공유

Bab 2

작가: widiabd
last update 게시일: 2025-12-14 12:16:27

Nala menghirup dalam-dalam aroma rumahnya. Bau kayu jati tua, pewangi lantai karbol, dan tumisan bumbu dapur yang meresap hingga ke sudut ruangan. Rasanya luar biasa menenangkan. Ia segera menuju dapur untuk mencuci tangan, sementara Bu Raras sibuk menata piring-piring di meja makan kayu yang cukup besar untuk mereka sekeluarga.

"Nala, piringnya ambil di rak bawah ya, Nduk. Sendoknya juga, sekalian tolong bawa kerupuk di kaleng biru itu," perintah Bu Raras dengan nada riang yang tak tertutupi.

Saat Nala sedang sibuk menata meja, terdengar suara deru mobil yang berhenti di halaman depan. Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang mantap menyusul, diiringi suara lembut seorang perempuan yang sedang tertawa.

"Assalamu’alaikum! Waduh, aromanya udah sampai ke depan ini," seru sebuah suara berat yang berwibawa.

"Wa’alaikumsalam! Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu," sahut Pak Bakti dari ruang tengah.

Nala menoleh ke arah pintu penghubung ruang makan. Di sana berdiri Dimas, kakak sulungnya, yang tampak rapi dengan kemeja polos berwarna krem, didampingi istrinya, Mbak Tari, yang terlihat anggun dengan dress panjang berwarna salem. Dimas adalah sosok yang paling tenang di keluarga mereka, namun juga yang paling protektif terhadap Nala.

"Mas Dimas! Mbak Tari!" Nala setengah berlari menghampiri mereka.

Dimas tersenyum lebar, meletakkan tas jinjingnya di kursi terdekat sebelum merentangkan tangan. Nala memeluk kakak tertuanya itu dengan perasaan lega yang berbeda. Jika Banyu adalah tempatnya bertengkar, maka Dimas adalah tempatnya mengadu secara serius.

"Sehat, Dek?" tanya Dimas sambil menepuk-nepuk bahu Nala. Matanya memicing, memperhatikan adiknya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kamu kok makin kecil aja? Itu pipi udah nggak ada baksonya lagi."

"Tuh kan, Mas Dimas juga bilang gitu!" Banyu yang baru muncul dari arah dapur sambil mengunyah mendoan panas langsung menyahut. "Makanya, Mas, omelin gih. Kayaknya di Jakarta sok-sokan mau diet atau emang nggak bisa beli makan dia itu."

Mbak Tari tertawa kecil, ia mendekat dan memeluk Nala dengan lembut. "Udah, jangan dengerin Mas-masmu yang jahil ini, Dek. Yang penting sekarang udah di rumah. Mbak bawain kue kesukaanmu juga tadi, nanti kita makan bareng ya."

"Makasih ya, Mbak Tari. Mbak makin cantik aja, kayaknya aura pengantin baru nggak hilang-hilang," goda Nala, mencoba mengalihkan pembicaraan dari berat badannya.

"Pengantin baru apa, udah mau dua tahun juga," balas Tari tersenyum malu.

"Ayo, ayo, semuanya duduk!" ajak Bu Raras dari meja makan. "Nanti lanjut ngobrolnya sambil makan. Makanannya keburu dingin, nggak enak."

Mereka semua akhirnya berkumpul di meja makan. Pak Bakti duduk di kepala meja, Bu Raras di sisi kanan bersama Dimas dan Tari, sementara Nala duduk di sisi kiri berhadapan dengan mereka, tepat di samping Banyu yang sedari tadi matanya tidak lepas dari mangkuk besar berisi brongkos daging sapi.

Suasana makan bersama itu dimulai dengan doa yang dipimpin oleh Pak Bakti. Keheningan sesaat yang khidmat itu seolah menjadi garis pembatas antara kehidupan sulit Nala di Jakarta dan kehidupan baru yang lebih tenang di desa.

"Selamat makan!" seru Banyu semangat.

Meja makan itu penuh dengan hidangan yang menggugah selera. Ada Brongkos dengan kuah hitam pekat yang kaya rempah, potongan daging yang empuk, kacang tolo, dan kulit melinjo. Di tengahnya, sepiring besar Tempe Mendoan yang masih hangat dan lembek, persis seperti yang Nala dambakan selama ini. Tak lupa sambal korek yang pedasnya menggigit dan lalapan segar dari kebun belakang.

"Ini, Dek. Makan dagingnya yang banyak," Dimas menyendokkan potongan daging besar ke piring adiknya.

"Eh, Mas, kebanyakan! Nanti aku kekenyangan," protes Nala.

