Masuk“Nyonya Anne, syukurlah anda sudah datang!”
Anne buru-buru masuk lewat pintu belakang yang disediakan oleh pihak sekolah Summer. Kepala sekolah secara khusus menghubungi Anne, ketika dia melihat beberapa pria berusaha menghampiri Summer.
“Terimkasih sudah menjaga puteriku.” Anne memeluk Summer yang sepertinya tidak terlalu tahu apa pun.
“Sudah menjadi kewajiban kami, Nyonya!”
Anne melangkah ke dekat jendela. Dia menyibak tirai sedikit, tampak Max dan beberapa orang pria berdiri di luar gerbang sekolah. Rahangnya mengetat. Apa yang dikatakan Esme bukanlah sebuah wacana.
Max rupanya sudah mengambil langkah terlalu cepat, lebih cepat dari yang dia duga.
“Aku akan membawa Summer,” ujar Anne, menatap kepala sekolah dengan tulus. “Dan aku rasa Summer mungkin tidak akan masuk selama beberapa hari ini.”
“Tidak masalah, Nyonya. Katakan pada kami kapan Summer siap untuk kembali belajar!”
Anne membawa Summer dari pintu belakang, meninggalkan sekolah dengan perasaan marah dan was-was. Dia meremehkan Max. Anne pikir Max tidak akan peduli terhadap keberadaan Summer, karena bagaimana pun juga pria itu dulu berpikir untuk melenyapkan puteri mereka.
Ternyata dia salah. Max mungkin memiliki ide lain terhadap keberadaan Summer, dan Anne tidak akan mengizinkannya terjadi.
“Kita akan kemana, Mom?”
Gadis kecil itu melihat sekelilingnya, sadar ketika Anne membawanya tidak melewati jalanan biasa menuju apartemen kecil mereka di pinggir kota. Anne mengelus rambut Summer, menyunggingkan senyum hangat.
“Kita akan tinggal di rumah Bibi Esme untuk sementara waktu. Kau keberatan?”
“Tentu saja tidak.” Summer tampak semangat. “Aku sudah lama tidak bertemu Bibi Esme.”
Anne menarik napas. Kembali ke rumah bukan pilihan yang tepat saat ini. Jika Max tahu keberadaan Summer, maka dia juga sudah tahu dimana Anne tinggal. Anne hanya tidak mau Max merebut Summer darinya.
Tidak sampai kapan pun.
“Pria itu memang gila!” sungut Esme, ketika Anne tiba dan mengatakan semuanya. “Kalian boleh tinggal di sini sampai situasinya aman.”
Summer sudah tidur siang, ketika Anne dan Esme mengobrol di taman belakang rumah.
“Situasinya tidak akan aman. Aku harus melakukan sesuatu,” gumam Anne pelan, jemarinya sibuk saling bertaut pertanda dia gelisah.
“Kau punya rencana?”
Anne menggeleng. “Tidak ada. Tapi tak akan ku biarkan Max merebut Summer dariku.”
Esme diam sejenak, lalu menatap Anne. “Menurutmu, kenapa Max ingin bertemu Summer? Anggap saja dia sudah tahu kalau Summer itu puteri kalian. Tapi bukankah dia sudah bertunangan dengan saudaramu?”
“Entahlah. Aku juga tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.”
“Apa dia ingin kembali padamu dengan memanfaatkan Summer?”
Anne tertawa sejenak. “Kembali? Tidak mungkin! Tidak ada alasan bagi kami untuk bersatu. Aku sudah terlanjur membencinya.”
***
“Sialan!”
Vivian melempar ponsel yang diserahkan salah satu asisten rumah tangganya hingga benda pintar itu hancur berkeping-keping. Napasnya memburu, raut wajahnya berubah tegang dan sorot matanya tajam.
Tangannya dengan erat mencengkeram sisi sprei. “Kenapa dia melakukannya?”
Asisten rumah tangganya beringsut, tidak berani mengangkat wajah. Vivian berdiri, pundaknya masih naik turun. “Delapan tahun. Aku sudah berusaha memberikan semuanya pada Max selama delapan tahun. Kenapa dia masih belum bisa melupakan gadis sialan itu?” pekiknya lagi.
Dia tertawa, sebuah tawa penuh kegelisahan dan amarah. “Dan mereka sekarang punya puteri?”
Kenyataan itu begitu menghantam. Vivian tidak pernah menyangka, jika selama delapan tahun, ternyata Anne dan Max masih memiliki sesuatu yang bisa menyatukan mereka.
“Aku sudah melakukan semuanya,” kembali Vivian bergumam gelisah. “Kenapa ada anak itu? Kenapa Max mengetahuinya?”
Seharusnya rencananya sudah berjalan dengan baik. Dia bertunangan dengan Max, pria yang sangat dicintainya. Bertahun-tahun dia berharap Max akan meliriknya, hingga delapan tahun lalu, momen emas itu muncul dengan sendirinya.
