LOGIN"Mas udah pulang kerja?" Suara Ravita terdengar jauh lebih tenang dari beberapa jam sebelumnya.
"Sudah, Rav" bohong Reno. "Gimana kondisi Ibu?" "Ibu sudah selesai dioperasi. Dokter bilang operasinya berjalan lancar. Administrasinya juga sudah beres dan sekarang tinggal masa pemulihan." Reno memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya ke kursi mobil. Beban yang sejak pagi menyesakkan dadanya perlahan menghilang. "Syukurlah... Jaga Ibu baik-baik. Kalau ada apa-apa langsung kabari Mas. Jangan pikirkan biaya lagi." "Iya, Mas." "Sampaikan juga ke Ibu kalau Mas belum bisa pulang. Mas masih harus kerja buat melunasi utang biaya operasinya." Reno memilih berbohong. Dia tidak mungkin menjelaskan bahwa dalam hitungan jam dirinya telah menjadi suami putri seorang konglomerat. Mereka mengobrol beberapa saat. Setelah panggilan berakhir, Reno menatap foto keluarganya yang terpampang di layar ponsel. Hari ini ia kehilangan kebebasan dan masa depan yang selama ini direncanakannya. Namun, jika semua itu bisa menyelamatkan ibunya, ia berharap pengorbanan tersebut tidak sia-sia. Di sampingnya, Viona yang tanpa sengaja mendengar percakapan itu mulai memahami alasan Reno menerima pernikahan ini. Pria itu bukan sedang mengejar kekayaan, tapi ternyata sedang berusaha menyelamatkan ibunya. Meski begitu, rasa kesal Viona tidak berkurang sedikit pun. Bagaimanapun juga, Reno tetap pria asing yang kini menyandang status sebagai suaminya. Tak lama kemudian mobil memasuki kawasan elite dan berhenti di depan sebuah rumah modern tiga lantai yang megah dan mewah dengan halaman luas, serta pagar tinggi menjulang. Viona mendecak pelan. "Papa benar-benar nggak main-main." Begitu mobil berhenti, dua orang wanita yang sejak tadi menunggu di teras segera menghampiri. "Selamat datang, Nona Viona." "Selamat sore, Tuan." Viona mengangguk singkat. "Siapa kalian?" "Saya Yuli, Nona. Ini Eni. Kami asisten rumah tangga yang bertugas di rumah ini." Baru saat itu Viona menyadari keduanya membawa tas masing-masing. "Kalian mau ke mana?" "Kami mau pulang, Nona. Semua pekerjaan hari ini sudah selesai." Viona langsung mengernyit. "Pulang? Lalu siapa yang mengurus rumah ini?" Yuli dan Eni saling berpandangan sejenak. "Kami hanya bertugas dari pagi sampai sore, Nona. Itu perintah Tuan Darmawan." Rasa tidak enak langsung muncul di hati Viona. "Papa kasih perintah apa lagi?" "Rumah sudah kami bersihkan. Barang-barang Nona dan Tuan juga sudah kami tata di kamar utama." "Kamar utama?" ulang Viona. "Iya, Nona." Wajah Viona langsung berubah. "Jangan bilang barang kami disimpan di kamar yang sama." "Iya, Nona. Itu juga perintah Tuan Darmawan." Viona mengembuskan napas panjang, berusaha menahan emosi. "Kalian bekerja untukku atau untuk Papa?" Yuli menundukkan kepala. "Maaf, Nona. Yang menggaji kami tetap Tuan Darmawan." Jawaban itu membuat Viona kehilangan kata-kata. Papanya benar-benar sudah mengatur semuanya. Setelah mengantarkan Viona dan Reno masuk dalam rumah, kedua asisten rumah tangga itu berpamitan. "Tugas kami sudah selesai. Permisi, Nona." Viona bahkan tidak sempat menghentikan mereka. Pintu depan menutup perlahan, menyisakan rumah besar itu dalam keheningan. Viona melangkah masuk ke ruang keluarga