LOGINSesampainya di rumah, Nala segera memindahkan jajanan pasar yang ia beli tadi ke atas piring, sementara Bu Raras mulai mengeluarkan barang belanjaannya dan menyusunnya di kulkas. Aroma manis dari parutan kelapa dari jajanan yang ia bawa memenuhi dapur, namun pikiran Nala masih tertinggal di lorong pasar tadi.
"Itu dimakan, lho, malah bengong," suara Bu Raras membuyarkan lamunan Nala. Nala tersentak kecil, lalu mengambil satu butir klepon yang kenyal dan menyantapnya. "Ma," panggilnya. Bu Raras menoleh dari depan pintu kulkas, tangannya masih memegang plastik berisi wortel. "Kenapa? Kurang manis jajanannya?" "Bukan," Nala menggeleng pelan, lalu menelan klepon yang baru saja ia kunyah. "Toko Mas Hanggara itu... besar banget ya? Tadi dia nunjukin tokonya ke aku, terus kuli panggulnya banyak banget." Bu Raras menutup pintu kulkas dengan bunyi klik yang mantap, lalu duduk di hadapan Nala. "Emang. Dulu pas masih dipegang bapaknya, tokonya kecil banget. Tapi setelah diserahin ke Mas Gara, usahanya malah makin maju, makanya sekarang tokonya bisa sebesar itu," lanjut Bu Raras sembari mulai memetik tangkai cabai di meja makan. "Mas Gara itu pintar, Nduk. Dia lulusan bisnis di Yogyakarta dan sempat kerja kantoran sebentar. Tapi waktu bapaknya sakit parah, dia lebih milih pulang buat bantu-bantu. Eh, siapa sangka, di tangan Mas Gara, usaha keluarganya justru makin berkembang. Ternak ayamnya juga nggak mau kalah, tadinya cuma punya ratusan ayam, sekarang udah ribuan. Sawahnya apalagi, makin banyak, sampai ke desa kita malahan." Nala tertegun sejenak. Ternyata, di balik kesederhanaannya dan cara bicaranya yang hemat kata, pria itu memikul tanggung jawab yang sangat besar. Ada rasa kagum yang diam-diam menyelinap di sela rasa penasarannya. "Pantas aja auranya beda ya, Ma," gumam Nala tanpa sadar. Bu Raras melirik putrinya dengan senyum penuh arti. "Bedanya gimana? Karena dia ganteng atau karena dia yang bayarin jajananmu tadi?" goda ibunya, membuat Nala nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Bukan gitu, Ma! Maksudnya... dia kelihatan dewasa banget. Nggak kayak cowok-cowok seumuran aku yang kerjaannya cuma nongkrong," kilah Nala dengan wajah yang mulai memerah. Bu Raras terkekeh, "Ya jelas beda. Mas Hanggara itu tipikal laki-laki yang tahu apa yang harus dia kerjakan. Dia punya tanggung jawab yang besar buat ngejalanin usaha-usahanya, nggak ada waktu buat nongkrong-nongkrong nggak jelas. Dan di zaman sekarang, laki-laki kayak gitu udah jarang. Kebanyakan cuma modal tampang atau gaya, tapi kalau ditanya masa depan, jawabannya masih 'liat nanti'. Giliran diajak serius, alasannya mau bebas dulu." Masih sambil memetik tangkai cabai, matanya menatap lurus seolah sedang membandingkan sesuatu di kepalanya. "Laki-laki sekarang lebih banyak yang sibuk cari validasi di media sosial daripada cari prestasi di dunia nyata. Makanya, kalau kamu udah ketemu yang modelan Mas Hanggara, yang diamnya aja udah menghasilkan dan geraknya selalu punya tujuan, jangan sampai dilepas. Orang kayak dia nggak butuh banyak bicara buat membuktikan kualitasnya." Nala terdiam cukup lama, membiarkan keheningan dapur hanya diisi oleh suara plastik yang bergesekan. Ada satu pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di ujung lidahnya, sebuah rasa penasaran yang terasa