Share

Bab 4

Author: Trya Dhafi
last update publish date: 2026-06-04 13:29:31

"Maksud Papa sangat jelas."

Darmawan menatap putrinya tanpa berkedip. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak dalam suaranya. Justru ketenangan itulah yang membuat ancaman yang baru saja diucapkannya terdengar semakin nyata.

"Mulai hari ini seluruh kartu kreditmu akan Papa blokir. Mobil yang selama ini kamu pakai akan Papa tarik. Semua fasilitas yang selama ini Papa beri, akan Papa tarik. Rekeningmu dibekukan, dan kalau memang perlu, nama kamu akan Papa keluarkan dari kartu keluarga dan pergi dari rumah."

Viona yang sejak tadi terus membantah mendadak terdiam. Reno bisa melihat perubahan itu dengan jelas. Wanita yang beberapa menit lalu masih berdiri tegak dengan tatapan penuh perlawanan kini terlihat goyah, seolah baru menyadari bahwa papanya benar-benar tidak sedang menggertak.

"Papa nggak mungkin melakukan itu," bantah Viona sambil menggeleng cepat. Namun nada suaranya tidak lagi setegas sebelumnya.

Darmawan tidak terlihat tersinggung oleh ketidakpercayaan putrinya, yang ada malah mengangguk kecil sebelum menjawab dengan nada datar yang membuat suasana semakin menekan.

"Kalau tidak percaya, silakan coba."

Reno tidak mengenal keluarga ini. Tapi dari cara Viona menatap papanya sekarang, dia bisa menebak bahwa Darmawan bukan tipe orang yang mengeluarkan ancaman kosong hanya untuk menakut-nakuti.

Darmawan akan melakukan apa yang sudah diputuskan. Viona mengetahui hal itu lebih baik daripada siapa pun.

"Dan ada satu hal lagi yang harus kamu ingat," lanjut Darmawan sambil menatap putrinya lurus. "Kalau hari ini kamu memilih keluar dari keluarga ini, lupakan seluruh bagian warisan keluarga."

Kalimat itu langsung menghantam pertahanan Viona jauh lebih keras dibanding ancaman sebelumnya.

Reno melihat warna wajah wanita itu perlahan memudar. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, sementara bibirnya bergerak seolah ingin membalas, tetapi tidak ada satu pun kata yang berhasil keluar.

Mendadak ruangan itu tenggelam dalam keheningan.

Reno yang hanya menjadi orang luar, bisa melihat dengan jelas bagaimana Viona sedang berperang dengan dirinya sendiri. Wanita itu jelas ingin melawan dan mempertahankan keinginan juga harga dirinya, tetapi pada saat yang sama ketakutan kehilangan seluruh kehidupan dan kenyamanan yang selama ini dimilikinya, membuatnya tidak mampu mengambil langkah sejauh itu.

Seumur hidup Reno tidak pernah memiliki banyak hal untuk dipertahankan. Karena itu dia baru menyadari bahwa kemewahan ternyata juga bisa menjadi bentuk ketergantungan.

Akhirnya Viona mengembuskan napas panjang. Seluruh perlawanan yang sejak tadi dipertahankannya perlahan runtuh.

"Oke," ucap Viona lirih sambil mengalihkan pandangan. "Kalau memang itu maunya Papa, terserah."

Jawaban itu langsung membuat beberapa orang di dalam ruangan menghembuskan napas lega.

Darmawan mengangguk puas. "Bagus. Itu keputusan yang lebih bijak, Vi."

Viona tidak membalas, tatapannya malah beralih ke arah Reno.

Reno yang sejak tadi hanya berdiri diam langsung merasakan sorot mata itu. Tidak ada lagi kemarahan yang ditujukan kepada papanya. Semua kekesalan yang tidak bisa dilampiaskan kini seolah diarahkan kepadanya.

"Kamu dengarkan baik-baik," ucap Viona.

Reno mengangkat kepala dan menatap balik tanpa menghindar.

"Jangan pernah berpikir pernikahan ini membuat kamu berarti apa pun buat aku." Nada suara Viona terdengar dingin dan tajam. "Kamu cuma pengganti. Dan setelah semua ini selesai, jangan pernah bermimpi bisa menjadi bagian dari hidupku. Apalagi menganggap dirimu itu jadi suamiku."

Reno bisa merasakan bagaimana setiap kata itu sengaja diucapkan untuk melukai. Alih-alih marah, Reno justru merasa wanita itu sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Seolah jika terus mengulang bahwa Reno hanyalah pengganti, maka kenyataan pahit yang sedang dihadapinya akan terasa lebih mudah diterimanya.

Yang paling terluka di ruangan ini bukan Reno. Melainkan wanita yang baru saja ditinggalkan calon suaminya tepat di hari pernikahan.

Tanpa menunggu jawaban, Viona langsung berbalik dan melangkah pergi.

Brak!

Pintu tertutup keras di belakangnya.

Suara benturannya menggema di seluruh ruangan sebelum akhirnya keheningan kembali mengambil alih.

Reno masih memandangi pintu yang baru saja ditinggalkan wanita itu. Entah kenapa, ia tidak benar-benar merasa tersinggung. Harga dirinya memang tidak sepenuhnya baik-baik saja, tetapi ada hal lain yang justru muncul di dalam benaknya.

Viona jelas tidak menyukainya, hal itu justru membuatnya sedikit tertantang.

"Galak juga ternyata," gumam Reno pelan sambil menggeleng kecil.

Reno kembali menatap pintu yang kini sudah tertutup rapat. Jika memang takdir mengharuskannya menikah hari ini, maka hidupnya jelas tidak akan tenang setelah ini, karena Reno sadar wanita itu adalah tipe yang tidak mudah dikalahkan.

"Kalau memang takdir mengharuskan kita menikah hari ini, kita lihat saja nanti siapa yang menyerah lebih dulu, Nona Viona."

***

Akhirnya hari yang terasa seperti mimpi buruk itu tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Akad yang tertutup sudah terlaksana dan resepsi berlangsung lancar. Para tamu yang memenuhi ballroom sama sekali tidak mengetahui bahwa beberapa jam sebelumnya keluarga Darmawan nyaris mengalami skandal yang bisa menghancurkan seluruh acara.

Di mata mereka semuanya terlihat sempurna.

Viona tampil cantik dan anggun dalam gaun pengantin yang sejak tadi menjadi pusat perhatian. Sementara Reno berdiri di sampingnya dengan jas mahal yang bahkan tidak pernah terbayang akan dikenakannya seumur hidup.

Keduanya tersenyum di depan kamera, menerima ucapan selamat, lalu berfoto bersama para tamu seolah tidak ada masalah apa pun yang terjadi.

Tidak seorang pun mengetahui bahwa pria yang berdiri di samping Viona bukanlah pria yang seharusnya berada di sana.

Dan setiap kali seseorang menjabat tangannya sambil mengucapkan selamat, Reno justru merasa semakin asing dengan kehidupannya sendiri.

Reno membalas setiap sapaan dengan senyum sopan. Menjawab pertanyaan para tamu seperlunya. Bahkan sesekali tertawa kecil ketika diajak bercanda oleh relasi bisnis keluarga Darmawan.

Beberapa jam lalu ia masih memikirkan ongkos perjalanan pulang kampung, biaya rumah sakit, dan cara menyelamatkan rumah keluarganya dari penyitaan.

Sekarang Reno berdiri di tengah ballroom mewah yang nilai dekorasinya mungkin lebih mahal daripada seluruh aset keluarganya. Kontras itu terasa begitu tidak masuk akal.

Sesekali jemarinya menyentuh ponsel di dalam saku jasnya. Keinginan untuk menelepon Ravita terus muncul, tetapi Reno menahannya.

Di luar, orang-orang melihatnya sebagai pengantin pria paling beruntung hari ini.

Di dalam kepalanya, yang terus terbayang justru ruang operasi tempat ibunya sedang berjuang mempertahankan hidup.

Reno baru sadar, hidup seseorang bisa berubah hanya dalam hitungan jam.

Pagi tadi ia masih seorang mekanik bengkel biasa. Dan malam ini sudah menjadi menantu salah satu pengusaha paling berpengaruh di negeri ini.

Status baru itu seharusnya terasa membahagiakan, tapi yang Reno rasakan justru kelelahan, karena dirinya tidak datang ke pernikahan ini sebagai seorang pria yang sedang memulai kehidupan baru bersama wanita yang dicintainya.

Reno datang sebagai seorang anak yang sedang berusaha menyelamatkan nyawa ibunya, dengan harga yang harus dibayar untuk itu adalah harga diri dan masa depannya sendiri.

Ketika tamu terakhir akhirnya meninggalkan ballroom, Viona yang sejak tadi memasang senyum sempurna langsung menghapus ekspresi itu dari wajahnya.

Wanita itu menoleh ke arah Reno tanpa berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya sedikit pun.

"Kamu nggak perlu ikut lagi setelah ini."

Reno yang sedang melepas pin bunga di jasnya mengangkat kepala. "Apa maksudnya?"

"Acara pernikahan udah selesai. Tugas kamu juga selesai." Nada ketus yang langsung membuat Reno memahami ke mana arah pembicaraan itu.

Viona menyilangkan kedua tangan di depan dada sebelum melanjutkan dengan tegas. "Setelah ini kita kembali menjalani hidup masing-masing."

Reno sebenarnya tidak keberatan dengan ide itu. Kalau memang semuanya selesai sampai di sini, dia bisa kembali menjadi dirinya sendiri. Kembali bekerja di bengkel, menemani ibunya, dan melupakan seluruh kegilaan yang terjadi hari ini. Yang penting ibunya sudah menjalani operasi, utang-utang keluarganya juga lunas.

Namun sebelum Reno sempat menjawab lagi, suara Darmawan terdengar dari belakang mereka.

"Siapa yang bilang semuanya sudah selesai?"

Viona langsung memejamkan mata sambil mengembuskan napas panjang. Dari sekian banyak orang yang ada di ballroom saat itu, orang yang paling tidak ingin ia dengar suaranya memang papanya sendiri.

"Papa lagi... Memangnya ada apa lagi? Pernikahan ini sudah selesai, dan akting dia juga selesai sampai di sini."

Darmawan berjalan mendekat dengan langkah tenang.

"Reno sudah menjadi suamimu sekarang, Vi," ucapnya pelan namun tegas. "Terlepas dari bagaimana kalian menikah."

"Dia bukan suamiku yang sesungguhnya, Pa," bantah Viona cepat. "Dia cuma pengganti."

"Tetap saja statusnya suamimu. Sah secara agama dan sah secara hukum."

Viona menatap ayahnya tidak percaya. "Papa tahu maksudku. Kita sudah menyelesaikan sandiwara ini. Kenapa harus diteruskan lagi?"

"Karena ini bukan sandiwara."

"Kalau begitu apa?" tanya Viona dengan nada frustrasi.

Darmawan menatap putrinya lurus. "Ini pernikahan sesungguhnya. Kalian sudah menikah. Dan mulai hari ini kalian adalah pasangan suami istri yang harus hidup bersama seperti pasangan suami istri pada umumnya."

"Mana bisa begitu?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 244

    Axel mendengus keras, dadanya naik-turun menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Dengan tatapan menantang, ia menegakkan tubuhnya, berusaha membalas tatapan tajam Logan meski nyalinya sempat ciut sekilas melihat perawakan sang mandor."Heh, asal kamu tahu ya!" bentak Axel sengit, menunjuk tepat di depan wajah Logan. "Jangan sok berlagak jadi penguasa di depan saya! Kamu cuma mandor rendahan di sini, sedangkan saya? Saya anak kandung pemilik peternakan ini. Kalau kamu berani macam-macam atau kasar sama saya, saya adukan ke Papa saya supaya kamu langsung dipecat hari ini juga!"Logan tidak sedikit pun bergeming. Alih-alih merasa terancam, sudut bibir pemuda berbadan kekar itu justru terangkat membentuk senyuman sinis yang dingin.Tanpa aba-aba, Logan langsung maju dan menepis tangan Axel dengan kasar. Sebelum Axel sempat protes, Logan mencengkeram kerah kemeja Axel dan menariknya hingga wajah mereka berdua hanya berjarak beberapa sentimeter."Ancaman murahan. Dengar baik-baik, ana

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 243

    Ambar dan Revan hanya berdiri diam di samping mobil, menyaksikan konfrontasi tersebut tanpa berniat mengintervensi. Ambar menatap Axel dengan tatapan dingin, hatinya sudah terlanjur disakiti oleh keangkuhan dan tutur kata kasar putra kandungnya itu. Sementara Revan tetap tenang dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, tak tersulut sedikit pun oleh emosi Axel.Melihat ibu kandung dan Revan hanya membisu tanpa niat membelanya, kemarahan Axel semakin membumbung tinggi. Matanya yang memerah menatap tajam ke arah Harjo, lalu beralih menunjuk wajah Revan dengan telunjuk bergetar."Papa tega ya!" jerit Axel histeris, suaranya menahan amarah dan kekecewaan. "Papa buang aku anak kandung Papa sendiri, di tempat kotor dan bau busuk ini buat jadi buruh! Sedangkan Papa dan Mama malah bakal tinggal enak di rumah mewah sama anak pungut itu!"Axel melangkah mendekat, menatap Harjo penuh kebencian. "Kenapa dia yang dapet fasilitas bagus, Pa? Dia bukan siapa-siapa. Aku yang anak kandung

