Home / Rumah Tangga / Nikahi Mamaku, Om! / Pindah ke Rumah Rentenir

Share

Pindah ke Rumah Rentenir

Author: Jamilah
last update publish date: 2024-03-15 06:22:18

“Kamu yakin cuma ini?”

Satu tas berukuran tidak terlalu besar yang Wilona bawa setelah mengemasi barang-barang, membuat dahi Arshaka mengerut. Untuk orang yang akan pindahan, bukankah bawaannya terlalu sedikit?

“Aku sudah membawa semua yang kami butuhkan,” ucap Wilona, “kenapa? Kamu berharap aku juga membawa perabotan ke rumahmu?”

Pertanyaan tidak masuk akal barusan membuat Arshaka terdiam. Tak mau berdebat, pria ini hanya mengangguk sekenanya. “Ya sudah. Bawa barang-barangmu ke mobil.”

Jika bukan karena kemampuan memasak Wilona, sepertinya akan lebih mudah bagi Arshaka untuk melenyapkan wanita itu. Sayang sekali, ia tidak ingin keuntungan sekecil apapun hilang begitu saja.

“Jalan, Pras.”

Mesin mobil yang langsung dinyalakan menandakan kepatuhan dari Pras. Dengan kecepatan sedang, ia membawa mobil membelah jalanan yang perlahan menggelap.

Di kursi belakang, Wilona banyak diam. Pandangan dialihkan ke luar jendela, sedangkan sisi yang lain ia gunakan untuk menyangga tubuh Arjuna. Apakah ini keputusan yang tepat? Akal sehatnya hampir berhenti bekerja setelah rangkaian kemalangan yang terjadi.

Mata wanita itu terpejam cukup lama. Jika ada yang harus disalahkan dengan nasib buruk ini, itu adalah mantan suaminya. Ya, pria brengsek itu!

Kemudian setelah melalui perdebatan panjang dengan ego dan keadaan, di sinilah akhirnya Wilona berada. Berdiri di sebuah rumah mewah beserta sisi penuh dengan penjaga.

Bibir yang menganga menandakan betapa terkejutnya wanita ini menjumpai rumah yang ukurannya puluhan kali lipat dari tempat tinggal miliknya. Sekarang ia benar-benar meratapi dirinya sebagai orang tak punya.

“Rumahmu sudah sebesar ini tapi kau masih menagih hutang dari orang-orang kecil seperti kami?” gumam Wilona dengan pandangan sama sekali tak dialihkan.

Arshaka menyeringai.  “Justru karena kalian aku bisa membangun rumah sebesar ini.”

Sontak Wilona menoleh, matanya menyipit tidak terima. “Lintah tetaplah lintah. Kalian hanya mengenyangkan perut sendiri.”

“Apa kau yakin berbicara seperti itu?”

Dahi Wilona mengerut. “Kenapa?”

Namun Arshaka malah menggeleng. “Tidak ada, lupakan saja. Sekarang kita masuk, kau perlu memasak untukku.”

Meski kesal, Wilona hanya bisa mengiyakan. Tetapi sebelum itu wanita ini berbalik. “Sebentar. Aku akan memindahkan Arjuna.”

Belum sempat wanita itu kembali ke mobil, Arshaka sudah lebih dulu menghentikan. “Biar Pras yang mengurus itu. Aku juga sudah menyuruh orang di rumah untuk menyiapkan kamar kalian,” ucapnya. Lalu ia berbalik pada Pras dan berkata, “Pindahkan anak itu ke kamar mereka.”

Tak banyak kata Pras langsung mengangguk menuruti perintah Arshaka.

Pemandangan baru itu membuat mata Wilona membola. Sejak Arjuna lahir, ia tidak ingat apakah mantan suaminya pernah menggendong anak itu. Tetapi sekarang, lihat. Putranya dipindahkan oleh pria asing yang baru mereka temui beberapa kali.

Bolehkah ia menerima kemudahan ini begitu saja?

“Apakah aku tidak boleh menemani Arjuna tidur?” tanya Wilona.

