Share

Bab 157 Rencana.

Author: SanASya
last update publish date: 2026-06-05 23:41:27

Pertanyaan bertubi-tubi dari Bella hanya disambut oleh keheningan yang panjang. Ekspresi santai di wajah Shin perlahan memudar, digantikan oleh raut muka yang kembali serius. Pria itu tidak tampak bersalah, tidak pula berniat memberikan pembenaran atas tuduhan Bella.

Shin melepaskan gelas yang sejak tadi dimainkannya. Ia memajukan tubuh, menumpu kedua lengannya di atas meja besar yang memisahkan mereka. Jarak yang mengikis di antara mereka justru membawa kembali tekanan intimidasi yang pekat, s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nina Tantina
Bella susah masuk ke markas Red Line , keluar dari sana lebih susah lgi ..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 222 Informasi penting.

    Malam di Kota Whitesand tidak berbeda jauh dengan malam di Kota Blackstone, kejahatan bisa saja terjadi kapan saja jika sudah direncanakan dan ada kesempatan.Mobil yang dikendarai Shin melaju dengan tenang membelah keheningan jalanan menuju perbatasan. Kondisi jalan tampak sangat sepi dan lengang. Namun, tidak lama kemudian, beberapa lampu sorot mobil menyusul dan membayangi dari arah belakang. Selama beberapa saat tidak terjadi pergerakan apa pun, hingga salah satu mobil mendadak mempercepat laju kendaraannya dan menyamakan posisinya tepat di samping mobil Shin.Shin mulai memperhatikan gerak-gerik mobil-mobil itu lewat kaca spion. Jalanan ini sangat sepi, dan di depan mereka juga sama sekali tidak ada kendaraan lain. Entah kenapa empat mobil yang tiba-tiba muncul ini justru menahan laju mereka dan tidak berniat mendahului. Baru saja hal itu terlintas di benaknya, dua mobil di antaranya kembali menambah kecepatan. Shin baru menyadari bahwa keempat mobil tersebut kini telah menutup s

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 221 Mengetahui Rahasia.

    "Setelah itu, Kakek menunjukkan foto keluarga yang membuatku akhirnya percaya. Aku baru tahu kalau aku masih memiliki keluarga, dan beliau adalah satu-satunya keluargaku yang masih hidup," Shin mengakhiri ceritanya.Bella bertanya dengan nada suara yang hati-hati, "Ayah dan ibumu?""Mereka meninggal di hari aku menghilang. Waktu itu kami baru pulang berlibur. Dalam perjalanan pulang, musuh mengejar mobil kami hingga jatuh ke dalam jurang. Aku tidak ingat bagaimana kejadiannya, tetapi ketika sadar, aku sudah berada di tempat yang berbeda dari lokasi kecelakaan. Namun saat tidak menemukan jasadku, Kakek percaya aku masih hidup dan terus mencariku selama setahun. Hingga suatu hari, beliau menemukan jejakku dan menelusurinya hingga ke desa. Setelah tahu kalau desa tersebut pernah diserbu sekelompok penjahat dan anak-anaknya dibawa pergi, Kakek mencari tahu nama kelompok itu dan berhasil menemukanku.""Apakah semua anak yang kau temui di organisasi tersebut ikut masuk ke dalam kelompok Red

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 220 Part 3

    Saat itu juga, Shin merasakan dorongan besar untuk memaki pria tambun itu. Namun, sebelum kata-kata kasar sempat meluncur dari bibirnya, suara peluit wasit yang melengking keras sudah lebih dulu membungkamnya. Pria tambun itu memberikan isyarat dengan lambaian tangan, menyuruh Shin segera maju ke tengah panggung arena.Di hadapannya, berdiri seorang petarung yang berusia beberapa tahun lebih tua darinya. Lawannya itu terang-terangan meremehkan dan mengejek postur tubuh Shin yang masih anak-anak. Kombinasi antara ejekan tersebut, amarahnya yang meluap terhadap si pria tambun, serta rasa frustrasi atas situasi dirinya yang saat ini terkekang, membuat lawan di depannya menjadi pelampiasan sempurna bagi Shin atas semua kemarahan yang selama ini ia tahan.Dalam benaknya saat itu, Shin membayangkan bahwa orang yang sedang ia hadapi di tengah panggung adalah si pria tambun dan pria pemimpin penculikan. Dengan kemarahan yang membabi buta, ia bebas melayangkan kepalan tangan kerasnya, menghant

