Share

Nona Incaran Ketua Mafia
Nona Incaran Ketua Mafia
Author: SanASya

Bab 1

Author: SanASya
last update publish date: 2025-10-13 19:04:57

"Sampai jumpa Miss Bella, terima kasih sudah menemani Luna menunggu Mama."

Suara imut anak perempuan terdengar menyenangkan, ditambah wajah bulatnya yang sangat manis tersenyum. Dari jendela mobil ia melambaikan tangan mungilnya keluar. Berpamitan pada seorang guru yang berdiri di halaman sekolah TK.

Guru yang dipanggil Miss Bella balas melambaikan tangan dan tersenyum hangat, "Sampai jumpa juga Luna, selamat beristirahat dan hati-hati di jalan ya ..."

"Sekali lagi terima kasih, Miss Bella." Nyonya Thalia di kursi kemudi membuka pintu dan ikut berpamitan padanya.

"Sama-sama Nyonya Thalia, hati-hati di jalan." Balas Miss Bella.

Bella kembali ke kelas tempat ia mengajar dan sibuk dengan sisa pekerjaan yang belum selesai. Waktu berlalu dengan kesibukannya hingga Bella tidak sadar kalau di luar sudah gelap.

"Sudah selarut ini, aku harus segera pulang." Ia buru-buru membereskan barang-barangnya dan bersiap pulang.

Setelah mengunci kelas dan memberikan kunci pada penjaga sekolah, Bella berjalan keluar menuju tempat tinggalnya yang berjarak sepuluh menit jalan kaki.

Langit malam di kota Whitesand tampak tenang, bintang-bintang berkelip samar di balik awan tipis. Lampu jalan berderet, cahayanya jatuh ke jalan berbatu yang sepi. Udara terasa dingin menusuk kulitnya dibalik mantel, khas udara pegunungan di daerah kecil yang dikelilingi hutan pinus.

"Ugh ... dingin sekali, apakah akan turun hujan?" gumamnya.

Bella melangkah pelan sambil merapatkan mantel dan menyilangkan tangan didepan dada. Rambut panjangnya sedikit berantakan tertiup angin malam. Ketukan sepatunya menjadi teman di setiap langkah.

Pekerjaan hari ini terasa lebih banyak dari biasanya. Ada pengecekan laporan nilai siswa, menjaga Luna yang terlambat dijemput, menghias dekorasi kelas yang harus ia selesaikan, sehingga pulangnya terlambat dari biasanya.

"Kenapa malam ini suasananya sepi sekali," ia terus bergumam pelan pada dirinya sendiri. Matanya mengawasi sekitar dengan langkah yang semakin cepat.

Meski sepi, Bella tidak terlalu takut. Ia sudah sering melewati jalan ini, yang merupakan rute tercepat untuk sampai di rumahnya ketika ia pulang terlambat. Ia tahu setiap sudut jalan, bahkan beberapa kali melewatinya saat malam lebih larut dari waktu ini. Namun malam ini ia merasa ada sesuatu yang berbeda.

Bang!!!

"Aa!"

Ketika jarak rumahnya tinggal beberapa blok saja, tiba-tiba terdengar suara keras dari arah dalam sebuah gang sempit di sisi kiri jalan. Suara besi beradu dengan dentuman pelan, seperti tong sampah terguling. Disusul suara teriakan pelan darinya yang tertahan.

"Apa itu?"

Bella terkejut sesaat dan spontan berhenti. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, telapak tangannya menjadi dingin dan nafasnya sedikit terengah. Matanya melirik ke arah gang yang gelap, sedikit cahaya lampu jalan dari mulut gang tidak bisa ia lihat jelas lebih jauh. Kosong. Tidak ada siapa-siapa.

Ia menarik napas dalam, lalu tersenyum mencoba menenangkan diri.

"Mungkin kucing… ya, pasti kucing." Katanya pelan, seolah yakin dengan dugaannya sendiri.

Suaranya tidak terlalu keras, hanya saja suasana sepi yang tidak biasa membuat Bella waspada dan tidak bisa menahan kekagetannya. Tidak ingin berlama-lama disini, Ia hendak kembali melangkah. Namun tertahan oleh suara lainnya.

"Hnngh ...!"

Kali ini terdengar geraman rendah seperti suara pria. Berat dan tertahan, seperti erangan menahan sakit. Suara itu bergema samar dari dalam gelapnya gang.

Sekujur tubuh Bella membeku di tempat. Matanya menatap lurus, mencoba menajamkan penglihatannya menembus kegelapan gang. Bahkan ia mencoba mendengar dengan seksama setiap suara yang ada, suara itu jelas bukan geraman kucing atau hewan.

