Home / Fantasi / Naga Penakluk Hati / 3. Jembatan Lima Raja

Share

3. Jembatan Lima Raja

Author: cyllachan
last update publish date: 2026-03-13 13:46:03

Mata emas Aegon semakin tajam dan lebih murka dari sebelumnya. Suapan kue vanilanya terhenti di udara. Lalu sendok kecil itu ia letakkan sembarangan di piring makanan penutup. Kursi berderit. Ia berdiri tiba-tiba, lalu melangkah cepat ke kursiku. Begitu kasar ia mencengkeram lengan kananku.

"Ayo ikut aku!" perintah Aegon.

Ia menarikku keluar dari ruang makan. Begitu memaksa, begitu tergesa. Melalui lorong kastil yang panjang dan dihias permadani merah darah serta tembok hitam yang digantungi lukisan-lukisan mahal. Ia membawaku ke sebuah ruangan lain yang tak banyak orang. Ia jeblakkan pintu itu dengan kasar. Lalu menutupnya sembarangan. Dentuman keras antar kayu pintu terdengar seperti ledakan kecil.

Entah ruang apa ini, mungkin ruang santai biasa dengan sofa-sofa dan meja kecil.

"Akk!"

Aegon mencekikku. Lagi. Tangannya begitu cepat menguasai leher. Aku didorongnya dan dipojokkannya ke daun pintu. Tubuh kami dekat, tatapannya dengan sepasang mata emas begitu mengerikan.

"Kau bicara apa, hah?" tanyanya tajam.

"Aku ... aku cuma minta agar tunangan kita dibatalkan. Ukkh! Tolong! Lepaskan!"

"Permainan macam apa yang sedang kau lakukan padaku?"

Aku menggeleng semampuku.

"Tidak. Sungguh. Aku tidak mempermainkanmu. Aku cuma ingin pertunangan kita batal ... karena kau sepertinya sangat membenciku."

Barulah Aegon melunak. Ia melepas cengkeramannya dari leherku, namun matanya tidak. Aku membungkuk dan menarik napas dalam-dalam begitu terburu. Kuraba leherku yang masih utuh dan lepas dari rasa sakit.

"Ukh. Jika kau tidak suka dengan pertunangan ini, kita batalkan saja," ulangku.

Alis hitam Aegon mengernyit. Mungkin sedang mencerna kalimat-kalimatku. Juga begitu waspada.

"Kau betul-betul sakit ya? Kepalamu betul-betul kena benturan keras."

"Hah? Apa? Tidak! Sungguh! Aku waras kok! Aku tidak gila!"

"Tapi kau terlihat gila bagiku."

'Hah? Apa-apaan sih ini orang?'

"Ah. Sudahlah. Pokoknya kita batalkan pertunangan kita. Anggap saja kau tak pernah mengenalku. Jika nanti ayahmu keberatan, biar aku yang menjelaskan kepadanya."

Bukannya Aegon merasa lega, ia malah mendecak kesal padaku.

"Kau betul-betul tidak mengerti ya? Klan kita di ambang kepunahan! Maka dari itu ayahku memintaku bertunangan denganmu."

"Tapi itu bukan keinginanmu, kan? Buat apa bertunangan denganku kalau kau tak punya perasaan apa-apa padaku?"

Aegon nampak tercengang. Ia terlihat kaget sekaligus bingung. Mata emasnya menyelidik padaku.

"Apa yang sebetulnya kau inginkan, Lysa?"

"Hhh, harus berapa kali kukatakan, aku ingin membatalkan pertunangan kita. Jika kau cemas dengan keturunan klan naga, kau kan bisa mencari gadis klan lain untuk kau nikahi."

Soal ini aku tahu. Karena pernikahan antar klan bisa dilakukan. Hanya saja klan naga yang paling tua, tradisional dan konservatif kemungkinan besar akan menolak hal itu. Kemurnian darah naga adalah segalanya bagi mereka.

Aegon terlihat berpikir di hadapanku.

Aku menjulurkan tanganku kepadanya, mengharapkan balasan jabat tangan tanda setuju darinya.

"Bagaimana? Setuju?"

