Share

Bab 2. Sandiwara

Author: Nychinta
last update publish date: 2026-07-27 17:18:14

Terlalu terkejut dengan lamaran di hadapannya, Naraya hanya bisa tercengang di tempat dengan mulut ternganga.

Dia mencoba mencari tanda-tanda bahwa pria ini hanya sedang bercanda. Tapi kentara jelas bahwa pria ini serius!

Masalahnya, Naraya sama sekali tidak mengenalnya!

Diamnya Naraya membuat ekspresi cerah pria itu perlahan runtuh, digantikan oleh segelintir kekecewaan. 

“Sayang, kenapa tidak menjawab? Apa kau… menolakku?”

MC restoran yang entah muncul dari mana tampak tertawa untuk mencairkan suasana. “Sepertinya sang nona begitu terkejut sampai tidak bisa bersuara!”

Lalu, tamu lain menambahkan, “Terima sajalah Nona! Kekasihmu begitu tampan, apa lagi yang kau ragukan?!”

Sorakan dan tepuk tangan kembali terdengar.

Naraya semakin bingung. Namun, ketika pria itu meraih tangannya, dia merasakan jemari pria tersebut menekan tangannya pelan.

“Tolong katakan ya,” bisik pria itu tanpa mengubah senyum. “Bantu aku sampai acara ini selesai. Aku akan menjelaskan semuanya nanti.”

Naraya akhirnya paham.

Pria ini sedang memintanya bersandiwara.

Entah perempuan mana yang seharusnya dilamar, tetapi jelas pria itu telah memilihnya untuk menggantikan orang lain. Naraya sebenarnya bisa langsung membongkar kesalahpahaman tersebut. Namun, melihat semua orang menunggu jawabannya, dia tidak tega mempermalukan pria itu di depan seluruh pengunjung restoran.

Lagi pula, setelah semua kekacauan yang terjadi dalam hidupnya hari ini, sandiwara singkat ini terasa seperti hiburan aneh yang dilemparkan takdir kepadanya.

Naraya menarik napas sebelum mengangguk pelan.

“Ya.”

Sorakan langsung memenuhi restoran.

Pria itu mengembuskan napas lega, lalu menyematkan cincin ke jari manis Naraya.

“Kalau begitu, mari kita undang pasangan yang berbahagia ke atas panggung!” seru sang MC.

Sebelum Naraya sempat menolak, pria itu telah menggenggam tangannya dan membawanya menuju panggung kecil di tengah restoran.

“Nona Nikata, bagaimana perasaan Anda saat ini?” tanya sang MC.

Naraya terdiam sejenak.

Nikata?

Jadi, perempuan bernama Nikata itulah yang seharusnya menerima lamaran ini?

Naraya melirik pria yang masih menggenggam tangannya. Pria itu membalas tatapannya dengan senyum manis, seolah mereka benar-benar sepasang kekasih yang sedang berbahagia.

“Itu…” Naraya berusaha mempertahankan senyumnya. “Aku tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata.”

Setidaknya, dia tidak berbohong.

Pagi tadi dia resmi menyandang status sebagai seorang janda. Malam ini dia malah berdiri di atas panggung sambil berpura-pura menerima lamaran pria asing.

Bagaimana mungkin perasaannya dapat digambarkan dengan kata-kata?

Mengikuti arahan MC, Naraya mengambil cincin pasangan dari kotak yang sama, lalu menyematkannya ke jari pria tersebut. Pemandangan itu mengingatkannya pada ritual pernikahan yang pernah dijalaninya tepat dua belas tahun lalu.

Hanya saja, kali ini pria yang berdiri di hadapannya adalah seseorang yang bahkan baru ditemuinya beberapa menit lalu.

“Kami semua bisa melihat bahwa Tuan Kaivan sangat mencintai Anda, Nona Nikata.” Sang MC menoleh kepada pria di sebelah Naraya. “Benar begitu, Tuan Kaivan?”

Kaivan.

Jadi, itu nama pria ini.

“Tentu saja.” Kaivan menatap Naraya tanpa ragu. “Aku sangat mencintainya.”

Detik berikutnya, Kaivan menunduk dan mengecup kening Naraya.

