เข้าสู่ระบบCinq ans après leur mariage, Sorrel a évoqué pour la troisième fois son projet d’emmener Héloïse, sa maîtresse, vivre à l’étranger. Maeva a posé les plats qu’elle avait soigneusement préparés, et, lui a demandé d’une voix calme : « Pourquoi veux-tu partir avec elle ? » Sorrel lui a répondu sans détour : « Je ne veux plus te cacher la vérité. Loïse habite à côté, dans le quartier d’en face. Elle m’a accompagné pendant neuf ans. Je lui dois beaucoup. Et cette fois, il faut qu’elle vienne avec nous à l’étranger. » Maeva n’a pas pleuré cette fois. Elle a simplement réservé un billet pour Héloïse. Sorrel a cru qu’elle avait enfin accepté la situation. Le jour du départ, après avoir vu Sorrel et Héloïse embarquer, Maeva a pris un vol pour rejoindre ses parents.
ดูเพิ่มเติม"Heh, Roro Jonggrang! Loe kagak salah abis ujan malah jajan es?!" Jodi berdecak dengan pilihan jajanan Rara.
"Sirik aja loe! Itu banyak juga yang pada jajan kagak ada yang loe protes!" sembur Rara tak terima saran Jodi.
"Emang percuma gue ngomong sama loe." Jodi kesal dan berlalu meninggalkan Rara.
Dua orang anak remaja itu, tidak pernah akur saat bertemu. Selalu saja ada perdebatan di antara mereka. Bahkan hal kecil, bisa mengakibatkan mereka bertengkar atau berselisih, seperti saat ini.
Jodi menegur Rara saat gadis itu membeli es saat langit tengah mendung dan gelap, lebih tepatnya tadi pagi hujan turun cukup deras, untung saja satu jam lalu telah berhenti membuat aktifitas siswa tidak terganggu.
Begitu banyak yang mengantri untuk membeli es, mengingat saat ini adalah waktu istirahat membuat semua siswa memilih segera masuk ke dalam kantin dan membelanjakan seluruh uang jajan mereka, termasuk Rara, sejak tadi pagi ia mengikuti 2 mata pelajaran yang menguras waktu serta pikiran.
Hal itu pula yang dilakukan oleh Rara yang sejak 5 menit lalu mengantri jajan es bubur sum-sum di gerobak Mang Acep.
Entah mengapa Jodi tergelitik untuk mencegah Rara ikutan mengantri membeli es bubur sum-sum yang ia tahu salah satu jajanan kesukaan Rara. Ada sedikit kekhawatiran dalam pikiran Jodi kalau Rara akan sakit kalau membeli es dalam kondisi dingin seperti ini. Ah, kenapa juga gue mikirin si Roro Jonggrang? batin Jodi mempertanyakan sikapnya sendiri.
"Rara jajan apaan?" sapa Riko dengan senyuman nya yang luar biasa manis dan bikin klepek-klepek hati Rara. Semoga saja setelah ini Rara tidak terkena diabetes.
"Eh ini... es bubur sum-sum." Rara mendadak memakan jajanannya dengan perlahan. Siapa juga yang tidak merasa canggung mendapatkan perhatian dari sang ketua kelas baik hati, tidak sombong dan rajin menabung seperti Riko?
"Enak tuh kayaknya," goda Riko memperhatikan jajanan milik Rara sekaligus menyadarkan Rara dari lamunannya.
"Kamu mau nyobain?" tanya Rara, bermaksud basa-basi menawarkan dan tanpa sadar ia telah menyendok untuk dirinya dan tanpa di sangka Riko langsung melahap isi sendok dari tangan Rara.
Tindakan manis Riko sontak tanpa dia sadar membuat Rara bersemu kemerahan wajahnya. Menyadari perubahan pipi merona Rara justru membuat Riko menjadi gemas.
"Riko! Loe enggak ngeri rabies makan bekas sendok nya si Roro Jonggrang?!" pekik Jodi yang tiba-tiba muncul dari depan pintu kelas.
"Loe tuh ngapa ngefans banget sama gue ampe apa aja yang gue lakuin di komentarin?" ujar Rara ketus, sambil melengos.
"Aku belum pernah makan jajanan yang Rara makan," aku Riko yang memang tidak pernah memakan bubur sumsum sebelumnya.
