LOGIN
"Lysa lihat aku!" Aegon sang pangeran naga berseru. "Aku tunanganmu! Mereka bukan siapa-siapa! Ayo, pulanglah bersamaku!"
"Kau bicara apa hah?! Dia itu milikku! Aku telah menandainya sebagai pasanganku! Jangan macam-macam kau!" Rex si Alpha serigala menyahut dengan geraman beserta taring-taring buas di mulutnya. "Mau berkelahi?! Ayo sini!" Mereka berdua adu tatap dengan ganas.
"Nona Lysa, para Dewa-lah yang berhak menentukan takdir kita. Cinta adalah hal yang suci dan sakral. Saya dan Anda bisa memenuhi takdir itu." Ikaruz sang pemilik sayap emas nan suci berlutut kepadaku. Aku tahu dia yang paling memujaku. Tangannya sudah terulur menanti jawaban. Namun uluran tangan itu ditepis oleh Felix yang sering bertingkah sembarangan.
"Kalau mau ketemu Dewa, ke kuil saja sana," cemooh Felix si jelmaan duyung dengan cengengesan. "Lysa, ayo. Lautan telah memanggil. Kau akan bahagia selamanya jika bersamaku." Felix menatapku hangat dengan sebuah senyuman manis yang kusuka.
"Mereka semua tidak pantas mendapatkanmu, Lysa-ku. Orang-orang barbar, kolot dan tidak punya otak. Aku bisa memberikanmu segala rahasia ilmu sihir dan ramuan. Uang, ketenaran. Aku bisa memberimu segalanya," Jin si setengah ular yang jenius membetulkan kacamatanya. Nada bicaranya yang serius membuat wajah mereka berempat dongkol.
Sementara aku, bingung mampus.
Malam ini bulan purnama. Aku bisa melihat dengan jelas tato gaib rantai melingkar leher mereka. Aku tercengang, sekaligus menelan ludah. Itu artinya, kelima pejantan yang tampan ini sudah sepenuhnya memiliki perasaan luar biasa kepadaku. Dan aku harus mengawini mereka! Jika tidak, aku bisa mati!
Mereka memandangku, menginginkanku, dan begitu berhasrat kepadaku. Kuyakin mereka rela mati dan berani membunuh satu sama lain hanya untuk memenangkan aku.
Kenapa semuanya malah jadi begini?!
***
'Ahh ... sial.'
Aku cuma bisa mengumpat dalam hati. Awan putih berarak di tengah langit biru yang luas. Padahal hari ini sangat indah.
Tapi kenapa aku harus mati konyol?!
"Nancy! Nancy! Bertahanlah! Aku sudah menelpon 911!" seru kawanku, Abigail.
Dia sepertinya menangis dan begitu putus asa. Begitu pula orang-orang lain yang mengerumuniku. Ada yang sibuk menekan-nekan dadaku. Ada yang susah payah merogoh mulutku dan mengeluarkan mie instan yang ada di kerongkongan.
Ya. Mie instan.
Mie instan murahan dalam mangkuk yang kuseduh setengah jam lalu. Kebiasaan burukku kalau sudah bertemu dengan Abigail. Pasti mengobrol panas hingga aku lupa untuk memisahkan antara bernapas dan menelan. Aku tak tahu seberapa dalam mie lunak ini menjegal napasku dekat paru-paru. Yang jelas usaha semua orang sia-sia. CPR, dan usaha keras mengeluarkan benda ini dari paru-paruku tidak berarti.
Aku harus lebih mendengarkan ucapan orang tua untuk tidak makan sambil bicara lain kali. Sial. Aku lupa. Tidak akan ada lagi lain kali. Aku sudah tamat. Napasku tercekik. Aku tak bisa lagi merasakan udara. Seluruh tubuhku sakit bukan main. Namun perasaan ini perlahan memudar. Sekaligus suara-suara di sekitarku yang mulai raib. Suara Abigail, suara derap kaki petugas medis yang datang terlambat. Pandanganku sudah redup. Yang ada hanya kegelapan.