Anne dan Max mengakhiri hubungannya, dan Vivian memanfaatkan momen itu untuk melenyapkan Anne sepenuhnya. Dia mengikuti Max ke luar negeri, menjadi wanita yang menemani tidur Max, bahkan melayani nafsu pria itu tanpa henti.
Dan semua pencapaiannya seharusnya berhasil ketika pertunangan mereka dikabulkan oleh kedua keluarga. Tapi lihat apa yang dilakukan Anne sekarang padanya.
“Dia akan menggagalkan rencanaku dengan anak itu?” desis Vivian penuh nafsu amarah. “Tidak akan! Aku bisa mengusir Anne dari keluarga Roselle, maka aku juga bisa melenyapkan anak itu dengan sangat mudah!”
Aku adalah Vivian, dan apa yang ku inginkan akan tercapai.
VIVIANVivian berusaha melepas cengkeraman rantai yang mengikat kaki dan kedua tangannya. Bunyi gemerincing terdengar nyaring saat rantai beradu dengan lantai. Dia telah dipindahkan ke ruangan lain yang jauh lebih sempit. Tidak ada jendela di sana, hanya lampu temaram di langit-langit dan sebuah ventilasi kecil yang ukurannya tidak lebih dari dua puluh sentimeter.Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan Vivian langsung menoleh. Ketika melihat siapa yang berdiri di ambang pintu, wajah Vivian seketika berubah.“Asher,” gumamnya. “Lepaskan aku!”Pria itu masuk tanpa tergesa dan pintu tertutup di belakangnya. Dia memehang sebuah alat suntik ditangannya. Melihatnya, wajah Vivian langsung berubah. Dia mundur selangkah.“Apa yang kau lakukan?” Dia menggeleng takut. “Jangan mendekat!”Asher tidak menjawab. Dia berjalan mendekat dengan ekspresi yang begitu tenang hingga justru membuat Vivian semakin ketakutan.“Kau tahu apa yang paling membuatku marah?” tanyanya.Vivian menelan ludah. “A-aku ti
Mia sedang membersihkan boneka Summer dan menyusun kembali ke lemarinya. Gadis itu tertegun melihat susunan boneka itu. Semua boneka itu dibelinya khusus untuk Summer, tapi siapa yang menyangka, belum sempat dia berikan pada Summer, anak itu sudah meninggalkannya.Air mata Mia jatuh tanpa dia sadari. Dia tidak pernah menyimpannya. Boneka-boneka itu dipajang di lemari khusus dalam kamarnya.Hari ini tepat empat bulan Summer pergi. Ada banyak hal yang terjadi dalam hidupnya, dan dia sangat merindukan Summer.“Sudah ku bilang jangan ganggu aku,” sungutnya tanpa melihat saat mendengar pintu kamarnya dibuka, lalu ditutup kembali tak lama setelahnya.Mia duduk, menatap boneka-boneka itu sambil menahan napas. Dia berbalik, namun tubuhnya membentur seseorang. Dia mendongak, matanya membulat.“Asher?”Apa yang dilakukan pria ini di rumah bibinya? Kenapa dia datang lagi? Bukankah waktu itu dia sudah benar-benar mengatakan akan pergi?“Mia.”Suara rendah itu mengingatkan Mia pada masa lalu mereka
Anne mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi rasa sakit langsung menjalar dari hampir seluruh tubuhnya. Wajahnya meringis. Dia kembali ingat bagaimana Marcus menyiksanya seperti sesuatu yang tidak bernyawa.Membayangkan tubuhnya jatuh dari ketinggian berkali-kali membuat Anne memejamkan mata, menahan ngilu dan sakit yang datang menyergap. Ada ketakutan, ada kegelisahan, namun ketika tangan Zion menyentuh pundaknya, kesadaran Anne kembali.“Jangan bergerak.” Zion segera menahannya, suara pria itu terdengar sangat lembut. “Tubuhmu belum sepenuhnya pulih.”Anne menatapnya lama, lalu mengangguk lemah. Kemudian tangannya bergerak mencari sesuatu. Seolah tahu apa yang dia mau, Zion meraih tangan Anne, tetapi wanita itu justru mengulurkan tangannya kepadanya seperti menawarkan bantuan.Zion tersenyum. Dia berdiri, lalu berjalan tertatih menuju sisi ranjang. Setelah efek obat tidur yang disuntikkan padanya hilang, Zion benar-benar tidak tidur sama sekali memikirkan Anne. Hal itu membuat tubuhnya
Hari pertama berlalu, hari kedua menyusul setelahnya. Pada hari ketiga, keadaan Anne masih sama. Dia belum membuka mata sama sekali. Namun, dokter terus mengatakan hal yang sama.“Kondisi vitalnya stabil.”Kalimat sederhana itu menjadi satu-satunya hal yang membuat Asher tetap bertahan di sisi Anne, menunggu dengan sabar sampai Anne kembali sadar. Dia sudah kehilangan selama puluhan tahun, dia tidak keberatan jika akan menunggu beberapa hari lagi.Pagi itu, setelah pemeriksaan rutin, Asher merapikan selimut Anne seperti biasa. Tiba-tiba pintu kamar kembali terbuka. Asher yang sedang menunduk menyelimuti Anne langsung menoleh. Zion berada di sana.Pria itu datang menggunakan kursi roda. Wajahnya masih pucat. Luka tembak yang dideritanya belum sepenuhnya pulih, tetapi dia bersikeras datang begitu kondisinya memungkinkan. Asher menegakkan tubuh, menatapnya tanpa ekspresi.“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Asher dengan nada dingin.Zion tidak menjawab. Dia mengacuhkan Asher sepenuhnya.
