Share

Bab 9

Author: widiabd
last update publish date: 2025-12-24 11:50:32

Baru beberapa meter motor melaju, Nala tiba-tiba teringat sesuatu. Ia segera menginjak rem, memutar balik motornya dengan terburu-buru. Namun, di saat yang sama, pikap Hanggara ternyata sudah bergerak maju ke arahnya.

Melihat mobil itu melaju di jalurnya, Nala panik dan refleks merentangkan satu tangannya sambil terus mengerem. Hanggara yang terkejut melihat motor Nala tiba-tiba menghadang di depannya segera menginjak rem dalam-dalam. Ban mobilnya berdecit keras sebelum akhirnya berhenti tepat beberapa jengkal di depan ban motor Nala.

Hanggara menurunkan kaca jendela, raut wajahnya yang biasanya tenang kini tampak sedikit tegang karena kaget. "Nala? Kenapa putar balik sembarangan? Bahaya," tegurnya dengan suara rendah namun tegas.

Nala menumpu kedua kakinya ke tanah, napasnya naik-turun karena jantungnya hampir copot, tapi ia berusaha tetap pada tujuannya. Ia membawa motornya ke samping pintu mobil Hanggara, tanpa menyalakan mesinnya. "Maaf, Mas. Habisnya saya baru ingat sesuatu," sahut Nala, menatap Hanggara dengan tatapan yang sedikit lebih berani meski lututnya masih agak lemas.

Hanggara menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Ada yang ketinggalan?"

"Mas, tadi pagi di pasar kan saya bilang mau traktir balik sebagai ganti jajanan yang Mas bayarin. Ingat, kan?"

Hanggara terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Iya. Tapi tadi kamu udah bantuin saya, harusnya impas, kan?" tanyanya.

Nala menggeleng mantap. "Beda, Mas! Tadi itu murni bantuan antar sesama pengguna jalan. Kalau janji saya buat traktir itu urusan lain. Utang tetap utang," tegas Nala, berusaha menutupi kegugupannya dengan nada bicara yang dibuat-buat serius.

Hanggara menatap Nala cukup lama. "Jadi, kamu masih mau traktir saya?"

"Iya. Pokoknya kalau Mas Hanggara mampir ke warung Papa, nanti saya beliin apapun. Tenang aja, dompet saya nggak akan ketinggalan lagi kok. Udah aman di tas."

Hanggara hanya memberikan senyum tipis, sebuah tarikan garis kecil yang hampir tak kentara namun cukup untuk membuat wajahnya terlihat lebih melunak. "Oke. Tapi saya nggak mau ditraktir di warung Pak Bakti."

Dahi Nala berkerut, sedikit bingung dengan penolakan halus pria itu. "Lho, kenapa? Barang-barang di warung Papa lengkap, kok, Mas."

"Saya tahu. Tapi saya mau ditraktir yang lain. Nanti saya pikirin lagi mau ditraktir apa," sahut Hanggara rendah. "Nanti saya kabarin."

Nala mematung sejenak, mencerna kalimat terakhir Hanggara. "Gimana ngabarinnya? Mas kan nggak punya nomor HP saya," cetus Nala jujur.

Sesaat setelah kalimat itu meluncur mulus dari bibirnya, Nala seketika merutuk dalam hati. Ih, oon banget sih, Nala! Kan dia sering ke warung Papa, tinggal ngomong langsung kan bisa! Kenapa malah kesannya kayak aku lagi minta nomornya?

Wajah Nala yang sudah panas kini terasa makin membara. Ia ingin sekali memutar waktu atau setidaknya berharap ada kabut mendadak yang bisa menyembunyikan ekspresi malunya.

Hanggara sempat terdiam, menatap Nala dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada jeda beberapa detik yang terasa sangat lama bagi Nala sebelum akhirnya pria itu berdeham pelan.

"Iya juga, ya," sahut Hanggara, suaranya terdengar sedikit lebih rendah. Ia meraih sebuah ponsel dengan casing hitam polos dari dashboard. "Kalau gitu silakan tulis nomor kamu di sini, nanti saya kabarin kalau udah tahu mau ditraktir apa." Hanggara menyodorkan ponselnya yang sudah berada di menu "Kontak Baru" ke arah Nala.

Nala menggigit bibir bawahnya, berusaha menetralkan rasa malu yang masih tersisa. Dengan tangan yang sedikit kaku, ia menerima ponsel itu dan mengetikkan nomornya dengan cepat, seolah sedang mengerjakan soal ujian paling krusial dalam hidupnya.

"Ini, Mas. Udah," ucap Nala pelan sambil mengembalikan ponsel tersebut.

Hanggara menerima ponselnya kembali, melirik layarnya sejenak, lalu kembali menaruhnya di dashboard. "Terima kasih. Kalau gitu, silakan duluan. Hati-hati,"

"I-iya, Mas. Mas Hanggara juga hati-hati!"

