로그인Bella tidak terlihat terkejut. Justru, ia merasa lega karena langsung bertemu dengan pemilik kafe yang katanya mengetahui banyak hal tentang Kota Blackstone.“Karena kamu adalah pemilik kafe ini, bisakah kamu memberikan informasi yang berguna untukku?” tanya Bella.“Tentu saja, cantik. Aku tidak pernah beromong kosong dengan kata-kataku sendiri,” jawab perempuan itu santai. “Apa yang ingin kamu ketahui? Tanyakan saja. Tapi kau tahu, jika informasinya cukup penting, maka harganya tidak akan murah.”Bella akhirnya paham bahwa tempat ini juga menjual informasi. Ia memikirkan posisi pemimpin kelompok Red Line, tentu informasi tentangnya sangat penting. Bella sedikit mendekat. Pemilik kafe itu mengerti bahwa Bella ingin membicarakan sesuatu yang rahasia, sehingga ia ikut mendekat.Bella bertanya pelan, “Bagaimana cara bertemu dengan Shin Vitali?”Pemilik kafe itu menatap Bella beberapa saat. Menghadapi tatapannya penuh rasa curiga dan selidik, Bella tetap tenang.Pemilik kafe memberitahu,
Setelah dua jam perjalanan, mobil Bella akhirnya memasuki kota Blackstone. Ia mengikuti petunjuk navigasi di mobil menuju pusat kota. Suasana di sekitarnya perlahan berubah. Dari yang tadinya hanya rumah-rumah pemukiman penduduk, kini berganti dengan bangunan-bangunan tinggi berupa apartemen, hotel, dan gedung bisnis.Bella sempat membayangkan kota ini sebagai kota yang suram. Mengingat sebagian besar wilayahnya dikuasai kelompok mafia, ia berpikir perkelahian di jalanan pasti menjadi hal biasa. Dan ternyata memang seperti itu.Saat ini Bella melihat lima orang sedang bertengkar di pinggir jalan, sementara orang-orang di sekitar mereka sama sekali tidak berniat melerai. Tidak lama kemudian, seorang karyawan toko mendekati mereka dan menegur para pria itu.Bella bisa menebak bahwa karyawan tersebut menegur mereka bukan karena perkelahiannya, melainkan karena mereka bertengkar di depan toko dan mengganggu bisnisnya.Itu hanyalah satu dari sekian ban
Di kediaman DeLuca, Bella melakukan aktivitasnya seperti biasa. Saat ini ia sedang menikmati camilan ditemani Kepala Pelayan Luis dan Luina yang asyik bercerita. Pelayan yang usianya dua tahun lebih tua darinya itu tidak lagi terlihat sedih seperti saat Bella pulang sore tadi.Luina juga mendengar insiden yang terjadi di rumah kecil Bella. Saking paniknya, dia sampai mengajak Kepala Pelayan Luis pergi ke San Felice untuk menolong Bella. Kepanikannya sedikit reda ketika mendengar kabar dari salah satu pengawal bahwa Bella baik-baik saja dan tidak terluka sama sekali.Dan sejak Bella sampai di rumah, Luina sama sekali tidak berhenti memperhatikannya dan memastikan keadaannya baik-baik saja. Bella sempat menegurnya sekali karena sikap protektif Luina, tetapi ia tidak merasa risih dengan perhatian tulus itu. Meski sudah ditegur dan tidak dihiraukan, Bella akhirnya membiarkan pelayan pribadinya terus menjaganya di rumah.Jam sudah menunjukkan pukul 22.30 malam, tetapi Bella masih berkutat
Bella menoleh ketika Chiara bertanya padanya.“Sebenarnya... hari ini aku berencana menemui Tuan Luca dan meminta bantuannya.”“Bantuan apa?” tanya Chiara.“Aku ingin meminta dia berbicara dengan pemimpin kelompok Red Line. Mengingat kejadian sebelumnya saat kelompok Cross Broke begitu ketakutan hanya karena melihat cincin yang dititipkan Tuan Luca, kupikir dia bisa membantu sedikit berbicara dengan kelompok itu,” jelas Bella.“Lalu bagaimana tanggapan Tuan Luca?” tanya Chiara. Adrian pun ikut penasaran.Bella menggeleng.“Dia menolak?” Adrian memastikan.“Aku belum memberitahu Tuan Luca. Tapi setelah melihat kondisi para pemuda di desa... aku jadi ragu meminta bantuannya. Aku tidak mau melibatkan dia dalam masalah ini,” jawab Bella.“Kenapa? Aku yakin keduanya memiliki hubungan keluarga,” kata Adrian yakin.Bella melirik sekilas kedua sahabatnya lalu menjawab, “Belum tentu. Bukankah kelompok itu mungkin menginginkan imbalan untuk bantuan ini? Dan lagi... bernegosiasi dengan kelompok
