Share

Bab 5

Penulis: Trya Dhafi
last update Tanggal publikasi: 2026-06-04 13:30:08

Viona tertawa pelan begitu mendengar keputusan papanya. Tawa itu sama sekali tidak mengandung rasa geli, melainkan penuh kepahitan dan ketidakpercayaan.

"Papa benar-benar serius?" tanyanya sambil menatap Darmawan lekat. "Papa nggak khawatir menyerahkan putri Papa kepada laki-laki miskin yang bahkan baru Papa kenal hari ini? Kita nggak tahu keluarganya seperti apa, masa lalunya bagaimana, atau siapa sebenarnya dia. Kalau suatu hari dia ternyata orang jahat dan mencelakaiku, apa Papa pernah memikirkan kemungkinan itu?"

Setiap kalimat yang keluar dari mulut Viona terdengar jelas di telinga Reno.

Kata "miskin" kembali diucapkan dengan penekanan yang sama seperti sebelumnya. Reno tidak bisa memungkiri bahwa ucapan itu menusuk harga dirinya. Dan tuduhan Viona memang benar, dia miskin, mereka memang orang asing.

Reno menarik napas pelan, lalu memilih tetap diam karena dalam situasi seperti ini, diam jauh lebih baik daripada memperpanjang perdebatan.

Darmawan mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menjawab.

"Papa memang baru mengenalnya hari ini, Vi."

Viona langsung menggeleng. "Nah, itu dia."

"Tapi beberapa jam ini sudah cukup menunjukkan siapa dia."

"Apa yang Papa lihat?" potong Viona cepat. "Karena yang aku lihat cuma laki-laki yang mau menerima uang untuk menggantikan calon pengantin."

Darmawan melangkah mendekat. "Papa melihat laki-laki yang berkali-kali menolak uang yang padahal sangat dia butuhkan. Papa juga melihat laki-laki yang lebih dulu bertanya tentang putri Papa, bersedia atau tidak menikah dengannya, daripada soal uangnya."

Viona mengernyit.

Tatapan Darmawan bergeser kepada Reno sesaat sebelum kembali kepada putrinya.

"Dia bahkan meminta membaca seluruh isi perjanjian sebelum mengambil keputusan. Dia memastikan dirinya tidak mengambil hak siapa pun."

Viona masih tampak tidak percaya. "Itu belum membuktikan apa-apa."

"Mungkin belum," jawab Darmawan tenang. "Tapi selama puluhan tahun Papa memimpin perusahaan, Papa sudah bertemu ribuan orang. Ada orang yang terlihat baik ternyata licik. Ada juga yang penampilannya sederhana, tapi memegang prinsip lebih kuat daripada siapa pun."

Darmawan semakin mantap dan yakin. "Dan insting Papa belum pernah mengecewakan."

Viona mengembuskan napas kasar. "Papa terlalu percaya pada insting."

"Selama ini justru insting itu yang membawa keluarga kita sampai di titik sekarang, Vi."

Viona memalingkan wajah dengan kesal. Dia tahu papanya bukan orang yang mudah mengubah keputusan.

Sekali memutuskan sesuatu, hampir tidak ada yang mampu menggoyahkan pendiriannya.

Reno yang sejak tadi hanya menjadi pendengar akhirnya merasa perlu berbicara.

"Pak..."

Semua mata langsung beralih kepadanya.

Reno menatap Darmawan dengan sungguh-sungguh. "Kalau menurut Bapak keputusan ini justru membuat Nona Viona semakin menderita... saya nggak keberatan membatalkannya."

Ucapan Reno itu membuat Viona spontan menoleh.

"Saya memang butuh uang untuk menyelamatkan ibu saya. Tapi saya juga nggak mau memaksa seseorang menjalani hidup yang benar-benar dia tolak," lanjut Reno dengan tenang.

Darmawan menatap Reno beberapa saat.

Sementara Viona terlihat sedikit terdiam. Tidak menyangka pria itu justru mengatakan hal seperti itu. Padahal beberapa menit yang lalu dirinya sudah berkali-kali menghina dan merendahkannya.

Darmawan perlahan menggeleng. "Sudah terlambat. Keputusan Papa tidak berubah."

Darmawan lalu menatap putrinya lagi. "Dan justru karena dia masih memikirkan perasaanmu dalam keadaan seperti ini, Papa semakin yakin tidak salah memilih."

Reno hanya mengembuskan napas pelan, sama sekali tidak bermaksud mencari penilaian baik dari siapa pun, hanya mengatakan apa yang memang dipikirkannya.

"Ada satu hal lagi." Darmawan ternyata belum selesai.

Viona menoleh malas. "Apa lagi sekarang?"

"Kalian tidak akan tinggal di rumah Papa."

