ログインTok...tok...
Sakti segera mematikan televisi mendengar pintu kamar diketuk. Tidak ingin dikatakan lancang. Apalagi dia sudah mendapatkan tempat yang paling bagus."Iya masuk, Mang!" teriak Sakti."Maaf, Tuan. Sarapan sudah siap di meja makan. Oh ya tadi ada kiriman ini dari Nyonya. Setelah makan siang, Nyonya akan menjemput Tuan," ucap Mang Juned.Sakti memandang paperbag di tangan pria setengah baya yang memakai ikat kepala hitam itu."TerimaPukul 01.00 dini hari di rumah sakit.Hanya terdengar bunyi detak jantung Sakti dan Laura. JugaSuara jam yang ada di kamar VIP Aroma menyengat dan bau karbol menyeruak di hidung Sakti.Pria gagah dan gondrong itu tertidur di ranjang rumah sakit. Baru kali ini sakit merasakan tidur di rumah sakit menunggu istri. Sebelumnya mana pernah dia seperti ini. Semua dia serahkan kepada asisten dan karyawan. Kini hidupnya menjadi lain, penuh arti. Dia merasakan menunggu seseorang yang dia cintai, siuman mengharapkan dia kembali. Laura membuka mata, nafasnya sudah teratur tapi kepalanya masih terasa sangat berat. Hanya bau karbol dan obat yang menyeruak di hidungnya. Laura berusaha menggerakkan tangan yang digenggam oleh Sakti. "Sakti, Sayang," lirih Laura hampir tidak terdengar. Tangan Laura bergerak hingga membuat Sakti terbangun. "Laura!" pekik langsung berdiri. Mereka saling tatap penuh kasih. Akhirnya bertemu juga. Terakhir Laura masih ingat di rumah Simon kini dia berada di r
Rina pikir, Sakti sudah menunggu di Hotel Cakra seusai kesepakatan. Rina akan membayar sejuta satu jam untuk bertemu dengannya. Rina tidak peduli walau harus keluar uang. Yang penting bisa kencan dengan Dewa. Pria mana yang gak akan tergoda lihat penampilan Rina saat ini. Seksi dan montok. Atau bisa lanjut ke kamar hotel. Melihat betapa gagah Dewa akan bercinta dengan dirinya. Sampai di hotel Cakra, Rina masih yakin kalau Dewa akan datang sesuai janji. Dia berjalan dengan santai. Belum juga bertemu dengan Dewa, dia menangkap sosok yang gak asing lagi. SONY. Pria itu datang dengan wanita lain. Sungguh memuakkan. Pria yang sudah merasakan lebih dari satu wanita tidak akan berhenti untuk berpetualang. Bahkan pria itu mungkin akan check in ke hotel itu juga. Rina memilih menghindar dari pria itu. Gak peduli lagi. Rina lebih milih pergi. Sony yang dulu membuat dia hampir gila. Kini kencan dengan wanita yang lebih muda dan cantik. Rina menuju cafe yang ada di hotel itu. Memesan wine
Sakti dan Eko masuk ke dalam ruang rawat inap. Ada dua perawat berusaha memberikan pertolongan pada Laura. Sakti sangat cemas. Dia memegang tangan Laura. Berusaha menyalurkan tenaga dalam pada istrinya. Sakti tau, kalau Laura kondisinya lemah. Hingga dua menit berlalu. "Laura, kamu harus sembuh, Sayang," bisik Sakti dengan mengerahkan tenaga dalam.Keajaiban terjadi. Tubuh Laura yang tadinya membiru kini mulai terlihat merah. Ada aliran darah."Wah, dia mulai membaik,Pak!" teriak perawat dengan wajah berseri. Pasien bisa diselamatkan. Monitor yang tadinya bergerak sangat cepat kembali naik normal. "Terima kasih, Suster," ucap Sakti sambil membungkuk. Hampir saja Laura pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Sebelum melihat Sakti. "Bang,aku pamit dulu ya. Mau narik lagi," ucap Eko. "Iya Mas Eko. Makasih sudah banyak membantu. Oh ya suatu saat pasti aku menghubungi Mas Eko," ucap Sakti. Dia berdiri dan memegang pundak Eko. Terkadang orang yang kelihatan sepele dan gak p
