LOGINone month later...
"Hoek... Hoek..." "Ah... Ya Ampun, rasanya mual sekali." ucap Elena sembari bersandar di dinding kamar mandi. Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya lemas karena sejak kemarin sore, tak sedikitpun makanan masuk ke perutnya. Bahkan air putih pun harus ia paksa. "Hoeek.." 'Huftt...' Ia sedekit menghela nafas, dan mengatur rasa mualnya. "Kalau seperti ini, bagaimana aku bisa kerja." ucapnya sembari mengelus perutnya agar sedikit hangat. Lantas ia keluar dari kamar mandi dan duduk diranjang kamarnya. Kamar itu lumayan besar, walau tidak sebesar kamarnya dirumah orang tuanya. Sejak sebulan yang lalu ia tiba di London, lalu memutuskan untuk tinggal di sebuah aparteman kecil di pinggir kota. Ia juga memutuskan untuk tidak menghubungi siapapun kecuali Mama Papanya. Itu pun hanya sekedar agar mereka tak khawatir dan tidak mencarinya. "Tanggal 16. Seharusnya... aku datang bulan Enam hari yang lalu. Tapi..." ucapnya menggantung, tangannya masih menyentuh kalender kecil berbentuk note yang biasa ia simpan di nakas samping ranjang "Mungkinkah aku..." Ia segera meraih tas kecilnya. Dan mencari sesuatu yang sempat ia beli kemarin di apotik saat pulang kerja. Sebuah alat tes kehamilan. Ia beli beberapa dari beberapa merk. Ia menggenggam alat itu sembari memejamkan mata. Sungguh, ia berharap ini hanya praduganya saja. Ia tak siap jika dugaannya adalah benar. Tapi... "Oke, aku Cek sekarang aja. Dari pada penasaran." gumamnya. Ia letakkan kembali tas kecil miliknya dan segera kembali menuju kamar mandi untuk memeriksa urin yang telah ia siapkan beberapa menit lalu. Setelah beberapa menit menunggu sembari tanggannya gemetar, muncullah dua garis merah di tengah benda pipih itu. Mata Elena langsung membulat, shock. Tangannya gemetar dan keringat dingin mulai bercucuran. "Haaaah. Bagaimana mungkin. Itu... terjadi cuma sekali." gumamnya gemetar. Ia masih mencoba untuk tidak percaya itu dengan mengganti alat tes yang lain, mencoba memastikan keakuratannya. Ternyata... hasilnya sama. Dua garis merah. Lantas tubuhnya luruh kelantai. Kali ini ia sudah tak bisa berkata apa-apa lagi selain bagaimana ia menghadapi semua ini. Sendirian. Lamat-lamat dadanya terasa sakit. Ia taruh alat tes itu kelantai begitu saja dan ia genggam ponselnya erat-erat sambil menangis. Setelah agak tenang dari tangis, ia buka ponselnya, ia gulir buku kontak di ponsel miliknya untuk mencari kontak Axel yang sebulan lalu sempat Ia blok. Berkali-kali ia ketik pesan, lalu hapus lagi. Ketik pesan lagi dan hapus lagi. Hingga kemudian... "Enggak, Enggak ! Aku nggak perlu kasih tahu dia. Nggak perlu. Aku bisa sendiri. Aku bisa sendiri hadapi ini dari pada harus mengemis belas kasihan dari pria yang nggak punya hati itu!" "Dan aku yakin, dia nggak akan percaya. Dan seandainya ia percaya pun, Dia akan menganggap ini Aib. Dan.. Noda." ucap Elena getir. Ia bertekad akan membesaekan anak itu sendiri, tanpa Axel tahu. "Ya... Dia anakku." ucap Elena lagi. Lalu ia segera mengusap air matanya dengan kasar dan bangkit lagi. Ia harus kerja, bahkan mulai hari ini ia harus lebih giat, karena akan ada nyawa yang ia hidupi selain dirinya sendiri. *** Sejak hari itu, Axel masih terus mencari keberadaan Elena, atas perintah Orang Tuanya. Walau