Nala segera menarik gas motornya, memutar balik arah motornya dan melaju meninggalkan pikap Hanggara dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat.

Nala terus memacu motornya, mengabaikan angin yang menerpa wajahnya karena rasa panas di pipinya jauh lebih mendominasi. Sambil memegang kemudi, ia sesekali menyentuh dadanya yang masih bergemuruh.

"Aduh, Nala! Malu-maluin banget!" keluhnya pelan.

Sesampainya di warung, Nala memarkir motor dengan gerakan yang agak serampangan. Suara standar motor yang beradu nyaring dengan semen seolah bersahutan dengan detak jantungnya yang masih enggan melambat.

Pak Bakti yang tengah menyapu teras warung menatap heran ke arah sang putri. "Pelan-pelan, Dek. Itu kuncinya dicabut dulu," peringatnya saat melihat Nala membiarkan kunci motornya menggantung begitu saja. "Itu juga, kenapa mukanya merah banget?"

"Panas banget di jalan tadi," dalih Nala cepat-cepat sembari menyeka dahi yang sebenarnya tidak berkeringat.

Pak Bakti mengerutkan kening, menatap langit yang sebenarnya masih cukup bersahabat. "Panas? Wong teduh gini, kok. Kamu tadi lewat mana?"

"Lewat jalan biasa. Panas, kok, tadi di jalan. Udah ah, aku mau ngadem di dalam." sahut Nala cepat, lalu buru-buru meloyor masuk sebelum ayahnya bertanya lebih jauh.

---

Malam harinya, Nala dan keluarganya sedang berkumpul di ruang tengah. Pak Bakti sedang asyik menyesap teh pahitnya sambil menonton sinetron di televisi, sementara Bu Raras sibuk melipat pakaian kering. Banyu, kakaknya yang menyebalkan, sedang berbaring di lantai beralaskan karpet sambil asyik bermain gim di ponselnya. Hari ini bengkelnya sengaja tutup lebih awal.

Nala duduk di sudut sofa, berpura-pura ikut menonton televisi padahal pikirannya sedang melayang ke kejadian tadi pagi. Sejak kejadian itu, ia berulang kali mengecek ponselnya, namun belum ada satu pun pesan masuk dari nomor baru.

Layar ponsel Nala kembali menggelap setelah ia menekannya untuk kesekian kali. Tidak ada notifikasi baru. Tidak ada nama asing muncul di bar atas layar. Hanya pantulan wajahnya sendiri yang terlihat samar, dengan ekspresi campur aduk antara berharap dan kesal pada diri sendiri.

"Mungkin dia lupa," gumam Nala sangat pelan, hampir menyerupai bisikan angin.

"Lupa apa? Lupa bayar cicilan atau lupa kalau punya kakak ganteng?" sahut Banyu tiba-tiba, matanya tetap terpaku pada layar gim, tapi telinganya ternyata masih berfungsi dengan sangat baik untuk urusan menguping keluhan adiknya.

"Ih, apa sih! PD banget jadi orang!" Nala melempar bantal kecil ke arah Banyu, yang dengan lihainya menghindar tanpa menghentikan pergerakan jempolnya di atas ponsel.

Pak Bakti terkekeh, sementara Bu Raras hanya menggeleng melihat tingkah kedua anaknya. Keheningan kembali melanda ruang tengah, hanya suara dialog dramatis dari televisi yang mengisi ruangan. Nala memutuskan untuk menyerah saja dan hendak beranjak ke kamar ketika tiba-tiba...

Drt... Drt...

Ia segera menyambar ponselnya yang ia simpan di atas meja kecil di samping sofa dengan kecepatan kilat, hingga Pak Bakti dan Bu Raras sempat men

oleh heran melihat kegesitannya.

Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.

+62 812 xxxx

Ini Hanggara, disimpan ya nomor saya.

Nala menahan napas sejenak. Jantungnya berdegup kencang hanya dengan membaca satu baris kalimat singkat itu. Ia buru-buru menyimpan nomor tersebut dengan nama 'Mas Hanggara', lengkap dengan detak jantung yang belum juga normal.

Belum sempat Nala mengetik balasan, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan baru menyusul di bawahnya.

Mas Hanggara

Besok siang kamu sibuk? Katanya mau traktir. Kebetulan saya lagi kepengin soto di dekat alun-alun. Mau temani makan di sana jam 11?

Nala mematung menatap layar ponselnya. Jempolnya menggantung di udara, ragu antara ingin membalas secepat kilat atau menunggu beberapa menit agar tidak terlihat terlalu bersemangat. Soto di dekat alun-alun itu jaraknya lumayan jauh, dan itu adalah salah satu warung soto paling legendaris yang selalu ramai. Nala sendiri belum pernah ke sana, tapi ia sering mendengar dari orang-orang atau dari beranda media sosialnya.