Aegon lengang sejenak. Namun akhirnya ia angkat bicara.

"Ini semua gara-gara kau, Lysa. Ini semua salahmu. Gara-gara kau Lyla tewas. Kau jadi satu-satunya gadis naga murni di dunia ini. Dan kau jadi seenaknya! Semuanya gara-gara kau!"

Aku menelan ludah. Uluran tanganku perlahan turun.

"Aegon ... jika kau bersikeras bahwa aku penyebab kematian Lyla, kumpulkanlah semua bukti-bukti itu. Bawalah aku ke pengadilan dan lihatlah apakah aku memang bersalah atau tidak. Jika aku memang bersalah, aku siap menerima hukuman apapun itu. Tapi kau tidak bisa terus-terusan menuduhku! Aku memang bukan orang paling suci di dunia ini. Tapi membunuh kakakku sendiri hanya untuk pria sepertimu? Ya benar saja?!"

Dan begitu saja, Aegon jauh lebih kaget dari sebelumnya. Dia cuma menatapku dengan sepasang mata emas yang terbelalak.

Jujur saja aku agak takut saat mengatakan kalimat barusan. Bagaimana kalau aku memang terbukti membunuh Lyla? Bagaimana kalau mereka memberikan hukuman mati kepadaku?! Ah! Tolol sekali.

Aegon masih diam. Jika dia setuju dengan usulanku, maka tamatlah riwayatku. Aku akan diadili, mungkin dipenjara, lalu dihukum mati.

"Kau aneh." Cuma dua kata itu yang keluar dari mulut Aegon. "Sepertinya kepalamu memang rusak. Sudahlah. Aku juga tidak ingin punya hubungan apa-apa denganmu. Aku sudah muak!"

"Kalau begitu carilah gadis lain untuk kau nikahi. Aku akan bantu kau untuk menjelaskan pada ayahmu. Sungguh!"

Tatapan Aegon masih menyelidik. Tapi aku merasa dia kian melunak padaku.

"Terserahlah. Kita lihat saja nanti."

Kalimatnya barusan memberiku pertanda baik. Sungguh aku mulai merasa optimis. Jika Aegon sudah tak lagi berfokus kepadaku, maka dia akan berada pada rute game yang seharusnya. Yaitu dengan misi mendekati gadis-gadis lajang yang lain. Sedangkan aku, aku akan menjadi tokoh tidak penting yang bisa ia abaikan! Fuh. Yah setidaknya satu masalah selesai. Aku merasa tidak akan mati dalam waktu dekat.

xxx

Adegan setelah prolog adalah ketika Aegon berangkat dari Ibukota Pyraxis di wilayah pegunungan Ashen Peak, kekuasaan klan naga, menuju ke Kota Luminar, yakni kota yang ramai dimana semua klan dan semua ras berkumpul. Di sana ia mengikuti pendidikan di Akademi Aurelion dan akan bertemu dengan gadis-gadis lajang yang lain. Artinya selesai sudah adegan prolog dalam game dan dimulailah rute permainan yang sesungguhnya.

Suara kereta kuda berkelotak dengan roda-roda yang menumbuk pada jalanan tanah pejal. Aku bisa melihat dari jendela pemandangan lautan luas dari atas pegunungan. Sayang pemandangan langit biru indah dengan naga-naga liar yang beterbangan tak bisa membuat suasana hatiku senang.

Di depanku duduk manis dengan cuek Aegon Valerya. Mata emasnya memandang ke luar jendela. Parasnya yang tampan seperti artis film luar negeri blasteran Eropa dan Asia bisa memikat wanita manapun. Dulu di dalam game aku melihat pencitraannya dalam bentuk semi realistis tiga dimensi. Tapi melihatnya secara langsung benar-benar ganteng mampus. Kalau Abigail ada di sini dia pasti akan histeris teriak-teriak dengan heboh seperti penggemar boyband Korea yang baru mengeluarkan lagu baru.

