Home / Rumah Tangga / No Marriage is Perfect / Tidak Pernah Dianggap

Share

Tidak Pernah Dianggap

Author: NonaAquarius
last update Last Updated: 2025-10-28 10:54:48

Anya terkejut mendengar perkataan Felix. Sekarang ini degup jantungnya berdebar kencang. Ini mimpi'kan? Apakah pernyataan cinta Felix tulus? Apakah Anya boleh berharap lagi pada pria itu?

Tatapan tulus Anya menjadi runtuh saat Felix kembali angkat bicara dengan nada sedikit membisik dan meremehkan Anya.

"Kamu tidak mungkin berharap aku mengatakan hal itu, bukan?" tanya pria itu tersenyum menertawakan.

Ini pertama kalinya Anya melihat Felix tersenyum selebar itu. Sepertinya Felix begitu menikmati dirinya merendahkan Anya.

Padahal, Anya sudah berharap pria itu tulus padanya tapi ternyata itu hanyalah salah satu permainan Felix.

"Anda sesenang itu mempermainkan saya? Ternyata, selama ini anda tidak pernah menerima saya sebagai istri." Ini bukanlah pertanyaan, Anya hanya berbicara dan berharap Felix mendengarnya. Untuk meruntuhkan harapan dan rasa cinta Anya, dia perlu melihat sisi Felix yang sangat membencinya. Setidaknya, Anya bisa menghilangkan perasaannya terhadap Felix sedikit demi sedikit.

Wajah Felix mendekati wajah Anya sehingga jarak hidung mereka 10cm. Anya bisa merasakan napas pria itu dan begitupun Felix bisa merasakan napas Anya bahkan Felix tahu rasa gugup wanita itu.

"Benar. Aku senang mempermainkanmu. Wanita sedingin kamu, pantas untuk dipermainkan. Anya Valerie, apa kamu tahu apa yang tidak aku sukai darimu? Kamu wanita murahan di mataku dan caramu menyembunyikan kemunafikan itu membuatku semakin membencimu. Kamu wanita sok suci padahal siapa yang tahu kebenarannya seperti apa. Aku bisa menilai seorang wanita yang suci dan yang tidak. Aku bisa membedakan hal itu. Kamu termasuk wanita murahan bagiku!" bisik Felix tersenyum sinis.

Dada Anya terasa sesak. Segitunya Felix membenci Anya? Ternyata benar, pria itu tidak memiliki rasa sedikitpun kepada Anya.

Air mata Anya terjatuh begitu saja. Dari tadi wanita itu sudah susah payah menahan tapi pada akhirnya dia tidak kuat lagi untuk tidak menangis. Ini pertama kalinya Anya mengeluarkan air mata di hadapan Felix. Kata-kata Felix sungguh menyayat hati, serendah itukah Anya di mata pria itu?

Felix terdiam saat melihat Anya mengeluarkan air mata dengan wajah yang masih datar. Apa wanita itu sungguh menangis? Tapi kenapa tangisannya seperti itu? Biasanya seseorang menangis dengan ekspresi tapi kenapa di Anya hanya air mata yang terjatuh dengan ekspresi datar?

"Jangan ceraikan saya! Tinggal 2 tahun, setidaknya anda bisa menunggu selama 2 tahun. Tidak masalah jika anda tidak pulang kerumah ini, saya tidak masalah jika anda memiliki kekasih diluar sana, saya tidak masalah jika anda tidak menganggap saya sebagai istri tapi setidaknya jangan ceraikan saya sampai kontraknya habis. Saya memulai pernikahan ini dengan perasaan dan keseriusan, saya tidak pernah main-main di pernikahan ini. Tolong jangan ceraikan saya." Perlahan nada bicara Anya menjadi pelan. Wanita yang tadinya menangis dengan ekspresi datar, mulai memperlihatkan wajah sedih dan rasa sakit hatinya.

"Lalu bagaimana denganku? Aku tidak bisa hidup dengan wanita yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Apa kamu pikir aku tidak tahu alasanmu memohon sampai sebegininya? Kamu hanya tidak ingin kehilangan banyak uang karena merasa rugi. Wanita sepertimu hanya memikirkan harta. Benar, 'kan?" tanya Felix dengan nada kesal.

