LOGIN"Maksud Papa sangat jelas."
Darmawan menatap putrinya tanpa berkedip. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak dalam suaranya. Justru ketenangan itulah yang membuat ancaman yang baru saja diucapkannya terdengar semakin nyata. "Mulai hari ini seluruh kartu kreditmu akan Papa blokir. Mobil yang selama ini kamu pakai akan Papa tarik. Semua fasilitas yang selama ini Papa beri, akan Papa tarik. Rekeningmu dibekukan, dan kalau memang perlu, nama kamu akan Papa keluarkan dari kartu keluarga dan pergi dari rumah." Viona yang sejak tadi terus membantah mendadak terdiam. Reno bisa melihat perubahan itu dengan jelas. Wanita yang beberapa menit lalu masih berdiri tegak dengan tatapan penuh perlawanan kini terlihat goyah, seolah baru menyadari bahwa papanya benar-benar tidak sedang menggertak. "Papa nggak mungkin melakukan itu," bantah Viona sambil menggeleng cepat. Namun nada suaranya tidak lagi setegas sebelumnya. Darmawan tidak terlihat tersinggung oleh ketidakpercayaan putrinya, yang ada malah mengangguk kecil sebelum menjawab dengan nada datar yang membuat suasana semakin menekan. "Kalau tidak percaya, silakan coba." Reno tidak mengenal keluarga ini. Tapi dari cara Viona menatap papanya sekarang, dia bisa menebak bahwa Darmawan bukan tipe orang yang mengeluarkan ancaman kosong hanya untuk menakut-nakuti. Darmawan akan melakukan apa yang sudah diputuskan. Viona mengetahui hal itu lebih baik daripada siapa pun. "Dan ada satu hal lagi yang harus kamu ingat," lanjut Darmawan sambil menatap putrinya lurus. "Kalau hari ini kamu memilih keluar dari keluarga ini, lupakan seluruh bagian warisan keluarga." Kalimat itu langsung menghantam pertahanan Viona jauh lebih keras dibanding ancaman sebelumnya. Reno melihat warna wajah wanita itu perlahan memudar. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, sementara bibirnya bergerak seolah ingin membalas, tetapi tidak ada satu pun kata yang berhasil keluar. Mendadak ruangan itu tenggelam dalam keheningan. Reno yang hanya menjadi orang luar, bisa melihat dengan jelas bagaimana Viona sedang berperang dengan dirinya sendiri. Wanita itu jelas ingin melawan dan mempertahankan keinginan juga harga dirinya, tetapi pada saat yang sama ketakutan kehilangan seluruh kehidupan dan kenyamanan yang selama ini dimilikinya, membuatnya tidak mampu mengambil langkah sejauh itu. Seumur hidup Reno tidak pernah memiliki banyak hal untuk dipertahankan. Karena itu dia baru menyadari bahwa kemewahan ternyata juga bisa menjadi bentuk ketergantungan. Akhirnya Viona mengembuskan napas panjang. Seluruh perlawanan yang sejak tadi dipertahankannya perlahan runtuh. "Oke," ucap Viona lirih sambil mengalihkan pandangan. "Kalau memang itu maunya Papa, terserah." Jawaban itu langsung membuat beberapa orang di dalam ruangan menghembuskan napas lega. Darmawan mengangguk puas. "Bagus. Itu keputusan yang lebih bijak, Vi." Viona tidak membalas, tatapannya malah beralih ke arah Reno. Reno yang sejak tadi hanya berdiri diam langsung merasakan sorot mata itu. Tidak ada lagi kemarahan yang ditujukan kepada papanya. Semua kekesalan yang tidak bisa dilampiaskan kini seolah diarahkan kepadanya. "Kamu dengarkan baik-baik," ucap Viona. Reno mengangkat kepala dan menatap balik tanpa menghindar. "Jangan pernah berpikir pernikahan ini membuat kamu berarti apa pun buat aku." Nada suara Viona terdengar dingin dan tajam. "Kamu cuma pengganti. Dan setelah semua ini selesai, jangan pernah bermimpi bisa menjadi bagian dari hidupku. Apalagi menganggap dirimu itu jadi suamiku." Reno bisa merasakan bagaimana setiap kata itu sengaja diucapkan untuk melukai. Alih-alih marah, Reno justru merasa wanita itu sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Seolah jika terus mengulang bahwa Reno hanyalah pengganti, maka kenyataan pahit yang sedang dihadapinya akan terasa lebih mudah diterimanya. Yang paling terluka di ruangan