공유

Bab 9

작가: widiabd
last update 최신 업데이트: 2025-12-24 11:50:32

Hanggara mengambilkan jaket dan selimut dari jok belakang dan menyerahkannya pada Nala. "Pakai ini, biar lebih hangat," ucapnya rendah sembari menyodorkan jaket dan selimut tebal yang hangat. Nala hanya bisa menerima pemberian itu dengan tangan bergetar, memakai jaketnya lalu membungkus tubuhnya yang kaku karena kedinginan dengan selimut pemberian Hanggara.

Setelah memastikan Nala lebih tenang di kursinya, Hanggara merogoh ponsel dan segera menghubungi orang bengkel, yang tak lain adalah kakak Nala sendiri, Banyu. Melalui pengeras suara, suara panik Banyu langsung memenuhi kabin mobil begitu sambungan terhubung.

"Halo, Mas Hanggara? Ada perlu apa, ya? Kalau urusan bengkel telepon karyawan saya aja, Mas. Saya lagi nyari adik saya, belum pulang dari siang!" seru Banyu dengan nada yang sangat gusar.

Hanggara melirik Nala sekilas. Gadis itu membelalak panik, menggelengkan kepalanya kuat-kuat seolah memohon agar keberadaannya dirahasiakan, namun Hanggara tetap pada keputusannya. "Banyu, tenang. Nala ada bersama saya. Motornya mogok di jalan hutan jati arah kota. Kondisinya basah kuyup, tapi dia aman."

Hening sejenak di seberang sana, sebelum Banyu berteriak lega sekaligus marah. "Hutan jati?! Ngapain dia ke arah sana? Ya Allah, Mas, tolong titip adik saya. Saya ke sana sekarang bawa mobil bengkel!"

Setelah menghubungi Banyu, mereka tidak langsung pulang, melainkan menunggu kedatangan Banyu di pinggir jalan yang gelap itu. Hanggara mematikan lampu utama mobil agar tidak menyilaukan, menyisakan lampu jalan yang temaram.

Keheningan di dalam mobil SUV itu terasa sangat berat. Nala menenggelamkan wajahnya ke balik jaket besar milik Hanggara, menghirup aroma maskulin yang menenangkan namun juga membuatnya merasa sangat bersalah.

"Satu jam dari desa ke kota dengan motor itu berbahaya bagi perempuan sendirian, Nala," ucap Hanggara tiba-tiba memecah keheningan. Suaranya tidak membentak, tapi ketegasannya membuat Nala merasa makin menciut. "Apalagi lewat hutan ini saat gelap. Bahaya, gimana kalau yang berhenti tadi bukan saya?"

"Maaf, Mas..." bisik Nala lirih, air matanya kembali menetes. "Saya cuma... cuma pengen nonton."

Hanggara menghela napas panjang, tatapannya melembut saat melihat bahu gadis itu terguncang. Ia tidak melanjutkan omelannya. Ia tahu, rasa takut karena mogok di tengah hutan dan konfrontasi dengan Banyu nanti sudah cukup menjadi hukuman bagi Nala.

Sekitar lima belas kemudian, sorot lampu dari mobil pick up hitam milik Banyu membelah kegelapan, berhenti tepat di depan SUV hitam milik Hanggara. Begitu mesin mati, Banyu langsung melompat turun bersama seorang karyawannya. Tanpa peduli pada hujan yang masih menderu, Banyu melangkah lebar dengan wajah yang merah padam karena emosi yang sudah memuncak sejak sore tadi.

Banyu tidak pergi ke arah Hanggara. Ia langsung menuju pintu penumpang depan dan menyentak gagang pintu itu hingga terbuka lebar. Hawa dingin dan aroma tanah basah langsung menerobos masuk ke dalam kabin yang hangat.

"Nala!" bentak Banyu. Suaranya menggelegar, mengalahkan suara rintik hujan yang menghantam atap mobil.

Nala tersentak, ia semakin meringkuk di balik selimut dan jaket milik Hanggara. Tubuhnya yang mungil seolah ingin tenggelam ke dalam jok mobil.

"Apa-apaan kamu ini, hah?!" cecar Banyu tanpa memberi celah. Ia berdiri di ambang pintu, membiarkan tubuhnya basah kuyup demi meluapkan amarahnya. "Bilangnya keliling desa, jajan di depan gang! Ternyata kamu kelayapan sampai ke kota?! Kamu tahu Mama hampir pingsan karena kamu nggak pulang-pulang dan nggak bisa dihubungin? Papa sampai keliling desa buat nyari kamu!"

