เข้าสู่ระบบKelompok penyerang kembali memasuki pusat kota. Begitu turun dari kendaraan, mereka langsung menargetkan tempat-tempat yang belum mereka sentuh sebelumnya. Karena masyarakat sudah diimbau untuk tetap berada di dalam rumah dan mengunci pintu, keadaan sekitar terasa cukup sepi. Melihat hal itu, para pemimpin kelompok mafia segera memberi perintah pada bawahannya untuk menghancurkan pintu atau jendela, lalu menarik paksa keluar para penghuni di dalamnya.Namun, sebelum kelompok penyerang itu sempat melukai warga yang berhasil mereka tarik, deru langkah kaki yang berirama konstan seketika bergema di sepanjang jalan. Sekelompok pasukan keamanan yang mengenakan pakaian tempur berwarna hitam lengkap dengan rompi antipeluru dan senjata taktis di tangan masing-masing, mendadak bergerak masuk ke area konflik.Kelompok penyerang sempat tertegun menyaksikan pasukan keamanan kota yang biasanya pasif, kini justru datang dengan kecepatan yang sangat luar biasa. Hilang ketertarikan pada calon korban
Sebelum situasi kacau dalam kota Whitesand memuncak seperti ini, Chiara sebenarnya masih disibukkan oleh berbagai berkas kasus di kantor kejaksaan. Namun, begitu mendengar kabar bahwa kelompok penyerang yang selama ini tengah mereka buru tiba-tiba melancarkan aksi brutal di pusat kota, ia tidak bisa tinggal diam. Gadis itu langsung turun tangan ke lapangan, ikut memimpin proses evakuasi warga sipil yang terjebak di tengah kekacauan. Bahkan, di tengah kepungan bahaya, Chiara tidak ragu untuk maju dan melawan beberapa penyerang demi melindungi orang-orang yang ketakutan di depan matanya.Tidak lama setelah ketegangan di pusat kota sedikit mereda, Chiara menerima panggilan darurat dari Adrian yang mengabarkan bahwa Wali Kota telah terluka. Tanpa membuang waktu, ia segera memacu kendaraannya menuju kantor pemerintahan. Setibanya di sana, ia mendapati pasukan keamanan telah membersihkan area tersebut dari sekelompok penyerang yang sempat menyerbu masuk.Setelah mendengar keseluruhan cerita
Sementara itu, keadaan di kota Whitesand pascapenyerangan siang tadi tampak begitu memprihatinkan. Entah berapa banyak kerugian material yang harus ditanggung oleh pemerintah dan warga setempat, karena jejak-jejak kerusakan parah terlihat jelas membentang di sepanjang jalan utama pusat kota."Hmph! Giovanni DeLuca memang pantas mendapatkan semua ini! Dia terlalu sombong hingga berani mengusik hewan buas yang sedang tertidur nyaman. Sekarang lihat, apa yang bisa dia lakukan untuk mengembalikan kedamaian kota ini? Tunggu saja sampai masyarakat mengamuk dan melengserkannya secara paksa dari jabatan Wali Kota!"Seorang pria paruh baya terus mengomel tanpa henti di sepanjang jalan menuju kediaman pribadinya. Dari balik kaca jendela mobil yang melaju, matanya menatap tajam kondisi pusat kota yang masih porak-poranda. Di beberapa titik, kepulan asap hitam masih terlihat membubung ke langit, sisa-sisa kebakaran yang disengaja oleh kelompok penyerang tersebut.Di sebelahnya, seorang pria paruh
Shin menghentikan langkahnya untuk menyapa kedua pria di hadapan mereka. "Kakek, Paman Silvestri."Kakek Ruggero mengangguk singkat, suaranya yang berat bergaung pelan. "Kau sudah pulang."Sementara itu, pria paruh baya yang dipanggil Paman Silvestri menyahut dengan nada suara yang terdengar ramah. "Shin, lama tidak bertemu. Kudengar kau sedang sangat sibuk dengan bisnis-bisnismu belakangan ini."Shin merespons dengan ekspresi wajah yang serius, mempertahankan wibawa profesionalnya seperti biasa. "Begitulah. Bisnis sedang berkembang pesat, jadi aku jarang memiliki waktu untuk pulang ke rumah."Paman Silvestri menghela nafas dan mengeluh, "Matteo juga sama, dia sedang sibuk di laboratorium sampai belum pulang sebulan ini. Entah apa yang sedang dia teliti."Kakek Ruggero membalas, "anak muda memang lebih banyak punya ide dan rencana, itu lebih baik daripada dia menganggur dan tidak melakukan apa-apa."Setelah percakapan singkat itu, keheningan melanda sesaat ketika perhatian Kakek Rugge
