Mag-log inAlex Lepont et Léa Thomas ne s'entendaient pas depuis l'enfance. Et pourtant, cette année-là, il ne restait plus qu'eux deux pour un mariage arrangé dans leur cercle. Alex affirmait qu'il préférerait mourir plutôt que d'épouser Léa. Léa, soudain intéressée, a répondu : « Alors je vais absolument t'épouser. Meurs vite, s'il te plaît. » Le jour du mariage, Alex a lâché des dizaines de poules pour humilier Léa. Elle, sans la moindre expression, a attrapé une poule et l'a jetée vers lui. Alex, aussitôt, a perdu toute envie de se moquer d'elle. En regardant Léa qui tenait absolument à l'épouser, il lui a lancé d'un ton moqueur : « Tu vas le regretter. » Après trois ans de mariage, Léa a surpris Alex pour la quatre-vingt-dix-neuvième fois en train de la tromper. Ce n'était qu'à ce moment-là qu'elle a vraiment compris ce que signifiait réellement les mots d'Alex.
view moreKAMU YANG KUCINTAI
Part 1 Ikut denganmu? "Mas, boleh aku ikut denganmu?" tanya Kimmy sambil memandang pria berjaket kulit yang duduk di hadapannya. Tatapan gadis itu penuh harapan. "Kamu nggak akan aman bersamaku. Hidupku belum jelas. Aku juga memiliki banyak musuh, Kim." Pria itu menghembuskan asap rokok ke udara. Yang akhirnya buyar tersapu angin malam dari balkon kafe. Kimmy tidak berkedip. Matanya yang bulat tampak berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu kota. "Aku lebih bahaya lagi jika tetap tinggal bareng Mama di rumah itu. Mama lebih mendengar dan lebih mempercayai suami dan anak-anak tirinya. Menjaga perasaan mereka dengan baik, seolah aku yang anak kandungnya ini nggak punya perasaan. Memang hidup kami bergantung padanya, sih. Mama sudah terlalu bangga dengan gelar nyonya besar di rumah itu." "Papa tirimu jahat?" tanya Langit dengan tatapan menyelidik. "Bukan beliau yang jahat. Tapi aku takut dengan anak-anaknya." Kimmy menunduk sambil memperhatikan gelas es teh yang digenggam dengan kedua tangannya. Wajah itu terlihat begitu resah. Kakak tirinya itu tidak pernah bicara kasar. Tapi matanya selalu mengikutinya. Di meja makan, di lorong rumah, bahkan dia seperti berdiri di depan pintu kamarnya saat malam sudah larut. Kimmy pernah cerita pada sang mama. Tapi wanita itu bilang, Kimmy terlalu berlebihan. Padahal Arsel itu sopan dan pendiam. Bagi Kimmy, pria seperti itu bisa saja menjadi predator yang bersembunyi di balik wajah tampan, kemeja rapi, dan senyum sopannya. "Mereka keluargamu. Lebih aman bersama keluarga daripada dengan orang asing, Kim. Belum tentu aku terus baik seperti sangkaanmu." "Kita bukan orang asing, kan? Kita sudah berteman sejak kecil lagi. Sejauh ini aku aman bersamamu." Hening. Kimmy memandang Langit. Tapi pria itu mengalihkan perhatian pada suasana jalanan di bawah kafe sana. Kemacetan di tengah kota Surabaya tampak seperti aliran lava merah yang membara. Rahangnya yang tegas tampak menengang. Langit ingin lari dari sangkar emas. Ia muak dengan intrik bisnis ibu tirinya, muak dengan kekuasaan yang dibangun di atas air mata orang lain. Baginya pergi dari rumah adalah kematian baginya, tapi membawa Kimmy pergi adalah perjudian nyawa. Keluarga Fardhan tidak akan tinggal diam. Mereka akan mencari Kimmy hingga ke lubang semut sekali pun. Ia seperti halnya Kimmy. Papanya menikah lagi dengan rekan bisnisnya. Dan wanita itu penuh ambisi untuk menguasai semuanya. "Mas Langit, hendak pergi ke mana?" Pertanyaan Kimmy memecah lamunan berat lelaki itu. "Jauh dari sini," jawab Langit terdengar parau menahan sebak dalam dada. Dia tidak ingin pergi. Tapi memang tidak punya pilihan selain menjauh. Ia ingin merengkuh Kimmy, memberinya perlindungan, tapi hidupnya sendiri entah bagaimana setelah pergi dari keluarga. "Di mana?" Kimmy mendesak. "Ke tempat di mana aku nggak dikenali, Kim. Ke tempat di mana aku cuma Langit, bukan pewaris apa pun." Kimmy menggeser duduknya, merapat ke meja. "Kalau begitu bawa aku ke sana. Aku bisa masak, aku bisa bersih-bersih, aku nggak akan merepotkan. Nanti aku juga akan bekerja, jadi nggak bergantung hidup padamu. Selain Mama, kamu yang kupunya." Langit memandang Kimmy. "Aku juga nggak akan menjadi penghalangmu jika suatu saat nanti Mas Langit menemukan gadis yang tepat yang ingin kamu nikahi. Bil-bilang saja aku adikmu." Suara