nyarinya pas ingat aja, atau pas didesak oleh Papa dan Mamanya. Ia sudah berusaha mencari dan beberapa kali mendatatangi rumah orang tua Elena, tapi tidak pernah membuahkan hasil. Orang tuanya selalu mengatakan Elena tidak ada disana. Dan mereka tidak tahu Elena dimana. "Ck. Tapi... kenapa Om Theo sama Tante Elise setenang itu ya ? Mereka tidak panik dan juga tidak kelihatan seperti orang tua yang kehilangan anaknya. Apa mungkin... mereka sengaja menyembunyikan Elena ? Argggghhhh !!!!" umpatnya kesal sembari memukul stir mobil. Ia masih disana, didepan rumah Elena, mengawasi dari kejauhan kalau-kalau dugaannya benar. Ia sudah berada sejak pagi, tapi sampai hampir sore, ia tidak melihat gerak-gerik yang mencurigakan akan keberadaan Elena. "Kalau bukan karena Papa, Mama dan surat warisan itu. Gue nggak sudi nyari perempuan itu ! Dia yang pergi, gue yang repot ! Agrrrhhh!!!!" umpatnya lagi. "Ck. Mana duit makin tipis, Beberapa kartu kredit dibekukan Papa. Bahkan... posisiku perusahaan kini juga terancam!" Drrrtttt drrrrrtttt Sebuah notifikasi pesan masuk, [Axel, kita ketemu sekarang. Ada hal penting yang mau aku bicarakan. Sekarang.] 'Huft...' Axel lalu memutar arah. Ia menuju sebuah café, sesuai alamat yang baru saja muncul di layar ponselnya. Tak lama, mobil sudah ia parkir di sisi jalan. Dengan cepat, ia melangkah masuk. Di ujung sana, dekat dengan jendela besar yang menghadap trotoar. Safira sudah duduk lebih dulu. Perempuan itu merapatkan cardigan di bahunya, seolah udara dingin dari AC menusuk kulitnya. Di meja, ada dua gelas. satu cappuccino yang sudah setengah tandas, dan satu americano yang masih mengepulkan uap, jelas baru dipesan untuknya. Safira menatap keluar jendela, seakan menimbang-nimbang sesuatu. Sesekali, ujung jarinya mengetuk bibir cangkir, menahan resah yang tak ingin ia tunjukkan. Rambutnya ia ikat tinggi, tetapi ada beberapa helai yang jatuh ke sisi wajah. Saat Axel mendekat, Safira tersadar. Ia menegakkan badan, menyimpan ponselnya pelan. Tatapannya bukan tatapan kekasih yang menunggu penuh rindu, melainkan tatapan seseorang yang hendak mengatakan sesuatu. "Hai. Sorry lama. Tadi macet." ucap Axwl berbohong. "Ya. Aku udah pesan Americano buat kamu. Tuh.." "Ah ya... thanks, sayang." ucap Axel sembari mengelus rambut Safira. "Hmmm. Kamu tu ya, Ax. Susah banhet di ajak ketemu sekarang. Kemarin ada Elena kamu susah di ajak ketemu. Sekarang dia nggak ada pun juga masih susah. Kamu sebenarnya masoh nganggep aku oenting nggak sih, sejak malam itu... kamu seperti sengaja menghindar dari aku. Jahat sih kamu. Ax. Apa karena kamu sudah men..." "Sssst. Enggaaaak, enggak Sayang. Kamu masih sama berartinya, Kok. Kamu kan tahu, Papa Mama aku lagi sensitif banget." "Ah, oke. Terus... kapan kamu kenalin aku ke mereka ?" "Hufffttt... Sulit, Safira. Sabar duluu ya. Situasinya masih begini kaan" "Jadi mereka masih nyuruh kamu nyariin Elena, ya ?" "Ya, begitulah." "Kemana ya dia. Atau jangan-jangan... dia pergi sama pria lain ?" ucap Safira. Axel mengerutkan dahi, "kayaknya... enggak mungkin deh. Setauku, Elena tidak pernah berteman dengan laki-laki. Kecuali urusan penting. Bisnis misalnya." "Yaaaa, mana tahu, dia juga punya pacar. Emang kamu tahu banget ? Gimana kalau memang benar dia pergi sama