LOGINPintu ruang rias VIP terbuka begitu keras hingga seluruh orang di dalam ruangan sontak menoleh.
Seorang wanita muda berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Gaun pengantin putih yang membalut tubuhnya tampak begitu anggun, berpadu dengan riasan wajah yang nyaris sempurna. Tapi, semua itu tak mampu menyembunyikan mata yang sembab, hidung yang memerah, dan bekas air mata yang masih jelas terlihat. Untuk beberapa saat, Reno hanya memandanginya tanpa berkedip. Tak perlu diperkenalkan lagi, wanita itu pasti putri Darmawan. Wanita yang jika semuanya benar-benar terjadi, beberapa menit lagi akan menjadi istrinya. Tatapan wanita itu menyapu seluruh ruangan. Mula-mula berhenti pada ayahnya, lalu bergeser ke beberapa orang yang berdiri di sana, hingga akhirnya jatuh tepat pada Reno. Wajahnya berubah seketika. Ada keterkejutan ketika melihat wajah pria yang begitu mirip dengan Axel. Tapi, rasa terkejut itu hanya bertahan sesaat sebelum digantikan tatapan dingin yang penuh penolakan, setelah sadar pria itu bukan Axel. Keningnya berkerut. Rahangnya mengeras. Matanya mengamati Reno dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang mencari alasan mengapa pria asing berpenampilan sederhana itu berada di ruangan tersebut. Reno ikut menunduk sekilas, menyadari kontras di antara mereka. Seragam bengkel berwarna navy yang dikenakannya masih dipenuhi bekas lipatan dan noda yang tak sepenuhnya hilang. Sepatu kerjanya juga tampak kusam akibat debu jalanana, sangat tidak pantas berada di tengah kemewahan ruangan itu. "Jadi... ini orang yang Papa pilih untuk menggantikan Axel?" Suara wanita itu terdengar pelan, tetapi cukup dingin hingga membuat ruangan kembali sunyi. Tidak ada yang langsung menjawab. Darmawan melangkah maju, berdiri di depan putrinya. "Iya, Viona. Papa tidak punya pilihan lain. Dia orang yang paling mirip dengan Axel. Ini juga yang patut kita syukuri, keberuntungan masih berpihak pada kita, anak buah Papa menemukannya di waktu genting begini." Viona mengembuskan napas panjang, lalu tertawa pelan. Tawa itu sama sekali tidak terdengar seperti tawa orang yang sedang merasa lucu, tapi tawa kepahitan. "Papa serius?" Tatapan Viona kembali mengarah kepada Reno, turun dari wajah Reno menuju seragam bengkelnya, lalu berhenti pada sepatu kerja yang masih dipenuhi debu. Tatapan meremehkan itu begitu jelas hingga Reno bisa merasakannya tanpa perlu mendengar sepatah kata pun. "Setelah semua yang terjadi hari ini, solusi Papa cuma mencari pria asing yang bahkan nggak kita kenal?" ucap Viona lirih, lalu menggeleng pelan, masih sulit mempercayai kenyataan di hadapannya. "Papa bahkan menemukan dia dari mana?" Reno tetap diam, dalam keadaan seperti ini, apa pun yang diucapkannya hanya akan memperkeruh suasana. Darmawan menarik napas pelan. "Iya, Papa serius. Papa tidak punya banyak waktu. Apa kamu mau harga diri dan reputasi keluarga kita hancur begitu saja karena ulah laki-laki pengececut itu yang memilih kabur?" Nada suara Darmawan tenang, tetapi tegas. "Jangan bawa-bawa harga diri terus, Pa!" Suara Viona mulai meninggi. "Yang hancur di sini bukan cuma nama keluarga. Hidupku juga ikut hancur!" Reno tanpa sadar menurunkan pandangan, bisa mendengar luka di balik suara wanita itu. Dia merasa dirinya dan wanita itu sama-sama hampir runtuh hidupnya. "Papa sudah bilang sejak tadi, kalau laki-laki itu benar-benar bertanggung jawab, dia tidak akan menghilang tanpa kabar," balasDarmawan "Tapi Papa nggak mengenalnya seperti aku!" "Justru Papa mengenalnya." Tatapan Darmawan mengeras. "Itu sebabnya Papa yakin dia tidak akan datang." Ucapan