Short
Nous sommes séparés par les montagnes et la mer

Nous sommes séparés par les montagnes et la mer

By:  Branche FlamboyanteCompleted
Language: French
goodnovel12goodnovel
21Chapters
9.0Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Cinq ans après leur mariage, Sorrel a évoqué pour la troisième fois son projet d’emmener Héloïse, sa maîtresse, vivre à l’étranger. Maeva a posé les plats qu’elle avait soigneusement préparés, et, lui a demandé d’une voix calme : « Pourquoi veux-tu partir avec elle ? » Sorrel lui a répondu sans détour : « Je ne veux plus te cacher la vérité. Loïse habite à côté, dans le quartier d’en face. Elle m’a accompagné pendant neuf ans. Je lui dois beaucoup. Et cette fois, il faut qu’elle vienne avec nous à l’étranger. » Maeva n’a pas pleuré cette fois. Elle a simplement réservé un billet pour Héloïse. Sorrel a cru qu’elle avait enfin accepté la situation. Le jour du départ, après avoir vu Sorrel et Héloïse embarquer, Maeva a pris un vol pour rejoindre ses parents.

View More

Chapter 1

Chapitre 1

“Cepat puaskan aku….”

Larut malam, aku berlutut di atas ranjang membelakangi seorang pria, menunggingkan pantatku setinggi mungkin.

Namun, dia hanya memegangi pinggulku, sengaja tidak mau segera masuk.

“Panggil aku ayah.”

“Ayah, kumohon.”

“Mohon apa?”

Kata-katanya membuatku merasa seperti anjing betina yang sedang dilatih, hanya jika menuruti kemauan majikanlah, aku akan mendapatkan hadiah. Di lubuk hatiku, berbagai emosi bergejolak hebat.

Malu, bergairah, takut, sekaligus haus… semua perasaan itu bercampur aduk. Aku menjawab, “Ayah… kumohon puaskan aku dengan keras….”

Namaku Felicia, seorang mahasiswi yang baru saja lulus, sedang menyewa apartemen dua kamar bersama sahabatku.

Malam itu, saat baru kembali ke kontrakan, aku melihat sahabatku, Sella berbaring di sofa dengan wajah merona dan pakaian berantakan, bahkan rok pendeknya masih tersangkut di pinggang.

Di sudut sofa, benda warna merah mawar tampak sangat mencolok. Itu celana dalam thong milik sahabatku.

Sementara itu, pacarnya, si Leo tampak terburu-buru menarik celana pendeknya ke atas.

Jelas sekali, detik sebelumnya mereka sedang bercinta dan terpaksa berhenti karena mendengar suara pintu terbuka.

Aku tahu, diriku akan sulit tidur lagi malam ini.

Leo adalah seorang pelatih di gym. Tubuhnya tinggi dan atletis. Sejujurnya, aku cukup kagum padanya.

Namun, setiap kali menginap, dia selalu memuaskan sahabatku sepanjang malam. Suara desahan sahabatku sangat nyaring, membuatku tak bisa tidur sama sekali dan sering kali berakhir dengan masturbasi.

Melihat tonjolan besar di balik celana pendek Leo, telingaku terasa panas. Sambil berpura-pura tenang berjalan menuju kamar, aku berkata, “Lanjutkan saja, anggap saja aku nggak ada.”

Melalui pantulan kaca balkon, aku bisa merasakan Leo mencuri pandang ke arah pantatku. Aku sudah terbiasa diawasi diam-diam seperti itu. Siapa suruh aku punya dada besar, pinggang ramping, kaki jenjang dan pantat yang montok? Cantik dan punya tubuh bagus, tentu akan dilirik oleh pria.

Karena kamar mandi digunakan bersama, setelah mereka kembali ke kamar, barulah aku bersiap untuk mandi.

Setelah mengunci pintu kamar mandi dan melepaskan pakaian, saat hendak memasukkan celana dalam ke keranjang cucian, aku menyadari ada sesuatu yang aneh.

Tadi pagi sebelum berangkat, aku mengganti celana dalam. Meski belum sempat dicuci, biasanya aku selalu melipatnya rapi sebelum ditaruh di keranjang.

Namun sekarang, celana dalamku tampak tergulung berantakan.

Dengan curiga, aku mengangkat thong renda putih itu. Baru saja hendak membukanya, aroma maskulin pria yang sangat kuat langsung menusuk hidungku.

Ini… jangan-jangan ini… air mani Leo?

Berfantasi tentangku biasanya saja sudah keterlaluan, tapi sekarang dia malah berani melakukan hal kotor dengan celana dalam bekas pakaiku.

Dan setelah dipakai, tidak dicuci pula!

Aku marah, sekaligus terangsang.

Mengingat belum lama ini, celana dalam yang membungkus area paling pribadiku itu dimainkan sesuka hati oleh Leo, entah iblis apa yang merasukiku. Aku mendekatkan wajah dan menghirupnya.

Aroma itu membuat kepalaku yang sudah kacau menjadi benar-benar kosong.

Entah berapa lama berlalu, saat tersadar apa yang baru saja kulakukan, aku langsung terkejut sendiri.

Dengan terburu-buru, aku melemparkan celana dalam itu kembali ke keranjang. Wajahku terasa terbakar dan berlari masuk ke bawah pancuran air seolah sedang melarikan diri.

Guyuran air hangat membasuh tubuhku. Aku menggosok kulit sekuat tenaga, berusaha mengosongkan pikiran. Seolah-olah hanya dengan cara inilah, aku bisa menekan gairah yang ada di lubuk hatiku.

Namun, jari-jariku tak sengaja tergelincir menyentuh buah dada.

Putingku mengeras, membuatku merasa malu pada diri sendiri.

“Hm….”

Aku mendesah pelan, area di antara kedua kakiku terasa tersengat listrik.

Di sana… sudah basah sejak tadi.

Aku memejamkan mata, menekannya perlahan. Saat satu jari masuk, tubuhku gemetar hebat dan kakiku terasa lemas hingga hampir tak sanggup berdiri.

“Hanya sekali… sekali saja….”

Aku terengah-engah, ujung jariku semakin terjulur ke dalam. Daging lembut di dadaku naik turun di telapak tangan, putingku terasa berdenyut saat dipijat jari. Rasa geli yang nikmat meluap dari dalam tubuh, menjalar ke seluruh tubuh.

Setelah selesai dan keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lemas, aku menyadari pintu kamar agak terbuka, cahaya kuning keluar dari celah pintu.

Di ruang tamu yang gelap, terdengar suara desahan manja sahabatku.

Jantungku yang baru saja tenang kembali berdegup kencang. Sambil menahan napas, aku melangkah perlahan menuju pintu kamar itu.

Aku mengintip melalui celah pintu.

Di atas ranjang, Sella terkapar lemas. Wajah cantiknya terlihat sayu dengan mata yang setengah memutar ke atas, bibirnya gemetar tak terkendali, “Felicia… masih belum tidur, kamu… sengaja mau… didengar dia?”

Otot perut Leo terlihat sangat jelas, seluruh tubuhnya memancarkan aura kekuatan yang meledak-ledak. Sambil terengah, dia menjawab, “Bukannya… kamu sendiri yang kegatalan?”

“Bo… bohong! Jangan kira aku nggak tahu, kamu… kamu mau menidurinya, ‘kan….”

Leo memperlambat gerakannya, “Pinggang rampingnya… goyangan pantat montoknya… pria mana yang nggak mau?”

Mendengar itu, wajahku memerah. Aku tak pernah membayangkan, saat sedang berhubungan dengan sahabatku, ternyata Leo masih berfantasi tentangku!

Aku bernapas dengan mulut terbuka, ingin segera melarikan diri, tapi kedua kakiku seolah terpaku di lantai dan tak bisa digerakkan.

Tepat saat itu, tiba-tiba Leo mendongak dan mata kami pun bertemu.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.


No Comments
21 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status