LOGINRestoran Belvédère, salah satu restoran paling bergengsi di Kota Elmridge, siang itu telah disulap menjadi ruang makan pribadi yang elegan. Dinding-dinding marmer putih berkilau, dan cahaya gantung kristal menari di atas kepala para tamu terhormat.
Di tengah ruangan, Damian berdiri bak tuan rumah sejati.
Dengan jas abu-abu halus dan dasi biru tua, ia menyambut para investor dan pengusaha dari Wilayah Timur, memperkenalkan mereka satu per satu kepada anggota keluarga Laurent dengan kefasihan dan percaya diri.
"Ini adalah Paman Hector, yang akan mengawasi sektor produksi. Dan ini Nyonya Agatha, pilar keluarga Laurent. Kami sangat menantikan kolaborasi besar ini," katanya dengan anggun.
Agatha dan Hector hanya tersenyum sopan, membiarkan Damian mengambil alih panggung.
Damian lalu menggeser tubuhnya sedikit ke samping, memberi jalan pada seorang wanita anggun yang berdiri tepat di sampingnya.
"Dan tentu saja, ini Evelyne—cucu kesayangan Tuan Laurent, dan juga pewaris masa depan bisnis keluarga."
Para investor tersenyum sambil menjabat tangan mereka satu per satu.
Tak lama kemudian, pintu terbuka, dan Kael melangkah masuk.
Dia mengenakan kemeja putih bersih dan celana panjang hitam sederhana. Tidak ada dasi. Tidak ada kilau jam tangan mewah. Wajahnya datar, tapi langkahnya tenang.
Seketika, keempat investor saling melirik.
Damian mengangkat bahu dengan senyum tipis.
"Oh, dia hanya suami Evelyne. Jangan khawatir, dia tidak akan mengganggu diskusi.”
Kael tidak bicara. Ia hanya menarik kursi kosong di sisi paling ujung, jauh dari pusat percakapan, dan duduk dengan tenang.
"Aku pikir dia tidak akan datang," bisik sepupu Evelyne pelan sambil tertawa kecil.
"Yah, mungkin dia penasaran seperti apa rasanya makan di tempat elit," balas yang lain.
Kael tetap diam. Tidak tersenyum. Tidak juga menunjukkan ekspresi sakit hati.
Evelyne, yang duduk di samping Damian, tampak gelisah. Matanya sesekali melirik ke arah Kael, seolah ingin berkata sesuatu, tapi tak tahu harus mulai dari mana.
Sejujurnya, kata pertama yang ingin dia sampaikan adalah, alasan dia duduk di sebelah Damian adalah karena perintah nenek, bukan keinginannya.
Namun, dia tidak bisa menyampaikannya sekarang.
Sementara itu, pembahasan tentang proyek energi bersih di Wilayah Timur berlangsung intens. Damian memaparkan proposal kerjasama, data statistik, dan koneksi politik yang dimiliki keluarganya.
“Jika berjalan lancar,” kata Damian, “proyek ini akan menghasilkan miliaran dolar dalam jangka panjang. Dan tentu saja, keluarga Laurent akan menjadi salah satu pemegang saham utamanya.”
Para investor mengangguk penuh minat. Semua mata tertuju pada Damian.
Kael? Ia hanya menuangkan air putih ke gelasnya, menyesapnya perlahan, sembari menatap jendela kaca di sisi ruangan yang memperlihatkan pemandangan kota.
Ia seperti tak benar-benar ada di ruangan itu.
Kemudian, hinaan halus meluncur.
“Jadi Kael,” tanya salah satu investor sambil menoleh. “Kau bekerja di bidang apa?”
Beberapa orang tertawa kecil, pura-pura menutupi mulut.
Kael menoleh perlahan. “Aku... pengangguran,” jawabnya jujur, dengan senyum ringan namun tidak konyol.
Damian menyela cepat, “Jangan salah. Kael itu... spesialis laundry rumah tangga. Bisa dibilang, dia menjaga kebersihan rumah, dalam artian yang paling literal.”
Tawa pecah di sekitar meja. Bahkan beberapa pelayan sulit menahan senyum.
