LOGINAnne berdiri cukup lama di gerbang masuk rumah keluarga Roselle yang menjulang hampir dua meter. Jemarinya gemetar, bukan hanya karena kata-kata Max yang terus berulang di kepalanya seperti gema kutukan, tetapi juga karena satu hal lain yang jauh lebih menakutkan.
Kehamilan itu. Tak seorang pun di rumah ini boleh tahu. Jika mereka tahu, Anne bahkan tak berani membayangkan apa yang akan terjadi. Ia harus menyembunyikannya dulu, setidaknya sampai ia menemukan cara untuk bertahan. Anne menelan ludah, berusaha menenangkan napas sebelum mendorong pintu. Sejak tiga empat tahun lalu, sejak kebenaran bahwa dirinya bukan putri kandung keluarga itu terungkap, rumah ini tak lagi terasa seperti rumah. Anne dan putri kandung keluarga Roselle, Vivian Roselle, tertukar di rumah sakit secara tidak sengaja. Lalu, sejak saat itu, semuanya berubah. Panggilan hangat ‘An’ atau ‘puteriku’ menghilang, berganti menjadi ‘hei!’ atau bentakan pendek penuh perintah. Kamar tidurnya dipindahkan ke lantai bawah, berjejer dengan kamar pelayan, hanya berisi satu dipan kecil. Jadwal makannya digeser, tak boleh duduk di meja utama, dan hanya boleh makan setelah keluarga utama selesai. Setelah menghela napas dan menyiapkan diri, Anne melangkah masuk. Di ruang tamu, orang tuanya dan Vivian duduk bersama. Mereka tampak hangat, seperti keluarga yang utuh. Ekspresi Mary Roselle langsung berubah kaku saat melihat Anne. “Dari mana saja kau, hah? Kau lihat jam dinding itu? Pukul berapa sekarang?” Padahal baru pukul tujuh lewat sedikit. Tapi nada Mary seolah Anne baru pulang tengah malam. “Maaf, Mom. Aku bertemu teman tadi sebentar,” sahut Anne sopan, berusaha menahan gemetar sekaligus memastikan tasnya tetap tertutup rapat. “Teman atau teman?” Vivian yang duduk di sofa sambil meniup kuku-kukunya yang baru dicat menyahut dengan nada mengejek. “Memangnya kau punya teman?” Anne menelan ludah, memilih diam. Sejak Vivian kembali ke keluarga ini, Anne tak pernah lupa diingatkan tentang posisinya. Setiap hari selalu ada cara baru yang dilakukan Vivian untuk membuatnya merasa seperti penghuni ilegal yang sewaktu-waktu bisa diusir. Vivian selalu mengoceh tentang keberuntungan Anne karena masih ditampung di keluarga Roselle alih-alih didepak ke jalanan. “Kau tidak dengar pertanyaan Vivian? Teman yang mana?” suara Mario Roselle terdengar dari balik koran yang dibacanya. Anne menggenggam ujung kemejanya. “Setahuku kau tak memiliki teman di sekolah. Apa kau mencari teman pria di luar sana?” ejek Vivian lagi. Anne menggeleng cepat. Tubuhnya mulai gemetar bingung. “Lantas kenapa tidak kau jawab? Teman yang mana? Siapa?” Mario menggebrak meja hingga koran jatuh ke lantai marmer. Anne tersentak. “Ha-hanya teman biasa, Dad.” “Oh, aku tahu.” Vivian berdiri, berjalan mengitari Anne perlahan seolah sedang menilai barang cacat. “Pria yang menghabiskan satu malam yang panjang denganmu di ruangan laboratorium kelas sebelum malam kelulusan, bukan? Atau, yang biasa menjemputmu usai pulang sekolah?” Anne membeku. Itu kebohongan lain. Tuduhan yang sengaja dilempar agar ia menerima hukuman malam ini. Vivian tersenyum tipis. “Maaf, aku bercanda. Dad, dia tidak mungkin punya teman pria,” katanya lalu kembali duduk. Kalimat itu terdengar seperti pembelaan, tetapi justru menyulut api di mata Mario. “Katakan siapa dia!” pekik Mario. “Jangan kira karena Vivian selalu melindungimu, kau bisa berbuat seenaknya di luar sana.” Selama ini, satu-satunya tempat Anne merasa aman hanyalah bersama Max. Hanya Max yang pernah membuatnya merasa nyaman. Dan sekarang pun ia kembali ditendang. Anne tak mungkin menyebut namanya. Apalagi mengungkapkan kehamilannya. Ia dan Max berpacaran diam-diam. Tak seorang pun tahu. Vivian juga menyukai Max. Jika tahu Anne berpacaran dengannya, bahkan sampai mengandung anaknya, Vivian