MasukBegitu Bella melangkah keluar ruangan, sosok tegap dan tinggi pria itu tampak sedang berdiri membelakanginya. Ada suatu perasaan berkecamuk yang tidak bisa Bella jelaskan saat melihatnya kembali setelah sekian lama, dua minggu ternyata terasa cukup lama bagi Bella. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada pria itu. Saking banyaknya, Bella sampai bingung harus memulai dari mana ketika pria itu perlahan berbalik dan menatap tepat di manik matanya dalam-dalam.Sedetik kemudian Bella tersentak sadar. Ia menunduk sejenak untuk menata hatinya, lalu kembali mengangkat wajah dengan ekspresi yang sudah normal dan tenang. Di saat yang sama, ia mendengar suara langkah kaki beberapa orang yang mendekat dari arah belakang. Itu pasti Chiara dan teman-temannya yang penasaran dengan sosok misterius yang tiba-tiba mengirim hadiah."Astaga... banyak sekali barangnya!" bisik salah satu teman bangsawan Bella.Pertama-tama mereka tercengang melihat jumlah barang yang dikirim menggunakan bebe
Keadaan di pusat medis hari itu terasa begitu tenang, seiring dengan kondisi semua pasien yang semakin hari semakin membaik. Sebagian tenda posko kesehatan yang sebelumnya dibangun di dekat gedung pusat medis kini bahkan sudah mulai dibongkar. Anak-anak di posko kesehatan juga sudah dalam keadaan sehat semua, dan rencananya hari ini mereka semua akan diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.Maka dari itu, Bella mengajak teman-temannya yang lain, selain Chiara dan Adrian, untuk mengadakan sebuah acara kecil-kecilan. Mereka berkumpul untuk membagikan beberapa hadiah perpisahan kepada masing-masing anak."Lihat boneka ini, Kak Bella bagus sekali!" seru salah satu anak perempuan dengan riang sembari menunjukkan hadiahnya.Bella berlutut di depannya dan tersenyum lembut. "Syukurlah kalau kamu suka. Jaga baik-baik bonekanya, ya."Melihat senyum lebar dan mendengar tawa renyah anak-anak itu, perasaan Bella seketika menjadi hangat dan tenang. Untuk sejenak, ia bahkan berhasil melupakan ra
Sesampainya di restoran tempat mereka janji untuk bertemu, Bella langsung melihat Chiara yang melambaikan tangan ke arahnya. Chiara duduk di dekat jendela bersama Adrian yang juga sedang menatap kedatangannya. Bella tersenyum melihat kedua sahabatnya itu dan segera menghampiri meja mereka. Begitu Bella duduk, Chiara langsung memanggil pelayan restoran, dan mereka pun memesan makanan terlebih dahulu.Sembari menunggu pesanan datang, Chiara memperhatikan penampilan Bella dengan saksama. Temannya ini sangat jarang merias wajah untuk agenda kasual. Penampilan Bella saat ini justru terlihat sangat rapi dan menonjol, seolah-olah ia akan bertemu dengan seorang tamu khusus.Chiara yang penasaran langsung bertanya, "Kau ada acara khusus hari ini?"Bella menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak ada. Setelah membagikan hadiah nanti, aku hanya berencana untuk jalan-jalan santai di taman kota."Pelayan kemudian mengantarkan makanan mereka. Sambil menikmati sarapan, ketiganya mulai membicarakan
Keesokan harinya, Luina mengetuk pintu kamar Bella untuk membangunkan majikannya seperti biasa. Namun, begitu pintu kamar dibuka, pemandangan di dalam kamar sukses membuat pelayan muda itu terperanjat. Bella ternyata sudah bangun. Dan yang lebih mengejutkan, kamar tidur Bella kini tampak sangat berantakan.Di atas ranjang besarnya, menggunung sejumlah gaun dan pakaian aneka warna. Sementara itu, sang pemilik kamar sedang sibuk mengobrak-abrik isi lemari pakaiannya. Bella mengambil satu gaun, membawanya ke hadapan cermin seukuran badan, lalu mencocokkannya ke tubuh dengan raut wajah yang tampak tidak puas. Luina benar-benar tidak paham apa yang sedang dilakukan oleh Nona Mudanya sepagi ini."Nona, apakah Anda ada acara spesial hari ini?" tanya Luina sembari melangkah masuk dengan ragu.Bella menoleh dengan ekspresi bingung, lalu tampak berpikir sejenak. "Aku tidak ada acara spesial. Hanya kunjungan rutin ke posko anak-anak dan membagikan hadiah bersama Adrian dan Chiara."Luina mengang
