Share

Identitas yang Terungkap

Author: Mirielle
last update Last Updated: 2026-02-24 12:29:32

Anne menengadah. Tubuh tinggi pria itu berada di depannya, seolah dia sedang membangun garda untuk melindungi Anne. Max merintih kesakitan, terpaksa melepaskan tangan Anne dan memegang tangannya sendiri dengan panik.

“Kau baik-baik saja?” Vivian menaikkan lengan jas Max, kulit yang memerah itu terlihat jelas.

Kemerahan itu adalah bukti jika pria yang tengah berdiri di depan Anne ini mengerahkan tenaga cukup kuat untuk mencengkeram.

“Kau siapa? Apa kau tidak tahu siapa aku dan Max?” pekik Vivian dengan nada menantang.

Pria misterius itu tidak bicara. Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, melap tangan, lalu memberikan sapu tangan bekasnya pada seorang pria yang mungkin adalah asisten pria itu. Setengah berlari, asisten itu bergegas menuju tempat sampah dan membuangnya.

Max merasa tertantang. Jika pria itu melakukannya, artinya dia menjijikkan dan kotor.

“Kau?” Max mengacungkan jari telunjuknya, menunjuk tepat ke wajah pria itu.

Asistennya bergerak cepat setelah kembali, menangkap jemari Max dan sekali lagi meremasnya, membuat Max meringis lebih sakit. Vivian memukul lengan pria itu namun cengkeramannya masih terlalu kuat untuk dilepas.

Dan pria di depan Anne berbalik menatap Anne. “Kau baik-baik saja?”

Anne terkejut. Dia pria yang menjadi pelanggan tetapnya, yang selalu memesan meja di sudut cafenya. Suara pria itu dalam, menenangkan namun berbahaya di saat yang sama. Ekspresinya dingin, sedingin setiap penekanan nada dalam suaranya.

Anne tak terlalu memperhatikan pria ini setiap kali dia mampir ke cafenya.  Tapi belum pernah Anne melihat ekspresi pria itu seperti malam ini. Dia terlihat marah, walau Anne tidak terlalu tahu kemarahan itu karena apa. Anne mengangguk lambat, berusaha melepaskan diri dari rasa penasaran dan kebingungannya sendiri.

“Kau ingin aku melakukan sesuatu padanya?”

Anne mengintip dari balik tubuh pria itu, melihat Max meringis kesakitan. Sebuah senyum teruntai, lalu kepalanya menggeleng. “Tidak perlu. Mereka tidak terlalu penting untuk diladeni.”

“Kau keterlaluan!” teriak Vivian, jemarinya terangkat menuduh Anne. “Kau tahu selama ini Max selalu merindukanmu dan merasa bersalah padamu. Kenapa kau melakukan ini padanya, hah?”

“Merasa bersalah, ya?” Esme bersedekap, nada suaranya jelas sangat mengejek. “Memangnya seluas apa kota ini sehingga dia tidak bisa menemukan Anne? Dia tidak menggunakan internet? Dia tidak punya uang untuk menyewa orang mencari Anne? Oh, please, tuan puteri. Jangan membuat dirimu makin terlihat konyol!”

“Sudahlah,” gumam Anne sambil menunjuk jam tangannya.

Esme mengerti. Summer tidak bisa ditinggal terlalu lama di rumah, jadi dia mengangguk. Anne menatap pria di hadapannya sekali lagi. Ketika pandangan mereka bertemu, ada kelebat rasa yang tak bisa diungkapkan Anne, namun dia secepat kilat menepisnya.

“Maaf mengganggu waktumu,” ujar Anne. “Kau bisa melepas mereka. Dan ... aku akan kembali bersama temanku. Sekali lagi, terimakasih sudah menolongku. Kalau kau berkenan, datanglah ke cafe besok. Aku akan mentraktirmu.”

Pria itu memberi kode. Asistennya melepas tangan Max, dan keduanya buru-buru berlalu dari tempat itu. Anne melambaikan tangan, tersenyum sebagai ungkapan terimakasihnya. Pria itu masih berdiri di sana cukup lama, terlalu lama untuk mengamati Anne yang berjalan lebih jauh menuju parkiran.

“Kau mengenalnya, Tuan?”

Pria itu menggeleng. “Tapi bukankah dia cukup menarik?”

Asistennya mencoba menatap Anne dan Esme, lalu berpikir sejenak. “Bukankah salah satunya adalah pemilik cafe yang selalu kau datangi?”

Pria itu tersenyum tipis tanpa menghiraukan tatapan mencurigakan dari asistennya.

