Masuk
“Gugurkan saja anak itu. Aku tidak bisa menikahimu!”
Kalimat itu jatuh dengan datar, tanpa ragu, tanpa jeda. Anne Roselle menatap pria di hadapannya seolah sedang menunggu dia tertawa dan berkata itu hanya lelucon. Namun, Max Harold tidak tertawa, tidak juga tampak merasa bersalah. Wajahnya terlalu kaku untuk melemparkan sebuah lelucon. “Kau serius?” suara Anne nyaris berbisik. Max menghela napas panjang, seakan-akan dialah yang sedang menghadapi masalah besar. “Anne, pikirkan semua ini dengan baik. Kau hamil, aku akan kuliah ke luar negeri, dan sekarang kau bicara soal menikah dan bertanggung jawab. Apa kau tidak merasa ini terlalu kebetulan?” Alis Anne berkerut. “Kebetulan apa maksudmu?” Saat ini, mereka memang baru saja lulus dari sekolah menengah. Malam kelulusan itu bahkan baru terjadi beberapa hari yang lalu. Max bersandar santai. “Ya … seolah semuanya terjadi tepat saat aku akan pergi. Aku jadi bertanya-tanya. Ini ... sungguh kecelakaan atau sudah direncanakan?” “Kau menuduhku?” Anne mengernyitkan dahinya. “Aku tidak menuduh.” Max tersenyum tipis. “Aku hanya mencoba berpikir secara logis. Kita harus realistis, An, bukannya malah emosional seperti yang kau lakukan saat ini.” Kedua tespack di atas meja yang diletakkan Anne sejak dia duduk di meja itu terasa seperti bukti yang tiba-tiba saja tidak ada artinya. Jemarinya bertaut gelisah di bawah meja. Bukan seperti ini yang dia inginkan. Tidak. Dia tidak berharap menerima reaksi seperti ini dari orang yang dicintainya selama tiga tahun ini. “Max, aku tidak akan mungkin hamil tanpa ...” “Tanpa apa?” potong Max cepat, seolah sudah tahu apa yang akan Anne ucapkan. “Anne, dunia ini tidak sepolos dan sesempit itu. Kau tak perlu munafik di depanku.” Kalimat itu seperti tamparan yang amat menyakitkan. Anne berusaha tetap tenang, meneguhkan hati demi keputusan yang perlahan disesalinya. “Aku tidak pernah menyentuh pria lain.” Suara gadis itu terdengar rendah, namun penuh ketegasan. “Aku tidak bilang kau melakukannya dengan pria lain.” Max mengangkat bahu, penuh keengganan. “Aku kan hanya bilang kemungkinan itu selalu ada. Jangan sensitif. Jangan memutarbalikkan perkataanku.” Anne menelan ludah, sebuah senyum pura-pura tergambar di wajahnya. “Kau yang memintaku menyerahkan diri,” ungkapnya pelan, kata-kata itu lolos dengan nada sarat ketidakpercayaan. “Sebulan yang lalu. Kau bilang kau mencintaiku. Kau bilang aku milikmu. Kau bilang ... aku harus menyerahkan diri padamu sebagai bentuk rasa cintaku. Aku melakukan semua yang kau minta.” Max tersenyum samar, lalu mengangguk-anggukkan kepala. “Memang. Aku memang mencintaimu. Tapi justru karena itu aku tidak mau hidupmu hancur.” “Hidupku hancur?” “Ya. Bayangkan, kau hamil di usia delapan belas. Tanpa rencana. Usia yang amat sangat muda. Masa depanmu tidak akan jelas.” Suaranya terdengar lembut dengan nada membujuk, bahkan terlalu lembut hingga rasanya dia seolah peduli. “Aku menyelamatkanmu dari sebuah kesalahan besar, Anne.” “Menyelamatkanku? Dengan memintaku menggugurkan anakku?” “Anak itu bahkan belum tentu itu anakku,” koreksi Max cepat dengan suara yang nyaris tak