"Nggak ada kata kebanyakan buat kamu sekarang. Lihat itu, tanganmu udah kayak lidi," timpal Dimas lagi.

Nala akhirnya menyuapkan sesendok nasi dengan kuah brongkos ke mulutnya. Begitu rasa gurih, sedikit manis dari kluwek, dan rempah-rempahnya menyentuh lidah, Nala memejamkan mata. Ia hampir ingin menangis lagi. Rasa ini tidak akan pernah ia temukan di warteg mana pun di Jakarta atau bahkan restoran mahal sekalipun. Ini adalah rasa kasih sayang seorang ibu yang dimasak dengan sabar.

---

Malam harinya, setelah makan bersama yang diselingi oleh obrolan penuh dengan canda tawa, keadaan rumah kembali hening. Dimas dan Tari tidak bisa menginap karena besok ada urusan lagi. Sedangkan Banyu kembali ke bengkel karena ada klien yang ingin motornya diperbaiki langsung oleh Banyu. Kedua orangtuanya sudah kembali ke kamar, setelah cukup lama berbincang-bincang dengan Nala di ruang keluarga.

Dan kini, Nala sendirian, di kamarnya yang masih terlihat sama seperti terakhir kali ia tinggalkan. Nala duduk di tepi ranjangnya, memandang sekeliling kamar. Dindingnya masih dicat dengan warna lilac lembut, warna yang ia pilih saat masih SMA. Meja belajarnya masih dipenuhi buku-bukunya saat SMA dan beberapa pajangan kecil yang ia dapat dari teman-temannya.

Kamar ini adalah saksi bisu dari semua mimpinya, ambisinya, dan kegelisahannya di masa remaja.

Perlahan, Nala bangkit, lalu menyeret kopernya ke dekat lemari. Nala meletakkannya di lantai, lalu membuka ritsletingnya perlahan.

Ia keluarkan pakaiannya satu persatu. Saat semua pakaiannya sudah dikeluarkan, Nala pun bangkit dan menyusun semuanya di lemari. Namun perhatiannya teralihkan pada sebuah buku dengan sampul yang sudah usang, tertimbun oleh baju-baju lamanya.

Tangannya terulur meraih buku bersampul kain biru yang terlihat usang itu. Buku harian. Ia ingat, ia pernah menulis dengan rajin di sana saat masih SMA, mencurahkan semua cita-cita dan rencananya.

Ia duduk kembali di tepi ranjang, menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang yang empuk, dan membuka buku itu perlahan. Debu tipis sempat berterbangan.

Halaman-halaman pertama berisi coretan hati tentang gebetan dan jadwal les. Nala tersenyum geli. Ia membalik terus hingga menemukan tulisan tangan yang lebih rapi dan matang.

2 Januari, 20xx. Tahun baru, semangat baru. Aku harus bisa lulus dengan nilai terbaik, lalu kuliah di kampus impian, dan langsung dapat kerja di perusahaan multinasional di Jakarta. Aku harus mandiri, nggak mau terus-terusan jadi 'anak mami' yang cuma bisa minta uang dari Papa dan Mas-Mas.

Nala memejamkan mata sejenak. Ia sudah berhasil lulus sekolah dengan nilai terbaik, ia juga sudah berhasil menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Tapi untuk satu hal yang terakhir itu... Nala gagal.

Ia membalik lagi. Ada coretan tentang bagaimana ia meyakinkan Papa untuk mengizinkannya merantau, dan bagaimana Banyu, meskipun mengejek, adalah orang pertama yang membantunya mencari kosan yang aman.

15 Juli, 20xx Hari ini Mas Banyu masuk ke kamar. Dia bilang: "Pergi sana, cari pengalaman, tapi ingat, kalau capek, jangan malu bilang. Jakarta itu hutan, Dek. Jangan sok jadi singa kalau masih kayak anak kucing." Aku benci dia selalu nganggap aku lemah, tapi aku tahu dia cuma khawatir.

Nala menarik napas dalam. Betapa ironisnya. Saat itu ia marah karena dianggap anak kucing, dan kini, ia pulang karena memang merasa kalah oleh 'hutan' itu.

Ia terus membaca hingga mencapai halaman terakhir, yang ternyata ia tulis sesaat sebelum keberangkatannya ke Jakarta.

27 Agustus 20xx. Aku pergi. Aku nggak akan pulang sebelum aku bisa buktikan ke semua orang, terutama ke diriku sendiri, bahwa aku bisa survive. Jakarta, tunggu aku. Aku akan sukses.

Ps: tapi nggak mungkin aku nggak pulang sama sekali sih, Mas Banyu yang nyebelin parah itu pasti bakalan ngomel-ngomel di telepon setiap hari.

