Masuk"Kalau kau sudah mendapatkan hasilnya, jangan lupa kalau saya juga ambil bagian dalam tujuanmu."Suara berat Marco seketika menarik Bianchi dari lamunannya yang sedang membayangkan cara menguasai seluruh harta kekayaan milik Shin."Tentu saja, saya tidak akan pernah melupakan bantuan Anda, Tuan Marco. Apalagi ke depannya saya masih akan membutuhkan banyak kerja sama dengan Anda," ujar Bianchi dengan senyuman elegan khas bangsawan tua yang dipaksakan."Senang bekerja sama dengan Anda, Tuan Bianchi. Saya mendapatkan keuntungan yang sangat memuaskan dari konspirasi ini.""Kita sama-sama saling menguntungkan dan saling membantu untuk menjatuhkan musuh yang menghalangi jalan kita menuju kesuksesan. Maka dari itu, sebelum Giovanni DeLuca benar-benar turun dari jabatannya, tolong jangan tersinggung jika nantinya saya masih akan meminta bantuan Anda," kata Bianchi."Itu hal yang mudah. Dengan informasi akurat yang Anda berikan selama ini, hal itu juga memudahkan kami untuk menjalankan rencana
Di penjara bawah tanah, Giovanni sudah menunggu kedatangan rombongan Komandan Lombardi yang membawa Shin. Melihat kondisi Luca atau yang sekarang harus ia panggil sebagai Shin, begitu mengenaskan, Giovanni dilingkupi perasaan campur aduk. Meski sekarang di matanya pria muda itu adalah seorang penjahat kelas satu, ia tetap memberikan perintah tegas untuk memanggil dokter pribadi dan mengobatinya. Setidaknya, jangan sampai tahanan yang sudah susah payah ditangkap ini langsung kehilangan nyawa begitu sampai di penjara, tanpa sempat memberikan informasi yang berguna bagi pemerintah.Selama Shin menerima pengobatan medis, Komandan Lombardi melaporkan setiap detail kejadian yang berlangsung saat proses penjemputan di vila perbatasan tadi. Mendengar klaim Bianchi yang mengatakan bahwa kondisi luka-luka Shin sama sekali tidak ada kaitan dengan dirinya, Giovanni mendengus tidak percaya. Justru karena pria tua itu bekerja sama dengan musuh bebuyutan kelompok Shin, proses penangkapan ini dipasti
Bella belum mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Shin, tetapi hatinya terasa kurang nyaman sejak perpisahan mereka semalam. Hari ini ia hampir tidak bisa fokus mengajar, hingga Miss Clara beberapa kali menegurnya. Ia tidak mengerti apa yang membebani pikirannya. Pagi tadi ia sudah menghubungi ayahnya dengan sedikit basa-basi agar tidak menimbulkan kecurigaan, dan ia merasa lega karena sang ayah baik-baik saja. Namun, bayangan wajah Shin yang tersenyum semalam terus muncul di kepalanya. Bella berulang kali menggeleng pelan, menepis pikiran itu dan fokus dengan anak-anak di kelas.Tepat pukul satu siang, pekerjaan Bella akhirnya selesai. Ia baru saja bersiap untuk pulang ketika ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari Chiara.Chiara: Bella, bisa kita bertemu sekarang di pusat kota Whitesand?Chiara: Ada hal penting yang ingin kubicarakan. Kita bertemu di kafe depan gedung kejaksaan.Bella mengernyit bingung. Tempat itu sangat jarang mereka datangi, seingatnya baru sekali mereka b
Satu mobil tahanan antipeluru, delapan mobil berisi lima puluh lima pasukan elit yang dipimpin oleh Komandan Richard Lombardi, serta satu mobil kejaksaan yang membawa empat orang jaksa termasuk Chiara telah mengepung sebuah vila mewah yang terletak di daerah perbukitan Barat Kota Whitesand.Suasana di dalam barisan penjemput terasa sangat tegang sekaligus membakar semangat. Jantung mereka berdebar kencang dilingkupi rasa penasaran yang luar biasa untuk melihat langsung sosok pemimpin mafia tertinggi di kota Blackstone. Di kalangan aparat keamanan, siapa yang tidak tahu reputasi mengerikan dari penguasa bayangan tersebut? Kekuasaannya bahkan disebut-sebut melebihi pengaruh Walikota Blackstone sendiri.Mereka sering mendengar rumor bahwa pria ini masih berusia cukup muda. Namun, sangat jenius dalam berbisnis, mematikan dalam bertarung, dan hanya butuh waktu lima tahun untuk memaksa seluruh kelompok mafia tunduk di bawah perintahnya. Mengingat betapa kuatnya kelompok kriminal di kota itu
