首頁 / Male Adult / Nambah Lagi Dong, Sayang / Bab 32.Ini Baru Pemanasan

分享

Bab 32.Ini Baru Pemanasan

作者: Mini Yuet
last update publish date: 2026-04-10 19:00:16

Dua pria tampan pesanan Laura sudah keluar dari kamar mandi. Mereka hanya mengenakan kimono dan handuk saja untuk menutupi bagian vital. Sementara Sakti berdiri dengan gelisah. Tangannya mengepal dan nafasnya memburu.

"Duduklah kamu di bar kecil itu. Minumlah wine jika kamu tegang atau kamu juga mau ikut main denganku," lirih Laura.

Sakti mendengus keras. Kilatan matanya menatap dua pria pemuas birahi itu secara bergantian seolah tidak terima kalau menyentuh tubuh Laura. <
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Nambah Lagi Dong, Sayang   Bab 80. Nasib Tragis Brewok

    Kali ini Brewok menyerah. Dia tidak berkutik lagi setelah tubuhnya terkapar dan diinjak Sakti. Pria yang selama ini ditakuti di wilayah kumuh itu sekarang bagaikan singa tua hilang taringnya. "Katakan apa permintaanmu yang terakhir sebelum aku membunuhmu!" bentak Sakti.Kali ini Sakti sudah tidak punya rasa kasihan. Terkadang rasa itu akan menjebaknya dalam situasi yang sulit. "Tolong sebelum gue mati, gue pengen lihat makam bapak gue. Gue ingin minta maaf. Gak bisa jadi manusia baik. Gue pikir akan bisa jaya selamanya. Ternyata gue salah. Gue kalah sama anak ingusan macam elu," kata Brewok sedikit terbata. Sakti menghentikan kakinya menginjak punggung Brewok. Dia gak mau tangannya kotor membunuh pria tidak berguna macam Brewok. Biarlah manusia itu mati sendiri merasakan sakit dan penderitaan sebagaimana dia makan uang orang pinggiran itu. "Hoi ...!" teriak Sakti. "Keluarlah! Aku butuh bantuan kalian! Pertarungan sudah selesai. Dia sudah kalah!" "Aku tau kalian mengintip dari da

  • Nambah Lagi Dong, Sayang   Bab 79. Bertarung Dengan Brewok

    Sakti menyiapkan jurus andalannya. Dia sudah siap walaupun saat ini tidak ada yang mendukung. "Gue gak tau kenapa elu harus bertemu dengan gue. Hari paling sial dalam sejarah elu. Bertarung dengan gue!" teriak Brewok.Brewok juga sudah siap. Dia membuka kaos hingga bertelanjang dada. Kalau Sakti terlihat perutnya yang penuh otot sedangkan Brewok mirip gentong dengan perut yang besar. Tiga anak buah Brewok berdiri di pinggir sambil berkacak pinggang. Menonton apa yang akan ditampilkan Sakti. "Hiaaaat!" Brewok dan Sakti maju secara bersamaan. Sakti menyerang dengan pukulan tangan kanan. Ditangkis Brewok dengan tangannya. Nampaknya Brewok memang sangat jago. Beberapa jurus serangan Sakti bisa ditangkis. Mereka melompat dari satu sisi ke sisi lain. Suara tendangan dan pukulan silih berganti. Bahkan anak buah Brewok ikut bersuara. Mereka geregetan hingga sampai badannya gerak sendiri. BRAAAAAKSatu pukulan Brewok mendadak mengenai kaki saat Sakti sedikit tidak fokus. Sakti hingga dia

  • Nambah Lagi Dong, Sayang   Bab 78. Bertemu Dengan Brewok

    Kabar pertarungan antara Sakti dan ketua preman-Brewok- sudah tersebar. Semua penghuni rumah liar yang ada di sekitar pembuangan sampah itu berharap dengan cemas. Bagaimana tidak? Orang baru akan melawan bos preman yang menguasai tempat itu bertahun-tahun.Kalau orang itu berhasil kalah dengan Brewok. Alamat mereka akan menjadi budak Brewok selamanya. Mencari rongsok harus setor tiap hari dengan Brewok. Tidak bisa menikmati hasil jerih payah. Sudah miskin diperas pula. Itulah kehidupan pinggir jalan para pemulung. Tempat lapang itu bukannya rame justru terlihat sepi. Tidak ada lampu penerangan sama sekali. Mereka masih bersembunyi di balik rumah kardus atau rumah yang terbuat dari barang rongsok. "Sakti, elu jadi berangkat bertarung dengan Brewok? Apa elu yakin dia akan datang dengan tantangan elu?" Jabrik berusaha duduk. Tangannya sudah mendingan setelah minum obat dan diurut Sakti. "Gue gak akan mundur Bang. Kalau dibiarkan orang itu tambah kurang ajar. Kalau emang nanti gue k

