Início / Lainnya / Nature Squad / Bab 1-Spidol Merah

Compartilhar

Nature Squad
Nature Squad
Autor: seni_okt

Bab 1-Spidol Merah

Autor: seni_okt
last update Data de publicação: 2021-05-11 23:49:23

"Aden nya belum pulang, Non," kata Teti, pekerja di rumah keluarga Aprilio, “mau nunggu di kamar aden saja?”

"Gak apa-apa Bi, aku tunggu di sini aja," balas Rain dengan ramah.

"Non mau minum apa? Biar Bibi buatkan," tanyanya menawarkan barangkali gadis cantik itu haus atau menginginkan sesuatu.

"Minuman paling sehat pastinya Bi," jawab Rain menjeda perkataannya, "air putih."

Teti langsung mengangguk lalu setelah itu pergi ke dapur untuk membuatkan pesanan dari sahabat majikannya. Rain mendengkus seraya mengerucutkan bibirnya.

Ya, Rain saat ini berniat bercanda, tetapi nyatanya tidak berpengaruh apa-apa pada wanita setengah abad itu.

"Menyebalkan. Sepertinya aku memang tidak berbakat ngelucu." Monolog gadis itu masih memasang wajah kesalnya.

Beberapa menit kemudian Teti sudah kembali dengan membawa segelas air putih dan juga beberapa camilan. Mood gadis itu yang awalnya buruk tiba-tiba kembali baik setelah Teti membawakan camilan kesukaannya. Apa lagi kalau bukan brownies coklat dengan topping keju cedaar di atasnya. Hmm so yummy!

Setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih, dalam hitungan detik ia langsung mengeksekusinya sembari menonton acara TV yang sedang berlangsung.

"Eh, ada Rain," ujar Dewi, ibunya Samudra yang baru keluar dari kamarnya dengan sebelah tangan menarik koper besar berwarna hitam.

"Cari Sam?" tanya Dewi setelahnya.

"Hehe ... iya, Tan." Jawab Rain sembari mengusap tengkuknya yang tertutupi oleh rambut hitam panjangnya.

"Tadi, Sam pamit mau ke seberang. Katanya mau beli camilan, paling sebentar lagi juga pulang. Kamu tunggu di atas aja," suruh wanita paruh baya tersebut.

"Gak papa Tan, aku tunggu di sini aja," tolak Rain dengan sopan.

Mana mungkin ia menunggu di kamar pemuda itu. Walaupun mereka telah bersahabat cukup lama bahkan keluarga mereka juga sudah sangat dekat, tetapi baik Rain maupun Samudra sangat pantang melakukannya.

"Ya sudah kalau Rain mau tunggu di sini, tapi maaf ya Tante gak bisa temani. Tante harus pergi ke Surabaya." Balas Dewi yang sudah siap dengan koper besarnya serta sesekali melirik jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangannya.

"Anggap aja rumah sendiri ya, Sayang." Lanjutnya seraya mengusap lembut surai panjang Rain yang dibiarkan tergerai.

"Siap Tante." Rain mengangkat tangannya membuat gerakan hormat, kemudian kembali asyik dengan camilan-camilan di depannya. Bosan menunggu, Rain merebahkan tubuh mungilnya di sofa dan dalam hitungan menit ia sudah pergi ke alam bawah sadarnya. Benar-benar mendengarkan kata mamanya Sam, anggap rumah sendiri.

***

“Assalamualaikum, Sam pulang,” ucap salam pemuda itu seraya berjalan santai ke dalam rumah sembari menjinjing sekresek besar berbagai camilan yang ia beli di toko torseba di seberang.

Samudra mendengkus kala tidak ada seorangpun yang menjawab salamnya. Pemuda itu yakin jika ibunya telah berangkat ke Surabaya seperti yang ibunya katakan tempo hari padanya, sedangkan Bi Teti pasti sedang berada di dapur.

“Huh, dahlah lebih baik aku ke kamar,” pikir Samudra.

