ログインTuuut... tuuut...
Panggilan diputus sepihak. Wajah Axel seketika pias. Ia buru-buru mendekati Safira dengan raut panik yang tidak bisa disembunyikan. "Safira, sepertinya aku harus pulang ke rumah sekarang juga." "Loh, kok pulang? Kan kita baru aja sampai, Axel?!" protes Safira langsung merengut kesal. "Safira, ini darurat. Papa telepon aku dan suaranya serius banget. Aku nggak punya waktu lagi, aku harus pulang sekarang. Nanti kamu pulang naik taksi dulu, ya?" ucap Axel cepat tanpa menunggu jawaban. "Axel, tapi tas ini gimana dong?!" "Aduh... ya udah, kamu pilih-pilih aja dulu yang kamu mau, nanti aku balik lagi ke sini buat bayar!" seru Axel yang sudah melangkah cepat, setengah berlari meninggalkan Safira yang menghentakkan kakinya kesal di dalam butik. Untuk kesekian kalinya hari ini, Axel membawa mobilnya secara ugal-ugalan demi memangkas waktu perjalanan. Begitu berbelok memasuki halaman rumahnya, jantung Axel mencelos. Sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat ia kenal sudah terparkir di sana. Itu mobil milik ayahnya. Dengan jantung yang bertalu hebat dan telapak tangan yang mendadak dingin, Axel turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah. Kali ini, ia sudah membentengi mentalnya jika harus menerima makian dari sang mama. Asal... bukan pencabutan fasilitas. "Pa... Ma..." Plaaaakkk! Tanpa ada kalimat sambutan, sebuah tamparan keras dari tangan kekar Ares mendarat telak di pipi kiri Axel. Sentakan itu begitu kuat hingga membuat wajah Axel tertoreh ke samping, menyisakan bekas kemerahan yang terasa panas terbakar di kulitnya. "Apa yang kamu lakukan pada Elena, Axel?!" bentak Ares, napasnya memburu menahan amarah yang sudah di ubun-ubun. "A-apa? Axel nggak ngapa-ngapain, Pa!" "Bodoh! Kamu pikir Papa dan Mamamu ini bisa kamu bodohi?! Tadi Theo telepon Papa, dia bilang kamu datang ke rumahnya dengan panik mencari keberadaan Elena! Apa yang sudah kamu perbuat sampai Elena nekat pergi dari rumah ini, Axel?!" Axel tertegun, matanya melebar. "Loh... jadi, Elena benar-benar nggak ada di rumah orang tuanya, Pa?" "Heh, anak tidak tahu diuntung!" bentak Ares lagi, suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu. "Kalau Elena ada di sana, Papa tidak akan sudi membuang waktu mendatangi kamu ke sini! Tadi Bik Ida juga melapor, sepagian ini dia tidak melihat Elena. Dan Mama kamu sudah memeriksa kamarnya... semua pakaian dan kopernya sudah lenyap! Mau ditaruh di mana muka Papa di hadapan Theo, Axel?! Kamu sudah menyakiti putri tunggal mereka! Gila kamu? Harusnya kamu tahu betapa berartinya hubungan keluarga kita!" Rasa panas di pipinya berpadu dengan ego Axel yang terusik. Ia balas berteriak, "Pa, Ma! Jangan cuma menyalahkan Axel dong! Axel ini anak kandung kalian! Elena sendiri yang pergi minggat dari rumah ini! Kenapa dia harus bersikap kayak anak kecil begitu?!" Plaaaakk! Kali ini, giliran Heranica yang melayangkan tamparan di pipi kanan anaknya. Air mata wanita paruh baya itu tampak menggenang, kecewa. "Axel! Elena tidak akan pernah melangkah keluar dari rumah ini kalau kamu tidak berbuat ulah yang sudah kelewatan! Mama tahu betul bagaimana sifat Elena sejak kecil. Dia bukan perempuan murahan yang suka minggat tanpa alasan!" tangis Heranica. Ares menunjuk wajah Axel dengan tatapan sedingin es. "Papa tidak mau tahu. Kamu cari Elena sampai ketemu! Jangan sampai Theo tahu apa yang sebenarnya terjadi dan membuat hubungan bisnis kita hancur, Axel!" Pria paruh baya itu berbalik, menuntun istrinya yang masih terisak. Sebelum melangkah pergi, ia memberikan kalimat pemungkas yang membuat seluruh sendi Axel lemas. "Kalau sampai Elena tidak ketemu dan tidak kembali ke rumah ini dalam keadaan baik... jangan harap kamu bisa menikmati satu persen pun dari kekayaan Papa lagi! Nama kamu akan langsung Papa coret dari hak waris!" "Ayo, Mah!" "Pa! Ma! Tapi... Arghhh!!!!" Axel berteriak histeris, menendang