Share

Bab 10

Author: SanASya
last update publish date: 2025-12-19 12:23:45

Kakek Ruggero dari tempat duduknya pun melihatnya tadi. Ini pertama kalinya sejak ia membawa Shin waktu kecil, senyum yang terlihat manusiawi itu muncul. Meski sekilas tapi nyata. Sebuah kilatan singkat, bukan kejam, bukan sinis, melainkan hangat.

'Apa itu benar? Atau aku hanya mulai terlalu tua hingga berhalusinasi?' Kakek Ruggero ragu dengan penglihatannya sendiri.

Shin dengan cepat kembali ke tampilan normal, datar tanpa ekspresi. Menatap Matteo dengan mata menyipit. "Apa yang aku pikirkan,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 126 Siapa yang terbaik?

    Bella sempat bergidik mendengar suara rendah Luca dan napas hangatnya yang menyapu kulit lehernya. Ia segera melepaskan pelukan Luca, lalu berbalik dengan kedua tangan di pinggang dan berkata dengan nada mengancam.“Ingat ya, jangan menggunakan cara kotor. Kalau kau sampai melakukannya, aku tidak akan mau menjadi temanmu lagi.”Luca tersenyum tertahan. “Apa yang kamu pikirkan, sayang? Aku memang ingin sesuatu yang berbeda malam ini.”Bella memutar bola matanya malas mendengar panggilan sayang dari Luca. Meski hatinya sempat tergelitik senang, ia segera menepisnya. Dalam hati ia berkata, bagaimana bisa aku tergoda hanya dengan satu panggilan itu.“Siapa yang kau panggil sayang? Aku tanya, mau teh atau kopi?” tanya Bella dengan galak.Luca meletakkan kedua tangannya di sisi Bella, memerangkap tubuh mungil gadis itu di antara meja dapur dan tubuh tegapnya.Dengan senyum menggoda di wajahnya, ia berkata dengan yakin. “Sudah kubilang kalau aku ingin sesuatu yang berbeda.”Bella meletakkan

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 125 Provokasi.

    Giovanni dengan jelas mendengar suara batuk seorang pria. Suaranya langsung berubah berat saat bertanya pada putrinya, tatapannya tajam seolah mencari celah.“Bella, suara siapa itu?”Mendengar nada penuh selidik dari ayahnya, Bella berusaha tetap tenang.“Itu... suara tetangga. Dia barusan lewat. Ayah tahu sendiri bagaimana lingkungan di sini.”Giovanni tampak tidak percaya. “Pintu rumahmu jaraknya cukup jauh dari jalan umum, dan kau sedang berada di dekat dapur. Tidak mungkin suaranya sejelas itu, yang menandakan kalau orang itu ada di dekatmu.”Bella tetap mengelak. “Tidak ada, Ayah. Di sini memang lagi sepi, jadi suara sekecil apa pun pasti terdengar jelas.”Giovanni memperhatikan wajah Bella yang tersenyum polos. Meski masih ragu, ia tidak melanjutkan pertanyaan itu dan kembali membahas Steve.“Jadi bagaimana menurutmu Tuan Steve itu? Barna bercerita kalau putranya sangat baik dan sukses, tapi dia sudah punya anak. Bukan berarti Ayah melarang karena dia punya anak, tapi Ayah ingi

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 124 Lamaran pernikahan.

    Giovanni dengan tenang bertanya, “Pasti perempuan itu sangat hebat sampai bisa memikat hati putra Anda yang selama empat tahun ini setia pada almarhum istrinya.”Tuan Barna tertawa kecil, lalu dengan senyum canggung ia menatap Giovanni dan berkata jujur, “Tuan Wali Kota, saya ingin bertanya... apakah Anda memiliki seorang putri bernama Bella DeLuca?”Giovanni hanya tersenyum tipis dan bertanya santai, “Mengapa Tuan Barna tiba-tiba bertanya? Bisa langsung sampaikan apa yang ingin Anda katakan.”“Begini, Tuan Wali Kota, saya pun tidak menyangka. Tapi namanya anak muda, menyukai seseorang... apalagi keduanya sama-sama lajang, mungkin bisa kita coba mendekatkan mereka,” kata Barna.Giovanni masih berpura-pura tidak mengerti maksudnya dan kembali mengulang pertanyaannya, “Apa maksud Anda, Tuan Barna? Silakan katakan langsung.”Barna merasa sudah cukup berbasa-basi. Ia pun berkata terus terang, “Jadi begini, putra saya menyukai seorang guru bernama Bella DeLuca. Awalnya saya mengira dia per

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 123 Pembicaraan Barna dan Giovanni.

    Bella kemudian mengetik pesan untuk Chiara.Bella: Aku ingin memberitahu sesuatu, tapi kamu jangan terkejut, ya.Tanda tanya besar langsung muncul di benak Chiara setelah membaca pesan itu.Chiara: ???Bella: Hari ini tiba-tiba Luca melamarku. Dia melakukannya dengan sikap biasa, tanpa kesan romantis sama sekali. Kau tahu bagaimana sikap Luca terhadapku selama ini. Dia bilang dia jatuh cinta pada pandangan pertama denganku.Bella: Bagaimana menurutmu?Tidak sampai satu menit, Chiara langsung menelepon. Bella sempat diam sesaat sebelum mengangkat panggilan itu, tetapi akhirnya ia menerimanya.“Halo?”Bella mendengar Chiara seperti bergumam di seberang sana.“T-tenang... jangan terburu-buru... tanya pelan-pelan... pakai kalimat yang baik....”Terdengar suara Chiara menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Setelah itu, barulah ia berbicara dengan lebih tenang.“Bella... apa yang kamu tulis itu benar?”Bella mengangguk kecil, meski tidak terlihat. “Umm... iya.”“Sejak kapan k

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 122 Keadaan menjadi canggung.

    “Apa?” refleks Adrian bersuara.Bella pun tak kalah terkejut. Ia menatap Luca dengan tidak percaya. Ekspresi pria itu tetap tenang, tidak terlihat sedikit pun tanda bercanda.“Kau serius?” tanya Adrian. Tatapannya lalu beralih pada Bella, seolah meminta penjelasan.“Menikah...” gumam Bella pelan.Melihat Bella juga tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Luca.Adrian kembali menatap pria itu. “Jangan main-main. Aku bertanya serius.”Luca menggeleng pelan. “Saya juga serius. Saya mengatakan ingin menikahi Bella. Tadi sore, saya sempat melamarnya, tapi dia tidak percaya.”Adrian langsung menoleh ke arah Bella yang masih syok. Ia mencoba membaca ekspresi gadis itu.Bella sendiri tidak tahu harus berpikir apa. Apakah ini hanya cara Luca untuk mengalihkan pembicaraan? Tapi... kalau hanya untuk itu, bukankah ini terlalu berlebihan?Luca menatap Bella dengan senyum puas. “Bukankah begitu, Nona Bella? Tadi sore saya mengatakan, jika kamu mau menjadi pendampingku, maka semua h

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 121 Karena aku ingin...

    Adrian baru saja parkir di halaman dan keluar dari mobil ketika mendengar seseorang memanggilnya. Ia melihat Nenek Sophia berdiri di depan gerbang dan menyuruhnya mendekat.“Adrian, kemari sebentar,” panggil Nenek Sophia. Suaranya cukup pelan, dan matanya sesekali melirik ke rumah Bella.Adrian merasa ada sesuatu yang janggal. “Nenek Sophia, ini sudah hampir gelap. Ada apa?”Nenek Sophia menunjuk mobil sedan hitam yang parkir di depan rumah Bella. “Saya tadi melihat Bella pulang bersama seorang pria yang sebelumnya pernah aku ceritakan. Sepertinya dia masih di rumahnya. Apa pria itu kekasih Bella?”“Kekasih?” ulang Adrian, suaranya terdengar terkejut.Melihat Nenek Sophia yang semakin penasaran, Adrian segera menenangkan diri. “Jadi yang dimaksud Nenek Sophia pria itu... sepertinya begitu. Saya kira orang yang datang sebelumnya hanya pria asing. Tenang saja, Nek. Kami saling mengenal.”Nenek Sophia mengangguk, terlihat lega. “Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya jarang melihat Bella ber

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 77 Nomor Handphone.

    Klinik di kapal pesiar itu cukup luas dan tertata rapi. Beberapa alat medis modern tersusun di sepanjang dinding, lengkap dengan tempat tidur pasien, lemari obat, serta lampu pemeriksaan yang terang menggantung di atas meja medis.Begitu mereka sampai di sana, Adrian dan Matteo langsung mengambil a

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 76 Kembali ke kapal.

    Chiara perlahan melepaskan pelukannya, matanya langsung memindai Bella dari atas hingga ke bawah.Ia memperhatikan dari atas sampai bawah, memastikan sahabatnya benar-benar baik-baik saja.Secara keseluruhan Bella memang terlihat baik-baik saja. Tidak ada luka sama sekali.Namun Chiara menyadari wa

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 75 Lambaian tangan.

    "Aku akan memberimu kompensasi saat kita kembali nanti."Setelah mengatakan itu, Luca kembali melanjutkan langkahnya menyusuri bibir pantai.Bella yang mendengarnya langsung mempercepat langkah hingga kembali berjalan sejajar dengannya. Ia menoleh dengan wajah penuh rasa ingin tahu."Kompensasi apa

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 74 SOS.

    Bella kemudian teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah Luca, lalu menunjuk ke sudut gua tempat beberapa pakaian dijemur di atas ranting yang disusun sederhana."Terima kasih untuk pakaian yang kau pinjamkan padaku," katanya pelan. "Aku sebenarnya berniat mencucinya dulu sebelum mengembalikannya padamu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status