"Cie, chat dari siapa tuh," celetuk Banyu tanpa mengalihkan pandangan dari gimnya, tapi nada suaranya sangat menyebalkan.

"Kepo!" sahut Nala ketus, meski sudut bibirnya tak bisa berhenti berkedut membentuk senyuman.

Ia segera mengetik balasan dengan jantung yang masih berulah.

Nala

Boleh, Mas. Mau ketemuan di sana?

Tidak butuh waktu lama sampai status di bawah nama Mas Hanggara berubah menjadi online, lalu muncul keterangan 'typing...' yang membuat Nala tanpa sadar menahan napas lagi.

Mas Hanggara

Saya jemput aja. Mau dijemput di warung atau di rumah?

Nala menggigit bibir bawahnya, menatap layar ponsel dengan binar mata yang sulit disembunyikan. Ia sempat melirik ke arah Pak Bakti dan Bu Raras yang masih asyik dengan kegiatan masing-masing. Kalau ia minta dijemput di rumah, rasanya terlalu formal untuk ukuran sekadar membayar janji traktirannya. Lagi pula ia bisa membantu ayahnya dulu sebelum Hanggara menjemput.

Sambil menahan senyum yang terus merekah, jempolnya bergerak lincah di atas papan ketik.

Nala

Jemput di warung Papa aja, Mas.

Hanya dalam hitungan detik, balasan kembali masuk.

Mas Hanggara 

Oke, besok saya jemput jam 11. Sampai ketemu besok, Nala.

Nala meletakkan ponselnya di dada, menarik napas panjang demi meredam debaran jantung yang rasanya ingin melompat keluar.

Pak Bakti masih fokus pada layar televisi, sesekali menyesap tehnya tanpa curiga sedikit pun. Sementara itu, Bu Raras yang sedang merapikan baju hanya melirik sekilas, seolah bisa merasakan aura yang berbeda dari putrinya, namun ia memilih diam.

Nala segera bangkit dari sofa dengan gerakan yang ia buat sealami mungkin.

"Mau ke mana, Nduk? Itu sinetronnya belum habis," tanya Pak Bakti tanpa menoleh.

"Mau ke kamar, Pa. Ngantuk," kilah Nala sambil melangkah cepat.

"Dih, masih sore. Biasanya begadang nonton drakor dulu, tuh." celetuk Banyu.

Nala tidak memedulikan ucapan kakaknya. Ia segera masuk ke kamar dan mengunci pintu. Di balik pintu, ia menyandarkan punggungnya, memandangi kembali pesan dari Hanggara. Kata-kata "Sampai ketemu besok, Nala" seolah terus bergema di kepalanya.

***

Tbc.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 31

    Minggu pagi di desa selalu terasa lebih tenang, namun tidak bagi Nala. Sejak matanya terbuka dan menatap langit-langit kamar, pikirannya sudah melanglang buana. Ia teringat percakapan di telepon semalam, Hanggara bilang hari Minggu biasanya ia gunakan untuk mengecek laporan mingguan secara santai di rumah. Nala menggigit bibir, ada keinginan yang membuncah di dadanya untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan pria itu.Nala ingin ke mal. Ia ingin merasakan sensasi kencan yang "normal" seperti pasangan di kota, berjalan di bawah pendingin ruangan, melihat deretan toko, atau sekadar makan es krim sambil bergandengan tangan tanpa perlu takut digoda tetangga.Setelah mandi, Nala duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya dengan ragu. "Ajak nggak ya? Kalau dia capek gimana? Ah, coba aja dulu deh." gumamnya. Nala:Mas, hari ini kan Minggu... Mas sibuk banget nggak? Kalau misal aku ajak ke kota mau nggak? Aku pengin ke mal, jalan-jalan. Tapi kalau Mas capek, nggak apa-apa kok.Pesan itu

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 30

    Keesokan harinya, matahari baru saja merangkak naik, menyiram atap-atap seng kandang ayam petelur milik Hanggara dengan cahaya keemasan. Bau khas pakan jagung dan aktivitas ribuan ayam yang riuh rendah menjadi musik pagi yang sudah biasa ia dengar. Namun, pagi ini, melodi itu terdengar jauh lebih merdu di telinganya. Hanggara berjalan menyusuri lorong panjang di antara barisan kandang yang diberi sekat. Ia mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan guratan otot yang bekerja keras membangun bisnis ini dari nol. Sebagai pemilik, ia tak lagi harus turun tangan setiap saat, namun ia bukan tipe bos yang hanya duduk di balik meja. "Pagi, Mas Gara. Tumben senyumnya lebar banget, kayak habis menang lotre," celetuk salah satu pekerjanya, Andra, yang sedang mencatat jumlah telur yang terkumpul di rak. Hanggara menghentikan langkahnya sebentar, memeriksa kualitas kerabang telur di salah satu baki. "Lotre mah lewat, Ndra. Ini lebih dari itu," jawabnya pendek samb

