Share

3. Elron

Author: cyllachan
last update publish date: 2026-03-13 13:46:03

"Nona Lysa? Anda tidak apa-apa?" Hanna membuyarkan lamunanku.

"A-Aku cuma ... sedang berusaha mengingat-ingat."

"Ah ... begitu ... syukurlah. Saya harap Nona bisa betul-betul ingat," semburat kelegaan tercipta di wajahnya.

Karakter seperti Hanna, ras tikus dan yang bukan termasuk ras-ras tokoh penting biasanya didominasi oleh ras hewan-hewan pengerat dan herbivora. Mereka jadi tokoh sampingan seperti pelayan, siswa akademi, penduduk desa, peternak dan lainnya.

"Pelan-pelan saja, Nona. Mungkin Nona jadi agak linglung karena benturan di kepala. Saya akan membawakan makanan."

Aku mengangguk.

Hanna pun berlalu. Sesaat setelah ia keluar dari kamar, aku bangkit dari kasur. Kupastikan diriku lagi di depan cermin. Berusaha mengingat wajah ini, Lysa Valerya. Wajah pucat, rambut putih keperakan, gadis ini begitu indah. Aku bingung, mengapa pembuat permainan memilih untuk membunuh Lysa di bagian prolog? Padahal jika ia adalah salah satu gadis Animari lajang dalam permainan, tentu aku dan Abigail pasti akan mencoba memenangkan hatinya.

Dan ia pasti akan cocok sekali dengan Aegon Valerya.

Aku menggeleng keras.

Tidak. Aku harus bertahan hidup. Mungkin sebaiknya kuhindari Aegon Valerya dan cukup jadi karakter sampingan saja.

Seseorang mengetuk pintu.

"Nona Lysa, ini saya, Hanna. Saya bawa troli makanan."

"Masuklah."

Hanna mendorong sebuah troli berisi berbagai makanan lezat dengan aroma harum. Di saat yang sama, perutku keroncongan parah. Suaranya menggelegar hingga telinga tikus Hanna mencuat singkat. Ia tersenyum padaku yang sudah tersipu malu.

"Makanlah dulu, Nona. Nona tidak sadar selama dua hari. Saya yakin Nona Lysa sangat lapar."

Aku menghela. Mungkin memang sebaiknya aku makan dulu, setelahnya bolehlah aku berstrategi.

Hanna terus-terusan meletakkan berpiring-piring daging panggang, sup, roti, sayuran hijau dan anggur merah di meja bulat. Aromanya bikin aku ngiler. Aku pun segera duduk di kursi itu. Kutelan liurku di dalam kerongkongan. Makanan ini kelihatan enak sekali. Jauh lebih baik ketimbang mie instan seduh yang sering kubeli di kantin kampus. Setelahnya Hanna berdiri mengamatiku. Aku begitu ragu, kubalas tatapan mata Hanna seakan meminta ijin untuk memakan semuanya.

"Makanlah selagi masih panas, Nona," ia mempersilahkan.

Tanpa ba bi bu, kusikat semuanya tanpa sisa. Ini adalah makanan terbaik yang kunikmati setelah aku bangkit dari kematian yang memalukan. Seusai makan, Hanna membereskan mangkuk dan piring-piring.

"Hanna, apa aku bisa bertanya sesuatu kepadamu?"

"Tentu, Nona."

"Mmm ... apa kau tahu mengapa Aegon menganggapku seorang pembunuh? Apa ... kau tahu alasannya? Apa aku pernah membunuh seseorang?"

Wajah Hanna yang ceria berubah murung. Tangannya terhenti saat mengangkati piring-piring. Ia meletakkan benda itu. Tarikan napasnya terasa berat.

"Nona juga tidak ingat ya?"

Aku kembali menggeleng pelan.

"Sebetulnya ... menurut sebagian besar orang, hal itu simpang siur. Saya lebih melihatnya sebagai kecelakaan. Kakak Anda, Lyla Valerya adalah tunangan Pangeran Aegon yang sebelumnya. Tapi ... beliau meninggal dalam kecelakaan saat menunggangi naga. Mungkin Pangeran sudah terlanjur cinta kepada mendiang Nona Lyla sehingga tidak bisa menerima kematiannya. Dan setelahnya, Nona Lysa-lah yang menggantikan menjadi tunangan beliau."