dengan wajah kesal. Sepasang heels langsung dilemparkannya begitu saja ke sudut ruangan, sementara ujung gaun pengantinnya diangkat asal. Reno hanya mengikuti dari belakang sambil menggeleng pelan. Lima belas menit kemudian, dugaan Viona terbukti. Seluruh kamar tamu di lantai dua terkunci rapat. Hanya satu pintu yang bisa dibuka yaitu kamar utama, kamar mereka. "Papa! Sebenarnya maunya apa, sih?" pekik Viona frustrasi. Reno mengusap tengkuknya pelan, merasa canggung. "Aku nggak mau tidur sekamar denganmu," tegas Viona sambil menunjuk Reno. "Saya juga nggak keberatan." Jawaban datar itu justru membuat Viona semakin kesal. "Kamu nggak boleh masuk kamarku." "Baik, Nona." "Terserah mau tidur di mana. Di bawah, di gudang, atau di halaman juga aku nggak peduli." Reno melirik sofa besar di ruang keluarga lantai dua. "Kalau begitu saya tidur di sofa saja." Baginya sofa itu bahkan terlihat jauh lebih nyaman dibanding kasur tipis di kamar kosnya. Tanpa menjawab, Viona langsung masuk ke kamar. Brak! Pintu ditutup keras hingga menggema di sepanjang koridor. Reno hanya memandang pintu itu beberapa saat sebelum mengembuskan napas panjang. Hari pertama pernikahannya bahkan belum berakhir. Tapi dia sudah resmi diusir oleh istrinya sendiri. Reno duduk di sofa sambil menyandarkan punggung, membiarkan keheningan memenuhi rumah yang terasa terlalu besar untuk dihuni dua orang asing. Meski di luar ada sopir, dan juga security di depan. Setengah jam kemudian, suara langkah heels kembali terdengar menuruni anak tangga. Reno spontan mengangkat kepala. Dilihatnya Viona sudah berganti pakaian. Kini wanita itu mengenakan dress hitam elegan dengan panjang di atas lutut, dipadukan blazer tipis dan high heels. Riasan wajahnya juga sudah diperbaiki, meski mata yang sedikit sembap masih menyisakan bekas tangis. Viona berjalan cepat menuju pintu depan tanpa sedikit pun melirik Reno. "Kamu mau ke mana?" tanya Reno sambil berdiri. Viona tetap melangkah. "Bukan urusanmu." Reno mengikuti beberapa langkah di belakang. "Ini sudah malam. Pengantin baru nggak boleh kemana-mana, pamali." Viona langsung berhenti dan berbalik. Tatapannya tajam. "Aku bilang bukan urusanmu." "Aku cuma khawatir. Gimana nanti kalau pak Darmawan tanya?" "Aku nggak butuh orang buat mengkhawatirkan aku. Kalau kamu nggak ngadu, Papa nggak bakalan tahu." Reno terdiam. Viona mengembuskan napas kasar, emosinya kembali memuncak. "Dengar baik-baik. Jangan pernah mengurusi hidupku. Kamu bukan apa-apa bagiku." Nada suaranya terdengar dingin, tetapi di balik itu Reno justru melihat seorang wanita yang sedang berusaha mati-matian menahan dirinya agar tidak kembali menangis. "Aku cuma mau menenangkan pikiranku." "Kalau begitu biar aku antar." "Nggak usah!" Jawaban itu keluar seperti bentakan. "Aku bisa pergi sendiri." "Tapi—" "Reno!" Viona menatapnya tajam. "Diam di rumah. Jangan ikut campur, jangan ikuti aku dan jangan cari aku." Reno mengangguk pelan. "Baik." Ia mundur satu langkah. "Kalau itu yang kamu mau." Viona tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia membuka pintu rumah, lalu keluar begitu saja. Tak lama kemudian, suara mesin mobil sport miliknya hidup memecah kesunyian malam. Reno berdiri di balik pintu yang masih