Nala hanya bisa menunduk, memejamkan mata rapat-rapat sementara air matanya mengalir semakin deras. Ia tidak berani menatap wajah kakaknya yang sangat ia takuti jika sedang marah seperti ini.

"Jawab, Nala! Punya telinga nggak?!" seru Banyu lagi, tangannya mencengkeram pinggiran pintu mobil dengan kuat. Ia tidak menyuruh Nala turun, seolah ingin mengurung adiknya di sana dengan segala omelannya. "Mau jadi apa kamu kalau berani bohong begini, hah?!"

"Banyu, udah."

Suara Hanggara terdengar rendah namun penuh penekanan. Ia yang sejak tadi hanya memperhatikan, akhirnya angkat suara.

"Mas Hanggara, jangan dibela! Anak ini sudah keterlaluan," sahut Banyu menoleh ke arah Hanggara dengan napas yang memburu.

"Saya nggak membela kesalahannya," ucap Hanggara tenang, matanya menatap Banyu dengan wibawa yang membuat emosi Banyu sedikit mereda. "Tapi lihat kondisi adikmu. Dia kedinginan dan syok. Biarkan dia tenang dulu. Kamu urus motornya dengan karyawanmu, biar Nala saya antar sampai ke depan pintu rumah. Kita bicarakan ini baik-baik di rumahmu nanti."

Banyu mendengus kasar, ia menatap Nala yang masih sesenggukan dengan pandangan tajam yang seolah berkata 'urusan kita belum selesai'. Dengan gerakan kasar, Banyu menutup kembali pintu SUV itu hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras, lalu berbalik menuju motor Nala yang terparkir di pinggir jalan.

Hanggara menjalankan mobilnya, tepat setelah Banyu menjalankan mobilnya. Suasana di dalam kabin kini jauh lebih berat dari sebelumnya. Nala merasa dadanya sesak, bayangan kemarahan Banyu dan kekecewaan ayah dan ibunya nanti membuatnya merasa seperti pesakitan yang sedang diantar menuju tiang gantungan.

"Banyu benar, Nala. Kamu salah," ucap Hanggara pelan sambil terus menyetir. "Tapi menangis sekarang nggak akan menyelesaikan masalah. Siapkan mentalmu untuk minta maaf pada keluargamu nanti."

Nala tidak menyahut. Ia hanya merapatkan jaket Hanggara ke tubuhnya, mencoba mencari sisa-sisa kehangatan di tengah rasa takut yang melumpuhkan. Mobil SUV itu melaju perlahan mengikuti lampu belakang pick up Banyu yang bergerak menembus kegelapan jalanan hutan jati.

Sekitar dua puluh menit kemudian, gerbang rumah Pak Bakti terlihat. Lampu teras menyala terang benderang, menampakkan sosok Pak Bakti yang berdiri kaku di depan pintu, didampingi Bu Raras yang tampak gelisah dengan mata sembab. Begitu mobil Hanggara berhenti di halaman, Bu Raras langsung berlari mendekat tanpa mempedulikan sisa rintik hujan.

Hanggara segera turun dan membukakan pintu untuk Nala.

"Nala! Ya Allah, Nak!" Bu Raras langsung menghambur memeluk putrinya yang turun dengan tubuh terbungkus selimut. "Kamu ke mana aja, sih? Mama takut banget kamu kenapa-kenapa di jalan."

Pak Bakti melangkah turun dari teras. Wajahnya yang biasa santai kini tampak guratan lelah dan kecewa yang sangat dalam. Ia menatap Nala cukup lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kemudian beralih menatap Hanggara.

"Terima kasih banyak, Mas Hanggara. Saya tidak tahu harus membalas apa kalau Mas tidak menemukan anak ini," ucap Pak Bakti dengan suara parau.

"Sama-sama, Pak. Kebetulan saya lewat jalan tadi dan ketemu Nala," jawab Hanggara sopan. Ia tetap berdiri di samping Nala, seolah menjadi penengah antara gadis itu dan kemarahan keluarga yang sudah di depan mata.

Tak lama Banyu menyusul, sendirian, dan mobil pick up nya sudah kosong. Banyu memarkirkan mobilnya dengan gerakan yang masih menunjukkan sisa-sisa emosi. Ia berjalan cepat mendekati kerumunan di halaman, wajahnya basah oleh air hujan dan peluh.

"Motornya mogok, dan udah aku taruh di bengkel," jawab Banyu dengan suara serak. Ia kemudian menatap Nala yang masih berdiri dengan kepala tertunduk di samping ibunya. "Nih, ambil!"

