Share

Pria Misterius

Author: Mirielle
last update Last Updated: 2026-01-20 00:53:30

Suara itu terdengar familiar ditengah suara musik memecah telinganya. Anne mengangkat wajah, menemukan sosok yang tak asing baginya. Max berdiri di sampingnya, menggunakan topi dan masker penutup wajah.

Tubuh pria itu terlihat lebih matang dan lebih padat dari terakhir kali dia bertemu dengannya. Dulu, tubuh Max tidak terlalu atletis. Otot dan punggung itu belum terlalu terbentuk. Sekarang, Max menjelma menjadi lebih memukau dan tentu saja, tampan!

Tapi dia tetaplah pria menjijikkan yang membuat kehidupan Anne hancur.

Anne mengalihkan pandangannya. Rasa sakit menjalar dari jantungnya, terus berjalan mengikuti aliran darah hingga memenuhi seluruh tubuhnya. Dia tidak mau bertemu Max. Sudah terlalu dalam luka yang ditorehkan pria itu, dan Anne tidak mau terlibat apa pun lagi dengannya.

“Kau datang dengan siapa?”

Anne diam kembali. Dia menyesap cairan di gelasnya, lalu berdiri. Tangan Max meraihnya, berusaha menahan diri Anne saat dia hendak meninggalkan tempat itu. Mengetahui ada yang salah, Esme dengan cepat melepas tangan Max sebelum dia akhirnya menyadari pria itu.

“Kau?”

“Aku tidak enak badan. Bagaimana kalau kita kembali saja?” potong Anne.

Esme mengangguk. Dia setengah menyeret tangan Anne, keluar dari kerumunan hingga tiba di ambang pintu. Namun, Max berada tepat di belakang mereka, buru-buru mengejar dan membentangkan tangan di depan keduanya.

“Aku ingin bicara denganmu.” Max terlihat memohon.

Anne mengangkat wajah menatap Max. Anne pikir dia sudah melepaskan semuanya, tapi jelas ada yang tertinggal di dadanya. Sebuah rasa sakit hati yang ternyata tak akan hilang walau tahun demi tahun sudah berlalu.

“Dia tidak akan bicara denganmu, pria sialan!” desis Esme lantang.

“Aku mohon!” Max tidak bergeming. “An, aku harus menyelesaikan semuanya denganmu.”

Kening Anne mengernyit. “Menyelesaikan apa? Semuanya sudah selesai 8 tahun lalu. Kau tahu itu bukan?”

Max mengangguk. “Aku tahu. Tapi aku tidak pernah mengatakan maafku padamu. Aku ... aku ingin meminta maaf dengan tulus.”

Anne berusaha tersenyum, tapi sebuah sensasi perih menyengat dadanya, memaksa genangan bening memenuhi kelopak matanya perlahan-lahan.

“Lalu apa?” Anne kembali bertanya, dengan ketenangan wajah yang dibuat-buat.

“Aku tidak tahu kalau masalah ini membuatmu didepak dari keluarga Roselle. Aku ...”

Esme menaikkan alis, menatap Anne penuh tanda tanya. “Kau ... puteri keluarga Roselle? Kalian ada dua? Maksudku ...”

“Aku memang puteri mereka, tapi sayangnya itu dulu,” sahut Anne enggan.

“Aku bisa mengembalikan posisimu An,” ujar Max, terdengar tulus. “Akan ku katakan semuanya pada Paman dan Bibi.”

Anne tahu selama beberapa tahun, Max dan Vivian selalu bersama. Entah apa yang dikatakan Vivian pada Max sehingga pria itu seolah tidak tahu bagaimana dia keluar dari rumah itu. Sepertinya, Vivian juga memainkan trik pada Max.

“Dan kau akan melepaskan Vivian?”

Max menganga, tak menyangka Anne akan mengajukan pertanyaan itu. Anne menelengkan kepala menatapnya, menyunggingkan senyum mengejek.

“Kau akan kehilangan dukungan dari salah satu keluarga paling berpengaruh di kota ini kalau kau melakukannya. Kau siap?”

“Aku ...”