Asher kembali duduk usai mencuci bersih noda darah di tangannya. Pria itu terlihat lelah dan wajahnya memelas. Don sudah kembali, dia harus mengurus Zion yang kondisinya juga masih sangat mengkhawatirkan.Pria itu berulang kali melirik ke arah pintu ruangan operasi. Sudah dua jam berlalu sejak lampu indikator merah menyala, namun belum ada tanda-tanda jika dokter akan segera keluar. Dada Asher terasa sangat sesak.“Jangan pergi,” desis Asher sambil memejamkan matanya. “Tuhan, atau siapa pun yang bisa mendengar permohonanku, tolong adikku! Aku tahu kalau aku tidak pernah berdoa seumur hidupku, tapi kali ini, aku mohon. Tolong berikan aku kesempatan bertemu Anne lagi.”Pria itu menyandarkan tubuhnya lemah. Sebuah panggilan mengalihkan sedikit perhatiannya.“Ya?”“Tuan, Marcus mati. Dia merebut pistol salah satu dari kami dan menembak dirinya sendiri.”Asher menegang kaku, lalu membanting ponselnya. Kenapa? Atas dasar apa dia mengambil nyawanya sendiri sebelum dia membayar apa yang dia la
Asher melepaskan Marcus hingga tubuh pria itu kembali jatuh, kemudian dia menoleh kepada Vivian. Wanita itu terkesiap, kakinya membeku di tempat. Tatapan Asher berpindah dari wajah Vivian menuju Anne yang terbaring tidak sadarkan diri."Kau!"Vivian mundur, dia menggeleng. "Tuan … dengarkan aku. Ini bukan seperti yang kau pikirkan.""Aku tidak peduli.""Tunggu, aku bisa menjelaskan.""Kau boleh menjelaskan nanti."Asher menunjuk salah satu anak buahnya."Jangan biarkan mereka keluar."Dua orang anak buah Asher langsung maju dan menjaga pintu. Asher berjongkok di sisi Anne, mengangkat tubuhnya dengan hati-hati. Berbeda dengan sikapnya terhadap Marcus, setiap gerakannya saat menyentuh Anne begitu lembut.Dia menatap wajah pucat itu, mengelusnya pelan seolah wajah Anne adalah kertas rapuh yang jika disentuh akan hancur."Maaf aku terlambat," bisiknya. Asher mengeratkan pelukannya. Dia menunduk, kening mereka saling bersentuhan. "Jangan berani meninggalkanku. Kau sudah melakukannya sekali.
Bau antiseptik menusuk samar, bercampur dengan suara langkah sepatu dan dengung alat medis yang konstan. Don berdiri dengan satu tangan di saku celana, rahangnya mengeras, menunggu seseorang yang seharusnya sudah keluar dari ruangan itu sejak setengah jam yang lalu.Akhirnya, seorang dokter pria ke
Esme tak mengerti harus mengatakan apa saat mendengar apa yang dikatatkan Anne. Jujur saja, dia sedikit kaget saat mendengar Anne justru curiga pada Zion. Sejauh yang dia kenal, Zion pria yang jujur dan bertanggung jawab. Entah apa yang membuat Anne ingin mengupas masa lalu pria itu.“Ini gila kan?
Zion berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya dan mengunci pintu rapat-rapat. Pria itu duduk di kursi dengan wajah memerah. Lama dia diam, hingga air mata itu menetes satu per satu. Keheningan dan ketenangan ruangan itu menyembunyikan tangisan Zion. Pria itu memegang kepalanya dengan kedua tangan, m
Kali ini, perubahan itu justru dialami oleh Zion. Wajahnya mendadak merah, lalu memucat. Rahangnya terlihat mengeras walau tangan yang diletakkan di atas meja tetap tenang. Anne menatap Zion, merasa bersalah, lalu menggeleng cepat.“Maaf. Aku tahu ini semua salah. Maafkan aku.”“Kau tahu nama itu d







