Share

Diusir dari Rumah

Author: Mirielle
last update Last Updated: 2026-01-20 00:48:52

Anne berlutut di lantai seperti seorang pesakitan, sementara tiga orang di hadapannya duduk dengan sorot mata tajam dan ekspresi kaku penuh amarah. Mario berdiri, lalu duduk, berdiri lagi, berjalan beberapa langkah, sebelum akhirnya mendaratkan tamparan di wajah Anne.

Plak!

Plak!

Plak!

Tamparan itu bolak balik, di pipi kanan dan kiri Anne sebanyak tiga kali, datang tanpa aba-aba, tanpa pernah disangka. Suara kerasnya memecah di udara, menciptakan sensasi panas yang menjalar hingga ke dada Anne. Kepala Anne terlempar ke samping, rambutnya yang digerai lepas ikut berayun.

Telinga Anne ikut berdengung. Udara seakan ikut tersedot habis dari ruangan itu.

“Astaga.” Mary berseru untuk kesekian kalinya. “Sungguh dosa yang amat besar. Sangat memalukan!”

“Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?” pekik Mario, jari telunjuk itu tepat jatuh ke wajah Anne yang menunduk.

Mario kembali melangkah gelisah, lalu berhenti tepat di depan Anne.

“Kau memang aib. Bahkan kau tak tahu diri. Sudah bukan darah keluarga Roselle, masih berani juga kau bertingkah liar di luar sana? Sampai hamil?”

Suara itu memekik, membuat tubuh Anne makin meringkuk.

“Maafkan aku, Dad ...”

“Dad? Masih sanggup kau memanggilku Dad setelah kau dihamili oleh pria di luar sana?”

“Aku tidak bermaksud ...”

“Tidak bermaksud apa? Kau mau mengatakan kalau kau diperkosa dan dipaksa melayani para pria itu?”

Anne menggeleng, air matanya jatuh satu-satu.

“Kau pikir kami mau menampung mu di sini untuk mempermalukan keluarga? Apa kau tak tahu malu? Identitasmu tidak jelas, orang tuamu tidak tahu entah di mana. Perlukan kau ku ingatkan lagi soal itu?”

Anne menggeleng lagi lebih cepat. “Tidak. Maafkan aku, Dad,” isaknya.

“Bukankah sudah ku bilang kau harus hati-hati?” gumam Vivian lirih, seolah penuh simpati atas apa yang kini dialami Anne, tapi jelas dia sedang menyiram lukanya. “Kau selalu menganggapku sainganmu, bahkan terhadap pria.”

Tangan Anne mengepal di balik celana jeansnya. Omongan Vivian akan menciptakan lebih besar luapan emosi. Lalu dia mendengar tawa mengejek dari mulut Vivian.

“Dad, Mom. Sudah ku katakan berulang kali. Suatu saat dia akan mempermalukan keluarga ini, tapi kalian memilih menampungnya. Lihat sekarang apa yang terjadi!”

“Gadis sialan!” Mario menghempaskan tubuh kembali ke sofa, pundaknya masih naik turun akibat kemarahan yang tak terkendali.

“Lalu apa sekarang?” Mary menatap Mario. “Tidak mungkin kita membiarkan masalah ini begitu saja. Kehamilan bukan sesuatu yang gampang ditutupi. Bahkan jika kita menguncinya selama 9 bulan di rumah, tetap saja dia akan melahirkan bayi. Bagaimana dengan bayinya nanti?”

“Apa lagi?” gumam Mario, tatapannya tajam pada Anne. “Usir saja dia dari rumah ini. Untuk apa berpikir jauh sampai membuat dia melahirkan?”

Anne mengangkat wajah, air mata itu jatuh semakin berderai. Dia beringsut dengan kedua lututnya, memegang kedua kaki Mario seraya memohon.