Max kehilangan kata-kata. Tepat sekali, pikir Anne, sama sekali tidak terkejut. Ketika Max bisa memilih opsi membunuh darah daging mereka karena mengejar kuota kuliah ke luar negeri, maka dia juga tidak akan bisa melepaskan Vivian karena Max membutuhkan aliansi untuk bisnisnya.

Dia hanya pria egois.

“Kau masih sama, Max!”

Anne mendengus, berjalan cepat melewati pria itu. Ketika mencapai ambang pintu, seorang gadis mendorong pintu kaca terlebih dahulu. Gerakannya terukur dan anggun, penuh kharisma, dan Anne tahu siapa dia.

“Oh, hai, Anne. Apa kabar?”

Itu lebih terdengar ke basa-basi. Anne menyingkir saat Vivian hendak memeluknya. Dia tidak dendam atas keadaan ketika dia tidak lagi bisa menikmati kemewahan yang selama ini disediakan padanya. Dia tidak sakit hati terhadap kenyataan jika dia bukan puteri kandung keluarga Roselle.

Hanya saja, semua kebohongan Vivian demi merebut simpati mantan orang tuanya sungguh membuat luka Anne tak kunjung sembuh. Selalu ada rasa sakit yang merasukinya ketika dia ingat Vivian dan semua kata-kata bohong yang diucapkannya 8 tahun lalu.

“Kau? Kenapa kau mendorongku?”

Vivian malah tersungkur ke lantai, padahal jelas sekali Anne tidak menyentuhnya sama sekali. Esme melongo, dia hendak protes sebelum Anne memainkan mata padanya untuk menghentikannya. Max, dengan cepat membantu Vivian berdiri, merapikan gaunnya dan juga helaian rambutnya.

“Kau dimana saja selama delapan tahun ini? Kau tahu bukan, ayah dan ibu merindukanmu!”

Suara itu merengek, nyaris membuat siapa pun yang mendengarnya akan luluh. Tapi Anne malah menanggapinya dengan tawa. Dia melirik Vivian yang pura-pura meringis dan lemah.

Siapa yang coba dibohonginya dengan suara manja itu? Merindukannya? Itu mustahil! Anne bahkan masih ingat betul bagaimana ekspresi Mario dan Mary delapan tahun lalu.

“Kau juga masih sama,” gumamnya mengejek.

“Anne, Vivian tidak salah. Jangan membuatnya terlihat jahat dimata orang. Akulah yang salah,” erang Max seolah dia sedang putus asa.

“Tidak, Max. Aku juga salah. Karena aku, Anne harus tersingkir dari rumah. Dia ... dia pantas membenciku.”

“Tidak sama sekali. Anne tidak menyalahkanmu. Aku yakin dia melakukannya karena dia kesal padaku,” sahut Max lembut.

Vivian menggeleng cepat, menatap Anne dengan wajah murung dibuat-buat.

“Sungguh. Harusnya aku dulu membelanya jika tahu kalau anak yang dikandungnya adalah anakmu. Tapi … tapi lihat apa yang ku lakukan. Aku membawa terlalu banyak beban di pundakku sebagai puteri kandung keluarga Roselle. Aku hanya berniat menjaga kehormatan keluargaku. Siapa yang tahu kalau Anne malah salah paham dan langsung keluar dari rumah, padahal kami sudah sepakat untuk menjaga kehamilannya? Sungguh, Max, aku tak tahu kalau anak itu anak kalian.”

“Sudahlah, itu sudah lewat.” Max menggeleng, tangannya mengelus lembut rambut Vivian. “Lihat. Anne hanya kekanak-kanakan saat itu. Dia pergi atas kemauannya sendiri, bukan karena diusir. Dia hanya sedikit emosional.”

Ah, jadi dia mengatakan aku meninggalkan rumah dengan sukarela, bukan karena diusir dan diminta menandatangani surat pemutusan hubungan kekeluargaan, pikir Anne dalam hati, kepalanya mengangguk-angguk lambat. Pantas saja Max bicara tentang bagaimana mengembalikan posisi Anne ke dalam keluarganya.

Yang bahkan bukan keluarganya sejak awal.