Papanya membuat Viona terdiam beberapa detik. Mata yang sejak tadi dipenuhi kemarahan mulai berkaca-kaca. "Aku mencintai Axel, Pa. Aku masih percaya dia akan datang," ucapnya lirih. Mendengar ucapan wanita itu, Reno merasakan dadanya ikut terasa sesak. Wanita itu masih menggantungkan harapan pada seseorang yang bahkan tidak muncul di hari pernikahan mereka. Darmawan sama sekali tidak goyah. "Kalau dia benar-benar mencintaimu, dia tidak akan meninggalkanmu sendirian menghadapi semua ini." Viona menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Aku nggak mau menikah dengan orang lain." Suara itu hampir berubah menjadi isak. "Aku cuma mau menikah sama Axel." Reno hanya berdiri di tempatnya. Semakin lama berada di ruangan itu, semakin ia merasa dirinya hanyalah orang asing yang terseret ke dalam kehancuran keluarga ini. Kalau saja ibunya tidak sedang berjuang antara hidup dan mati di rumah sakit, kalau saja keluarganya tidak berada di ujung kehancuran, ia pasti sudah pergi sejak awal. Saat Reno masih tenggelam dalam pikirannya, Viona perlahan mengusap air matanya. Ketika kembali menatap Reno, kesedihan di wajahnya perlahan menghilang, digantikan oleh tatapan dingin yang jauh lebih tajam. Viona melangkah mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah dari Reno. Tatapan mereka akhirnya bertemu. Reno melihat dengan jelas sepasang mata yang dipenuhi kemarahan, kekecewaan, dan rasa terluka sekaligus, sepertinya bukan hanya Axel yang dibencinya, dirinya juga. Viona menatap Reno tanpa berkedip, bukan sekadar menilai, tapi tatapan meremehkan. "Papa bayar kamu berapa?" tanyanya dingin. Reno sempat terdiam beberapa detik. Ia bisa saja tersinggung, tetapi memilih menelan semuanya. Tatapannya tetap tenang ketika menatap balik Viona. "Kalau saya punya pilihan lain, saya juga nggak ingin berada di ruangan ini," jawab Reno pelan. Viona tersenyum sinis. "Berarti memang dibayar." "Saya nggak akan bohong," jawab Reno jujur. "Saya memang menerima tawaran Papa Anda. Tapi saya juga nggak pernah datang ke sini untuk menawarkan diri. Papa Anda yang memaksa membawa saya ke sini." Viona tertawa pelan. "Tentu saja. Pria seperti kamu mana mungkin ada di hotel semewah ini kalau bukan karena uang." Ucapan itu menusuk, tapi Reno tidak bereaksi, hanya mengembuskan napas pelan. "Aku cuma penasaran," lanjut Viona. "Berapa harga seorang laki-laki miskin seperti kamu, sampai mau menggantikan posisi orang lain di pelaminan?" Jari-jari Reno perlahan mengepal di balik tubuhnya. Harga dirinya terus diinjak, tetapi bayangan ibunya yang masih terbaring di ruang perawatan membuatnya kembali mengendurkan kepalan itu. Reno tidak ingin bertengkar, tapi ingin menyelamatkan ibunya. "Saya memang di sini karena uang," katanya akhirnya. Pengakuan itu membuat Viona sedikit tertegun. Ia sempat mengira Reno akan membela diri atau membalas ucapannya. "Tapi bukan karena saya ingin menjual harga diri saya. Ibu saya sedang menunggu operasi. Rumah keluarga saya hampir disita. Kalau saya boleh memilih, saya lebih ingin berada di rumah sakit menemani ibu saya daripada berdiri di ruangan ini." Suara Reno begitu tenang. Tatapan Viona sempat berubah sesaat. Ada sedikit keraguan yang muncul sebelum kembali tertutup oleh amarah. "Itu urusanmu," balasnya dingin. "Bukan urusanku." "Iya." Reno mengangguk pelan. "Karena itu saya juga nggak pernah meminta Anda ikut menanggung masalah saya." Viona terdiam. Pria di hadapannya tidak terlihat seperti orang yang sedang mencari belas kasihan, berbicara dengan tenang tanpa berusaha membela diri berlebihan. "Viona, cukup." Suara Darmawan akhirnya