Kening Viona langsung berkerut. "Maksud Papa?"

"Kalian akan tinggal di rumah yang sudah Papa siapkan."

Ucapan Darmawan itu membuat bukan hanya Viona yang terkejut. Reno pun spontan mengangkat kepala.

"Rumah?" tanya Viona.

"Iya."

Reno benar-benar tidak menyangka. Sejak awal ia mengira semua ini hanya demi menyelamatkan acara pernikahan.

Setelah resepsi selesai, Reno membayangkan bisa pulang, ke rumah sakit menemani ibunya. Ternyata semua ini jauh lebih nyata daripada yang ia kira.

Darmawan menatap keduanya bergantian.

"Kalian sudah sah menjadi suami istri. Jadi mulai malam ini kalian akan tinggal serumah."

Kalimat itu membuat Reno kehilangan kata-kata dan perlahan mengusap wajahnya.

Ternyata harga yang harus ia bayar untuk menyelamatkan ibunya bukan hanya sebuah akad. Seluruh jalan hidupnya benar-benar berubah.

Di sisi lain, Viona langsung tertawa pendek. "Papa bercanda, kan?"

"Tidak."

"Papa menyuruhku tinggal serumah dengan orang asing?"

"Dia suamimu, Vi," koreksi Darmawan.

"Bukan!" bentak Viona. "Dia cuma pria yang Papa bayar!"

Reno menundukkan kepala sesaat. Ucapan Viona barusan memang menyakitkan. Tapi tidak bisa menyalahkan Viona.

Kalau berada di posisi wanita itu, mungkin ia juga akan bereaksi sama.

Darmawan tetap tenang. "Kalian akan mulai hidup mandiri. Papa tetap membantu kebutuhan kalian, tapi Papa ingin kalian belajar membangun rumah tangga sendiri."

Viona menggeleng kuat-kuat. "Papa benar-benar sudah kehilangan akal."

"Papa justru sedang memikirkan masa depanmu," jawab Darmawan tegas. "Kalian sudah menikah dan status itu tidak akan berubah hanya karena kamu terus menolak kenyataannya."

Viona ingin membalas lagi, tetapi Darmawan sudah lebih dulu berbalik. Seperti biasa, begitu mengambil keputusan, tidak ada seorang pun yang mampu mengubah pikirannya.

Rima berjalan mendekat setelah suaminya pergi. Wanita itu menepuk bahu Viona pelan, meski sentuhan tersebut sama sekali tidak berhasil menenangkan anak tirinya.

"Sudahlah, Vi," ucapnya lembut. "Turuti saja dulu keputusan papamu. Terkadang kita memang harus menjalani sesuatu sebelum tahu kenapa itu terjadi."

Viona tidak menjawab, hanya memalingkan wajah sambil menahan kesal. Dan sikap itu membuat Rima menghela napas pelan sebelum akhirnya ikut menyusul Darmawan.

Tatapan Viona lalu beralih kepada Reno. "Dan kamu... Kamu senang sekarang?" Sorot matanya kembali berubah dingin.

Reno mengangkat pandangannya perlahan. Tatapannya tetap tenang meski pertanyaan itu terdengar seperti tuduhan.

"Saya nggak tahu harus merasa senang atau nggak, Nona."

Viona tertawa sinis. "Tentu saja senang. Dalam satu hari hidupmu langsung berubah. Dapat istri, dapat rumah, dan mungkin sebentar lagi hidup enak."

Reno menggeleng pelan. "Kalau hidup enak yang Anda maksud harus dimulai dengan menyakiti hati orang lain, saya lebih memilih tetap jadi teknisi dan mekanik bengkel."

Kalimat itu membuat Viona terdiam sesaat.

"Saya nggak pernah bermimpi menikah dengan cara seperti ini. Saya juga nggak pernah berharap berada di keluarga Anda. Yang saya inginkan cuma satu... ibu saya selamat," lanjut Reno.

Sesaat Viona kehilangan kata-kata. Tapi luka yang ditinggalkan Axel terlalu besar hingga membuat simpati yang sempat muncul kembali tenggelam.

"Itu tetap bukan urusanku."

"Iya." Reno mengangguk tanpa membantah. "Karena itu saya juga nggak pernah meminta Anda memikul masalah saya."

Jawaban Reno yang tenang itu, malah membuat Viona semakin kesal. Ia mendecak pelan, lalu berbalik dan melangkah keluar ballroom dengan langkah cepat.

Gaun pengantinnya yang panjang terseret di lantai marmer. Baru beberapa langkah, ujung gaun itu hampir terinjak oleh hak sepatunya sendiri.

Refleks, Reno bergerak lebih dulu, menunduk dan mengangkat sedikit bagian belakang gaun itu agar tidak terseret.