Namun, saat di ruang keluarga ia melihat televisi menyala dan seseorang yang sedang tertidur di atas sofa.

“cantik,” gumam Samudra seraya memperhatikan bagaimana damainya gadis itu tertidur. Namun, hanya beberapa detik ia memperhatikannya. Karena setelah itu ia pergi ke atas untuk mengambil sesuatu dan kembali ke bawah setelah menemukan barang yang dicarinya.

“Aku akan membuat karya terbaik di sini,” bisik Samudra menahan agar tidak terkikik saat melakukan aksinya. Ia mencoret-coret wajah Rain menggunakan spidol merah dan gadis itu sama sekali tidak terusik.

***

"Selamat pagi Tuan Putri," sapa Samudra memberikan senyuman terbaiknya.

"Uh … selamat pagi? Ini sudah sore astaga," balas gadis itu masih setengah sadar.

Samudra mendengkus seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. "Sudah tahu sore kenapa Anda malah tertidur mana ngiler lagi."

"Saya kan menunggu Anda bapak Samudra yang terhormat!" Jawab Rain mengikuti gaya bicara pemuda itu kemudian bangun merubah posisinya menjadi duduk berhadapan dengan Samudra.

"Lagian pergi jajan aja kaya pergi ke hutan belantara … lama banget." Protes Rain sembari mengerucutkan bibirnya.

Lagi-lagi Samudra hanya mendengkus serta mencondongkan tubuhnya ke arah Rain. "Pasti lagi kesal sama abang kamu kan?" tebaknya.

Gadis itu sama sekali tidak berminat untuk menjawab pertanyaannya. Ia hanya diam kemudian sedetik kemudian merebut bingkisan yang ada di tangan pemuda itu dan membuka camilan tersebut lalu memasukannya ke dalam mulutnya padahal sebelum tidur Rain sudah menghabiskan sepiring kue brownies keju. Badan kecil tapi makannya banyak kalimat untuk mendeskripsikan si cantik Rain.

"Oke, karena kamu diam berarti aku anggap jawabannya iya," putus Samudra.

"Iya. Puas?" jawab sekaligus tanya Rain dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

"Udah sana pulang! Ini rumah bukan tempat wisata yang bisa menghilangkan bad mood." Timpal Samudra seraya merebut kembali bungkus makanannya dan langsung memasukan semuanya ke dalam mulutnya.

"Ngusir?" tanya Rain bertambah kesal, tetapi masih mencoba untuk menahannya.

"Iya," jawab Samudra dengan nada datar.

Gadis itu mendengkus sembari menghentakkan kakinya ke lantai. "Sam nyebelin!"

Setelah memastikan gadis itu benar-benar telah pergi, Samudra tertawa terbahak-bahak membayangkan hasil karyanya di wajah gadis itu.

***

Rain pergi dari rumah Samudra dengan perasaan marah dan juga kesal. Belum juga kesalnya pada sang kakak hilang kini harus ditambah lagi dengan sikap menyebalkan sahabatnya tersebut.

Sedikit informasi Rain kesal pada kakaknya karena tadi pagi dia meninggalkannya hanya karena Rain terlambat bangun, dan akibat kelakuan sang kakak ia jadi terlambat sekolah serta mendapat hukuman membersihkan perpustakaan yang luasnya seperti dua bahkan tiga kali lebih besar dari ruangan kelasnya.

"Mbak Rain?" tanya ojol ketika melihat seorang gadis cantik berpenampilan sedikit aneh sedang berdiri di depan gerbang rumah seseorang.

"Iya. Gas, Mas," ujar Rain jutek, lalu langsung mengambil helm dari ojol tersebut serta naik ke atas motor.

"Mbak, maaf, itu mukanya kenapa?" tanya ojol dengan hati-hati.

"Mas bisa langsung jalan aja gak? Saya lagi gak mood jawab pertanyaan Mas nya," balas gadis itu masih saja dengan nada jutek.

Ya, ini salah satu sifat buruknya. Marah kepada siapapun jika perasaannya sedang jelek.

