เข้าสู่ระบบViona tertawa pelan begitu mendengar keputusan papanya. Tawa itu sama sekali tidak mengandung rasa geli, melainkan penuh kepahitan dan ketidakpercayaan.
"Papa benar-benar serius?" tanyanya sambil menatap Darmawan lekat. "Papa nggak khawatir menyerahkan putri Papa kepada laki-laki miskin yang bahkan baru Papa kenal hari ini? Kita nggak tahu keluarganya seperti apa, masa lalunya bagaimana, atau siapa sebenarnya dia. Kalau suatu hari dia ternyata orang jahat dan mencelakaiku, apa Papa pernah memikirkan kemungkinan itu?" Setiap kalimat yang keluar dari mulut Viona terdengar jelas di telinga Reno. Kata "miskin" kembali diucapkan dengan penekanan yang sama seperti sebelumnya. Reno tidak bisa memungkiri bahwa ucapan itu menusuk harga dirinya. Dan tuduhan Viona memang benar, dia miskin, mereka memang orang asing. Reno menarik napas pelan, lalu memilih tetap diam karena dalam situasi seperti ini, diam jauh lebih baik daripada memperpanjang perdebatan. Darmawan mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya menjawab. "Papa memang baru mengenalnya hari ini, Vi." Viona langsung menggeleng. "Nah, itu dia." "Tapi beberapa jam ini sudah cukup menunjukkan siapa dia." "Apa yang Papa lihat?" potong Viona cepat. "Karena yang aku lihat cuma laki-laki yang mau menerima uang untuk menggantikan calon pengantin." Darmawan melangkah mendekat. "Papa melihat laki-laki yang berkali-kali menolak uang yang padahal sangat dia butuhkan. Papa juga melihat laki-laki yang lebih dulu bertanya tentang putri Papa, bersedia atau tidak menikah dengannya, daripada soal uangnya." Viona mengernyit. Tatapan Darmawan bergeser kepada Reno sesaat sebelum kembali kepada putrinya. "Dia bahkan meminta membaca seluruh isi perjanjian sebelum mengambil keputusan. Dia memastikan dirinya tidak mengambil hak siapa pun." Viona masih tampak tidak percaya. "Itu belum membuktikan apa-apa." "Mungkin belum," jawab Darmawan tenang. "Tapi selama puluhan tahun Papa memimpin perusahaan, Papa sudah bertemu ribuan orang. Ada orang yang terlihat baik ternyata licik. Ada juga yang penampilannya sederhana, tapi memegang prinsip lebih kuat daripada siapa pun." Darmawan semakin mantap dan yakin. "Dan insting Papa belum pernah mengecewakan." Viona mengembuskan napas kasar. "Papa terlalu percaya pada insting." "Selama ini justru insting itu yang membawa keluarga kita sampai di titik sekarang, Vi." Viona memalingkan wajah dengan kesal. Dia tahu papanya bukan orang yang mudah mengubah keputusan. Sekali memutuskan sesuatu, hampir tidak ada yang mampu menggoyahkan pendiriannya. Reno yang sejak tadi hanya menjadi pendengar akhirnya merasa perlu berbicara. "Pak..." Semua mata langsung beralih kepadanya. Reno menatap Darmawan dengan sungguh-sungguh. "Kalau menurut Bapak keputusan ini justru membuat Nona Viona semakin menderita... saya nggak keberatan membatalkannya." Ucapan Reno itu membuat Viona spontan menoleh. "Saya memang butuh uang untuk menyelamatkan ibu saya. Tapi saya juga nggak mau memaksa seseorang menjalani hidup yang benar-benar dia tolak," lanjut Reno dengan tenang. Darmawan menatap Reno beberapa saat. Sementara Viona terlihat sedikit terdiam. Tidak menyangka pria itu justru mengatakan hal seperti itu. Padahal beberapa menit yang lalu dirinya sudah berkali-kali menghina dan merendahkannya. Darmawan perlahan menggeleng. "Sudah terlambat. Keputusan Papa tidak berubah." Darmawan lalu menatap putrinya lagi. "Dan justru karena dia masih memikirkan perasaanmu dalam keadaan seperti ini, Papa semakin yakin tidak salah memilih." Reno hanya mengembuskan napas pelan, sama sekali tidak bermaksud mencari penilaian baik dari siapa pun, hanya mengatakan apa yang memang dipikirkannya. "Ada satu hal lagi." Darmawan ternyata belum selesai. Viona menoleh malas. "Apa lagi sekarang?" "Kalian tidak akan tinggal di rumah Papa." Kening Viona langsung berkerut. "Maksud Papa?" "Kalian akan tinggal di rumah yang sudah Papa siapkan." Ucapan Darmawan itu membuat bukan hanya Viona yang terkejut. Reno pun spontan mengangkat kepala. "Rumah?" tanya Viona. "Iya." Reno benar-benar