Share

Bab 005

last update Last Updated: 2025-09-01 16:00:41

Hening.

Tak satu pun dari mereka membalas. Mereka tak bisa membantah kesetiaan Evelyne pada kakeknya. Tapi wajah mereka jelas tidak puas.

Evelyne menghela napas perlahan.

“Kalian bisa terus bicara. Tapi aku tidak akan mendengarkannya lagi malam ini.”

Tanpa menunggu balasan, ia melangkah pergi, menuju lantai tiga, kamarnya.

Setelah kepergian Evelyne, Hector mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap wajah Agatha yang sejak tadi hanya mengamati—dalam diam yang lebih mengancam dari kemarahan.

“Ibu, kau dengar sendiri. Dia keras kepala.”

Agatha Laurent, wanita tua berwibawa, mengangkat cangkir tehnya perlahan, lalu meletakkannya dengan lembut di atas tatakan.

"Tiga tahun... kita semua sudah terlalu sabar. Sekarang waktunya menyelamatkan Evelyne dari dirinya sendiri."

Mariana langsung menimpali, “Kau benar, Bu. Lihat saja tadi. Dia membela Kael seolah-olah pria itu malaikat penyelamatnya!”

Agatha mendesah, tapi tidak ada kelembutan dalam helaan napasnya. Hanya kejengkelan.

“Dia terlalu terikat pada mendiang kakeknya. Itulah masalahnya. Dia anggap wasiat itu suci… padahal itu hanya kesalahan seorang lelaki tua yang sedang sekarat.”

Semua terdiam mendengar ucapan itu. Agatha adalah istri dari kakek Evelyne—perempuan itu tahu bagaimana menyentuh titik paling sensitif tanpa terlihat kejam.

Hector mengangguk pelan, “Kalau begitu... apa yang harus kita lakukan?”

Agatha menatap mereka satu per satu. Tatapannya menusuk dan penuh perhitungan.

“Kita dekatkan Damian secara perlahan. Jangan langsung menggantikan posisi Kael, tapi bawa Damian ke dalam lingkaran kita. Buat dia menjadi bagian dari keluarga ini... bahkan sebelum Evelyne menyadarinya."

“Dan Kael?” tanya Grace dengan ragu.

Agatha menyeringai kecil.

“Kael? Dia akan menghilang... perlahan. Bukan karena kita dorong keluar, tapi karena Evelyne sendiri akan sadar bahwa dia terlalu memalukan untuk dipertahankan."

Mariana ikut tersenyum penuh maksud, "Dan jika tidak sadar juga?"

Agatha memejamkan mata sejenak, lalu membuka kembali.

"Maka kita buat dia sadar. Kita akan tunjukkan padanya bahwa dunia tak akan pernah mengakui pria seperti Kael. Biarkan dia merasa tidak punya tempat, tidak punya masa depan, bahkan tidak punya harga diri."

"Dan ketika saat itu datang..." bisik Grace, "Damian akan jadi satu-satunya sandaran."

Agatha mengangguk puas. "Tepat sekali."

Sementara itu, tanpa tahu apa yang sedang mereka rencanakan, Evelyne masuk ke kamarnya sambil menghembuskan napas berat. Langkah kakinya ringan, tapi nada hatinya penuh kekesalan dan kelelahan.

Namun, matanya tiba-tiba melebar melihat pemandangan yang ada di depannya.

Kael sedang berbaring santai di atas ranjangnya!

Satu tangan di belakang kepala, satu kaki disilangkan. Seolah dia pemilik sah ranjang itu.

“KAEL!”

Kael membuka satu mata, lalu menguap kecil.

“Ah, kau kembali? Kukira kau bakal menginap di meja makan, ditemani pujian untuk Damian.”

Evelyne berjalan cepat ke sisi tempat tidur, wajahnya merah karena marah. “Turun. Sekarang.”

Kael justru tersenyum lebih lebar.

“Tunggu dulu.” Dia bangkit duduk, tangan menyilang di dada. “Bukankah kau pernah bilang... kalau aku berhasil membuat salah satu anggota keluargamu terkesan, aku boleh tidur di ranjang?”

Evelyne memicingkan mata. “Aku tidak—”

"Kau bilang itu saat ulang tahun pamanmu tahun lalu. Kau bahkan bilang, ‘Tapi itu tak akan pernah terjadi karena kau tak akan bisa membuat siapa pun terkesan.’"