terdengar, namun telinga Anne menangkap satu per satu kata itu dengan sangat jelas. Hening merayap sejenak ketika Anne tidak sanggup menemukan hal apa yang harus dia katakan lagi. Dia sudah kalah sejak awal. Harusnya dia tidak melakukannya. Harusnya dia tidak dengan mudahnya percaya pada Max. “Juga,” Max kembali melanjutkan kalimatnya setelah dia terlihat berpikir selama beberapa detik, “kau tahu, ukuran janinnya juga belum terlalu besar. Prosedur aborsi untuk janin sekecil ini amat cepat. Aku akan menanggung semua biayanya. Setelah itu, kita bisa melanjutkan kehidupan kita seperti biasa. Kau bebas, begitu pula diriku.” “Melanjutkan kehidupan seperti biasa? Kehidupan yang mana?” Anne semakin tak paham dengan arah pikiran Max. “Well, aku kuliah ke luar negeri, dan kau akan melanjutkan kuliahmu juga di sini. Kita bisa saling mencintai tanpa beban. Ini sudah solusi yang paling tepat, rasional, dan juga dewasa.” “Kau yakin itu solusi yang paling tepat?” “Tentu saja.” Max condong sedikit, menatap Anne dengan tajam. “Jangan egois, An. Jangan karena perasaanmu, masa depan kita berdua jadi hancur. Kau tidak menginginkannya, kan?” Egois? Tuduhan itu menusuk jauh lebih dalam dari kalimat mana pun. Anne mengangguk perlahan. Dia tahu apa yang harus dia lakukan usai berbicara panjang dengan Max. “Baiklah,” ungkapnya pada akhirnya. Terlihat kelegaan langsung terpancar di wajah Max. Dia tersenyum cepat. “Nah, begitu. Aku tahu kau pintar. Kau paling mencintaiku di dunia ini dan kau tidak akan mau melihatku menanggung beban ini terlalu cepat.” Anne mengangguk lagi, seolah dia membenarkan. “Ya. Aku akan menggugurkan janin ini.” Ekspresi wajah Max makin berbinar. “Bagus, An. Sekarang, kita bisa ke klinik atau ke rumah sakit. Aku punya beberapa kenalan,” katanya sambil mengutak-atik ponselnya, tidak melihat jika Anne bersiap untuk pergi. “Aku bisa buat janji temu sekarang atau ...” “Hubungan kita selesai!” potong Anne cepat. “Apa?” suara Max tajam, wajahnya terangkat menatap Anne. “Kau bilang apa barusan?” “Sejak kau memintaku menghilangkan nyawa anakku, sejak kau meragukanku, sejak kau menjadikan masa depanmu sebagai alasan untuk membunuh janin dalam perutku, saat itu juga kita selesai.” “Anne, tapi aku ...” “Aku tidak menyangka aku akan mencintai pria sepertimu.” Anne tersenyum mengejek dirinya sendiri. “Rupanya, dulu aku terlalu bodoh untuk memahamimu.” Rahang Max mengeras, dia ikut berdiri. “Kau terlalu dramatis, Anne. Semua yang ku katakan itu hanya alasan yang realistis. Kau tidak perlu sensitif seperti ini. Kalau memang hormonmu sedang ...” “Aku memang mencintai pria yang salah, dan itu kenyataan,” potong Anne cepat. Max menegang, dia meraih tangan Anne ketika gadis itu hendak pergi. “Katakan kau akan menggugurkannya, An. Kau tahu kan, tidak ada seorang pria pun yang menginginkan wanita hamil?” “Aku tak butuh pria untuk semua ini.” Anne melepas tangannya dengan kasar. “Ini tubuhku. Kau dan siapa pun tak berhak mencampurinya. Ini urusanku.” Anne berbalik. Langkahnya tegas keluar dari cafe tempatnya bertemu dengan Max. Namun, ketika dia sudah jauh dari pandangan pria itu, air mata yang