Sayangnya jawaban sudah jelas, Arshaka menggeleng. “Tidak sebelum kau membuat perutku kenyang.”

Merasa tak berdaya, pada akhirnya Wilona mengiyakan semua perkataan Arshaka. Helaan napas malas yang berkali-kali keluar tidak menghentikannya untuk melangkah menuju dapur.

“Jadi kau ingin aku memasak apa?” tanya Wilona sembari membuka lemari pendingin.

Arshaka yang sudah duduk di meja makan menjawab, “Bebas. Masak saja makanan yang menurutmu aku akan menyukainya.”

Mendengar jawab tak jelas itu, membuat Wilona menyesal telah bertanya. “Yah, setidaknya aku tidak bingung karena bahan-bahan di sini cukup lengkap. Orang kaya memang beda,” ucapnya pelan tapi masih terdengar.

Tak mau membuang waktu, Wilona segera mengeksekusi bahan-bahan yang sudah disiapkan. Ia hanya mengambil untuk satu porsi, tapi ketika daging sedang dipotong, ia tiba-tiba teringat satu hal.

Pisau segera berhenti, Wilona mengangkat wajah menatap Arshaka. “Tunggu, apa aku perlu memasak untuk orang-orang di sini juga?”

Arshaka menggeleng. “Tidak perlu.”

“Lalu kau akan makan sendiri dan membiarkan mereka hanya melihatmu makan?”

“Oh, bukan begitu. Aku sudah menyediakan juru masak sendiri untuk mereka. Jadi kau hanya boleh memasak untukku. Kecuali kalau kau dan anakmu mau ikut makan, kau bisa membuatnya menjadi tiga porsi.”

Wilona terdiam sebentar, tapi setelah dua detik, ia memutuskan untuk tidak peduli dan melanjutkan memasak. Lagipula semua orang di sini sudah dewasa, ia tidak perlu terlalu khawatir dengan makanan mereka.

Keadaan di dapur perlahan menjadi hening. Hanya ada suara gesekan dari wajan dan sudip, atau kepulan asap yang menuai aroma sedap. Wilona terlihat begitu fokus di depan perapian.

Sedangkan di tepi meja makan, Arshaka hampir tak berkedip menatap wanita yang bisa dipastikan kini beraroma bawang. Entah apa yang menarik, Wilona atau masakannya.

Saking fokusnya dengan pemilik rumah makan itu, Arshaka sampai tidak sadar jika anak buahnya sedari tadi menatap tak kalah heran. Bahkan beberapa di antara mereka terkejut dengan bibir menganga lebar.

“Kau percaya dengan penyihir di dunia ini?” bisik salah satu pria kekar yang berdiri di sudut pintu.

Rekan di sampingnya menoleh. “Apa maksudmu?”

“Lihat bos kita, tidak ada yang bisa membuatnya terpaku seperti itu jika bukan penyihir.”

“Jadi maksudmu wanita yang bos bawa adalah seorang penyihir?”

Pria yang sama mengangguk yakin. Padahal jika dilihat, obrolan seperti itu sangat tidak cocok dengan postur dan tampilan mereka.

Hingga tiba-tiba Pras yang berada tak jauh dari sana menyela, “Jaga bicara kalian.”

“Kau tau sesuatu, Pras?”

Pras menggeleng kecil. “Tidak selain wanita itu punya hutang besar sama bos.”

Mata mereka membulat sempurna. “Jadi, maksudmu bos sengaja menawan wanita itu di sini?”

Ketika para pria garang di belakang sedang sibuk bergosip, Wilona sudah menyelesaikan masakannya.

Ia menghidangkan beberapa menu di depan Arshaka. Mulai dari daging yang dimasak hingga empuk, sampai sayuran yang terlihat segar dengan aroma sedap tak tertahankan.

“Wah, kau menyelesaikannya dengan sangat cepat,” ucap Arshaka seraya menyiapkan sendok dan garpu.

“Itu karena kamu terus menatap, makanan-makanan ini jadi cepat matang,” timpal Wilona seraya menuang segelas air untuk Arshaka, sepertinya wanita ini terlalu menikmati peran.

