مشاركة

Dua Garis Merah

مؤلف: Aisyah Ahmad
last update تاريخ النشر: 2026-08-10 17:01:16

one month later...

"Hoek... Hoek..."

"Ah... Ya Ampun, rasanya mual sekali." ucap Elena sembari bersandar di dinding kamar mandi.

Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya lemas karena sejak kemarin sore, tak sedikitpun makanan masuk ke perutnya. Bahkan air putih pun harus ia paksa.

"Hoeek.."

'Huftt...' Ia sedekit menghela nafas, dan mengatur rasa mualnya.

"Kalau seperti ini, bagaimana aku bisa kerja." ucapnya sembari mengelus perutnya agar sedikit hangat.  Lantas ia keluar dari kamar mandi dan duduk diranjang kamarnya.

Kamar itu lumayan besar, walau tidak sebesar kamarnya dirumah orang tuanya. Sejak sebulan yang lalu ia tiba di London, lalu memutuskan untuk tinggal di sebuah aparteman kecil di pinggir kota.

Ia juga memutuskan untuk tidak menghubungi siapapun kecuali Mama Papanya. Itu pun hanya sekedar agar mereka tak khawatir dan tidak mencarinya.

"Tanggal 16. Seharusnya... aku datang bulan Enam hari yang lalu. Tapi..." ucapnya menggantung, tangannya masih menyentuh kalender kecil berbentuk note yang biasa ia simpan di nakas samping ranjang

"Mungkinkah aku..."

Ia segera meraih tas kecilnya. Dan mencari sesuatu yang sempat ia beli kemarin di apotik saat pulang kerja.

Sebuah alat tes kehamilan. Ia beli beberapa dari beberapa merk. Ia menggenggam alat itu sembari memejamkan mata. Sungguh, ia berharap ini hanya praduganya saja. Ia tak siap jika dugaannya adalah benar. Tapi...

"Oke, aku Cek sekarang aja. Dari pada penasaran." gumamnya. Ia letakkan kembali tas kecil miliknya dan segera kembali menuju kamar mandi untuk memeriksa urin yang telah ia siapkan beberapa menit lalu.

Setelah beberapa menit menunggu sembari tanggannya gemetar, muncullah dua garis merah di tengah benda pipih itu.

Mata Elena langsung membulat, shock. Tangannya gemetar dan keringat dingin mulai bercucuran.

"Haaaah. Bagaimana mungkin. Itu... terjadi cuma sekali." gumamnya gemetar. Ia masih mencoba untuk tidak percaya itu dengan mengganti alat tes yang lain, mencoba memastikan keakuratannya. Ternyata... hasilnya sama. Dua garis merah. Lantas tubuhnya luruh kelantai. Kali ini ia sudah tak bisa berkata apa-apa lagi selain bagaimana ia menghadapi semua ini. Sendirian.

Lamat-lamat dadanya terasa sakit. Ia taruh alat tes itu kelantai begitu saja dan ia genggam ponselnya erat-erat sambil menangis.

Setelah agak tenang dari tangis, ia buka ponselnya, ia gulir buku kontak di ponsel miliknya untuk mencari kontak Axel yang sebulan lalu sempat Ia blok.

Berkali-kali ia ketik pesan, lalu hapus lagi. Ketik pesan lagi dan hapus lagi. Hingga kemudian...

"Enggak, Enggak ! Aku nggak perlu kasih tahu dia. Nggak perlu. Aku bisa sendiri. Aku bisa sendiri hadapi ini dari pada harus mengemis belas kasihan dari pria yang nggak punya hati itu!"

"Dan aku yakin, dia nggak akan percaya. Dan seandainya ia percaya pun, Dia akan menganggap ini Aib. Dan.. Noda." ucap Elena getir.

Ia bertekad akan membesaekan anak itu sendiri, tanpa Axel tahu.

"Ya... Dia anakku." ucap Elena lagi. Lalu ia segera mengusap air matanya dengan kasar dan bangkit lagi. Ia harus kerja, bahkan mulai hari ini ia harus lebih giat, karena akan ada nyawa yang ia hidupi selain dirinya sendiri.

***

Sejak hari itu, Axel masih terus mencari keberadaan Elena, atas perintah Orang Tuanya. Walau nyarinya pas ingat aja, atau pas didesak oleh Papa dan Mamanya.