sedari tadi ditahannya mendadak luruh. Butiran bening itu jatuh perlahan, semakin deras seiring dengan tatapannya yang semakin kabur. Dia tidak menyangka, pria yang mengatakan cinta padanya setiap hari itu hanyalah seorang pria yang tidak bertanggung jawab. “Pria brengsek!”Minggu demi minggu berlalu bagai bayang-bayang kematian yang mengejar. Anne terus berjibaku menyembunyikan Summer agar Max tidak bertemu dengan puteri kecilnya itu. Namun Max sungguh-sungguh. Pada akhirnya, momen yang paling ditakuti Anne malah muncul saat dia baru saja membawa pulang Summer dari rumah sakit.Di depan halaman rumah sakit, Max mencegatnya, bersama beberapa orang pria yang selalu dibawanya bak pengawal pribadi.“Sampai kapan kau akan menutupi keberadaan Summer dariku?” senggak Max.Anne menyembunyikan Summer di balik tubuhnya. Walau dia gugup dan tak tahu harus bagaimana, Anne tetap berusaha tenang. Dia tersenyum simpul, menatap Max tanpa ragu.“Memangnya apa arti Summer bagimu?”“Kau ...”“Kau memintaku menggugurkan dia delapan tahun lalu. Apa kau lupa?”Max menelan ludah, napasnya memburu cepat. Benar. Dia memang melakukannya. Tapi semua itu karena terpaksa. Bagaimana mungkin dia bisa melepaskan masa depan yang sudah dirancangnya hanya untuk sebuah kesalahan?“Kenapa
“Nyonya Anne, syukurlah anda sudah datang!”Anne buru-buru masuk lewat pintu belakang yang disediakan oleh pihak sekolah Summer. Kepala sekolah secara khusus menghubungi Anne, ketika dia melihat beberapa pria berusaha menghampiri Summer.“Terimkasih sudah menjaga puteriku.” Anne memeluk Summer yang sepertinya tidak terlalu tahu apa pun.“Sudah menjadi kewajiban kami, Nyonya!”Anne melangkah ke dekat jendela. Dia menyibak tirai sedikit, tampak Max dan beberapa orang pria berdiri di luar gerbang sekolah. Rahangnya mengetat. Apa yang dikatakan Esme bukanlah sebuah wacana.Max rupanya sudah mengambil langkah terlalu cepat, lebih cepat dari yang dia duga.“Aku akan membawa Summer,” ujar Anne, menatap kepala sekolah dengan tulus. “Dan aku rasa Summer mungkin tidak akan masuk selama beberapa hari ini.”“Tidak masalah, Nyonya. Katakan pada kami kapan Summer siap untuk kembali belajar!”Anne membawa Summer dari pintu belakang, meninggalkan sekolah dengan perasaan marah dan was-was. Dia meremeh
Anne menengadah. Tubuh tinggi pria itu berada di depannya, seolah dia sedang membangun garda untuk melindungi Anne. Max merintih kesakitan, terpaksa melepaskan tangan Anne dan memegang tangannya sendiri dengan panik.“Kau baik-baik saja?” Vivian menaikkan lengan jas Max, kulit yang memerah itu terlihat jelas.Kemerahan itu adalah bukti jika pria yang tengah berdiri di depan Anne ini mengerahkan tenaga cukup kuat untuk mencengkeram.“Kau siapa? Apa kau tidak tahu siapa aku dan Max?” pekik Vivian dengan nada menantang.Pria misterius itu tidak bicara. Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, melap tangan, lalu memberikan sapu tangan bekasnya pada seorang pria yang mungkin adalah asisten pria itu. Setengah berlari, asisten itu bergegas menuju tempat sampah dan membuangnya.Max merasa tertantang. Jika pria itu melakukannya, artinya dia menjijikkan dan kotor.“Kau?” Max mengacungkan jari telunjuknya, menunjuk tepat ke wajah pria itu.Asistennya bergerak cepat setelah kembali, menangk