Tubuh Naraya seketika menegang.

Dia menoleh tajam, ingin memprotes tindakan pria itu. Namun, Kaivan justru tersenyum seolah tidak melakukan kesalahan apa pun.

Sialnya, senyuman itu terlihat sangat menawan.

Naraya harus mengakui bahwa pria di sampingnya memang sangat tampan. Garis wajahnya tegas, hidungnya tinggi, dan tatapan tajamnya memberikan kesan dominan yang bertolak belakang dengan usianya yang terlihat jauh lebih muda darinya.

Belum sempat Naraya menjauh, tangan Kaivan sudah melingkari pinggangnya.

Naraya menatapnya tidak percaya.

Bukankah pria ini mulai terlalu menikmati perannya?!

“Wah, terlihat sekali kalau kalian adalah pasangan yang sangat serasi!” ujar sang MC dengan antusias.

Setelah beberapa ucapan selamat, pihak restoran menyerahkan souvenir kepada mereka. Seorang staf kemudian memandu keduanya menuju ruangan lain.

Sepanjang perjalanan, Naraya berulang kali mencoba melepaskan tangan Kaivan dari pinggangnya. Namun, pria itu malah mempererat pelukannya, lalu menundukkan kepala hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga Naraya.

“Nona, Anda sudah setuju membantuku. Jadi, tolong lakukan hingga akhir. Akan kupastikan imbalanmu sepadan.”

Naraya ingin menolak. Akan tetapi, entah mengapa setiap ucapan Kaivan terdengar begitu tegas, seolah tidak memberi ruang baginya untuk membantah. 

Pada akhirnya, ia hanya bisa mengikuti langkah pria itu dalam diam.

Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah ruang makan privat.

Begitu pintu terbuka, langkah Naraya otomatis terhenti.

Dinding kaca memperlihatkan gemerlap lampu Kota Varelis dari ketinggian. Puluhan lilin menyala hangat di setiap sudut ruangan, sementara meja makan di tengah ruangan dihiasi bunga dan peralatan makan yang tertata sempurna.

Semuanya terlihat begitu romantis.

Siapa pun perempuan yang datang ke tempat ini pasti akan merasa sangat dicintai dan dihargai.

Untuk sesaat, Naraya bahkan melupakan kekacauan yang baru saja menghancurkan hidupnya.

Ironisnya, dia bukan perempuan yang seharusnya menikmati semua ini.

Dia hanya orang asing yang kebetulan terseret ke dalam sandiwara romantis milik pria lain.

Pandangannya beralih kepada Kaivan yang sedang berbicara dengan salah seorang staf restoran. Beberapa detik kemudian, pria itu menoleh.

"Nona."

Naraya menghela napas pelan sebelum menghampirinya.

“Ini ada dokumen yang perlu ditandatangani,” kata staf tersebut sambil menyerahkan sebuah map berlogo Skyscraper Restaurant.

Naraya tidak langsung menerimanya. “Dokumen apa?”

“Karena Anda telah menerima lamaran Tuan Kaivan, restoran kami memiliki hadiah khusus untuk pasangan yang melakukan prosesi lamaran di sini.”

Naraya spontan menoleh kepada Kaivan. Namun, pria itu hanya memasang wajah datar, seolah tidak tahu apa-apa.

“Tapi aku hanya .…”

“Silakan dibaca terlebih dahulu,” potong staf itu dengan sopan. “Kami menjamin hadiah ini tidak akan merugikan Tuan maupun Nona.”

Naraya membuka map tersebut. Ada cukup banyak halaman berisi ketentuan program pasangan, data penerima hadiah, dan beberapa poin administrasi lainnya.

Kepalanya yang sejak pagi dipenuhi berbagai masalah membuatnya tidak memiliki tenaga untuk membaca seluruh kalimat kecil di dalamnya. Setelah memastikan dokumen tersebut memakai logo resmi restoran dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan pada bagian awal, Naraya langsung membuka halaman yang telah diberi penanda.

Namun, sebelum membubuhkan tanda tangan, perhatiannya tertuju pada nama yang tercetak di sana.

Nikata Devusha.

