공유

Bab 3

작가: Trya Dhafi
last update 게시일: 2026-06-04 13:28:00

Pintu ruang rias VIP terbuka begitu keras hingga seluruh orang di dalam ruangan sontak menoleh.

Seorang wanita muda berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Gaun pengantin putih yang membalut tubuhnya tampak begitu anggun, berpadu dengan riasan wajah yang nyaris sempurna. Tapi, semua itu tak mampu menyembunyikan mata yang sembab, hidung yang memerah, dan bekas air mata yang masih jelas terlihat.

Untuk beberapa saat, Reno hanya memandanginya tanpa berkedip. Tak perlu diperkenalkan lagi, wanita itu pasti putri Darmawan.

Wanita yang jika semuanya benar-benar terjadi, beberapa menit lagi akan menjadi istrinya.

Tatapan wanita itu menyapu seluruh ruangan. Mula-mula berhenti pada ayahnya, lalu bergeser ke beberapa orang yang berdiri di sana, hingga akhirnya jatuh tepat pada Reno.

Wajahnya berubah seketika. Ada keterkejutan ketika melihat wajah pria yang begitu mirip dengan Axel. Tapi, rasa terkejut itu hanya bertahan sesaat sebelum digantikan tatapan dingin yang penuh penolakan, setelah sadar pria itu bukan Axel.

Keningnya berkerut. Rahangnya mengeras. Matanya mengamati Reno dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang mencari alasan mengapa pria asing berpenampilan sederhana itu berada di ruangan tersebut.

Reno ikut menunduk sekilas, menyadari kontras di antara mereka.

Seragam bengkel berwarna navy yang dikenakannya masih dipenuhi bekas lipatan dan noda yang tak sepenuhnya hilang. Sepatu kerjanya juga tampak kusam akibat debu jalanana, sangat tidak pantas berada di tengah kemewahan ruangan itu.

"Jadi... ini orang yang Papa pilih untuk menggantikan Axel?"

Suara wanita itu terdengar pelan, tetapi cukup dingin hingga membuat ruangan kembali sunyi.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Darmawan melangkah maju, berdiri di depan putrinya. "Iya, Viona. Papa tidak punya pilihan lain. Dia orang yang paling mirip dengan Axel. Ini juga yang patut kita syukuri, keberuntungan masih berpihak pada kita, anak buah Papa menemukannya di waktu genting begini."

Viona mengembuskan napas panjang, lalu tertawa pelan. Tawa itu sama sekali tidak terdengar seperti tawa orang yang sedang merasa lucu, tapi tawa kepahitan.

"Papa serius?"

Tatapan Viona kembali mengarah kepada Reno, turun dari wajah Reno menuju seragam bengkelnya, lalu berhenti pada sepatu kerja yang masih dipenuhi debu.

Tatapan meremehkan itu begitu jelas hingga Reno bisa merasakannya tanpa perlu mendengar sepatah kata pun.

"Setelah semua yang terjadi hari ini, solusi Papa cuma mencari pria asing yang bahkan nggak kita kenal?" ucap Viona lirih, lalu menggeleng pelan, masih sulit mempercayai kenyataan di hadapannya. "Papa bahkan menemukan dia dari mana?"

Reno tetap diam, dalam keadaan seperti ini, apa pun yang diucapkannya hanya akan memperkeruh suasana.

Darmawan menarik napas pelan. "Iya, Papa serius. Papa tidak punya banyak waktu. Apa kamu mau harga diri dan reputasi keluarga kita hancur begitu saja karena ulah laki-laki pengececut itu yang memilih kabur?"

Nada suara Darmawan tenang, tetapi tegas.

"Jangan bawa-bawa harga diri terus, Pa!" Suara Viona mulai meninggi. "Yang hancur di sini bukan cuma nama keluarga. Hidupku juga ikut hancur!"

Reno tanpa sadar menurunkan pandangan, bisa mendengar luka di balik suara wanita itu. Dia merasa dirinya dan wanita itu sama-sama hampir runtuh hidupnya.

"Papa sudah bilang sejak tadi, kalau laki-laki itu benar-benar bertanggung jawab, dia tidak akan menghilang tanpa kabar," balasDarmawan

"Tapi Papa nggak mengenalnya seperti aku!"

"Justru Papa mengenalnya." Tatapan Darmawan mengeras. "Itu sebabnya Papa yakin dia tidak akan datang."