Anya terdiam. Dia tidak tahu pandangan Felix terhadapnya akan separah ini. Ternyata di mata Felix, Anya hanyalah wanita matre tapi kebenarannya, Anya sama sekali tidak menginginkan uang pria itu. Jika Anya pikir lagi, wajar jika Felix menganggapnya wanita matre dan hanya memikirkan diri sendiri karena dulu Anya menikahi Felix agar pria itu membantu perusahaan ayahnya yang akan bangkrut.

"Besok kamu harus menandatangani surat cerainya dengan begitu, aku akan bebas dari wanita ular sepertimu!" Setelah penegasan itu, Felix langsung pergi meninggalkan Anya.

Kini di meja makan itu hanya ada Anya. Wanita itu menangis sejadi-jadinya, dia tidak tahu dengan cara apalagi dia bisa membujuk Felix. Sebenci itukah Felix terhadap dirinya?

Apa serumit ini mencintai seseorang? Anya sadar diri, dia tahu dirinya tidak memiliki sesuatu yang spesial, tapi haruskah Felix memperlakukannya seperti ini?

Air mata Anya terjatuh. Yah, wanita itu menangis. Hatinya terasa sangat sesak melihat pria yang ia cintai memperlakukan dirinya seperti ini. Dengan cara apa lagi Anya membujuk Felix agar pria itu tidak menceraikannya? Bisakah Anya merebut sedikit saja hati Felix?

Anya melihat makanan yang sudah susah payah ia masak untuk sang suami tapi Felix sama sekali tidak menghargai. Sakitnya luar biasa jika apa yang udah diusahain malah tidak dihargai.

***

Di teras kamar Felix, pria itu berdiri dengan tangan mengenggam erat pagar teras. Ada kemarahan yang terlihat jelas dari raut wajah kesal pria itu. Tentu saja dia kesal kepada Anya karena tadi Anya menatpnya dengan ekspresi wajah seperti biasa, cuek dan selalu terlihat dingin. Selama 3 tahun pernikahan, tidak ada sekalipun kedekatan di hubungan mereka. Anya yang minim bicara begitupun Felix.

Selama 3 tahun, tidak pernah sekalipun mereka sekamar. Tentu saja ini adalah keinginan Felix yang tidak pernah dibantah oleh Anya. Bahkan setiap kali mendekati Anniversary hubungan mereka, Felix selalu saja ada perjalan bisnis dan tentu saja karena hal itulah dia tidak pernah merayakan bahkan sama sekali tidak mengingatnya. Hari ini Felix tidak tahu bahwa Anya merayakan Anniversary mereka. Dia juga tidak tahu, wanita itu memasak makanan spesial untuk merayakannya. Jujur saja, ada banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepala Felix tentang kenapa Anya melakukan semua ini? Kenapa baru sekarang Anya merayakannya? Tidak, Felix tidak tahu sejak kapan wanita itu melakukannya atau mungkin wanita itu sudah melakukannya di tahun pertama?

Entah kenapa hati Felix terasa sesak karena telah menyatakan cerai. Tidak mungkin dia sesak karena tidak ingin berpisah, 'kan? Yah, pasti seperti itu. Felix yakin, dia hanya sesak karena merasa harga dirinya telah dipermalukan dan Felix meyakini hàl itu.

Yah, Felix merasa telah dipermalukan selama ini oleh Anya. Bisanya wanita itu bertahan tinggal serumah dengan Felix tanpa ada niat mendatangi Felix di kamarnya. Maksud Felix, jika itu wanita lain pasti mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak mendatangi Felix. Selama ini Felix dikelilingi wanita cantik yang siap untuk ditiduri. Bahkan tanpa Felix minta, wanita-wanita itu yang mendatangi Felix hanya untuk hubungan satu malam.

Anya berbeda, pria itu tidak suka dengan hal itu. Ia tahu Anya hanya sok suci dan penuh dengan kemunafikan. Lalu kenapa Anya tidak ingin diceraikan padahal Felix pikir wanita itu sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini? Bahkan tidak memiliki gairah sama sekali untuk mendatangi Felix.