"Horang kaya mana kenal jajanan rakyat jelata," ledek Jodi.
Riko memang berasal dari keluarga kaya dan itu terlihat dari semua barang branded yang ia kenakan. Dulu ketika mereka masih SD dan Riko sebagai siswa baru, awal kehadirannya banyak menimbulkan pertanyaan mengapa ia memilih sekolah di tempat biasa seperti mereka, tapi Riko hanya bilang kalau ia lebih nyaman berteman dengan mereka.
"Mau lagi boleh gak?" Riko tergiur untuk kembali memakan jajanan yang sedang di makan Rara.
"Emang gak apa-apa makan bekas aku?" Rara berkata lirih.
"Ciyeee aku, si Roro Jonggrang ketularan ber aku-kamu... Mau di bawa kemana hubungan kita jika kau terus menunda-nunda..." sindir Jodi sambil bernyanyi tidak jelas yang sebenarnya ungkapan kekecewaannya terhadap Yola karena tidak pernah bisa mesra seperti pasangan di depannya kini.
"Berisik!" Rara melempar Jodi dengan penghapus papan tulis yang kebetulan dekat dengannya.
"Tuh Riko... Lihat kelakuan aslinya, bahaya kalau loe nekat mau sama nih bocah." Jodi semakin terbakar menggoda Rara.
"Jodi kenapa sih ganggu Rara terus?" Yola menyela ucapan Jodi.
"Eh, ada Yola, " Jodi langsung salah tingkah.
"Biarin aja sih double R suap-suapan," Yola melirik ke arah Rara dan Riko.
"Widih iya double R keren juga istilahnya," Jodi cengengesan.
"Yola! kirain mau belain eh ikutan ngeledekin kayak si Jodi," sungut Rara melengos sambil melipat kedua tangannya.
"Udah biarin aja. Eh, ada sisa jajanan tuh di bibir kamu." Riko menenangkan Rara dengan mengalihkan pembicaraan.
"Yasalam, ini sekolah woiii... ngontrak udah yang laen," seloroh Jodi yang meradang karena tidak bisa mesra seperti double R bersama Yola yang cenderung mengindari dirinya semenjak ia memberikan coklat brown queen.
***
Mendung yang menggelayut di kampung Pekapuran tidak menghalangi rencana para warga yang sedang melaksanakan kerja bakti. Warga begitu antusias bahu membahu membersihkan lingkungan mereka demi menyambut perayaan rutin tahunan, tujuh belasan.
"Pak, maaf itu truk nyang angkut semen dan pasir udah datang di depan gang swadaya," Dali memberitahu Pak Joko selaku RT di kampung cinta damai.
"Wah, sudah datang toh? Terimakasih ya Pak Rojak sudah menjadi donatur yang menyumbangkan bahan untuk perbaikan jalan gang kita ini," ucap Pak Joko kepada Pak Rojak yang berada di sebelahnya.
"Ah santai aje, kebetulan stok di material lagi banyak jadi bisa di bawa kemari sedikit lebih." Rojak sang juragan material bangunan merendah.
"Ssstt... kita beruntung ya kampung ini ada Pak Rojak dan Pak Sabeni yang royal," puji Pak Sugeng sambil berbisik ke arah temannya yang berada agak jauh dari Rojak dan Pak RT. Ya, jika Rojak sang juragan toko material bangunan, maka Sabeni sang juragan restoran Saung Hijau juga selalu menyumbangkan makanan bagi para warga yang mengikuti kegiatan kerja bakti.
"Iya ya kira-kira menu makanan dari restoran Pak Sabeni sekarang apa ya?" seloroh Pak Ojan seraya membayangkan santapan lezat di benaknya.
Menjelang sore datanglah mobil catering bertuliskan Saung Hijau dari restoran milik Sabeni sang juragan restoran di kampung Pekapuran terlihat berjalan ke arah tempat para warga yang sedang melaksanakan kerja bakti.
"Woi, Beni alias Sabeni, sibuk amat loe ye ampe kagak sempet setor muka kemari," sapa Rojak yang sedang duduk istirahat di poskamling bersama beberapa warga yang sedang rehat sebentar.
