MasukTangan Chiara yang masih menggenggam tangannya sedikit mengerat. Ia hanya mengusap lengan Bella dengan gerakan pelan."Tidak apa-apa, Bella. Akan lebih baik kalau kau tidak memikirkan hal ini dulu."Bella mengangguk. Beberapa detik kemudian, ia membuka mata dan menatap jalan yang terbentang di luar jendela."Besok, aku akan menemui Caspian."Chiara dan Adrian langsung terkejut. Keduanya menatap Bella dengan intens, seolah ingin memastikan bahwa keputusan tersebut benar-benar datang dari dirinya sendiri, bukan karena keterpaksaan atau karena ingin melarikan diri dari perasaannya kepada Shin.Namun, dari mata maupun ekspresi Bella, yang terlihat hanya ketenangan. Entah ketenangan itu pertanda bahwa ia sudah siap, atau justru karena ia sudah terlalu lelah untuk menunjukkan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya."Secepat ini?" Chiara akhirnya bertanya untuk memastikan. "Kupikir kamu akan menata perasaanmu lagi untuk waktu yang lama."Bella terdiam sejenak sebelum menjawab. "Aku sebenar
Suasana bar masih sama seperti sebelumnya. Musik jazz terdengar lembut di antara percakapan para pengunjung, sementara cahaya lampu yang hangat membuat segala sesuatu tampak tenang seolah tidak ada apa pun yang baru saja berakhir.Rico yang duduk di meja luar segera memperhatikan Bella. Ia tidak perlu menebak ke mana perempuan itu pergi. Ia tahu Bella baru saja menemui Shin.Entah apa yang mereka bicarakan. Namun, dari ekspresi Bella yang berjalan melewatinya, ia bisa melihat bahwa pertemuan itu tidak berakhir seperti yang diharapkan. Wajah Bella masih tenang, tetapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Sedikit muram dan yang paling jelas, tidak ada kebahagiaan di wajahnya.Bella kembali ke bilik tempat Chiara dan Adrian berada. Ia membuka tirai pembatas dan langsung duduk di samping Chiara tanpa mengatakan apa pun. Tangannya meraih gelas air putih di atas meja, kemudian meneguknya perlahan.Chiara dan Adrian saling bertukar pandang, Mereka tidak mengatakan apa-apa. Keduanya sudah bis
Bella terdiam sejenak. Melihat perubahan ekspresi Shin, ia segera menyadari bahwa ucapannya telah disalahartikan dari yang ia maksudkan. Tatapan pria itu yang semula masih menyimpan kelembutan kini berubah dingin, seolah satu kalimatnya tadi telah menyentuh sesuatu yang sangat penting bagi dirinya."Bukan begitu maksudku."Suara Bella terdengar lebih pelan, tetapi tetap tenang. Ia menggeleng perlahan sambil menatap Shin tanpa menghindar. "Aku tidak pernah bermaksud memintamu meninggalkan keluargamu."Tatapan Shin masih tertuju kepadanya. "Red Line bukan sekadar kelompok bagiku."Bella menarik napas pendek. "Aku tahu itu. Di sana ada orang-orang yang sudah mengikutimu selama bertahun-tahun. Mereka mempercayaimu, bergantung padamu, dan menganggapmu sebagai pemimpin mereka. Aku tidak mungkin memintamu meninggalkan mereka begitu saja."Ekspresi Bella melunak. Untuk sesaat, ia menurunkan pandangan sebelum kembali menatap pria di hadapannya."Aku hanya..." Bella berhenti sejenak, seolah sed
Suasana di dalam ruangan itu sempat menjadi canggung setelah Bella menanyakan kabar Shin. Ia sendiri tidak menyukai keheningan seperti ini, terlebih ketika harus berhadapan dengan seseorang yang pernah begitu dekat dengannya. Dulu, mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan berbicara tentang hal-hal kecil. Sekarang, bahkan satu pertanyaan sederhana seperti menanyakan kabar terasa membutuhkan keberanian.Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama."Sungguh kebetulan bertemu denganmu di sini, Nona Bella." Suara Shin terdengar tenang, seolah pertemuan mereka benar-benar terjadi tanpa rencana. "Kalau boleh kutebak, kau datang karena ajakan temanmu."Bella menatapnya beberapa saat sebelum tertawa pelan. Ada sedikit rasa geli di matanya."Seharusnya itu bukan kebetulan." Ia mengangkat dagu sedikit. "Tempat ini milikmu."Shin tampak tidak mengerti. Alisnya sedikit terangkat, sementara tatapannya tetap tertuju kepada Bella."Apa maksudmu?"Bella menatap pria itu tanpa berkedip.
