MasukCinq ans après leur mariage, Sorrel a évoqué pour la troisième fois son projet d’emmener Héloïse, sa maîtresse, vivre à l’étranger. Maeva a posé les plats qu’elle avait soigneusement préparés, et, lui a demandé d’une voix calme : « Pourquoi veux-tu partir avec elle ? » Sorrel lui a répondu sans détour : « Je ne veux plus te cacher la vérité. Loïse habite à côté, dans le quartier d’en face. Elle m’a accompagné pendant neuf ans. Je lui dois beaucoup. Et cette fois, il faut qu’elle vienne avec nous à l’étranger. » Maeva n’a pas pleuré cette fois. Elle a simplement réservé un billet pour Héloïse. Sorrel a cru qu’elle avait enfin accepté la situation. Le jour du départ, après avoir vu Sorrel et Héloïse embarquer, Maeva a pris un vol pour rejoindre ses parents.
Lihat lebih banyak"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!"
Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar. Sementara Maudy, sang CEO yang merupakan bos di tempat Bayu bekerja, hanya bisa diam tertunduk melihat perilaku suaminya. “Ini… apa… maksudnya Pak Rio?” tanya Bayu ingin memperjelas maksud dari suami bosnya tersebut. “Kurang jelas? Uang dalam cek ini akan menjadi milikmu, jika kamu bisa menghamili istriku! Kamu punya tubuh yang bugar dan atletis, aku yakin benihmu juga bagus. Tapi, jangan sekali kali kamu berani buka mulut soal ini!” tegas Rio. Beberapa hari lalu, di sebuah rumah sakit, Rio dan Maudy terpaksa harus melakukan test kesuburan organ reproduksi mereka. Bukan tanpa sebab semua itu dilakukan, karena sudah hampir tiga tahun mereka menikah, tetapi belum juga memiliki keturunan. Awalnya Rio menolak hal tersebut, karena sebagai pria harga dirinya akan runtuh jika diketahui mandul. Apalagi, selama ini Rio juga punya masalah dengan organ reproduksinya yang tidak bisa tahan lama, sehingga Maudy sempat mengira bahwa suaminya yang bermasalah. Pada akhirnya Rio menyetujui pemeriksaan itu, tetapi dia memilih untuk berangkat sendiri tanpa Maudy. Karena Rio hanya ingin mendengar hasil pemeriksaan seorang diri. "Saya sudah meninjau hasilnya berulang kali, Pak Rio, dan hasilnya sama. Kondisi ini... bersifat permanen. Secara medis, Anda tidak akan bisa memiliki keturunan," terang Sang Dokter tanpa ada keraguan akan hasil tersebut. Dunia di sekitar Rio seolah berhenti berputar. Kalimat itu menghantam dadanya, menyisakan sesak yang luar biasa. Namun, di balik rasa syok yang melumpuhkan, ada ketakutan lain yang jauh lebih dingin merayap di benaknya. "Permanen? Maksud Dokter, benar-benar tidak ada peluang untuk sembuh? Dengan cara Operasi misalnya? Atau terapi hormon?" tanya Rio untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dokter Gunawan menggeleng perlahan. "Maafkan saya. Kerusakannya sudah terlalu sistemik," jelas Sang Dokter. Rio menyandarkan punggungnya, menatap kosong ke langit-langit ruangan. “Mampus aku!” batinnya berteriak. Bayangan wajah Ayahnya yang kaku dan penuh tuntutan langsung melintas. Ayahnya menuntut keturunan sebagai penerus bisnisnya. Rio meratap. Tanpa seorang anak, dia tidak mendapat hak apapun atas semua perushaan dan rumah mewah itu. Semua fasilitas mewah, mobil sport, dan posisi owner yang hampir digenggamnya kini terasa menguap begitu saja. Rio tidak bisa tinggal diam, dia harus mencari cara agar dia dan Maudy punya anak. Apapun caranya, Maudy harus hamil. Sehingga muncul rencana jahat di otaknya dengan menyewa laki laki untuk menghamili istrinya, yang nantinya akan dia akui sebagai anak kandungnya. Dan Bayu, adalah laki laki sial yang menerima tawaran itu. Bayu pun terdiam usai mendengar perintah konyol itu. Itu bukanlah perintah yang mudah diterima begitu saja. Tapi saat mendengar nominal uang lima ratus juta, mendadak dia teringat pada Ibunya. “Ibu butuh uang ini, tapi…. Tugas ini terlalu konyol!” gumam Bayu di dalam hati. Satu minggu yang lalu Ibunya Bayu terbaring di rumah sakit dengan diagnosa gagal ginjal. Untuk kesembuhannya, perlu dilakukan transplantasi ginjal yang tentunya membutuhkan biaya yang besar. Bayu hampir frustasi mencari biaya operasi senilai 125 juta, bahkan sudah menyerah dan mempersiapkan diri jika harus kehilangan Ibunya. Akan tetapi, mendadak ada yang menawarkan dirinya tugas dengan