Share

Pertemuan Kembali

Author: Mirielle
last update Last Updated: 2026-01-20 00:51:06

Delapan tahun kemudian ....

Tubuh ringan Anne berjalan hilir mudik melayani pembeli yang semakin malam semakin memadati cafe kecil miliknya. Senyum ramah selalu terpancar walau dia sebenarnya sangat lelah. Akhir pekan seperti ini, suasana cafe memang jauh lebih ramai karena akan ada lebih banyak orang yang bersantai.

“Seperti biasa."

Seorang pria bertubuh tegap dan tinggi mengetuk meja. Pria itu adalah pelanggan tetap cafe Anne sejak dibuka. Dia selalu memesan meja di sudut, dan nyaris tak pernah absen sekali pun hingga saat ini.

"Baik," sahut Anne tersenyum.

Bagi Anne, dari semua pelanggannya, pria inilah yang paling misterius. Tak pernah terlalu banyak bicara, memesan minuman yang sama selama bertahun-tahun, hingga tip yang selalu diletakkan di bawah gelas.

Dan dia akan pergi begitu saja tanpa ucapan apa pun.

"Tolong berikan aku sendok lagi. Maaf, aku menjatuhkan sendok ku," ujar pelanggan lain.

“Mom, biar aku saja.”

Summer, gadis kecil itu dengan cepat turun dari kursinya, setengah berlari menuju tempat sendok dan berjinjit mengambilnya. Langkahnya gesit walau tubuhnya masih terlalu pendek dibandingkan meja-meja tinggi di sekitarnya.

Anne hanya tersenyum. Dilihatnya gadis kecil itu menyapa para pelanggan lain dengan ekspresi yang lucu dan menggemaskan. Tak ayal, beberapa dari mereka tertawa bahkan sesekali meminta foto dengan Summer.

Dia adalah janin yang urung digugurkan oleh Anne. Ketika dia berada di klinik usai diusir dari keluarga Roselle, Anne baru mengetahui jika jantung Summer sudah berdetak. Suara halus dan konstan itu terdengar nyaring di telinganya, saat dokter mulai meletakkan transduser di perut Anne.

Usia Summer 6 minggu saat itu, dan Anne tidak sanggup harus menggugurkan kandungannya yang jelas sudah bernyawa.

Berjudi dengan kehidupan memang pelik, namun sejauh ini, Anne tidak menyesali keputusannya untuk tidak menggugurkan Summer. Lihat saja betapa lincahnya anak itu. Keramahan dan kepolosannya adalah salah satu daya tarik cafe miliknya.

“Well, sepertinya kau tak butuh karyawan lagi.”

Anne menoleh, ketika seorang gadis seusianya duduk di seberang meja. Anne tersenyum menatap Esme Reyes, sahabat sekaligus sosok yang berjasa dibalik berdirinya cafe Anne. Dia bertemu Esme saat dia hendak melahirkan, namun tidak punya cukup biaya.

Esme saat itu berada di rumah sakit. Hanya sebatas simpati, karena Anne masih muda dan dia sendirian di ruang bersalin. Percakapan beberapa perawat tentang betapa menyedihkannya Anne terdengar ke telinganya.

Itu adalah alasan awal kenapa Esme mau membantu Anne. Namun setelah bertemu dan berbicara selama beberapa kali, Anne menemukan jika dirinya cukup nyaman dengan Esme, dan pertemanan itu berlangsung hingga saat ini.

“Biar ku tebak. Kau diminta kencan buta lagi?”

Esme menghela napas, mengangguk pelan sambil berdecak. “Usiaku baru 27 tahun, tapi orang tuaku menganggapku seperti fosil sehingga aku harus mengikuti kencan buta setiap hari.”

Anne tersenyum, meletakkan segelas kopi di depan Esme. “Itu karena mereka menyayangimu.”

“Mereka mengatur hidupku, An. Kau tak perlu menghiburku seperti itu.”

Anne tertawa kecil, mengisi beberapa sendok yang baru dibersihkannya ke dalam kotaknya.

“Mau minum?”

Anne menoleh lagi. Sambil melap beberapa gelas, dia menyipitkan mata. Minum yang dimaksud Esme tentu saja bukan minum segelas kopi. Dia tahu ke mana arah pembicaraan gadis itu.

“Kapan?”

“Nanti malam. Aku akan menjemputmu.”

“Well, aku harus menunggu Summer tidur lebih dulu.”