menggelitik sekaligus mencemaskan. "Tapi, Ma..." Nala menggantung kalimatnya, ragu sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri. "Laki-laki sesempurna itu... nggak mungkin masih sendiri, kan? Maksudku, apa Mas Hanggara udah punya calon?" Bu Raras menghentikan gerakannya memetik cabai. Ia menatap Nala, lalu sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya, membuat Nala merasa sedikit malu. "Nah, kan! Keluar juga pertanyaannya," sahut Bu Raras sambil tertawa renyah. "Setahu Mama sih belum ada. Gosipnya banyak yang mau menjodohkan dia sama anak kepala desa atau anak juragan tanah lain di sana, tapi Mas Hanggara-nya adem-adem aja. Mungkin masih mau fokus urus usaha keluarga. Kenapa? Kamu mau daftar?" Nala yang sedang asyik mengunyah butir klepon kesekian langsung tersedak. Gula merah cair di dalam klepon itu seolah meledak di tenggorokannya di saat yang tidak tepat. "Uhuk! Uhuk-uhuk!" Nala terbatuk hebat, wajahnya yang tadi sudah merah kini berubah menjadi merah padam sampai ke telinga. "Lho, lho, pelan-pelan, Nduk." ujar Bu Raras sigap sambil menyodorkan segelas air putih. Nala segera menyambar gelas itu dan meminumnya sampai tandas. Setelah napasnya kembali teratur, ia meletakkan gelas dengan bunyi tuk yang agak keras di atas meja. "Mama apa-apaan sih pertanyaannya? Aku kan cuma tanya! Siapa juga yang mau daftar." Bu Raras hanya terkekeh, tidak merasa bersalah sedikit pun. "Lho, Mama juga kan cuma tanya. Kalau kamu mau daftar, nanti Mama bantuin. Lumayan, dapat mantu juragan." Nala langsung menutup pipinya dengan kedua telapak tangan, berusaha menyembunyikan rona merah yang sudah menjalar sampai ke leher. "Mama! Udah ah, makin ngaco pembahasannya!" Tepat setelah Nala mengatakan hal itu, suara langkah kaki berat yang diseret terdengar mendekat ke arah dapur. Sesosok pemuda dengan rambut acak-acakan dan kaos oblong putih muncul dari balik pintu. Banyu, kakaknya. Ia menguap lebar sambil menggaruk perutnya yang masih terbalut sarung. "Bau apa nih? Manis-manis kayak janji manis mantan," gumam Banyu dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Matanya yang masih menyipit langsung tertuju pada piring di depan Nala. "Wih, enak nih, minta ya." Banyu mengulurkan tangannya, berniat menyambar lapis legit di atas piring. Namun, dengan gerakan refleks secepat kilat, Nala menarik piring itu menjauh hingga ujung meja. "Eits! Gak boleh! Ini punya aku!" seru Nala ketus, sambil menatap tajam ke arah kakaknya. Banyu tertegun, tangannya menggantung di udara. Ia mengerjapkan mata berkali-kali, mencoba memproses penolakan adiknya. "Pelit banget sih, Dek? Itu banyak gitu, emang mau dimakan sendiri?" "Terserah aku, dong. Ini jajananku," jawab Nala ketus. Ia refleks memeluk piring itu erat-erat di depan dada, seolah sedang menjaga harta karun paling berharga di desa mereka dari ancaman tangan jahil kakaknya. Melihat pertahanan Nala yang begitu ketat, Banyu hanya bisa mendesah frustrasi sambil melirik ibunya. "Ma, aku mau, lho. Bilangin Nala, Ma. Pelit banget," rengeknya mulai mengadu. Mama yang sedang menyeka meja hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah kedua anaknya yang tidak pernah berubah meski sudah dewasa. "Kasih dong, Dek. Besok, kan, bisa beli lagi ke pasar," timpal Bu Raras. Hening sejenak. Nala melirik isi piringnya, lalu