Share

Kardi Ingkar Janji

Author: Sedap Malam
last update publish date: 2026-07-23 21:44:08

Yudha dengan susah payah menuruni altar batu, dia merangkak di depan Dewi Lanjar. Badannya gemetar, rasa takut menyelubungi pikirannya. Kakinya yang cacat kembali seperti dulu, pusakanya mengecil dengan badan kerempeng dan rambut kusut.

"Hahaha! Kamu terlalu lugu, Yudha ... aku sudah memerintahkan kamu berkali-kali agar mencari wanita sebanyak mungkin untuk kamu tiduri, tapi kamu selalu menunda kesempatan tersebut. Kebakaran pada warungmu bukan sebuah kebetulan, aku yang menggerakkan pikiran pa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Jatuh Cinta Sesakit ini .....

    Paginya, Irawan sudah berkemas dengan beberapa tas. Seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu, menunggu Irawan pergi. "Pak, berapa lama aku harus di sana?" tanya Irawan. "Bapak belum bisa pastikan, coba sekitar dua Minggu dulu untuk melihat potensinya," jawab Suseno..Irawan terdiam, kenapa ia tiba-tiba harus pergi dari sini? Apakah bapaknya mulai curiga tentang pengeluaran yang ia berikan pada Wati beberapa waktu lalu? Begitu yang ia pikirkan."Mas Wawan, mari ... mumpung masih pagi, ombak lautan masih tenang," pria paruh baya yang merupakan pengemudi perahu mengangkat tas Wawan. "Tapi, Pak ...," sekali lagi Irawan memandang bapaknya, namun sepertinya si bapak tak sedikitpun merubah keputusannya mengirim Wawan ke desa lain dengan alasan buka cabang usaha."Kamu itu cuma pergi dua Minggu, kenapa seolah bapak nyuruh kamu pergi berperang? Kamu itu laki-laki lho, Wan. Harus siap mencari pengalaman," tukas Suseno."Hmmm, baik, Pak. Aku pamit dulu," Irawan mencium punggung tangan bapa

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Godaan Janda Bohay

    Sejak Wati menjadi pembantu di rumah mereka, Irawan merasa tak nyaman. Seringkali saat ia berdekatan dengan Wati, ayahnya selalu memperhatikan. Suseno melihat gelagat Irawan yang sudah pantas mendapatkan pasangan, namun jika ia berada di dekat Wati justru Suseno kuatir Irawan kesulitan mendapatkan pasangan. Malam yang dingin di mana angin laut berhembus kencang ke daratan, Suseno tidak bisa tidur. Dia menggunakan jaket tebal untuk menghangatkan badannya. Segelas tuak dari ketan merah menjadi penambah penghangat suasana. Dia duduk sambil menikmati alunan musik keroncong yang keluar dari corong speaker radio. Namun di sela-sela musik yang dia dengarkan, telinga Suseno menangkap suara seorang perempuan bersenandung berpadu dengan gemericik air. Waktu menunjukkan pukul setengah delapan, biasanya Wati sudah pulang namun kali ini masih di sini. Untuk meyakinkan diri, dia mengencilkan radio."Nanananana ... cintaku bertambah selalu, padamuuuu! Oh pujaan hati!" begitu Wati bernyanyi, suara

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    sebuah rencana

    Dari arah kapal, Jono dan Parjo memapah Sekar. Perempuan itu baru menikah, tapi secepat itu pula ia menjadi janda. "Sekar, apa yang terjadi? Joko mana?" Sumiyati pura-pura kuatir, namun Sekar tidak menjadi. Perempuan itu memilih lebih dulu meninggalkan area kapal menuju daratan, sorot mata warga tertuju padanya. "Apa yang tadi dikatakan Yudha soal penumbalan? Atau aku salah dengar?" bisik seorang warga pada warga lainnya. "Joko mati dalam perjalanan bulan madu, bukan sebuah kebetulan mengingat Kardi dikenal sebagai seorang pengikut setan," jawab yang lain. "Heh, kalian bicara apa? Sinting kalian ini, mana mungkin aku melakukan ritual sesat semacam itu!" Kardi yang mendengar langsung memarahi dua orang warga tadi. Sekar dibawa Jono Parjo menuju rumah Parjo, mereka memilih tidak kembali ke rumah Kardi karena takut. Orang-orang mulai bertanya tentang dugaan Kardi yang menumbalkan Joko, namun tanpa bukti yang jelas maka tudingan itu hanya isapan jempol belaka. "Yudha, terimakasih te