Kedua mata Arshaka menyipit. “Apa karena aku begitu tampan?”

Bola mata Wilona berputar. “Karena kau menyeramkan, makanan-makanan ini takut dan cepat matang,” ujarnya sembari meletakkan gelas di samping piring Arshaka.

Mendengar itu, sudut bibir Arshaka terangkat. Wilona sedang mengejeknya, tapi entah kenapa kalimat yang sampai di telinga pria itu terdengar seperti pujian.

Tak terlalu peduli dengan seringai aneh dari Arshaka, Wilona bergegas kembali, melepas celemek lalu berniat pergi. “Sekarang boleh aku menemui Arjuna?”

Arshaka yang hampir memasukkan nasi ke dalam mulut seketika berhenti. “Kau tidak mau makan bersamaku?”

“Tidak perlu. Aku tidak begitu lapar,” balas Wilona.

“Setidaknya tunggu komentar dariku.”

“Kau bisa mengulasnya besok,” ucap Wilona, ia sudah terlalu lelah untuk berdebat.

Tak mau menahan meski ingin, Arshaka akhirnya mengiyakan dan membiarkan Wilona pergi menuju kamar. 

Lalu satu suapan akhirnya ia makan. Begitu lidah menyentuh kekayaan rasa, kedua mata Arshaka melotot lebar. Ia tahu Wilona pandai memasak, tapi tidak menyangka akan seenak ini.

Belum selesai dengan suapan pertama, Arshaka kembali mengambil menu yang lain. Ia makan dengan lahap seperti perut yang sudah menahan lapar dari tiga hari lalu. Di samping itu, senyum puas tak tanggal dari wajah pria ini.

Melihat bagaimana lahapnya Arshaka makan, anak buah di sana semakin merasa heran. Akan tetapi di antara mereka, ada satu yang merasa seperti dikhianati. Yakni pria yang bertanggung jawab memasak di sana setiap hari.

Sadar dengan kesedihan rekannya, pria dengan bekas luka di punggung tangan merangkul. “Tenang saja, masakanmu tetap yang paling enak bagi kami.”

Pras setuju dan menyambung, “Benar. Itu karena bos tidak akan membiarkan kita mencicipi masakan wanita itu.” Setelah mengatakannya, ia menoleh menatap juru masak sebelumnya. “Jadi masakanmu tetap yang paling enak karena hanya itu yang bisa kita makan.”

Sempat merasa lebih baik, pria yang hatinya sedih semakin terluka dengan ucapan Pras. Namun tidak ada yang peduli, karena prinsip mereka harus berbicara apa adanya meski itu berarti melukai.

Kehidupan baru Wilona dengan para pria berbadan kekar itu akhirnya dimulai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikahi Mamaku, Om!   Perasaan yang Tidak Disadari

    Ruang kerja Arshaka biasanya menjadi zona terlarang yang paling sulit dimasuki tanpa alasan genting. Namun pagi itu, Pras sudah hampir satu jam berdiri mematung di sana, memegang setumpuk map dengan wajah menahan lelah.Satu dokumen berpindah. Kemudian dokumen berikutnya.“Bos, ini laporan dari cabang timur. Mereka meminta persetujuan untuk pembukaan gudang baru,” ucap Pras profesional.Di balik meja kerjanya yang luas, Arshaka duduk bersandar. Matanya sama sekali tidak lepas dari layar tablet di tangannya. “Atur saja.”Pras mengangguk patuh. “Baik.” Ia mengambil dokumen berikutnya. “Lalu, ada permintaan dari Grup Sam mengenai pembaruan kontrak kerja sama—”“Atur saja.”Pras menghentikan gerakannya. Ia menatap bosnya dengan dahi berkerut. “Yang ini bernilai triliunan, Bos. Perlu Anda periksa sendiri.”Arshaka hanya mengangkat matanya sekilas, kelewat tak acuh. “Kuserahkan padamu.”Pras menarik napas panjang. “...Baik.”Ia membuka dokumen berikutnya. “Untuk tiga pengutang kelas kakap y