Ucapan Papanya membuat Viona terdiam beberapa detik. Mata yang sejak tadi dipenuhi kemarahan mulai berkaca-kaca. "Aku mencintai Axel, Pa. Aku masih percaya dia akan datang," ucapnya lirih.

Mendengar ucapan wanita itu, Reno merasakan dadanya ikut terasa sesak.

Wanita itu masih menggantungkan harapan pada seseorang yang bahkan tidak muncul di hari pernikahan mereka.

Darmawan sama sekali tidak goyah. "Kalau dia benar-benar mencintaimu, dia tidak akan meninggalkanmu sendirian menghadapi semua ini."

Viona menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.

"Aku nggak mau menikah dengan orang lain." Suara itu hampir berubah menjadi isak. "Aku cuma mau menikah sama Axel."

Reno hanya berdiri di tempatnya. Semakin lama berada di ruangan itu, semakin ia merasa dirinya hanyalah orang asing yang terseret ke dalam kehancuran keluarga ini.

Kalau saja ibunya tidak sedang berjuang antara hidup dan mati di rumah sakit, kalau saja keluarganya tidak berada di ujung kehancuran, ia pasti sudah pergi sejak awal.

Saat Reno masih tenggelam dalam pikirannya, Viona perlahan mengusap air matanya. Ketika kembali menatap Reno, kesedihan di wajahnya perlahan menghilang, digantikan oleh tatapan dingin yang jauh lebih tajam.

Viona melangkah mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah dari Reno.

Tatapan mereka akhirnya bertemu.

Reno melihat dengan jelas sepasang mata yang dipenuhi kemarahan, kekecewaan, dan rasa terluka sekaligus, sepertinya bukan hanya Axel yang dibencinya, dirinya juga.

Viona menatap Reno tanpa berkedip, bukan sekadar menilai, tapi tatapan meremehkan.

"Papa bayar kamu berapa?" tanyanya dingin.

Reno sempat terdiam beberapa detik. Ia bisa saja tersinggung, tetapi memilih menelan semuanya. Tatapannya tetap tenang ketika menatap balik Viona.

"Kalau saya punya pilihan lain, saya juga nggak ingin berada di ruangan ini," jawab Reno pelan.

Viona tersenyum sinis. "Berarti memang dibayar."

"Saya nggak akan bohong," jawab Reno jujur. "Saya memang menerima tawaran Papa Anda. Tapi saya juga nggak pernah datang ke sini untuk menawarkan diri. Papa Anda yang memaksa membawa saya ke sini."

Viona tertawa pelan. "Tentu saja. Pria seperti kamu mana mungkin ada di hotel semewah ini kalau bukan karena uang."

Ucapan itu menusuk, tapi Reno tidak bereaksi, hanya mengembuskan napas pelan.

"Aku cuma penasaran," lanjut Viona. "Berapa harga seorang laki-laki miskin seperti kamu, sampai mau menggantikan posisi orang lain di pelaminan?"

Jari-jari Reno perlahan mengepal di balik tubuhnya. Harga dirinya terus diinjak, tetapi bayangan ibunya yang masih terbaring di ruang perawatan membuatnya kembali mengendurkan kepalan itu.

Reno tidak ingin bertengkar, tapi ingin menyelamatkan ibunya.

"Saya memang di sini karena uang," katanya akhirnya.

Pengakuan itu membuat Viona sedikit tertegun. Ia sempat mengira Reno akan membela diri atau membalas ucapannya.

"Tapi bukan karena saya ingin menjual harga diri saya. Ibu saya sedang menunggu operasi. Rumah keluarga saya hampir disita. Kalau saya boleh memilih, saya lebih ingin berada di rumah sakit menemani ibu saya daripada berdiri di ruangan ini." Suara Reno begitu tenang.

Tatapan Viona sempat berubah sesaat. Ada sedikit keraguan yang muncul sebelum kembali tertutup oleh amarah.

"Itu urusanmu," balasnya dingin. "Bukan urusanku."

"Iya." Reno mengangguk pelan. "Karena itu saya juga nggak pernah meminta Anda ikut menanggung masalah saya."

Viona terdiam. Pria di hadapannya tidak terlihat seperti orang yang sedang mencari belas kasihan, berbicara dengan tenang tanpa berusaha membela diri berlebihan.