Rambut hitam pekat, mata emas menyelidik, hidung tinggi, rahang maskulin, dada bidang, bahu pejal, bibir tipis merah muda. Apalagi auranya itu yang keren, mencolok dan sangat ningrat. Bisa bikin cewek-cewek klepek-klepek. Klan naga memang digambarkan sebagai klan yang arogan dan congkak. Mereka masih mendewakan status sebagai bangsawan dan anggap rendah klan atau ras lain yang tidak selevel dengan mereka.

Jika ia lahir di duniaku, mungkin sudah punya banyak penggemar yang rela mati-matian mengantre untuk bisa berjabat tangan dengannya. Tapi orang-orang itu pasti tidak akan tahu tabiat Aegon Valerya yang sebenarnya. Kejam dan tidak waras. Bahkan di dalam game, saat berusaha memenangkan hati gadis-gadis lajang lain, pemain harus berusaha keras menanggalkan ego dan arogansi Aegon Valerya. Susahnya minta ampun!

Terlepas dari semua itu, mengapa aku harus ada di dalam satu kereta kuda yang sama dengannya, sih?! Dan untuk apa pula aku harus ikut ke Akademi Aurelion?! Aku cuma ingin hidup dalam damai dan jauh dari orang ini! Huh!

Hanna bilang, aku memang harus ke akademi setelah masa liburan usai. Aku siswa akademi. Dan gadis bermartabat sepertiku wajib hukumnya menyelesaikan pendidikan di akademi. Padahal aku ingin menganggur saja dan bermalas-malasan di kamar. Kapan lagi terlahir sebagai anak orang kaya?! Hidup enak! Bebas menganggur!

"Apa?" Aegon membuyarkan lamunanku. "Kenapa mulutmu monyong-monyong begitu? Kau tidak suka berangkat ke akademi denganku?"

"Eh! A-aku ... ti-tidak kok! Hehe."

'Duh, apa dia sadar aku sedang menghinanya dalam kepala?'

"Hhh, aku juga tidak suka satu kereta kuda denganmu, tahu! Lebih cepat kalau aku naik naga saja. Tapi ayahku tidak mengijinkan dan aku harus menemanimu selama perjalanan. Bikin muak saja. Gara-gara kau tidak becus naik naga, aku yang kena getahnya."

Aku mengulum bibir dengan pasrah sambil memainkan jari-jariku.

"Maaf," aku melirih.

Ia mengernyit padaku.

"Sejak kapan kau minta maaf?"

Aku pun bingung dengan pertanyaannya. Apa gadis bernama Lysa Valerya ini tidak pernah minta maaf? Aku tahu klan naga memang arogan parah. Tapi ... sampai tidak mau minta maaf? Atau apakah minta maaf adalah hal yang najis bagi klan naga?

"Memangnya tidak boleh minta maaf?"

Aegon kembali melengos ke jendela.

"Sepertinya kepalamu yang retak itu memang sudah rusak sampai ke otak."

Aku cuma mendengkus kesal. Aku sudah tak lagi bisa menghormatinya. Yang dia ucapkan selalu saja merendahkanku, atau hal yang kejam. Tidak pernah ada hal baik yang keluar dari mulutnya.

Huh! Siapa sih yang menciptakan karakter sampah seperti Aegon?! Pantas saja permainan ini sulit! Mana ada gadis yang mau dekat-dekat dengannya dengan perangainya begini?! Kusumpahi pengembang game ini agar mereka diare seminggu!

Setelah beberapa jam perjalanan, kami tiba di sebuah jembatan yang panjang menghubungkan dataran Ashen Peak ke sebuah pulau di tengah sana. Aku tahu jembatan-jembatan ini dinamai Five Kings Bridge, atau Jembatan Lima Raja. Masing-masing dataran yang terpisah-pisah dihubungkan oleh jembatan-jembatan panjang ke satu pulau, Pulau Domina. Dimana kota tersibuk di Benua Eldron berada, Kota Luminar. Kapal-kapal nelayan dan kapal angkut melewati bagian bawah jembatan panjang ini. Kereta kuda lain, penunggang kuda, gerobak, dan orang-orang berjalan kaki dengan bentuk telinga mencuat yang beragam, memenuhi hiruk-pikuk jembatan.

Ini semua membuatku terpukau.