Membaca janji terakhir itu, air mata Nala menetes. Ia tidak sukses. Ia melanggar janjinya sendiri hanya dalam hitungan bulan. Rasa malu itu kembali menusuk. Boro-boro sukses, baru diomelin atasan aja udah keok. Nala menutup buku harian itu dengan rasa nyeri yang menusuk. Ia memeluk buku itu di dadanya seolah memeluk versi dirinya yang penuh semangat dan ambisi, sebelum ia bertemu kenyataan pahit ibu kota.

Tuk... Tuk... Tuk...

Nala menoleh begitu mendengar ketukan pintu, ia buru-buru menghapus jejak air mata diwajahnya sebelum bangkit untuk membukakan pintu. Setelah pintu dibuka, sosok sang ayah terlihat berdiri sambil memegang segelas susu hangat. Dulu, saat SMA, setiap ingin tidur, Nala selalu minta dibuatkan segelas susu. Dan ternyata, Papanya masih ingat dengan kebiasaan anaknya dulu.

"Papa lihat lampu kamarnya masih nyala, jadi Papa bikinkan susu. Diminum, ya."

Nala menerimanya dengan senang hati, "Papa masih inget aja. Padahal semenjak kuliah aku udah nggak minum susu lagi sebelum tidur," ujarnya. Dulu, Nala minta dibuatkan susu karena ia ingin cepat tinggi. Namun ternyata, sampai ia duduk di bangku kuliah pun, ia tidak bertambah tinggi, masih kalah jauh dengan kakak-kakaknya.

"Gimana Papa bisa lupa? Dulu, kalau nggak dibikinkan susu, kamu pasti ngambek." Ujar Papa Bakti yang langsung membuat Nala meringis malu. Mungkin karena anak bungsu, Nala gampang sekali ngambek. Bahkan meskipun berjauhan dengan keluarganya, Nala seringkali ngambek karena hal sepele. Kalau sudah ngambek, ia akan mengabaikan semua telepon dan pesan dari semua anggota keluarganya, tanpa terkecuali, sampai mereka kelabakan. Tipikal anak bungsu sekali bukan?

"Udah minumnya? Sini Papa simpenin gelasnya, kamu langsung tidur ya. Jangan begadang,"

Nala mengangguk lalu menyerahkan gelas yang sudah kosong itu. Setelah ayahnya pergi, Nala menutup pintu kamarnya dan kembali ke tempat tidur. Ia menatap sekeliling kamar sekali lagi, sebelum akhirnya ia memilih untuk berbaring dan memejamkan matanya.

***

Tbc.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 31

    Minggu pagi di desa selalu terasa lebih tenang, namun tidak bagi Nala. Sejak matanya terbuka dan menatap langit-langit kamar, pikirannya sudah melanglang buana. Ia teringat percakapan di telepon semalam, Hanggara bilang hari Minggu biasanya ia gunakan untuk mengecek laporan mingguan secara santai di rumah. Nala menggigit bibir, ada keinginan yang membuncah di dadanya untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan pria itu.Nala ingin ke mal. Ia ingin merasakan sensasi kencan yang "normal" seperti pasangan di kota, berjalan di bawah pendingin ruangan, melihat deretan toko, atau sekadar makan es krim sambil bergandengan tangan tanpa perlu takut digoda tetangga.Setelah mandi, Nala duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya dengan ragu. "Ajak nggak ya? Kalau dia capek gimana? Ah, coba aja dulu deh." gumamnya. Nala:Mas, hari ini kan Minggu... Mas sibuk banget nggak? Kalau misal aku ajak ke kota mau nggak? Aku pengin ke mal, jalan-jalan. Tapi kalau Mas capek, nggak apa-apa kok.Pesan itu

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 30

    Keesokan harinya, matahari baru saja merangkak naik, menyiram atap-atap seng kandang ayam petelur milik Hanggara dengan cahaya keemasan. Bau khas pakan jagung dan aktivitas ribuan ayam yang riuh rendah menjadi musik pagi yang sudah biasa ia dengar. Namun, pagi ini, melodi itu terdengar jauh lebih merdu di telinganya. Hanggara berjalan menyusuri lorong panjang di antara barisan kandang yang diberi sekat. Ia mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan guratan otot yang bekerja keras membangun bisnis ini dari nol. Sebagai pemilik, ia tak lagi harus turun tangan setiap saat, namun ia bukan tipe bos yang hanya duduk di balik meja. "Pagi, Mas Gara. Tumben senyumnya lebar banget, kayak habis menang lotre," celetuk salah satu pekerjanya, Andra, yang sedang mencatat jumlah telur yang terkumpul di rak. Hanggara menghentikan langkahnya sebentar, memeriksa kualitas kerabang telur di salah satu baki. "Lotre mah lewat, Ndra. Ini lebih dari itu," jawabnya pendek samb