Kael tak membalas. Ia hanya menunduk sedikit, mengangkat gelasnya lagi, dan meneguknya perlahan.
Sikapnya begitu tenang, seolah semua hinaan itu hanyalah angin sepoi di tengah padang kosong.
Tapi justru karena sikap diamnya itulah, Evelyne menggertakkan giginya.
Ia merasa bersalah. Ia tahu bahwa ini akan terjadi, tapi Kael tetap saja datang.
Diam, duduk, dan... menerima semuanya tanpa keluhan.
Seharusnya dia tidak memberitahu Kael sejak awal.
---
Suasana makan siang berlangsung lancar. Gelas-gelas anggur bergemerincing pelan saat para investor mencicipi hidangan mewah yang tersaji.
Para anggota keluarga Laurent yang hadir mencoba menarik perhatian para investor dengan memuji mereka. Entah itu karena pakaian atau jam tangan mahal yang mereka kenakan, atau cara mereka dalam mengelola bisnis.
Semuanya tampak baik-baik saja.
Namun tiba-tiba—
"Kuhuk… huk—!"
Seorang pria tua dengan jas abu-abu berkilau—Gerard Whitmore, investor senior dari perusahaan energi internasional—tiba-tiba menggigil, tubuhnya kejang. Sendoknya jatuh berdering, tangannya mencengkram leher seperti sedang dicekik dari dalam.
"Pak Gerard?!" Damian sontak berdiri, wajahnya pucat.
Gerard berusia 80-an. Dia tampak sangat tua, seolah bisa mati kapan saja.
Tentu saja, kepanikan Damian berasal dari apabila Gerard mati di sini, ini akan merusak jalannya kerjasama bisnis ini.
Ini juga akan merusak seluruh rencananya membawa Evelyne ke sisinya!
Karenanya, Damian langsung berteriak, "Evelyne! Panggil ambulans sekarang!"
Evelyne memberikan anggukan setuju, buru-buru merogoh tasnya dengan tangan gemetar.
Namun sebelum dia sempat menekan tombol apapun di ponselnya—
Suara Kael tiba-tiba terdengar, "Akan terlambat kalau menunggu ambulans tiba."
Semua kepala menoleh.
Tentu saja, Nyonya Agatha adalah yang pertama menjawab, "Apakah ini adalah saat yang tepat untuk bercanda, Kael?! Pak Gerard sedang dalam kondisi kritis, dan kau mengambil kesempatan ini untuk melontarkan omong kosong?! Apa otakmu sudah rusak?!"
Yang lainnya memberikan anggukan setuju, bertanya-tanya tentang isi kepala Kael.
Apakah dia idiot? Dia tidak bisa membaca situasi?
Namun, Kael mengabaikan mereka sepenuhnya. Ia berdiri perlahan dari kursinya, lalu mengambil langkah ringan menuju tubuh Gerard yang kejang di lantai.
"Hei! Apa yang kau lakukan?!" seru Mariana, tapi tak dihiraukan.
Kael berlutut di sebelah Gerard. Jarinya menyentuh nadi leher, kemudian dadanya. Ia menekan titik di bawah telinga Gerard, lalu melirik singkat ke arah orang-orang yang panik seperti sekumpulan tikus yang terjebak di kandang kucing.
"Jantungnya tidak dalam kondisi serangan mendadak. Tapi aliran darah ke otaknya terhambat. Arteri karotisnya menyempit. Ini bisa membunuhnya dalam dua menit."
Sejujurnya, Kael tidak ingin menolong si tua bangka ini. Saat Damian menghinanya, bajingan ini adalah yang tertawa paling keras.
Namun, saat dia melihat jalannya diskusi, Evelyne terlihat begitu berharap pada kerjasama bisnis ini.
Di mata Evelyne, ini mungkin adalah kesempatan bagi Keluarga Laurent untuk naik tingkat.
Karenanya, demi Evelyne, dia mau tidak mau menyelamatkan bajingan tua ini.