Esme menggeleng pelan seraya berdecak kagum. Sekarang dia sadar betapa bajingannya Max dan betapa manipulatifnya Vivian. Penampilan sempurna keduanya yang sering di lihat di layar televisi dan media sosial benar-benar berbanding terbalik. Pantas saja Anne meninggalkan Max dan tidak mau berhubungan dengan pria itu lagi.

“Mereka benar-benar buruk,” bisik Esme sambil mencibir.

Anne tersenyum, mengangguk membenarkan. “Silahkan lanjutkan percakapan kalian,” ujar Anne kemudian. “Aku sudah cukup muak melihatnya. Aku khawatir, aku mungkin akan muntah jika terlalu lama mendengar obrolan kalian.”

Anne memilih berlalu, ketika Max tiba-tiba meraih pergelangan tangannya hingga membuat Anne meringis.

Dan sebuah tangan kekar lainnya muncul entah dari mana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Imajinasi Gila

    Minggu demi minggu berlalu bagai bayang-bayang kematian yang mengejar. Anne terus berjibaku menyembunyikan Summer agar Max tidak bertemu dengan puteri kecilnya itu. Namun Max sungguh-sungguh. Pada akhirnya, momen yang paling ditakuti Anne malah muncul saat dia baru saja membawa pulang Summer dari rumah sakit.Di depan halaman rumah sakit, Max mencegatnya, bersama beberapa orang pria yang selalu dibawanya bak pengawal pribadi.“Sampai kapan kau akan menutupi keberadaan Summer dariku?” senggak Max.Anne menyembunyikan Summer di balik tubuhnya. Walau dia gugup dan tak tahu harus bagaimana, Anne tetap berusaha tenang. Dia tersenyum simpul, menatap Max tanpa ragu.“Memangnya apa arti Summer bagimu?”“Kau ...”“Kau memintaku menggugurkan dia delapan tahun lalu. Apa kau lupa?”Max menelan ludah, napasnya memburu cepat. Benar. Dia memang melakukannya. Tapi semua itu karena terpaksa. Bagaimana mungkin dia bisa melepaskan masa depan yang sudah dirancangnya hanya untuk sebuah kesalahan?“Kenapa

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Obsesi

    “Nyonya Anne, syukurlah anda sudah datang!”Anne buru-buru masuk lewat pintu belakang yang disediakan oleh pihak sekolah Summer. Kepala sekolah secara khusus menghubungi Anne, ketika dia melihat beberapa pria berusaha menghampiri Summer.“Terimkasih sudah menjaga puteriku.” Anne memeluk Summer yang sepertinya tidak terlalu tahu apa pun.“Sudah menjadi kewajiban kami, Nyonya!”Anne melangkah ke dekat jendela. Dia menyibak tirai sedikit, tampak Max dan beberapa orang pria berdiri di luar gerbang sekolah. Rahangnya mengetat. Apa yang dikatakan Esme bukanlah sebuah wacana.Max rupanya sudah mengambil langkah terlalu cepat, lebih cepat dari yang dia duga.“Aku akan membawa Summer,” ujar Anne, menatap kepala sekolah dengan tulus. “Dan aku rasa Summer mungkin tidak akan masuk selama beberapa hari ini.”“Tidak masalah, Nyonya. Katakan pada kami kapan Summer siap untuk kembali belajar!”Anne membawa Summer dari pintu belakang, meninggalkan sekolah dengan perasaan marah dan was-was. Dia meremeh

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Identitas yang Terungkap

    Anne menengadah. Tubuh tinggi pria itu berada di depannya, seolah dia sedang membangun garda untuk melindungi Anne. Max merintih kesakitan, terpaksa melepaskan tangan Anne dan memegang tangannya sendiri dengan panik.“Kau baik-baik saja?” Vivian menaikkan lengan jas Max, kulit yang memerah itu terlihat jelas.Kemerahan itu adalah bukti jika pria yang tengah berdiri di depan Anne ini mengerahkan tenaga cukup kuat untuk mencengkeram.“Kau siapa? Apa kau tidak tahu siapa aku dan Max?” pekik Vivian dengan nada menantang.Pria misterius itu tidak bicara. Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, melap tangan, lalu memberikan sapu tangan bekasnya pada seorang pria yang mungkin adalah asisten pria itu. Setengah berlari, asisten itu bergegas menuju tempat sampah dan membuangnya.Max merasa tertantang. Jika pria itu melakukannya, artinya dia menjijikkan dan kotor.“Kau?” Max mengacungkan jari telunjuknya, menunjuk tepat ke wajah pria itu.Asistennya bergerak cepat setelah kembali, menangk