'Jadi begitu ya? Mungkin sebetulnya Aegon mengalami trauma. Jadi semuanya disalahkan kepadaku.'

"Lalu ... kenapa aku sampai disebut pembunuh olehnya? Bukannya kau bilang ia meninggal dalam kecelakaan?"

Hanna melirik ke samping dengan singkat. Ia nampak segan.

"Itu karena ... semua orang tahu Nona Lysa menginginkan posisi sebagai tunangan Pangeran. Jadi ... muncul gosip bahwa Nona sangat diuntungkan atas kematian Nona Lyla. Ada yang bilang bahwa Nona menyabotase agar kecelakaan itu terjadi. Tapi saya bersumpah! Saya selalu berpihak pada Nona Lysa! Nona tidak mungkin melakukan hal itu pada mendiang Nona Lyla!" Hanna mengangkat tangannya sungguh-sungguh.

"Jadi aku dituduh membunuh hanya karena aku menginginkan posisi sebagai tunangannya?"

Hanna mengangguk pelan.

"Dia ... kelihatan sangat membenciku, bagaimana mungkin kami bisa bertunangan?"

"Itu karena perintah dari Yang Mulia Raja Elron, Nona. Apalagi Nona Lysa adalah keturunan darah murni klan naga yang terakhir. Anda adalah gadis murni terakhir di klan naga."

Aku tercengang.

Itu artinya klan naga bisa punah jika aku dan Aegon tidak berkawin. Tamat sudah. Namun aku tahu, dalam permainan 'Jodoh Pangeran Naga', Aegon mau tidak mau akan mengawini klan lain untuk meneruskan keturunan. Meskipun kelak darah klan naga tidak murni lagi. Itu adalah usaha terakhir yang pada akhirnya diperbolehkan oleh Raja Elron.

Jujur saja aku yang masih hijau ini tidak begitu peduli dengan kemurnian darah naga apalah itu. Yang kupedulikan cuma bagaimana agar aku tidak mati di bagian prolog. Aku tak tahu kecelakaan apa yang dimaksud untuk menewaskanku. Mereka tak menjelaskan apapun di bagian itu. Tapi ... mungkin menjauhkan diriku dari Aegon bisa bikin aku tidak begitu terancam.

Hatiku sudah mantap. Aku akan memutuskan pertunangan kami. Jadi nantinya dia bisa mengejar hati gadis lajang lain sesuai alur cerita. Sementara aku bisa hidup tenang jauh dari kemelut percintaan Aegon.

Dua hari kemudian, aku berusaha keras menyesuaikan diriku dengan perlakuan pelayan istana. Dokter telah memeriksa keadaanku, dan ia menduga aku punya trauma di kepala yang membuatku hilang ingatan sebagian. Aku tak bisa menjelaskan kepadanya bahwa sebetulnya aku berasal dari dunia lain.

Tentulah tidak semua orang di kehidupan sebelumnya merupakan bangsawan. Aku melatih kalimat-kalimatku untuk memutuskan pertunangan dengan Aegon saat ada kesempatan nanti.

Dan juga ... melihat situasi apakah aku masih di bagian prolog atau tidak.

Siang ini Hanna memintaku untuk hadir di acara makan siang atas perintah Raja Elron. Aku diantarnya ke sebuah ruangan besar. Sebuah meja panjang berwarna hitam membentang. Kandelir besar dengan cahaya lilin keemasan menerangi begitu elegan dan mewah. Kursi-kursi dari kayu hitam gelap berjajar rapi. Sandaran dan dudukannya beludru merah darah. Aku begitu canggung duduk sendirian di sana, menunggu yang lain datang. Para pelayan dengan telinga hewan yang berbeda-beda berdiri teguh menunggu perintah. Aku cuma bisa menebak-nebak apa saja ras mereka.

