공유

Nala dan Mas Juragan
Nala dan Mas Juragan
작가: widiabd

Bab 1

작가: widiabd
last update 최신 업데이트: 2025-12-13 21:47:11

Setelah perjalanan panjang yang diisi keheningan, kereta yang membawa Nala dari ibu kota akhirnya tiba di stasiun kecil yang letaknya tidak jauh dari kampung halamannya. Dengan ransel di punggung dan koper kecil di tangan, Nala melangkah keluar dari peron, menghirup udara pedesaan yang lembap dan dingin yang menusuk paru-parunya, jauh berbeda dari asap knalpot yang selama ini ia hirup.

Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari seseorang yang akan menjemputnya. Lalu matanya berbinar saat melihat sosok yang tinggi besar dengan kaus oblong yang terlihat lusuh dan sedikit belepotan oli di bagian lengan. Itu Banyu—kakak keduanya—yang sedang berjalan ke arahnya dengan senyum tengil khas miliknya.

"Mas Banyu!" seru Nala, segera melompat ke pelukan sang kakak. Pelukan Banyu terasa hangat dan sedikit berbau oli mesin, aroma yang familiar yang langsung mengendurkan sedikit ketegangan di pundak Nala.

Banyu membalas pelukan Nala dengan satu tangan, sementara tangan yang lain ia gunakan untuk mengacak-acak rambut Nala. "Cih, akhirnya anak mami ini pulang ya? Udah puas jadi buruh korporat yang kerjanya cuma tiga bulan itu?" ejek Banyu, menimpuk kepala Nala pelan dengan topi baseball miliknya.

Nala mendengus kesal, cepat-cepat menjauhkan diri dari sang kakak dan merapikan rambutnya yang acak-acakan. "Mas udah janji gak akan ngeledek aku loh kemarin!"

"Kapan? Mas gak ngerasa tuh," balas Banyu, pura-pura tidak ingat sambil mengangkat bahu.

"Gak usah ngelak, deh. Ini bukti chat-nya masih ada!" Nala menggerutu.

Banyu tergelak. Ia meraih koper berwarna lilac milik Nala dan menggiring Nala ke arah mobil sedan tuanya yang terparkir agak jauh. "Ya abisnya kalau gak dijanjiin kamu gak bakal mau pulang."

"Lagian kenapa sih, kalian ngebet banget nyuruh aku pulang? Aku loh pengin mandiri, pengin cari pengalaman kerja, syukur-syukur bisa sekalian dapet jodoh di tempat kerja!" protes Nala, mengikuti langkah Banyu.

Banyu mendadak menghentikan langkahnya dan menoleh tajam. "Heh! Kamu tuh bocah kemarin sore, gak usah mikirin jodoh-jodoh segala! Udahlah, ayo masuk mobil."

Nala hanya mendengus saat Banyu memasukkan kopernya ke bagasi. Setelah Nala duduk di kursi penumpang, Banyu mengisi bangku kemudi. Ia melirik adiknya yang sudah duduk anteng.

"Dengerin, Dek. Kalau urusan pekerjaan, di kampung juga banyak. Kalau gak dapet di desa sendiri, ya di pusat kota. Seenggaknya ada Mas Dimas yang ngawasin kamu. Kalau di Jakarta, Mama sama Papa tuh khawatir, Dek. Takutnya, kamu salah pergaulan dan lain-lain," jelas Banyu, nada usilnya sedikit meredup digantikan kekhawatiran khas seorang kakak. "Lagian, sebenernya kamu gak kerja juga gak masalah, toh uang jajan kamu aman. Selain dari Papa, Mas Banyu sama Mas Dimas juga ngasih kan? Atau nggak kamu bisa bantuin Papa di warung, lumayan gajinya bisa buat beli skincare."

Nala mendengus, ucapan Banyu memang seratus persen benar. Selama berkuliah, bahkan saat sudah mulai bekerja pun, Ayah dan kedua kakaknya—Dimas dan Banyu—rutin mengirimi Nala uang jajan tambahan, di luar uang kuliah dan uang sewa kos. Keluarga Nala memang terbilang mapan. Nala adalah anak bungsu yang paling dimanja, semua kebutuhannya selalu terpenuhi. Maka dari itu ia ingin mandiri dan merasakan punya penghasilan sendiri. Namun karena terbiasa dimanja dan dipenuhi kebutuhannya, membuat mental Nala down saat dihadapi dengan dunia kerja—yang ternyata tidak semudah itu.

Saat mobil mulai berjalan, Nala memalingkan wajahnya ke samping. Memandang pepohonan dan kendaraan yang berlalu-lalang di luar jendela. "Mama sama Papa nanti gimana, ya, Mas?" Tanya Nala setelah beberapa saat hening.

Banyu menoleh ke samping, ke arah sang adik. "Gimana apanya?"

Nala menghela napas panjang, sedikit memilin ujung kausnya. "Mereka... kecewa gak, ya? Aku kemarin ngotot banget gak mau pulang, dan bakal buktiin kalau aku bisa mandiri, bisa survive di lingkungan kerja. Eh baru tiga bulan malah nyerah, dan akhirnya mundur. Mana alasan pulangnya karena diancam gak bakal di transfer lagi." Suara Nala terdengar kecil dan sarat rasa bersalah.

Banyu kembali fokus pada jalanan di depannya, tetapi nadanya melembut. "Kanala, dengerin. Mereka itu cuma pengen kamu bahagia dan aman. Kalaupun mereka kecewa, itu bukan karena kamu gagal survive, tapi karena anak bungsunya kurus kering kayak gini," tangan kiri Banyu terulur untuk meraih pergelangan tangan Nala yang terasa lebih kecil dari beberapa tahun lalu—saat Nala untuk yang yang pertama kalinya berangkat ke Jakarta. "Kamu makan gak sih di sana? Kurus banget, Mama pasti bakalan ngomel-ngomel deh nanti, Mas yakin banget."

Nala memukul lengan Banyu pelan. "Ih! Ya makan lah! Serius dulu dong, Mas!"

Banyu terkekeh kecil, senyum tengilnya kembali terlihat. Ia melepaskan pergelangan tangan Nala, tetapi pandangannya kini lebih serius. "Mama dan Papa nggak akan kecewa, Dek. Mereka malah seneng karena akhirnya bisa bareng-bareng lagi sama anak bungsunya. Mas juga seneng, karena akhirnya ada orang yang bisa dijahilin di rumah." Ujarnya yang langsung dihadiahi cubitan kepiting dari sang adik.

Nala mendengus sebal, kemudian membuang napas lega karena beban di hatinya sedikit terangkat. Ia tahu, Banyu selalu pandai merangkai kata-kata meski dengan gaya bicara yang seenaknya.

"Soal warung, ya bantuin sebisanya aja," lanjut Banyu. "Gak bantu juga gak apa-apa, Mama sama Papa juga gak akan maksa."

Nala menggeleng pelan, "Enggak lah, Mas. Masa aku diem doang? Aku mau kok bantuin Papa jaga warung, seenggaknya aku harus punya kegiatan biar gak kepikiran buat nyoba balik ke... Jakarta lagi." Nala tersenyum kecut.

"Nah, gitu dong! Itu baru adiknya Banyu!" Banyu memukul setir mobil sekali, bersemangat. "Lagian, Mas yakin kamu bakalan betah. Di sini udaranya enak, makanannya enak, dijamin berat badanmu balik normal dalam sebulan."

Mereka kembali terdiam, hanya suara deru mesin mobil dan lalu lalang kendaraan sesekali yang mengisi keheningan. Nala memiringkan kepalanya ke jendela, memerhatikan deretan rumah penduduk yang mulai padat dan terasa asing. Ia melihat anak-anak kecil berlarian di halaman, beberapa pemuda sedang bermain voli di lapangan desa, dan sepasang kakek-nenek duduk santai di teras sambil menikmati teh.