Selama makan, hati Bella tidak pernah benar-benar tenang. Meskipun tangannya masih memegang sendok dan sesekali ia menanggapi percakapan Chiara maupun Adrian, pikirannya terus tertuju pada hal yang sejak tadi mengganggunya.Shin tahu bahwa dirinya berada di sini. Setidaknya, itulah dugaan yang perlahan berubah menjadi keyakinan di dalam hati Bella.Awalnya ia masih menganggap semua yang terjadi sebagai kebetulan. Namun, semakin dipikirkan, semakin banyak hal yang terasa terlalu tepat untuk terjadi secara bersamaan. Makanan tambahan yang tidak mereka pesan, pelayanan istimewa yang datang begitu saja, dan perasaan aneh yang muncul sejak mereka memasuki tempat ini.Bella tidak percaya pada kebetulan sebanyak itu. Terlebih lagi, tempat ini adalah milik Shin.Jika pria itu benar-benar sudah mengetahui kedatangannya, maka semua yang terjadi sejak mereka duduk di meja ini mungkin bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan.Bella menundukkan pandangan. Ujung jarinya perlahan mengetuk sisi
Bella tanpa sadar menegakkan tubuh. Percakapan itu mulai menyentuh sesuatu yang lebih besar daripada sekadar bisnis."Semenjak Anda menjadi pemimpin Red Line, kelompok-kelompok mafia lain tampaknya lebih berhati-hati," lanjut Tuan Bradley. "Mereka takut kepada Anda. Setidaknya sekarang, kejahatan terbuka di tempat umum jauh lebih jarang terjadi."Chiara melirik Bella yang tidak banyak bereaksi. Dari bilik sebelah, Shin terdengar menjawab dengan tenang."Itu tidak sepenuhnya karena saya, Tuan Bradley." Ia berhenti sebentar. "Benar, mereka mungkin takut. Tetapi jangan mengira mereka berhenti membuat rencana. Sebagian dari mereka hanya memilih untuk bergerak dengan cara yang tidak terlihat."Tak lama kemudian, pria tua itu mengembuskan napas panjang. "Kami tidak memiliki apa-apa selain bisnis dan harta. Kalau suatu hari kalian berdua membutuhkan bantuan, kami akan membantu sebisa mungkin.""Terima kasih atas tawarannya, Tuan," jawab Matteo. "Kami menerimanya."Tuan Bradley kemudian kemba
Bella keluar dari kamar mandi dan melihat Adrian sibuk di dapur. Rambutnya tergerai masih setengah basah, matanya menatap senang pada Adrian yang datang membawakan makanan untuknya. Kebetulan Bella lapar, dia tidak perlu masak."Aku tadi buat minestrone, kamu pasti belum makan malam, makanlah." Adr
Bella duduk di kursi makan dan merenung. Benar kata Adrian, dirinya agak ceroboh membawa pria itu kerumahnya. Walau terluka dan tidak sadarkan diri, ia tidak mengenalnya.Siapa yang melukainya? Luka separah itu jika ia tidak melihatnya pasti tidak akan selamat sampai esok hari.'Apakah pelakunya su
Udara malam Desa San Felice menusuk kulit Bella, dingin terasa semakin pekat karena keringat yang bercampur dengan ketakutan. Dengan susah payah, ia menahan tubuh pria asing itu yang beratnya jauh melebihi tenaganya.Nafasnya tersengal, kakinya hampir menyeret, namun entah dari mana kekuatan itu mu
"Astaga… semoga bukan sesuatu yang buruk." Gumamnya pelan.Untuk penerangan lebih jelas, ia mengeluarkan ponsel dari tas, jari-jarinya gemetar saat menyalakan senter. Cahaya putih menembus kegelapan, menguak bayangan tembok bata yang lembap.Dan di sanalah ia melihatnya."Hhh... hhh..."Seorang pri