  • Nikahi Mamaku, Om!   Semangkuk Rasa Pedas

    Wilona menghentikan langkahnya tepat di ujung lorong. Ia menunduk menatap Arjuna yang masih menggenggam tangannya."Arjuna, Sayang. Kamu masuk ke kamar duluan, ya? Ganti baju. Mama ada urusan sebentar sama Om," bisik Wilona lembut, sengaja membuat suaranya senormal mungkin.Arjuna mengangguk patuh dan melenggang masuk ke kamarnya.Begitu pintu kamar tertutup, kelembutan di wajah Wilona seketika menguap. Ia memutar tubuhnya, melangkah cepat dengan tumit mengentak lantai, kembali menuju ruang tengah.Arshaka masih duduk di sana, bersandar santai di sofa dengan tablet di pangkuannya.Wilona berhenti tepat di hadapan pria itu, berkacak pinggang. "Bisa ulangi ucapanmu barusan?"Arshaka perlahan mengangkat wajahnya. Matanya menatap Wilona dengan tenang. "Kalau mau pergi, bilang."Dada Wilona naik-turun menahan emosi. "Sejak kapan aku butuh izin darimu jika ingin keluar rumah?"Sudut bibir Arshaka berkedut, membentuk senyum miring yang sangat menyebalkan. "Tahu posisimu, Wilona.""Posisiku?"

  • Nikahi Mamaku, Om!   Tahu Posisimu

    Wilona masih terpaku, menatap pria berkemeja rapi di hadapannya dengan ekspresi tidak percaya.“Samuel?”Pria itu membalas dengan senyum lebar yang hangat. “Masih ingat rupanya?”Wilona terkekeh pelan, rasa terkejutnya perlahan berganti menjadi kelegaan. “Bagaimana mungkin aku lupa?”Samuel adalah salah satu teman masa kuliahnya dulu. Mereka memang bukan sahabat karib yang tak terpisahkan, tetapi cukup sering menghabiskan waktu bersama di sela-sela jadwal kelas dan tugas kelompok.Mata Wilona memindai penampilan pria itu dari atas ke bawah. Rapi. Sangat khas. “Sedang apa kamu di sini?”“Aku sekarang mengajar di SD Pelita,” jawab Samuel bangga.Satu alis Wilona terangkat tinggi. “Sekolah Arjuna?”Samuel mengangguk mantap. “Iya.”“Serius?”“Serius.”Wilona tertawa kecil, menggelengkan kepalanya. “Lalu kenapa seorang guru malah berkeliaran santai di kafe saat jam sekolah masih berlangsung?”Samuel ikut tertawa, suara tawanya renyah dan menenangkan. “Aman. Jadwal mengajarku hari ini baru

  • Nikahi Mamaku, Om!   Ancaman Eleanor

    Suasana di ruang makan perlahan kembali tenang, menyisakan denting pelan peralatan makan yang beradu dengan porselen.Eleanor duduk tegak bak seorang ratu di singgasananya. Tangannya yang mulai dihiasi keriput masih bertumpu anggun pada gagang tongkat hitam di sisi kursinya. Wajah wanita tua itu tampak tenang, tetapi sepasang mata elangnya tidak pernah benar-benar beristirahat dari mengawasi sekitar.Di seberangnya, Arshaka menyantap sarapannya dengan kelewat santai, seolah percakapan tentang pertunangannya barusan hanyalah selingan diskusi cuaca pagi.Namun, Eleanor tidak bisa ditipu. Beberapa menit sebelumnya, tepat saat Wilona berbalik meninggalkan area dapur, mata cucunya itu sempat mengekor ke arah punggung si perempuan. Hanya sepersekian detik. Sangat samar. Tetapi Eleanor melihatnya. Tentu saja ia melihatnya. Tidak ada yang luput dari pandangan Nyonya Besar Gamala.Tok.Eleanor meletakkan garpunya perlahan. Arshaka mengangkat wajah. "Ada apa, Nenek?""Aku dengar kau sedang bers