memecah keheningan. "Kita tidak punya waktu." "Aku nggak peduli, Pa." "Kamu harus menikah dengannya hari ini." Viona langsung menoleh. "Aku bilang aku nggak mau!" "Kamu nggak punya pilihan." "Aku punya!" Viona menatap ayahnya dengan mata yang mulai memerah lagi. "Aku lebih memilih membatalkan semuanya daripada menikah dengan orang yang bahkan baru kulihat beberapa menit lalu." Darmawan memejamkan mata sejenak sebelum kembali membukanya. Saat berbicara lagi, nada suaranya jauh lebih dingin. "Kalau itu keputusanmu," Pria itu berhenti beberapa detik. "Maka Papa juga punya keputusan." Viona mengernyit. "Apa maksud Papa?" Tatapan Darmawan lurus menembus mata putrinya. "Kalau hari ini kamu tetap menolak menikah dan memilih membatalkan semuanya... mulai hari ini kamu bukan lagi anak Papa." Wajah Viona langsung memucat. "Papa..." "Papa akan mencoret namamu dari Kartu Keluarga dan dari ahli waris." Suara Darmawan terdengar datar, tapi membuatnya semakin menggetarkan. "Kamu keluar dari rumah. Dan mulai hari ini, Papa tidak akan bertanggung jawab dan membiayai hidupmu lagi." Mata Viona langsung membesar. "A-apa maksud Papa?"Sementara itu, di kediaman keluarga Dandi yang atmosfernya jauh dari kata hangat, suasana pagi ini justru terasa sangat mencekam. Axel duduk di kamarnya dengan wajah kusut dan rahang mengeras. Bayangan ancaman dari sang ayah kemarin, masih terngiang jelas di kepalanya. Dandi tidak memberi ruang bagi Axel untuk membantah atau mencari-cari alasan lagi."Pilih kamu nikahi Lani secepatnya untuk menutupi semua skandal ini, atau kamu angkat kaki dari rumah dan fasilitasmu dicabut sekarang juga!" begitu ultimatum Dandi yang mutlak. Tanpa daya, Axel terpaksa harus menelan ludah dan menerima perintah sang ayah, meskipun hatinya berontak hebat. Dandi juga menegaskan bahwa seluruh biaya pernikahan kilat itu akan ditanggung penuh olehnya demi menjaga nama baik keluarga.Ternyata urusannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Meskipun Axel sudah membawa-bawa titah sang ayah dan menyatakan kesiapannya untuk bertanggung jawab, Lani tidak langsung setuju. Mengingat perdebatan sengit yang terjad
Pemikiran penuh kalkulasi yang mendadak muncul di benak Rima, tiba-tiba Darmawan berdehem pelan. Pria paruh baya itu menatap penuh harap ke arah Viona dan Reno."Sudahlah, kalau memang ada tanda-tanda begitu, tidak ada salahnya untuk langsung dipastikan," ucap Darmawan dengan senyum yang menghiasi wajahnya. "Reno, nanti sepulang kerja atau sore ini, antar Viona ke dokter kandungan terpercaya. Biar semuanya jelas. Kalau memang benar positif, ini adalah berkat luar biasa untuk keluarga kita."Reno langsung mengangguk patuh dengan binar mata antusias. "Baik, Pa. Nanti saya pastikan Viona langsung periksa ke dokter."Mendengar titah sang ayah yang begitu antusias menyuruh mereka langsung pergi ke dokter kandungan, Viona buru-buru melambaikan tangan menolak."Eh, nggak usah terburu-buru begitu, Pa. Malu nanti kalau ternyata gejalanya cuma masuk angin biasa, tapi kita langsung heboh datang ke dokter kandungan. Mending dipastikan dulu pakai test pack di rumah."Darmawan terkekeh pelan menden