Sesaat berikutnya pintu besar terbuka kembali. Aku berdiri untuk menyambut siapapun yang datang. Sementara para pelayan dan penjaga menegapkan tubuh-tubuh mereka agar kelihatan lebih siap.

"Ah ... Lysa ... akhirnya kita bisa bertemu lagi," Elron menyambutku. Senyumnya yang ramah membuatku tenang. "Bagaimana keadaanmu? Maaf aku tidak bisa benar-benar menjamu dengan baik karena kesibukanku."

Aku mengangguk sopan. "Senang bertemu dengan Anda, Yang Mulia. Saya sudah merasa lebih baik. Terimakasih banyak atas perhatian Anda."

"Yah ... seharusnya yang lebih perhatian kepadamu adalah putraku."

Ia pun duduk di kursi utama. Tak berapa lama kemudian, seseorang datang dari pintu besar.

Panjang umurlah dia. Orang yang kami bicarakan akhirnya masuk juga ke ruang makan. Melihatku ada di ruangan ini, air mukanya berubah menjadi jijik dan malas.

"Jadi sekarang aku juga harus makan satu meja dengannya?" cemoohnya padaku.

"Aegon! Bukankah sudah kukatakan padamu! Jaga sikapmu!"

"Cih." Ia cuma mendecih cuek.

Kemudian berbondong-bondong makanan datang ke meja kami. Ditatanya makanan ini begitu meriah. Jujur saja, dulu aku bisa kenyang dengan makan mie instan murahan. Tapi dengan tubuh klan naga ini, rasanya napsu makanku lebih besar. Apalagi kini segala masakan daging panggang bisa bikin aku ngiler.

Kami bertiga mulai makan bersama. Belum ada obrolan selain kelotakan suara alat makan di piring. Hingga akhirnya, Elron mulai menanyaiku.

"Dokter bilang kau hilang ingatan sebagian ya? Mungkin Aegon harus benar-benar menemanimu supaya kau betul-betul pulih."

Aku menggeleng keras. "Tidak perlu, Yang Mulia. Saya baik-baik saja."

"Tinggallah di sini selama yang kau mau, Lysa. Kelak kau juga akan menikah dengan Aegon. Kau harus membiasakan dirimu di istana."

Aku menelan ludah. Aegon meski tak bilang apa-apa, ia memicing padaku sambil mengunyah daging asapnya.

Setelah makan siang yang menegangkan itu usai, Elron lebih dulu kembali ke ruang kerjanya. Sementara Aegon tinggal lebih lama untuk makanan penutup dan ... memperingatkanku.

"Kau jangan senang dulu. Ayahku memang membelamu, tapi aku tidak akan pernah," ketusnya.

"Aegon ... aku ingin bicara denganmu."

"Apa?"

"Bagaimana kalau ... kita batalkan saja pertunangan ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (22)
goodnovel comment avatar
Mar Atus
hidupnya udh lebih baik tapi dapet calon suami macam psyco
goodnovel comment avatar
arsen
setujuuuu eh tapi jadi aman atau malah banyak yg ngincer kalau batal tunangan
goodnovel comment avatar
karin
woooaaaa aku jadi ikut laper sama menu nya eh tapi Aegon mau ngga ya menyelidiki kenapa lysa dan Lyla jatuh dari naga
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Naga Penakluk Hati   114. Epilog

    Cahaya lampu neon yang putih menusuk retinaku. Bau antiseptik yang tajam menyengat hidung, memicu ingatan samar tentang sesuatu yang jauh, sesuatu yang gelap dan penuh kode. Aku mengerang, berusaha menggerakkan jari-jariku yang terasa kaku."Pasien sudah sadar. Monitor detak jantungnya stabil," suara dingin seorang pria memecah keheningan.Dokter dan perawat tampak sibuk di sekeliling ranjangku, wajah mereka serius dan profesional. Aku menatap mereka dengan tatapan bingung yang mendalam. Suaraku tercekat saat bertanya, "Aku... di mana?"Dokter itu menghela napas, melepas kacamatanya. "Selamat datang kembali, Nancy. Kau berada di fasilitas medis milik perusahaan AEON, pengembang game 'Jodoh Pangeran Naga'."Tubuhku menegang. Nama itu ... itu bukan sekadar permainan."Secara medis, seharusnya kau sudah meninggal tiga tahun lalu," lanjut dokter itu dengan nada datar. "Namun, keluarga dan perusahaan sepakat untuk tidak membiarkanmu