terbuka, memperhatikan mobil itu melaju keluar gerbang hingga lampu belakangnya benar-benar menghilang di tikungan. Dia mengembuskan napas panjang. "Semoga kamu baik-baik saja." Pelan-pelan Reno menutup pintu rumah, lalu menguncinya kembali. Dia memilih menepati permintaan wanita itu untuk tidak ikut campur. Reno akhirnya memilih beristirahat setelah membersihkan diri. * Jam satu dini hari, terdengar suara bel yang memecah kesunyian malam. Reno yang tertidur di sofa ruang keluarga langsung terbangun dengan napas memburu. Selama beberapa detik ia hanya mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran. Bel kembali berbunyi, kali ini disertai ketukan pintu. Reno segera bangkit lalu berjalan cepat menuju pintu depan. Begitu pintu dibuka, sopir berdiri sambil menopang tubuh Viona yang hampir tidak mampu berdiri. "Maaf, Tuan," ucap sopir itu dengan wajah canggung. "Nona pulang dalam keadaan mabuk." Reno langsung terdiam. Pandangannya beralih kepada Viona. Pipi wanita itu memerah. Rambutnya sedikit berantakan, tubuhnya limbung, matanya hanya terbuka separuh. "Ayo, Nona," ujar sopir itu pelan. Viona justru tertawa kecil. "Aku nggak apa-apa...." Tubuhnya kembali oleng. Refleks Reno segera menahan bahunya sebelum Viona benar-benar jatuh. "Terima kasih, Pak. Biar saya yang mengurusnya," kata Reno. Sopir itu mengangguk lega. "Saya pamit dulu." Kini tinggal Reno dan Viona di rumah besar itu. "Ayo," ujar Reno pelan. "Kita masuk." Viona sama sekali tidak menjawab. Hampir seluruh berat tubuhnya kini bertumpu pada Reno. Dengan hati-hati Reno membopongnya menaiki anak tangga, menuju kamar utama. Sepanjang perjalanan, Viona terus meracau dengan suara lirih yang sulit dimengerti. "Kenapa baru datang, aku nungguin dari tadi. Kamu jahat...." Sesampainya di kamar, Reno perlahan membaringkan Viona di atas tempat tidur. "Nona Viona, istirahatlah." Baru saja Reno hendak menarik tangannya, jemarinya mendadak dicengkeram. Reno menoleh. Viona sedang menatapnya. Tatapan itu kosong, tetapi penuh kerinduan. Perlahan senyum tipis muncul di wajah cantiknya yang agak berantakan. "Axel...." Reno membeku. Viona mengangkat sebelah tangannya, menyentuh pelan pipi Reno seolah memastikan pria di hadapannya benar-benar ada. "Akhirnya kamu datang." Air mata kembali mengalir di sudut matanya. "Aku tahu, kamu nggak bakal ninggalin aku lagi kan?" "Nona Viona," ucap Reno pelan. "Saya Reno." Namun Viona seperti tidak mendengar satu kata pun. Dengan gerakan tiba-tiba, ia bangkit dari tempat tidur, seolah mendadak begitu kuat, tidak seperti tadi. Entah mendapat kekuatan dari mana. Tanpa diduga, kedua lengan Viona justru melingkar di tubuh kekar Reno dan memeluknya erat sambil terus menangis. "Jangan pergi lagi, jangan tinggalin aku." Reno benar-benar kebingungan. Dia merasakan seluruh tubuh Viona menempel erat di tubuhnya dengan dua gunung kembarnya yang besar terasa padat. "Nona, Anda salah orang." Alih-alih tersadar dan melepaskan pelukannya, Viona justru semakin erat memeluknya, lalu mendongak menatap Reno dengan mata sayu dan berkabut, sangat mendamba dan penuh cinta. Tiba-tiba Viona mendorong Reno yang tidak siap, hingga Reno terduduk di tepi ranjang. Entah dapat kekuatan dari mana wanita itu, hingga bisa