“Dad, tolong jangan usir aku. A-aku akan menggugurkan anak ini. Aku juga akan bekerja lebih giat di rumah. Hanya saja tolong jangan usir aku.”

“Kau pikir dengan begitu aibmu akan terkubur? Kau tahu betapa berbahayanya kabar ini terhadap harga diri keluarga Roselle?” Vivian mendorong Anne dengan kakinya. “Kau memang egois. Hanya mementingkan dirimu tanpa pernah memikirkan keluarga ini.”

Mario menarik napas, kepalanya mengangguk setuju.

“Vivian benar. Kau tidak boleh ada di rumah ini, tidak boleh menggunakan nama Roselle di belakang namamu. Aku tidak mau suatu saat kenalan dan juga kerabat tahu jika kau, gadis yang diasuh oleh keluarga ini sejak bayi, pernah mengandung dan melakukan aborsi.”

“Tapi Dad ...”

“Enyahlah!” Vivian berdiri. “Kalau kau mau menggugurkan anak itu, gugurkan setelah kau tanda tangani surat ini.”

Dia berjalan menuju meja tak jauh dari mereka. Dari dalam laci dia mengambil secarik kertas berisi surat pemutusan hubungan keluarga dengan Anne, dan Anne tidak boleh menggunakan nama Roselle lagi sepanjang hidupnya.

“Setelah kau tanda tangani surat ini, apa pun yang kau lakukan di luar sana tidak ada hubungannya dengan keluargaku. Entah kau bermain dengan lebih banyak pria, entah kau hamil dan menggugurkan lebih banyak janin, kami tidak peduli. Setidaknya, kelakuan tak bermoral mu tidak akan berpengaruh pada keluargaku.”

“Benar. Vivian benar.” Mary ikut menimpali. “Astaga, terimakasih sudah menjaga keluarga ini, Nak. Kau memang mewarisi darah keluarga Roselle yang terhormat dan punya harga diri.”

“Ide yang brilian.” Mario ikut setuju. “Tanda tangani sekarang juga.”

Anne masih menatap Mario dan Mary, berharap mereka mengurungkan niat. Namun ketegasan yang terpancar di wajah mereka sudah cukup menjadi jawaban.

Anne harus keluar dari rumah.

Malam itu juga.

Dengan jemari gemetar, Anne menandatangani surat itu, menandai kehidupannya yang baru, yang entah bagaimana akhirnya.

“Hari ini juga, kau resmi bukan bagian dari keluarga Roselle,” ujar Mario, mengambil kembali kertas yang ditandatangani Anne dan menyerahkannya pada Vivian.

Mary menghela napas. “Kemasi barang-barangmu sekarang juga. Jangan pernah meninggalkan satu benda pun yang bisa mengingatkan rumah ini dengan keberadaanmu. Kau tak layak.”

Vivian mendekat, menunduk dan berbisik pelan di telinga Anne sambil memamerkan kertas di tangannya.

“Sudah ku bilang. Suatu hari nanti, aku sendiri yang akan membuatmu diusir dari rumah ini.”

Senyum licik itu terasa menusuk Anne. Namun dia memilih diam, berdiri dengan kaku, lalu kembali ke kamar untuk mengambil beberapa barang yang bahkan tidak bisa memenuhi ransel sekolahnya.

Tanpa mengucapkan apa pun, Anne berjalan lurus menuju pintu, mencoba mengabaikan tawa yang kini terdengar begitu harmonis dan kompak. Dia menatap ke belakang sekali lagi, menatap orang tua yang dulu pernah menjadi orang tuanya.

Salah satu pelayan mengantarnya, menyelipkan beberapa lembar uang di saku Anne tanpa mengucapkan apa pun. Hanya helaan napas pelayan itu yang menunjukkan jika dia kasihan pada Anne tanpa bisa berbuat apa pun untuk membantunya.

Anne berdiri di depan rumah berlantai tiga itu, mendongak ke atas, ke ruangan yang dulu adalah kamarnya.