Banyu menyerahkan beberapa kantong belanjaan yang sempat ia amankan dari motor tadi dengan kasar. Barang-barang itu basah kuyup, menambah rasa bersalah yang menghimpit dada Nala.

"Bawa masuk dulu anakmu, Ma. Suruh mandi air hangat dan ganti baju," perintah Pak Bakti tanpa menatap Nala secara langsung. Nada suaranya yang dingin justru terasa lebih menyakitkan daripada bentakan Banyu tadi.

Nala menurut, ia melangkah gontai dituntun oleh ibunya masuk ke dalam rumah. Sebelum pintu tertutup, ia sempat mencuri pandang ke arah teras. Ia melihat Hanggara, ayahnya, dan Mas Banyu duduk melingkar di kursi rotan. Hanggara tampak sedang berbicara dengan nada tenang, sesekali mengangguk ke arah Pak Bakti, seolah sedang memberikan penjelasan tambahan atau mungkin mencoba meredam suasana. Setelah itu ia masuk ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian.

Suara hujan di luar mulai mereda, namun percakapan di teras masih terdengar samar-samar. Nala terduduk di tepi ranjang, menatap jaket dan selimut milik Hanggara yang kini berada di keranjang cucian. Aroma parfum pria itu masih tertinggal di sana, aroma yang anehnya membuatnya merasa terlindungi di tengah kekacauan ini.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara mesin SUV Hanggara menyala. Nala bergegas mengintip dari balik tirai jendela. Ia melihat Hanggara berpamitan dengan sopan kepada ayahnya dan Banyu. Sebelum masuk ke mobil, Hanggara sempat menoleh ke arah jendela kamar Nala, seolah tahu gadis itu sedang memperhatikannya.

Hanggara tidak melambaikan tangan, ia hanya memberikan satu anggukan kecil yang mantap, lalu mobil hitam itu perlahan meninggalkan halaman rumah.

"Nala, keluar. Papa mau bicara," suara Mas Banyu mengetuk pintu kamar dengan keras, memecah lamunan Nala.

Nala memejamkan mata rapat-rapat. Ia tahu, meskipun Hanggara sudah membantunya pulang, konsekuensi dari kebohongannya baru saja akan dimulai.

***

Tbc.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 31

    Minggu pagi di desa selalu terasa lebih tenang, namun tidak bagi Nala. Sejak matanya terbuka dan menatap langit-langit kamar, pikirannya sudah melanglang buana. Ia teringat percakapan di telepon semalam, Hanggara bilang hari Minggu biasanya ia gunakan untuk mengecek laporan mingguan secara santai di rumah. Nala menggigit bibir, ada keinginan yang membuncah di dadanya untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan pria itu.Nala ingin ke mal. Ia ingin merasakan sensasi kencan yang "normal" seperti pasangan di kota, berjalan di bawah pendingin ruangan, melihat deretan toko, atau sekadar makan es krim sambil bergandengan tangan tanpa perlu takut digoda tetangga.Setelah mandi, Nala duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya dengan ragu. "Ajak nggak ya? Kalau dia capek gimana? Ah, coba aja dulu deh." gumamnya. Nala:Mas, hari ini kan Minggu... Mas sibuk banget nggak? Kalau misal aku ajak ke kota mau nggak? Aku pengin ke mal, jalan-jalan. Tapi kalau Mas capek, nggak apa-apa kok.Pesan itu

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 30

    Keesokan harinya, matahari baru saja merangkak naik, menyiram atap-atap seng kandang ayam petelur milik Hanggara dengan cahaya keemasan. Bau khas pakan jagung dan aktivitas ribuan ayam yang riuh rendah menjadi musik pagi yang sudah biasa ia dengar. Namun, pagi ini, melodi itu terdengar jauh lebih merdu di telinganya. Hanggara berjalan menyusuri lorong panjang di antara barisan kandang yang diberi sekat. Ia mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan guratan otot yang bekerja keras membangun bisnis ini dari nol. Sebagai pemilik, ia tak lagi harus turun tangan setiap saat, namun ia bukan tipe bos yang hanya duduk di balik meja. "Pagi, Mas Gara. Tumben senyumnya lebar banget, kayak habis menang lotre," celetuk salah satu pekerjanya, Andra, yang sedang mencatat jumlah telur yang terkumpul di rak. Hanggara menghentikan langkahnya sebentar, memeriksa kualitas kerabang telur di salah satu baki. "Lotre mah lewat, Ndra. Ini lebih dari itu," jawabnya pendek samb