Aku tak lagi merasakan apapun.
Aku. Nancy. Akan diingat sebagai gadis yang mati konyol tersedak mie instan murahan di taman dekat kampus.
Sial.
Berikutnya apa? Alam baka? Apa aku akan bertemu Tuhan? Dewa? Atau iblis? Aku sudah pasrah. Apapun itu, datanglah kepadaku, lakukanlah dengan cepat.
Mataku tergugah dengan sebuah cahaya. Cukup mengganggu. Mungkin malaikat-malaikat sedang menghampiriku untuk mengadili kelakuan baik dan buruk semasa hidup. Aku yakin aku akan masuk neraka. Duh.
Namun ... bukannya malaikat, aku malah mendapati diriku terbangun di tempat lain.
'Rumah sakit?' pikirku.
Tidak bukan. Ini ... dimana?
Tempat yang asing, sekaligus tak asing bagiku. Rasanya aku pernah melihat suasana seperti ini. Lampu kandelir bergelantungan di langit-langit. Aku terbaring di kamar seseorang. Kasur yang lembut dengan sprei berwarna gelap. Aku melirik ke kanan dan ke kiri. Rasanya familiar, tapi hiasan-hiasan dinding tengkorak hewan yang menggantung di sana kuyakin bukan pajangan yang wajar dimiliki oleh seseorang. Ruangan ini dicat hitam dan merah darah.
Mungkin pemiliknya adalah milenial yang tidak bisa melanjutkan kehidupan. Kuyakin semasa mudanya menggandrungi gaya emo dan mendengarkan lagu-lagu galau yang sok keras. Lalu merasa dirinya adalah yang paling keren sedunia. Sprei hitam, sarung bantal merah darah. Cat dinding hitam, gorden merah darah. Pokoknya kalau tidak hitam ya merah darah. Apa pemilik kamar ini vampir ya?
Eh. Tunggu dulu. Bukankah ... seharusnya aku ada di taman dekat kampus? Tersedak mie instan? Kenapa aku bisa ada di sini? Dimana Abigail dan yang lain?
Aku berusaha mendudukkan tubuhku. Kepalaku agak berat dan linglung. Aku bernapas dan meyakinkan diriku bahwa tidak ada mie instan murah yang tersangkut di dekat paru-paru. Kakiku melangkah menuruni ranjang. Kemudian aku berjalan menuju ke pintu kayu besar berwarna merah darah.
Aku terhenti. Mataku terbelalak. Jantungku berdebar kencang bukan main saat melalui cermin di kamar ini.
"AAAAAAAA!" pekikku.
Aku melihat diriku sendiri yang sangat asing! Rambut panjang berwarna putih keperakan, wajah elok yang pucat, mata biru jernih seperti safir, tubuh molek yang terbalut gaun mewah putih dengan belahan di paha. Dan ... sepasang tanduk!
AKU PUNYA TANDUK!
Astaga! Apakah ini hukuman dari akhirat! Kenapa aku punya tanduk?! Dan wajah ini ... gadis cantik yang ada di cermin ... bukan diriku. Bukan Nancy. Bukan. Wajah siapa ini?!
Aku tak begitu perhatian kepada tubuh molek dan wajah elok yang ketakutan ini. Aku sibuk menggerayangi tanduk di kepalaku. Yang kupikir cuma aksesoris pesta malam Halloween. Tidak. Betapapun kuatnya aku menarik, aku tak bisa mencabut benda ini. Malah, kepalaku jadi pusing. Seolah sungut berwarna biru gelap ini memang sudah menyatu dengan tengkorakku dari dulu.
