Mag-log inGerakan tangan Bella berhenti. Potongan apel yang sedang dibentuk menjadi telinga kelinci tertahan di ujung pisaunya. Adrian menoleh dan Chiara juga memperhatikan wajah sahabatnya.Namun, hanya beberapa detik kemudian Bella kembali melanjutkan pekerjaannya seolah pertanyaan itu bukan sesuatu yang penting.“Itu benar.” Nada suaranya tetap tenang, ia menjelaskan. “Bukti-bukti yang diberikan kakeknya sudah diperiksa dan dinyatakan asli. Shin maupun kelompok Red Line tidak memiliki kaitan dengan kejahatan yang selama ini dituduhkan kepada mereka.”Bella meletakkan potongan apel itu ke atas piring. “Bahkan berdasarkan riwayat penyelidikan yang ada, Red Line tidak pernah melakukan tindakan kriminal yang berkaitan dengan kasus tersebut selama mereka menjalankan bisnis secara legal di Kota Whitesand.”Chiara terdiam, Ia tentu merasa lega mendengar kabar tersebut. Namun, pada saat yang sama, ada kekhawatiran lain yang muncul.Sebelumnya, hubungan Bella dengan Shin terpaksa berakhir karena iden
Sore harinya, Shin akhirnya dibebaskan dari penjara bawah tanah pusat. Begitu keluar dari pintu utama, cahaya matahari yang menyambutnya terasa sedikit asing. Selama hampir dua minggu, ia hanya berada di dalam ruang interogasi yang tertutup dan sempit. Kini, langit terbuka terbentang luas di atas kepalanya, udara sore terasa lebih bebas, dan suara aktivitas kota kembali terdengar di sekelilingnya.Shin berhenti sejenak. Ia mengangkat wajah, membiarkan cahaya sore menerpa wajahnya sebelum memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.Tidak jauh dari sana, sebuah mobil hitam telah menunggu dan Vito berdiri di sampingnya. Begitu melihat Shin, pria itu segera membungkuk sedikit dan membukakan pintu belakang.“Bos, akhirnya Anda keluar.” Vito tersenyum lega. “Bagaimana kabar Anda?”Shin meliriknya sekilas sebelum berjalan mendekati mobil. “Aku baik-baik saja.”Vito pun memuji, “Bos benar-benar hebat, di dalam penjara pun Bos masih tetap terlihat berkarisma.”Shin berhenti tepat di depan
Giovanni membuka map tebal yang berada di tangannya. Ia membaca halaman demi halaman dengan cepat, tetapi semakin jauh matanya menyusuri laporan tersebut, semakin dalam tatapannya.Tidak ada perubahan berarti pada ekspresinya. Wajahnya tetap tenang, bahkan nyaris tanpa emosi. Namun, Richard yang berdiri tidak jauh darinya dapat melihat bahwa Giovanni sedang memproses informasi yang sangat serius.Beberapa saat kemudian, Giovanni menutup map itu. Ia mengangkat pandangan kepada Ruggero.“Sekarang saya ingin tahu,” katanya tenang, “mengapa mantan pemimpin Red Line datang langsung ke kediaman saya dan membawa sesuatu yang begitu penting untuk diserahkan kepada saya? Kenapa tidak diserahkan ke kejaksaan Agung?”Ruggero tersenyum tipis. “Karena ada beberapa hal yang lebih baik diserahkan secara langsung kepada anda daripada dikirim melalui orang lain.”Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Bisakah Shin dibebaskan sekarang juga?”Tatapan Ruggero turun sekilas ke map yang berada di tangan
Dua hari setelah Bella mengunjungi Shin, suasana pagi di kediaman utama keluarga DeLuca berjalan seperti biasa.Sekitar pukul delapan pagi, seorang pria tua yang usianya kira-kira sebaya dengan kakek Bella datang berkunjung. Wajahnya asing bagi Bella. Ia ditemani seorang pria yang mengenakan setelan jas rapi serta kacamata hitam.Bella baru saja turun dari lantai dua ketika melihat Madam Louis berjalan bersama kedua pria tersebut menuju ruang kerja ayahnya.Langkah Bella melambat. Pria tua itu sempat menoleh ke arahnya.Sebagai bentuk sopan santun, Bella memberikan anggukan singkat disertai senyum tipis. Pria itu membalas anggukan tersebut, tetapi tidak memberikan senyum. Hanya sebuah tatapan singkat.Bella kembali berjalan menuju ruang makan. Namun, setelah beberapa langkah, pikirannya masih tertinggal pada pria tua tadi. Ada sesuatu dalam tatapannya yang terasa familiar.Bukan karena Bella mengenalnya, melainkan karena sorot mata pria itu mengingatkannya pada seseorang.Shin.Tatapa