upah yang besar. Bahkan tugasnya bisa dibilang sebuah kenikmatan dunia. “Menghamili Bu Maudy? Bahkan dalam mimpi pun aku tidak berani membayangkan lekuk tubuhnya, dan sekarang aku malah nyata nyata dibayar untuk menghamilinya? Apa aku sedang beemimpi?” gumam Bayu di dalam hati sambil menepuk pelan pipinya untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Sementara itu, Rio bukan tipe orang yang mau menunggu. Dia juga bukan sedang memberikan Bayu tawaran, melainkan sebuah perintah mutlak yang tidak bisa ditolak. “Terima atau angkat kaki dari perusahaan ini. Dan nama kamu telah diblacklist dimana pun. Tidak ada instansi yang bersedia menerima kamu!” gertak Rio, dan seketika membuat Bayu terpaksa menyetujuinya. Selain karena digertak, dia juga memang butuh uang itu. “Ba..baik Pak Rio. Sayaaaa… saya akan menerima tugas ini,” jawab Bayu dengan terbata bata. Setelah memberikan jawaban pada Rio, otak Bayu berkelana. "Main sama Bu Maudy? Kira kira seperti apa ya rasanya? Dari luar aja tubuhnya kelihatan putih dan mulus, gimana kalau dilihat dari dalam? Apalagi bayangin kalau dia sedang bergoyang diatas ku? Huuuuh, pasti seruuuu!" celetuk Bayu di dalam hati. Otak mesumnya sudah membayangkan seperti apa aksi Maudy di ranjang. Rio tersenyum lega mendengar jawaban Bayu. Sungguh berbeda dengan raut wajah Maudy tertunduk lesu. Masih belum bisa dia terima keputusan suaminya yang nekat menyewa laki laki untuk menghamilinya. Apalagi laki laki yang dia pilih adalah seorang OB. Sejenak Maudy mengangkat pandangannya, lalu sekilas memperhatikan penampilan Bayu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dan sialnya, saat pandangan Maudy tepat di wajah Bayu, pandangan keduanya tepat bertemu. Maudy segera membuang pandangan, sementara Bayu kembali menundukkan kepala. Tetapi, OB beruntung itu masih menyimpan sejuta pertanyaan di otaknya. “Kenapa pandangan Bu Maudy padaku berbeda dari sebelumnya? Apa, jangan jangan dia sudah mulai tergoda denganku? Karena kan sebenarnya aku ini lebih ganteng dari pada suaminya, badanku juga lebih berotot dari pada Pak Rio yang kerempeng. Bisa jadi itunya juga kecil…” Bayu terkekeh membayangkan isi otaknya yang liar. Bahkan dia masih melanjutkan pikiran konyolnya itu “Setelah melihat fisik ku, pasti Bu Maudy sudah membayangkan aksi hebatku di ranjang. Sayangnya aja nasibku buruk harus pakai seragam OB ini. Coba kalau aku pakai jas dan sepatu kayak Pak Rio, pasti semua wanita tergila gila padaku.. Hahahahhahahah!” Bayu makin berbangga diri dengan fisiknya. Akan tetapi dengan cepat dia membuyarkan lamunannya itu agar tidak menimbulkan masalah dengan bosnya. Meski dia tergoda dengan tubuh Maudy, tetapi dia tetap harus sadar diri dan menghormati bosnya tersebut. Dan sebelum dia meninggalkan ruangan, Bayu menanyakan sesuatu kepada bosnya. “Maaf Pak Rio, apa saya boleh menanyakan sesuatu? “Katakan,” “Di dalam tugas ini, apa ada aturan tertentu yang boleh dikerjakan dan yang tidak boleh dilanggar?” “Maksud kamu?” Rio balik bertanya dengan kening mengerut. “Emm, maksud saya. Apakah dalam melaksanakan tugas nanti, saya boleh memakai banyak gaya dengan durasi yang lama?” tanya Bayu dengan pelan dan sedikit ragu. Dan hal itu seketika membuat Rio dan Maudy membulatkan kedua bola mata mereka ke arah Bayu. Di satu sisi Maudy terkejut dengan kata kata Bayu. “Banyak gaya dan durasi lama”. Karena selama ini Maudy belum pernah merasakannya bersama dengan Rio. Sementara Rio sendiri, dia merasa tersindir dengan pertanyaan itu karena belum sampai mencoba banyak gaya, dia sudah tumpah duluan. “Jangan macam macam! Tugasmu hanya membuat istri saya hamil, jangan pikirkan hal lain!” bentak Rio sembari menggebrak meja di depannya hingga membuat Bayu gemetar. Tetapi dengan polosnya dia masih lanjut bertanya. “Maaf Pak Rio jika pertanyaan saya tadi lancang. Tapi jujur, saya tadi serius bertanya. Dalam melaksanakan tugas saya nanti, saya boleh pakai gaya apa saja? Takutnya, saya lancang dan tidak sopan.” Rio menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Sebisa mungkin dia menahan diri. Dia tidak tau apakah Bayu benar benar bertanya atau sedang menyindirnya. “Kurang ajaarr! Anak ini kayaknya sengaja nyindir aku. Tapi nggak mungkin. Mungkin dia memang benar benar bertanya. Lagian soal ini kan hanya aku dan Maudy yang tahu. OB ini nggak mungkin tau kalau aku gak tahan lama dan gak bisa banyak gaya!”