Pintu besar terbuka dan mengagetkanku. Seorang pemuda berambut hitam. Berpakaian mewah serba hitam dan aksen merah darah seperti kamar ini. Wajahnya yang rupawan menatap jengkel ke arahku. Dan ... dia pun punya sepasang tanduk di kepalanya. Tanduk hitam yang terlihat jahat. Seperti milik iblis neraka yang ada di film-film.
Apakah ... aku ada di neraka? Apakah dia adalah iblis penjaga neraka?
"Ha! Apa kubilang! Kau cuma pura-pura kan?! Dasar perempuan licik! Berhenti menipuku dengan trik murahanmu!"
Sekonyong-konyong ia melangkah cepat ke arahku. Pemuda itu mencekikku dengan tangannya yang mencengkram hebat.
"Akk! Ukh!"
Tanganku yang lemah memukul-mukul pergelangannya. Tak ada tanda-tanda ia akan melepasku. Malah kedua matanya yang berwarna emas menyala-nyala penuh amarah.
"Kenapa kau tidak mati saja? Dasar pembunuh!"
Leherku ngilu. Tercekiklah kerongkongan ini dan aku kian sulit bernapas. Ini lebih buruk rasanya daripada tersedak mie instan murahan. Apa aku akan mati lagi? Ataukah ini adalah jenis siksaan neraka yang akan kuterima setiap hari?
"Akkk! Tolo-,"
"Aegon! Hentikan!"
Seorang pria yang lebih tua dari kami masuk dan membentaknya. Pakaiannya juga serba hitam. Ia punya sepasang tanduk hitam bengkok yang nyaris sama dengan si pemuda. Meski dandanannya lebih sederhana, bentakan pria itu berhasil membuat pemuda bernama Aegon melepas cengkramannya dariku.
Aku tersungkur ke lantai. Tanganku memegangi leher yang masih nyeri. Mulut megap-megap berusaha meraih segala udara di sekelilingku. Sudah seperti ikan yang baru saja dibawa keluar dari air. Sedangkan pemuda bernama Aegon itu terengah memandangku dengan bengis. Kemarahan masih menaungi wajah itu.
Seorang yang lain masuk ke kamar.
"Nona Lysa!" ia berseru.
Kemudian gadis berpakaian hitam polos dengan celemek putih menghampiriku. Ia berusaha keras menenangkanku. Dalam pandanganku yang nyaris tak fokus, aku bisa melihat telinga kecil di kepalanya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apa orang-orang ini sedang menyiksaku dengan kostum Halloween? Sial.
"Kau sudah kelewatan, Aegon!"
Aegon berbalik kepada pria itu. Ia melangkah dekat, lalu bicara kepadanya begitu tajam.
"Dia pembunuh! Dia sudah membunuh Lyla! Aku tidak akan memaafkannya!"
Kemudian Aegon pergi meninggalkan kamar ini.
Si pria menghela napas, memandangku dengan lemah dan merasa bersalah.
"Lysa ... tolong maafkan Aegon. Beristirahatlah. Aku senang akhirnya kau sudah sadar. Akan kuminta dokter untuk memeriksa keadaanmu."
Aku belum menjawab apapun. Namun pria itu pergi dan sudah menutup pintu besar. Tinggallah aku dengan gadis yang kuduga bertelinga tikus ini.
"Nona Lysa ... Anda tidak apa-apa?" tanyanya memelas. "Nona harus kembali beristirahat, saya akan bawakan sup."
Aku menggeleng. Tubuhku gemetar hebat. Aku tak tahu betapa kejadian barusan membuatku begitu trauma. Ia memapahku ke kasur. Lalu gadis itu membetulkan selimutku. Setelah aku merasa lebih tenang, barulah aku angkat bicara.
"Maaf ... kau ... siapa?"
Ia nampak kaget. Wajahnya yang berbintik cemas memandangku.
"Nona ... ini saya! Hanna! Apa Nona tidak ingat?"
Sekali lagi aku cuma bisa menggeleng pelan.