tidak menyangka. Sejak awal ia mengira semua ini hanya demi menyelamatkan acara pernikahan. Setelah resepsi selesai, Reno membayangkan bisa pulang, ke rumah sakit menemani ibunya. Ternyata semua ini jauh lebih nyata daripada yang ia kira. Darmawan menatap keduanya bergantian. "Kalian sudah sah menjadi suami istri. Jadi mulai malam ini kalian akan tinggal serumah." Kalimat itu membuat Reno kehilangan kata-kata dan perlahan mengusap wajahnya. Ternyata harga yang harus ia bayar untuk menyelamatkan ibunya bukan hanya sebuah akad. Seluruh jalan hidupnya benar-benar berubah. Di sisi lain, Viona langsung tertawa pendek. "Papa bercanda, kan?" "Tidak." "Papa menyuruhku tinggal serumah dengan orang asing?" "Dia suamimu, Vi," koreksi Darmawan. "Bukan!" bentak Viona. "Dia cuma pria yang Papa bayar!" Reno menundukkan kepala sesaat. Ucapan Viona barusan memang menyakitkan. Tapi tidak bisa menyalahkan Viona. Kalau berada di posisi wanita itu, mungkin ia juga akan bereaksi sama. Darmawan tetap tenang. "Kalian akan mulai hidup mandiri. Papa tetap membantu kebutuhan kalian, tapi Papa ingin kalian belajar membangun rumah tangga sendiri." Viona menggeleng kuat-kuat. "Papa benar-benar sudah kehilangan akal." "Papa justru sedang memikirkan masa depanmu," jawab Darmawan tegas. "Kalian sudah menikah dan status itu tidak akan berubah hanya karena kamu terus menolak kenyataannya." Viona ingin membalas lagi, tetapi Darmawan sudah lebih dulu berbalik. Seperti biasa, begitu mengambil keputusan, tidak ada seorang pun yang mampu mengubah pikirannya. Rima berjalan mendekat setelah suaminya pergi. Wanita itu menepuk bahu Viona pelan, meski sentuhan tersebut sama sekali tidak berhasil menenangkan anak tirinya. "Sudahlah, Vi," ucapnya lembut. "Turuti saja dulu keputusan papamu. Terkadang kita memang harus menjalani sesuatu sebelum tahu kenapa itu terjadi." Viona tidak menjawab, hanya memalingkan wajah sambil menahan kesal. Dan sikap itu membuat Rima menghela napas pelan sebelum akhirnya ikut menyusul Darmawan. Tatapan Viona lalu beralih kepada Reno. "Dan kamu... Kamu senang sekarang?" Sorot matanya kembali berubah dingin. Reno mengangkat pandangannya perlahan. Tatapannya tetap tenang meski pertanyaan itu terdengar seperti tuduhan. "Saya nggak tahu harus merasa senang atau nggak, Nona." Viona tertawa sinis. "Tentu saja senang. Dalam satu hari hidupmu langsung berubah. Dapat istri, dapat rumah, dan mungkin sebentar lagi hidup enak." Reno menggeleng pelan. "Kalau hidup enak yang Anda maksud harus dimulai dengan menyakiti hati orang lain, saya lebih memilih tetap jadi teknisi dan mekanik bengkel." Kalimat itu membuat Viona terdiam sesaat. "Saya nggak pernah bermimpi menikah dengan cara seperti ini. Saya juga nggak pernah berharap berada di keluarga Anda. Yang saya inginkan cuma satu... ibu saya selamat," lanjut Reno. Sesaat Viona kehilangan kata-kata. Tapi luka yang ditinggalkan Axel terlalu besar hingga membuat simpati yang sempat muncul kembali tenggelam. "Itu tetap bukan urusanku." "Iya." Reno mengangguk tanpa membantah. "Karena itu saya juga nggak pernah meminta Anda memikul masalah saya." Jawaban Reno yang tenang itu, malah membuat Viona semakin kesal. Ia mendecak pelan, lalu berbalik dan melangkah keluar ballroom dengan langkah cepat. Gaun pengantinnya yang panjang terseret di lantai marmer. Baru beberapa langkah, ujung gaun itu hampir terinjak oleh hak sepatunya sendiri. Refleks, Reno bergerak lebih dulu, menunduk dan mengangkat sedikit bagian belakang gaun itu agar tidak terseret. Viona langsung menoleh. "Lepas." "Saya cuma nggak mau gaunnya rusak." "Nggak usah sok perhatian." Reno segera melepaskan gaun itu tanpa membalas apa pun. "Maaf." Ucapan Reno itu membuat Viona semakin sulit memahami pria di hadapannya. Biasanya laki-laki akan membalas ketika harga dirinya diinjak seperti itu, tapi Reno tidak dan hanya diam. Sikap itulah yang membuat Viona memilih kembali berjalan tanpa berkata apa-apa. Beberapa menit kemudian, mobil hitam yang telah disiapkan berhenti di depan lobi hotel. Sopir segera membukakan pintu belakang. Viona masuk lebih dulu tanpa menoleh. Reno menyusul duduk di sisi lain setelah membantu merapikan gaun Viona, menyisakan jarak selebar mungkin di antara mereka. Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun yang berbicara. Suara mesin mobil menjadi satu-satunya bunyi yang memenuhi kabin. Viona terus memandang ke luar jendela. Lampu-lampu kota yang berlalu cepat tampak buram karena matanya kembali dipenuhi air mata yang ia tahan mati-matian. Reno menatap lurus ke depan. Pikirannya sama sekali tidak berada di dalam mobil mewah itu. Yang terus memenuhi kepalanya hanyalah ruang operasi rumah sakit. Apakah ibunya sudah selasai dioperasi? Apakah Pak Darmawan benar-benar menepati janjinya? Ravita sekarang sendirian menunggu di depan ruang operasi? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar tanpa henti. Sesaat kemudian ponselnya bergetar. Nama Ravita muncul di layar. Jantung Reno langsung berdegup lebih cepat. Perasaannya mendadak tidak enak Dengan tangan sedikit gemetar, ia segera menerima panggilan itu. "Rav, gimana? Ibu sudah baik-baik saja, kan?" "Mas Reno!""Iya, Sari. Ini aku," jawab Reno singkat dengan nada tenang. Sari mengikis jarak beberapa langkah, menyunggingkan senyum manis yang memancarkan rasa takjub. Matanya berbinar meneliti penampilan Reno dari atas ke bawah. "Pangling banget aku, Ren. Kamu makin tampan dan gagah aja sekarang. Kapan balik dari Jakarta?" Belum sempat Reno membalas, aura dingin nan mengintimidasi mendadak menyeruak dari arah belakang. Viona yang hatinya mulai terbakar cemburu seketika melangkah maju. Dengan gerak refleks yang elegan namun sarat akan klaim kepemilikan, Viona melingkarkan lengan mulusnya ke lengan tegap Reno, merapat erat ke sisi suaminya sembari melempar tatapan menusuk. Sari tertegun, matanya membelalak kaget melihat wanita cantik dan terlihat berkelas mendadak menempel sangat dekat pada Reno. Viona menyunggingkan senyum tipis yang penuh kepatuhan posesif. "Halo. Aku Viona, istrinya Reno." Mendengar pengakuan itu, raut wajah Sari seketika berubah pucat pasi. Binar gembira di matanya pada
Mendengar penolakan mentah-mentah dari ayah Yunita, mata Rizal membelalak kaget bukan main. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Semalam dia sudah tercerahkan, di dalam benaknya yang licik, Rizal dari semalam jadi berharap besar bisa menjadi menantu seorang anggota dewan yang kaya raya itu. Rizal mengira dengan datang dan mau bertanggung jawab, keluarga Yunita akan menerimanya dengan tangan terbuka, menyediakannya fasilitas, dan memberinya jalan pintas untuk hidup enak tanpa perlu susah payah bekerja.Baru kemarin Viona dan Reno menyadarkannya, bahwa sebagai laki-laki, ia harusnya menghadapi masalah ini, bukan malah kabur dan ngumpet, enak juga pastinya kalau dapat mertua kaya. Dan sayangnya baru semalam Rizal kepikiran itu.Rizal jadi berpikir, jika ia datang untuk bertanggung jawab, Yunita pasti menerimanya karena wanita itu membutuhkan sosoknya sebagai ayah dari anak yang dikandung, dan keluarganya Yunita mau tidak mau akan menerimanya apa adanya.Dan Reno juga sudah berjan
Bu Rahma langsung menembak Rizal dengan pertanyaan itu. "Di dalam aja ayo kita bicaranya, Bu," ajak Reno.Reno mencengkeram bahu Rizal, mendorong abangnya itu masuk ke dalam rumah. Tak ada lagi tempat untuk menghindar. Rizal kini didudukkan di sofa kayu ruang tamu, sementara Reno berdiri tegap di depannya dengan kedua tangan bersedekap, memancarkan aura dominan dan intimidatif. Di sekelilingnya, Bu Rahma, Ravita, dan Viona menatap Rizal tajam. Ruang tamu sederhana itu mendadak berubah menjadi ruang sidang, dan Rizal duduk tertunduk lesu bagaikan terdakwa yang menantikan vonis eksekusi.Reno langsung melayangkan tembakan pertanyaan tanpa basa-basi. Suaranya berat dan menekan. "Sekarang jawab jujur, Jal! Kenapa kamu malah kabur dan ngumpet kayak pengecut? Mau sampai kapan kamu biarkan Ibu sama Ravita kena teror orang? Kamu nggak tahu, bahkan mereka meminta aku yang menggantikan posisimu untuk menikahi Yunita."Rizal makin mengkerut, tak berani menatap mata adiknya yang berkilat tajam.