Esme diam-diam melirik Anne, lalu bergumam pelan. “Kau tidak mau mencarikan ayah untuk Summer?”

“Dia tidak membutuhkannya,” sahut Anne ringan. “Ada aku. Summer tidak butuh pria mana pun sebagai ayahnya.”

Dan Esme tahu pembicaraan itu tidak bisa dilanjutkan lagi. Anne cukup kuat mempertahankan prinsip. Jika dia mengatakan tidak butuh pria, maka dia memang tidak membutuhkannya.

Malam berjalan cepat. Anne sudah berdiri di bawah apartemen kecil yang disewanya di pinggir kota usai memastikan Summer telah tidur.

“Kau sangat cantik,” puji Esme spontan ketika melihat Anne berdiri dibalut gaun pendek selutut dengan riasan tipis yang tidak terlalu mencolok. “Aku tidak mengerti kenapa kau tidak menikah sampai detik ini.”

Anne tersenyum masam. Dia menatap jalanan selagi Esme mengemudi, lalu angannya terbang sangat jauh. Ketika sedan mewah Esme berhenti di lampu merah, tatapan Anne tertuju pada papan iklan di tepi jalan.

Sosok tegap dan berkharisma itu adalah Max. Mantan kekasihnya yang brengsek itu kini menjelma sebagai salah satu pria muda kaya. Anne sering melihat sosok Max, entah itu di layar televisi, atau majalah, atau iklan-iklan seperti yang sekarang sedang dilihatnya.

“Katanya pria sialan itu akan kembali,” gumam Esme pelan sambil menunjuk ke papan iklan, sedan itu kembali membelah jalanan dengan mulus.

Anne pura-pura tidak mendengar. Tatapannya tetap tertuju ke luar, ke antara gedung-gedung tinggi yang berjejer di pinggiran jalan.

“Dia akan menikah dengan puteri keluarga Roselle, kau sudah tahu?”

Desahan panjang terdengar, bukan sebuah penyesalan atau sikap kalah, namun lebih ke rasa enggan. Anne tersenyum tipis. Dia tahu. Kabar itu ada dimana-mana. Ketika keluarga Max mengumumkan pernikahan, topik hangat itu terpampang setidaknya seminggu lebih di layar kaca.

Anne kenal siapa gadis itu, bahkan lebih dari sebatas tahu dari layar kaca. Masih sangat segar di ingatannya bagaimana dia akhirnya diusir, dan menjadi satu-satunya pewaris kerajaan Roselle usai Anne didepak dari silsilah keluarga, Vivian tampak selalu mencolok.

Esme sama sekali tidak tahu jika Anne dulunya adalah puteri keluarga Roselle, karena Anne tidak pernah mau membuka luka itu.

“Aku tahu!” gumam Anne pada akhirnya. “Aku tidak tertarik.”

“Kau tidak berusaha menghubungi Max?” Pertanyaan itu terdengar penuh kehati-hatian.

Anne menegakkan punggung, menatap Esme tenang. “Tidak. Sejak dia memutuskan untuk menggugurkan anak dalam kandunganku, aku tahu dia tidak akan pernah memprioritaskan aku dalam hidupnya. Dia hanya terobsesi pada pencapaiannya. Dia hanya pria brengsek.”

Esme terlihat menarik napas selagi dia menyetir.

“Tapi kau menanggung semuanya sendirian. Kau melahirkan puteri kalian. Jika Max tahu, dia mungkin akan melakukan sesuatu padamu atau Summer.”

“Dia bisa mencobanya.” Tatapan Anne tajam menembus jalanan gelap.

Esme memilih diam, hingga keduanya tiba di gedung bertingkat lima yang dipenuhi lampu sorot berwarna-warni. Dengungan musik terdengar mengalun cepat mengikuti ritme DJ yang memimpinnya. Lantai dasar sudah dipenuhi oleh lautan manusia, membuat Anne dan Esme sedikit kesulitan untuk mengambil tempat.

“Di sana.” Esme menunjuk.

Anne mengikuti langkah Esme, merangsek pelan melewati ratusan orang yang menari liar mengikuti musik. Masing-masing memesan minuman beralkohol kesukaan mereka, lalu menatap lautan manusia itu dengan seksama.

Ketika Esme sedang sibuk meladeni beberapa pria yang menyapanya, Anne memilih memunggunginya. Dia menatap minuman pekat di gelasnya, kalimat Esme mengusik telinganya.