sofa di dekatnya meluapkan rasa frustrasinya yang teramat sangat. Namun, teriakan itu hanya memantul di dinding rumah yang sepi. Kedua orang tuanya sudah melenggang pergi tanpa memedulikan pembelaannya. Hari itu juga, Axel mengerahkan seluruh kemampuannya. Ia mendatangi apartemen Elena sebelum mereka menikah, melacak nomor ponselnya yang ternyata sudah tidak aktif, bahkan menyuruh orang untuk memeriksa CCTV di sekitar kompleks. Hasilnya nol besar. Elena Wardhana lenyap bak ditelan bumi, meninggalkan Axel dalam pusaran ketakutan akan kehilangan seluruh kemewahan hidupnya. Axel menyumpah, mengutuk, dan panik sendirian di tengah rumah mereka yang mendadak terasa mencekik. Pria itu tidak pernah tahu, bahwa pada malam yang sama ketika ia sedang kelimpungan, sosok yang dicarinya justru sedang duduk di salah satu sudut Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Elena menatap lurus ke jendela besar yang menampilkan deretan pesawat di bawah temaram lampu landasan. Di samping kakinya, sebuah koper biru berdiri kokoh. Tatapannya kosong, namun segumpal tekad baru telah mengkristal di dalam dadanya. Keputusannya sudah bulat. Elena mematikan ponselnya, melepas kartu SIM di dalamnya, lalu melempar benda itu ke tempat sampah terdekat. Ia tidak butuh lagi jejak masa lalu yang merantainya dalam rasa sakit. “Penerbangan rute Jakarta menuju London akan segera diberangkatkan…” Suara pengumuman dari pengeras suara bandara membuat Elena tersadar. Ia mengembuskan napas panjang, meraih paspor dan tiket pesawat di genggamannya, lalu bangkit berdiri. Elena melangkah maju tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Baginya, Jakarta dan segala kenangan pahit bersama Axel telah mati malam itu. Ia pergi untuk menyembuhkan diri, mencari kembali kebebasannya yang sempat dirampas, tanpa pernah menduga bahwa..."Ternyata semua wanita sama saja ! Murahan !" 'Plakk' Elena langsung menampar Axel karena geregetan."Ternyata kamu memang tidak pernah berubah, Ax. Selalu melempar kesalahan kepada orang lain, padahal kamulah orang yang salah itu! Sudahlah. Aku tak banyak waktu untuk meladeni orang sepertimu. Anakku sedang berjuang hidup dan mati disana !""Cih ! Anak haram hasil perselingkuhan." Keenan langsung maju, langsung mencengkram kerah axel. Axel hanya tersenyum miring."Ternyata ini orangnya. Pengecut yang tidak bertanggung jawab sama anaknya sendiri !" "Apa maksud lo?" "Keluarga Eros Lucian?" ucap dokter yang keluar dari ruang operasi itu.Elena tersentak dan langsung mendekat.Sementara Axel, berpikir sejenak.'LUCIAN'? “Gimana, Dok? Bagaimana keadaan anak saya sekarang?”Suara Elena bergetar. Tangannya masih gemetar, bahkan ia tidak sadar sejak tadi kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri.Dokter itu menarik napas panjang sebelum menjawab.“Kondisinya masih kritis, Bu. Anak I
Jeritan Elena memecah udara.Dunianya runtuh dalam satu tarikan napas.Ia berlari, hampir tersandung, lututnya gemetar sebelum benar-benar menyentuh tanah. Tangannya gemetar ketika meraih tubuh putranya yang tergeletak.Darah. “Eros… Eros… sayang… buka mata… Mommy di sini…” suaranya pecah, tidak lagi terdengar seperti dirinya sendiri.Eira berdiri beberapa langkah dari sana, membeku. Wajah kecilnya pucat. Keenan sudah bergerak lebih dulu. Insting dokternya mengambil alih. Ia berlutut, memeriksa pupil, denyut nadi, napas.“Masih ada respons,” ucapnya cepat, berusaha tetap tenang.“Elena, dengar aku. Kita harus bawa dia ke rumah sakit sekarang.” Di saat yang sama, pintu mobil terbuka.Pengemudi turun tergesa. “Saya tidak lihat dia— saya—”Suara itu.Elena mendongak.Dan dunia kembali berhenti. Axel. Waktu seolah tersedak di tenggorokan mereka berdua.Enam tahun.Enam tahun tanpa berkabar, tanpa tatap, tanpa jawaban.Dan pertemuan pertama mereka kembali justru di atas aspal yang be