  • Naga Penakluk Hati   113. Kemenangan

    Enma melepaskan genggamannya, dan dunia di sekitarku kembali ke realita yang mencekam. Lututku lemas, hampir saja aku ambruk ke tanah marmer yang dingin, jika saja Aegon tidak sigap memegang bahuku. Napasku memburu, paru-paruku serasa disumpal kapas.Segala kenangan yang kulihat barusan—ratusan kematian yang menyakitkan, kegagalan yang berulang-ulang, setiap kali aku harus memilih pria yang berbeda, dan setiap kali pula permainan ini mereset diriku kembali ke titik awal—semuanya membanjiri kepalaku seperti air bah. Aku bukan hanya Lysa. Aku adalah Nancy yang terjebak di dalam neraka simulasi."Lysa, jawab aku! Apa yang dia katakan soal 'Nancy'?" Aegon mendesak, suaranya dipenuhi kecemasan yang asing, namun tatapannya kini beralih pada Enma dengan kebencian yang murni. "Enma, apa yang kau lakukan pada tunanganku?!""Tunangan?" Enma tertawa kecil, suara tawa itu begitu dingin, begitu familiar. "Kau masih terjebak dalam skrip yang mereka t

  • Naga Penakluk Hati   112. Enma Valerya

    Langit Akademi Aurelion tampak kelabu, seolah turut berduka atas kepergian sang penjaga kuil yang bijaksana. Kakek Daeruz telah tiada. Upacara pemakaman dilakukan dengan khidmat di pelataran kuil yang luas.Ikaruz berdiri di depan altar, tubuhnya tampak ringkih dibalut jubah hitam. Matanya sembab karena menangis semalaman, namun saat ia menatap kerumunan, ia berusaha menegakkan bahunya."Kakek Daeruz bukan hanya seorang penjaga kuil," Ikaruz memulai, suaranya parau namun perlahan menguat. "Bagi kalian, dia mungkin hanyalah orang tua yang mengoceh tentang masa lalu. Tapi bagiku, dia adalah perpustakaan hidup. Dia mengajarkanku bahwa mencintai seseorang dengan tulus, meski dunia memisahkanmu dengan tembok klan, adalah bentuk keberanian tertinggi. Dia tidak pernah menyesali pilihannya untuk tetap mencintai Maika hingga hembusan napas terakhirnya. Dia mengajarkanku bahwa kesetiaan bukan tentang apa yang kita dapatkan, tapi tentang apa yang kita pertahankan di dalam hat

  • Naga Penakluk Hati   111. Maika

    Kejadian di kolam bawah tanah menyisakan gema yang panjang di Akademi Aurelion. Klan duyung kini tampak menarik diri, bayang-bayang mereka tak lagi sesering sebelumnya, seolah sedang menunggu perintah baru dari para tetua mereka. Namun, perhatian yang hilang dari klan duyung justru dialihkan oleh tatapan-tatapan intens dari klan serigala. Ke mana pun aku melangkah, bisik-bisik mereka mengikutiku, seperti kawanan predator yang sedang mengamati mangsa yang menarik perhatian sang pemimpin.Rex Skarnfang akhirnya menghentikan langkahku di koridor menuju perpustakaan. Sang Alpha itu berdiri tegak, auranya yang dominan membuat beberapa murid yang lewat segera menyingkir."Kau menghindariku, Lysa," suaranya berat, namun ada nada frustrasi yang tertahan di sana. Dia melipat tangannya di dada, matanya yang tajam menuntut jawaban. "Mengapa kau terus menolak? Menjadi Luna berarti kau akan berdiri di sisiku sebagai ratu di atas segala klan serigala. Kekuatan, perlindungan, tak