pacarnya. Tinggal sama pacarnya, mungkin" "Aaaah. Sudahlah. Nggak usah bahas dia. Aku males." ucap Axel. "Hmm" "Ah ya, terus... hal penting apa yang mau kamu bicarakan tadi, Sayang ?" Safira terdiam sejenak. Lalu merogoh sesuatu dari tasnya. Sebuah aplop kecil, tipis. Axel mengerutkan dahi "ini... apa ?" "Buka aja." Axel pun meraih amplop kecil itu dan membukanya. Didalamnya, ada benda kecil, pipih memanjang. "Aku Hamil" ucap Safira. Sektika Axel kaget dan melempar apa yang ia pegang. "Safira ! Kamu jangan bercanda ! Kamu... Serius ?"Tiga Tahun KemudianPagi itu, sinar matahari hangat menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama. Aroma lavender dari pelembab udara berpadu lembut dengan wangi kopi hangat yang dibawa Axel ke dalam kamar.Di atas ranjang besar, Elena tersenyum tipis saat merasakan sebuah kecupan lembut di keningnya. Perlahan ia membuka mata, menyambut senyum hangat dari pria yang tiga tahun terakhir ini tak pernah absen berdiri di sampingnya. menjadi pelindung, penopang, dan satu-satunya tempat ia pulang."Pagi, Sayang," bisik Axel lembut, lalu mendaratkan tangan hangatnya di atas perut Elena yang membuncit besar. "Pagi juga, Jagoan Papi..."Elena mengelus jemari Axel yang berada di atas perutnya. "Pagi, Papi..."Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk menyembuhkan luka akibat kehilangan kedua orang tuanya. Namun, Axel membuktikannya. Pria itu tidak pernah memaksa, selalu sabar menuntun Elena keluar dari masa-masa kelam, hingga akhirnya Elena benar-benar luluh dan membuka hatinya seutuhnya
"Elena... lihat Mama, Nak..." suara ibu Axel, Heranica. terdengar begitu lembut, bergetar menahan duka yang sama besar.Elena perlahan mendongak dengan pandangan kabur oleh air mata. Matanya sembab, merah, dan tatapannya begitu kosong seolah nyawanya telah ikut pergi bersama brankar yang baru saja melintas.Heranica merengkuh wajah Elena dengan kedua tangannya, mengusap pipi wanita muda itu yang terasa dingin. "Mama tahu ini berat... berat banget buat kamu. Tapi Mama sama Papa kamu udah tenang, Nak. Mereka udah nggak ngerasain sakit lagi...""Mama Heranica..." bisik Elena, suaranya parau dan tercekik. "Aku... aku sekarang sendirian, Ma... Papa udah nggak ada... Mama juga pergi...""Enggak, Sayang. Kamu nggak sendirian," potong Heranica tegas namun hangat, lalu membawanya kembali ke dalam pelukan erat. "Kamu masih punya Mama, punya Papa Ares, punya Axel... Kita keluarga kamu. Mama nggak akan pernah biarkan kamu sendirian."Di seberang lorong, Axel berdiri menatap dua wanita itu d
Pintu kamar terbuka pelan, disusul langkah Axel yang kembali masuk dengan raut wajah yang jauh berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi ketenangan yang tadi ia paksakan. Garis rahangnya menegang, sorot matanya tampak berat, seolah menyimpan sesuatu yang sulit diucapkan.Elena yang sejak tadi duduk gelisah di atas ranjang langsung menoleh. Hatinya berdegup lebih cepat hanya dengan melihat ekspresi Axel."Ada apa, Axel?" tanyanya, keningnya berkerut, firasat buruk mulai merayap masuk tanpa permisi.Axel tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri beberapa langkah dari tempat Elena, menatap wanita itu dengan ragu. Bibirnya sempat terbuka, namun kembali tertutup. Seolah kata-kata yang ingin keluar tertahan di tenggorokan."Axel?" Elena kembali memanggil, kali ini dengan nada lebih tegas. "Ada apa?"Hening.Axel menghela napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri sebelum melangkah mendekat. Ia duduk di tepi ranjang, jaraknya cukup dekat hingga ia bisa meraih tangan Elena yang terasa din