sekuat dan seagresif ini. Dalam hitungan detik, Viona langsung naik dan duduk di pangkuan Reno. Tangannya mengalung di leher Reno dan kakinya langsung mengapit pinggang Reno. Mata Reno langsung membelalak kaget. Ditambah lagi kini Viona tersenyum manis, mendekatkan wajahnya, seperti sudah tidak tahan melihat bibir Reno yang mendadak membuatnya tergila-gila. "Axel.... Aku mau kamu, sekarang."Ambar menelan ludahnya yang terasa pahit. Bulu kuduknya merinding mendengar analisis suaminya. "Tapi... siapa, Pa? Siapa yang tega melakukan hal sebiadab itu pada kita? Apa salah kita sampai ada orang yang sengaja memisahkan kita dari anak kandung kita sendiri?"Harjo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Otak bisnis dan daya ingatnya yang tajam kini memutar kembali ingatan masa lalu, mengingat siapa saja musuh bisnisnya saat itu, siapa dokter yang menangani persalinan Ambar, hingga siapa saja pihak rumah sakit yang terlibat."Siapa pun orangnya, dia sangat mengenal kita, tahu posisi keuangan kita saat itu, dan punya akses penuh di rumah sakit tersebut. Jika dugaan ini benar, Papa tidak akan tinggal diam. Papa akan lacak kembali semua rekam medis dua puluh enam tahun lalu, cari tahu siapa dokter dan perawat yang bertugas malam itu. Siapa pun yang bertanggung jawab atas penderitaan dan kebohongan ini... mereka harus bayar mahal."Ambar mencengkeram lengan suaminya, hatinya makin bergetar he
Di sisi lain, Revan yang menoleh seketika mendapati kedua orang tuanya berdiri tidak jauh darinya. Sontak, napas Revan tercekat. Pikirannya langsung ke mana-mana, tidak hanya sekadar masuk angin atau kecapekan biasa. Wajah pucat dan lesu yang Harjo pasang saat sarapan tadi pagi tiba-tiba berputar kembali di kepalanya.Dengan langkah tergesa-gesa, Revan langsung berlari kecil menghampiri orang tuanya."Ma! Pa," seru Revan panik, matanya memindai tubuh Harjo dari ujung kepala hingga kaki. "Papa kenapa dibawa ke rumah sakit? Tadi pagi Papa cuma bilang kurang enak badan, tapi kenapa sekarang sampai ke sini? Sakit apa, Pa? Jantungnya kambuh? Atau ada apa?"Rentetan pertanyaan Revan meluncur begitu cepat, mencerminkan betapa besarnya rasa khawatir pemuda itu pada sang ayah.Harjo dan Ambar saling berpandangan seketika. Mereka benar-benar tidak menyangka akan berpapasan dengan Revan di tempat ini, di saat mereka sendiri baru saja merampungkan langkah rahasia untuk menyelidiki kebenaran biolo
Keesokan harinya, sinar matahari pagi mulai menerobos masuk lewat celah tirai kediaman keluarga Santoso. Suasana rumah yang megah itu perlahan mulai ramai dengan aktivitas pagi.Revan yang sudah tampil rapi dengan kemeja dan jas kerjanya menyantap sarapan singkat di meja makan. Sementara itu, Harjo duduk di sebelahnya hanya meminum teh hangat sambil sesekali memegang pelipisnya, memajang wajah lesu yang dipaksakan."Papa beneran nggak ke kantor hari ini?" tanya Revan khawatir. "Biar Revan yang handle rapat pagi ini kalau Papa masih agak pusing.""Iya, Nak," jawab Harjo dengan suara yang dibuat agak lemas. "Papa agak kurang enak badan pagi ini. Mungkin kecapekan. Kamu berangkat duluan saja, dan pegang kendali di kantor hari ini.""Baik, Pa. Papa istirahat saja di rumah. Ma, Revan berangkat dulu ya," pamit Revan seraya mencium tangan Ambar yang berdiri di dekat meja makan."Hati-hati di jalan ya, Revan," balas Ambar lembut, mengelus lengan anak yang dibesarkannya selama 26 tahun itu den