Dia tersenyum pahit.

Lalu perlahan mundur.

Hingga berbalik meninggalkan tempat itu tanpa arah yang pasti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Imajinasi Gila

    Minggu demi minggu berlalu bagai bayang-bayang kematian yang mengejar. Anne terus berjibaku menyembunyikan Summer agar Max tidak bertemu dengan puteri kecilnya itu. Namun Max sungguh-sungguh. Pada akhirnya, momen yang paling ditakuti Anne malah muncul saat dia baru saja membawa pulang Summer dari rumah sakit.Di depan halaman rumah sakit, Max mencegatnya, bersama beberapa orang pria yang selalu dibawanya bak pengawal pribadi.“Sampai kapan kau akan menutupi keberadaan Summer dariku?” senggak Max.Anne menyembunyikan Summer di balik tubuhnya. Walau dia gugup dan tak tahu harus bagaimana, Anne tetap berusaha tenang. Dia tersenyum simpul, menatap Max tanpa ragu.“Memangnya apa arti Summer bagimu?”“Kau ...”“Kau memintaku menggugurkan dia delapan tahun lalu. Apa kau lupa?”Max menelan ludah, napasnya memburu cepat. Benar. Dia memang melakukannya. Tapi semua itu karena terpaksa. Bagaimana mungkin dia bisa melepaskan masa depan yang sudah dirancangnya hanya untuk sebuah kesalahan?“Kenapa

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Obsesi

    “Nyonya Anne, syukurlah anda sudah datang!”Anne buru-buru masuk lewat pintu belakang yang disediakan oleh pihak sekolah Summer. Kepala sekolah secara khusus menghubungi Anne, ketika dia melihat beberapa pria berusaha menghampiri Summer.“Terimkasih sudah menjaga puteriku.” Anne memeluk Summer yang sepertinya tidak terlalu tahu apa pun.“Sudah menjadi kewajiban kami, Nyonya!”Anne melangkah ke dekat jendela. Dia menyibak tirai sedikit, tampak Max dan beberapa orang pria berdiri di luar gerbang sekolah. Rahangnya mengetat. Apa yang dikatakan Esme bukanlah sebuah wacana.Max rupanya sudah mengambil langkah terlalu cepat, lebih cepat dari yang dia duga.“Aku akan membawa Summer,” ujar Anne, menatap kepala sekolah dengan tulus. “Dan aku rasa Summer mungkin tidak akan masuk selama beberapa hari ini.”“Tidak masalah, Nyonya. Katakan pada kami kapan Summer siap untuk kembali belajar!”Anne membawa Summer dari pintu belakang, meninggalkan sekolah dengan perasaan marah dan was-was. Dia meremeh

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Identitas yang Terungkap

    Anne menengadah. Tubuh tinggi pria itu berada di depannya, seolah dia sedang membangun garda untuk melindungi Anne. Max merintih kesakitan, terpaksa melepaskan tangan Anne dan memegang tangannya sendiri dengan panik.“Kau baik-baik saja?” Vivian menaikkan lengan jas Max, kulit yang memerah itu terlihat jelas.Kemerahan itu adalah bukti jika pria yang tengah berdiri di depan Anne ini mengerahkan tenaga cukup kuat untuk mencengkeram.“Kau siapa? Apa kau tidak tahu siapa aku dan Max?” pekik Vivian dengan nada menantang.Pria misterius itu tidak bicara. Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, melap tangan, lalu memberikan sapu tangan bekasnya pada seorang pria yang mungkin adalah asisten pria itu. Setengah berlari, asisten itu bergegas menuju tempat sampah dan membuangnya.Max merasa tertantang. Jika pria itu melakukannya, artinya dia menjijikkan dan kotor.“Kau?” Max mengacungkan jari telunjuknya, menunjuk tepat ke wajah pria itu.Asistennya bergerak cepat setelah kembali, menangk