bisa menghancurkannya. “Sudahlah!” Mary menghela napas tajam. “Aku benci suasana bising akibat anak tak tahu diri ini. Masih beruntung kau ditampung di keluarga ini. Kalau tidak, saat ini kau pasti berada di jalanan sana sambil mengais sampah. Lain kali, jangan kembali sampai selarut ini. Apa kau mengerti?” Anne mengangguk cepat dan melangkah menuju kamarnya, berusaha menahan tasnya agar tidak terjatuh. Namun, Vivian mengekor. Dia benar-benar tak puas melihat Anne bisa bebas. Tas Anne ditarik dan dilempar ke lantai. Dua tespack meluncur keluar tanpa disadari keduanya. Vivian menarik kerah kemeja Anne dan mendorongnya hingga terhempas ke tempat tidur. “Jangan kira karena orang tuaku memaafkanmu, kau bisa lolos malam ini dariku!” “Apa maumu?” Anne mengerang pilu. “Tidak puaskah kau menyiksaku selama ini? Aku sudah melakukan semua yang kau mau. Bahkan tidak bersaing denganmu di sekolah pun sudah ku turuti. Please, jangan siksa aku terus!” Vivian tertawa dan mundur selangkah. Kakinya menginjak salah satu tespack. Dia langsung menoleh. Matanya menyipit ketika menyadari benda yang diinjaknya. “Tespack?” Vivian meraih benda itu. Tawa ambigu keluar dari bibirnya, seperti menemukan harta karun. “Kau hamil?” “Berikan padaku!” Anne berusaha merebutnya, tetapi Vivian mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia tertawa lagi, lalu keluar kamar dengan langkah cepat. “Daddy! Lihat yang kutemukan di tas Anne!” teriak Vivian melengking ditengah langkah cepatnya. Anne terpaku, tubuhnya gemetar. Tak lama kemudian, pekikan melengking membelah malam dari ruang tamu. “ANNE, KEMARI KAU, SIALAN!”Minggu demi minggu berlalu bagai bayang-bayang kematian yang mengejar. Anne terus berjibaku menyembunyikan Summer agar Max tidak bertemu dengan puteri kecilnya itu. Namun Max sungguh-sungguh. Pada akhirnya, momen yang paling ditakuti Anne malah muncul saat dia baru saja membawa pulang Summer dari rumah sakit.Di depan halaman rumah sakit, Max mencegatnya, bersama beberapa orang pria yang selalu dibawanya bak pengawal pribadi.“Sampai kapan kau akan menutupi keberadaan Summer dariku?” senggak Max.Anne menyembunyikan Summer di balik tubuhnya. Walau dia gugup dan tak tahu harus bagaimana, Anne tetap berusaha tenang. Dia tersenyum simpul, menatap Max tanpa ragu.“Memangnya apa arti Summer bagimu?”“Kau ...”“Kau memintaku menggugurkan dia delapan tahun lalu. Apa kau lupa?”Max menelan ludah, napasnya memburu cepat. Benar. Dia memang melakukannya. Tapi semua itu karena terpaksa. Bagaimana mungkin dia bisa melepaskan masa depan yang sudah dirancangnya hanya untuk sebuah kesalahan?“Kenapa
“Nyonya Anne, syukurlah anda sudah datang!”Anne buru-buru masuk lewat pintu belakang yang disediakan oleh pihak sekolah Summer. Kepala sekolah secara khusus menghubungi Anne, ketika dia melihat beberapa pria berusaha menghampiri Summer.“Terimkasih sudah menjaga puteriku.” Anne memeluk Summer yang sepertinya tidak terlalu tahu apa pun.“Sudah menjadi kewajiban kami, Nyonya!”Anne melangkah ke dekat jendela. Dia menyibak tirai sedikit, tampak Max dan beberapa orang pria berdiri di luar gerbang sekolah. Rahangnya mengetat. Apa yang dikatakan Esme bukanlah sebuah wacana.Max rupanya sudah mengambil langkah terlalu cepat, lebih cepat dari yang dia duga.“Aku akan membawa Summer,” ujar Anne, menatap kepala sekolah dengan tulus. “Dan aku rasa Summer mungkin tidak akan masuk selama beberapa hari ini.”“Tidak masalah, Nyonya. Katakan pada kami kapan Summer siap untuk kembali belajar!”Anne membawa Summer dari pintu belakang, meninggalkan sekolah dengan perasaan marah dan was-was. Dia meremeh