  • Naga Penakluk Hati   110. Pertukaran

    Air yang dingin segera menelan mereka.Aku belum pernah menyelam sedalam ini dengan tubuh nagaku, tanpa Napas Duyung. Meski ramuan itu membuatku bisa bernapas, bergerak di bawah air tetap terasa berat. Setiap kayuhan tangan membutuhkan tenaga berlipat ganda.Baelon tampak jauh lebih kesulitan.Jubah kepala akademi itu berkibar-kibar di belakangnya seperti bendera tenggelam. Jin berenang paling tenang. Sesekali ia memberi petunjuk arah agar Baelon tidak tersesat. Sementara itu aku memimpin."Arah sana," kataku sambil menunjuk ke dasar kolam."Bagaimana kau tahu?" tanya Baelon."Aku pernah diseret ke sana."Baelon mengerutkan dahi.Kami terus turun. Semakin dalam, cahaya dari permukaan semakin memudar. Batu-batu hitam besar mulai bermunculan. Kemudian Aku melihat sesuatu yang kukenal.Sekelompok rumput laut raksasa.Daunnya panjang dan tebal seperti ular hijau gelap yang melambai-lambai mengikuti

  • Naga Penakluk Hati   109. Bantuan

    Tubuhku gemetar hebat. Bukan hanya karena air kolam yang dingin, melainkan karena adrenalin yang mulai surut, menyisakan ketakutan akan keselamatan Felix. Profesor Jin mungkin terlihat akan membantuku, tapi aku tahu pria itu adalah variabel yang tidak bisa diprediksi. Aku tidak bisa mengandalkannya sepenuhnya. Aku butuh sekutu yang memiliki otoritas dan kepekaan nurani yang lebih tinggi.Dengan langkah gontai, aku menyeret diriku menuju menara Kelas Ramalan. Untunglah dia belum meninggalkan kelas ini. Profesor Cleon, seorang wanita Animari burung yang anggun dan bijaksana, sedang merapikan kartu-kartu tarot kunonya."Lysa? Ada apa denganmu? Kau terlihat seperti baru saja bangkit dari kubur," tanya Profesor Cleon, matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai emas menyiratkan kekhawatiran.Aku tak membuang waktu. Dengan suara serak, aku menumpahkan segalanya—tentang konspirasi pembunuhan orang tua Felix, tentang jurnal yang disita, hingga penyanderaan yan

  • Naga Penakluk Hati   10. Awal Mula

    Langkahku makin cepat. Lorong kastil terasa panjang. Terlalu panjang. Sial. Aku tidak menoleh. Tidak boleh. Kalau aku menoleh, dia pasti ...."Hey!"Suaranya. Dekat. Terlalu dekat. Tanganku refleks mengepal. Aku berhenti. Namun tidak berbalik."Aku sudah bilang aku tidak akan bicara lagi denganmu,"

  • Naga Penakluk Hati   9. Takut

    Aku memakai baju tidurku sedini mungkin sebelum Hanna atau siapapun datang ke kamarku. Untunglah Hanna tak bertanya yang aneh-aneh melihat kamar yang berantakan. Pagi itu aku tidak menunggu lama setelah berdandan.Dengan wajah masih panas dan kepala penuh tanda tanya, aku langsung keluar dari kamar.

  • Naga Penakluk Hati   8. Pemilik Kamar

    Mimpi buruk yang kutakutkan terjadi. Tangan kiri Aegon yang bebas ... kini justru beralih memegang dada kananku. Aku bisa merasakan seluruh jarinya di bawah sana."Oh ... yang tadi kupegang ini rupanya?" Ia bertanya pada dirinya sendiri."Le-Lepaskan!"Tangannya malah makin menjadi. Ia meremas-remas

  • Naga Penakluk Hati   7. Punah

    "Hhhh ... sialan. Kenapa Berto harus bikin kaget seperti itu sih," gerutunya.Aku masih diam dan menahan rasa malu yang luar biasa. Kami hening di posisi yang sama. Rasanya mau menangis. Aku bisa merasakan tangannya yang kasar dan jari-jarinya yang panjang menggenggam buah dadaku."Ah!"Dan akhirnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status