Beranda / Mafia / Nona Incaran Ketua Mafia / Bab 77 Nomor Handphone.

Share

Bab 77 Nomor Handphone.

Penulis: SanASya
last update Tanggal publikasi: 2026-03-13 21:24:54

Klinik di kapal pesiar itu cukup luas dan tertata rapi. Beberapa alat medis modern tersusun di sepanjang dinding, lengkap dengan tempat tidur pasien, lemari obat, serta lampu pemeriksaan yang terang menggantung di atas meja medis.

Begitu mereka sampai di sana, Adrian dan Matteo langsung mengambil alih pemeriksaan.

"Kau duduk di sini," kata Adrian kepada Bella sambil menunjuk salah satu tempat tidur pemeriksaan.

Bella menurut tanpa banyak protes. Ia duduk dengan tenang di tepi ranjang, sementara
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
ayusriwahyuni2012
Bagus dan jangan terlalu lama untuk membuat lanjutan nya karena sudah terlalu penasaran
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 165 Pelajaran yang tak terlupakan.

    Sebelum situasi kacau dalam kota Whitesand memuncak seperti ini, Chiara sebenarnya masih disibukkan oleh berbagai berkas kasus di kantor kejaksaan. Namun, begitu mendengar kabar bahwa kelompok penyerang yang selama ini tengah mereka buru tiba-tiba melancarkan aksi brutal di pusat kota, ia tidak bisa tinggal diam. Gadis itu langsung turun tangan ke lapangan, ikut memimpin proses evakuasi warga sipil yang terjebak di tengah kekacauan. Bahkan, di tengah kepungan bahaya, Chiara tidak ragu untuk maju dan melawan beberapa penyerang demi melindungi orang-orang yang ketakutan di depan matanya.Tidak lama setelah ketegangan di pusat kota sedikit mereda, Chiara menerima panggilan darurat dari Adrian yang mengabarkan bahwa Wali Kota telah terluka. Tanpa membuang waktu, ia segera memacu kendaraannya menuju kantor pemerintahan. Setibanya di sana, ia mendapati pasukan keamanan telah membersihkan area tersebut dari sekelompok penyerang yang sempat menyerbu masuk.Setelah mendengar keseluruhan cerita

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 164 Balasan yang mematikan.

    Sementara itu, keadaan di kota Whitesand pascapenyerangan siang tadi tampak begitu memprihatinkan. Entah berapa banyak kerugian material yang harus ditanggung oleh pemerintah dan warga setempat, karena jejak-jejak kerusakan parah terlihat jelas membentang di sepanjang jalan utama pusat kota."Hmph! Giovanni DeLuca memang pantas mendapatkan semua ini! Dia terlalu sombong hingga berani mengusik hewan buas yang sedang tertidur nyaman. Sekarang lihat, apa yang bisa dia lakukan untuk mengembalikan kedamaian kota ini? Tunggu saja sampai masyarakat mengamuk dan melengserkannya secara paksa dari jabatan Wali Kota!"Seorang pria paruh baya terus mengomel tanpa henti di sepanjang jalan menuju kediaman pribadinya. Dari balik kaca jendela mobil yang melaju, matanya menatap tajam kondisi pusat kota yang masih porak-poranda. Di beberapa titik, kepulan asap hitam masih terlihat membubung ke langit, sisa-sisa kebakaran yang disengaja oleh kelompok penyerang tersebut.Di sebelahnya, seorang pria paruh

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 163 Kesal padanya.

    Shin menghentikan langkahnya untuk menyapa kedua pria di hadapan mereka. "Kakek, Paman Silvestri."Kakek Ruggero mengangguk singkat, suaranya yang berat bergaung pelan. "Kau sudah pulang."Sementara itu, pria paruh baya yang dipanggil Paman Silvestri menyahut dengan nada suara yang terdengar ramah. "Shin, lama tidak bertemu. Kudengar kau sedang sangat sibuk dengan bisnis-bisnismu belakangan ini."Shin merespons dengan ekspresi wajah yang serius, mempertahankan wibawa profesionalnya seperti biasa. "Begitulah. Bisnis sedang berkembang pesat, jadi aku jarang memiliki waktu untuk pulang ke rumah."Paman Silvestri menghela nafas dan mengeluh, "Matteo juga sama, dia sedang sibuk di laboratorium sampai belum pulang sebulan ini. Entah apa yang sedang dia teliti."Kakek Ruggero membalas, "anak muda memang lebih banyak punya ide dan rencana, itu lebih baik daripada dia menganggur dan tidak melakukan apa-apa."Setelah percakapan singkat itu, keheningan melanda sesaat ketika perhatian Kakek Rugge

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 162 Dua sosok asing.