Di malam hari yang dingin dan sunyi, meskipun tidak benar-benar sunyi di beberapa tempat, Bella melangkah menyusuri lorong menuju ruang tahanan khusus Shin. Rico berjalan di sampingnya.Seperti biasa, kedatangannya telah dipersiapkan secara khusus oleh Chiara. Meskipun saat ini perhatian semua orang sedang tertuju pada kasus Bianchi, Bella tetap berhati-hati setiap kali mengunjungi Shin. Ia bahkan meminta agar penjaga yang bertugas saat kedatangannya adalah orang-orang yang dapat dipercaya.Rico berhenti di depan pintu dan berjaga di sana, sedangkan Bella masuk seorang diri.Begitu melangkah ke dalam, tatapannya langsung bertubrukan dengan sepasang mata abu-abu yang tajam.Shin duduk dengan tenang di balik meja. Ekspresinya semula datar, tetapi begitu melihat Bella, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum menawan.Bella sempat tertegun. Wajah pria itu sudah lama tidak dilihatnya. Padahal baru beberapa hari mereka tidak bertemu, tetapi entah mengapa rasanya seperti sudah jau
Aksi untuk membongkar kejahatan Bianchi dan mendapatkan bukti atas tindakannya dapat dikatakan berakhir dengan sukses, meskipun ada beberapa korban dalam misi tersebut, termasuk Chiara. Namun, tidak ada yang terlalu larut dalam kesedihan karena Chiara sendiri mengatakan bahwa apa yang terjadi kepadanya hanyalah sedikit pengorbanan demi mencapai tujuan yang lebih besar.Setelah Bianchi ditangkap, pemerintahan Kota Whitesand langsung dibuat sibuk. Kasus Bianchi segera diusut secara menyeluruh dan menjadi salah satu kasus utama yang harus diselesaikan.Di bawah kepemimpinan Wali Kota Giovanni DeLuca, pemerintahan Kota Whitesand segera meluncurkan reformasi birokrasi berskala besar untuk membersihkan sisa-sisa faksi korup yang masih bercokol di dalam pemerintahan. Giovanni membentuk gugus tugas khusus bersama Kejaksaan Agung untuk menyisir seluruh dokumen pemerintahan, membekukan aset ilegal milik keluarga Vittorio, serta melacak aliran dana hasil pencucian uang yang melibatkan panti asuh
Bella keluar dari kamar mandi dan melihat Adrian sibuk di dapur. Rambutnya tergerai masih setengah basah, matanya menatap senang pada Adrian yang datang membawakan makanan untuknya. Kebetulan Bella lapar, dia tidak perlu masak."Aku tadi buat minestrone, kamu pasti belum makan malam, makanlah." Adr
Bella duduk di kursi makan dan merenung. Benar kata Adrian, dirinya agak ceroboh membawa pria itu kerumahnya. Walau terluka dan tidak sadarkan diri, ia tidak mengenalnya.Siapa yang melukainya? Luka separah itu jika ia tidak melihatnya pasti tidak akan selamat sampai esok hari.'Apakah pelakunya su
Udara malam Desa San Felice menusuk kulit Bella, dingin terasa semakin pekat karena keringat yang bercampur dengan ketakutan. Dengan susah payah, ia menahan tubuh pria asing itu yang beratnya jauh melebihi tenaganya.Nafasnya tersengal, kakinya hampir menyeret, namun entah dari mana kekuatan itu mu
"Astaga… semoga bukan sesuatu yang buruk." Gumamnya pelan.Untuk penerangan lebih jelas, ia mengeluarkan ponsel dari tas, jari-jarinya gemetar saat menyalakan senter. Cahaya putih menembus kegelapan, menguak bayangan tembok bata yang lembap.Dan di sanalah ia melihatnya."Hhh... hhh..."Seorang pri