Viona langsung menoleh. "Lepas."

"Saya cuma nggak mau gaunnya rusak."

"Nggak usah sok perhatian."

Reno segera melepaskan gaun itu tanpa membalas apa pun. "Maaf."

Ucapan Reno itu membuat Viona semakin sulit memahami pria di hadapannya.

Biasanya laki-laki akan membalas ketika harga dirinya diinjak seperti itu, tapi Reno tidak dan hanya diam.

Sikap itulah yang membuat Viona memilih kembali berjalan tanpa berkata apa-apa.

Beberapa menit kemudian, mobil hitam yang telah disiapkan berhenti di depan lobi hotel.

Sopir segera membukakan pintu belakang.

Viona masuk lebih dulu tanpa menoleh.

Reno menyusul duduk di sisi lain setelah membantu merapikan gaun Viona, menyisakan jarak selebar mungkin di antara mereka.

Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun yang berbicara.

Suara mesin mobil menjadi satu-satunya bunyi yang memenuhi kabin.

Viona terus memandang ke luar jendela. Lampu-lampu kota yang berlalu cepat tampak buram karena matanya kembali dipenuhi air mata yang ia tahan mati-matian.

Reno menatap lurus ke depan. Pikirannya sama sekali tidak berada di dalam mobil mewah itu. Yang terus memenuhi kepalanya hanyalah ruang operasi rumah sakit.

Apakah ibunya sudah selasai dioperasi?

Apakah Pak Darmawan benar-benar menepati janjinya?

Ravita sekarang sendirian menunggu di depan ruang operasi?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar tanpa henti.

Sesaat kemudian ponselnya bergetar. Nama Ravita muncul di layar.

Jantung Reno langsung berdegup lebih cepat. Perasaannya mendadak tidak enak

Dengan tangan sedikit gemetar, ia segera menerima panggilan itu.

"Rav, gimana? Ibu sudah baik-baik saja, kan?"

"Mas Reno!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 219

    Harjo menggeleng cepat, lalu memegang kedua pundak Revan dengan tatapan mata yang sangat hangat."Pergi dari rumah ini? Tolong jangan pernah berpikiran seperti itu, Revan," tegas Harjo dengan sayang. "Rumah ini adalah rumahmu juga. Mau sampai kapan pun, kamu tetap anak Papa dan Mama. Kasih sayang dan pintu rumah ini tidak akan pernah tertutup untukmu."Ambar mengangguk cepat, menyapu air mata di pipi Revan dengan ibu jarinya. "Betul kata Papa, Nak. Jangan pernah merasa dibuang apalagi sampai merasa terusir dan harus pergi dari rumah ini."Harjo menghela napas panjang. "Tapi Revan... Coba pikirkan pelan-pelan. Apa kamu sama sekali tidak ingin bertemu dengan orang tua kandungmu? Tidak ada yang memintamu untuk memilih atau melupakan kami. Tapi bagaimanapun juga, di luar sana ada orang tua biologis yang mungkin selama ini juga tidak tahu kalau anak kandung mereka tertukar. Pastinya mereka juga berhak tahu kebenarannya dan ingin bertemu denganmu, Nak. Dan menurut cerita dari Reynald, Axel

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 218

    Revan hanya diam terpaku, menatap amplop cokelat di atas meja tanpa berniat menyentuhnya. Tatapannya kosong, otaknya menolak untuk mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut orang yang selama ini dipanggilnya papa. Hatinya menolak percaya. Baginya semua seperti mimpi, seperti lelucon buruk yang sama sekali tidak lucu."Papa pasti bercanda, kan?" tanya Revan, mencoba tertawa dengan suara yang bergetar. "Ma, ini bercandaan jenis apa sih? Revan ini anak Papa dan Mama. Revan tumbuh besar di rumah ini selama 26 tahun."Harjo menatap Revan dengan rasa iba dan penyesalan. Lalu menghela napas berat, coba menjelaskan kenyataan itu agar bisa masuk di logika Revan."Revan... Coba kamu perhatikan baik-baik," ujar Harjo pelan. "Pernahkah kamu menyadari, atau setidaknya merasa, kalau kamu sama sekali tidak memiliki kemiripan fisik dengan Papa maupun Mama? Garis wajahmu, postur tubuhmu, tak ada satu pun yang menurun dari kami."Kata-kata Harjo menohok Revan. Bukannya langsung percaya, dada

