LOGINDua orang yang putus harapan itu berkeluh-kesah sepanjang malam, mereka mengobrol sambil menikmati angin pantai ditemani kopi dingin tanpa gula. Wajah Sari tampak sendu, sesekali ia melihat lautan berharap adiknya pulang. "Sudah larut malam, aku pulang dulu," pamit Wati. Sari duduk sendiri, tangannya menggenggam erat sesuatu yang kosong yaitu harapan. Ia lelah dan letih, semangat telah pupus tapi setidaknya di sini dia memiliki tempat tinggal meski hanya gubuk kecil yang dingin.Hari masih pagi, Sari masih terpejam namun suara berisik di luar membuatnya terjaga. Pintu gubuk digedor dengan keras, ia bangun. "Mana adikmu?! Dia ikut pelayaran mengantar keponakanku berbulan madu! Harusnya sudah kembali ke sini!" kata Kardi yang dibelakangnya ada beberapa pria berwajah sangar. "Adikku?" Sari mengucek mata, memperbaiki bajunya dan merapikan rambut."Ya, siapa lagi. Aku curiga jangan-jangan dia merampok Joko dan Sekar!" lanjut Kardi. "Aku tak paham apa yang kalian bicarakan, adikku perg
Wati ini orang baik, dulu sewaktu waktu mereka masih kecil, saat ibunya Yudha masih hidup Wati sering main ke sini main bareng Sari. Keluarga Wati juga tak sungkan-sungkan membantu mereka. "Udah siap kamu, Sari?" tanya Wati yang datang menuntun sepeda onthel ke depan gubuk buatan Sari. "Ayo, keburu malam," Sari duduk di bagian boncengan, keduanya menuju rumah Suseno dengan harapan pulang membawa uang. Sesampainya di halaman rumah Suseno, mereka tak langsung masuk tapi menunggu tamu lainnya yang lebih dulu datang agar pulang. Tanpa sengaja seorang pemuda tampan melintas di depan mereka, pemuda itu memandang Sari, tatapan mereka bertemu untuk beberapa detik. "Dia Irawan, ingat? Dulu dia suka main di pelabuhan saat kecil," bisik Wati. "Irawan yang suka nangis itu?" tanya Sari mempertegas. "Ya benar. Dia masih lajang, sama kaya kamu," imbuh Wati. "Uhmm, Mbak-mbak ini ada perlu apa?" Irawan mendekati mereka. "Anu, mau bertemu bapakmu," potong Wati. "Ayo masuk, enggak enak kalau diliat
Sebenarnya kakek tua itu tahu tentang siapa Sari beserta latar belakang keluarganya, namun pada saat ini dia tak ingin mengungkapkan apapun selama itu belum jelas dan bisa saja dia salah menilai. "Aku melihatmu sangat lelah, beristirahat di kamar, biar aku tidur di sini," perintah kakek tua misterius itu, Sari hanya mengangguk. Dia yang sudah letih berjalan dan mengalami banyak hal buruk segera masuk ke dalam kamar, dengan pulas kakak tirinya Yudha itu tidur. Namun meski matanya terpejam, rasa takut bergemuruh di pikirannya tentang hutang, cemoohan orang-orang dan musibah yang tak pernah berhenti. Bahkan Sari hanya bisa tidur tak lebih dari dua jam."Buuuu!' teriak Sari sekuat tenaga, ia bangun dalam kondisi badan berkeringat. "Nak, kamu kenapa?" Kakek misterius mendorong pintu kamar hingga terbuka, Sari menatap pria tua yang wajahnya berkeriput itu, ada keteduhan di sana. Ada rasa aman serta welas asih yang terpancar. "Kek, aku mimpi buruk," kata Sari. "Tak apa, itu cuma mimpi. S
"Ka--kalian benar-benar tidak tahu berterimakasih, astagaaa!" Sari masih terpaku memegang pipinya. "Ya benar, memang milik suamiku berfungsi tapi anehnya jika ada kamu di dekatnya. Artinya apa? Kamu melakukan sihir!" tuding Yanti.Sari tak tahu apa yang mereka maksud, ia juga menyadari jika belum pernah membuat ramuan seperti itu sebelumnya."Apa ada yang salah dengan ramuan itu? Pantas dia marah, mungkin aku harus mencoba pada orang lain," batin Sari."Sekarang kembalikan uangku!" Yanti menarik kerah baju Sari, namun sejauh ini Anwar hanya diam tanpa ikut marah seperti istrinya."Mbak, aku sudah berusaha. Aku pasti bisa bikin ramuan itu lagi, kasih aku kesempatan!" pinta Sari, Anwar menarik napas dalam-dalam. "Jangan ribut di jalan, malu dilihat orang," pria itu mendorong pelan istrinya mundur dari Sari. "Oh, jadi sekarang kamu menyukai perempuan murahan ini? Di membodohi kita dengan ramuan palsu," tuduh Yanti yang mengira jika suaminya kini berpihak pada Sari."Aku akan buktikan, Mb
Sementara di tempat lain, Sari duduk termenung di depan pintu. Tangannya memegang sapu, matanya menatap kosong ke depan dan pikirannya berkecamuk resah. Sebagai Kakak, ia merasa gagal melindungi Yudha dari tekanan orang-orang, ia tahu adiknya tak seberuntung orang lain yang tumbuh dewasa dengan sepasang kaki yang sempurna, Sari juga tidak tahu kenapa terlahir dari rahim berbeda dengan Yudha. Orang mengatakan jika di akhir hayat ayahnya hanya ibunya Yudha yang mau menampung, bahkan sebelum ibu kandung Sari meninggal pun tak ada wasiat apa-apa selain agar dia menjaga adik tirinya itu. Kehidupan dunia terasa begitu rumit baginya. Tanpa harta dan warisan dari orang tua ia hanya mengandalkan diri sendiri untuk bertahan hidup. "Sari," sapa Hesti dari belakang. "Ya, Mbak," Sari menoleh cepat ke sumber suara, Hesti duduk di ruang tamu sambil berpangku tangan. Ketika Sari sudah berada di dekatnya Hesti menarik napas dalam-dalam. "Usaha Mbak akhir-akhir ini sepi, kamu tahu sendiri jika Yudh
Yudha menyelesaikan semedinya, ia beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Di kamar khusus, ia melihat Sekar duduk dengan gaun yang tipis, aura wajah yang terpancar begitu menenangkan. Ketika Sekar bangkit untuk menyambutnya, melon kembar miliknya berguncang bahkan area pekat pada pangkal paha pun terlihat meski gaun transparan dia kenakan. "Kenapa lama sekali, aku hampir saja tertidur," ujar Sekar memeluk Yudha, pusaka yang tadinya tidur mulai menggeliat dan menempel pada perut Sekar yang lembut. "Upah apa yang akan kamu berikan padaku setelah aku melewatkan fase kritis suamimu?" tanya Yudha. Sekar tak menjawab, dia memilih Joko di hadapan indah lalu menempelkan melon kembar itu ke arah lutut Yudha. "Apapun yang kamu minta pasti aku berikan, anggap saja kamu sebagai pengganti pasangan bukan maduku, Yudha. Kamu telah menyelamatkan hidup banyak orang, sudah semestinya aku memberikan kesenangan padamu," rayu Sekar. Yudha merasa bersemangat, dia langsung menubruk Sekar samp