"Iya nih Jak, Alhamdulillah lagi banyak orderan hajatan." Sabeni menghampiri Rojak dan para bapak yang sedang kerja bakti.
"Gimana kabar calon mantu gue?" tanya Rojak setelah jarak duduk mereka berdekatan.
"Yasalam, anak gue masih sekolah udah gak sabar banget loe mau jadiin mantu," seloroh Sabeni sambil tergelak tawa renyah. Perut buncitnya pun terlihat bergoyang mengikuti deburan ombak perut Sabeni, bak penyanyi dangdut yang sedang berjoget.
"Pegimana ya anak loe dari bini loe masih bunting kan emang udah di minta sama enyak gue jadi calon cucu nya entar." Rojak mengenang permintaan almarhumah Enyak Ida yang sudah meninggal tiga tahun silam.
Ucapan Rojak seketika mengingatkan Sabeni akan semua hutang budi dirinya kepada Rojak dan istrinya. Sosok disampingnya kini di masa lalu telah mengulurkan tangannya memberikan bantuan modal saat usahanya hampir bangkrut. Tidak hanya itu saja, ketika Halimah, istrinya yang menderita eklampsia pasca melahirkan langsung koma akhirnya membuat putrinya sempat di asuh oleh Rodiah, istri Rojak.
"Siapa yang dijodohin? Anaknya bang Rojak sama bang Beni bukannya ribut mulu kalau ketemu?" protes Sueb, kang cilor keliling.
"Biasa itu mah... FTV juga gak bakalan rame kalau pemainnya kagak berantem entar ujung-ujungnya juga demen terus kawin." Rojak membela anak dan calon mantu ciliknya.
"Hahaha... Betul loe Sueb, gue juga ampe pusing tu anak gue tiada hari tanpa ngomongin anaknya si Rojak," curhat Sabeni mengenai kelakuan anaknya
"Kagak apa-apa itu namanya anak gue udah nyantol di hati anak loe. Hahaha." sahut Rojak asal diiringi tawa bahagia.
"Nyantol sebagai apa nih? Semoga nanti mereka bisa akur ye... kagak bisa bayangin gue kalau tu anak dua ribut ampe tua kayak gitu. Ckckck." Sabeni menimpali.
"Loe jangan mikir kayak gitu dong Beni..." Rojak tidak sepemikiran dengan Sabeni.
"Pokoknya prinsip gue mah asal anak gue demen sama anak loe ya kita kawinin mereka entar lulus sekolah." Sabeni mencoba memberi pengertian kepada Rojak.
"Bujug buneng... mau ngawinin bocah, entar ngapa tunggu mereka lulus sekolah... udah kebelet mau dikawinin aje," ceplos Sueb yang terkenal sebagai makhluk paling kepo di antara mereka semuanya.
"Et deh Sueb! loe main nyamber aje kayak geledek! kagak rela gue juga bocah masih pake seragam sekolah langsung dikawinin! maksudnya tuh entar lulus sekolah SMA!" gertak Rojak sambil memukul bahu Sueb dengan peci kesayangannya.
"Oohh syukur deh kalau gitu," kali ini Pak Joko yang menimpali.
"Iya, entar anaknya Pak Rojak warisin usaha material nya terus anaknya Pak Sabeni warisin usaha restoran nya, gitu?" Sugeng ikutan menanggapi.
"Serasa orang gedean ye pernikahan bisnis." Dali berseloroh.
Celotehan para warga yang menanggapi perjodohan anak Rojak dan Sabeni membuat mereka menyesal membahas hal tersebut di depan banyak orang yang pasti memiliki berbagai pemikiran berbeda.
Parah nya, mereka tidak menyadari kalau percakapan mereka di dengar oleh kedua orang yang menjadi bahan pembicaraan mereka. Rara dan Jodi yang niatnya ingin meminta maaf kepada babehnya karena pulang terlambat lantaran baru saja selesai mengerjakan tugas Prakarya bersama kelompoknya, kini hanya saling memandang penuh kebencian mendengar rencana perjodohan mereka.