"Anda terkejut, bukan, Walikota DeLuca? Saya pun juga demikian," ucap Bianchi dengan nada yang terdengar sangat puas.Giovanni menatapnya dengan pandangan penuh selidik. "Bagaimana Anda bisa tahu kalau pria di dalam foto ini adalah Shin Vitali?"Seingat Giovanni, tidak ada satu pun orang luar yang mengetahui bagaimana rupa asli dari sosok pemimpin di balik bayangan ini. Namun, ia teringat pada laporan Richard semalam bahwa pria di depannya ini bekerja sama dengan kelompok mafia Black Serpent. Giovanni menahan dirinya agar tidak menyuarakan hal itu. Ia memilih untuk berpura-pura tenang dan menunggu jawaban dari mulut Bianchi."Saya pun sebenarnya baru mengetahuinya. Beberapa hari yang lalu, saya mengajukan cuti dan pergi ke luar kota untuk mengunjungi kerabat. Lalu, kerabat saya memberikan sebuah informasi penting yang mungkin akan berguna. Dia menunjukkan sebuah foto Luca Vitali yang sedang duduk bersama dengan para pemimpin kelompok mafia Blackstone," ujar Bianchi sembari menyodorkan
- Beberapa jam yang lalu.Tempat yang menjadi lokasi penahanan sementara untuk Shin berada di sebuah ruang bawah tanah, tepat di bawah properti pribadi milik Bianchi. Setelah orang-orang itu berhasil melumpuhkan Shin menggunakan trik kecil, menembakkan peluru berisi obat bius dosis tinggi ke lengan kirinya, Shin dibawa ke tempat ini dalam keadaan setengah lemas. Kedua lengannya kini diikat erat dengan rantai dalam posisi terangkat menggantung ke atas.Di dalam ruangan yang remang-remang dan pengap itu, terdengar tawa yang saling bersahutan dari musuh-musuhnya. Mereka merasa bangga karena akhirnya berhasil menangkap Shin Vitali. Di sudut ruangan, beberapa pria berbadan kekar mulai melontarkan ejekan jahat."Lihat ini! Jadi ini sosok legendaris penguasa seluruh Blackstone?" ejek salah satu pria sambil meludahi lantai. "Ternyata kau tidak lebih dari seonggok daging yang tidak berdaya jika sudah terikat seperti ini!""Benar-benar memalukan!" timpal pria lain sambil tertawa terbahak-bahak.
Sepulang dari berbelanja, Bella merasa kelelahan. Ia duduk lemas di kursi belakang mobil, kepalanya sedikit miring ke jendela. Matanya terpejam dengan napas teratur, mengumpulkan tenaga yang habis tersedot setelah kakinya bolak-balik toko pakaian dan ruang ganti.Berbeda dengan Bella, Liana duduk d
Giovanni pulang dan menyuruh Richard segera pulang ke rumahnya. Tidak sungkan ia mengucapkan terima kasih karena Richard tetap mengawalnya meski mereka datang ke acara ini dengan undangan masing-masing."Terima kasih sudah menemani saya."Tangan Richard mengibas dua kali, "sekalipun aku dapat undan
Dua hari sudah Bella tinggal di rumah, kegiatannya itu-itu saja dan hanya sekali dia pergi ke luar untuk membeli sesuatu. Dengan pengawalan lengkap, meski tidak terlalu mencolok, tetap saja membuat Bella tidak bisa berbaur seperti warga biasa lainnya. Ia pun lebih memilih menghabiskan waktu di ruma
Shin menyadari kegugupan perempuan dalam pelukannya, ia tersenyum tipis. Jari-jarinya yang dingin menyingkirkan helai rambut di pipi Bella, memperjelas wajah cantiknya yang perlahan merona.Bella segera memalingkan wajahnya yang malu ditatap terlalu intens oleh pria itu. Ia berusaha mendorongnya da







