Share

Persaingan

Penulis: Aisyah Ahmad
last update Tanggal publikasi: 2026-09-01 14:02:39

Elena menaiki tangga perlahan.

Langkahnya ringan, tapi ketika sampai di anak tangga paling atas, ia tiba-tiba berhenti sejenak.

Dari arah kamar anak-anak terdengar suara tawa yang begitu nyaring.

Tawa Eira.

Lalu disusul suara Eros yang tak kalah riangnya.

Elena sedikit mengernyit.

Tawa seperti itu… rasanya jarang sekali ia dengar.

Penasaran, ia pun berjalan mendekati kamar mereka.

Pintu kamar tidak tertutup rapat. Hanya terbuka sedikit, menyisakan celah kecil.

Tanpa sadar Elena memperlambat la
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Noda Pernikahan Paksa   Mencoba lagi

    Elena masih menatap dua kartu hitam yang kini berada di telapak tangannya.Tatapannya kosong, seolah pikirannya sedang berjalan jauh ke tempat lain. ke masa lalu, ke luka yang pernah ia rasakan, ke semua hal yang belum sepenuhnya selesai di dalam hatinya.Kartu itu terasa dingin di kulitnya.Namun anehnya, yang ia rasakan justru hangat di dalam dada.Perlahan, jari-jarinya bergerak. Menggenggam kedua kartu itu, lalu mengendurkannya kembali, seakan ia sendiri masih belum yakin apakah ia benar-benar siap menerima apa yang diwakili oleh benda kecil tersebut.Karena ini bukan sekadar kartu.Ini tentang menerima Axel kembali… meski hanya sedikit.Ini tentang membuka celah… setelah bertahun-tahun ia berusaha menutup semuanya rapat-rapat.Napas Elena tertahan sejenak.Ia menunduk, menatap tangannya sendiri, sebelum akhirnya menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, seolah sedang menenangkan sesuatu di dalam dirinya.Dan pada akhirnya,kepalanya bergerak.Mengangguk pelan.Sangat p

  • Noda Pernikahan Paksa   Kartu Hitam untuk Elena

    Pertanyaan itu muncul begitu saja.Dan Elena tidak langsung punya jawaban.Beberapa detik ia hanya terdiam dengan pikiran yang terasa semakin kacau.Tiba-tiba—Krek.Suara pintu kamar terbuka membuat Elena tersentak.Ia langsung bangkit dari posisi tidurnya dan duduk tegak di atas kasur.Axel berdiri di ambang pintu.Beberapa detik mereka saling menatap.Axel akhirnya melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.“Maaf, ya?”Ucapannya singkat.Namun cukup membuat Elena menoleh penuh heran.Sekali lagi…ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari Axel yang sekarang.Axel yang dulu—tidak akan pernah memulai permintaan maaf lebih dulu.Terlalu gengsi.Terlalu keras kepala.Namun pria yang berdiri di hadapannya sekarang… justru berbeda.“Jangan marah sama anak-anak, ya?” lanjut Axel dengan suara lebih lembut.“Mereka cuma main-main.”Elena memandangnya beberapa detik.Lalu menggeleng pelan.“Tidak.”Suaranya terdengar lebih tenang.“Aku tidak marah. Kebetulan bahan pancake memang habis.

  • Noda Pernikahan Paksa   Keusilan sikembar

    “Ciee… Papi lihatin Mommy Elena terus. Ehem.”Godaan dua anak kecil itu terdengar jelas. Sedari tadi mereka memang memperhatikan Axel yang tanpa sadar memandangi Elena sampai wanita itu menghilang di balik pintu rumah.Axel langsung tersentak.“Haish! Kalian ini ya…” gerutunya pura-pura kesal.Tiba-tiba ia setengah berlari mendekati mereka.“Hmmm… sini kalian!”Axel mengangkat kedua tangannya, seolah hendak menggelitik mereka.“AAAAA!”Eira dan Eros langsung berlari menghindar sambil tertawa riuh. Kaki-kaki kecil mereka berlarian mengitari tikar rumput yang dipenuhi lego dan puzzle.Axel mengejar mereka beberapa langkah, lalu pura-pura berhenti sambil memegang lututnya.“Hah… hah… aduh… Papi capek…” katanya sambil pura-pura ngos-ngosan.Melihat itu, kedua anak kecil itu justru tertawa semakin keras.Di sisi lain taman, Eros tiba-tiba menarik lengan kakaknya.“Eira… Eira! Sini deh.”Eira mendekat dengan wajah penasaran.“Apa?”Eros menoleh sebentar ke arah Axel yang masih pura-pura men