Di dalam pikirannya Rain hanya ingin cepat sampai rumah lalu diam di dalam kamar, berharap tidak bertemu dengan kakaknya ataupun Siapapun.

***

"Mbak," panggil mas ojol setelah mereka sampai ke tempat tujuan.

"Kembaliannya ambil aja Mas, makasih," kata Rain hendak masuk ke dalam rumah.

"Eeuuu ... bukan itu Mbak, tapi itu …." Mas ojol menunjuk helm putih yang masih terpasang dengan aman di kepalanya.

Rain langsung mengikuti arah tunjuk mas ojol tersebut. Setelah menyadari ada sesuatu di atas kepalanya ia langsung berdeham seraya langsung melepaskannya dan buru-buru masuk karena tidak mau malu lebih dalam lagi.

Ternyata keadaan tidak berpihak kepadanya. Baru membuka pintu ia sudah disambut oleh tawa keras Dirgantara, sang kakak.

"Ih gila ya? Diem! Gak ada yang lucu. Aku masih kesal ya sama Bang Di," ujar Rain memasang wajah galaknya.

"Kamu habis main di TK mana?" tanya pemuda yang dianggil Bang Di, atau lebih tepatnya Dirgantara.

"Apaan sih gaje!" sewot Rain seraya ingin naik ke atas untuk segera masuk ke dalam kamarnya seperti yang sudah ia rencanakan sebelumnya.

"Ya ampun ngegas mulu. Ngaca sana!" Perintah pemuda bertubuh jangkung itu sembari menunjuk cermin dengan dagunya.

Gadis itu memutar bola matanya dengan malas seraya mengikuti perintah dari sang kakak dan saat pantulan wajahnya terlihat di cermin, mata Rain membulat sempurna ketika melihat wajah cantiknya penuh dengan coretan abstrak dengan spidol merah menyala. Oh semoga ini bukan pkai spidol permanen, harapnya.

Rain langsung tahu siapa yang melakukan ini padanya. Dan dugaannya tepat sekali ketika ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk. Rain mengeceknya dan tertulis kontak Samudra di sana.

Sam si jail |18:00

Gimana mahakaryaku? Bagus kan😁

Melihat ekspresi sang adik, Dirgantara langsung memundurkan langkahnya untuk melindungi gendang telinganya.

“Satu … dua … ti ...,” hitung pemuda itu.

"Samudra!" Teriak Rain kepada ponsel malangnya yang tidak bersalah karena harus menjadi pelampiasan kemarahan gadis cantik itu.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Nature Squad   Bab 64-Liburan

    Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Liburan kecil kecilan kalau kata Samudra. Setelah diskusi yang terbilang singkat pantai Anyer lah yang menjadi tujuan mereka dan agar liburan ini semakin terasa, Anton selaku ayah dari Samudra menyewa mobil bis agar mereka bisa berangkat dalam satu kendaraan yang sama. "Happy, sayang?" tanya Dewi mengelus lembut tangan putra tunggalnya. Samudra membalas elusan tangan ibunya. "Sangat happy. Thank you mom, i love you mentok sementok mentoknya." Mobil yang dikendarai supir melaju menuju rumah kediaman masing-masing. Awalnya mereka mau janjian di satu tempat, tapi setelah berdiskusi antar orang tua mereka memutuskan untuk dijemput satu satu saja ke rumah masing-masing dan berhubung mobilnya di sewa keluarga Anton, maka keluarga mereka lah yang sekarang berkeliling menjemput satu satu. *** Di rumah Rain dan Dirgantara, semua orang sedang bersiap-siap. Rain masih memilih baju yang cocok. Entah kenapa ia ingin tampil cantik hari ini. Untuk siap