Hanna menutupi mulutnya. Air matanya berkaca-kaca begitu pedih. Ia menggenggam tanganku.
"Astaga ... wahai Dewa ... ampunilah aku," ia terisak, namun berusaha menjelaskan padaku. "Nona jatuh saat mengendarai naga. Kepala Nona terbentur. Tuan Aegon membawa Nona kemari. Apa Nona tidak ingat?"
Aku cuma diam dalam kebingungan.
Aku? Jatuh? Naga? Aegon? Dia ngomong apa sih?
"Oh Dewa! Nona Lysa hilang ingatan! Ampunilah kami semua!"
Lalu gadis bernama Hanna itu menangis sesenggukan di samping kasur. Aku merasa iba.
"Maaf .... Aku tidak mengerti. Bisakah kau menjelaskan kepadaku ... siapa aku. Dan ... aku ada dimana?"
Ia menyeka air matanya.
"Nona ... Anda adalah Lysa Valerya, majikan saya. Anda satu-satunya wanita Klan Valerya yang tersisa. Sekarang ini kita ada di kastil Yang Mulia Raja Elron Valerya. Beliau yang baru saja menegur Pangeran Aegon, tunangan Anda. Apa Nona tidak ingat juga? Oh ... pasti Anda sangat tersiksa."
Ia menyeka air matanya. Mengiba kepadaku. Aku mengernyit. Seakan kepalaku mengenali nama itu.
Aegon Valerya.
"Tunggu ... kau bilang ... Aegon Valerya?"
Hanna mengangguk.
Seketika aku paham! Nama itu! Aegon Valerya.
Aku pasti sudah gila!
Benar! Kamar ini, pria itu, semua ini! Aku tahu! Aku pernah tahu soal ini semua!
Ini adalah dunia di dalam game gila yang kumainkan dengan Abigail!
'Jodoh Pangeran Naga'
Ya! Itu dia! Game berkencan yang aku dan Abigail mainkan di ponsel pintar kami. Pemuda itu, Aegon Valerya, adalah tokoh utama dalam permainan. Kami harus bisa membuatnya mengencani gadis-gadis lajang dari klan Animari berbeda-beda hingga akhirnya ia mengawini salah satunya. Animari adalah sebutan untuk mahluk manusia setengah hewan dalam game ini.
Jika itu terjadi, maka tercapailah 'Happy Ending.'
Tapi tidak semudah itu. Game ini sangat sulit. Karena setiap gadis lajang punya pria lajang yang akan menghalangi tujuan si tokoh utama. Terkadang terjadi pembunuhan di antara para pria lajang dan tokoh utama. Aegon bisa membunuh mereka, begitu pula sebaliknya. Bahkan bisa terjadi sang gadis lajang terbunuh dalam pertikaian itu. Pokoknya ini game yang sangat rumit! Banyak yang tidak bisa menebak akhir dari permainan ini.
Aku dan Abigail setuju bahwa Aegon Valerya adalah karakter utama yang sakit jiwa. Betul-betul tidak waras. Itulah mengapa game ini terasa sulit. Apalagi semua gadis lajang terasa hidup karena memiliki karakter AI-nya masing-masing. AI permainan ini juga bisa memunculkan alur-alur acak yang tidak terduga.
Tapi ... game itu selalu dimulai dengan adegan dimana tunangan Aegon Valerya mati. Gadis naga terakhir telah mati. Akhirnya Aegon Valerya memutuskan untuk meneruskan keturunannya dengan gadis dari klan lain.
"Ya, Nona Lysa. Pangeran Aegon Valerya ... beliau adalah tunangan Anda."
Jika aku tunangan Aegon ... maka ... seharusnya aku mati.
'Mampus!'