Bagaimana jika dia melakukan sesuatu pada Summer?

Anne kehilangan dukungan. Dia hanya seorang ibu muda yang bertahan hidup dengan gaji pas-pasan dari cafe yang dikelolanya, sementara Max memiliki semuanya. Jika harus berseteru, tentu saja Max akan menang mutlak. Dia bisa merebut Summer dengan cepat dan tanpa kesulitan.

Dulu, salah satu alasan kenapa Anne mau menyerahkan dirinya pada Max adalah karena dia berharap Max menikahinya. Anne ingin keluar dari rumah keluarga Roselle dengan terhormat.

Namun siapa yang menyangka jika keputusannya justru akan menjatuhkannya ke jurang kehidupan yang paling dalam?

Ludah meluncur di tenggorokan Anne dengan susah payah seiring dengan buliran bening yang tiba-tiba saja meluncur mengikuti suasana hatinya yang buruk. Anne buru-buru menghapus, menenggak whiskie di gelasnya kemudian.

Anne menghela napas panjang. Max tidak boleh tahu soal Summer. Itu adalah puterinya, miliknya. Tidak ada yang bisa merebut Summer darinya.

Ketika dia berusaha menenangkan hati, tiba-tiba dia mendengar suara yang sudah lama tak didengarnya.

“Anne, itu kau?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Imajinasi Gila

    Minggu demi minggu berlalu bagai bayang-bayang kematian yang mengejar. Anne terus berjibaku menyembunyikan Summer agar Max tidak bertemu dengan puteri kecilnya itu. Namun Max sungguh-sungguh. Pada akhirnya, momen yang paling ditakuti Anne malah muncul saat dia baru saja membawa pulang Summer dari rumah sakit.Di depan halaman rumah sakit, Max mencegatnya, bersama beberapa orang pria yang selalu dibawanya bak pengawal pribadi.“Sampai kapan kau akan menutupi keberadaan Summer dariku?” senggak Max.Anne menyembunyikan Summer di balik tubuhnya. Walau dia gugup dan tak tahu harus bagaimana, Anne tetap berusaha tenang. Dia tersenyum simpul, menatap Max tanpa ragu.“Memangnya apa arti Summer bagimu?”“Kau ...”“Kau memintaku menggugurkan dia delapan tahun lalu. Apa kau lupa?”Max menelan ludah, napasnya memburu cepat. Benar. Dia memang melakukannya. Tapi semua itu karena terpaksa. Bagaimana mungkin dia bisa melepaskan masa depan yang sudah dirancangnya hanya untuk sebuah kesalahan?“Kenapa

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Obsesi

    “Nyonya Anne, syukurlah anda sudah datang!”Anne buru-buru masuk lewat pintu belakang yang disediakan oleh pihak sekolah Summer. Kepala sekolah secara khusus menghubungi Anne, ketika dia melihat beberapa pria berusaha menghampiri Summer.“Terimkasih sudah menjaga puteriku.” Anne memeluk Summer yang sepertinya tidak terlalu tahu apa pun.“Sudah menjadi kewajiban kami, Nyonya!”Anne melangkah ke dekat jendela. Dia menyibak tirai sedikit, tampak Max dan beberapa orang pria berdiri di luar gerbang sekolah. Rahangnya mengetat. Apa yang dikatakan Esme bukanlah sebuah wacana.Max rupanya sudah mengambil langkah terlalu cepat, lebih cepat dari yang dia duga.“Aku akan membawa Summer,” ujar Anne, menatap kepala sekolah dengan tulus. “Dan aku rasa Summer mungkin tidak akan masuk selama beberapa hari ini.”“Tidak masalah, Nyonya. Katakan pada kami kapan Summer siap untuk kembali belajar!”Anne membawa Summer dari pintu belakang, meninggalkan sekolah dengan perasaan marah dan was-was. Dia meremeh