    Setelah seluruh urusan negosiasi selesai, Bella kembali meminta Shin untuk membukakan kunci pintu ruangannya. Namun, Shin tampaknya masih merasa enggan untuk membiarkannya pergi begitu saja.Pria itu bahkan melayangkan pertanyaan dengan nada menggoda, "apakah kau sama sekali tidak merindukanku? Kau bahkan belum memberikan satu pelukan pun sebagai tanda kerinduan."Bella memutar bola matanya dengan malas. Dengan tanpa beban, ia menjawab, "Aku sama sekali tidak merindukanmu, Shin. Lagipula, bukankah ini adalah perkenalan awal kita?"Mendengar jawaban itu, Shin langsung tahu bahwa Bella masih sangat mempermasalahkan kebohongan yang telah ia lakukan. Pria itu menyadari bahwa perempuan di hadapannya ini agak pendendam. Dibohongi selama hampir setengah tahun tentu saja membuat Bella merasa dirugikan, meskipun pada kenyataannya ia tidak kehilangan apa pun selama ini.Bukannya menjauh, Shin justru segera menghampiri Bella yang masih berdiri di depan meja kerja besar tersebut. Sebelum Bella se

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 161 Oknum-oknum mencurigakan.

    Setelah panggilan dari Paman Sergio berakhir, Bella tidak memiliki waktu lagi untuk ragu. Keputusannya sudah bulat untuk meminta bantuan Shin demi menyelamatkan kota Whitesand.“Karena aku meminta bantuanmu, apa yang kau inginkan sebagai balasannya?” Bella bertanya dengan nada yang sudah kembali tenang, sepasang matanya menatap Shin dengan keseriusan.“Imbalan, ya...,” Shin tersenyum tipis, binar matanya mengunci tatapan Bella. “Kau pasti tahu apa yang kuinginkan.”Bella tidak langsung mengerti pada awalnya. Namun, sedetik kemudian, sebuah pemikiran mengerikan melintas di benaknya, membuat napasnya tertahan.“Kau...,” Bella tidak mampu melanjutkan ucapannya. Dalam benaknya, ia berharap apa yang tengah ia duga adalah sebuah kekeliruan.Shin mengangkat satu alisnya, menikmati perubahan ekspresi wanita di hadapannya. “Ya, Bella. Aku tahu kau adalah wanita yang cerdas. Selain menjadi penguasa di kota ini, menurutmu... untuk apa aku mulai melebarkan sayap bisnisku ke kota Whitesand?”Tanga

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 160 Menghadapi kelompok penyerang.

    Dengan tangan yang sedikit gemetar, Bella menggeser layar ponselnya untuk menerima panggilan tersebut. "Halo, Paman Sergio?"Baru saja sapaan itu keluar dari bibirnya, suara panik Paman Sergio di seberang sana langsung memotong dan menyampaikan inti masalah tanpa basa-basi. "Bella, keadaan memburuk! Kelompok penyerang itu kembali berulah. Kali ini, sasaran mereka bukan lagi pinggiran kota, melainkan toko-toko dan pusat bisnis masyarakat di jantung kota Whitesand!"Napas Bella tercekat mendengar penuturan sang Wakil Walikota.Paman Sergio terus berbicara dengan nada tergesa-gesa, menggambarkan situasi mengerikan yang sedang terjadi. Kerusakan di pusat kota sangat parah. Dalam waktu singkat, korban berjatuhan begitu banyak. Para penyerang bertindak brutal tanpa pandang bulu, melukai siapa saja yang mereka temui di jalanan."Untungnya, pasukan keamanan segera bertindak," lanjut Paman Sergio, napasnya terdengar memburu.Kali ini Chiara yang memegang kendali penuh di lapangan. Dia tidak la

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 66 Melawan ombak lautan.

    Kembang api raksasa meletus, memecah langit malam menjadi serpihan cahaya berwarna. Emas, merah, biru, ungu, semuanya berjatuhan seperti hujan bintang. Dek utama dipenuhi sorak kagum para penonton yang larut dalam kemegahan pertunjukan yang berlangsung hampir satu jam itu."Luar biasa!""Seperti fe

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 63 Manakah dirinya yang sebenarnya?

    Sisa asap mesiu masih tersebar di udara. Langkah kaki yang teratur diikuti bayangan Shin tampak di dinding baja, perlahan sosoknya yang rupawan terlihat jelas."Kesepakatan apa yang bisa kau tawarkan dalam situasi saat ini?" tanya Shin, suaranya berat dan tenang.Maggio menyeringai tipis, menyembun

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 62 Kesepakatan Bersama.

    Suara tembakan menggema keras di dalam dek sekoci yang luas dan dingin. Bau mesiu bercampur dengan aroma laut dari luar memenuhi udara. Percikan api sesekali muncul ketika peluru menghantam dinding baja kapal.Dalam adu tembak itu, Maggio masih bersembunyi di balik tumpukan peti logistik, menunggu

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 61 Kamera cctv.

    Hari sudah mencapai malam, langit diluar mulai gelap. Senja di sore hari sangat indah, pemandangan matahari terbenam memukau banyak penumpang yang sedang menikmati makan malam atau waktu santai di kapal. Lampu-lampu kapal mulai menyala satu per satu. Tiba-tiba, suara lembut resepsionis perempuan m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status