Dalam game, mereka memberikan kami gambar latar Benua Eldros dalam pencitraan dua dimensi. Tapi kali ini, aku bisa melihat semuanya sebagai sebuah dunia yang benar-benar nyata. Udara laut yang asin, hembusan angin, horison dengan awan yang berarak-arak, segalanya hidup dan nyata. Mereka semua bernyawa, sepertiku.

Lalu ... apakah aku akan bisa tetap bernyawa sesampainya di Akademi Aurelion?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Naga Penakluk Hati   6. Sang Alpha

    "Mmm karena semalam aku bermimpi aku naik naga yang sangat besar!" May berseru.Aku menyembunyikan diriku di antara rak. Cukup bisa mendengarkan percakapan mereka tanpa harus ketahuan."Begitu ya.""Apa kau pernah naik naga?" tanya May.May. Gadis lajang pertama yang akan ditemui oleh Aegon di Akademi Aurelion. Ia berasal dari klan serigala. Tubuhnya atletis parah. Rok pendek berbulu warna coklat dengan hiasan ornamen tulang belulang, tanktop bulu warna senada yang menunjukkan belahan dada dan otot-otot perutnya. Dan juga sepatu bot dengan bulu hewan. Uhh ... seandainya dulu aku rajin olahraga, mungkin aku bisa punya tubuh seperti itu.Pertama kali melihatnya dalam game, dia sangat imut. Tapi setelah melihatnya langsung, dia imut banget! Telinga serigala abu tua di kepala, rambut panjang hitam tergerai, pipi merah muda, sepasang mata kuning yang selalu berbinar-binar. Dia adalah karakter yang polos dan ceria. Namun karena May tidak punya kelompok dalam klan serigala, ia sering dikucil

  • Naga Penakluk Hati   5. Adegan Hati Pertama

    Lilia Aerion.Ia baru saja keluar dari salah satu kamar. Rambut pirang emasnya tergerai bebas. Ornamen bulu burung bertengger di kepala. Sayap berbulu emas yang berkilauan ia biarkan begitu saja di punggungnya. Wajahnya tenang dan sungguh anggun. Matanya biru cerah, hidung tinggi, pipi seputih susu, bibirnya merah muda menggoda. Belum lagi ... baju satin putih tipis khas penduduk Skyreach Cliff yang berhias rantai emas tipis dan batu-batu permata biru. Tak lupa kalung berbentuk rumit yang indah nan mahal yang memenuhi lehernya.Ia begitu indah, seperti malaikat yang baru saja tiba di bumi. Belum lagi bagaimana baju tipisnya bisa sangat sukses menampakkan tubuhnya yang sempurna. Dada yang ranum, pinggang kecil, bokong yang kencang dan montok, juga sepasang kaki jenjang yang terlihat dari belahan tinggi baju tipisnya. Ia seperti melangkah dengan pakaian yang diberikan langsung oleh matahari, langit biru, dan awan putih. Aku jamin pejantan mana pun bisa birahi meski hanya sekilas melihat

  • Naga Penakluk Hati   4. Gadis Kelinci

    "Waaah!"Lirikan sinis Aegon menghujamku tepat setelah aku terkesiap pada pemandangan ini.Kota Luminar.Kota Cahaya, begitu mereka menyebutnya. Ini adalah kota paling besar dan paling ramai di seluruh Benua Eldros.Kereta kuda kami sudah tiba di gerbang utama. Terasa sudah suasana hiruk pikuk kota yang ramai. Orang-orang bertelinga dan bertanduk hewan berjalan berlalu lalang. Aku bahkan bisa membedakan kelas-kelas ekonomi mereka dari cara berpakaian. Yang memakai jubah atau tunik lusuh sudah pasti rakyat biasa. Sedangkan yang mengenakan blus beludru dengan bordiran sulur bunga sudah pasti orang-orang yang punya duit. Tapi ... terkadang ada pula penampilan yang memberi tahu dari mana asal mereka.Kucoba ingat-ingat betul detail yang ada di dalam game.Orang-orang dengan telinga anjing abu-abu, dan memakai jubah berbulu hewan, kemungkinan dari dataran utara. Mereka adalah klan serigala dari Hutan Frostfang. Kemudian ada orang-orang dengan sayap burung berwarna dan bercorak berbeda-beda