Sakti melompat saat mendengar suara teriakan minta tolong. Dia sangat mengenal suara itu. Mirip suara Laura. Dari jauh dia melihat wanita berambut pirang ditarik paksa oleh dua laki-laki yang berperawakan besar dan kulitnya hitam. Wanita itu Laura. "Tolong lepaskan! Aku gak mau jadi tahananmu!" teriak Laura mencoba melepaskan dari tangan pria yang menariknya. Hingga pakaiannya koyak dan tubuhnya berdarah di kaki dan lutut. "Enak aja. Mak Jamilah punya utang yang gede. Kapan mau bayar. Gak nyangka punya anak segede gini. Cantik dan montok pula. Walau gak muda. Ha...haa . Lumayan nanti bisa digilir dengan bos."Salah satu pria terus menarik tubuh Laura akan dimasukkan ke dalam mobil. BRAAAAAK...Tendangan mematikan mengenai punggung pria itu hingga tubuhnya tersungkur mental mengenai mobil yang terparkir di pinggir jalan. Salah satu pria datang menghadang dan mendorong tubuh Laura hingga wanita itu tersungkur. "Elu siapa? Mau ikut campur aja!" teriak salah satu pria dengan mata
Malam ini Sakti akan pergi ke daerah nelayan Tanjung Priuk. Niatnya pasti ingin menemui Laura yang hilang ingatan. Dia punya uang sekarang. Hadiah pertandingan melawan Jack hanya dipakai separuh untuk mengambil alih Kapuk Permai. Tinggal sedikit lagi. Proyek itu akan cair. Sebenarnya Kapuk Permai gak terlalu besar hanya proyek kecil saja. Hanya beberapa rumah elit yang butuh penanganan khusus. Apalagi besok Minggu. Sakti gak kerja. Dia gak pamit sama Ratih. Mending pergi begitu saja. Terkadang Ratih orangnya keppo walau baik. Dia tidak menyalakan ponselnya. Biar Ratih gak bisa dihubungi. Kali ini dia memeriksa tas atau baju yang dia pakai. Siapa tau ada chip. Atau meninggalkan ponsel yang sudah dilacak Ratih. Dia pergi gak akan bawa ponsel. Pengalaman sebelumnya, Ratih bisa menemukan dirinya. Dia gak nyadar. Sakti memasukkan beberapa uang gebok di dalam tas. Gak bawa baju ganti yang banyak. Dia hanya kangen dengan Laura. Wanita itu memberikan semangat saat bertanding dengan Jack.
Sakti turun dari mobil pink milik Ratih. Dia menyibakkan rambut gondrongnya. Mengusap cincin yang dipakai. Tatapannya dingin, seperti kutub Utara yang gak akan bisa cair. Ratih turun belakangan. Tangannya gemetar. Selama berurusan dengan dunia property baru kali ini menghadapi preman. Wajah garang penuh tato, juga memakai senjata tajam. Ratih pilih mundur. Ternyata ngurus Kapuk Permai, hasil lelang dari Dewangga Grup butuh effort yang luar biasa. Ratih memilih memindahkan mobil kesayangannya jauh dari preman itu. Gak ingin terjadi sesuatu. "Kalian siapa?" bentak Sakti dengan mata merah. Langkahnya tegap. Tidak gentar sedikitpun. Pria bertato dengan tubuh kekar maju. Dia mendelik mengacungkan parang pada Sakti. "Gak perlu tau siapa kami. Elu enyah dari proyek ini. Gue gak mau ganti pengurus!" bentak preman itu. "Kalau gak mau pergi, jangan harap elu bisa balik. Pulang nama aja!" tambah preman itu. Sakti mengusap hidung dengan tangan kanan. Berdiri tepat di hadapan para preman
Sakti mendengar teriakan Laura. Dia menendang kaki Dirga yang menghalangi jalan masuk ke dalam rumah Laura. "Aaaaauuu!" teriak Dirga kesakitan. Sakti melompat ke dalam menarik tangan Laura. "Ada apa, Laura?" tanya Sakti panik memegang dua pundak Laura. "Hei
Tangan Sakti membelai rambut Laura. Dengan lembut dia mencium kepala wanita yang berusia 40 tahun itu. Laura diam. Dia belum pernah merasakan kenyamanan seperti ini. "Acara kita selanjutnya kemana?" tanya Sakti membuyarkan semua harapan Laura. Tangan kekar Sakti menuntun tanga
"Apa ada kamar kosong?" Sakti menatap pria setengah tua yang sedang duduk sambil memainkan ponsel. Pria itu berdiri, menatap Sakti dengan curiga. Apalagi Sakti sambil menggendong wanita. "Ada, tapi mahal. Apa kamu sanggup bayar?" tawar pria itu. Sepertinya sengaja melihat keadaan Sakti yang m
Sakti duduk di samping Laura di dalam mobil.Setelah mandi dan berganti pakaian, penampilannya benar-benar berubah. Hanya bekas luka di wajahnya yang masih terlihat.Laura meminta Sakti untuk memakai masker. Sebenarnya, Laura masih heran. Mengapa Sakti bisa berubah sejauh itu? Apakah sebenarnya d