Keesokan paginya, suasana ruang makan di kediaman Darmawan terasa hangat. Aroma kopi hitam dan roti panggang menguar di udara. Darmawan duduk di ujung meja, menikmati sarapannya bersama seluruh anggota keluarga. Di sana tampak Rima dan Vera yang duduk di sisi seberang, sementara Reno dan Viona yang bari datang duduk berdampingan.Sembari menyesap kopinya, Darmawan menatap menantunya dengan pandangan yang dalam. Ada secercah rasa penasaran sekaligus empati yang tersimpan di balik mata pria paruh baya itu."Reno," panggil Darmawan lembut, memecah keheningan pagi. "Papa mau tanya. Selama semua rahasia masa lalu terbongkar ini, apa tidak ada sedikit pun keinginan di dalam hatimu untuk mencari siapa orang tua kandungmu yang sebenarnya?"Reno tertegun sejenak. Ia meletakkan garpu di piring kecilnya, lalu tersenyum tipis, senyum yang menyiratkan ketulusan sekaligus kedewasaan yang luar biasa."Jujur, Pak. Kalau dibilang penasaran, mungkin ada sedikit di awal-awal. Tapi sekarang, saya sudah s
Axel panik, sementara kakinya seolah terpaku di anak tangga. Ia sempat berharap panggilan Dandi sore ini adalah kesempatan baginya untuk mengambil hati sang ayah kembali, tapi kehadiran Lani di ruang tamu justru menjadi bom waktu yang siap menghancurkan sisa-sisa pertahanannya.Dandi berdiri perlahan dari sofa, menatap Axel dengan tatapan jijik dan amarah yang sudah di ubun-ubun."Jadi... ini kelakuan bejat yang kamu sembunyikan di belakang kami?" suara Dandi menggelegar di dalam ruangan yang mendadak terasa sesak. Pria paruh baya itu menunjuk ke arah Lani yang berdiri tertunduk gemetar. "Kabur di hari pernikahan yang kamu rencanakan sendiri tanpa bilang orang tua. Menghamili anak orang, lalu lari dari tanggung jawab dan memblokir kontaknya? Hebat sekali didikan yang saya berikan pada kamu selama ini, Axel!"Mila yang duduk di sebelah Dandi menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak pelan karena menahan malu dan kecewa yang amat sangat. "Axel, kenapa kamu tega berbuat seperti ini?
Mendengar alamat rumah keluarga Dandi yang disebutkan oleh Viona, Lani langsung mengangguk cepat. Rasa takut dan keputusasaan campur aduk di benaknya, tetapi setidaknya kini ia memiliki secercah petunjuk untuk menemui ayah dari bayi yang dikandungnya."Terima kasih, Vi. Terima kasih banyak, Mas," cicit Lani terbata-bata sambil menyeka sisa air matanya.Tanpa membuang waktu lebih lama lagi dan merasa tidak punya muka untuk berlama-lama berdiri di hadapan saudara yang dulu dikhianatinya itu, Lani buru-buru bangkit berdiri. Dengan langkah gontai dan terburu-buru, ia membalikkan badan, meninggalkan rumah Viona, dan langsung meluncur menuju alamat yang baru saja ia kantongi.Di ruang tamu, Viona menghela napas panjang sambil melipat tangan di dada. Ia menatap kepergian Lani seraya menggelengkan kepala keras-keras."Ampun deh, punya saudara kok ya tingkahnya benar-benar di luar nalar," gerutu Viona dengan nada jengkel. "Udah tahu bodoh, gampang dibohongi, malah berani-beraninya menusuk aku
Mendengar nama itu, Viona langsung tertegun di ambang pintu. Ia menoleh ke belakang, mendapati Reno yang sudah berdiri merapikan kemejanya dengan ekspresi tak kalah terkejut. Sepasang pasutri itu saling melempar pandang, heran dan tanda tanya besar.'Lani? Mau apa dia ke sini dan bagaimana perempuan itu bisa tahu alamat rumah ini?' batin Viona bingung.Sebenarnya malas, tapi Viona akhirnya memutuskan untuk melangkah turun ke lantai bawah menemui sang tamu. Begitu menuruni anak tangga terakhir, pandangan Viona langsung menangkap sosok perempuan yang duduk gelisah di ruang tamu.Penampilan Lani jauh dari kata baik. Jauh berbeda dengan kesan rapi yang biasa ia tunjukkan dulu, kini Lani terlihat berantakan, wajahnya pucat, dan lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya.Rasa kesal, kecewa, dan amarah yang sempat terkubur seketika bergolak kembali di dada Viona. Bayangan bagaimana Lani dulu tega berselingkuh di belakangnya dengan Axel berkelebat sekilas. Namun, Viona dengan cepat mena
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la