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 217

    "Pak, Bu..." ucap Reno memecah keheningan. Ia melirik Viona sejenak sebelum kembali menatap orang tua kandungnya. "Kalau dipikir-pikir lagi, dugaan kita soal Revan yang kemungkinan besar adalah anak kandung Pak Dandi Wijaya itu sangat kuat. Tapi, apakah menurut Bapak dan Ibu kita perlu segera memberitahu Axel atau bahkan Pak Dandi soal ini?"Viona mengangguk menyetujui suaminya. "Iya, Pak Harjo, Bu Ambar. Apalagi kalau mengingat kondisi Axel sekarang yang sudah diusir dan hidup hancur. Kalau terbukti Revan adalah anak kandung Pak Dandi, setidaknya Pak Dandi bisa tahu kebenarannya. Siapa tahu itu juga bisa mengubah hidup Axel atau meluruskan hubungan keluarganya."Harjo mendengarkan usulan itu dengan saksama. Ia menyandarkan punggungnya, lalu mengusap dagunya perlahan sambil menatap meja. Pikirannya berputar keras memikirkan rantai keluarga yang rumit ini."Ide kalian tidak salah, Nak Reynald, Nak Viona. Tapi sebelum kita melangkah sejauh itu, sebelum kita menghubungi pihak keluarga Pa

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 216

    Harjo menelan ludah dengan susah payah, menatap Reno dengan binar mata yang dipenuhi rasa bersalah dan kerinduan mendalam seorang ayah."Lalu... bagaimana kehidupanmu selama 26 tahun ini, Reynald?" Bagaimana kamu bisa tumbuh dewasa sampai menjadi pria hebat seperti sekarang?" tanya Harjo.Reno menghela napas pendek, lalu tersenyum tipis, mengingat ketabahan dari perjalanan hidup yang tak mudah."Dulu, saya ditemukan di depan rumah kontrakan oleh ibu di Jakarta. Beliau dari keluarga yang sangat biasa," tutur Reno perlahan. "Lalu membawa saya pulang ke kampung halamannya. Saya dibesarkan di sana dalam kesederhanaan. Sampai akhirnya almarhum Bapak angkat saya meninggal dunia, dan mau tidak mau saya yang harus menjadi tulang punggung keluarga membantu ibu."Reno mengusap tengkuknya pelan. "Pendidikan saya cuma sampai lulusan SMA, Pak, Bu. Dulu saya kerja keras sebagai buruh di bengkel pabrikasi. Sampai akhirnya takdir membawa saya bertemu Papanya Viona. Beliau mempercayakan saya menjadi m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 215

    Harjo menatap putra kandungnya dengan tatapan penuh keharuan dan penyesalan mendalam, lalu menghembuskan napas berat."Maafkan Bapak, Nak. Maaf kalau tindakan Bapak terkesan lancang dan diam-diam," tutur Harjo. "Waktu pertama kali kita tidak sengaja melihatmu di restoran malam kemarin itu, Bapak sangat terkejut melihat wajahmu yang begitu mirip dengan Bapak waktu muda. Jadi sewaktu kamu ke toilet, Bapak ikut menyusul, menyapa dan perkenalan itu, lalu dengan sengaja Bapak mengambil sampel dari rambut kamu yang jatuh."Harjo berhenti sejenak, melirik Ambar yang mengangguk pelan sambil mengusap air matanya, lalu melanjutkan."Itu Bapak lakukan karena dugaanmu yang begitu mirip dengan Bapak. Nggak mungkin kalau bukan anak kandung, bisa semirip itu seperti fotocopy waktu masih muda. Jadi untuk memastikan terpaksa Bapak tes DNA. Tolong, baca lembaran kesimpulan di paling bawah kertas itu, Nak."Dengan tangan yang kini ikut gemetaran, Viona terus membaca kertas tersebut ke bagian akhir, seme

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 214

    Harjo tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia berusaha menjaga intonasi suaranya agar tetap terdengar seperti obrolan santai, walau dadanya bergemuruh hebat."Maksud Bapak, wajah dan pembawaan Nak Reynald ini benar-benar mengingatkan Bapak pada masa muda Bapak dulu," tutur Harjo hangat. "Rasanya nggak asing."Ambar mengangguk cepat, menyetujui ucapan suaminya, kemudian mencoba memancing lebih jauh, mengarahkan pembicaraan ke arah masa lalu yang ingin mereka pastikan."Nak Reynald ini aslinya memang dari Jakarta, kan?" tanya Ambar dengan raut penuh rasa ingin tahu yang lembut. "Kalau boleh tahu, Nak Reynald tanggal lahirnya kapan? Siapa tahu usianya tidak jauh beda dengan anak kami."Reno yang tidak mencurigai apa pun tersenyum ramah mendengarkan pertanyaan itu. "Iya, Bu Ambar, saya lahir di Jakarta tapi besar di kampung ibu saya. Saya lahir tanggal..."Reno lalu memberitahukan tanggal lahirnya.Mendengar tanggal lahir yang disebutkan Reynald, napas Ambar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 6

    Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 4

    Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 3

    Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 1

    "Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status