Kontras sekali dengan hiruk pikuk Jakarta yang penuh ambisi dan persaingan. Di sini, semuanya terasa berjalan lebih lambat, lebih damai.

Tak lama kemudian, mobil Banyu berbelok memasuki sebuah jalanan yang teduh, dikelilingi pagar tanaman yang rapi. Di ujung jalan, terdapat sebuah rumah bergaya lama dengan halaman luas yang bersih, tanpa pagar.

Nala bisa melihat sepasang paruh baya berdiri di teras. Mereka menyambut kedatangan mereka dengan senyum lebar.

"Tuh lihat, Mama sama Papa kelihatan seneng banget," bisik Banyu, senyumnya ikut melebar.

Jantung Nala berdesir kencang. Sedikit rasa takut dan haru bercampur aduk. Saat Banyu mematikan mesin, Nala segera membuka pintu mobil.

"Nala! Anakku!"

Suara itu, suara Mama yang bergetar menahan tangis, seketika meruntuhkan pertahanan diri Nala. Tanpa menunggu sedetik pun, ia berlari kecil dan langsung menghambur ke dalam pelukan wanita paruh baya yang masih mengenakan daster batik favoritnya itu.

"Mama..." cicit Nala, suaranya pecah. Aroma minyak angin bercampur wangi masakan rumahan yang menguar dari tubuh ibunya seketika membuat air mata Nala tumpah. Rasanya seperti pulang ke tempat paling aman di dunia setelah tersesat di hutan belantara.

"Ya ampun, Nduk. Kamu kurus sekali!" Mama melepas pelukan sejenak, menangkup wajah Nala dengan kedua tangannya yang hangat, lalu meneliti wajah putrinya dengan tatapan cemas berlebihan. "Pipi gembilmu ke mana? Di sana kamu makan teratur, kan? Atau kamu irit-irit biar bisa belanja-belanja di mall?"

Nala tertawa di sela isak tangisnya. Prediksi Banyu benar seratus persen. "Makan kok, Ma. Cuma... ya gitu, makanan di sana nggak seenak bikinan Mama, bikin nggak selera. Aku jadi kangen masakan Mama, deh."

Di belakang Mama, Papa melangkah maju. Pria yang rambutnya hampir memutih sepenuhnya itu tidak banyak bicara. Ia hanya tersenyum teduh, lalu menarik Nala ke dalam rengkuhan hangat yang kokoh. "Selamat datang kembali di rumah, anak Papa," bisik Papa lembut, mengecup puncak kepala Nala.

"Maafin Nala ya, Pa. Nala gagal... Nala malah pulang," gumam Nala di dada ayahnya, rasa bersalah kembali menyengat.

Papa menggeleng pelan, lalu menatap mata anak bungsunya lekat-lekat. "Pulang ke rumah bukan kegagalan, Nala. Itu namanya istirahat. Papa sama Mama justru sedih kalau kamu menderita sendirian di sana tapi diam saja."

"Tuh, dengerin," celetuk Banyu yang baru saja tiba sambil menyeret koper lilac Nala dengan satu tangan dan memikul ransel Nala di bahu satunya. Ia nyengir lebar melihat adegan haru biru di depannya. "Udah dramanya? Ini koper Tuan Putri berat banget isinya, kayak bawa batu kali. Ayo masuk, Mas laper."

Mama langsung melotot ke arah Banyu, tapi sedetik kemudian ia kembali tersenyum cerah pada Nala. "Iya, ayo masuk. Mama sudah masak brongkos kesukaanmu, sama tempe mendoan yang banyak. Mas Dimas sama Mbak Tari juga bentar lagi sampai, katanya dia ngebut dari kota biar bisa makan bareng adik kesayangannya."