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 220 part 2

    Dalam perjalanan di lorong tadi, sayup-sayup Shin yang memiliki pendengaran tajam sempat mendengar obrolan para penjaga. Anak-anak yang masih terlalu kecil dan tidak memiliki bakat atau kemampuan fisik tertentu nantinya akan langsung dijual ke pasar gelap dan beberapa klien. Hal yang paling ia khawatirkan saat ini adalah nasib Vito dan Rico. Selain karena usia keduanya masih sangat kecil, kemampuan bertarung mereka pun hanya sebatas untuk melindungi diri sendiri. Shin tidak yakin jika akhirnya mereka berdua dijual, mereka akan tetap bisa bersama. Setelah beberapa bulan tinggal bersama keduanya, tentu saja sudah terbangun ikatan emosional tersendiri di antara dirinya dan kedua kakak beradik itu, entah sebagai teman, rekan seperjuangan, atau seorang adik. Yang jelas, Shin yang saat itu merasa hidup sebatang kara di dunia ini dan tidak mengingat masa lalunya, akhirnya memiliki orang-orang yang bisa ia kenal dekat dan ia percayai.Saat orang-orang dewasa itu hendak memisahkan dan membawa

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 220 Ingatan Shin.

    Bella tidak ingin pergi. Ini sudah malam dan jika Shin memang ingin mengatakan sesuatu, hal itu bisa dikatakan langsung sekarang."Kalau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja sekarang. Tidak perlu pergi jauh," balas Bella dengan nada tegas."Kalau begitu, di dalam mobil," sahut Shin tidak menerima penolakan.Bella menghela nafas lalu mengangguk. Ia mengikuti langkah Shin yang menggandeng tangannya masuk ke dalam mobil. Setelah keduanya duduk bersama, Shin tidak langsung membuka suara. Keheningan itu membuat Bella berpikir bahwa pria di sampingnya sedang dilingkupi keraguan. Ia tidak tahu hal penting apa yang ingin dibicarakan, namun instingnya menduga ini pasti berkaitan dengan perempuan bernama Alessia yang mereka temui di mal tadi siang."Kau ingat cerita ketika ibumu menolongku, Rico, dan Vito?" Shin tiba-tiba memecah kesunyian, mulai bertanya."Um," gumam Bella. Dalam hati, rasa penasaran gadis itu semakin memuncak."Setelah desa di serbu sekelompok pencuri, waktu itu kami dan an

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 219 Membicarakan sesuatu.

    Chiara seketika mematung di ambang pintu. Jantungnya berdesir hebat saat melihat tatapan tajam pria itu terarah lurus kepadanya. Mengingat semua analisis liar yang baru saja ia ucapkan dengan suara cukup keras di dalam kamar, Chiara mendadak disergap rasa gugup. Meski dirinya sudah banyak menangkap penjahat yang sangat berbahaya dan tidak pernah takut, entah kenapa saat melihat tatapan Shin saat ini membuat keberaniannya langsung turun.Tidak diketahui apa sebenarnya yang berbahaya dari pebisnis ini, yang jelas Chiara selalu waspada dan curiga meski Shin kerap berbuat baik."Ah, Tuan Luca... Anda sudah selesai di belakang?" Chiara tertawa canggung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tanpa menunggu jawaban Shin, ia bergegas melangkah lebar menuju pintu keluar. "Kalau begitu, saya... saya keluar dulu untuk membantu Adrian menyiapkan panggangan!"Pintu depan menutup dengan tergesa-gesa, meninggalkan keheningan di ruang tamu. Bella hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 144 Kau merindukan ku?

    Bella memperhatikan para karyawan yang berlalu-lalang di lobi perusahaan Nexus Global. Mereka tampak rapi dan elegan, bahkan pakaian yang dikenakan terlihat modis dan penuh percaya diri.Penampilan mereka sangat berbeda dengan Bella yang tampak sederhana, meskipun tetap rapi dan anggun. Tidak ada y

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 143 Penyerangan belum berhenti.

    “Aku mendengar soal apa yang terjadi di wilayah timur kota. Kupikir orang-orang yang melakukan penyerangan ini benar-benar gila. Kalian tahu? Mereka juga menyerang mobil yang membawa tenaga medis yang dikirim untuk mengobati orang-orang terluka di sana.”Adrian tampak frustrasi, terlihat jelas dari

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 141 Kedatangan seseorang.

    Steve melihat jam di dashboard dan langsung panik. Sudah jam empat sore, dan ia belum menjemput Alan.Pikiran Steve sedang bercabang ke mana-mana saat ini, memikirkan ayahnya yang berada di penjara, ibunya yang pingsan di rumah, dan putranya yang belum ia jemput di sekolah.Saat melihat gerbang sek

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 138 Mengakui untuk sebuah permohonan.

    Asisten itu langsung mendongak untuk melihat Komandan Lombardi yang menyerahkan handphone tersebut kepada anak buahnya. Sebelum ia sempat memprotes, ia mendengar Komandan Lombardi memerintahkan bawahannya untuk menggeledah Barna dan asistennya, lalu mengambil semua handphone milik keduanya.Barna b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status