  • Nature Squad   Bab 63-Cinta Mentok

    Terkadang hal yang terlihat biasa saja bisa sangat berarti untuk segelintir orang. Bukan karena kemewahan, jalan jalan ke luar negeri, pergi ke tempat-tempat mahal dan terkenal. Cukup pergi ke mall dan menonton film saja sudah membuat Samudra bahagia karena menurutnya bukan ke mana kita pergi tapi dengan siapa kita pergi. Samudra berikrar hari ini adalah salah satu hari yang tidak akan pernah ia lupakan selama jantung dan napasnya masih ingin berjuang bersama tubuhnya. "Makan dulu yuk!" ajak Anton setelah mereka selesai dengan tontonannya. "Ayah udah lapar lagi?" tanya Samudra keheranan karena beberapa jam lalu mereka baru saja makan kan di rumah. Anton terkekeh seraya mengacak rambut berponi milik putranya tersebut. "Perut ayah kan perut karet, gampang laparnya." Dewi ikut terkekeh melihat interaksi 2 pangerannya tersebut, kemudian dengan suara lembutnya ia mengajak untuk mengisi perut terlebih dahulu. *** "Bee," panggil Binar pada kekasihnya. Dirgantara menoleh padan

  • Nature Squad   Bab 62-Main di Mall seharian

    "Tuh kan ayah curang!" protes Samudra tidak terima kekalahan sedangkan Anton justru tertawa senang melihat putranya merajuk padanya. "Ah gagal deh nge timezone seharian," gerutu Samudra benar-benar merasa kesal karena kekalahan telaknya. Memang sejak dulu jika tanding catur dengan ayahnya ia tidak pernah menang. Ayahnya bukan curang memang jago saja. "Next kalahin ayah ya," ujar Anton lebih seperti meledeknya. Anton mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam yang melingkar pas di pergelangan tangannya. "Oke karena ayah yang menang, sekarang ganti baju ya kita bakal pergi keluar." "Ke mana?" tanya Samudra. "Entar juga kamu tau. Udah sana gih ganti baju, jangan lupa bawa jaket!" Samudra terus menebak-nebak ke mana mereka akan pergi, tapi kemana pun ia senang sekali hari ini karena bersama kedua orang tuanya. Ayahnya benar-benar menepati janjinya untuk berubah.Sampai mobil hitam yang dikendarainya berhenti disebuah bangunan menjulang tinggi, banyak orang berlalu lalang membawa

  • Nature Squad   BAB 61-Nature Squad (Chat)

    Berikut kehebohan di grup Nature Squad tentang rencana liburan sekolah mereka. Sebenarnya bukan libur panjang hanya liburan sebelum ujian tiba. Ya cuma 3 hari dan tempat liburannya pun masih di Indonesia tepatnya di daerah Banten. Rain | pukul 12:00 Guys bang Di bawa pacarnya, boleh gak? Bintang | pukul 12:02 @dirgantara Wiiih punya pacar lu? Rain | pukul 12:03 Lah belum cerita bang? Waaah parah @dirgantara Rain | pukul 12:03 Ini aja kita lagi jalan bertiga Bintang | pukul 12:04 Lah ngapain lo ikut? Cosplay jadi nyamuk lo?" Samudra | pukul 12:10 Hahahahaaaaaa cosplay jadi tonggeret dia mah Samudra | pukul 12:12 Dah lah giliran gue muncul lo pada ilang. Rain | pukul 14:05 Dih datang-datang langsung ngebully. Gak like. Dirgantara | pukul 19:01 Berisik! Samudra | pukul 19:08 Cie abang abis ngapel cie.. Dirgantara | pukul 19:09 Dih kapan gue jadi abang lo? Bintang | pukul 19:11 Jleb banget. Rain | pukul 19:11 Hahahaa rasain! Samudra | pukul 19:15 yang kamu laku