"Viona, cukup." Suara Darmawan akhirnya memecah keheningan. "Kita tidak punya waktu."

"Aku nggak peduli, Pa."

"Kamu harus menikah dengannya hari ini."

Viona langsung menoleh. "Aku bilang aku nggak mau!"

"Kamu nggak punya pilihan."

"Aku punya!" Viona menatap ayahnya dengan mata yang mulai memerah lagi. "Aku lebih memilih membatalkan semuanya daripada menikah dengan orang yang bahkan baru kulihat beberapa menit lalu."

Darmawan memejamkan mata sejenak sebelum kembali membukanya. Saat berbicara lagi, nada suaranya jauh lebih dingin.

"Kalau itu keputusanmu," Pria itu berhenti beberapa detik. "Maka Papa juga punya keputusan."

Viona mengernyit. "Apa maksud Papa?"

Tatapan Darmawan lurus menembus mata putrinya. "Kalau hari ini kamu tetap menolak menikah dan memilih membatalkan semuanya... mulai hari ini kamu bukan lagi anak Papa."

Wajah Viona langsung memucat. "Papa..."

"Papa akan mencoret namamu dari Kartu Keluarga dan dari ahli waris."

Suara Darmawan terdengar datar, tapi membuatnya semakin menggetarkan.

"Kamu keluar dari rumah. Dan mulai hari ini, Papa tidak akan bertanggung jawab dan membiayai hidupmu lagi."

Mata Viona langsung membesar. "A-apa maksud Papa?"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 244

    Axel mendengus keras, dadanya naik-turun menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Dengan tatapan menantang, ia menegakkan tubuhnya, berusaha membalas tatapan tajam Logan meski nyalinya sempat ciut sekilas melihat perawakan sang mandor."Heh, asal kamu tahu ya!" bentak Axel sengit, menunjuk tepat di depan wajah Logan. "Jangan sok berlagak jadi penguasa di depan saya! Kamu cuma mandor rendahan di sini, sedangkan saya? Saya anak kandung pemilik peternakan ini. Kalau kamu berani macam-macam atau kasar sama saya, saya adukan ke Papa saya supaya kamu langsung dipecat hari ini juga!"Logan tidak sedikit pun bergeming. Alih-alih merasa terancam, sudut bibir pemuda berbadan kekar itu justru terangkat membentuk senyuman sinis yang dingin.Tanpa aba-aba, Logan langsung maju dan menepis tangan Axel dengan kasar. Sebelum Axel sempat protes, Logan mencengkeram kerah kemeja Axel dan menariknya hingga wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa sentimeter."Ancaman murahan. Dengar baik-baik, ana

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 243

    Ambar dan Revan hanya berdiri diam di samping mobil, menyaksikan konfrontasi tersebut tanpa berniat mengintervensi. Ambar menatap Axel dengan tatapan dingin, hatinya sudah terlanjur disakiti oleh keangkuhan dan tutur kata kasar putra kandungnya itu. Sementara Revan tetap tenang dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, tak tersulut sedikit pun oleh emosi Axel.Melihat ibu kandung dan Revan hanya membisu tanpa niat membelanya, kemarahan Axel semakin membumbung tinggi. Matanya yang memerah menatap tajam ke arah Harjo, lalu beralih menunjuk wajah Revan dengan telunjuk bergetar."Papa tega ya!" jerit Axel histeris, suaranya menahan amarah dan kekecewaan. "Papa buang aku anak kandung Papa sendiri, di tempat kotor dan bau busuk ini buat jadi buruh! Sedangkan Papa dan Mama malah bakal tinggal enak di rumah mewah sama anak pungut itu!"Axel melangkah mendekat, menatap Harjo penuh kebencian. "Kenapa dia yang dapet fasilitas bagus, Pa? Dia bukan siapa-siapa. Aku yang anak kandung