"Ini rambut Reynald. Papa berhasil mengambilnya secara diam-diam saat berpura-pura menepuk bahunya," ujar Harjo dengan otak bisnis dan analisisnya yang bekerja secepat kilat. "Besok pagi-pagi sekali, sampel ini akan Papa bawa langsung ke laboratorium di rumah sakit untuk tes DNA darurat."Ambar menutup mulutnya dengan kedua tangan, tangisnya nyaris pecah membayangkan implikasi dari tindakan suaminya. "Pa... Papa beneran curiga kalau dia... kalau dia..."Harjo memegang kedua bahu istrinya, menatap dalam-dalam dengan sorot mata yang penuh penderitaan masa lalu dan rasa penasaran yang mendalam."Ambar, coba ingat-ingat kembali peristiwa dua puluh enam tahun yang lalu di rumah sakit," ujar Harjo dengan suara berat yang emosional. "Waktu kamu melahirkan anak kembar kita, dokter dan pihak rumah sakit memberi tahu kita bahwa bayi pertama kita meninggal dunia karena komplikasi persalinan, kan? Dan kita bahkan tidak pernah benar-benar diperbolehkan melihat jasadnya secara jelas karena alasan p
Harjo kembali melangkah keluar dari area toilet dengan langkah lebih ringan. Setibanya kembali di meja, ia mendapati istri dan anak lelakinya masih menikmati hidangan penutup.Kali ini, Harjo tidak lagi menatap ke arah meja Reno dengan gelisah seperti sebelumnya. Ia sengaja bersikap tenang, meredam rasa penasarannya, dan fokus sepenuhnya pada keluarganya, terutama agar Revan tidak curiga."Dari mana saja, Pa? Lama banget," tegur Revan ringan sambil tersenyum kecil menatap ayahnya yang baru duduk kembali."Ah, tadi agak ramai di toilet, Nak, terus sempat ngobrol sebentar sama kenalan lama," jawab Harjo beralasan, memasang senyum paling natural sambil kembali menyantap sisa hidangan penutup dengan santai.Sementara itu, di meja seberang, Reno baru saja tiba kembali dan menarik kursinya dan kembali duduk di samping Viona. Melihat suaminya yang cukup lama meninggalkan meja, Viona langsung melancarkan protes kecil dengan nada manja."Lama banget sih, Sayang? Kamu ini ke toilet apa nyasar k
Harjo memandangi punggung pemuda itu dari kejauhan, melangkah mantap menyusuri koridor temaram menuju area restroom restoran. Jantungnya berdebar kencang, memukul dadanya dengan irama yang tak menentu.Di dalam toilet pria yang berdesain modern dan elegan dengan pencahayaan hangat, Reno berdiri di depan salah satu urinal, tempat buang air kecil berdiri khusus pria. Suasana di dalam relatif sepi dan tenang, hanya terdengar gemericik air dari keran otomatis di sudut lain.Reno dengan santai menuntaskan hajat kecilnya, sama sekali tak menduga ada langkah kaki lain yang menyusul masuk tak lama setelahnya.Harjo melangkah pelan melewati pintu masuk, sapuan matanya langsung tertuju pada sosok tinggi pemuda itu. Mengabaikan beberapa urinal kosong lainnya yang berjejer, Harjo sengaja mengambil posisi persis di urinal sebelah Reno, sebuah tindakan yang sebenarnya agak tak biasa di kalangan pria kecuali jika sedang ramai, Harjo tak peduli, dia berusaha berada sedekat mungkin.Saat sedang merap
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je