  • Nature Squad   Bab 60-Dirgantara dan Dua Gadisnya

    Setelah dirasa kondisi Samudra sudah lebih baik ia pulang ke rumah dengan diantar oleh Sarah agar orangtuanya tidak curiga telah dibohongi. Sepanjang perjalanan Sarah tidak berhenti mengomelinya karena mengajaknya untuk berbohong padahal gadis itu paling tidak mau membohongi paman dan bibinya, tapi sepupunya dan kakaknya sudah terlanjur menyeret namanya dalam kebohongan tersebut. "Pokoknya ini terakhir kali kamu nyuruh aku bohong ya. Kalau bohong, bohong aja sendiri gak usah nyeret nama orang lain," oceh Sarah. Tanpa menoleh dan tetap memperhatikan jalan di depannya, Samudra menimpalinya setengah tak acuh. "Iya Sarah, iyaaa. Lo udah bilang ini puluhan kali." Oh tidak. Menjawab di saat seorang wanita sedang kesal bukan hal yang baik. Terbukti sekarang sarah mendelik sinis kearahnya serta berdecak keras. "Iya, iya, terus abis itu dilakuin lagi. Dah lah udah ketebak. Aku tau kamu, Sam. Bocah nakal." Samudra tidak membalasnya. Biarkanlah sepupunya itu terus mengoceh sepanjang jala

  • Nature Squad   Bab 59-Bertemu Camer di Depan Gereja Tua

    Sejak matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya Binar beserta kedua orang tuanya sudah berada di sebuah gereja untuk melaksanakan ibadah pagi. Di bangku kayu berwarna coklat hangat Binar duduk dengan khidmat sebelum kemudian semua jamaat berdiri seraya mengangkat tangan kanannya untuk melakukan pujian dan penyembahan. Lagu-lagu pujian menggema di dalam gereja. Kemudian setelah selesai para jamaat kembali duduk untuk sesi do'a. Diantaranya do'a untuk pengampunan dosa, do'a syafaat, dan doa syukur dan dilanjutkan dengan pembacaan alkitab. Kedua tangan Binar memegang alkitab, obsidian kembarnya membaca dengan penuh khidmat dan keimanan. Lalu kedua telinganya mendengarkan khotbah yang disampaikan pendeta. Tidak ada pikiran duniawi, semua pikiran dan hatinya ia fokuskan hanya untuk memuji Tuhan. Setelah semua rangkaian ibadah selesai Binar baru membuka handphone nya dan ternyata sudah ada 2 pesan masuk yang dua-duanya dari kekasihnya. Pesan itu berisi ucapan selamat pagi se

  • Nature Squad   Bab 47-Murkanya Dirgantara

    “Ah, aku sungguh iri melihat bagaimana kak Sam menggendong kak Rain,” ucap salah satu siswi yang sedang bergosip dengan temannya, “sangat-sangat romantis.” “Tapi, mereka beneran cocok ya. Kaya putri dan pangeran di negeri dongeng,” balas teman yang satunya. “Hmm aku rela deh gantiin kak Rain dih

  • Nature Squad   Bab 46-Hukuman Bersama dan Rain si Drama Queen

    Baru setengah jalan menuju kelas Rain berpapasan dengan guru yang kemarin ia tinggalkan saat jam pelajarannya berlangsung. "Rain, ikut saya ke ruangan BK!" perintah guru tersebut. Jika terdengar dari nada suaranya yang tinggi, Rain yakin guru itu sedang marah padanya. Rain berjalan dengan langkah

  • Nature Squad   Bab 45-Dihukum Berdua

    Wira dan Gita merasa keheranan dengan mood anak-anaknya hari ini. Putra sulungnya terlihat berseri-seri sedangkan putri bungsunya terlihat murung dan gelisah. "Rain," Panggil wanita itu dengan lembut seraya menyentuh kedua tangan putri bungsunya. Si bungsu mengangkat kepalanya sebagai respon lalu

  • Nature Squad   Bab 44-Melihat Langit yang Sama

    Rain menatap langit malam dari balik jendela kamar. Teringat percakapannya sore tadi saat pemuda itu meyakinkannya bahwa hujan tidaklah buruk dan menakutkan. Ponsel digenggamannya bergetar dan tertulis nama Samudra di sana. Gadis itu segera mengangkatnya seraya membenarkan posisi rambutnya, padahal

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status