Nala mengangguk semangat, menghapus sisa air mata di pipinya. Ia menggandeng lengan Mama di kiri dan Papa di kanan, berjalan masuk ke dalam rumah yang lantainya terasa sejuk di telapak kaki.

Saat melangkah melewati ambang pintu, melihat ruang tamu dengan sofa tua yang familiar dan foto wisudanya yang terpajang besar di dinding, hati Nala menghangat. Hiruk pikuk ibu kota, target pekerjaan yang gila, dan rasa sepi di kamar kos sempit itu rasanya sudah tertinggal jutaan kilometer di belakang.

Benar kata Banyu. Mungkin ia memang "bocah kemarin sore" yang belum siap menghadapi dunia, tapi setidaknya sore ini, Nala tahu ia berada di tempat yang tepat. Ia sudah pulang.

***

Tbc.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 31

    Minggu pagi di desa selalu terasa lebih tenang, namun tidak bagi Nala. Sejak matanya terbuka dan menatap langit-langit kamar, pikirannya sudah melanglang buana. Ia teringat percakapan di telepon semalam, Hanggara bilang hari Minggu biasanya ia gunakan untuk mengecek laporan mingguan secara santai di rumah. Nala menggigit bibir, ada keinginan yang membuncah di dadanya untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan pria itu.Nala ingin ke mal. Ia ingin merasakan sensasi kencan yang "normal" seperti pasangan di kota, berjalan di bawah pendingin ruangan, melihat deretan toko, atau sekadar makan es krim sambil bergandengan tangan tanpa perlu takut digoda tetangga.Setelah mandi, Nala duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya dengan ragu. "Ajak nggak ya? Kalau dia capek gimana? Ah, coba aja dulu deh." gumamnya. Nala:Mas, hari ini kan Minggu... Mas sibuk banget nggak? Kalau misal aku ajak ke kota mau nggak? Aku pengin ke mal, jalan-jalan. Tapi kalau Mas capek, nggak apa-apa kok.Pesan itu

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 30

    Keesokan harinya, matahari baru saja merangkak naik, menyiram atap-atap seng kandang ayam petelur milik Hanggara dengan cahaya keemasan. Bau khas pakan jagung dan aktivitas ribuan ayam yang riuh rendah menjadi musik pagi yang sudah biasa ia dengar. Namun, pagi ini, melodi itu terdengar jauh lebih merdu di telinganya. Hanggara berjalan menyusuri lorong panjang di antara barisan kandang yang diberi sekat. Ia mengenakan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan guratan otot yang bekerja keras membangun bisnis ini dari nol. Sebagai pemilik, ia tak lagi harus turun tangan setiap saat, namun ia bukan tipe bos yang hanya duduk di balik meja. "Pagi, Mas Gara. Tumben senyumnya lebar banget, kayak habis menang lotre," celetuk salah satu pekerjanya, Andra, yang sedang mencatat jumlah telur yang terkumpul di rak. Hanggara menghentikan langkahnya sebentar, memeriksa kualitas kerabang telur di salah satu baki. "Lotre mah lewat, Ndra. Ini lebih dari itu," jawabnya pendek samb

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 29

    Nala duduk dengan kaku, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan. Suasana ruang tamu yang biasanya hangat kini terasa begitu formal. Pak Bakti dan Mas Banyu duduk di sofa tunggal, bertindak layaknya saksi yang mengawasi dengan saksama, sementara Bu Raras duduk di sampingnya.Hanggara berdeham kecil untuk memecah keheningan. Ia tidak langsung bicara pada Nala, melainkan menatap Pak Bakti terlebih dahulu dengan sorot mata penuh hormat."Pak, sebelumnya saya minta maaf karena bertamu malam-malam begini," mulai Hanggara, suaranya terdengar berat namun stabil. "Tapi setelah kejadian beberapa hari ini, saya merasa tidak tenang kalau belum bicara jujur di depan Bapak, Ibu, dan Banyu."Hanggara kemudian beralih menatap Nala. Gadis itu masih menunduk, pura-pura tertarik pada motif karpet di bawah kakinya, padahal jantungnya berdegup sangat kencang."Nala... saya minta maaf soal ucapan saya tempo hari. Di depan Anggun, saya memang menyebut kita 'teman'. Tapi itu bukan karena saya ingin menyemb