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Pria Misterius

    Suara itu terdengar familiar ditengah suara musik memecah telinganya. Anne mengangkat wajah, menemukan sosok yang tak asing baginya. Max berdiri di sampingnya, menggunakan topi dan masker penutup wajah.Tubuh pria itu terlihat lebih matang dan lebih padat dari terakhir kali dia bertemu dengannya. Dulu, tubuh Max tidak terlalu atletis. Otot dan punggung itu belum terlalu terbentuk. Sekarang, Max menjelma menjadi lebih memukau dan tentu saja, tampan!Tapi dia tetaplah pria menjijikkan yang membuat kehidupan Anne hancur.Anne mengalihkan pandangannya. Rasa sakit menjalar dari jantungnya, terus berjalan mengikuti aliran darah hingga memenuhi seluruh tubuhnya. Dia tidak mau bertemu Max. Sudah terlalu dalam luka yang ditorehkan pria itu, dan Anne tidak mau terlibat apa pun lagi dengannya.“Kau datang dengan siapa?”Anne diam kembali. Dia menyesap cairan di gelasnya, lalu berdiri. Tangan Max meraihnya, berusaha menahan diri Anne saat dia hendak meninggalkan tempat itu. Mengetahui ada yang sa

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Pertemuan Kembali

    Delapan tahun kemudian ....Tubuh ringan Anne berjalan hilir mudik melayani pembeli yang semakin malam semakin memadati cafe kecil miliknya. Senyum ramah selalu terpancar walau dia sebenarnya sangat lelah. Akhir pekan seperti ini, suasana cafe memang jauh lebih ramai karena akan ada lebih banyak orang yang bersantai.“Seperti biasa."Seorang pria bertubuh tegap dan tinggi mengetuk meja. Pria itu adalah pelanggan tetap cafe Anne sejak dibuka. Dia selalu memesan meja di sudut, dan nyaris tak pernah absen sekali pun hingga saat ini."Baik," sahut Anne tersenyum.Bagi Anne, dari semua pelanggannya, pria inilah yang paling misterius. Tak pernah terlalu banyak bicara, memesan minuman yang sama selama bertahun-tahun, hingga tip yang selalu diletakkan di bawah gelas.Dan dia akan pergi begitu saja tanpa ucapan apa pun."Tolong berikan aku sendok lagi. Maaf, aku menjatuhkan sendok ku," ujar pelanggan lain.“Mom, biar aku saja.”Summer, gadis kecil itu dengan cepat turun dari kursinya, setengah

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Diusir dari Rumah

    Anne berlutut di lantai seperti seorang pesakitan, sementara tiga orang di hadapannya duduk dengan sorot mata tajam dan ekspresi kaku penuh amarah. Mario berdiri, lalu duduk, berdiri lagi, berjalan beberapa langkah, sebelum akhirnya mendaratkan tamparan di wajah Anne.Plak!Plak!Plak!Tamparan itu bolak balik, di pipi kanan dan kiri Anne sebanyak tiga kali, datang tanpa aba-aba, tanpa pernah disangka. Suara kerasnya memecah di udara, menciptakan sensasi panas yang menjalar hingga ke dada Anne. Kepala Anne terlempar ke samping, rambutnya yang digerai lepas ikut berayun.Telinga Anne ikut berdengung. Udara seakan ikut tersedot habis dari ruangan itu.“Astaga.” Mary berseru untuk kesekian kalinya. “Sungguh dosa yang amat besar. Sangat memalukan!”“Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?” pekik Mario, jari telunjuk itu tepat jatuh ke wajah Anne yang menunduk.Mario kembali melangkah gelisah, lalu berhenti tepat di depan Anne.“Kau memang aib. Bahkan kau tak tahu diri. Sudah bukan darah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status