melirik kakaknya dengan tatapan penuh rencana. Ia baru akan melunak jika ada imbalan yang sepadan. "Oke," sahut Nala akhirnya, sambil menyodorkan piring itu hanya beberapa sentimeter, masih dalam jangkauan perlindungannya. "Tapi syaratnya, checkout-in belanjaanku di oren, ya! Cuma tiga, kok." Banyu yang baru saja hendak menyambar butir klepon, mendadak menarik tangannya kembali seolah piring itu dialiri listrik tegangan tinggi. Ia membelalakkan mata, menatap adiknya dengan tatapan tidak percaya. "Heh! Tiga barang di keranjang oren kamu itu harganya pasti setara sama beras lima karung di warung Papa, ya! Ogah!" seru Banyu sembari melotot tak percaya. "Ya udah, nggak usah makan," sahut Nala acuh tak acuh, kembali menarik piring itu ke pelukannya dengan senyum kemenangan yang menyebalkan. Banyu mendengus, matanya masih terfokus pada klepon, lupis dan lapis legit yang menggoda itu. Perutnya yang baru bangun tidur mulai keroncongan, dan aroma gula merah itu seolah sedang memanggil-manggil namanya. Ia melirik Bu Raras yang hanya asyik dengan kegiatannya seolah sedang menonton drama gratis, lalu kembali menatap Nala yang juga tengah menatapnya. "Oke, oke! Deal! Tapi harganya yang waras, jangan mahal-mahal!" seru Banyu akhirnya menyerah demi sejumput karbohidrat manis tersebut. Nala tersenyum lebar, matanya berbinar. "Gitu dong, ini baru kakakku." Nala menyodorkan piring itu dengan sukacita. Namun, bukannya mengambil satu atau dua biji, tangan panjang Banyu justru merebut piring itu dari dekapan Nala. "Sip, makasih!" seru Banyu. Nala terperanjat, tangannya hanya sempat menangkap udara kosong. Banyu langsung melesat lari, sarungnya yang kedodoran hampir saja membuatnya tersandung, namun insting melarikan diri demi makanan membuatnya tetap seimbang. Ia berlari kencang menuju kamarnya sambil tertawa terbahak-bahak. "MAS BANYU!!! BALIKIN NGGAK?!" teriak Nala melengking hingga menggema ke seluruh sudut rumah. Nala segera beranjak dari dapur dan mengejar kakaknya dengan napas memburu. "ITU PUNYA AKU! MAS BANYU CURANG!!! MAMA, LIHAT MAS BANYU!" BRAKK! Pintu kamar Banyu tertutup rapat tepat saat ujung jari Nala hampir menyentuh gagang pintunya. Terdengar suara kunci diputar dari dalam, disusul suara tawa kemenangan Banyu yang terdengar sangat menjengkelkan. "Emm... enak banget! Gila, kleponnya meledak di mulut! Makasih ya, Nala yang baik hati tapi pelit!" seru Banyu dari balik pintu, sengaja mengeraskan suara kunyahannya. "BUKA NGGAK?! MAS, ITU JAJANAN AKU! BALIKIN!!!" Nala menggedor-gedor pintu kayu itu dengan kepalan tangannya, wajahnya sudah merah padam karena rasa kesal yang memuncak. "MAS BANYU!!!" *** Tbc.Nala duduk bersandar pada kepala ranjang, memeluk lututnya erat-erat. Tidak ada lagi isak tangis yang meledak-ledak. Air matanya kini jatuh perlahan, diam-diam, mengalir tanpa suara. Ia seolah sudah kehabisan energi, terlalu lelah bahkan untuk sekadar meraung keras di keheningan malam ini. Tatapannya kosong. Keputusan itu sudah terucap. Hubungannya dengan Hanggara sudah berakhir. Nala tidak pernah membayangkan kisah mereka akan menemui jalan buntu secepat ini. Enam bulan mungkin terdengar singkat bagi sebagian orang, tapi bagi Nala, waktu itu cukup untuk merangkai rencana-rencana kecil yang ia simpan diam-diam di kepalanya. Obrolan santai tentang masa depan, candaan ringan soal bentuk rumah impian, hingga bayangan sederhana tentang Hanggara yang duduk di ruang tamu, berusaha mengobrol akrab dengan keluarganya. Ia memberikan seluruh kunci kepercayaannya kepada seseorang yang ternyata masih menyimpan kunci cadangan untuk masa lalunya. Nala menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang me