Anne menengadah. Tubuh tinggi pria itu berada di depannya, seolah dia sedang membangun garda untuk melindungi Anne. Max merintih kesakitan, terpaksa melepaskan tangan Anne dan memegang tangannya sendiri dengan panik.“Kau baik-baik saja?” Vivian menaikkan lengan jas Max, kulit yang memerah itu terlihat jelas.Kemerahan itu adalah bukti jika pria yang tengah berdiri di depan Anne ini mengerahkan tenaga cukup kuat untuk mencengkeram.“Kau siapa? Apa kau tidak tahu siapa aku dan Max?” pekik Vivian dengan nada menantang.Pria misterius itu tidak bicara. Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, melap tangan, lalu memberikan sapu tangan bekasnya pada seorang pria yang mungkin adalah asisten pria itu. Setengah berlari, asisten itu bergegas menuju tempat sampah dan membuangnya.Max merasa tertantang. Jika pria itu melakukannya, artinya dia menjijikkan dan kotor.“Kau?” Max mengacungkan jari telunjuknya, menunjuk tepat ke wajah pria itu.Asistennya bergerak cepat setelah kembali, menangk
Suara itu terdengar familiar ditengah suara musik memecah telinganya. Anne mengangkat wajah, menemukan sosok yang tak asing baginya. Max berdiri di sampingnya, menggunakan topi dan masker penutup wajah.Tubuh pria itu terlihat lebih matang dan lebih padat dari terakhir kali dia bertemu dengannya. Dulu, tubuh Max tidak terlalu atletis. Otot dan punggung itu belum terlalu terbentuk. Sekarang, Max menjelma menjadi lebih memukau dan tentu saja, tampan!Tapi dia tetaplah pria menjijikkan yang membuat kehidupan Anne hancur.Anne mengalihkan pandangannya. Rasa sakit menjalar dari jantungnya, terus berjalan mengikuti aliran darah hingga memenuhi seluruh tubuhnya. Dia tidak mau bertemu Max. Sudah terlalu dalam luka yang ditorehkan pria itu, dan Anne tidak mau terlibat apa pun lagi dengannya.“Kau datang dengan siapa?”Anne diam kembali. Dia menyesap cairan di gelasnya, lalu berdiri. Tangan Max meraihnya, berusaha menahan diri Anne saat dia hendak meninggalkan tempat itu. Mengetahui ada yang sa
Delapan tahun kemudian ....Tubuh ringan Anne berjalan hilir mudik melayani pembeli yang semakin malam semakin memadati cafe kecil miliknya. Senyum ramah selalu terpancar walau dia sebenarnya sangat lelah. Akhir pekan seperti ini, suasana cafe memang jauh lebih ramai karena akan ada lebih banyak orang yang bersantai.“Seperti biasa."Seorang pria bertubuh tegap dan tinggi mengetuk meja. Pria itu adalah pelanggan tetap cafe Anne sejak dibuka. Dia selalu memesan meja di sudut, dan nyaris tak pernah absen sekali pun hingga saat ini."Baik," sahut Anne tersenyum.Bagi Anne, dari semua pelanggannya, pria inilah yang paling misterius. Tak pernah terlalu banyak bicara, memesan minuman yang sama selama bertahun-tahun, hingga tip yang selalu diletakkan di bawah gelas.Dan dia akan pergi begitu saja tanpa ucapan apa pun."Tolong berikan aku sendok lagi. Maaf, aku menjatuhkan sendok ku," ujar pelanggan lain.“Mom, biar aku saja.”Summer, gadis kecil itu dengan cepat turun dari kursinya, setengah
Anne berlutut di lantai seperti seorang pesakitan, sementara tiga orang di hadapannya duduk dengan sorot mata tajam dan ekspresi kaku penuh amarah. Mario berdiri, lalu duduk, berdiri lagi, berjalan beberapa langkah, sebelum akhirnya mendaratkan tamparan di wajah Anne.Plak!Plak!Plak!Tamparan itu bolak balik, di pipi kanan dan kiri Anne sebanyak tiga kali, datang tanpa aba-aba, tanpa pernah disangka. Suara kerasnya memecah di udara, menciptakan sensasi panas yang menjalar hingga ke dada Anne. Kepala Anne terlempar ke samping, rambutnya yang digerai lepas ikut berayun.Telinga Anne ikut berdengung. Udara seakan ikut tersedot habis dari ruangan itu.“Astaga.” Mary berseru untuk kesekian kalinya. “Sungguh dosa yang amat besar. Sangat memalukan!”“Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?” pekik Mario, jari telunjuk itu tepat jatuh ke wajah Anne yang menunduk.Mario kembali melangkah gelisah, lalu berhenti tepat di depan Anne.“Kau memang aib. Bahkan kau tak tahu diri. Sudah bukan darah