Kimmy bergetar dan dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan. Kimmy menarik napas sejenak. "Aku nggak tahan di rumah itu, Mas. Salsa juga terus-terusan menyindirku. Dia bilang aku dan Mama hanya benalu yang mau merebut harta papanya." "Harta ini benda mati yang bisa membuat manusia menjadi iblis, Kim." "Tapi aku dan mamaku bukan iblis, Mas." "Maaf, aku tidak mengataimu begitu. Aku bicara tentang wanita lain." "Iya. Aku ngerti." "Kamu harus menyelesaikan kuliahmu. Aku pergi dan nggak tahu bagaimana nasibku nanti. Bisa jadi aku mungkin akan tidur di pom bensin, atau di emperan toko." Mendengar itu Kimmy tersenyum tipis. Tidak mungkin seorang Langit tak punya uang. Sekalipun dia bilang pergi dari rumah tanpa membawa apapun. Ia lebih baik tidur di aspal bersama Langit daripada tidur di kasur empuk tapi harus mengunci pintu karena takut Arsel masuk. Namun ia sadar, tidak bisa memaksakan diri karena Langit mungkin juga ribet kalau dirinya ikut. Apalagi dia hanya teman bagi pria itu. Teman yang suka merepotkannya. "Bertahanlah, selesaikan dulu kuliahmu. Tinggal setahun lagi, kan?" ujar Langit yang akhirnya membuat Kimmy mengangguk lemah. Ia menyerah. 🖤LS🖤 "Baru pulang berkencan, ya? Jam segini baru nongol. Wangi asap jalanan banget sih, nggak cocok sama parfum ruangan di sini," ejek Salsa. Saat Kimmy masuk lewat pintu samping rumah. Gadis itu duduk bersedekap di sofa kulit impor. Kakinya disilangkan dengan angkuh. Matanya yang dipulas eyeliner tajam memindai penampilan Kimmy dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang memeriksa perempuan jalanan yang salah masuk ke rumah mewah. Kimmy memilih membisu. Ia menunduk sambil merapatkan jaketnya dan terus melangkah melewati ruang tengah secepat mungkin. Namun langkah Salsa lebih gesit. Ia berdiri, menghalangi jalur menuju tangga. "Ditanya itu dijawab, Kim. Mamamu nggak pernah ngajarin sopan santun kalau masuk rumah orang?" desis Salsa. "Belagu banget. Numpang di sini tapi nggak mau jawab saat ditanya tuan rumah. Harusnya kamu sadar posisi, dong. Kamu dan Mamamu itu cuma tamu yang kebetulan dapet 'tiket gratis masuk ke sini' karena Papa merasa kasihan." Kata-kata itu menghujam ulu hati Kimmy, tapi ia hanya mengeratkan pegangan pada tas ranselnya. Tidak ingin memicu keributan yang akan membuat sang mama menasehatinya panjang lebar. Dengan gerakan menghindar, Kimmy memutar tubuh dan menaiki anak tangga satu per satu. "Jangan pikir karena Papa baik, kamu bisa seenaknya di sini!" teriak Salsa dari bawah. "Kamu itu nggak lebih dari benalu, Kimmy!" Kimmy menarik napas panjang untuk melonggarkan dada yang sesak nyaris meledak. Kalau ada orang tua mereka, Salsa tidak akan berkata demikian. Pasti bersikap sok manis. Makanya sang mama tidak percaya dengan cerita Kimmy. Dan sudah dua hari ini, sang mama ikut suaminya ke luar kota. Kimmy benar-benar sendirian di rumah itu. Lantai dua terasa lebih sunyi, tapi suasananya jauh lebih mencekam. Kamar untuk anak-anak ada di lantai dua semua. Kimmy ingin pindah ke bawah, tapi tidak diperbolehkan oleh Pak Fardhan. Papa tirinya. Untuk mencapai kamarnya, Kimmy harus melewati balkon ruang tamu atas. Dan di sana, di bawah temaram lampu gantung, sosok tinggi tegap itu berdiri. Arsel menoleh dan memandangnya sekilas. Namun tatapan itu tajam. "Dari mana kamu?" Next ....Voir sa chute réjouissait beaucoup Manon.Si elle avait pu, elle aurait pris une photo pour la montrer à Léa.Regardant Manon, il s'est léché les lèvres gercées.« Le bracelet ? »Manon n'a rien dit du bracelet, se contentant de sortir un carnet de son sac.Alex a fixé sans cligner des yeux chacun des gestes qu'elle faisait avec ses mains.Manon a posé le carnet devant lui.« Qu'est-ce que c'est ? » a demandé Alex, perplexe.Ce qu'il voulait voir, c'était le bracelet.Manon n'a rien dit, elle a simplement ouvert le carnet pour lui montrer.En voyant le contenu du carnet, Alex a soudain écarquillé les yeux.Chaque page, chaque ligne avait été remplie d'une écriture tremblante et mal assurée.Manon n'a rien dit, mais lui n'a pas pu retenir le tremblement de ses lèvres.Au bout d'un moment, Manon a lentement pris la parole.« Alex, les lettres que tu as reçues à l'époque n'étaient pas du tout écrites par Léa, tu ne pouvais donc pas savoir à quel point elle souffrait, à quel