Kael menirukan dengan gaya bicara Evelyne, lengkap dengan nada sinisnya.

“Dan lihat sekarang—Nenek Agatha bahkan menyentuh lonceng pemberianku sambil diam-diam terkesan... Itu jelas kemenangan besar.”

Pipi Evelyne mulai memerah, meskipun matanya tetap tajam.

"Itu hanya karena harganya mahal. Jangan terlalu percaya diri. Aku bahkan tidak tahu darimana kau mendapatkannya!"

Kael menyandarkan punggung ke sandaran tempat tidur, senyumnya masih melekat.

"Apakah itu penting? Alasan tetaplah alasan. Yang penting aku menang taruhannya."

Evelyne berdiri kaku, tangan di pinggang. "Turun sekarang juga, Kael, atau aku lempar kau keluar jendela."

Kael tertawa kecil. "Kau sungguh tega. Apa pantas suamimu—yang baru saja menyelamatkan reputasimu di depan keluarga dan para elit kota—diperlakukan seperti ini? Ya, walaupun kehadiran Damian menghancurkan segalanya, sih."

“Kau tidur di bawah. Itu aturan.”

“Aturan berubah. Aku sudah naik level hari ini.”

“Kael!”

Kael akhirnya berdiri, tapi alih-alih mundur, dia melangkah mendekat—menurunkan suaranya sedikit.

"Tenang saja, aku nggak bakal ngapa-ngapain. Aku tahu batas. Aku cuma ingin tahu... seperti apa rasanya tidur di ranjang empuk ini. Sekali saja."

Evelyne terdiam. Matanya menatap Kael tajam, tapi raut wajahnya tak lagi sepanas tadi.

Setelah beberapa detik, ia menghela napas berat dan berkata dingin, "Baik. Tapi malam ini saja."

Kael tersenyum lebar, nyaris seperti anak kecil yang baru diizinkan tidur di kamar utama.

“Terima kasih, Yang Mulia. Kau yang terbaik!"

"Dan jangan coba menyentuhku."

"Aku tidak sebodoh itu. Aku sayang nyawa."

Evelyne membuang muka, wajahnya merah padam.

Lampu kamar padam beberapa menit kemudian, dan dua sosok itu berbaring berseberangan di ranjang yang sama... dalam keheningan yang justru penuh percikan api yang tak terlihat.

Besoknya, di pagi hari, sekitar pukul sepuluh, Kael baru saja selesai menjemur pakaian ketika Evelyne muncul dengan ekspresi tak biasa.

"Siang ini ada undangan makan dari Damian dan beberapa investor besar," ucapnya singkat. "Topiknya proyek energi bersih di wilayah timur. Proyek besar. Orang-orang penting akan datang."

Kael mengangkat alis, menggulung lengan bajunya yang masih basah. "Lalu kenapa kau repot-repot memberitahuku?"

Evelyne terlihat ragu. "Karena kau juga diundang… Tapi jujur saja, kehadiranmu tak benar-benar diperlukan. Sebaiknya, kau tetap di sini. Aku akan mengatakan bahwa kau sakit."

Kael tersenyum, "Oh... manisnya. Apakah kau khawatir suamimu ini kembali dipermalukan? Aku tidak menyangka kau ternyata peduli padaku."

"Jangan bercanda, Kael. Ini demi menjaga nama baik keluarga. Aku tidak ingin kehadiranmu merusak nama baik keluarga Laurent."

Kael masih tersenyum. Dia tidak marah, tidak juga tersinggung—dia tahu bahwa Evelyne tidak ingin dia dipermalukan, hanya saja malu untuk mengakuinya.

Namun, undangan ini adalah kesempatannya melihat sejauh mana Damian akan bergerak.

Ingin mempermalukan dirinya di depan orang-orang penting, menunjukkan perbedaan level di antara mereka?

Ingin merebut Evelyne dari dia, menunjukkan siapa yang pantas untuk Evelyne?

Mari kita lihat apa yang bisa dia lakukan.

Kael kemudian mengambil handuk, mengusap tangannya yang basah sembari membalas, "Karena aku sudah diundang, aku harus datang. Bagaimanapun, ini acara langka. Aku hampir tak pernah diajak ke acara makan siang semewah dan sepenting ini."