  • Noda Pernikahan Paksa   Sedikit Harapan

    “Maaf… sebutan 'kita' itu memang seharusnya tak pernah ada.”Mobil Elena perlahan meninggalkan halte di Taman Serafina.Pepohonan besar di taman itu semakin jauh tertinggal di belakang kaca mobil.Elena duduk diam di kursinya.Tangannya masih menggenggam setir, namun pikirannya terasa kosong.Beberapa detik kemudian, tanpa sadar ia melirik ke kaca spion.Dari kejauhan… Keenan masih berdiri di sana.Pria itu tidak bergerak.Hanya berdiri di halte taman itu, menatap mobil Elena yang semakin menjauh.Elena menelan napas pelan.Suara mesin mobil mengisi kesunyian perjalanan.Dalam hatinya, kata-kata itu kembali terngiang.'Kamu bilang mencintaiku sejak sepuluh tahun lalu.'Elena menghela napas panjang. “Tapi… kita tak pernah benar-benar ada.”Mobil terus melaju di jalan yang lengang. “Yang kulakukan padamu dulu hanya sebatas kemanusiaan. Seperti yang seharusnya dilakukan seseorang kepada orang lain yang sedang terluka atau membutuhkan bantuan. Tidak lebih.”Tangannya sedikit mengerat di

  • Noda Pernikahan Paksa   Ungkapan Perasaan

    Di halte kecil dekat Taman Serafina, seorang wanita duduk sendirian di bangku besi.Siang itu cukup terik, tetapi pepohonan besar di taman membuat tempat itu tetap teduh.Beberapa kali Elena melirik jam tangannya.Lalu memandang ke arah jalan.Menunggu.Jam menunjukkan pukul sebelas siang.Orang-orang sesekali lewat, beberapa kendaraan melintas di jalan depan taman, namun orang yang ia tunggu belum juga muncul.Elena kembali melihat jamnya.Baru saja ia menarik napas panjang ketika sebuah suara tiba-tiba terdengar dari sampingnya.“Maaf… aku telat.”Elena menoleh.Seorang pria berdiri di sana dengan jas putih yang sudah sedikit terbuka di bagian leher,Di tangannya ada sebuah buket bunga.“Baru selesai operasi pasien,” lanjutnya ringan sebelum duduk di bangku sebelah Elena. Elena hanya tersenyum tipis.“Iya, tidak apa.”Keenan lalu menyodorkan buket bunga itu. “Nih.”Elena menatapnya heran.“Tadi aku beli di lampu merah,” katanya santai.“Ada anak kecil nawarin buket bunga. Kasihan

  • Noda Pernikahan Paksa   Perdebatan

    Suara polos Eira dan Eros langsung memecah ketegangan yang sejak tadi menggantung di ruangan itu.Semua orang menoleh ke arah pintu.Eira berlari kecil ke arah Axel dengan wajah berseri.Sementara Eros justru menghampiri Keenan dengan langkah cepat.Dua anak itu berhenti tepat di depan orang yang mereka panggil masing-masing.“Papi!” seru Eira lagi sambil memeluk kaki Axel.Axel yang tadi berdiri dengan wajah dingin langsung melunak. Ia menunduk sedikit dan mengusap kepala putrinya itu.“Iya, sayang.”Di sisi lain, Eros menarik ujung jas Keenan.“Om Dokter! Om juga di sini!”Keenan menatap anak kecil itu beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis.“Iya.”Ia mengacak pelan rambut Eros.Sementara itu Elena hanya bisa menghela napas kecil melihat situasi aneh di depannya. ketegangan rupanya belum benar-benar hilang.Beberapa orang tua murid yang sejak tadi berada di ruangan itu mulai saling berbisik pelan.Tatapan mereka bergantian antara Elena, Axel, dan Keenan.“Yang mana suaminy

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status