Il a lentement levé les yeux.« Quoi ? »En entendant son ton froid et interrogateur, la personne qui avait parlé est devenue muette sur le champ, son regard s'est rétracté et elle s'est reculée.Voyant cela, Alex a laissé échapper un rire froid.« Quoi, tu n'oses plus parler ? Tu regrettes de ne pas avoir fait revenir ce fils illégitime ? »Son père avait un fils illégitime, une affaire que toute la famille des Lepont connaissait, sauf lui.À l'époque, il avait juste perdu la vue dans un accident de voiture, et chacun avait commencé à comploter pour qu'il abdique.Si ce n'était pas Léa qui s'était occupée de lui avec soin, qui l'avait toujours soutenu, il aurait été dévoré vivant par ces gens depuis longtemps.En y pensant, son cœur s'est à nouveau serré douloureusement.Tous avaient les yeux grands ouverts, surpris qu'il ait découvert cela.Le visage d'Alex était d'une froideur à glacer le sang.« Non seulement je ne donnerai pas le Groupe Thomas à la famille des Lepont, m
« Léa, je vais te venger, d'accord ? » il a dit doucement.À peine avait-il fini de parler qu'il a saisi la bouteille sur la table et l'a frappée plusieurs fois contre sa tête.Le sang a immédiatement coulé, tachant sa chemise blanche.Il s'est allongé sur le canapé, serrant le portrait de Léa, quand soudain le téléphone a sonné.« Désolé, monsieur, beaucoup de gens ont appelé après l'annonce de la récompense, mais personne n'a retrouvé le bracelet que vous cherchez. »« Je le sais. »Il a fermé les yeux avec douleur.À la seconde suivante, il a demandé à son assistant de réserver un billet d'avion.Comme il n'avait pas pu la retrouver, il a décidé d'en chercher un autre identique pour le porter.Quelques heures plus tard, l'avion a atterri et Alex a traversé montagnes et rivières pour arriver au pied de la montagne.On lui avait dit que l'église était construite au sommet de la montagne.Seules les personnes priant sincèrement étaient reçues.Alex a baissé la tête sans un
Le téléphone d'Alex a reçu de nombreux messages de vœux d'anniversaire.Il s'est alors soudain rendu compte que c'était son anniversaire aujourd'hui.Il est devenu comme une machine engourdie, son cerveau ayant cessé de fonctionner.Ses doigts ont fait défiler l'écran sans conscience, et d'une manière ou d'une autre, ils ont trouvé les messages que Léa lui avait envoyés autrefois.2024.5.27 00:00« Alex, joyeux anniversaire. »2023.5.27 00:00« Alex, joyeux anniversaire. »2022.5.27 00:00« Alex, joyeux anniversaire. »…Les mots sur l'écran du téléphone étaient comme des bêtes dévorantes.Il a seulement ressenti un froid glacial dans tout son corps, comme si une bête invisible le déchirait violemment, ses membres et ses os endurant une douleur insupportable, son corps tremblant involontairement.Le téléphone est tombé lourdement de sa main et a heurté le sol.Il ne savait pas s'il devait dire que Léa le connaissait trop bien, sachant qu'il ne regarderait pas ses messages mê
Il s'est accroupi, tout engourdi comme un corps sans âme.Il a allumé prudemment beaucoup de bougies.Il voulait savoir où Léa avait été enterrée.Il l'a tellement désirée qu'il n'a pas pu dormir de toute la nuit.Il est allé demander à son assistant.Mais on lui a dit qu'il avait appris la mor
Il s'est enfui en désordre de la maison de Manon.Les morceaux de papier dans sa poche, comme un marron chaud, l'avaient rendu inquiet même à travers ses vêtements.Il a renversé les morceaux du papier sur la table, mais il n'a osé que les regarder de loin, sans les toucher.Son visage était pâle
Le téléphone est tombé soudainement des mains d'Alex.Il a brusquement écarquillé les yeux.« On peut plaisanter avec ce genre de chose ? C'est Léa qui t'a demandé de dire ça, non ? Où est-elle ? Amène-moi tout de suite ! »« Je veux voir comment elle t'a soudoyé pour que tu racontes de tels mens
Il n'a jamais oublié le regard que Léa lui a lancé ce jour-là.Il avait reconnu qu'il avait été un peu dur, mais il n'avait pas jugé nécessaire de s'excuser.Le lendemain matin, Alex avait découvert que Léa lui avait coupé les cheveux…En suivant l'adresse sur le papier, Alex a cru qu'il allait t






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.