  • Naga Penakluk Hati   3. Jembatan Lima Raja

    Mata emas Aegon semakin tajam dan lebih murka dari sebelumnya. Suapan kue vanilanya terhenti di udara. Lalu sendok kecil itu ia letakkan sembarangan di piring makanan penutup. Kursi berderit. Ia berdiri tiba-tiba, lalu melangkah cepat ke kursiku. Begitu kasar ia mencengkeram lengan kananku."Ayo ikut aku!" perintah Aegon.Ia menarikku keluar dari ruang makan. Begitu memaksa, begitu tergesa. Melalui lorong kastil yang panjang dan dihias permadani merah darah serta tembok hitam yang digantungi lukisan-lukisan mahal. Ia membawaku ke sebuah ruangan lain yang tak banyak orang. Ia jeblakkan pintu itu dengan kasar. Lalu menutupnya sembarangan. Dentuman keras antar kayu pintu terdengar seperti ledakan kecil.Entah ruang apa ini, mungkin ruang santai biasa dengan sofa-sofa dan meja kecil."Akk!"Aegon mencekikku. Lagi. Tangannya begitu cepat menguasai leher. Aku didorongnya dan dipojokkannya ke daun pintu. Tubuh kami dekat, tatapannya dengan sepasang mata emas begitu mengerikan."Kau bicara ap

  • Naga Penakluk Hati   2. Sang Tunangan

    Tubuhku lemas. Punggungku pasrah menyandar pada sandaran kasur. Gadis bernama Hanna begitu cemas memandangiku. Sementara aku, bengong seperti orang bodoh.Kucerna betul-betul apa yang tengah terjadi kepadaku.Aku, Nancy. Beberapa saat lalu hal terakhir yang kuingat adalah bersama sahabatku Abigail. Seperti biasa kami makan siang bersama di taman kampus. Aku dan dia belakangan ini membahas sebuah permainan yang cukup seru. Permainan berkencan dengan judul 'Jodoh Pangeran Naga'.Tidak tahu dari mana Abigail tahu permainan itu. Tapi memainkannya cukup bikin aku ketagihan. Siang dan malam sampai lupa waktu mengerjakan tugas-tugas kuliah. Entah berapa kali pula aku gagal mendapatkan akhir bahagia. Berujung terbunuhnya si tokoh utama, Aegon Valerya, atau terbunuhnya gadis lajang yang kuinginkan, tiba-tiba terjadi perang, dan sebagainya.Tapi kini aku malah berada dalam dunia permainan itu! Parahnya lagi aku menjadi tokoh yang seharusnya mati di awal cerita!Lysa Valerya. Aku bahkan tidak te

  • Naga Penakluk Hati   1. Gadis Prolog

    "Lysa lihat aku!" Aegon sang pangeran naga berseru. "Aku tunanganmu! Mereka bukan siapa-siapa! Ayo, pulanglah bersamaku!""Kau bicara apa hah?! Dia itu milikku! Aku telah menandainya sebagai pasanganku! Jangan macam-macam kau!" Rex si Alpha serigala menyahut dengan geraman beserta taring-taring buas di mulutnya. "Mau berkelahi?! Ayo sini!" Mereka berdua adu tatap dengan ganas."Nona Lysa, para Dewa-lah yang berhak menentukan takdir kita. Cinta adalah hal yang suci dan sakral. Saya dan Anda bisa memenuhi takdir itu." Ikaruz sang pemilik sayap emas nan suci berlutut kepadaku. Aku tahu dia yang paling memujaku. Tangannya sudah terulur menanti jawaban. Namun uluran tangan itu ditepis oleh Felix yang sering bertingkah sembarangan."Kalau mau ketemu Dewa, ke kuil saja sana," cemooh Felix si jelmaan duyung dengan cengengesan. "Lysa, ayo. Lautan telah memanggil. Kau akan bahagia selamanya jika bersamaku." Felix menatapku hangat dengan sebuah senyuman manis yang kusuka."Mereka semua tidak pan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status