Langit Jakarta menyambut dengan warna keemasan pucat saat pesawat itu perlahan menurunkan roda. “Cabin crew, prepare for landing.”Suara pilot menggema lembut di dalam kabin. Beberapa menit kemudian, roda pesawat menyentuh landasan dengan hentakan halus yang membuat badan sedikit terdorong ke depan. Eira bersorak kecil.“We’re here? Are we here, Mommy?”(Kita sudah sampai? Sudah sampai, Mommy?) Elena tersenyum tipis, mengusap rambut putrinya. “Yes… we’re in Indonesia.”(Iya… kita sudah di Indonesia.) Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 07.15 pagi WIB.Perjalanan panjang hampir empat belas jam akhirnya selesai. Beberapa menit kemudian, suara pramugari terdengar ramah dan profesional.“Selamat datang di Jakarta. Welcome to Soekarno-Hatta International Airport. Waktu setempat menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit pagi hari…” Penumpang mulai berdiri. Kompartemen bagasi dibuka. Suara koper ditarik, suara orang-orang menghela napas lega setelah duduk lama.Elena memban
Elena menariknya ke dalam pelukan.“Mommy minta maaf…” bisiknya. “Mommy minta maaf kamu harus dengar kata-kata seperti itu.”Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.Hatinya teriris. Luka masa lalunya seperti diseret kembali ke permukaan. Tapi kini, yang lebih menyakitkan adalah melihat anak-anaknya menanggungnya.Ia mengusap rambut Eros.“You’re not alone. You have me.”(Kamu tidak sendirian. Kamu punya Mommy.) Lalu ia berdiri dan menghadap guru BK.“Saya minta maaf atas kejadian ini, Pak. Saya akan membimbing Eros di rumah. Saya pastikan ini tidak terulang lagi.” Guru itu mengangguk.“We understand. Kids can be cruel sometimes.”(Kami mengerti. Anak-anak kadang bisa sangat kejam.)Elena mengangguk pelan.Ia kembali ke Eira, menggandeng kedua anaknya.“Ayo, kita pulang.” Keenan berdiri di dekat pintu ruang guru sejak tadi, menyaksikan semuanya dalam diam.Tatapannya pada Elena berubah. bukan lagi sekadar profesional. Ada sesuatu yang lebih dalam.Ia baru saja melihat seorang ibu yang
Elena memalingkan wajahnya ke arah jalan raya. Lampu kendaraan memantul di genangan, berpendar seperti kilasan masa lalu yang tak pernah benar-benar padam. “Aku baik-baik saja,” jawabnya singkat.“Kamu tidak perlu berbohong.”Nada Keenan mantap.“Aku melihat perempuan yang dulu berani menembakkan batu ke mata dua preman tanpa ragu. Perempuan yang berdiri tegak di balik pagar tinggi dan tidak pernah takut pada apa pun.” Ia menatap profil wajah Elena.“Sekarang aku melihat seseorang yang berjalan seperti memikul dunia.”Elena mengepalkan jemarinya di pangkuan.“Aku memilih jalan ini,” katanya akhirnya. “Tidak ada yang perlu dikasihani.”“Aku tidak mengasihani.”Keenan menggeleng.“Aku hanya ingin tahu siapa yang membuat peri kecil itu berhenti percaya bahwa dia pantas dilindungi.” Kalimat itu seperti mengetuk sesuatu yang paling Elena sembunyikan.Rahangnya mengeras. “Jangan ikut campur,” ucapnya pelan, tapi kali ini suaranya sedikit bergetar.“Nggak semua hal harus kamu tahu.”Kee
“Lalu? Untuk apa belakangan ini dokter selalu terlihat di dekat saya?” Keenan mencolek ujung hidungnya pelan, seolah mereka sudah sangat akrab.“Dasar kamu.” Elena refleks mundur sedikit.“Kok malah marah…” “Bagaimana tidak selalu terlihat? Kita ini tetangga, lho.” Elena terdiam. Wajahnya memerah. Ia menggaruk tengkuknya pelan, merasa terlalu percaya diri tadi. Senyum malunya muncul tanpa sadar. “Tapi, Elena… boleh aku tanya satu hal?”“Apa, Dok?” Keenan tersenyum.“Tunggu. Gimana kalau panggil Keenan saja? Kita tidak sedang di rumah sakit.”Elena terkekeh kecil. “Hahaha… Dokter ini lucu. Bukan begitu, saya hanya mau menghormati dokter. Masa saya panggil nama saja? Rasanya tidak sopan.” “No problem,” balasnya santai. Hening sebentar.Keenan menarik napas dalam, lalu berkata pelan tapi jelas.“Elena… tolong bagi bebanmu itu padaku. Izinkan aku jadi tempatmu bersandar.”Elena menoleh perlahan. “Kamu… menikahlah denganku.”Seketika tubuh Elena menegang. Ia mundur beberapa senti







