Share

Bab 10

Author: SanASya
last update Last Updated: 2025-12-19 12:23:45

Kakek Ruggero dari tempat duduknya pun melihatnya tadi. Ini pertama kalinya sejak ia membawa Shin waktu kecil, senyum yang terlihat manusiawi itu muncul. Meski sekilas tapi nyata. Sebuah kilatan singkat, bukan kejam, bukan sinis, melainkan hangat.

'Apa itu benar? Atau aku hanya mulai terlalu tua hingga berhalusinasi?' Kakek Ruggero ragu dengan penglihatannya sendiri.

Shin dengan cepat kembali ke tampilan normal, datar tanpa ekspresi. Menatap Matteo dengan mata menyipit. "Apa yang aku pikirkan, apa urusannya denganmu?"

Ia tidak terlalu suka ditatap intens. Jika itu musuhnya, jangan harap bisa melihat lagi selama sisa hidupnya. Meski risih, dia hanya menampakkan wajah keberatan.

"Tapi... Kau tersenyum tadi. Itu... Senyum yang aneh untukmu." Matteo berkata jujur.

Shin membelai senjata di pangkuannya. "Kau benar-benar ingin merasakan kakimu berlubang?"

Matteo hampir saja berjingkat mundur, tapi dia ingat ada kakek Ruggero yang sedari tadi memperhatikan.

"Kakek, kau lihat bagaimana Shin te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 47 Mengajak bermain.

    Bella tertegun sesaat ketika melihat Luca keluar dari halaman vila nomor tujuh. Pria itu mengenakan pakaian santai khas pantai, kemeja tipis berwarna netral dengan lengan digulung santai, celana pendek, dan sandal. Di sampingnya berjalan pria yang sama seperti kemarin, Matteo, dengan aura yang jauh lebih ceria.Tatapan Bella dan Luca sempat bertemu beberapa detik. Cukup lama untuk membuat Bella sadar dirinya sedang diperhatikan. Ia segera tersenyum lembut dan menyapa lebih dulu."Selamat pagi, Tuan Luca."Luca berhenti melangkah dan membalas senyum itu, tenang dan sopan. "Selamat pagi, Nona Bella."Chiara dan Adrian saling bertukar pandang singkat, ragu mau menyapa atau tidak. Tapi kemudian ikut menyapa."Pagi," kata Chiara singkat namun ramah."Selamat pagi," tambah Adrian dengan nada biasa.Luca mengangguk pada keduanya. "Selamat pagi. Senang bertemu lagi."Berbeda dengan Luca, Matteo langsung melangkah setengah langkah ke depan dengan senyum lebar. "Pagi! Wah, kelihatannya kita sem

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 46 Ragu-ragu.

    Pagi itu, resort diselimuti cahaya matahari lembut. Bella, Chiara, dan Adrian bangun lebih awal dari biasanya, tubuh mereka terasa segar setelah istirahat semalam. Wajah-wajah yang sempat lelah kini terlihat cerah, penuh semangat untuk mengisi hari liburan.Mereka sarapan di restoran yang sama dengan menu berbeda. Suasananya jauh lebih tenang dengan aroma kopi dan roti panggang, belum banyak juga tamu resort yang datang. Menu sarapan berupa buah segar, telur hangat, dan roti yang baru keluar dari oven."Hoam~ Sarapan pagi begini rasanya mahal," celetuk Adrian sambil meminum kopinya. Ia sebenarnya masih ingin tidur, tapi mengingat Chiara sudah menetapkan jadwal pagi ini... ia terpaksa bangun.Bella terkekeh kecil. "Nikmati saja. Kita jarang bangun sepagi ini saat liburan."Chiara yang bersemangat masih ingin sedikit mengejek Adrian. "Kamu kan dokter, bangun pagi harusnya hal yang wajar. Bukankah bangun pagi adalah kebiasaan yang sehat?"Adrian meliriknya dan mengangguk setuju."Itu ben

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 45 Hanya lewat dan menyapa.