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Identitas yang Terungkap

    Anne menengadah. Tubuh tinggi pria itu berada di depannya, seolah dia sedang membangun garda untuk melindungi Anne. Max merintih kesakitan, terpaksa melepaskan tangan Anne dan memegang tangannya sendiri dengan panik.“Kau baik-baik saja?” Vivian menaikkan lengan jas Max, kulit yang memerah itu terlihat jelas.Kemerahan itu adalah bukti jika pria yang tengah berdiri di depan Anne ini mengerahkan tenaga cukup kuat untuk mencengkeram.“Kau siapa? Apa kau tidak tahu siapa aku dan Max?” pekik Vivian dengan nada menantang.Pria misterius itu tidak bicara. Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, melap tangan, lalu memberikan sapu tangan bekasnya pada seorang pria yang mungkin adalah asisten pria itu. Setengah berlari, asisten itu bergegas menuju tempat sampah dan membuangnya.Max merasa tertantang. Jika pria itu melakukannya, artinya dia menjijikkan dan kotor.“Kau?” Max mengacungkan jari telunjuknya, menunjuk tepat ke wajah pria itu.Asistennya bergerak cepat setelah kembali, menangk

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Pria Misterius

    Suara itu terdengar familiar ditengah suara musik memecah telinganya. Anne mengangkat wajah, menemukan sosok yang tak asing baginya. Max berdiri di sampingnya, menggunakan topi dan masker penutup wajah.Tubuh pria itu terlihat lebih matang dan lebih padat dari terakhir kali dia bertemu dengannya. Dulu, tubuh Max tidak terlalu atletis. Otot dan punggung itu belum terlalu terbentuk. Sekarang, Max menjelma menjadi lebih memukau dan tentu saja, tampan!Tapi dia tetaplah pria menjijikkan yang membuat kehidupan Anne hancur.Anne mengalihkan pandangannya. Rasa sakit menjalar dari jantungnya, terus berjalan mengikuti aliran darah hingga memenuhi seluruh tubuhnya. Dia tidak mau bertemu Max. Sudah terlalu dalam luka yang ditorehkan pria itu, dan Anne tidak mau terlibat apa pun lagi dengannya.“Kau datang dengan siapa?”Anne diam kembali. Dia menyesap cairan di gelasnya, lalu berdiri. Tangan Max meraihnya, berusaha menahan diri Anne saat dia hendak meninggalkan tempat itu. Mengetahui ada yang sa

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Pertemuan Kembali

    Delapan tahun kemudian ....Tubuh ringan Anne berjalan hilir mudik melayani pembeli yang semakin malam semakin memadati cafe kecil miliknya. Senyum ramah selalu terpancar walau dia sebenarnya sangat lelah. Akhir pekan seperti ini, suasana cafe memang jauh lebih ramai karena akan ada lebih banyak orang yang bersantai.“Seperti biasa."Seorang pria bertubuh tegap dan tinggi mengetuk meja. Pria itu adalah pelanggan tetap cafe Anne sejak dibuka. Dia selalu memesan meja di sudut, dan nyaris tak pernah absen sekali pun hingga saat ini."Baik," sahut Anne tersenyum.Bagi Anne, dari semua pelanggannya, pria inilah yang paling misterius. Tak pernah terlalu banyak bicara, memesan minuman yang sama selama bertahun-tahun, hingga tip yang selalu diletakkan di bawah gelas.Dan dia akan pergi begitu saja tanpa ucapan apa pun."Tolong berikan aku sendok lagi. Maaf, aku menjatuhkan sendok ku," ujar pelanggan lain.“Mom, biar aku saja.”Summer, gadis kecil itu dengan cepat turun dari kursinya, setengah

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Diusir dari Rumah

    Anne berlutut di lantai seperti seorang pesakitan, sementara tiga orang di hadapannya duduk dengan sorot mata tajam dan ekspresi kaku penuh amarah. Mario berdiri, lalu duduk, berdiri lagi, berjalan beberapa langkah, sebelum akhirnya mendaratkan tamparan di wajah Anne.Plak!Plak!Plak!Tamparan itu bolak balik, di pipi kanan dan kiri Anne sebanyak tiga kali, datang tanpa aba-aba, tanpa pernah disangka. Suara kerasnya memecah di udara, menciptakan sensasi panas yang menjalar hingga ke dada Anne. Kepala Anne terlempar ke samping, rambutnya yang digerai lepas ikut berayun.Telinga Anne ikut berdengung. Udara seakan ikut tersedot habis dari ruangan itu.“Astaga.” Mary berseru untuk kesekian kalinya. “Sungguh dosa yang amat besar. Sangat memalukan!”“Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?” pekik Mario, jari telunjuk itu tepat jatuh ke wajah Anne yang menunduk.Mario kembali melangkah gelisah, lalu berhenti tepat di depan Anne.“Kau memang aib. Bahkan kau tak tahu diri. Sudah bukan darah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status