« Je ne t’ai pas donné d’opportunités ? C’est toi qui ne les as pas saisies ! »La première fois qu’il lui a proposé de partir s’installer à l’étranger avec Héloïse, elle a tenté de lui parler de leur mariage.La deuxième fois, elle a supporté sa fierté et ses « reconnaissances » pour une autre femme.Elle avait donné trop de chance pour cet homme.Gaston a secoué la tête, son visage sombre et tendu :« Tu ne sais jamais, tu gâches toujours d’un cœur sincère. »Finalement, Sorrel a bien fini par aller en prison.Cependant, il n’y est resté qu’un mois.Parce qu’au final, personne n’a été victime de son « empoissonnement ».À ce moment-là, Gaston a appris que Sorrel voulait utiliser leur mariage pour se venger de Maeva.Il a donc eu une idée.Il a décidé de répandre une fausse rumeur, attirant Sorrel pour qu’il vienne.À sa grande surprise, Sorrel est vraiment venu.Il était malin, il avait apporté des laxatifs forts, mais n’a empoisonné qu’une seule table, évitant ainsi un crime de gran
Deux semaines plus tard, au Palais des Saveurs La Fontaine.Maeva s’est tenue à l’entrée, accueillant les invités venus célébrer son mariage.Elle portait une robe rouge, debout aux côtés de Gaston.Tous deux, d’une beauté éclatante, ressemblaient à un couple parfait, presque irréel.« Dans une demi-heure, la cérémonie commencera. »Gaston a regardé les talons hauts de Maeva et lui a demandé :« Ces talons, c’est fatigué, non ? »Maeva a secoué la tête, lui adressant un sourire radieux :« Pas du tout, je suis vraiment heureuse. »Les parents de Gaston étaient présents. Ils regardaient leur future belle-fille avec une grande satisfaction.Eva était une jeune fille qu’ils avaient vue grandir, une personne très gentille.Ils n’avaient pas de soucis financiers, et en vérité, ils avaient toujours espéré que Maeva devienne leur belle-fille.Aujourd’hui, leur souhait est enfin exaucé.Pendant ce temps, dans le parking souterrain de l’hôtel.Sorrel, totalement déguisé, portant un masque et un
Maeva a secoué la tête :« Si nous en sommes arrivés là aujourd’hui, Héloïse y est pour une part, mais ce n’est pas la raison principale. Tu aurais sûrement trouvé une autre femme. »« Sorrel, tu ne comprends vraiment pas ce que c’est l’amour. »Sorrel a regardé le grand diamant sur la main de Maeva, un frisson a parcouru son corps, et d’une voix rauque, il a dit :« Alors, quand tu te marieras, tu m’inviteras à ton mariage, n’est-ce pas ? »Maeva a secoué la tête et a refusé :« Non, je ne veux plus jamais te revoir. »Gaston s’est avancé, prenant la main de Maeva dans la sienne :« Monsieur Tisseur, je vous prie de ne plus jamais déranger ma fiancée, sinon … sachez que je ne suis pas quelqu’un de pacifique. »Le message était clair : si Sorrel dérangeait encore Maeva, Gaston ne le laisserait pas faire.Sorrel n’a rien dit, fixant Gaston qui serrait Maeva dans ses bras et s’éloignait.Il est resté là, murmurant :« C’est fini, tout est fini. »« L’argent, la maison, la société, ma fem
Sorrel a terminé son discours d'une voix étranglée, et Maeva l'a regardé froidement, secouant la tête.« T’es vraiment irrécupérable. » a-t-elle dit, la voix glaciale.« Si tu avais encore un peu de dignité, tu signerais ce fichu contrat de divorce, et on pourrait se séparer en bons termes. Je t’aurais respecté comme un homme, mais… »Elle a fait une pause, le regard perçant.« Tout ce que tu as fait ces deux derniers mois n’a été pensé que pour toi-même. À aucun moment tu n’as pensé à moi. »En voyant son comportement, Maeva s’est dit que partir avait été la meilleure décision de sa vie.« Qu’est-ce que je dois faire pour que tu me pardonnes ? »Sorrel l’a suppliée, les yeux pleins de désespoir.« Est-ce que tu me pardonneras seulement si je meurs un jour ? »Il a sorti un couteau de quelque part, avant de s’entailler violemment le poignet. Le sang a jailli, une flaque rouge s’étendant à ses pieds.Maeva a été figée un instant, puis, reculant de deux pas, elle a secoué la tête, incréd












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.