« Je ne t’ai pas donné d’opportunités ? C’est toi qui ne les as pas saisies ! »La première fois qu’il lui a proposé de partir s’installer à l’étranger avec Héloïse, elle a tenté de lui parler de leur mariage.La deuxième fois, elle a supporté sa fierté et ses « reconnaissances » pour une autre femme.Elle avait donné trop de chance pour cet homme.Gaston a secoué la tête, son visage sombre et tendu :« Tu ne sais jamais, tu gâches toujours d’un cœur sincère. »Finalement, Sorrel a bien fini par aller en prison.Cependant, il n’y est resté qu’un mois.Parce qu’au final, personne n’a été victime de son « empoissonnement ».À ce moment-là, Gaston a appris que Sorrel voulait utiliser leur mariage pour se venger de Maeva.Il a donc eu une idée.Il a décidé de répandre une fausse rumeur, attirant Sorrel pour qu’il vienne.À sa grande surprise, Sorrel est vraiment venu.Il était malin, il avait apporté des laxatifs forts, mais n’a empoisonné qu’une seule table, évitant ainsi un crime de gran
Deux semaines plus tard, au Palais des Saveurs La Fontaine.Maeva s’est tenue à l’entrée, accueillant les invités venus célébrer son mariage.Elle portait une robe rouge, debout aux côtés de Gaston.Tous deux, d’une beauté éclatante, ressemblaient à un couple parfait, presque irréel.« Dans une demi-heure, la cérémonie commencera. »Gaston a regardé les talons hauts de Maeva et lui a demandé :« Ces talons, c’est fatigué, non ? »Maeva a secoué la tête, lui adressant un sourire radieux :« Pas du tout, je suis vraiment heureuse. »Les parents de Gaston étaient présents. Ils regardaient leur future belle-fille avec une grande satisfaction.Eva était une jeune fille qu’ils avaient vue grandir, une personne très gentille.Ils n’avaient pas de soucis financiers, et en vérité, ils avaient toujours espéré que Maeva devienne leur belle-fille.Aujourd’hui, leur souhait est enfin exaucé.Pendant ce temps, dans le parking souterrain de l’hôtel.Sorrel, totalement déguisé, portant un masque et un
Maeva a secoué la tête :« Si nous en sommes arrivés là aujourd’hui, Héloïse y est pour une part, mais ce n’est pas la raison principale. Tu aurais sûrement trouvé une autre femme. »« Sorrel, tu ne comprends vraiment pas ce que c’est l’amour. »Sorrel a regardé le grand diamant sur la main de Maeva, un frisson a parcouru son corps, et d’une voix rauque, il a dit :« Alors, quand tu te marieras, tu m’inviteras à ton mariage, n’est-ce pas ? »Maeva a secoué la tête et a refusé :« Non, je ne veux plus jamais te revoir. »Gaston s’est avancé, prenant la main de Maeva dans la sienne :« Monsieur Tisseur, je vous prie de ne plus jamais déranger ma fiancée, sinon … sachez que je ne suis pas quelqu’un de pacifique. »Le message était clair : si Sorrel dérangeait encore Maeva, Gaston ne le laisserait pas faire.Sorrel n’a rien dit, fixant Gaston qui serrait Maeva dans ses bras et s’éloignait.Il est resté là, murmurant :« C’est fini, tout est fini. »« L’argent, la maison, la société, ma fem
Sorrel a terminé son discours d'une voix étranglée, et Maeva l'a regardé froidement, secouant la tête.« T’es vraiment irrécupérable. » a-t-elle dit, la voix glaciale.« Si tu avais encore un peu de dignité, tu signerais ce fichu contrat de divorce, et on pourrait se séparer en bons termes. Je t’aurais respecté comme un homme, mais… »Elle a fait une pause, le regard perçant.« Tout ce que tu as fait ces deux derniers mois n’a été pensé que pour toi-même. À aucun moment tu n’as pensé à moi. »En voyant son comportement, Maeva s’est dit que partir avait été la meilleure décision de sa vie.« Qu’est-ce que je dois faire pour que tu me pardonnes ? »Sorrel l’a suppliée, les yeux pleins de désespoir.« Est-ce que tu me pardonneras seulement si je meurs un jour ? »Il a sorti un couteau de quelque part, avant de s’entailler violemment le poignet. Le sang a jailli, une flaque rouge s’étendant à ses pieds.Maeva a été figée un instant, puis, reculant de deux pas, elle a secoué la tête, incréd












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.