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 242

    Di dalam kabin kelas eksekutif pesawat, suasana terasa cukup tenang dan nyaman. Kursi-kursi lapis kulit yang empuk dan berjarak lega dirancang untuk penerbangan jarak jauh menuju Australia.Tanpa disengaja, susunan tempat duduk menempatkan Revan dan Axel di deretan yang sama, yaitu duduk berdampingan.Bagi Revan, keberadaannya di pesawat itu adalah hal yang lumrah karena dia memang harus kembali untuk merampungkan urusan pekerjaannya. Pemuda itu tampak sangat santai, mengenakan headphone, membaca sebuah majalah bisnis, atau sesekali memejamkan mata untuk beristirahat tanpa memedulikan siapa pun di sekitarnya.Sebaliknya, batin Axel bergemuruh hebat sejak pesawat lepas landas. Dia sesekali melirik Revan dengan tatapan sinis dan tidak suka. Dalam hatinya, Axel terus menggerutu, 'Sialan! Kenapa anak pungut sok suci ini harus ikut naik pesawat yang sama dan balik lagi ke Australia? Bikin risih saja. Kenapa dia nggak tinggal di Jakarta saja bersama orang tua barunya itu?'Walaupun jengkel

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 241

    Dandi menghela napas panjang, senyum hangatnya berganti dengan wajah lelah dan sedih saat Axel disebut."Soal Axel... jujur sampai sekarang dia tetap belum berubah, Mas Suryo. Meskipun udah tak usir dari rumah setelah semua yang dia lakukan, tapi kok sifatnya nggak berubah sama sekali," jawab Dandi.Suryo dan Dewi saling berpandangan, menyimak dan terkadang menggelengkan kepala ikut prihatin."Orang tua kandungnya aja awalnya juga nggak langsung mau menerima dia gitu aja karena kelakuannya yang udah kelewatan," lanjut Dandi seraya memijat pelipisnya perlahan. "Mereka benar-benar kecewa berat."Dandi menatap Suryo dan Dewi bergantian dengan tatapan lurus. "Tapi besok, Axel akan tetap dibawa ke Australia. Biar di sana dia dikasih pelajaran arti hidup yang sesungguhnya, karena kalau dibiarkan di sini, dia hanya akan terus menghancurkan dirinya sendiri dan orang lain."Suryo mengangguk paham, menghela napas dan ikut prihatin. "Sudahlah, Dandi, Mila. Kalian sudah berbuat sangat banyak dan

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 240

    Meskipun kiranya kepikiran kayak kenal nama itu, Rima memilih untuk diam saja karena belum yakin dan dia nggak akan gegabah, daripada membuat masalah makin runyam.Reno menatap Harjo. "Papa yakin mau menangani sendirian? Sedangkan papa nanti di Australia sana. Lagian orang ini kayak obsesif. Papa nggak bisa menghadapinya sendirian tanpa persiapan matang, Pa."Harjo menoleh ke arah Reno, lalu tersenyum tipis yang menenangkan. "Tenang, Rey. Papa tidak akan bertindak ceroboh. Tapi masa lalu ini harus diselesaikan oleh orang yang memang bersinggungan langsung dengannya. Kalian fokus saja pada kebahagiaan keluarga."Dandi dan Darmawan saling bertukar pandang, menghargai keputusan Harjo, tapi tetap waspada pada sosok bernama Gunadi Darma.Tidak terasa hari pun semakin beranjak siang. Suasana ruang keluarga yang tadi tegang, sudah kembali tenang. Bik Yuli bersama para asisten rumah tangga lainnya pun sudah selesai menyiapkan hidangan makan siang, bahkan Bu Rahma ikut di dapur memasak, daripa

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 239

    "Jadi siapa dalang di balik semua itu, Pak Darmawan?" tanya Dandi tidak sabar, penasaran sampai setengah berdiri dari kursinya.Darmawan menatap Dandi, lalu mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan sebelum menghela napas berat."Orang itu bernama Gunadi Darma," beritahu Darmawan.Suasana ruang keluarga yang tadinya hangat langsung berubah hening. Semua orang terdiam, mencoba mencerna nama asing yang baru saja disebut Darmawan."Gunadi Darma?" gumam Dandi dengan kening berkerut dan menggeleng pelan. "Apa kalian ada yang mengenal nama itu? Saya sama sekali tidak pernah mendengar namanya."Satu per satu orang di ruangan itu saling berpandangan, menggelengkan kepala karena tidak tahu."Saya juga baru pertama kali mendengar nama itu," sahut Darmawan melanjutkan penjelasannya. "Ini baru pengakuan awal dari dokter senior dan perawat yang bertugas di rumah sakit saat itu, yang akhirnya terpaksa buka mulut setelah tim kita menekan dan memaksa, mengantongi bukti ancaman masa lalu. Tapi sayangn

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 6

    Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 5

    Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 3

    Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 1

    "Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status