*

Max diam-diam menyelidiki Anne. Pertemuan terakhir mereka membuat pria itu cemburu bukan main. Max yakin sekali jika pria yang muncul secara tiba-tiba itu bukanlah kebetulan, melainkan kenalan Anne.

“Apa dia pria yang menggantikanku?” Max berpikir gelisah di ruangannya.

Walau sudah berpisah sejak delapan tahun lalu, walau dirinya sudah bertunangan dengan Vivian, namun Max tidak bisa berbohong jika dia masih mencintai Anne. Apalagi saat melihatnya terakhir kali, Anne rupanya tumbuh menjadi sangat menawan.

Dia cantik, bahkan jauh lebih cantik dibandingkan saat mereka masih sekolah menengah. Max tidak bisa melupakan rasa yang dia dapatkan saat meniduri Anne pertama kali, sebuah sensasi yang tidak dia rasakan dari wanita mana pun yang dia tiduri selama ini.

Perasaan marah berkecamuk di dalam dadanya, kecemburuan memuncak semakin besar ketika dia tiba-tiba saja berimajinasi jika Anne dan pria itu berada di ranjang yang sama.

“Sial. Anne hanya boleh menjadi milikku,” gumamnya marah.

Max melonggarkan dasinya. Dia menengok ke arah pintu saat asistennya mengetuk dan melangkah masuk.

“Apa yang kau dapatkan tentang dia?”

Asistennya meletakkan tab di atas meja, tatapannya sedikit kaku. “Tuan, aku rasa kau akan terkejut mengetahui semua ini.”

Max menatap potret seorang anak perempuan yang sedang bermain di halaman taman kanak-kanak. Max menaikkan alis, berusaha menebak. “Dia ... puteri Anne dengan pria sialan itu?”

Asistennya menggeleng. “Tidak, Tuan. Dia ... puterimu dengan Nona Anne!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Imajinasi Gila

    Minggu demi minggu berlalu bagai bayang-bayang kematian yang mengejar. Anne terus berjibaku menyembunyikan Summer agar Max tidak bertemu dengan puteri kecilnya itu. Namun Max sungguh-sungguh. Pada akhirnya, momen yang paling ditakuti Anne malah muncul saat dia baru saja membawa pulang Summer dari rumah sakit.Di depan halaman rumah sakit, Max mencegatnya, bersama beberapa orang pria yang selalu dibawanya bak pengawal pribadi.“Sampai kapan kau akan menutupi keberadaan Summer dariku?” senggak Max.Anne menyembunyikan Summer di balik tubuhnya. Walau dia gugup dan tak tahu harus bagaimana, Anne tetap berusaha tenang. Dia tersenyum simpul, menatap Max tanpa ragu.“Memangnya apa arti Summer bagimu?”“Kau ...”“Kau memintaku menggugurkan dia delapan tahun lalu. Apa kau lupa?”Max menelan ludah, napasnya memburu cepat. Benar. Dia memang melakukannya. Tapi semua itu karena terpaksa. Bagaimana mungkin dia bisa melepaskan masa depan yang sudah dirancangnya hanya untuk sebuah kesalahan?“Kenapa

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Obsesi

    “Nyonya Anne, syukurlah anda sudah datang!”Anne buru-buru masuk lewat pintu belakang yang disediakan oleh pihak sekolah Summer. Kepala sekolah secara khusus menghubungi Anne, ketika dia melihat beberapa pria berusaha menghampiri Summer.“Terimkasih sudah menjaga puteriku.” Anne memeluk Summer yang sepertinya tidak terlalu tahu apa pun.“Sudah menjadi kewajiban kami, Nyonya!”Anne melangkah ke dekat jendela. Dia menyibak tirai sedikit, tampak Max dan beberapa orang pria berdiri di luar gerbang sekolah. Rahangnya mengetat. Apa yang dikatakan Esme bukanlah sebuah wacana.Max rupanya sudah mengambil langkah terlalu cepat, lebih cepat dari yang dia duga.“Aku akan membawa Summer,” ujar Anne, menatap kepala sekolah dengan tulus. “Dan aku rasa Summer mungkin tidak akan masuk selama beberapa hari ini.”“Tidak masalah, Nyonya. Katakan pada kami kapan Summer siap untuk kembali belajar!”Anne membawa Summer dari pintu belakang, meninggalkan sekolah dengan perasaan marah dan was-was. Dia meremeh