ini bukan Reno. Melainkan wanita yang baru saja ditinggalkan calon suaminya tepat di hari pernikahan. Tanpa menunggu jawaban, Viona langsung berbalik dan melangkah pergi. Brak! Pintu tertutup keras di belakangnya. Suara benturannya menggema di seluruh ruangan sebelum akhirnya keheningan kembali mengambil alih. Reno masih memandangi pintu yang baru saja ditinggalkan wanita itu. Entah kenapa, ia tidak benar-benar merasa tersinggung. Harga dirinya memang tidak sepenuhnya baik-baik saja, tetapi ada hal lain yang justru muncul di dalam benaknya. Viona jelas tidak menyukainya, hal itu justru membuatnya sedikit tertantang. "Galak juga ternyata," gumam Reno pelan sambil menggeleng kecil. Reno kembali menatap pintu yang kini sudah tertutup rapat. Jika memang takdir mengharuskannya menikah hari ini, maka hidupnya jelas tidak akan tenang setelah ini, karena Reno sadar wanita itu adalah tipe yang tidak mudah dikalahkan. "Kalau memang takdir mengharuskan kita menikah hari ini, kita lihat saja nanti siapa yang menyerah lebih dulu, Nona Viona." *** Akhirnya hari yang terasa seperti mimpi buruk itu tetap berjalan sebagaimana mestinya. Akad yang tertutup sudah terlaksana dan resepsi berlangsung lancar. Para tamu yang memenuhi ballroom sama sekali tidak mengetahui bahwa beberapa jam sebelumnya keluarga Darmawan nyaris mengalami skandal yang bisa menghancurkan seluruh acara. Di mata mereka semuanya terlihat sempurna. Viona tampil cantik dan anggun dalam gaun pengantin yang sejak tadi menjadi pusat perhatian. Sementara Reno berdiri di sampingnya dengan jas mahal yang bahkan tidak pernah terbayang akan dikenakannya seumur hidup. Keduanya tersenyum di depan kamera, menerima ucapan selamat, lalu berfoto bersama para tamu seolah tidak ada masalah apa pun yang terjadi. Tidak seorang pun mengetahui bahwa pria yang berdiri di samping Viona bukanlah pria yang seharusnya berada di sana. Dan setiap kali seseorang menjabat tangannya sambil mengucapkan selamat, Reno justru merasa semakin asing dengan kehidupannya sendiri. Reno membalas setiap sapaan dengan senyum sopan. Menjawab pertanyaan para tamu seperlunya. Bahkan sesekali tertawa kecil ketika diajak bercanda oleh relasi bisnis keluarga Darmawan. Beberapa jam lalu ia masih memikirkan ongkos perjalanan pulang kampung, biaya rumah sakit, dan cara menyelamatkan rumah keluarganya dari penyitaan. Sekarang Reno berdiri di tengah ballroom mewah yang nilai dekorasinya mungkin lebih mahal daripada seluruh aset keluarganya. Kontras itu terasa begitu tidak masuk akal. Sesekali jemarinya menyentuh ponsel di dalam saku jasnya. Keinginan untuk menelepon Ravita terus muncul, tetapi Reno menahannya. Di luar, orang-orang melihatnya sebagai pengantin pria paling beruntung hari ini. Di dalam kepalanya, yang terus terbayang justru ruang operasi tempat ibunya sedang berjuang mempertahankan hidup. Reno baru sadar, hidup seseorang bisa berubah hanya dalam hitungan jam. Pagi tadi ia masih seorang mekanik bengkel biasa. Dan malam ini sudah menjadi menantu salah satu pengusaha paling berpengaruh di negeri ini. Status baru itu seharusnya terasa membahagiakan, tapi yang Reno rasakan justru kelelahan, karena dirinya tidak datang ke pernikahan ini sebagai seorang pria yang sedang memulai kehidupan baru bersama wanita yang dicintainya. Reno datang sebagai seorang anak yang sedang berusaha menyelamatkan nyawa ibunya, dengan harga yang harus dibayar untuk itu adalah harga diri dan masa depannya sendiri. Ketika tamu terakhir akhirnya meninggalkan ballroom, Viona yang sejak tadi memasang senyum sempurna langsung menghapus ekspresi itu dari wajahnya. Wanita itu menoleh ke arah Reno tanpa berusaha menyembunyikan ketidaksukaannya sedikit pun. "Kamu nggak perlu ikut lagi setelah ini." Reno yang sedang melepas pin bunga di jasnya mengangkat kepala. "Apa maksudnya?" "Acara pernikahan udah selesai. Tugas kamu juga selesai." Nada ketus