    Bella mengerjap pelan, ekspresinya kembali tenang seperti semula, senyum lembut terukir tanpa kesan gugup."Bukankah Tuan Luca sudah bersama teman Anda?" ujarnya santai. "Kalian pasti punya rencana liburan sendiri. Saya tidak yakin Anda akan menikmati rencana liburan kami."Penolakan halus itu hampir terdengar seperti basa-basi sopan. Di balik ketenangannya, Bella teringat jelas peringatan Adrian dan Chiara—jangan mudah terbawa suasana, apalagi dengan pria yang belum benar-benar dikenal. Sesaat sebelumnya ia memang sempat terpesona, ucapan Luca yang langsung dan senyum samar yang membuatnya tampak semakin menarik membuatnya seakan terhipnotis. Namun logikanya segera membuatnya sadar.Luca mendengarkan tanpa memotong. Alih-alih menunjukkan kekecewaan, ia justru kembali tersenyum dan tertawa pelan. Tawanya ringan, tulus, seolah benar-benar menikmati jawaban Bella.Bella membeku sepersekian detik. Alisnya berkerut tipis, bingung dengan reaksinya. Kenapa dia tertawa? pikirnya, semakin sul

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 44 Mengajak Liburan Bersama.

    Luca sudah memastikan keadaan Bella baik-baik saja. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia memutar badan, bersiap kembali ke tempatnya semula.Refleks, Bella bangkit dari kursinya. "Tu-tunggu," ucapnya spontan.Tangannya terulur dan meraih lengan Luca untuk menahannya. Begitu jemarinya melingkar di sana, Bella langsung merasakan sesuatu yang tidak ia duga. tot yang padat dan hangat di balik kemeja, ada kekuatan nyata di sana yang terlatih dan kokoh.Sekilas, pikirannya melayang tanpa izin. 'Meski seorang pebisnis tapi sepertinya pria ini rajin berolah raga sampai punya lengan sekuat ini...,' gumamnya dalam hati, sedikit terkejut dengan kesan itu.Luca berhenti melangkah. Ia menoleh setengah badan, alisnya terangkat tipis."Ada apa?" tanyanya langsung.Tatapannya turun, tertuju pada tangan mungil yang masih mencengkeram lengannya. Ia tidak merasa risih, tidak menepis, menunggu apa yang ingin dikatakan gadis itu sampai menghentikannya.Bella mengikuti arah pandang itu dan seketika tersadar, waj

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 43 Diganggu.

    Begitu melangkah masuk, dentuman musik langsung menghantam telinga. Lampu warna-warni berdenyut mengikuti irama dan tubuh-tubuh yang bergerak rapat di lantai dansa. Udara dipenuhi campuran aroma parfum mahal, dan alkohol. Untuk berbicara, mereka harus mendekat dan meninggikan suara.Chiara langsung tertarik. Matanya berbinar, bahunya ikut bergoyang mengikuti beat musik. Ia menoleh ke Bella dan Adrian, lalu berseru sambil tertawa, suaranya hampir tenggelam dalam dentuman bass."Sudah lama kita tidak bersenang-senang di klub malam! Ayo, nikmati pestanya!"Tanpa menunggu jawaban, Chiara menarik lengan Adrian dan menyeretnya masuk ke tengah kerumunan. Adrian sempat tertawa kecil, pasrah ikut bergoyang, tubuhnya kaku di awal tapi perlahan mengikuti irama, disambut sorakan ringan dari para tamu di sekitarnya.Bella berjalan di belakang mereka, sedikit lebih lambat dan melihat sekitar hati-hati. Ia mendekat dan mengingatkan dengan nada tegas meski harus berteriak, "hanya sampai tengah malam,

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 42 Klub malam.

    Percakapan di bar itu perlahan berubah lebih serius ketika Matteo akhirnya mengajukan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal pikirannya. Alasan sebenarnya Shin menaruh perhatian pada Bella."Jadi," ucapnya santai namun tajam, "kenapa kamu menargetkan Bella?"Sorot lampu temaram memantul di gelas minuman mereka, sementara suara musik menjadi latar yang nyaris tenggelam."Kau penasaran, bukan, siapa yang menolongku waktu itu?" tanya Shin tenang.Tangan Matteo yang hampir mengangkat gelasnya terhenti di tengah jalan. Ia menoleh, menatap Shin dengan ekspresi yang sudah menduga jawabannya."Nona DeLuca ini yang menolongmu?"Shin mengangguk singkat. "Hm. Dia yang menolongku dan membawaku ke rumahnya. Lalu pria berkacamata itu yang mengobati lukaku."Matteo langsung paham. "Putra kedua dokter Giuseppe Moretti, dokter pribadi wali kota."Ia mengangguk pelan. "Tak heran lukamu cepat pulih. Kamu ditangani keluarga dokter terbaik di kota ini."Sebagai sesama orang yang berasal dari keluarga medis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status