Suara itu terdengar familiar ditengah suara musik memecah telinganya. Anne mengangkat wajah, menemukan sosok yang tak asing baginya. Max berdiri di sampingnya, menggunakan topi dan masker penutup wajah.Tubuh pria itu terlihat lebih matang dan lebih padat dari terakhir kali dia bertemu dengannya. Dulu, tubuh Max tidak terlalu atletis. Otot dan punggung itu belum terlalu terbentuk. Sekarang, Max menjelma menjadi lebih memukau dan tentu saja, tampan!Tapi dia tetaplah pria menjijikkan yang membuat kehidupan Anne hancur.Anne mengalihkan pandangannya. Rasa sakit menjalar dari jantungnya, terus berjalan mengikuti aliran darah hingga memenuhi seluruh tubuhnya. Dia tidak mau bertemu Max. Sudah terlalu dalam luka yang ditorehkan pria itu, dan Anne tidak mau terlibat apa pun lagi dengannya.“Kau datang dengan siapa?”Anne diam kembali. Dia menyesap cairan di gelasnya, lalu berdiri. Tangan Max meraihnya, berusaha menahan diri Anne saat dia hendak meninggalkan tempat itu. Mengetahui ada yang sa
Delapan tahun kemudian ....Tubuh ringan Anne berjalan hilir mudik melayani pembeli yang semakin malam semakin memadati cafe kecil miliknya. Senyum ramah selalu terpancar walau dia sebenarnya sangat lelah. Akhir pekan seperti ini, suasana cafe memang jauh lebih ramai karena akan ada lebih banyak orang yang bersantai.“Seperti biasa."Seorang pria bertubuh tegap dan tinggi mengetuk meja. Pria itu adalah pelanggan tetap cafe Anne sejak dibuka. Dia selalu memesan meja di sudut, dan nyaris tak pernah absen sekali pun hingga saat ini."Baik," sahut Anne tersenyum.Bagi Anne, dari semua pelanggannya, pria inilah yang paling misterius. Tak pernah terlalu banyak bicara, memesan minuman yang sama selama bertahun-tahun, hingga tip yang selalu diletakkan di bawah gelas.Dan dia akan pergi begitu saja tanpa ucapan apa pun."Tolong berikan aku sendok lagi. Maaf, aku menjatuhkan sendok ku," ujar pelanggan lain.“Mom, biar aku saja.”Summer, gadis kecil itu dengan cepat turun dari kursinya, setengah
Anne berlutut di lantai seperti seorang pesakitan, sementara tiga orang di hadapannya duduk dengan sorot mata tajam dan ekspresi kaku penuh amarah. Mario berdiri, lalu duduk, berdiri lagi, berjalan beberapa langkah, sebelum akhirnya mendaratkan tamparan di wajah Anne.Plak!Plak!Plak!Tamparan itu bolak balik, di pipi kanan dan kiri Anne sebanyak tiga kali, datang tanpa aba-aba, tanpa pernah disangka. Suara kerasnya memecah di udara, menciptakan sensasi panas yang menjalar hingga ke dada Anne. Kepala Anne terlempar ke samping, rambutnya yang digerai lepas ikut berayun.Telinga Anne ikut berdengung. Udara seakan ikut tersedot habis dari ruangan itu.“Astaga.” Mary berseru untuk kesekian kalinya. “Sungguh dosa yang amat besar. Sangat memalukan!”“Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?” pekik Mario, jari telunjuk itu tepat jatuh ke wajah Anne yang menunduk.Mario kembali melangkah gelisah, lalu berhenti tepat di depan Anne.“Kau memang aib. Bahkan kau tak tahu diri. Sudah bukan darah