Ia sudah berusaha mencari dan beberapa kali mendatatangi rumah orang tua Elena, tapi tidak pernah membuahkan hasil. Orang tuanya selalu mengatakan Elena tidak ada disana. Dan mereka tidak tahu Elena dimana.

"Ck. Tapi... kenapa Om Theo sama Tante Elise setenang itu ya ? Mereka tidak panik dan juga tidak kelihatan seperti orang tua yang kehilangan anaknya. Apa mungkin... mereka sengaja menyembunyikan Elena ? Argggghhhh !!!!"

umpatnya kesal sembari memukul stir mobil. Ia masih disana, didepan rumah Elena, mengawasi dari kejauhan kalau-kalau dugaannya benar. Ia sudah berada sejak pagi, tapi sampai hampir sore, ia tidak melihat gerak-gerik yang mencurigakan akan keberadaan Elena.

"Kalau bukan karena Papa, Mama dan surat warisan itu. Gue nggak sudi nyari perempuan itu ! Dia yang pergi, gue yang repot ! Agrrrhhh!!!!" umpatnya lagi.

"Ck. Mana duit makin tipis, Beberapa kartu kredit dibekukan Papa. Bahkan... posisiku perusahaan kini juga terancam!"

Drrrtttt drrrrrtttt

Sebuah notifikasi pesan masuk,

[Axel, kita ketemu sekarang. Ada hal penting yang mau aku bicarakan. Sekarang.]

'Huft...'

Axel lalu memutar arah. Ia menuju sebuah café, sesuai alamat yang baru saja muncul di layar ponselnya.

Tak lama, mobil sudah ia parkir di sisi jalan. Dengan cepat, ia melangkah masuk.

Di ujung sana, dekat dengan jendela besar yang menghadap trotoar. Safira sudah duduk lebih dulu. Perempuan itu merapatkan cardigan di bahunya, seolah udara dingin dari AC menusuk kulitnya. Di meja, ada dua gelas. satu cappuccino yang sudah setengah tandas, dan satu americano yang masih mengepulkan uap, jelas baru dipesan untuknya.

Safira menatap keluar jendela, seakan menimbang-nimbang sesuatu. Sesekali, ujung jarinya mengetuk bibir cangkir, menahan resah yang tak ingin ia tunjukkan. Rambutnya ia ikat tinggi, tetapi ada beberapa helai yang jatuh ke sisi wajah.

Saat Axel mendekat, Safira tersadar. Ia menegakkan badan, menyimpan ponselnya pelan. Tatapannya bukan tatapan kekasih yang menunggu penuh rindu, melainkan tatapan seseorang yang hendak mengatakan sesuatu.

"Hai. Sorry lama. Tadi macet." ucap Axwl berbohong.

"Ya. Aku udah pesan Americano buat kamu. Tuh.."

"Ah ya... thanks, sayang." ucap Axel sembari mengelus rambut Safira.

"Hmmm. Kamu tu ya, Ax. Susah banhet di ajak ketemu sekarang. Kemarin ada Elena kamu susah di ajak ketemu. Sekarang dia nggak ada pun juga masih susah. Kamu sebenarnya masoh nganggep aku oenting nggak sih, sejak malam itu... kamu seperti sengaja menghindar dari aku. Jahat sih kamu. Ax. Apa karena kamu sudah men..."

"Sssst. Enggaaaak, enggak Sayang. Kamu masih sama berartinya, Kok. Kamu kan tahu, Papa Mama aku lagi sensitif banget."

"Ah, oke. Terus... kapan kamu kenalin aku ke mereka ?"

"Hufffttt... Sulit, Safira. Sabar duluu ya. Situasinya masih begini kaan"

"Jadi mereka masih nyuruh kamu nyariin Elena, ya ?"

"Ya, begitulah."

"Kemana ya dia. Atau jangan-jangan... dia pergi sama pria lain ?" ucap Safira.

Axel mengerutkan dahi, "kayaknya... enggak mungkin deh. Setauku, Elena tidak pernah berteman dengan laki-laki. Kecuali urusan penting. Bisnis misalnya."

"Yaaaa, mana tahu, dia juga punya pacar. Emang kamu tahu banget ? Gimana kalau memang benar dia pergi sama pacarnya. Tinggal sama pacarnya, mungkin"

"Aaaah. Sudahlah. Nggak usah bahas dia. Aku males." ucap Axel.