Tangannya refleks menggenggam erat tali tas. Pikirannya berdebat, haruskah ia memilih pergi, atau memeriksa apa yang ada di sana? Siapa tahu ternyata ada orang butuh bantuan.

Tubuhnya tetap di tempat beberapa saat, tapi rasa penasaran mulai merayap dalam hatinya.

Ragu-ragu, selangkah demi selangkah Bella tertuju dalam gang. Sesaat ia menoleh sekali lagi ke arah jalan utama. Sepi, hanya suara angin yang menggesek dedaunan dan gemerisik kecil dari kejauhan. Hatinya terus berdebar tidak karuan, tapi rasa penasaran bercampur khawatir menuntun kakinya masuk ke gang itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 272

    Sedangkan Marco di seberang sana diam-diam mendengus. Jangan kira ia tidak tahu pemikiran Bianchi. Pria tua ini pasti akan mengorbankan dirinya dan kelompok Black Serpent ketika situasi sudah di ujung tanduk. Sudah kehilangan jabatan dan kekayaan masih saja sombong, apakah dia pikir dirinya adalah penjahat yang tanpa otak? Situasi sudah seperti ini, dirinya juga sudah pasti menjadi target buronan kelompok Red Line.'Ck! Mengingat penjahat kecil itu, apakah mungkin rencana ini juga ada campur tangan darinya? Tidak heran pasukan keamanan Kota Whitesand tahu bisnis rahasia miliknya yang tersembunyi...' Marco terus bergulat dengan pikirannya, mencurigai adanya keterlibatan Shin Vitali."Marco, sekarang aku sedang dalam perjalanan keluar kota. Kita bertemu di Kota Blackstone," suara Bianchi kembali menarik kesadaran Marco.Saat ini yang paling penting bagi Marco adalah menyingkirkan Bianchi. Ia harus segera memotong dahan yang sudah terkena api agar pohon besar miliknya tidak ikut terbakar

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 271

    Siang itu di Kota Whitesand, sebuah ledakan berita terkait salah satu pejabat tinggi pemerintahan membuat seluruh kota geger seketika. Salah seorang reporter dari sebuah media terkenal bersama kameramennya meliput iring-iringan besar mobil pasukan keamanan kota yang ternyata menggeledah sebuah tempat panti asuhan milik Bianchi Vittorio. Dalam laporannya yang sangat bersemangat, ia menceritakan awal ia mengikuti iring-iringan itu dan hampir saja terseret dalam baku tembak antara personel pasukan keamanan kota dengan para penjaga di panti asuhan Vittorio Foundation.Untungnya, pasukan keamanan kota menyadari ada warga sipil dan terutama karena profesinya sebagai reporter, dia langsung dilindungi dan bahkan membantunya mencari posisi yang tepat dan aman untuk mengambil rekaman."Para penonton pasti bertanya-tanya, kenapa para penjaga panti asuhan ini melawan pasukan keamanan kota? Pertama-tama, saya ingin menyampaikan kekecewaan saya terhadap Ketua Dewan Kota terhormat Bianchi Vittorio,

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 270

    Suster di seberang telepon menjelaskan dengan nada gemetar bahwa Chiara, staf departemen perpajakan, beserta anggota pasukan keamanan kota baru saja dilarikan ke ruang gawat darurat.Dalam perjalanan kembali ke markas pasukan keamanan kota, rombongan enam mobil yang ditumpangi Chiara, pasukan keamanan kota dan staff departemen perpajakan beserta dua mobil yang membawa barang bukti dari perusahaan makanan instan Bianchi mengalami kecelakaan yang sangat parah. Saat iring-iringan itu melewati jalanan yang di salah satu sisinya terdapat aliran sungai besar, sebuah mobil dari arah berlawanan tiba-tiba hilang kendali. Mobil paling depan dalam rombongan menabrak kendaraan tersebut hingga menyebabkan kecelakaan beruntun yang tidak terelakkan.Hantaman keras itu memang tidak sampai menyebabkan adanya korban jiwa, namun korban luka-luka berjatuhan. Kondisi terparah dialami oleh mobil pembawa barang bukti yang terperosok dan jatuh tenggelam ke dalam sungai. Karena air sungai cukup dalam, bagian