Parkiran rumah sakit sore itu terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen di sana telah habis terhisap oleh deretan mesin kendaraan yang menderu. Namun, kebisingan lalu lintas di luar gerbang sama sekali tak mampu memecah keheningan yang mencekam di kepala Hanggara. Ia mematung di samping mobilnya, menatap nanar layar ponselnya yang gelap dan dingin, sedingin hatinya saat Nala memutuskan sambungan telepon secara sepihak tadi. Hanggara sudah mencoba menelepon kembali berkali-kali, namun, tidak ada jawaban. Nala benar-benar menutup pintu untuknya. Kalimat yang diucapkan perempuan itu terus bergema, menghujam tepat di pusat rasa bersalahnya. 'Mas tuh udah nggak ada kepentingan apa pun sama dia.' Hanggara menunduk dalam, mengembuskan napas panjang yang terasa berat di dada. Nala benar. Sangat benar. Dan kenyataan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian apa pun. Ia memejamkan mata sesaat, mencoba menata kepingan pikirannya yang porak-poranda sejak pagi. Saat telepon dari Rania m
Nala terdiam. Tangannya yang memegang ponsel perlahan mengencang, jemarinya memutih tanpa ia sadari. Detak jantungnya berubah tak beraturan. Perempuan itu memanggil Hanggara dengan nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Angga. Selama ini, Nala selalu memanggilnya Hanggara atau Gara. Semua orang di desa pun begitu. Tidak pernah sekali pun Nala mendengar ada orang yang memanggilnya sesantai itu. Panggilan itu terdengar sangat akrab. "Saya lagi telepon sebentar, kamu balik aja ke kamar. Takut Ibu kamu bangun dan nyariin, nanti saya nyusul." "Lagi telepon siapa sih? Ibu ya? Aku mau ngobrol dong, udah lama nggak ngobrol sama Ibu." Nala menutup matanya rapat, mencoba meredam detak jantungnya yang berpacu menyakitkan. Suara perempuan itu terdengar jelas. Terlalu jelas untuk dianggap salah dengar. Nada bicaranya ringan, manja, seolah ia sudah sangat terbiasa berada di sekitar Hanggara, bahkan dengan sadar ikut campur dalam percakapan pribadi lelaki itu. "Mas," panggil Nala, menco
Nala sempat mengira, menjalin hubungan dengan laki-laki sedewasa Hanggara akan selalu adem-ayem. Enam bulan belakangan, perhatian Hanggara memang sukses membuatnya merasa menjadi perempuan paling beruntung. Namun hari ini, ketenangan itu terusik. Sosok yang biasa mengisi hari-harinya itu seolah raib ditelan bumi. Pesan yang Nala kirimkan sejak pagi belum menunjukkan tanda-tanda akan dibalas. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak. Sebenarnya Nala mencoba maklum. Ia tahu kesibukan Hanggara tidak main-main, mulai dari mengurus toko, memantau sawah, hingga mengecek peternakan. Tapi, apa sesulit itu meluangkan waktu satu menit saja untuk memberi kabar agar ia tidak dilanda kebingungan seperti ini? Dengan helaan napas panjang, Nala kembali melirik layar ponselnya. Ruang percakapannya dengan Hanggara masih sama seperti pagi tadi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Putus asa, ia menaruh benda pipih itu ke dalam laci meja. Nala memutuskan beranjak, menghampiri ayahnya yang sedang sibuk me