Stasiun kereta terdekat tampak penuh sesak.Orang-orang berkerumun di berbagai sudut. Suara tangis, teriakan, dan pertanyaan saling bersahutan tanpa jeda.Beberapa orang terlihat histeris, memanggil nama anggota keluarga mereka.Sebagian lainnya mengerumuni petugas, memaksa meminta kepastian."Mas, tolong dicek lagi! Nama suami saya belum ada!""Anak saya ada di gerbong tiga, Mas! Tolong!""Daftar korban di mana?!"Suasana benar-benar kacau.Penuh kepanikan.Penuh ketidakpastian.Elena berdiri di tengah keramaian itu, wajahnya pucat, matanya terus mencari ke sana kemari, seolah berharap menemukan jawaban di antara kerumunan orang.Tangannya mencengkeram lengan Axel erat."Ax… Mama sama Papa pasti mereka naik-baik saja kan…?" suaranya lirih, penuh harap yang rapuh. Axel menatap sekeliling, lalu kembali ke Elena."Iya… kita cari, ya. Tenang… aku di sini."Meski ucapannya terdengar tenang, matanya sendiri tak bisa menyembunyikan kecemasan.Beberapa kali, Axel menarik Elena mendekat saat
“A-anu, Non… Nyonya Besar dan Tuan Besar… kecelakaan, Non!”Elena tertawa hampa. “Ngaco! Jangan bercanda ah, nggak lucu. Satu jam lalu aku masih teleponan sama Mama, Bi. Mama lagi baik-baik aja.”“Saya nggak berani bercanda soal ini, Non!” potong pelayan itu dengan suara bergetar panik. “Barusan ada berita sela di TV… kecelakaan kereta api setengah jam yang lalu. Parah banget, Non… banyak korban jiwa…”“Ya terus apa hubungannya sama Papa Mama?” cecar Elena, suaranya mulai meninggi karena menolak kenyataan. “Masa iya Papa sama Mama naik kereta? Mereka itu naik pesawat!”“Tapi, Non… di daftar nama korban yang ditayangkan… ada nama Tuan Theo dan Nyonya Elis…”Dada Elena berdesir hebat. Otaknya menolak mentah-mentah ucapan itu. Dengan gerakan panik, ia menyambar ponselnya dan menekan nomor Mamanya.“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”Elena mencoba menghubungi Papanya. Sama. Suara mesin menjawab dingin. Jarinya yang gemetar mulai tak kontrol men
"Boleh aku duduk sebentar?""Silakan, Dok."Keenan duduk di hadapan Elena dengan napas yang belum teratur. "Terakhir, Elena... apa kamu yakin nggak ada kesempatan sedikit pun buat aku?"Elena menatapnya lurus. "Keenan... aku rasa jawabanku kemarin sudah jelas. Maaf banget, jawabanku masih tetap sama."Keenan menunduk, meremas tangannya pelan sebelum menghembuskan napas panjang. Dari sudut lain, Axel memperhatikan interaksi itu dari jauh dengan raut tak tenang.Keenan kembali mendongak dengan senyum tipis. "Baik, aku terima. Aku cuma berharap kamu selalu bahagia." Ia mengusap wajahnya sekilas. "Sore ini aku fly ke London. Tugasku di sini sudah selesai."Elena terkejut. "Keenan... are you okay?""Aku nggak apa-apa," sahut Keenan cepat, berusaha tersenyum. Ia meneguk habis minumannya, lalu berdiri. "Jaga diri baik-baik. Kalau butuh apa-apa, nomorku masih sama."Tanpa menunggu balasan, Keenan berbalik dan melangkah pergi. Elena hanya bisa menatap punggung pria itu dengan sedikit