Pada titik ini, tangan Kael bergerak cepat, menekan beberapa titik di dada dan lengan, lalu satu sentuhan terakhir di antara alis Gerard—cepat dan presisi, seperti seorang ahli medis tingkat tinggi... atau sesuatu yang lebih dari itu.
Dalam waktu kurang dari dua puluh detik, tubuh Gerard mulai mereda. Kejangnya berhenti. Napasnya kembali tertata. Matanya perlahan membuka—meski masih lemah.
Damian menatap tak percaya.
Evelyne membeku dengan ponsel masih di tangannya.
Para investor, keluarga Laurent, dan semua orang di ruangan itu hanya bisa memandangi Kael dengan tatapan campur aduk—antara terkejut, tidak percaya, dan bingung.
Kael berdiri kembali, menepuk kemejanya dengan tenang, lalu menoleh pada Evelyne.
"Tetap panggil ambulans, Evelyne. Ini untuk memastikan dia masih bisa makan dessert sore ini."
Lalu ia kembali ke kursinya—tanpa menambahkan satu kata pun.
Hening. Hening yang panjang.
Namun gurunya, Tetua Qingshan, memberitahunya bahwa Tetua Mingxia punya cara untuk membuatnya punya kesempatan besar untuk menang.Dan ia tentu saja mengambilnya.Tanpa ragu!Tanpa pikir panjang!Ini tidak hanya demi dirinya sendiri.Ini demi harga diri Sekte Naga Suci Menembus Langit!Bagaimana mungkin turnamen di sekte ini dimenangkan oleh manusia dari Dunia Bawah yang rendahan?!Bagaimana mungkin mereka membiarkan wajah sekte diinjak-injak seperti ini?!Ini akan memalukan!Ini akan menghancurkan reputasi sekte di hadapan seluruh Dunia Atas!Karenanya, ia bersedia melakukan apa pun, bahkan ketika itu menggunakan cara kotor!Apa pun itu, selama Kael tidak menang!Mendengar jawaban yang penuh dengan tekad itu, Chen Mingxia mengangguk dengan ekspresi yang sangat puas. Senyum kecil muncul di wajahnya. Senyum yang dingin dan penuh dengan kepuasan.Lalu, dari cincin penyimpanan yang ada di jarinya, ia mengeluarkan sesuatu.Sebuah pil.Pil berwarna merah darah yang sangat pekat. Warna mera
Chen Wuji bangkit dari singgasananya yang megah.Dengan suara yang diperkuat oleh energi spiritual sehingga terdengar sangat jelas di seluruh arena, ia berkata, "Babak semi-final telah berakhir, dimenangkan oleh Chen Yunfei dan Li Xin!"Ia berhenti sejenak, membiarkan pengumuman itu meresap. Lalu ia melanjutkan dengan nada yang tegas, "Babak final akan diadakan empat jam lagi! Kepada kedua finalis, beristirahatlah dengan baik. Pertarungan terakhir ada di depan mata!"Setelah pengumuman itu, Chen Wuji turun dari singgasananya dengan langkah yang tenang.Para penonton mulai bubar perlahan-lahan. Namun, berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini tidak ada antusiasme yang sama. Tidak ada diskusi seru tentang siapa yang akan menang. Tidak ada perdebatan tentang kekuatan kedua finalis. Jelas, mereka berharap babak final tidak dilakukan.Tentu saja, itu karena mereka bisa menebak Kael akan menang. Tidak ada keraguan atas itu!Dia... terlalu kuat. Dan Chen Yunfei, tidak akan bisa mengatasinya.