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 269

    Di kediaman DeLuca, Bella sedang duduk tidak tenang dengan diliputi perasaan yang waswas dan khawatir. Ruang keluarga yang luas itu terasa sunyi, namun isi kepala Bella dipenuhi oleh kecemasan yang kian memuncak. Baru saja ia menerima panggilan darurat dari paman Sergio, yang membawa kabar buruk mengenai situasi di kantor pemerintahan pusat.Sergio memberitahu bahwa ayahnya, Giovanni DeLuca, baru saja dijatuhi hukuman dinonaktifkan sementara dari jabatannya sebagai Walikota Whitesand. Penonaktifan itu dipicu oleh tuduhan berat yang dilayangkan oleh Bianchi Vittorio di depan sidang dewan, yang menuduh Giovanni melakukan manipulasi dana dan menjalin kolusi rahasia dengan kelompok mafia Blackstone.Namun, karena di saat yang bersamaan Bianchi sendiri juga sedang menghadapi serangan balik berupa tuduhan penggelapan pajak dari Departemen Perpajakan, serta berkas tuduhannya terhadap Giovanni masih dinilai belum memiliki bukti yang sah, dewan senior akhirnya menjatuhkan vonis hukum yang sama

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 268

    Sang kapten tentara rahasia tidak mengindahkan pertanyaan itu. Ia melayangkan kode gerakan tangan agar anggota timnya yang lain segera bergerak memeriksa dan menggeledah seluruh isi ruangan tersebut."Kalian tidak boleh menyentuh barang-barang itu!" tiba-tiba suara si gadis berkacamata kembali naik, nada suaranya dipenuhi kepanikan yang berlebihan saat melihat lemari arsipnya didekati.Melihat tawanan ini akan memprotes dan berteriak lagi, tentara rahasia di belakangnya dengan sigap mengambil selembar sapu tangan kain yang tergeletak di atas meja kerja, lalu menyumpal mulut si gadis tanpa ampun. Dengan cekatan, ia menarik kedua tangan perempuan itu ke belakang dan mengikatnya erat menggunakan tali."Lebih baik kamu duduk manis dan diam saja di sini," ucap tentara rahasia itu sembari mendudukkan paksa si gadis berkacamata di kursi kerjanya, tidak lupa mengikat tubuhnya ke sandaran kursi agar ia tidak memiliki celah untuk melarikan diri.Setelah memastikan tawanan mereka tidak membuat k

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 267

    Kelima personel tentara rahasia itu seketika tercengang menyaksikan apa yang baru saja terjadi di hadapan mereka. Dinding rak buku itu bergeser lambat tanpa menimbulkan derit yang berarti. Keempat bawahan sang kapten langsung menatap pemimpin mereka dengan tatapan takjub, lalu secara serempak mengangkat jempol untuknya."Wah, Kapten! Anda benar-benar hebat! Bagaimana Anda bisa langsung tahu bahwa buku itu adalah tuas penarik mekanismenya?" bisik salah satu tentara rahasia dengan mata berbinar kagum.Sang kapten yang sebenarnya hanya asal menarik buku, buru-buru menguasai ekspresi wajahnya. Ia memasang wajah santai dan biasa saja demi menjaga wibawanya. "Tentu saja karena aku sangat teliti. Aku memperhatikan setiap jengkal bagian yang paling mencurigakan saat pertama kali menyisir ruangan ini. Sudah kubilang jangan banyak bicara dan tetap fokus. Ayo, kita masuk."Keempat bawahannya menelan bulat-bulat penjelasan sang kapten. Mereka mempercayai setiap kata pemimpinnya tanpa ragu, sehing

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 7

    Pintu kamar Bella terbuka tanpa suara, seorang pria tinggi dengan pakaian acak-acakan penuh darah muncul dibaliknya. Pencahayaan minim tidak membuatnya sulit melihat keseluruhan ruangan itu.'Ini tidak seperti rumah Walikota,' pikirnya.Rumah walikota yang berada di pusat kota tentu sangat besar da

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 5

    Bella keluar dari kamar mandi dan melihat Adrian sibuk di dapur. Rambutnya tergerai masih setengah basah, matanya menatap senang pada Adrian yang datang membawakan makanan untuknya. Kebetulan Bella lapar, dia tidak perlu masak."Aku tadi buat minestrone, kamu pasti belum makan malam, makanlah." Adr

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 4

    Bella duduk di kursi makan dan merenung. Benar kata Adrian, dirinya agak ceroboh membawa pria itu kerumahnya. Walau terluka dan tidak sadarkan diri, ia tidak mengenalnya.Siapa yang melukainya? Luka separah itu jika ia tidak melihatnya pasti tidak akan selamat sampai esok hari.'Apakah pelakunya su

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 3

    Udara malam Desa San Felice menusuk kulit Bella, dingin terasa semakin pekat karena keringat yang bercampur dengan ketakutan. Dengan susah payah, ia menahan tubuh pria asing itu yang beratnya jauh melebihi tenaganya.Nafasnya tersengal, kakinya hampir menyeret, namun entah dari mana kekuatan itu mu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status