"Kael! Aku sudah memperingatkanmu..."

Sebelum Evelyne menyelesaikan kalimatnya, Kael langsung menyela dengan berkata, "Jangan khawatir, Yang Mulia. Aku tahu apa yang aku lakukan. Aku tidak akan mempermalukan keluarga Laurent. Percayalah padaku."

Melihat Kael dipenuhi dengan kepercayaan diri, Evelyne hanya bisa menghela napas tanpa daya. Dia membalas, "Terserah padamu. Namun, jika kau mempermalukan keluarga Laurent, jangan salahkan aku jika membuatmu tidur di taman malam ini!"

Kael tersenyum hangat saat dia membalas, "Cukup adil."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yehuda Haris Purnadi
baguss ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ngakunya Pengangguran, Ternyata Penguasa Dunia    Bab 350

    Namun gurunya, Tetua Qingshan, memberitahunya bahwa Tetua Mingxia punya cara untuk membuatnya punya kesempatan besar untuk menang.Dan ia tentu saja mengambilnya.Tanpa ragu!Tanpa pikir panjang!Ini tidak hanya demi dirinya sendiri.Ini demi harga diri Sekte Naga Suci Menembus Langit!Bagaimana mungkin turnamen di sekte ini dimenangkan oleh manusia dari Dunia Bawah yang rendahan?!Bagaimana mungkin mereka membiarkan wajah sekte diinjak-injak seperti ini?!Ini akan memalukan!Ini akan menghancurkan reputasi sekte di hadapan seluruh Dunia Atas!Karenanya, ia bersedia melakukan apa pun, bahkan ketika itu menggunakan cara kotor!Apa pun itu, selama Kael tidak menang!Mendengar jawaban yang penuh dengan tekad itu, Chen Mingxia mengangguk dengan ekspresi yang sangat puas. Senyum kecil muncul di wajahnya. Senyum yang dingin dan penuh dengan kepuasan.Lalu, dari cincin penyimpanan yang ada di jarinya, ia mengeluarkan sesuatu.Sebuah pil.Pil berwarna merah darah yang sangat pekat. Warna mera

  • Ngakunya Pengangguran, Ternyata Penguasa Dunia    Bab 349

    Chen Wuji bangkit dari singgasananya yang megah.Dengan suara yang diperkuat oleh energi spiritual sehingga terdengar sangat jelas di seluruh arena, ia berkata, "Babak semi-final telah berakhir, dimenangkan oleh Chen Yunfei dan Li Xin!"Ia berhenti sejenak, membiarkan pengumuman itu meresap. Lalu ia melanjutkan dengan nada yang tegas, "Babak final akan diadakan empat jam lagi! Kepada kedua finalis, beristirahatlah dengan baik. Pertarungan terakhir ada di depan mata!"Setelah pengumuman itu, Chen Wuji turun dari singgasananya dengan langkah yang tenang.Para penonton mulai bubar perlahan-lahan. Namun, berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini tidak ada antusiasme yang sama. Tidak ada diskusi seru tentang siapa yang akan menang. Tidak ada perdebatan tentang kekuatan kedua finalis. Jelas, mereka berharap babak final tidak dilakukan.Tentu saja, itu karena mereka bisa menebak Kael akan menang. Tidak ada keraguan atas itu!Dia... terlalu kuat. Dan Chen Yunfei, tidak akan bisa mengatasinya.

  • Ngakunya Pengangguran, Ternyata Penguasa Dunia    Bab 348

    Wasit berdiri di antara Kael dan Chen Xueyi.Dengan suara yang diperkuat oleh energi spiritual, ia berkata, "Peraturan pertandingan sangat sederhana. Pertarungan berlangsung hingga salah satu pihak tidak bisa melanjutkan atau menyerah. Apakah kalian berdua mengerti?"Kael mengangguk dengan tenang.Chen Xueyi juga mengangguk, namun wajahnya menunjukkan ekspresi yang sangat serius.Wajah tenangnya seperti hari sebelumnya telah hilang sepenuhnya. Itu karena lawannya kali ini sangat kuat, yang mampu mengalahkan Chen Yuelin!Ia tidak boleh longgar sama sekali. Ia harus menang, demi mendapatkan apresiasi dari orangtua dan gurunya!Wasit melanjutkan, "Sebelum pertarungan dimulai, kalian berdua harus saling menghormati."Kael dan Chen Xueyi saling menatap, lalu keduanya mengatupkan tangan di depan dada dan membungkuk sedikit.Wasit mengangkat tangannya tinggi-tinggi."Bersiaplah!"Keheningan total terjadi.Kael berdiri dengan ekspresi yang sangat tenang. Di tangannya, ia memegang pedang putih