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Kembalinya Sang Jagoan

    Di kediamannya, Suseno baru menerima tamu terakhirnya yang datang untuk urusan piutang. Saat melihat Wati berdiri di ambang pintu, Suseno langsung meminta tamunya itu pergi. Kali ini Irawan sedang tidak berada di rumah. "Pak, aku ke sini untuk menebus kesalahanku. Memang aku mengakui jika uang itu aku pakai untuk kebutuhan sehari-hari, tak masalah jika aku harus menggantinya dengan pekerjaan yang lain," ucap Wati dengan wajah tertunduk."Masuk dulu," pinta Suseno, ia kembali duduk dan menghela napas panjang. "Uang itu tak sedikit, aku mengira jika uang itu habis dipakai oleh Sari, tapi ternyata justru kami pakai sendiri. Aku kehilangan muka di depan dia karena ulahmu. Dia perempuan baik tidak seperti yang aku kira sebelumnya," gumam Suseno. "Be--benar, Pak. Dia memang perempuan yang baik, dan aku juga terpaksa memakai uang itu karena enggak memiliki pilihan lain," balas Wati. "Lalu Bagaimana kamu bisa mengembalikan uang itu? Sedangkan di sini aku tidak punya pembantu, jika kamu ber

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Tawaran Suseno

    Warna dan motif celana dalam itu sangat familiar, ada bekas cairan di sana. Suseno yakin jika Wati merahasiakan sesuatu di rumah ini. "Kamu ada main dengan anakku? Jika begini caramu, maka jangan salahkan aku jika nanti aku berbuat kasar!" bentak Suseno, Wati terdiam seribu bahasa. Dengan cepat Wati menyambar celana itu, terjadi tarik menarik antara Suseno dengan Wati. "Bawa siniiii!" Suseno mendorong Wati hingga jatuh terlentang, kain yang dia pakai tersingkap hingga lekuk tubuh bagian atas terlihat oleh Suseno. Gede, putih dan kenyal dengan sisa peluh yang masih menempel. Suseno memandang tanpa berkedip, pantas saja jika Irawan sering ke sini rupanya Wati yang merupakan seorang janda memiliki pesona tersembunyi. Suseno sampai menelan air liur. "Bapak enggak boleh begini, celana itu milik mantan suamiku, dia beberapa hari yang lalu ke sini menengok anak," ucap Wati setelah diam untuk mencari alasan, ia berdiri dan menautkan kain menutupi tubuhnya yang tadi sempat terekspos."Manta

  • Nelayan Perkasa Pemikat Wanita    Ketahuan

    Wati begitu bersemangat, ia merangkul pundak Irawan dan melumat bibir pemuda itu. Dengan berani dia meletakkan tangan Irawan ke melon kembarnya untuk disesap. "Wan, lebih kencang ... remas aaaakh!" rancau Wati. Perempuan itu menggoyangkan pinggulnya, bahkan tak perduli jika mereka masih memakai pakaian lengkap. "Lepas semuanya, biar kulit kita menyatu dalam kehangatan, Wan. Aku benar-benar gak tahan, uuuuh!" imbuh Wati yang berbicara dengan mata terpejam. Irawan semakin mahir, dia mengikuti semua perintah Wati dengan maksud mempelajari bagaimana sisi sensitif seorang perempuan.Di sisi lain, Sari baru sampai di rumah. Pikirannya semrawut, ada rasa bersalah jika dia terus memaksakan hubungan itu berlangsung padahal dia tahu akhirnya tak akan pernah direstui oleh orang tuanya Irawan yang terkenal sebagai seorang lintah darat.Klek!Pintu rumah dibuka, Sari masuk. Namun ketika hendak mengunci pintu, tiba-tiba ada yang menahan pintu itu agar tetap terbuka. Sari terkejut, Pak Suseno suda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status