Cahaya lampu neon yang putih menusuk retinaku. Bau antiseptik yang tajam menyengat hidung, memicu ingatan samar tentang sesuatu yang jauh, sesuatu yang gelap dan penuh kode. Aku mengerang, berusaha menggerakkan jari-jariku yang terasa kaku."Pasien sudah sadar. Monitor detak jantungnya stabil," suara dingin seorang pria memecah keheningan.Dokter dan perawat tampak sibuk di sekeliling ranjangku, wajah mereka serius dan profesional. Aku menatap mereka dengan tatapan bingung yang mendalam. Suaraku tercekat saat bertanya, "Aku... di mana?"Dokter itu menghela napas, melepas kacamatanya. "Selamat datang kembali, Nancy. Kau berada di fasilitas medis milik perusahaan AEON, pengembang game 'Jodoh Pangeran Naga'."Tubuhku menegang. Nama itu ... itu bukan sekadar permainan."Secara medis, seharusnya kau sudah meninggal tiga tahun lalu," lanjut dokter itu dengan nada datar. "Namun, keluarga dan perusahaan sepakat untuk tidak membiarkanmu
Enma melepaskan genggamannya, dan dunia di sekitarku kembali ke realita yang mencekam. Lututku lemas, hampir saja aku ambruk ke tanah marmer yang dingin, jika saja Aegon tidak sigap memegang bahuku. Napasku memburu, paru-paruku serasa disumpal kapas.Segala kenangan yang kulihat barusan—ratusan kematian yang menyakitkan, kegagalan yang berulang-ulang, setiap kali aku harus memilih pria yang berbeda, dan setiap kali pula permainan ini mereset diriku kembali ke titik awal—semuanya membanjiri kepalaku seperti air bah. Aku bukan hanya Lysa. Aku adalah Nancy yang terjebak di dalam neraka simulasi."Lysa, jawab aku! Apa yang dia katakan soal 'Nancy'?" Aegon mendesak, suaranya dipenuhi kecemasan yang asing, namun tatapannya kini beralih pada Enma dengan kebencian yang murni. "Enma, apa yang kau lakukan pada tunanganku?!""Tunangan?" Enma tertawa kecil, suara tawa itu begitu dingin, begitu familiar. "Kau masih terjebak dalam skrip yang mereka t
Langit Akademi Aurelion tampak kelabu, seolah turut berduka atas kepergian sang penjaga kuil yang bijaksana. Kakek Daeruz telah tiada. Upacara pemakaman dilakukan dengan khidmat di pelataran kuil yang luas.Ikaruz berdiri di depan altar, tubuhnya tampak ringkih dibalut jubah hitam. Matanya sembab karena menangis semalaman, namun saat ia menatap kerumunan, ia berusaha menegakkan bahunya."Kakek Daeruz bukan hanya seorang penjaga kuil," Ikaruz memulai, suaranya parau namun perlahan menguat. "Bagi kalian, dia mungkin hanyalah orang tua yang mengoceh tentang masa lalu. Tapi bagiku, dia adalah perpustakaan hidup. Dia mengajarkanku bahwa mencintai seseorang dengan tulus, meski dunia memisahkanmu dengan tembok klan, adalah bentuk keberanian tertinggi. Dia tidak pernah menyesali pilihannya untuk tetap mencintai Maika hingga hembusan napas terakhirnya. Dia mengajarkanku bahwa kesetiaan bukan tentang apa yang kita dapatkan, tapi tentang apa yang kita pertahankan di dalam hat
Kejadian di kolam bawah tanah menyisakan gema yang panjang di Akademi Aurelion. Klan duyung kini tampak menarik diri, bayang-bayang mereka tak lagi sesering sebelumnya, seolah sedang menunggu perintah baru dari para tetua mereka. Namun, perhatian yang hilang dari klan duyung justru dialihkan oleh tatapan-tatapan intens dari klan serigala. Ke mana pun aku melangkah, bisik-bisik mereka mengikutiku, seperti kawanan predator yang sedang mengamati mangsa yang menarik perhatian sang pemimpin.Rex Skarnfang akhirnya menghentikan langkahku di koridor menuju perpustakaan. Sang Alpha itu berdiri tegak, auranya yang dominan membuat beberapa murid yang lewat segera menyingkir."Kau menghindariku, Lysa," suaranya berat, namun ada nada frustrasi yang tertahan di sana. Dia melipat tangannya di dada, matanya yang tajam menuntut jawaban. "Mengapa kau terus menolak? Menjadi Luna berarti kau akan berdiri di sisiku sebagai ratu di atas segala klan serigala. Kekuatan, perlindungan, tak