"Memulai pernikahan ini dengan perasaan dan keseriusan? Heh, lalu kenapa selama 3 tahun dia tidak melaksanakan tugasnya sebagai istri dengan baik? Dia bahkan tidak pernah datang melayani suaminya! Apa dia pikir, aku akan termakan dengan perkataan yang penuh tipu muslihat itu?" gumam Felix kesal saat mengingat perkataan Anya tadi yang mengatakan memulai pernikahan ini dengan perasaan dan keseriusan.

Tiba-tiba saja, pintu kamar Felix terbuka lebar. Seorang wanita berpakaian seksi melangkah masuk.

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • No Marriage is Perfect   "Sekarang kamu memohon untuknya?"—Felix Vincenzo.

    Felix menatap Anya, tentu saja pria itu semakin kecewa karena Anya bahkan memohon untuk pria lain. "Sekarang kamu memohon untuknya?" tanya Felix tersenyum sinis. Anya berusaha mengontrol napas terengahnya agar tidak terdengar oleh Felix. Entah apa yang oria itu pikirkan membuat Anya berpikir beras hanya untuk angkat bicara. Anya tidak ingin salah bicara dan membuat mood Felix semakin hancur. "Saya bisa menjelaskan yang sebenarnya terjadi," ucap Anya dengan nada rendah berusaha membujuk Felix agar menerima penjelasannya. "Apa aku terlihat seperti sedang butuh penjelasan, Anya? Aku hanya tidak suka milikku disentuh. Seharusnya kamu tidak bertingkah jika tidak ingin terjadi masalah," jawab Felix menatap Anya dengan tenang. Anya terdiam. "Kalau begitu, tolong jangan libatkan Kak Lohan. Lain kali saya tidak akan mengulanginya. Saya ... saya akan patuh kepada anda." Felix mengangguk dengan paham. Ekspresi tenang itu semakin membuat Anya khawatir. "Setidaknya, jilat kakiku jika sedang

  • No Marriage is Perfect   Felix yang Tenang

    Anya telah menyiapkan sarapan. Wanita itu duduk di kursi meja makan dengan pakaian tidur dan rambut di kedai. Ia masih ingat kata-kata Felix yang senang melihatnya berpakaian seperti itu makanya ia sengaja melakukannya. Wanita itu menatap beberapa menu makanan yang telah ia masak dengan bantuan Poppy. Saat Anya pulang tadi, wanita itu langsung membersihkan diri dan memasak untuk Felix meski ia tidak tahu apakah Felix akan pulang malam ini atau tidak. Hingga tak lama Anya menunggu, akhirnya Felix datang menenteng tas kerjanya seperti biasa. Pria itu menghentikan langkah saat melihat Anya yang mulai berdiri menyambut kedatangannya. "Anda sudah datang?" Anya melangkah maju dengan berbasa-basi. Felix terdiam meneliti gerak gerik Anya yang sedang mengambil tas kerja Felix layaknya seorang istri yang menyambut suaminya setelah lelah dengan pekerjaannya. "Saya memasak makan malam untuk anda. Sebaiknya anda mandi dulu, ayo kita makan malam bersama setelahnya," ucap Anya lirih dan berusah

  • No Marriage is Perfect   Sahabat

    Mereka kini berada di pantai. Anya duduk di tembok besar yang menjadi penghalang antara pantai dan jalan raya. Lohan sedari tadi menatap Anya yang fokus menatap matahari yang sebentar lagian akan terbenam. "Kak Lohan ingin cerita apa?" tanya Anya penasaran sedari tadi. "Aku selalu bertanya-tanya kapan bisa bertemu denganmu dan berbicara dengan santai dan ternyata tanyaku itu di balas Tuhan dengan kajadian sekarang ini. Betapa senangnya aku bisa bertemu lagi denganmu seperti ini, Anya tanpa rasa canggung karena batasan pekerjaan," ucap Lohan dengan nada lirih. Anya terdiam sejenak. Jujur saja, hari ini Anya cukup senang karena merasa bebas meski hanya sebentar. Perasaan yang menumpuk dan ditanggung Anya sendiri perlahan membuat wanita itu bisa menerima. "Aku beruntung karena memiliki sahabat seperti Kakak." Anya menghela napas. "Anya, jika dia tidak memperlakukanmu dengan baik dan selalu menyakitimu, katakan saja padaku. Aku akan membuatnya membuka mata telah menyakiti siapa. Seor

  • No Marriage is Perfect   "Dia tidak seburuk itu."—Anya Valerie.