  • Nikahi Mamaku, Om!   Eleanor Gamala

    Udara di dalam rumah besar itu mendadak terasa kaku.Begitu kabar kedatangan Nyonya Besar menyebar, aktivitas yang semula santai berubah menjadi kepanikan yang terorganisir. Para pelayan bergegas menyejajarkan diri di dekat pintu utama, menunduk dalam diam. Para pengawal yang berjaga di halaman pun serta-merta meluruskan postur mereka, berdiri tegap tanpa berani mengeluarkan suara sekecil apa pun.Sebuah sedan hitam mewah meluncur mulus dan berhenti tepat di depan tangga pualam.Seorang pengawal bergegas membukakan pintu. Dari dalam sana, seorang wanita tua turun perlahan. Rambutnya yang telah sepenuhnya memutih ditata dalam sanggul klasik yang tanpa cela. Pakaiannya tampak sederhana, namun dari potongan dan kainnya, siapa pun tahu harganya tidak masuk akal. Di tangan kanannya, sebuah tongkat kayu hitam bergagang emas berukir digenggam erat—simbol otoritas yang selalu menyertainya.Eleanor Gamala. Nyonya Besar klan Gamala.Sebuah nama yang cukup untuk membuat para petinggi bisnis menu

  • Nikahi Mamaku, Om!   Merebut Kembali Hati Arjuna

    Dini hari merengkuh rumah besar itu dalam keheningan.Hanya pendar kekuningan dari beberapa lampu dinding yang memecah gulita di sepanjang lorong panjang. Aktivitas para pelayan telah lama surut, menyisakan penjaga-penjaga berpakaian gelap yang berdiri tegak di pos masing-masing bak patung batu, berjaga tanpa suara.Kemudian, pintu utama berderit pelan saat didorong terbuka. Arshaka melangkah masuk.Jas hitam yang membalut tubuh jangkungnya masih tampak rapi, meski beberapa lipatan kecil mengkhianati hari yang panjang. Wajahnya sedatar pahatan es, seolah malam penuh ketegangan yang baru saja dilewatinya sama sekali tidak menguras tenaganya.Seorang pelayan paruh baya yang berjaga di dekat pintu segera menghampiri, menunduk hormat. "Selamat datang, Tuan."Arshaka hanya membalas dengan anggukan singkat. Pelayan itu sigap menerima jas yang dilepas Arshaka dengan kedua tangan. Setelah beban di bahunya terangkat, pria itu melonggarkan kancing kerah kemejanya dan menyesuaikan tali jam tanga

  • Nikahi Mamaku, Om!   Jangan Sentuh Apapun

    Jika ada yang lebih cepat dari kedipan mata, itu adalah waktu yang dilalui oleh Wilona. Rasanya baru kemarin mereka menjadi tawanan di rumah rentenir itu, sekarang sudah satu minggu berlalu sejak saat itu.Selain pekerjaannya yang berbeda, kehidupan mereka juga banyak berubah. Salah satunya, ia har

  • Nikahi Mamaku, Om!   Sarapan yang Berisik

    Matahari yang semakin tinggi di luar mengembalikan kesadaran Wilona secara perlahan. Cahaya terang yang menyelinap di balik tirai membuat mata wanita itu mengerjap.Silau dan hangat. Itulah kesan sesaat yang ia rasakan. Sebelum bagian kosong di samping akhirnya menyadarkannya.“Arjuna!” Wilona meme

  • Nikahi Mamaku, Om!   Rumah Disita, Tawaran Tinggal Bersama

    Setelah semalaman bulan menggantung, kini giliran matahari yang perlahan naik ke peraduan. Kedua mata Arshaka mengerjap ketika mendengar alarm yang tak kunjung berhenti dari tadi. Tak perlu menoleh, ia segera meraih benda pipih di atas nakas dan melihat pukul berapa sekarang. Namun saat ia melihat

  • Nikahi Mamaku, Om!   Sihir Masakan Wilona

    Sudah empat hari berlalu sejak malam itu, dan Arshaka masih belum mampir ke tempat Wilona lagi untuk makan malam. “Bukannya aku berharap lintah itu datang. Hanya saja, bukankah akan lebih baik jika dia sering makan dan memotong sisa bunganya?” keluh Wilona di tengah waktu senggang menjaga rumah mak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status