"Hmm"

"Ah ya, terus... hal penting apa yang mau kamu bicarakan tadi, Sayang ?"

Safira terdiam sejenak. Lalu merogoh sesuatu dari tasnya. Sebuah aplop kecil, tipis.

Axel mengerutkan dahi "ini... apa ?"

"Buka aja."

Axel pun meraih amplop kecil itu dan membukanya. Didalamnya, ada benda kecil, pipih memanjang.

"Aku Hamil" ucap Safira. Sektika Axel kaget dan melempar apa yang ia pegang.

"Safira ! Kamu jangan bercanda ! Kamu... Serius ?"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Noda Pernikahan Paksa   Bagaimana aku mengatakannya

    "Buat apa aku bercanda hal ginian, Ax. Aku serius. Aku udah cek beberapa kali dan dengan alat yang berbeda dan hasilnya sama. Aku hamil !" ucap Safira agak keras. Hingga beberapa pelanggan lain sempat menoleh dan menatap mereka sinis.Lalu mereka langsung memelankan intonasinya. "Maksud aku, kamu serius itu anak aku ?" 'Braakkk'"Maksud kamu apa bilang kayak gitu, Ax. Kita tidur bareng, malam itu dan kamu melakukannya. KAMU, AXEL ! jahat kamu. Aku hamil gara-gara kamu tapi kamu ... ""Sssttt stttt.. oke oke, pelan-pelan aja ngomongnya, mereka lihatin kita. Oke kita bahas pelan-pelan, oke. Sekarang kamu duduk, ya ?"Safira akhirnya duduk lagi, dan Axel mulai bicara. "Tapi, itu cuma sekali, Safira. Masa iya langsung jadi. Dan itupun aku ... nggak begitu sadar.""Terus, maksud kamu aku tidur dengan laki-laki lain, begitu ? Kamu pikir aku cewek apaan, Axel ! Kamu ! Kamu yang melakukannya, Axel. Dan sekarang kamu mau lari dari tanggung jawab, ha ? Tega kamu, Ax ! Jahat kamu. Hiks. Kalau

  • Noda Pernikahan Paksa   Dua Garis Merah

    one month later... "Hoek... Hoek..." "Ah... Ya Ampun, rasanya mual sekali." ucap Elena sembari bersandar di dinding kamar mandi.Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya lemas karena sejak kemarin sore, tak sedikitpun makanan masuk ke perutnya. Bahkan air putih pun harus ia paksa. "Hoeek.." 'Huftt...' Ia sedekit menghela nafas, dan mengatur rasa mualnya."Kalau seperti ini, bagaimana aku bisa kerja." ucapnya sembari mengelus perutnya agar sedikit hangat. Lantas ia keluar dari kamar mandi dan duduk diranjang kamarnya. Kamar itu lumayan besar, walau tidak sebesar kamarnya dirumah orang tuanya. Sejak sebulan yang lalu ia tiba di London, lalu memutuskan untuk tinggal di sebuah aparteman kecil di pinggir kota.Ia juga memutuskan untuk tidak menghubungi siapapun kecuali Mama Papanya. Itu pun hanya sekedar agar mereka tak khawatir dan tidak mencarinya. "Tanggal 16. Seharusnya... aku datang bulan Enam hari yang lalu. Tapi..." ucapnya menggantung, tangannya masih menyentuh kalender kecil berbe

  • Noda Pernikahan Paksa   Menghapus jejak

    Tuuut... tuuut... ​Panggilan diputus sepihak. Wajah Axel seketika pias. Ia buru-buru mendekati Safira dengan raut panik yang tidak bisa disembunyikan. ​"Safira, sepertinya aku harus pulang ke rumah sekarang juga." ​"Loh, kok pulang? Kan kita baru aja sampai, Axel?!" protes Safira langsung merengut kesal. ​"Safira, ini darurat. Papa telepon aku dan suaranya serius banget. Aku nggak punya waktu lagi, aku harus pulang sekarang. Nanti kamu pulang naik taksi dulu, ya?" ucap Axel cepat tanpa menunggu jawaban. ​"Axel, tapi tas ini gimana dong?!" ​"Aduh... ya udah, kamu pilih-pilih aja dulu yang kamu mau, nanti aku balik lagi ke sini buat bayar!" seru Axel yang sudah melangkah cepat, setengah berlari meninggalkan Safira yang menghentakkan kakinya kesal di dalam butik. ​Untuk kesekian kalinya hari ini, Axel membawa mobilnya secara ugal-ugalan demi memangkas waktu perjalanan. Begitu berbelok memasuki halaman rumahnya, jantung Axel mencelos. Sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat ia k