Makan siang berlangsung hangat dan penuh suara. Pak Gunawan mendominasi percakapan dengan cerita-cerita lama tentang toko beras mereka, sesekali melontarkan lelucon yang membuat Nala terkekeh tanpa sungkan. Bu Sulis sibuk menyendokkan lauk ke piring Nala meski Nala sudah berulang kali bilang sudah cukup. Dan Hanggara duduk di sampingnya, makan dengan tenang, sesekali berbicara seperlunya. Tapi Nala sadar, setiap kali gelak tawanya meledak karena ulah Pak Gunawan, Hanggara selalu menoleh sebentar ke arahnya. Ia tidak ikut tertawa, tapi sudut bibirnya selalu bergerak naik. Hanya sedikit. Cukup untuk ditangkap oleh seseorang yang sudah hafal betul ekspresi wajahnya. Dan entah sejak kapan, Nala menjadi salah satu orang itu. "Ayo, Nduk, ke depan. Katanya mau lihat bunga Ibu." Nala pun mengekor di belakang Bu Sulis. Hanggara yang tadinya hendak duduk di ruang tengah bersama ayahnya, memutuskan untuk ikut menyusul. "Anggrek-anggrek ini dibeliin sama Bapak," tunjuk Bu Sulis pada deretan a
Nala mendadak kehilangan kemampuan bicara. Suara wanita itu begitu renyah, kontras dengan bayangan 'calon mertua galak' yang sempat melintas di benaknya. Ia refleks merapikan blusnya yang sebenarnya sudah rapi, lalu menyalami tangan wanita itu dengan takzim. "S-siang, Bu. Saya Nala," ucapnya pelan, hampir tenggelam oleh debar jantungnya sendiri. "Iya, Nala, Ibu udah denger soal kamu dari Gara. Ayo, ayo masuk, Nduk. Kebetulan Ibu udah bikin teh sama gorengan tadi." ujar Ibu Hanggara sambil merangkul bahu Nala, bersikap sangat akrab seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Hanggara yang berdiri di belakang hanya bisa menggelengkan kepala melihat ibunya yang begitu bersemangat. Ia menatap punggung Nala dengan tatapan yang dalam, ada rasa lega sekaligus bangga melihat bagaimana Nala dengan mudah mencuri hati ibunya di detik pertama bahkan tanpa melakukan apapun. Nala menoleh cepat, meminta pertolongan lewat tatapannya. Namun, Hanggara justru tersenyum tipis, memberi kode melalui
"Begini, Pak Bakti," Hanggara memulai dengan nada suara yang tenang. "Tujuan saya datang sore ini, selain untuk mengambil barang saya yang tertinggal, saya ingin meminta izin kepada Bapak dan Ibu secara langsung," Hanggara melirik Nala sekilas sebelum kembali fokus pada Pak Bakti. "Jika Bapak mengi
Setelah Nala benar-benar khusuk memilih jajanan di seberang jalan, Hanggara kembali melangkah masuk ke dalam area bengkel. Ia menyeka keringat di pelipisnya, lalu bersandar pada pilar besi sambil memperhatikan Banyu yang masih asyik mengutak-atik karburator mobilnya."Kayaknya ada yang belum saya t
Langkah Hanggara yang tenang membawanya keluar dari warung soto, diikuti Nala yang masih sedikit bersungut karena kalah cepat di kasir. Matahari tepat berada di atas kepala, memancarkan panas yang terik hingga menciptakan bayangan pendek yang pekat di aspal parkiran. Hanggara membukakan pintu mobil
Hanggara memperhatikan ekspresi Nala dengan kepuasan yang sulit disembunyikan. Ada binar di mata gadis itu yang membuat rasa soto di hadapannya sendiri terasa jauh lebih nikmat dari biasanya. "Kan, saya bilang juga apa," sahut Hanggara pelan. Selama beberapa saat, hanya terdengar denting sendok ya







