seperti kawanan predator yang sedang mengamati mangsa yang menarik perhatian sang pemimpin.Rex Skarnfang akhirnya menghentikan langkahku di koridor menuju perpustakaan. Sang Alpha itu berdiri tegak, auranya yang dominan membuat beberapa murid yang lewat segera menyingkir."Kau menghindariku, Lysa," suaranya berat, namun ada nada frustrasi yang tertahan di sana. Dia melipat tangannya di dada, matanya yang tajam menuntut jawaban. "Mengapa kau terus menolak? Menjadi Luna berarti kau akan berdiri di sisiku sebagai ratu di atas segala klan serigala. Kekuatan, perlindungan, tak
Air yang dingin segera menelan mereka.Aku belum pernah menyelam sedalam ini dengan tubuh nagaku, tanpa Napas Duyung. Meski ramuan itu membuatku bisa bernapas, bergerak di bawah air tetap terasa berat. Setiap kayuhan tangan membutuhkan tenaga berlipat ganda.Baelon tampak jauh lebih kesulitan.Jubah kepala akademi itu berkibar-kibar di belakangnya seperti bendera tenggelam. Jin berenang paling tenang. Sesekali ia memberi petunjuk arah agar Baelon tidak tersesat. Sementara itu aku memimpin."Arah sana," kataku sambil menunjuk ke dasar kolam."Bagaimana kau tahu?" tanya Baelon."Aku pernah diseret ke sana."Baelon mengerutkan dahi.Kami terus turun. Semakin dalam, cahaya dari permukaan semakin memudar. Batu-batu hitam besar mulai bermunculan. Kemudian Aku melihat sesuatu yang kukenal.Sekelompok rumput laut raksasa.Daunnya panjang dan tebal seperti ular hijau gelap yang melambai-lambai mengikuti
Tubuhku gemetar hebat. Bukan hanya karena air kolam yang dingin, melainkan karena adrenalin yang mulai surut, menyisakan ketakutan akan keselamatan Felix. Profesor Jin mungkin terlihat akan membantuku, tapi aku tahu pria itu adalah variabel yang tidak bisa diprediksi. Aku tidak bisa mengandalkannya sepenuhnya. Aku butuh sekutu yang memiliki otoritas dan kepekaan nurani yang lebih tinggi.Dengan langkah gontai, aku menyeret diriku menuju menara Kelas Ramalan. Untunglah dia belum meninggalkan kelas ini. Profesor Cleon, seorang wanita Animari burung yang anggun dan bijaksana, sedang merapikan kartu-kartu tarot kunonya."Lysa? Ada apa denganmu? Kau terlihat seperti baru saja bangkit dari kubur," tanya Profesor Cleon, matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai emas menyiratkan kekhawatiran.Aku tak membuang waktu. Dengan suara serak, aku menumpahkan segalanya—tentang konspirasi pembunuhan orang tua Felix, tentang jurnal yang disita, hingga penyanderaan yan
Aku mondar-mandir di dalam kamarku. Insiden sore ini betul-betul bikin aku kepikiran. Aku jadi cemas dan gugup. Aku begitu sembrono menampar Aegon di depan semua orang. Sekarang apa? Pria itu gila. Dia bisa lakukan apapun untuk menyakitiku."Nona Lysa. Saya sudah siapkan handuk untuk Nona."Hanna ma
Tanganku masih mengepal di samping tubuhku. Napas berat. Tenggorokan masih terasa perih bekas cengkeramannya. Aku berdiri diam beberapa saat, menatap pintu yang baru saja dibantingnya." .... Gila," gumamku pelan.Ini lebih buruk dari yang kubayangkan. Di game, Aegon memang dingin dan kejam. Tapi in
Mata emas Aegon semakin tajam dan lebih murka dari sebelumnya. Suapan kue vanilanya terhenti di udara. Lalu sendok kecil itu ia letakkan sembarangan di piring makanan penutup. Kursi berderit. Ia berdiri tiba-tiba, lalu melangkah cepat ke kursiku. Begitu kasar ia mencengkeram lengan kananku."Ayo iku
"Nona Lysa? Anda tidak apa-apa?" Hanna membuyarkan lamunanku."A-Aku cuma ... sedang berusaha mengingat-ingat.""Ah ... begitu ... syukurlah. Saya harap Nona bisa betul-betul ingat," semburat kelegaan tercipta di wajahnya.Karakter seperti Hanna, ras tikus dan yang bukan termasuk ras-ras tokoh penti