  • Noda Pernikahan Paksa   Ancaman Safira

    "Dyyyymm !!! Apa yang mau lo lakuin di sana, Safira?!" bisik Axel panik.​Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Matanya sempat melirik ke arah gerbang rumah orang tuanya yang tinggal sejengkal lagi. Namun, foto ketinggian gedung yang dikirimkan Safira benar-benar merenggut kewarasannya. Di satu sisi, ia harus segera melacak keberadaan Elena. Namun di sisi lain, ego lelaki dan rasa cintanya tidak akan sanggup membiarkan Safira melakukan tindakan konyol itu.​"Agrrrhhh! Bangsat!"​Akhirnya Axel membanting setir, memutar balik mobilnya dengan kasar. Kendaraan itu menderu membelah jalanan, melesat menuju gedung yang menjadi latar foto kiriman Safira.​Sepanjang perjalanan, isi kepala Axel seolah mau pecah. Ibu jarinya tak berhenti menekan tombol panggil pada nomor Safira, tetapi wanita itu tetap menolak panggilannya.​"Ayolah, Fira... lo jangan gila kayak gini dong," gumamnya frustrasi.​Sepagian ini, Axel terus-menerus menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi

  • Noda Pernikahan Paksa   Elena Menghilang

    ​"Ck. Ayolah, Axel... ngapain lo peduli?" gumamnya ketus pada diri sendiri.​Axel kembali menyeruput kopi hangatnya yang kini terasa hambar. Suasana hening sejenak, hanya terisi oleh ketukan ritmis jemarinya di atas meja marmer. Ketukan yang kian cepat, selaras dengan detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan.​"Ck. Sialan!" Axel mengerang frustrasi. Kilasan kejadian semalam mendadak berputar tanpa permisi di otaknya.​Apa yang udah gue lakuin sama dia semalam? Bodoh!​Axel langsung bangkit berdiri, melangkah lebar kembali menuju kamar Elena. "Ke mana dia pergi sepagi ini?"​Ia menyusuri setiap sudut kamar istrinya. Mengecek kamar mandi, hingga membuka pintu balkon. Kosong. Tak ada siapapun.Namun saat berbalik, mata Axel tidak sengaja menangkap bagian atas lemari pakaian. Tempat yang biasanya menjadi area penyimpanan koper besar berwarna biru milik Elena.​Koper itu lenyap.​Seketika, firasat buruk menghantam kepalanya. Axel bergegas membuka pintu lemari pakaian Elena dengan kas

  • Noda Pernikahan Paksa   Malam Pertama tanpa Pengampunan

    ​"Axel... kamu mabuk?"​"Ya ampun..." Elena mengeluh lirih. ​Dengan sisa tenaga yang ada, Elena berusaha membantu Axel masuk. Ia memapah tubuh kekar pria itu yang terasa sangat berat dan lemas. Langkah mereka terseok-seok, menciptakan pemandangan yang kontras karena tinggi tubuh Elena yang mungil bahkan tidak mencapai bahu Axel.​Elena menuntunnya menuju kamar. Aroma alkohol dan bir yang begitu menyengat langsung menusuk hidung, membuat Elena terpaksa menahan napas demi meredam rasa mualnya. ​"Kupikir... jadi dewasa itu menyenangkan. Bebas! Bisa bersenang-senang! Agrrhhh! Persetan dengan kebebasan!" gumam Axel. Langkahnya limbung, meracaukan kalimat-kalimat yang tidak jelas.​"Nyatanya... orang tua sialan itu! Selalu merampasnya dariku! Kebebasanku! Hah! Safiraaa... hiks... kenapa kau tinggalkan aku, Safira..." racau Axel lagi, suaranya parau menahan tangis. ​Tanpa membalas sepatah kata pun, Elena terus memapah Axel hingga berhasil mendudukkannya di tepi ranjang. Ia benar-benar tid

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status