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 29

    Nala duduk dengan kaku, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan. Suasana ruang tamu yang biasanya hangat kini terasa begitu formal. Pak Bakti dan Mas Banyu duduk di sofa tunggal, bertindak layaknya saksi yang mengawasi dengan saksama, sementara Bu Raras duduk di sampingnya.Hanggara berdeham kecil untuk memecah keheningan. Ia tidak langsung bicara pada Nala, melainkan menatap Pak Bakti terlebih dahulu dengan sorot mata penuh hormat."Pak, sebelumnya saya minta maaf karena bertamu malam-malam begini," mulai Hanggara, suaranya terdengar berat namun stabil. "Tapi setelah kejadian beberapa hari ini, saya merasa tidak tenang kalau belum bicara jujur di depan Bapak, Ibu, dan Banyu."Hanggara kemudian beralih menatap Nala. Gadis itu masih menunduk, pura-pura tertarik pada motif karpet di bawah kakinya, padahal jantungnya berdegup sangat kencang."Nala... saya minta maaf soal ucapan saya tempo hari. Di depan Anggun, saya memang menyebut kita 'teman'. Tapi itu bukan karena saya ingin menyemb

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 28

    Sesampainya di depan rumah, Nala langsung turun dari motor bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati. Ia tidak mengucapkan terima kasih, tidak memberikan salam, apalagi menoleh. Nala melangkah lebar masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan dengan dentuman yang cukup keras, mengabaikan Hanggara yang masih terpaku di atas jok motornya.Hanggara menghela napas panjang, menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan perasaan campur aduk. Ia sempat menunggu beberapa menit, berharap Nala akan keluar atau setidaknya mengintip dari balik jendela, namun nihil.Hari-hari berikutnya menjadi masa yang paling berat bagi Hanggara. Nala benar-benar membangun benteng tinggi.Pesan WhatsApp dari Hanggara yang awalnya berisi permintaan maaf yang tulus, kemudian berubah menjadi perhatian-perhatian kecil, hanya berakhir dengan status centang dua tanpa pernah berubah menjadi biru. Hanggara mencoba menelepon, namun panggilannya selalu ditolak atau dibiarkan berdering hingga mati. Nala seolah menghila

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 27

    Setelah adegan Nala yang terperosok ke sawah, Hanggara benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Ia berpamitan pada Pak Kardi dan warga lainnya, yang tentu saja melepas mereka dengan siulan godaan yang tak kunjung henti."Ayo, kita cari makan. Kamu pasti capek nungguin saya di sini," ujar Hanggara sambil menuntun Nala menuju motor yang ia parkir di pinggir jalan aspal desa.Hanggara membawa Nala ke sebuah warung mi ayam langganan warga yang letaknya tak jauh dari area persawahan. Warung itu tampak asri dengan beberapa pohon rindang di sekelilingnya. Begitu mesin motor dimatikan, seorang pria paruh baya berkumis tebal yang sedang menuangkan bumbu ke dalam mangkuk langsung mendongak. Matanya menyipit sejenak sebelum kemudian melebar penuh binar kegembiraan."Lho, Hanggara! Cah bagus, ke mana aja kamu? Udah lama nggak mampir ke sini!" seru Bapak pemilik warung itu, Pak Satmo, dengan suara yang menggelegar ramah.Hanggara turun dari motor sambil tersenyum tipis, menghampiri Pak

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 26

    Beberapa minggu kemudian, rutinitas Nala sedikit berubah. Jika biasanya ia menghabiskan pagi hingga siang di warung membantu ayahnya. hari ini ia memutuskan untuk meliburkan diri sejenak. Pikiran Nala sedang ingin berkelana, maka kakinya pun ia bawa melangkah menyusuri jalanan desa yang masih asri.Udara pagi menjelang siang itu terasa segar meresap ke paru-paru. Tanpa terasa, langkah kakinya membawa Nala menjauh dari pemukiman warga, menuju sebuah hamparan hijau yang luas di ujung desa. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan padi yang sedang hijau-hijaunya, bergoyang lembut ditiup angin seperti permadani raksasa.Namun, perhatian Nala teralih pada sekelompok orang yang sedang berkumpul di salah satu petak sawah yang cukup luas. Di sana, kegiatan pemeliharaan sedang berlangsung. Nala mengenali sosok pria yang berdiri di tengah-tengah pematang, tampak sedang memberikan instruksi.Itu Hanggara.Penampilannya sangat berbeda dengan Hanggara yang memakai kemeja koko putih bersih beberap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status