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Identitas yang Terungkap

    Anne menengadah. Tubuh tinggi pria itu berada di depannya, seolah dia sedang membangun garda untuk melindungi Anne. Max merintih kesakitan, terpaksa melepaskan tangan Anne dan memegang tangannya sendiri dengan panik.“Kau baik-baik saja?” Vivian menaikkan lengan jas Max, kulit yang memerah itu terlihat jelas.Kemerahan itu adalah bukti jika pria yang tengah berdiri di depan Anne ini mengerahkan tenaga cukup kuat untuk mencengkeram.“Kau siapa? Apa kau tidak tahu siapa aku dan Max?” pekik Vivian dengan nada menantang.Pria misterius itu tidak bicara. Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, melap tangan, lalu memberikan sapu tangan bekasnya pada seorang pria yang mungkin adalah asisten pria itu. Setengah berlari, asisten itu bergegas menuju tempat sampah dan membuangnya.Max merasa tertantang. Jika pria itu melakukannya, artinya dia menjijikkan dan kotor.“Kau?” Max mengacungkan jari telunjuknya, menunjuk tepat ke wajah pria itu.Asistennya bergerak cepat setelah kembali, menangk

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Pria Misterius

    Suara itu terdengar familiar ditengah suara musik memecah telinganya. Anne mengangkat wajah, menemukan sosok yang tak asing baginya. Max berdiri di sampingnya, menggunakan topi dan masker penutup wajah.Tubuh pria itu terlihat lebih matang dan lebih padat dari terakhir kali dia bertemu dengannya. Dulu, tubuh Max tidak terlalu atletis. Otot dan punggung itu belum terlalu terbentuk. Sekarang, Max menjelma menjadi lebih memukau dan tentu saja, tampan!Tapi dia tetaplah pria menjijikkan yang membuat kehidupan Anne hancur.Anne mengalihkan pandangannya. Rasa sakit menjalar dari jantungnya, terus berjalan mengikuti aliran darah hingga memenuhi seluruh tubuhnya. Dia tidak mau bertemu Max. Sudah terlalu dalam luka yang ditorehkan pria itu, dan Anne tidak mau terlibat apa pun lagi dengannya.“Kau datang dengan siapa?”Anne diam kembali. Dia menyesap cairan di gelasnya, lalu berdiri. Tangan Max meraihnya, berusaha menahan diri Anne saat dia hendak meninggalkan tempat itu. Mengetahui ada yang sa

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Pertemuan Kembali

    Delapan tahun kemudian ....Tubuh ringan Anne berjalan hilir mudik melayani pembeli yang semakin malam semakin memadati cafe kecil miliknya. Senyum ramah selalu terpancar walau dia sebenarnya sangat lelah. Akhir pekan seperti ini, suasana cafe memang jauh lebih ramai karena akan ada lebih banyak orang yang bersantai.“Seperti biasa."Seorang pria bertubuh tegap dan tinggi mengetuk meja. Pria itu adalah pelanggan tetap cafe Anne sejak dibuka. Dia selalu memesan meja di sudut, dan nyaris tak pernah absen sekali pun hingga saat ini."Baik," sahut Anne tersenyum.Bagi Anne, dari semua pelanggannya, pria inilah yang paling misterius. Tak pernah terlalu banyak bicara, memesan minuman yang sama selama bertahun-tahun, hingga tip yang selalu diletakkan di bawah gelas.Dan dia akan pergi begitu saja tanpa ucapan apa pun."Tolong berikan aku sendok lagi. Maaf, aku menjatuhkan sendok ku," ujar pelanggan lain.“Mom, biar aku saja.”Summer, gadis kecil itu dengan cepat turun dari kursinya, setengah

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Diusir dari Rumah

    Anne berlutut di lantai seperti seorang pesakitan, sementara tiga orang di hadapannya duduk dengan sorot mata tajam dan ekspresi kaku penuh amarah. Mario berdiri, lalu duduk, berdiri lagi, berjalan beberapa langkah, sebelum akhirnya mendaratkan tamparan di wajah Anne.Plak!Plak!Plak!Tamparan itu bolak balik, di pipi kanan dan kiri Anne sebanyak tiga kali, datang tanpa aba-aba, tanpa pernah disangka. Suara kerasnya memecah di udara, menciptakan sensasi panas yang menjalar hingga ke dada Anne. Kepala Anne terlempar ke samping, rambutnya yang digerai lepas ikut berayun.Telinga Anne ikut berdengung. Udara seakan ikut tersedot habis dari ruangan itu.“Astaga.” Mary berseru untuk kesekian kalinya. “Sungguh dosa yang amat besar. Sangat memalukan!”“Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?” pekik Mario, jari telunjuk itu tepat jatuh ke wajah Anne yang menunduk.Mario kembali melangkah gelisah, lalu berhenti tepat di depan Anne.“Kau memang aib. Bahkan kau tak tahu diri. Sudah bukan darah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status