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 29

    Nala duduk dengan kaku, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan. Suasana ruang tamu yang biasanya hangat kini terasa begitu formal. Pak Bakti dan Mas Banyu duduk di sofa tunggal, bertindak layaknya saksi yang mengawasi dengan saksama, sementara Bu Raras duduk di sampingnya.Hanggara berdeham kecil untuk memecah keheningan. Ia tidak langsung bicara pada Nala, melainkan menatap Pak Bakti terlebih dahulu dengan sorot mata penuh hormat."Pak, sebelumnya saya minta maaf karena bertamu malam-malam begini," mulai Hanggara, suaranya terdengar berat namun stabil. "Tapi setelah kejadian beberapa hari ini, saya merasa tidak tenang kalau belum bicara jujur di depan Bapak, Ibu, dan Banyu."Hanggara kemudian beralih menatap Nala. Gadis itu masih menunduk, pura-pura tertarik pada motif karpet di bawah kakinya, padahal jantungnya berdegup sangat kencang."Nala... saya minta maaf soal ucapan saya tempo hari. Di depan Anggun, saya memang menyebut kita 'teman'. Tapi itu bukan karena saya ingin menyemb

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 28

    Sesampainya di depan rumah, Nala langsung turun dari motor bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati. Ia tidak mengucapkan terima kasih, tidak memberikan salam, apalagi menoleh. Nala melangkah lebar masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan dengan dentuman yang cukup keras, mengabaikan Hanggara yang masih terpaku di atas jok motornya.Hanggara menghela napas panjang, menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan perasaan campur aduk. Ia sempat menunggu beberapa menit, berharap Nala akan keluar atau setidaknya mengintip dari balik jendela, namun nihil.Hari-hari berikutnya menjadi masa yang paling berat bagi Hanggara. Nala benar-benar membangun benteng tinggi.Pesan WhatsApp dari Hanggara yang awalnya berisi permintaan maaf yang tulus, kemudian berubah menjadi perhatian-perhatian kecil, hanya berakhir dengan status centang dua tanpa pernah berubah menjadi biru. Hanggara mencoba menelepon, namun panggilannya selalu ditolak atau dibiarkan berdering hingga mati. Nala seolah menghila

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 27

    Setelah adegan Nala yang terperosok ke sawah, Hanggara benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Ia berpamitan pada Pak Kardi dan warga lainnya, yang tentu saja melepas mereka dengan siulan godaan yang tak kunjung henti."Ayo, kita cari makan. Kamu pasti capek nungguin saya di sini," ujar Hanggara sambil menuntun Nala menuju motor yang ia parkir di pinggir jalan aspal desa.Hanggara membawa Nala ke sebuah warung mi ayam langganan warga yang letaknya tak jauh dari area persawahan. Warung itu tampak asri dengan beberapa pohon rindang di sekelilingnya. Begitu mesin motor dimatikan, seorang pria paruh baya berkumis tebal yang sedang menuangkan bumbu ke dalam mangkuk langsung mendongak. Matanya menyipit sejenak sebelum kemudian melebar penuh binar kegembiraan."Lho, Hanggara! Cah bagus, ke mana aja kamu? Udah lama nggak mampir ke sini!" seru Bapak pemilik warung itu, Pak Satmo, dengan suara yang menggelegar ramah.Hanggara turun dari motor sambil tersenyum tipis, menghampiri Pak

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 26

    Beberapa minggu kemudian, rutinitas Nala sedikit berubah. Jika biasanya ia menghabiskan pagi hingga siang di warung membantu ayahnya. hari ini ia memutuskan untuk meliburkan diri sejenak. Pikiran Nala sedang ingin berkelana, maka kakinya pun ia bawa melangkah menyusuri jalanan desa yang masih asri.Udara pagi menjelang siang itu terasa segar meresap ke paru-paru. Tanpa terasa, langkah kakinya membawa Nala menjauh dari pemukiman warga, menuju sebuah hamparan hijau yang luas di ujung desa. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan padi yang sedang hijau-hijaunya, bergoyang lembut ditiup angin seperti permadani raksasa.Namun, perhatian Nala teralih pada sekelompok orang yang sedang berkumpul di salah satu petak sawah yang cukup luas. Di sana, kegiatan pemeliharaan sedang berlangsung. Nala mengenali sosok pria yang berdiri di tengah-tengah pematang, tampak sedang memberikan instruksi.Itu Hanggara.Penampilannya sangat berbeda dengan Hanggara yang memakai kemeja koko putih bersih beberap

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status