yang langsung membuat Reno memahami ke mana arah pembicaraan itu. Viona menyilangkan kedua tangan di depan dada sebelum melanjutkan dengan tegas. "Setelah ini kita kembali menjalani hidup masing-masing." Reno sebenarnya tidak keberatan dengan ide itu. Kalau memang semuanya selesai sampai di sini, dia bisa kembali menjadi dirinya sendiri. Kembali bekerja di bengkel, menemani ibunya, dan melupakan seluruh kegilaan yang terjadi hari ini. Yang penting ibunya sudah menjalani operasi, utang-utang keluarganya juga lunas. Namun sebelum Reno sempat menjawab lagi, suara Darmawan terdengar dari belakang mereka. "Siapa yang bilang semuanya sudah selesai?" Viona langsung memejamkan mata sambil mengembuskan napas panjang. Dari sekian banyak orang yang ada di ballroom saat itu, orang yang paling tidak ingin ia dengar suaranya memang papanya sendiri. "Papa lagi... Memangnya ada apa lagi? Pernikahan ini sudah selesai, dan akting dia juga selesai sampai di sini." Darmawan berjalan mendekat dengan langkah tenang. "Reno sudah menjadi suamimu sekarang, Vi," ucapnya pelan namun tegas. "Terlepas dari bagaimana kalian menikah." "Dia bukan suamiku yang sesungguhnya, Pa," bantah Viona cepat. "Dia cuma pengganti." "Tetap saja statusnya suamimu. Sah secara agama dan sah secara hukum." Viona menatap ayahnya tidak percaya. "Papa tahu maksudku. Kita sudah menyelesaikan sandiwara ini. Kenapa harus diteruskan lagi?" "Karena ini bukan sandiwara." "Kalau begitu apa?" tanya Viona dengan nada frustrasi. Darmawan menatap putrinya lurus. "Ini pernikahan sesungguhnya. Kalian sudah menikah. Dan mulai hari ini kalian adalah pasangan suami istri yang harus hidup bersama seperti pasangan suami istri pada umumnya." "Mana bisa begitu?!"Sementara itu di dalam kamar Reno, suasana terasa begitu panas dan sarat akan gairah. Viona yang sudah tidak tahan menahan hasrah gairahnya sejak kemarin, enggan menunggu sampai mereka tiba di Jakarta besok. Tanpa ragu, wanita cantik itu mengambil inisiatif meminta haknya malam ini pada sang suami."Vi, pelan-pelan ya, di sebelah kan ada Bang Rizal. Nanti dengar," bisik Reno memperingatkan sembari menatap dalam mata istrinya yang diliputi gairah."Mana bisa aku tahan, Ren. Kamu tuh bikin aku melayang terus," jawab Viona dengan desahan manja sembari melingkarkan kedua tangannya erat di leher tegap Reno.Namanya juga Viona, rasanya ada yang kurang jika ia tidak mengekspresikan kenikmatan yang dirasakannya. Erangan-erangan halus dan desahan nikmatnya terus lolos dari bibir indahnya, memecah kesunyian malam. Derit ranjang kayu tua yang bergoyang ritmis seolah menjadi musik pengiring dalam pergulatan intim mereka.Di balik dinding yang tipis, Rizal hanya bisa meremas sprei dengan napas mem
Reno dan Viona saling melempar pandangan, sementara di dalam kamar yang gelap, Rizal rupanya sedang menempelkan telinganya di balik pintu kayu, mendengarkan setiap kata percakapan itu dengan napas tertahan dan hati yang makin bergejolak panas."Nggak usah, Bu. Yang penting kita berdua udah sah secara hukum dan agama. Toh besok aku sama Viona juga udah harus balik ke Jakarta lagi," ujar Reno tenang sembari mengusap lembut punggung tangan istrinya.Bu Rahma manggut-manggut, meski raut wajahnya masih menyimpan sedikit rasa tidak enak pada warga sekitar."Lagian para tetangga juga belum ada yang tahu kalau kami sebenarnya udah nikah. Hanya keluarga Yunita kemarin. Kalau cuma mau bikin syukuran kecil-kecilan sih nggak apa-apa, Bu. Bikin besok malam atau kapan aja, meski aku udah berangkat, karena nggak sempat kalau sebelum aku berangkat. Bilang aja syukuran keselamatan atas keberangkatanku balik merantau. Kalau harus bikin pesta resepsi segala, jelas butuh biaya yang nggak sedikit, Bu," ta