Setelah seluruh urusan negosiasi selesai, Bella kembali meminta Shin untuk membukakan kunci pintu ruangannya. Namun, Shin tampaknya masih merasa enggan untuk membiarkannya pergi begitu saja.Pria itu bahkan melayangkan pertanyaan dengan nada menggoda, "apakah kau sama sekali tidak merindukanku? Kau bahkan belum memberikan satu pelukan pun sebagai tanda kerinduan."Bella memutar bola matanya dengan malas. Dengan tanpa beban, ia menjawab, "Aku sama sekali tidak merindukanmu, Shin. Lagipula, bukankah ini adalah perkenalan awal kita?"Mendengar jawaban itu, Shin langsung tahu bahwa Bella masih sangat mempermasalahkan kebohongan yang telah ia lakukan. Pria itu menyadari bahwa perempuan di hadapannya ini agak pendendam. Dibohongi selama hampir setengah tahun tentu saja membuat Bella merasa dirugikan, meskipun pada kenyataannya ia tidak kehilangan apa pun selama ini.Bukannya menjauh, Shin justru segera menghampiri Bella yang masih berdiri di depan meja kerja besar tersebut. Sebelum Bella se
Setelah panggilan dari Paman Sergio berakhir, Bella tidak memiliki waktu lagi untuk ragu. Keputusannya sudah bulat untuk meminta bantuan Shin demi menyelamatkan kota Whitesand.“Karena aku meminta bantuanmu, apa yang kau inginkan sebagai balasannya?” Bella bertanya dengan nada yang sudah kembali tenang, sepasang matanya menatap Shin dengan keseriusan.“Imbalan, ya...,” Shin tersenyum tipis, binar matanya mengunci tatapan Bella. “Kau pasti tahu apa yang kuinginkan.”Bella tidak langsung mengerti pada awalnya. Namun, sedetik kemudian, sebuah pemikiran mengerikan melintas di benaknya, membuat napasnya tertahan.“Kau...,” Bella tidak mampu melanjutkan ucapannya. Dalam benaknya, ia berharap apa yang tengah ia duga adalah sebuah kekeliruan.Shin mengangkat satu alisnya, menikmati perubahan ekspresi wanita di hadapannya. “Ya, Bella. Aku tahu kau adalah wanita yang cerdas. Selain menjadi penguasa di kota ini, menurutmu... untuk apa aku mulai melebarkan sayap bisnisku ke kota Whitesand?”Tanga
Percakapan di bar itu perlahan berubah lebih serius ketika Matteo akhirnya mengajukan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal pikirannya. Alasan sebenarnya Shin menaruh perhatian pada Bella."Jadi," ucapnya santai namun tajam, "kenapa kamu menargetkan Bella?"Sorot lampu temaram memantul di gelas min
Bella sama sekali tidak menyangka akan bertemu Luca di tempat ini. Jantungnya sempat berdegup tidak beraturan selama satu detik, lalu ia segera menenangkan diri. Bagaimanapun, resort mewah ini memang bukan tempat asing bagi orang-orang berpengaruh dan kaya, kehadiran Luca di sini masuk akal, meski
Sementara para pelayan membereskan pakaian dan barang bawaan. Chiara mengajak Adrian dan Bella melakukan tur di dalam vila dan halaman. Vila dua lantai itu memiliki fasilitas dan fungsi hampir seperti rumah biasa, ada empat kamar tidur dengan kamar mandi dalam, powder room, ruang tamu, ruang makan,
Bella masih berdiri di dekat sofa ketika pria itu melangkah ke hadapannya. Pria itu tersenyum lebih dulu, senyum yang hangat dan sopan.“Selamat sore, Nona Muda,” sapanya. “Masih ingat saya?”Bella menatapnya lebih saksama, lalu mengangguk. “Tentu saja, kamu Rico, kan?Aku tidak menyangka akan berte