  • Ngakunya Pengangguran, Ternyata Penguasa Dunia    Bab 347

    Keesokan paginya, matahari baru saja terbit di ufuk timur. Namun Arena Utama sudah kembali penuh dengan penonton.Mereka semua menantikan babak semi-final dengan penuh antusias!Chen Tianwei duduk di paviliunnya dengan ekspresi yang tenang namun penuh dengan harapan.Chen Ningshuang berdiri di antara penonton dengan wajah khawatir, masih memikirkan tentang keputusan Kael semalam, sesekali melirik ke arah Kael yang berdiri tak jauh darinya.Di singgasananya yang megah, Chen Wuji berdiri mengenakan jubah putih dengan corak emas yang berkibar.Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Lalu dengan suara yang diperkuat oleh energi spiritual sehingga terdengar sangat jelas di seluruh arena, ia berkata, "Babak semi-final akan dimulai sekarang!"Ia berhenti sejenak, membiarkan pengumuman itu meresap.Lalu ia melanjutkan dengan nada yang tegas, "Pertarungan pertama: Chen Yunfei melawan Chen Rouxue!"Ia berhenti lagi."Pertarungan kedua: Chen Xueyi melawan Li Xin!"Segera setelah pengumuman itu, d

  • Ngakunya Pengangguran, Ternyata Penguasa Dunia    Bab 346

    Ketika Kael menutup pintu paviliun dan berbalik, Chen Ningshuang sudah berdiri di belakangnya.Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang dalam. Walau ia berusaha menyembunyikannya, ekspresi itu sangat jelas terlihat.Dengan suara yang berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, ia bertanya, "Kau menerima tantangannya?! Kau yakin mempertaruhkan kedua lenganmu?!"Dan jelas, Chen Ningshuang menyadari bahwa yang diinginkan Chen Haoran lebih dari sekadar kedua lengan Kael.Ia ingin menghancurkan Kael!Di Arena Utama, sebelum ia mengambil kedua lengan Kael, ia sudah akan menghajar Kael hingga kerusakan yang jauh lebih buruk dari kehilangan kedua lengan.Patah tulang di mana-mana.Organ dalam yang rusak.Wajah yang hancur.Dan mungkin bahkan lebih parah dari itu.Itulah yang membuat Chen Ningshuang khawatir.Ia tidak ingin pria setampan Kael kehilangan kedua lengannya.Atau lebih buruk lagi—kehilangan nyawanya.Kael menatap Chen Ningshuang dengan ekspresi yang sedikit curiga. Lalu dengan nada yang

  • Ngakunya Pengangguran, Ternyata Penguasa Dunia    Bab 345

    Kael menatap Chen Haoran dengan ekspresi yang sangat tenang.Di belakang Chen Haoran, berdiri tiga pemuda lain.Mereka semua adalah murid-murid inti dari Tetua biasa.Wajah mereka menunjukkan ekspresi yang serius, namun juga ada sedikit keraguan di mata mereka.Ketika melihat Kael keluar dari paviliun, Chen Haoran tersenyum puas.Senyum yang penuh dengan kepuasan dan juga sedikit ejekan.Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya dengan nada yang mengejek, "Wow, aku pikir kau akan tetap berada di dalam, bersembunyi, seperti sebelumnya. Aku tidak menyangka kau akan keluar."Kael menatap Chen Haoran dengan ekspresi datar. Lalu dengan nada yang sangat langsung, ia bertanya, "Apa yang kau inginkan?"Mendengar pertanyaan yang sangat blak-blakan itu, wajah Chen Haoran seketika berubah dingin.Senyumnya menghilang, digantikan dengan ekspresi yang sangat serius dan penuh dengan kebencian.Ia menatap Kael dengan tatapan yang sangat tajam. Lalu dengan suara yang keras dan tegas, ia berkata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status