Air yang dingin segera menelan mereka.Aku belum pernah menyelam sedalam ini dengan tubuh nagaku, tanpa Napas Duyung. Meski ramuan itu membuatku bisa bernapas, bergerak di bawah air tetap terasa berat. Setiap kayuhan tangan membutuhkan tenaga berlipat ganda.Baelon tampak jauh lebih kesulitan.Jubah kepala akademi itu berkibar-kibar di belakangnya seperti bendera tenggelam. Jin berenang paling tenang. Sesekali ia memberi petunjuk arah agar Baelon tidak tersesat. Sementara itu aku memimpin."Arah sana," kataku sambil menunjuk ke dasar kolam."Bagaimana kau tahu?" tanya Baelon."Aku pernah diseret ke sana."Baelon mengerutkan dahi.Kami terus turun. Semakin dalam, cahaya dari permukaan semakin memudar. Batu-batu hitam besar mulai bermunculan. Kemudian Aku melihat sesuatu yang kukenal.Sekelompok rumput laut raksasa.Daunnya panjang dan tebal seperti ular hijau gelap yang melambai-lambai mengikuti
Tubuhku gemetar hebat. Bukan hanya karena air kolam yang dingin, melainkan karena adrenalin yang mulai surut, menyisakan ketakutan akan keselamatan Felix. Profesor Jin mungkin terlihat akan membantuku, tapi aku tahu pria itu adalah variabel yang tidak bisa diprediksi. Aku tidak bisa mengandalkannya sepenuhnya. Aku butuh sekutu yang memiliki otoritas dan kepekaan nurani yang lebih tinggi.Dengan langkah gontai, aku menyeret diriku menuju menara Kelas Ramalan. Untunglah dia belum meninggalkan kelas ini. Profesor Cleon, seorang wanita Animari burung yang anggun dan bijaksana, sedang merapikan kartu-kartu tarot kunonya."Lysa? Ada apa denganmu? Kau terlihat seperti baru saja bangkit dari kubur," tanya Profesor Cleon, matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai emas menyiratkan kekhawatiran.Aku tak membuang waktu. Dengan suara serak, aku menumpahkan segalanya—tentang konspirasi pembunuhan orang tua Felix, tentang jurnal yang disita, hingga penyanderaan yan
"Jika aku ... menyetujuinya," ucapku terbata-bata, sengaja memasang wajah ketakutan dan pasrah demi mengulur waktu dan menurunkan kewaspadaannya. "Bagaimana aku bisa menjamin kau tidak akan membunuh May setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan?
Hening. Hanya gema suaraku sendiri yang memantul di antara batang-batang pohon raksasa yang menghitam. Angin siang berembus lambat, membawa aroma anyir darah kering yang kian menyengat, menusuk indra penciuman naga perakku hingga membuat perutku mua
Uap hangat kamar mandi perlahan tertinggal di belakang saat kami berdua selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian. Seperti biasa, aku memilih mengenakan baju terusan dari kulit naga perak berkilau yang mahal. Bahan magis itu melekat sempurna,
Aroma gurih daging panggang yang disajikan Hanna beberapa saat lalu perlahan mulai memudar dari udara kamar, digantikan oleh keharuman esensial mawar dan rempah hangat yang menguar dari air bak mandi. Setelah menghabiskan sarapan yang berporsi masif dalam kehen