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 242

    Di dalam kabin kelas eksekutif pesawat, suasana terasa cukup tenang dan nyaman. Kursi-kursi lapis kulit yang empuk dan berjarak lega dirancang untuk penerbangan jarak jauh menuju Australia.Tanpa disengaja, susunan tempat duduk menempatkan Revan dan Axel di deretan yang sama, yaitu duduk berdampingan.Bagi Revan, keberadaannya di pesawat itu adalah hal yang lumrah karena dia memang harus kembali untuk merampungkan urusan pekerjaannya. Pemuda itu tampak sangat santai, mengenakan headphone, membaca sebuah majalah bisnis, atau sesekali memejamkan mata untuk beristirahat tanpa memedulikan siapa pun di sekitarnya.Sebaliknya, batin Axel bergemuruh hebat sejak pesawat lepas landas. Dia sesekali melirik Revan dengan tatapan sinis dan tidak suka. Dalam hatinya, Axel terus menggerutu, 'Sialan! Kenapa anak pungut sok suci ini harus ikut naik pesawat yang sama dan balik lagi ke Australia? Bikin risih saja. Kenapa dia nggak tinggal di Jakarta saja bersama orang tua barunya itu?'Walaupun jengkel

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 241

    Dandi menghela napas panjang, senyum hangatnya berganti dengan wajah lelah dan sedih saat Axel disebut."Soal Axel... jujur sampai sekarang dia tetap belum berubah, Mas Suryo. Meskipun udah tak usir dari rumah setelah semua yang dia lakukan, tapi kok sifatnya nggak berubah sama sekali," jawab Dandi.Suryo dan Dewi saling berpandangan, menyimak dan terkadang menggelengkan kepala ikut prihatin."Orang tua kandungnya aja awalnya juga nggak langsung mau menerima dia gitu aja karena kelakuannya yang udah kelewatan," lanjut Dandi seraya memijat pelipisnya perlahan. "Mereka benar-benar kecewa berat."Dandi menatap Suryo dan Dewi bergantian dengan tatapan lurus. "Tapi besok, Axel akan tetap dibawa ke Australia. Biar di sana dia dikasih pelajaran arti hidup yang sesungguhnya, karena kalau dibiarkan di sini, dia hanya akan terus menghancurkan dirinya sendiri dan orang lain."Suryo mengangguk paham, menghela napas dan ikut prihatin. "Sudahlah, Dandi, Mila. Kalian sudah berbuat sangat banyak dan

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 240

    Meskipun kiranya kepikiran kayak kenal nama itu, Rima memilih untuk diam saja karena belum yakin dan dia nggak akan gegabah, daripada membuat masalah makin runyam.Reno menatap Harjo. "Papa yakin mau menangani sendirian? Sedangkan papa nanti di Australia sana. Lagian orang ini kayak obsesif. Papa nggak bisa menghadapinya sendirian tanpa persiapan matang, Pa."Harjo menoleh ke arah Reno, lalu tersenyum tipis yang menenangkan. "Tenang, Rey. Papa tidak akan bertindak ceroboh. Tapi masa lalu ini harus diselesaikan oleh orang yang memang bersinggungan langsung dengannya. Kalian fokus saja pada kebahagiaan keluarga."Dandi dan Darmawan saling bertukar pandang, menghargai keputusan Harjo, tapi tetap waspada pada sosok bernama Gunadi Darma.Tidak terasa hari pun semakin beranjak siang. Suasana ruang keluarga yang tadi tegang, sudah kembali tenang. Bik Yuli bersama para asisten rumah tangga lainnya pun sudah selesai menyiapkan hidangan makan siang, bahkan Bu Rahma ikut di dapur memasak, daripa

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 239

    "Jadi siapa dalang di balik semua itu, Pak Darmawan?" tanya Dandi tidak sabar, penasaran sampai setengah berdiri dari kursinya.Darmawan menatap Dandi, lalu mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan sebelum menghela napas berat."Orang itu bernama Gunadi Darma," beritahu Darmawan.Suasana ruang keluarga yang tadinya hangat langsung berubah hening. Semua orang terdiam, mencoba mencerna nama asing yang baru saja disebut Darmawan."Gunadi Darma?" gumam Dandi dengan kening berkerut dan menggeleng pelan. "Apa kalian ada yang mengenal nama itu? Saya sama sekali tidak pernah mendengar namanya."Satu per satu orang di ruangan itu saling berpandangan, menggelengkan kepala karena tidak tahu."Saya juga baru pertama kali mendengar nama itu," sahut Darmawan melanjutkan penjelasannya. "Ini baru pengakuan awal dari dokter senior dan perawat yang bertugas di rumah sakit saat itu, yang akhirnya terpaksa buka mulut setelah tim kita menekan dan memaksa, mengantongi bukti ancaman masa lalu. Tapi sayangn

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 6

    Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 5

    Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 2

    Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 4

    Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status