Tanpa ragu, Naraya mencoret nama tersebut lalu menulis nama aslinya di atasnya.

Naraya Azzura.

Staf restoran itu tampak terkejut. “Nona, ini…”

“Nama saya sebenarnya Naraya Azzura,” jelasnya sambil tersenyum tipis. “Nikata hanya nama panggung.”

Staf itu menatap Kaivan sejenak, tetapi pria tersebut tidak mengatakan apa pun.

Naraya pun membubuhkan tanda tangannya.

Begitu pena terangkat dari kertas, terdengar embusan napas berat dari sampingnya. Saat Naraya menoleh, Kaivan sedang menatap nama dan tanda tangannya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

“Ada masalah?” tanya Naraya.

Kaivan mengalihkan pandangan. “Tidak.”

Staf restoran segera mengambil kembali map tersebut. Setelah memastikan seluruh dokumen telah lengkap, dia mengucapkan selamat sekali lagi sebelum keluar dari ruangan.

Para pelayan mulai menyajikan hidangan pembuka, kemudian pergi satu per satu.

Kini, hanya Naraya dan Kaivan yang tersisa di dalam ruangan.

Keheningan di antara mereka terasa canggung.

Naraya tidak berniat ikut campur terlalu jauh dalam masalah orang lain. Hidupnya sendiri sudah cukup berantakan tanpa perlu menambah urusan dengan pria asing yang salah melamar perempuan.

Namun, sebelum dia sempat bertanya, Kaivan lebih dulu membuka suara.

“Terima kasih.”

Naraya menghentikan sendok yang hampir masuk ke mulutnya. “Hanya itu?”

Kaivan mengangkat alis.

“Untuk kompensasi yang tadi kujanjikan…” Kaivan mengeluarkan ponselnya. “Berikan nomor rekeningmu. Aku akan mentransfernya sekarang.”

Naraya menatap Kaivan tajam.

“Ucapan pertama yang seharusnya keluar dari mulutmu selain terima kasih adalah permintaan maaf, bukan menawarkan uang!”

Kalimat Naraya sukses membuat tangan Kaivan terdiam.

Naraya menyandarkan tubuh ke kursi, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Lagi pula, Tante tidak membutuhkan uangmu, Nak.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikahi Aku, Nyonya Naraya   Bab 12. Kalian Menikah Saja!

    Naraya terdiam selama beberapa saat. Rasanya nyaris mustahil membayangkan dirinya bisa sedekat ini dengan calon penerus salah satu perusahaan terbesar di negeri ini. Terlebih, pria itu bahkan rela merendahkan diri di hadapan banyak orang dan mengaku sedang mengejarnya! Seorang wanita yang baru saja menyandang status janda.Dengan muka sedikit memucat, Naraya berkata dengan sedikit ragu, “Apa… aku baru saja membuatmu menghancurkan reputasimu sendiri di depan banyak orang…?”Kaivan terdiam sesaat, sedikit terkejut dengan kalimat wanita tersebut. Kemudian, dia mengalihkan pandangan ke depan dan berkata, “Tidak perlu memikirkannya sampai seperti itu.”Naraya menatapnya serius. “Kaivan, kamu mungkin menganggapnya sepele. Tapi… kalau orang penting sepertimu mengaku sedang

  • Nikahi Aku, Nyonya Naraya   Bab 11. Latar Belakang Kaivan

    “Bukan begitu!” Naraya spontan menyahut. Namun, setelah menyadari suaranya sedikit terlalu keras, dia segera memalingkan wajah. “Aku hanya tidak ingin urusanku membuat orang lain terkena masalah.”Sudut bibir Kaivan terangkat tipis.“Tidak ada masalah,” jawabnya tenang. “Aku hanya sedang berpikir bahwa mata mantan suamimu sepertinya memang bermasalah.”Naraya langsung menoleh. “Apa?”“Meninggalkanmu demi wanita seperti itu.” Kaivan mengangkat bahu ringan. “Kalau bukan penglihatannya yang bermasalah, mungkin cara berpikirnya.”Naraya menatap pria itu dengan mata sedikit melebar. Dia membutuhkan beberapa detik untuk memahami bahwa Kaivan sedang menyindir Azza—sekaligus memujinya secara tidak langsung.