    Anya hanya menyaksikan hal yang terjadi di depannya karena wanita itu tidak berdaya. Menyoal Felix, Anya tidak akan pernah bisa menentang pria itu. Lohan masih mengepalkan tangan sedari tadi. Ia sangat sadar telah memukul seseorang yang sangat berpengaruh, bahkan pria itu beresiko dipecat dari pekerjaannya jika saja Felix mengadu nantinya. "Anda masih menggilnya istri saat anda bahkan tidak menghargainya? Suami macam apa anda? Jangan salahkan jika ada seseorang yang ingin melindungi istri anda karena sikap anda saja tidak seperti seorang suami!" sindir Lohan. Felix terkekeh mendengar Lohan yang berbicara kepadanya dengan sangat berani. Pria itu beralih menatap Anya dengan tatapan yang sulit diartikan wanita itu. Hanya saja, Felix sangat kesal dan kecewa kepada Anya. "Akan aku pastikan pria ini kehilangan pekerjaannya!" tegas Felix kepada Anya. Anya langsung menggeleng dan berusaha memohon tapi Felix pergi begitu saja tanpa memedulikan Anya. Rowan yang baru sampai tidak mengerti de

  • No Marriage is Perfect   Kesalahpahaman

    Anya dan Lohan tengah menatap patung kecil yang berbentuk guci yang hancur. Apapun yang terpajang di pameran seni tersebut memiliki makna. "Kupikir kali ini kamu tertarik untuk membelinya," ucap Lohan saat melihat Anya menatap patung kecil itu. Anya menghela napas. Sepertinya bagus diletakkan di atas nakas," jawab Anya tersenyum. Lohan mengangguk. Tawa pria itu memudar saat menyadari betapa cantiknya Anya hari ini. Bagaimana bisa wajah itu terlihat sangat sempurna. Hingga Lohan hampir lupa memberitahu Anya tentang permintaan ayah wanita itu. "Anya, Tuan Dalbert memintamu untuk menjadi model bulan ini untuk produk terbaru yang akan launching," ucap Lohan langsung ke inti. Anya cukup terkejut dengan permintaan itu. Tentu saja ini kali pertama Ayahnya memintanya menjadi model. "Model? Aku? Tidak! Banyak wanita yang lebih menarik," jawab Anya langsung menolak. "Kamu tidak sendiri. Tuan juga memberi undangan untuk suam

  • No Marriage is Perfect   Menyusul Anya

    Felix yang tengah menandatangani beberapa berkas di atas mejanya mulai berhenti. Pria itu menghela napas karena sedari tadi Anya mengganggu pikirannya. "Apa aku pergi menjemputnya saja? Dia bahkan tidak menelponku. Apakah ajakan semalam batal?" gumam Felix kesal sendiri. "Sial! Kenapa belakangan ini dia tidak mengejarku?" tanya Felix berpikir. Belakangan ini Anya tidak mengejar Felix seperti biasanya. Bahkan wanita itu abai tadi pagi, apa karena ada Casey? Felix berdiri dari duduknya dan berusaha berpikir keras. Antara logika dan hatinya beradu. Felix ingin segara menemui Anya akan tetapi logika pria itu menolak. Pada akhirnya pria itu pergi meninggalkan berkas yang menumpuk demi memastikan apakah Anya masih ingin pergi bersamanya je pameran seni yang dikatakan wanita itu tadi malam. Di perjalanan, Felix singgah saat melihat toko bungan yang cukup ramai. Pria itu melihat-lihat beberapa bunga yang terpajang di sana. "Apa anda ingin?" tanya penjual dengan senyum ramah. Felix han

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status