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Pria Misterius

    Suara itu terdengar familiar ditengah suara musik memecah telinganya. Anne mengangkat wajah, menemukan sosok yang tak asing baginya. Max berdiri di sampingnya, menggunakan topi dan masker penutup wajah.Tubuh pria itu terlihat lebih matang dan lebih padat dari terakhir kali dia bertemu dengannya. Dulu, tubuh Max tidak terlalu atletis. Otot dan punggung itu belum terlalu terbentuk. Sekarang, Max menjelma menjadi lebih memukau dan tentu saja, tampan!Tapi dia tetaplah pria menjijikkan yang membuat kehidupan Anne hancur.Anne mengalihkan pandangannya. Rasa sakit menjalar dari jantungnya, terus berjalan mengikuti aliran darah hingga memenuhi seluruh tubuhnya. Dia tidak mau bertemu Max. Sudah terlalu dalam luka yang ditorehkan pria itu, dan Anne tidak mau terlibat apa pun lagi dengannya.“Kau datang dengan siapa?”Anne diam kembali. Dia menyesap cairan di gelasnya, lalu berdiri. Tangan Max meraihnya, berusaha menahan diri Anne saat dia hendak meninggalkan tempat itu. Mengetahui ada yang sa

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Pertemuan Kembali

    Delapan tahun kemudian ....Tubuh ringan Anne berjalan hilir mudik melayani pembeli yang semakin malam semakin memadati cafe kecil miliknya. Senyum ramah selalu terpancar walau dia sebenarnya sangat lelah. Akhir pekan seperti ini, suasana cafe memang jauh lebih ramai karena akan ada lebih banyak orang yang bersantai.“Seperti biasa."Seorang pria bertubuh tegap dan tinggi mengetuk meja. Pria itu adalah pelanggan tetap cafe Anne sejak dibuka. Dia selalu memesan meja di sudut, dan nyaris tak pernah absen sekali pun hingga saat ini."Baik," sahut Anne tersenyum.Bagi Anne, dari semua pelanggannya, pria inilah yang paling misterius. Tak pernah terlalu banyak bicara, memesan minuman yang sama selama bertahun-tahun, hingga tip yang selalu diletakkan di bawah gelas.Dan dia akan pergi begitu saja tanpa ucapan apa pun."Tolong berikan aku sendok lagi. Maaf, aku menjatuhkan sendok ku," ujar pelanggan lain.“Mom, biar aku saja.”Summer, gadis kecil itu dengan cepat turun dari kursinya, setengah

  • Nikah Kontrak, Diam-Diam sang Penguasa Mencintaiku   Diusir dari Rumah

    Anne berlutut di lantai seperti seorang pesakitan, sementara tiga orang di hadapannya duduk dengan sorot mata tajam dan ekspresi kaku penuh amarah. Mario berdiri, lalu duduk, berdiri lagi, berjalan beberapa langkah, sebelum akhirnya mendaratkan tamparan di wajah Anne.Plak!Plak!Plak!Tamparan itu bolak balik, di pipi kanan dan kiri Anne sebanyak tiga kali, datang tanpa aba-aba, tanpa pernah disangka. Suara kerasnya memecah di udara, menciptakan sensasi panas yang menjalar hingga ke dada Anne. Kepala Anne terlempar ke samping, rambutnya yang digerai lepas ikut berayun.Telinga Anne ikut berdengung. Udara seakan ikut tersedot habis dari ruangan itu.“Astaga.” Mary berseru untuk kesekian kalinya. “Sungguh dosa yang amat besar. Sangat memalukan!”“Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?” pekik Mario, jari telunjuk itu tepat jatuh ke wajah Anne yang menunduk.Mario kembali melangkah gelisah, lalu berhenti tepat di depan Anne.“Kau memang aib. Bahkan kau tak tahu diri. Sudah bukan darah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status