LOGINWilona menarik bantal hotel yang tebal dengan kasar, menenggelamkan seluruh wajahnya di sana. Ia mengerang tertahan, merutuki kebodohan fatal yang baru saja ia lakukan. Rasa malu yang membakar, penyesalan, dan teror ketakutan akan masa depannya kini bercampur aduk menjadi satu. "Gila! Apa yang sudah aku lakukan? Apa aku sudah bosan hidup?!" bisik Wilona dari balik bantal dengan suara bergetar. Bagaimana mungkin ia menyerahkan dirinya begitu saja pada rentenir berdarah dingin itu? Suara gemercik air shower dari arah kamar mandi mendadak menyentak kesadaran Wilona. Detak jantungnya berpacu liar. Insting bertahannya langsung mengambil alih. Ia harus lari sekarang juga. "Aku harus buru-buru pergi dari sini sebelum lintah darat itu keluar," gumam Wilona panik. Dengan gerakan cepat, ia menyibak selimut dan memaksakan diri turun dari ranjang. Namun, tepat saat kedua telapak kakinya menyentuh lantai, rasa sakit yang luar biasa tajam menghantam area bawah tubuhnya. Selangkangannya terasa s
Bibir Arshaka membungkam mulut Wilona dengan brutal. Tidak ada kelembutan di sana, hanya ada dominasi dan rasa lapar yang selama ini ia pendam rapat-rapat. Ciuman itu dalam, menuntut, dan seolah ingin melahap seluruh kewarasan yang tersisa. Dari bibir yang membengkak, bibir Arshaka turun menyapu rahang Wilona, menggigit pelan leher jenjangnya, dan terus turun ke bawah."Nghhh... Arshaka..." Wilona hanya bisa melenguh, jari-jarinya meremas rambut legam pria itu, memohon tanpa kata agar pria itu memberikan lebih.Sadar pakaian basahnya hanya menjadi penghalang, Arshaka menarik diri sejenak. Dengan satu gerakan kasar dan gagah, ia melepas kemejanya yang basah kuyup, membuangnya sembarangan ke lantai marmer. Tubuh atasnya yang atletis terekspos sempurna. Bahu yang lebar, otot perut yang tercetak jelas, dan dada bidang yang naik turun dihiasi sisa-sisa tetesan air.Tanpa aba-aba, Arshaka merengkuh pinggang Wilona, mengangkat wanita itu dan menggendongnya hingga wajah mereka sejajar. Wilon
"Panas... gerah sekali..." igau Wilona dengan napas yang semakin memburu.Tubuh rampingnya menggelinjang gelisah di kursi penumpang. Tangannya yang gemetar mulai menarik-narik kerah bajunya dengan kasar, berusaha membebaskan diri dari pakaian yang tiba-tiba terasa seperti mengurungnya di dalam oven. Obat laknat yang dipaksa masuk oleh Andreas itu kini telah mengambil alih kewarasan Wilona sepenuhnya.Melihat gerakan Wilona yang semakin tak terkendali, Arshaka tersentak. Ekor matanya dengan cepat menangkap pergerakan dari kaca spion tengah dasbor. Sopir dan salah satu anak buahnya di depan tertangkap basah sedang mencoba mencuri pandang.Seketika, tatapan Arshaka berubah tajam dan mematikan. "Fokus ke jalan atau mata kalian berdua aku cungkil detik ini juga!" desisnya dengan nada rendah yang mengancam.Mendengar ancaman langsung dari bos besar Gamala, dua pria berbadan kekar di depan itu langsung kicep. Mereka menelan ludah dengan susah payah, memaku pandangan lurus ke depan seolah-ola
“Bos!” Empat pria langsung menunduk menyambut kedatangan bos mereka.Arshaka melirik sekilas. “Di mana?” tanyanya dengan ekspresi datar, tapi setiap katanya penuh penekanan.“Mereka membawanya masuk.”Tanpa basa-basi, Arshaka langsung berjalan masuk dengan postur tegas. Dada bidang yang tidak sengaja dibusungkan terlihat jelas. Tangan yang mengepal juga menambah kesan garang dari wajah bos besar Grup Gamala –yang paling disegani di kota itu.Melihatnya berjalan mendekati pintu masuk, beberapa lelaki di sana terlihat saling melirik sambil berbisik-bisik. Seakan mempertanyakan kenapa Grup Gamala langsung mengirimkan bos besar mereka.“Aku ingin bertemu dengan bos kalian,” ucap Arshaka sebagai sapaan.Lelaki di depan pintu bergeming. Kebimbangan tampak jelas di wajah mereka.“Bos kalian mengundangku datang. Apa aku perlu menelponnya untuk kalian?”“Maaf. Tapi kami perlu—”“Apa kalian tidak percaya?” Suara Arshaka meninggi, membuat beberapa lelaki yang sedang menghadapinya sedikit mengker
“Mpphh! Mpphh!”Kedua mata Wilona mendelik, selain panik dia juga terkejut dengan kain yang membekap mulut tiba-tiba. Tidak perlu ditanya siapa pelakunya, sudah jelas pria brengsek di belakang –mantan suaminya.Wanita itu melirik ke belakang, mengutuk Randi lewat tatapan. Sayangnya, kalimat ‘sialan kau!’ dan ‘lepaskan aku!’ tidak bisa keluar dengan baik.“Tenanglah, Wilona,” ucap Randi sambil menahan tubuh sang mantan istri yang terus bergerak. “Cuma sekali ini saja, tolong bantu aku, ya.”Bajingan! Persetan dengan suami dan ayah yang baik, Randi benar-benar sudah menjadi iblis sekarang. Siapa orang gila yang akan meminta bantuan sambil membekap mulut orang lain seperti itu?Wilona belum menyerah. Jika dia tidak bisa melepas kain yang menekan mulut dan hidungnya, setidaknya ia bisa berusaha menggerakkan siku untuk menyerang pria keparat itu.Dhuak! Sepertinya berhasil. Wilona bisa merasakan bekapan di mulutnya mengendur sedikit. Jika dia melakukannya berulang, mungkin saja ia bisa mel
Pukul 13.20, ketika Arshaka baru keluar dari salah satu ruangan privat restoran bintang lima, dan menyadari ponselnya bergetar dari tadi.Dia bergegas mengambil benda pipih itu dari dalam saku. Menatapnya sebentar, lalu mengerutkan dahi saat nomor tidak dikenal terlihat memanggil.Tanpa berpikir panjang, Arshaka langsung menggeser layar ke atas, mengangkat panggilan kemudian menunggu pihak lain untuk mengawali.“Halo.” Benar saja, di detik yang sama, suara seorang perempuan terdengar menyapa dengan sopan.“Ya?” timpal Arshaka.“Benar ini dengan salah satu wali siswa bernama Arjuna?”Mendengar itu, dahi Arshaka mengerut. Kebimbangannya menciptakan jeda sebentar. Hingga, seseorang di seberang menyadarinya.“Ah, benar, maafkan saya. Saya adalah guru di sekolah Arjuna. Saya menghubungi Bapak karena Arjuna belum dijemput sampai sekarang dan nomor wali utama tidak bisa dihubungi.”“Maksud Anda, Arjuna masih ada di sekolah?” tanya Arshaka memastikan. Setelah mendapat jawaban iya, pria ini ke