"Iya, Sari. Ini aku," jawab Reno singkat dengan nada tenang. Sari mengikis jarak beberapa langkah, menyunggingkan senyum manis yang memancarkan rasa takjub. Matanya berbinar meneliti penampilan Reno dari atas ke bawah. "Pangling banget aku, Ren. Kamu makin tampan dan gagah aja sekarang. Kapan balik dari Jakarta?" Belum sempat Reno membalas, aura dingin nan mengintimidasi mendadak menyeruak dari arah belakang. Viona yang hatinya mulai terbakar cemburu seketika melangkah maju. Dengan gerak refleks yang elegan namun sarat akan klaim kepemilikan, Viona melingkarkan lengan mulusnya ke lengan tegap Reno, merapat erat ke sisi suaminya sembari melempar tatapan menusuk. Sari tertegun, matanya membelalak kaget melihat wanita cantik dan terlihat berkelas mendadak menempel sangat dekat pada Reno. Viona menyunggingkan senyum tipis yang penuh kepatuhan posesif. "Halo. Aku Viona, istrinya Reno." Mendengar pengakuan itu, raut wajah Sari seketika berubah pucat pasi. Binar gembira di matanya pada
Mendengar penolakan mentah-mentah dari ayah Yunita, mata Rizal membelalak kaget bukan main. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Semalam dia sudah tercerahkan, di dalam benaknya yang licik, Rizal dari semalam jadi berharap besar bisa menjadi menantu seorang anggota dewan yang kaya raya itu. Rizal mengira dengan datang dan mau bertanggung jawab, keluarga Yunita akan menerimanya dengan tangan terbuka, menyediakannya fasilitas, dan memberinya jalan pintas untuk hidup enak tanpa perlu susah payah bekerja.Baru kemarin Viona dan Reno menyadarkannya, bahwa sebagai laki-laki, ia harusnya menghadapi masalah ini, bukan malah kabur dan ngumpet, enak juga pastinya kalau dapat mertua kaya. Dan sayangnya baru semalam Rizal kepikiran itu.Rizal jadi berpikir, jika ia datang untuk bertanggung jawab, Yunita pasti menerimanya karena wanita itu membutuhkan sosoknya sebagai ayah dari anak yang dikandung, dan keluarganya Yunita mau tidak mau akan menerimanya apa adanya.Dan Reno juga sudah berjan
Bu Rahma langsung menembak Rizal dengan pertanyaan itu. "Di dalam aja ayo kita bicaranya, Bu," ajak Reno.Reno mencengkeram bahu Rizal, mendorong abangnya itu masuk ke dalam rumah. Tak ada lagi tempat untuk menghindar. Rizal kini didudukkan di sofa kayu ruang tamu, sementara Reno berdiri tegap di depannya dengan kedua tangan bersedekap, memancarkan aura dominan dan intimidatif. Di sekelilingnya, Bu Rahma, Ravita, dan Viona menatap Rizal tajam. Ruang tamu sederhana itu mendadak berubah menjadi ruang sidang, dan Rizal duduk tertunduk lesu bagaikan terdakwa yang menantikan vonis eksekusi.Reno langsung melayangkan tembakan pertanyaan tanpa basa-basi. Suaranya berat dan menekan. "Sekarang jawab jujur, Jal! Kenapa kamu malah kabur dan ngumpet kayak pengecut? Mau sampai kapan kamu biarkan Ibu sama Ravita kena teror orang? Kamu nggak tahu, bahkan mereka meminta aku yang menggantikan posisimu untuk menikahi Yunita."Rizal makin mengkerut, tak berani menatap mata adiknya yang berkilat tajam.
Gertakan tegas dan tatapan tajam Reno sukses meruntuhkan sisa keberanian Rizal hingga nyalinya benar-benar menciut habis. Rizal tahu betul, Reno adalah tipe pria yang penyabar dan jarang meluapkan emosi. Namun, sekalinya murka karena batas kesabarannya dilangkahi, adiknya itu tak segan bertindak nekad dan tanpa ampun."I-iya, Ren... Iya, Abang pulang. Jangan main seret," jawab Rizal gugup, buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku dan merapikan pakaiannya yang kusut.Melihat abangnya yang akhirnya menurut seperti ayam sayur, Reno tak membuang waktu lagi. Sebelum beranjak keluar, Reno menghampiri istri Dadang yang berdiri canggung di dekat pintu. Pria itu merogoh dompetnya, mengeluarkan banyak lembar uang merah seratus ribuan, lalu mengulurkannya dengan sopan."Mbak, sekali lagi saya minta maaf atas kelakuan Bang Rizal yang udah menyusahkan. Ini ada sedikit, anggap saja ganti rugi uang makan dan numpang tidurnya Bang Rizal selama beberapa hari di sini," ucap Reno dengan intonasi yan
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar