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 28

    Sesampainya di depan rumah, Nala langsung turun dari motor bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati. Ia tidak mengucapkan terima kasih, tidak memberikan salam, apalagi menoleh. Nala melangkah lebar masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan dengan dentuman yang cukup keras, mengabaikan Hanggara yang masih terpaku di atas jok motornya.Hanggara menghela napas panjang, menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan perasaan campur aduk. Ia sempat menunggu beberapa menit, berharap Nala akan keluar atau setidaknya mengintip dari balik jendela, namun nihil.Hari-hari berikutnya menjadi masa yang paling berat bagi Hanggara. Nala benar-benar membangun benteng tinggi.Pesan WhatsApp dari Hanggara yang awalnya berisi permintaan maaf yang tulus, kemudian berubah menjadi perhatian-perhatian kecil, hanya berakhir dengan status centang dua tanpa pernah berubah menjadi biru. Hanggara mencoba menelepon, namun panggilannya selalu ditolak atau dibiarkan berdering hingga mati. Nala seolah menghila

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 27

    Setelah adegan Nala yang terperosok ke sawah, Hanggara benar-benar menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Ia berpamitan pada Pak Kardi dan warga lainnya, yang tentu saja melepas mereka dengan siulan godaan yang tak kunjung henti."Ayo, kita cari makan. Kamu pasti capek nungguin saya di sini," ujar Hanggara sambil menuntun Nala menuju motor yang ia parkir di pinggir jalan aspal desa.Hanggara membawa Nala ke sebuah warung mi ayam langganan warga yang letaknya tak jauh dari area persawahan. Warung itu tampak asri dengan beberapa pohon rindang di sekelilingnya. Begitu mesin motor dimatikan, seorang pria paruh baya berkumis tebal yang sedang menuangkan bumbu ke dalam mangkuk langsung mendongak. Matanya menyipit sejenak sebelum kemudian melebar penuh binar kegembiraan."Lho, Hanggara! Cah bagus, ke mana aja kamu? Udah lama nggak mampir ke sini!" seru Bapak pemilik warung itu, Pak Satmo, dengan suara yang menggelegar ramah.Hanggara turun dari motor sambil tersenyum tipis, menghampiri Pak

  • Nala dan Mas Juragan   Bab 26

    Beberapa minggu kemudian, rutinitas Nala sedikit berubah. Jika biasanya ia menghabiskan pagi hingga siang di warung membantu ayahnya. hari ini ia memutuskan untuk meliburkan diri sejenak. Pikiran Nala sedang ingin berkelana, maka kakinya pun ia bawa melangkah menyusuri jalanan desa yang masih asri.Udara pagi menjelang siang itu terasa segar meresap ke paru-paru. Tanpa terasa, langkah kakinya membawa Nala menjauh dari pemukiman warga, menuju sebuah hamparan hijau yang luas di ujung desa. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan padi yang sedang hijau-hijaunya, bergoyang lembut ditiup angin seperti permadani raksasa.Namun, perhatian Nala teralih pada sekelompok orang yang sedang berkumpul di salah satu petak sawah yang cukup luas. Di sana, kegiatan pemeliharaan sedang berlangsung. Nala mengenali sosok pria yang berdiri di tengah-tengah pematang, tampak sedang memberikan instruksi.Itu Hanggara.Penampilannya sangat berbeda dengan Hanggara yang memakai kemeja koko putih bersih beberap

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status