  • Nikahi Aku, Nyonya Naraya   Bab 10. Mengkhawatirkanku?

    Kinanti tersentak. Namun, alih-alih merasa bersalah, dia justru mengerucutkan bibirnya.“Kenapa malah menyalahkanku? Kalau kontraknya memang belum bisa didapatkan, ya, berarti belum waktunya saja,” gerutunya pelan.Ucapan itu membuat rahang Arsen mengeras. Seolah berbicara lebih lama dengan Kinanti hanya akan semakin menguras kesabarannya, dia memilih mengabaikannya.“Mulai sekarang, kalau tidak memiliki urusan penting, jangan datang ke perusahaan!”Arsen berbalik dan berjalan meninggalkannya.Baru beberapa langkah, Kinanti segera menyusul dan menahan lengannya.“Eh, tunggu dulu! Aku datang ke sini karena memang ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Kakak.”

  • Nikahi Aku, Nyonya Naraya   Bab 9. Permintaan Maaf

    Wanita yang sedang kukejar untuk menjadi calon istriku.Kalimat itu terus terngiang di telinga Kinanti.Wajahnya perlahan berubah kaku. “A-apa?”Tatapannya bergantian antara Naraya dan Kaivan, rasanya bagaimana mungkin seorang pria yang terlihat muda dan bahkan sangat tampan ini mengejar Naraya? Apalagi yang dia ketahui selama ini Naraya nyaris tidak pernah keluar rumah untuk bertemu banyak orang! Kapan dan dimana mereka bisa bertemu?Meski tidak mengetahui siapa Kaivan sebenarnya, Kinanti bisa menebak bahwa pria itu bukan orang sembarangan. Kaivan berdiri sejajar dengan Arsen, dan sikap penuh hormat yang ditunjukkan sepupunya sudah cukup untuk menjelaskan betapa penting kedudukan pria tersebut.Rasa panas perlahan m

  • Nikahi Aku, Nyonya Naraya   Bab 8. Wanita yang Kukejar

    Empat orang pria baru saja keluar dari salah satu lift khusus di ujung lobi. Dua orang berjalan beberapa langkah di belakang sambil membawa tablet dan sejumlah dokumen. Sementara dua lainnya berjalan berdampingan di depan.Naraya langsung mengenali salah satunya.Kaivan.Pemuda itu mengenakan setelan hitam dengan kemeja berwarna senada. Dari tatapannya, tidak ada lagi kesan santai seperti saat mereka bertemu semalam. Wajahnya tampak dingin dan serius, membuat orang-orang di sekitar tanpa sadar memberikan jalan.Di sampingnya berjalan seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun yang mengenakan setelan abu-abu.Melihat keduanya, beberapa karyawan segera memberi salam.“Sela

  • Nikahi Aku, Nyonya Naraya   Bab 7. Bertemu Seseorang

    ‘Mungkin dia eksekutif perusahaan ini?’ Naraya menautkan alis, tampak ragu. ‘Tapi rasanya terlalu muda… apa jangan-jangan dia anak konglomerat?’ tebak Naraya dengan alis tertaut. ‘CEO muda?’Tapi kemudian, dia menggelengkan kepala. “Naraya, jangan kebanyakan menghayal!” teriaknya dalam hati.Namun, jika saja itu benar, hal tersebut tidak ada hubungan dengannya. Toh setelah pertemuan ini, tugasnya sudah selesai.Di tengah perdebatan dengan dirinya, sang sopir yang sejak tadi tampak sedang menghubungi seseorang melalui pesan ponsel berkata, “Nona, Tuan Kaivan masih berada di ruang rapat dan mungkin akan selesai sekitar dua puluh menit lagi. Nona ingin menunggu di mobil atau di lobi?”Ditanya seperti itu, Naraya menoleh lagi ke arah dalam lobi gedung. Di saat itu, dia melihat sebuah toko roti di dalam lobby gedung. Merasa sedikit lapar karena belum sempat sarapan pagi tadi, Naraya pun berkata, “Tolong beri tahu Kaivan untuk menjemputku di toko roti itu kalau dia sudah selesai.”Sesaat, s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status