Wasit berdiri di antara Kael dan Chen Xueyi.Dengan suara yang diperkuat oleh energi spiritual, ia berkata, "Peraturan pertandingan sangat sederhana. Pertarungan berlangsung hingga salah satu pihak tidak bisa melanjutkan atau menyerah. Apakah kalian berdua mengerti?"Kael mengangguk dengan tenang.Chen Xueyi juga mengangguk, namun wajahnya menunjukkan ekspresi yang sangat serius.Wajah tenangnya seperti hari sebelumnya telah hilang sepenuhnya. Itu karena lawannya kali ini sangat kuat, yang mampu mengalahkan Chen Yuelin!Ia tidak boleh longgar sama sekali. Ia harus menang, demi mendapatkan apresiasi dari orangtua dan gurunya!Wasit melanjutkan, "Sebelum pertarungan dimulai, kalian berdua harus saling menghormati."Kael dan Chen Xueyi saling menatap, lalu keduanya mengatupkan tangan di depan dada dan membungkuk sedikit.Wasit mengangkat tangannya tinggi-tinggi."Bersiaplah!"Keheningan total terjadi.Kael berdiri dengan ekspresi yang sangat tenang. Di tangannya, ia memegang pedang putih
Keesokan paginya, matahari baru saja terbit di ufuk timur. Namun Arena Utama sudah kembali penuh dengan penonton.Mereka semua menantikan babak semi-final dengan penuh antusias!Chen Tianwei duduk di paviliunnya dengan ekspresi yang tenang namun penuh dengan harapan.Chen Ningshuang berdiri di antara penonton dengan wajah khawatir, masih memikirkan tentang keputusan Kael semalam, sesekali melirik ke arah Kael yang berdiri tak jauh darinya.Di singgasananya yang megah, Chen Wuji berdiri mengenakan jubah putih dengan corak emas yang berkibar.Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Lalu dengan suara yang diperkuat oleh energi spiritual sehingga terdengar sangat jelas di seluruh arena, ia berkata, "Babak semi-final akan dimulai sekarang!"Ia berhenti sejenak, membiarkan pengumuman itu meresap.Lalu ia melanjutkan dengan nada yang tegas, "Pertarungan pertama: Chen Yunfei melawan Chen Rouxue!"Ia berhenti lagi."Pertarungan kedua: Chen Xueyi melawan Li Xin!"Segera setelah pengumuman itu, d
Ketika Kael menutup pintu paviliun dan berbalik, Chen Ningshuang sudah berdiri di belakangnya.Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang dalam. Walau ia berusaha menyembunyikannya, ekspresi itu sangat jelas terlihat.Dengan suara yang berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, ia bertanya, "Kau menerima tantangannya?! Kau yakin mempertaruhkan kedua lenganmu?!"Dan jelas, Chen Ningshuang menyadari bahwa yang diinginkan Chen Haoran lebih dari sekadar kedua lengan Kael.Ia ingin menghancurkan Kael!Di Arena Utama, sebelum ia mengambil kedua lengan Kael, ia sudah akan menghajar Kael hingga kerusakan yang jauh lebih buruk dari kehilangan kedua lengan.Patah tulang di mana-mana.Organ dalam yang rusak.Wajah yang hancur.Dan mungkin bahkan lebih parah dari itu.Itulah yang membuat Chen Ningshuang khawatir.Ia tidak ingin pria setampan Kael kehilangan kedua lengannya.Atau lebih buruk lagi—kehilangan nyawanya.Kael menatap Chen Ningshuang dengan ekspresi yang sedikit curiga. Lalu dengan nada yang
Kael menatap Chen Haoran dengan ekspresi yang sangat tenang.Di belakang Chen Haoran, berdiri tiga pemuda lain.Mereka semua adalah murid-murid inti dari Tetua biasa.Wajah mereka menunjukkan ekspresi yang serius, namun juga ada sedikit keraguan di mata mereka.Ketika melihat Kael keluar dari paviliun, Chen Haoran tersenyum puas.Senyum yang penuh dengan kepuasan dan juga sedikit ejekan.Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya dengan nada yang mengejek, "Wow, aku pikir kau akan tetap berada di dalam, bersembunyi, seperti sebelumnya. Aku tidak menyangka kau akan keluar."Kael menatap Chen Haoran dengan ekspresi datar. Lalu dengan nada yang sangat langsung, ia bertanya, "Apa yang kau inginkan?"Mendengar pertanyaan yang sangat blak-blakan itu, wajah Chen Haoran seketika berubah dingin.Senyumnya menghilang, digantikan dengan ekspresi yang sangat serius dan penuh dengan kebencian.Ia menatap Kael dengan tatapan yang sangat tajam. Lalu dengan suara yang keras dan tegas, ia berkata