Pertarungan di dalam ruang pertemuan itu akhirnya berakhir dengan kemenangan telak Shin Vitali. Dua puluh lima pemimpin kelompok bawah yang mencoba keberuntungan untuk melukainya kini tumbang tak berdaya. Sebagian besar pingsan dengan tulang retak, sementara sisanya merintih kesakitan di atas lantai dan meja yang hancur berantakan.Tidak ada sorakan kemenangan di dalam ruangan itu. Suasana justru digantikan oleh keheningan yang mencekam akibat rasa ketakutan yang luar biasa dari para pemimpin kelompok lain. Meskipun faksi-faksi atas tidak ikut memprovokasi atau menyerang Shin, mereka tetap merasa sangat terintimidasi oleh keganasan bertarung tangan kosong yang baru saja diperlihatkan oleh pria itu."Luar biasa... bagaimana bisa dia bergerak secepat itu?" bisik salah satu bos mafia di barisan belakang dengan wajah pucat.Betapa kuat dan menakutkannya sosok Shin ini. Bahkan setelah melewati pertarungan panjang yang menguras energi dan penuh hantaman kekuatan fisik, Shin sama sekali tida
Giovanni terdiam sesaat. Pria paruh baya itu merasa alasan tersebut sama sekali tidak sesuai dengan karakter putrinya. Seingat Giovanni, Bella tidak pernah mempermasalahkan barang-barang berharga miliknya, bahkan ketika tidak sengaja dirusak oleh para pelayan rumah. Meskipun pelayan yang melakukan kesalahan bersikeras untuk ganti rugi, Bella selalu memaafkan dan menganggapnya angin lalu.Menyadari tatapan sang ayah yang menyiratkan rasa tidak percaya, Bella buru-buru menimpali dengan nada yang dibuat bersungut-sungut. "Ayah tahu sendiri, kan, betapa aku menjaga mobil pemberian Ayah itu? Aku bahkan belum sampai sepuluh kali memakainya, tapi sekarang malah lecet. Terlebih lagi, Rico bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan tidak pernah mengakui kesalahannya. Itu membuatku sangat kesal dan ingin menghukumnya dengan mengeluarkannya!"Melihat wajah putrinya yang cemberut dengan bibir yang mengerucut, pertahanan Giovanni runtuh. Pria itu tidak bisa menahan tawa kecilnya."Sudah, sudah. Kam
Rencana Bella yang ingin mengeluarkan Rico dari tim pengawal secara alami ternyata langsung diketahui oleh Giovanni DeLuca. Begitu mobil Bella tiba di halaman kediaman DeLuca, kepala pelayan sudah berdiri menunggu di dekat pintu masuk utama."Selamat sore, Nona Bella. Tuan Besar meminta Anda untuk
- Kota Whitesand, Posko Kesehatan Pusat.Di sisi lain, suasana di posko kesehatan kota Whitesand terasa jauh lebih hangat. Bella, Adrian, Chiara, beserta beberapa rekan mereka sedang mengunjungi orang-orang yang terluka. Kedatangan mereka bertujuan untuk membantu para perawat medis, sekaligus mengh
- Kota Blackstone, Ruang Pertemuan Pemimpin Kelompok.Ruang rapat yang luas itu seketika diubah menjadi arena jagal. Lima petarung bertubuh raksasa langsung mengepung Shin dari berbagai arah, bergerak serentak dengan insting membunuh yang kuat.Petarung pertama, yang berada paling dekat, meluncurka
Melihat arah pembicaraan dan kesalahan yang ia tuduhkan mulai berbalik menjadi bumerang bagi faksi lain, Tuan Marco tidak bisa lagi menahan diri. Ia tiba-tiba berdiri dari kursinya, menggebrak meja, lalu mendengus dingin."Humph! Shin bisa bicara seringan itu tentu saja karena dia sama sekali tidak