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 29

    Nala duduk dengan kaku, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan. Suasana ruang tamu yang biasanya hangat kini terasa begitu formal. Pak Bakti dan Mas Banyu duduk di sofa tunggal, bertindak layaknya saksi yang mengawasi dengan saksama, sementara Bu Raras duduk di sampingnya.Hanggara berdeham kecil untuk memecah keheningan. Ia tidak langsung bicara pada Nala, melainkan menatap Pak Bakti terlebih dahulu dengan sorot mata penuh hormat."Pak, sebelumnya saya minta maaf karena bertamu malam-malam begini," mulai Hanggara, suaranya terdengar berat namun stabil. "Tapi setelah kejadian beberapa hari ini, saya merasa tidak tenang kalau belum bicara jujur di depan Bapak, Ibu, dan Banyu."Hanggara kemudian beralih menatap Nala. Gadis itu masih menunduk, pura-pura tertarik pada motif karpet di bawah kakinya, padahal jantungnya berdegup sangat kencang."Nala... saya minta maaf soal ucapan saya tempo hari. Di depan Anggun, saya memang menyebut kita 'teman'. Tapi itu bukan karena saya ingin menyemb

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 28

    Sesampainya di depan rumah, Nala langsung turun dari motor bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati. Ia tidak mengucapkan terima kasih, tidak memberikan salam, apalagi menoleh. Nala melangkah lebar masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan dengan dentuman yang cukup keras, mengabaikan Hanggara yang masih terpaku di atas jok motornya.Hanggara menghela napas panjang, menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan perasaan campur aduk. Ia sempat menunggu beberapa menit, berharap Nala akan keluar atau setidaknya mengintip dari balik jendela, namun nihil.Hari-hari berikutnya menjadi masa yang paling berat bagi Hanggara. Nala benar-benar membangun benteng tinggi.Pesan WhatsApp dari Hanggara yang awalnya berisi permintaan maaf yang tulus, kemudian berubah menjadi perhatian-perhatian kecil, hanya berakhir dengan status centang dua tanpa pernah berubah menjadi biru. Hanggara mencoba menelepon, namun panggilannya selalu ditolak atau dibiarkan berdering hingga mati. Nala seolah menghila

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 27

    Setelah adegan Nala yang terperosok ke sawah, Hanggara benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Ia berpamitan pada Pak Kardi dan warga lainnya, yang tentu saja melepas mereka dengan siulan godaan yang tak kunjung henti."Ayo, kita cari makan. Kamu pasti capek nungguin saya di sini," ujar Hanggara sambil menuntun Nala menuju motor yang ia parkir di pinggir jalan aspal desa.Hanggara membawa Nala ke sebuah warung mi ayam langganan warga yang letaknya tak jauh dari area persawahan. Warung itu tampak asri dengan beberapa pohon rindang di sekelilingnya. Begitu mesin motor dimatikan, seorang pria paruh baya berkumis tebal yang sedang menuangkan bumbu ke dalam mangkuk langsung mendongak. Matanya menyipit sejenak sebelum kemudian melebar penuh binar kegembiraan."Lho, Hanggara! Cah bagus, ke mana aja kamu? Udah lama nggak mampir ke sini!" seru Bapak pemilik warung itu, Pak Satmo, dengan suara yang menggelegar ramah.Hanggara turun dari motor sambil tersenyum tipis, menghampiri Pak

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 26

    Beberapa minggu kemudian, rutinitas Nala sedikit berubah. Jika biasanya ia menghabiskan pagi hingga siang di warung membantu ayahnya. hari ini ia memutuskan untuk meliburkan diri sejenak. Pikiran Nala sedang ingin berkelana, maka kakinya pun ia bawa melangkah menyusuri jalanan desa yang masih asri.Udara pagi menjelang siang itu terasa segar meresap ke paru-paru. Tanpa terasa, langkah kakinya membawa Nala menjauh dari pemukiman warga, menuju sebuah hamparan hijau yang luas di ujung desa. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan padi yang sedang hijau-hijaunya, bergoyang lembut ditiup angin seperti permadani raksasa.Namun, perhatian Nala teralih pada sekelompok orang yang sedang berkumpul di salah satu petak sawah yang cukup luas. Di sana, kegiatan pemeliharaan sedang berlangsung. Nala mengenali sosok pria yang berdiri di tengah-tengah pematang, tampak sedang memberikan instruksi.Itu Hanggara.Penampilannya sangat berbeda dengan Hanggara yang memakai kemeja koko putih bersih beberap

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status