  • Nambah Lagi Dong, Sayang   Bab 77. Persiapan Duel Dengan Brewok

    Sakti pulang ke bedeng dengan basah kuyup. Tidak memegang uang atau makanan. Bahkan dia tidak tau harus jual rongsok di mana?"Sakti, kenapa pulang lebih cepat? Apa kamu sudah dapat uang?" tanya Jabrik masih tergeletak di kasur lantai. "Gue gak dapat uang,Bang. Diganggu sama anak buah Brewok. Nanti malam gue mau tempur sama dia," jelas Sakti. Dia membuka semua baju yang kotor akan membersihkan diri. "Wah Bangsat! Ada berapa anak buah Brewok yang ganggu?""Ada tiga, Bang. Aman. Mereka udah gue lumpuhin. Tinggal nanti malam saja.""Maafin gue, Bang. Semua besi dijual sama orang-orang. Gue gak mau mereka berebut.""Ya sudahlah. Kali ini kita harus nahan lapar," ujar Jabrik akhirnya. "Nanti gue keluar, Bang. Nyari makanan. Kasihan Bang Jabrik harus makan," tandas Sakti. Dia menghempaskan tubuhnya di lantai. Masih memikirkan ulah anak buah Brewok. "Bang, emang di sini kayak gitu ya? Kalau gak

  • Nambah Lagi Dong, Sayang   Bab 76. Duel Dengan Anak Buah Brewok

    Dua orang berkulit hitam dengan jaket kulit hitam. Memakai topi dan sarung tangan. Mendorong tubuh ibuk tua itu hingga tersungkur. "Dasar Tua bangka eot! Main ambil aja. Semua barang rongsok besi mahal di wilayah ini adalah milik Bang Brewok. Kalau elu macem-macem bisa dibabat sama Bang Brewok!"Pria berambut gondrong itu meludahi Ibuk Tua. Mengambil semua besi yang sudah dikumpulkannya. Wanita tua itu tidak berdaya. Tidak ingin nyawanya melayang hanya berebut besi dengan anak buah Brewok. Sakti melihat tingkah dua orang yang sangat menjijikkan itu. Dia langsung melompat ke atas. Padahal dia yang mengeruk sampah dan menemukan besi tua itu. Walau dengan badan kotor penuh lumpur, Sakti mendorong pria berambut gondrong itu. Hingga pria itu tersungkur. "Kurang ajar. Elu lagi. Gue udah bilang jangan ganggu gue. Enak aja main srobot aja. Gue yang menemukan. Kenapa elu yang mau ambil!" bentak Sakti. Si Gondrong bangkit. P

  • Nambah Lagi Dong, Sayang   Bab 75. Menemukan Harta Karun

    Esuk harinya, Jabrik justru gak bisa bangun. Dia terkapar sakit setelah bertarung dengan Sakti. Lengannya hampir patah. Tidak bisa digerakkan. Sakti merasa sangat bersalah karena sudah menyakiti Jabrik.Siapa yang salah? Dia kan yang menantang?Ketika membuka mata, Sakti duduk di sebelah Jabrik. Dia bingung tidak memegang uang sama sekali. Tidak mungkin dia menyulap makanan. Dia bukan penyihir. "Bang, gue bingung mau ngapain? Abang lapar kan? Gue juga sama. Tapi gak ada uang," lirih Sakti. Dia ingin mengumpat. Sungguh menyedihkan. Dia bilang tidak butuh uang. Hah! Nyatanya saat ini dia sangat membutuhkan uang. Orang kaya yang terlempar di dunia orang miskin sungguh sangat mengerikan. Kalau orang miskin sudah terbiasa dengan makan seadanya."Sakti, gue tidak punya uang sama sekali. Elu bisa berangkat nyari rongsok sekarang. Nanti setelah elu jual rongsokan bisa beli bubur buat gue," lirih Jabrik. Pria kuat dan tangguh itu hanya terbaring lemah. "Elu bisa kan?" Jabrik menatap Sakt

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status