Dalam perjalanan, Bella menghubungi Kepala Sekolah Helena. Ia menceritakan situasi yang baru saja dialaminya secara singkat dan mengajukan cuti sampai keadaan kembali tenang.Kepala Sekolah Helena memahami keadaan Bella. Ia tentu saja mengizinkannya tanpa banyak bertanya soal lamanya cuti. Kepala sekolah juga berencana meliburkan sekolah untuk sementara karena situasi masih belum cukup terkendali.Suasana ruang kerja Giovanni di kediaman DeLuca tampak kaku. Bella, Chiara, dan Adrian diundang untuk ikut memberi saran mengenai pendapat Giovanni. Ia memang sengaja memanggil ketiganya karena tahu mereka diam-diam ikut membantu mengatasi kerusuhan di kota saat ini.Giovanni kemudian mengemukakan idenya.“Ayah berencana menghubungi Wali Kota Blackstone agar mereka mengatur warganya yang bersembunyi di kota ini. Bagaimanapun juga, ini tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Menurut kalian bagaimana?” tanyanya.Paman Sergio menjelaskan, “Kami sudah membicarakan soal negosiasi dengan pemimpin mere
Sederet mobil sedan mengilap parkir dengan halus di halaman aula desa. Beberapa warga yang berada di halaman rumah masing-masing menatap penasaran ke arah enam kendaraan itu. Tidak lama kemudian, sosok Chiara turun tergesa-gesa. Jas kerjanya tampak berantakan, begitu juga rambut sebahunya yang sebagian terlepas dari ikatan.Para warga yang sudah mengenalnya tahu alasan gadis itu tampak begitu panik. Tak lama setelahnya, seorang pria paruh baya ikut turun dari mobil dengan penampilan yang jauh dari rapi dan berwibawa seperti biasanya. Para warga pun berbondong-bondong mendatangi aula desa untuk melihat walikota yang datang dikawal Komandan Lombardi dan para pengawal. Mereka tidak berani masuk karena merasa segan pada sosok yang sering mereka lihat di televisi maupun surat kabar itu.Bella yang sedang membantu Adrian segera menoleh ketika mendengar suara deru mobil berhenti di depan aula. Sebelum ia sempat keluar, Chiara sudah lebih dulu masuk sambil menoleh cepat ke kanan dan kiri. Mel
Tok ... Tok ... Tok ...Tiga kali ketukan di pintu membuat Luca yang sedang mendengar laporan dari bawahannya lewat video call mengangkat tangan untuk menghentikan ucapannya. Wajahnya sedari tadi memperhatikan rangkaian bunga mawar putih dan merah di dalam vas yang diletakkan di atas meja samping t
Dua hari sudah Bella tinggal di rumah, kegiatannya itu-itu saja dan hanya sekali dia pergi ke luar untuk membeli sesuatu. Dengan pengawalan lengkap, meski tidak terlalu mencolok, tetap saja membuat Bella tidak bisa berbaur seperti warga biasa lainnya. Ia pun lebih memilih menghabiskan waktu di ruma
Chiara melempar sepotong kecil camilan ke dalam mulutnya, "kesulitannya bisnis itu didirikan sesuai prosedur tanpa ada kesalahan hukum yang bisa menjeratnya, selain itu tidak hanya satu kelompok yang membuka bisnis disini. Kemungkinan ada banyak bisnis yang tidak diketahui pemiliknya.""Kenapa mere
Tepat jam 10.00, Bella dengan sendirinya bangun. Ia menatap ruangan familiar itu dengan linglung, mencoba mengingat malam sebelumnya. Ia pun ingat kenapa bisa tidur di kamarnya di kediaman DeLuca.Melihat jam dinding di atas meja belajar, ia kembali menghempaskan kepalanya ke bantal. Ia bangun kesi