Gertakan tegas dan tatapan tajam Reno sukses meruntuhkan sisa keberanian Rizal hingga nyalinya benar-benar menciut habis. Rizal tahu betul, Reno adalah tipe pria yang penyabar dan jarang meluapkan emosi. Namun, sekalinya murka karena batas kesabarannya dilangkahi, adiknya itu tak segan bertindak nekad dan tanpa ampun."I-iya, Ren... Iya, Abang pulang. Jangan main seret," jawab Rizal gugup, buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku dan merapikan pakaiannya yang kusut.Melihat abangnya yang akhirnya menurut seperti ayam sayur, Reno tak membuang waktu lagi. Sebelum beranjak keluar, Reno menghampiri istri Dadang yang berdiri canggung di dekat pintu. Pria itu merogoh dompetnya, mengeluarkan banyak lembar uang merah seratus ribuan, lalu mengulurkannya dengan sopan."Mbak, sekali lagi saya minta maaf atas kelakuan Bang Rizal yang udah menyusahkan. Ini ada sedikit, anggap saja ganti rugi uang makan dan numpang tidurnya Bang Rizal selama beberapa hari di sini," ucap Reno dengan intonasi yan
Bu Rahma lumayan lega dibuatnya.Viona menatap suaminya dengan napas sedikit memburu dan binar mata yang sarat akan rasa kagum yang makin meluap-luap. Tatapannya tertuju pada postur tegap Reno, otot dadanya yang membidang di balik kaus simpel, dan ketenangan dan kekuatan yang baru saja dipamerkannya. Di mata putri konglomerat itu, Reno bukan lagi sekadar pria yang sanggup membuatnya bertekuk lutut dan mengerang puas di atas ranjang setiap saat, tapi juga sosok jagoan sejati yang sanggup melindunginya dari marabahaya tanpa gentar sedikit pun.‘Gila... laki gue makin keren aja. Duh, gak sabar mau ehem-ehem sama Mas Montir malam ini,’ batin Viona bersorak nakal, menggigit bibir bawahnya sembari membayangkan keperkasaan Reno yang bakal makin liar setelah adrenalin bertarungnya terpacu.Setelah rombongan Yunita pergi dengan sisa harga diri yang hancur, Pak RT dan para tetangga pun berpamitan kembali ke rumah masing-masing setelah memastikan situasi benar-benar kondusif. Suasana rumah sede
Dua bodyguard bertubuh kekar itu langsung melangkah maju, memamerkan tatapan beringas sembari merenggangkan otot-otot leher mereka. Suasana di ruang tamu sempit itu seketika mencekam. Bu Rahma dan Ravita di balik punggung Reno spontan menjerit ketakutan, sementara Yunita menyunggingkan senyum puas, menanti untuk melihat keangkuhan Reno dan istrinya dihancurkan.Bukannya gentar atau mundur setapak pun, Reno justru menggeser Viona pelan ke belakang tubuhnya, melindunginya dengan sempurna."Vi, berdiri di belakang Ibu sama Ravita," bisik Reno.Viona yang paham kapasitas dan keperkasaan suaminya tidak panik sedikit pun. Ia justru melangkah mundur dengan santai, melipat kedua tangannya di dada sembari melempar senyum meremehkan ke arah Yunita dan kedua bodyguard tersebut.Reno memutar bahunya sedikit, menyunggingkan senyum miring yang dingin dan penuh bahaya. Matanya yang tajam mengunci pergerakan kedua pria berbadan besar itu."Kalian yakin mau main fisik di rumah saya?" tanya Reno dingi
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa







