Share

Bab 9

Penulis: Asai
Sekar menggertakkan gigi. Kedua tangannya menopang tubuh di lantai, sementara kuku-kukunya mencengkeram celah di antara batu bata. Dia tidak memohon ampun, juga tidak membela diri.

Dia hanya terpaku menatap Noah dengan kedua mata yang kosong itu.

Tatapan itu tidak menyimpan kebencian ataupun dendam. Hanya ada sikap acuh yang dingin dan hampa, seolah-olah dia sudah melihat segala sesuatu apa adanya.

Entah kenapa, tatapan Sekar itu membuat Noah gelisah. Rasa gelisah itu justru membuat amarahnya semakin memuncak. “Cambuk dia! Terus! Jangan berhenti sampai dia mau bicara!”

Tepat ketika kesadaran Sekar mulai buyar dan dia nyaris tak sanggup bertahan ....

“Pangeran! Kita salah! Semuanya salah!” Seorang tabib istana bergegas masuk dengan wajah panik.

Noah langsung menoleh. “Apa maksudmu salah?!”

Tabib itu segera berlutut dan berkata dengan tergesa-gesa, “Hamba baru saja memeriksanya kembali dan menanyai pelayan pribadi Nona. Ternyata ... Nona sama sekali tidak keracunan!”

“Apa?!”

“Ini terjadi karena dua makanan yang tidak cocok dikonsumsi bersamaan,” jelas tabib itu dengan tergesa-gesa. “Kemarin, Nona mengonsumsi sarang walet merah yang sifatnya sangat panas. Sementara sup penghangat tubuh yang diminumnya hari ini mengandung sejenis tanaman obat yang sifatnya sangat dingin. Kedua bahan itu saling berbenturan. Jika dikonsumsi dalam waktu yang terlalu berdekatan, reaksinya bisa menyebabkan muntah darah hebat dan gejalanya sangat mirip keracunan. Cukup beri Nona beberapa obat untuk memulihkan tubuhnya. Setelah darah yang tertahan di dalam tubuhnya keluar dan beristirahat beberapa hari, kondisinya akan kembali pulih. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Amarah dan kecemasan di wajah Noah seketika membeku. Raut wajahnya perlahan berubah dari keterkejutan menjadi ketidakpercayaan, hingga akhirnya pucat pasi.

Noah perlahan menoleh. Sekar tergeletak di lantai dengan tubuh penuh luka, berlumuran darah hingga nyaris tak berbentuk. Jantungnya seolah diremas oleh tangan tak kasatmata. Rasa takut dan sakit hati yang belum pernah dirasakannya sebelumnya seketika menyergapnya.

Dia terhuyung-huyung mendekat dan hendak menopangnya. “Sekar, aku ....”

Namun, sebelum Noah sempat menyentuhnya, Sekar sudah lebih dulu menopang tubuhnya di lantai dan bangkit dengan sempoyongan.

“Aku nggak perlu kamu menebus kesalahanmu.” Sekar seolah sudah tahu apa yang hendak dikatakannya. Suaranya serak dan lemah, tetapi tetap tenang. “Seperti biasa, aku cuma mau rumbai pedang yang kamu bawa itu. Berikan kepadaku.”

Noah tanpa sadar menutupi rumbai pedang itu dengan tangannya. Hatinya seketika tenggelam.

Kantung wewangian dan pelat pelindung dada, semuanya sudah diminta Sekar kembali. Kini, rumbai pedang itu adalah benda terakhir yang pernah diberikannya kepada Noah.

“Sekar, ini cuma salah paham.” Suaranya terdengar kering. “Aku ....”

“Berikan kepadaku.” Sekar mengulanginya. Nadanya tetap tenang, tetapi ada ketegasan yang tak menyisakan ruang untuk dibantah.

Noah memandangi wajah Sekar yang pucat pasi. Saat itu, rasa takut dan gelisah di hatinya benar-benar memuncak.

Dia tidak ingin memberikannya. Rasanya jika rumbai itu diserahkan, dia akan kehilangan sesuatu yang sangat penting.

“Pangeran! Nona sudah sadar dan terus memanggil Anda.” Suara Damini terdengar dari luar.

Noah tersentak.

Noah melirik Sekar, lalu teringat Renata yang baru saja melewati masa kritis. Pikirannya semakin kacau.

Sudahlah ....

Sekar begitu mencintainya. Sekarang dia hanya sedang marah dan melampiaskan kekesalannya. Setelah kemarahannya reda, dia tinggal membujuk Sekar kembali.

Hanya sebuah rumbai pedang.

Noah menggertakkan gigi. Pada akhirnya, dia tetap melepaskan rumbai pedang lama itu dan menyerahkannya kepada Sekar.

Sekar menerimanya tanpa menoleh lagi ke arahnya. Dia berbalik, lalu dengan tubuh yang penuh luka dan berlumuran darah, melangkah tertatih satu demi satu menuju kamarnya.

Noah memandangi punggung Sekar hingga menghilang di balik pintu. Pandangannya lalu tertuju pada jejak darah yang berkelok di lantai. Sesuatu dalam dadanya terasa seolah direnggut dari dalam dirinya, menyisakan kehampaan yang terasa menyakitkan.

Dia ingin mengejar Sekar ke dalam dan mengatakan sesuatu.

“Pangeran ....” Damini kembali memanggil dari luar.

Noah memejamkan mata sejenak. Namun, pada akhirnya dia tetap berbalik dan melangkah cepat meninggalkan Paviliun Samping.

Sekar masuk ke kamarnya, lalu menutup pintu dan menyandarkan tubuh pada daun pintu. Perlahan, tubuhnya melorot hingga duduk di lantai.

Dia tidak langsung mengurus luka-lukanya. Sekar dengan susah payah bergeser ke sudut kamar dan menarik sebuah kotak besi sederhana yang tak mencolok dari bawah tempat tidur.

Rumbai pedang itu kemudian dimasukkannya ke dalam kotak, bersama kantong wewangian dan pelat pelindung dada yang sebelumnya sudah dimintanya kembali.

Terakhir, dia menyalakan pemantik api.

Nyala api berwarna jingga kemerahan menjilat tepi kotak besi itu, lalu dengan cepat merambat ke dalam.

Api melahap kantong wewangian yang jelek itu, pelat pelindung dada yang dingin, serta rumbai pedang yang sudah usang.

Semua benda kenangan, semua kenangan, semua cinta, benci, dan keterikatan ....

Semuanya berubah menjadi abu dalam kobaran api itu.

Sejak saat itu, mereka tidak lagi saling berutang apa pun.

Tak ada lagi ikatan di antara mereka.

...

Keesokan harinya, Noah mengutus seorang pengawal untuk mengantarkan berbagai hadiah hingga memenuhi ruang kecil di Paviliun Samping.

Pengawal itu berkata dengan hormat, “Pangeran berkata bahwa kemarin beliau sudah salah paham kepada Nyonya Sekar. Semua ini diberikan untuk menenangkan hati Nyonya Sekar setelah kejadian kemarin. Sebenarnya, hari ini Pangeran berniat datang sendiri, tapi Nona masih membutuhkan perawatan. Beliau akan datang menjenguk Nyonya Sekar nanti.”

Sekar duduk di depan jendela, memandangi ranting-ranting pohon yang gundul di luar. Kemewahan yang memenuhi ruangan itu sama sekali tidak menarik perhatiannya.

Setelah pengawal itu pergi, Sekar perlahan bangkit dan mengganti pakaiannya dengan pakaian kain yang paling sederhana.

Dia tidak membawa apa pun dan tidak menoleh lagi ke arah kediaman pangeran ini.

Sekar meninggalkan Paviliun Samping, keluar melalui pintu samping kediaman pangeran, lalu langsung menuju kantor Kantor Pengadilan Ibu Kota.

Juru tulis itu masih mengingatnya. Begitu melihat Sekar datang, dia menghela napas. “Nyonya, Anda benar-benar sudah memikirkannya baik-baik? Soal hukuman pasak kayu itu ....”

“Sudah.” Nada Sekar tetap tenang. “Mulai saja.”

Juru tulis utama menggeleng, lalu membawanya ke ruang hukuman khusus di bagian belakang.

Tujuh puluh dua pasak kayu khusus ditancapkan satu per satu ke tubuhnya.

Hukuman itu tidak mematikan, tetapi rasa sakitnya menembus hingga ke tulang. Tujuannya agar orang yang menjalani hukuman ini mengingat pelajaran karena telah melanggar prinsip "suami adalah pedoman bagi istri".

Sekar menggigit kain yang disumpalkan ke mulutnya. Keringat dingin membasahi pakaiannya, sementara tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit. Namun, tak sekali pun dia menjerit.

Setelah hukuman itu berakhir, seluruh tubuhnya nyaris berlumuran darah. Meski begitu, Sekar tetap memaksakan diri untuk tidak jatuh.

Juru tulis utama menyerahkan satu salinan surat cerai atas kesepakatan yang telah dibubuhi cap resmi kepadanya. “Salinan lainnya akan kami kirimkan ke Kediaman Pangeran Penjaga Utara.”

Sekar menggenggam surat itu erat-erat, seolah sedang menggenggam kunci menuju kebebasan.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada juru tulis utama, Sekar berjalan keluar dari Kantor Pengadilan Ibu Kota selangkah demi selangkah.

Seekor kuda merah kecokelatan tertambat di batu pengikat kuda di luar Kantor Pengadilan Ibu Kota. Kuda biasa itu dibelinya dengan perhiasan berharga terakhir yang masih dimilikinya.

Sekar menaiki kudanya. Meski luka-luka di tubuhnya membuat gerakannya goyah, dia tetap berhasil menjaga keseimbangan.

Sekar menoleh untuk terakhir kalinya. Pandangannya menyapu ibu kota yang megah di belakangnya, lalu beralih ke arah Kediaman Pangeran Penjaga Utara.

Tatapannya begitu tenang. Tak ada lagi sedikit pun rasa enggan atau keraguan untuk pergi.

Sekar lalu menghentakkan kedua kakinya ke sisi tubuh kuda.

Kuda merah tua itu meringkik, mengangkat keempat kakinya, lalu melesat menuju gerbang kota.

Dia meninggalkan kota yang telah menjadi penjaranya selama lima tahun, serta pria yang dicintai dan dibencinya selama separuh hidup.

Sekar meninggalkan semuanya di belakang untuk selamanya.

Angin menerbangkan ujung pakaiannya yang berlumuran darah serta rambutnya yang kusut dan terurai.

Jalan di hadapannya masih panjang, tetapi dia belum tahu ke mana langkahnya akan membawanya.

Namun setidaknya, kini dia telah bebas.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 21

    Noah mendadak berusaha bangkit untuk duduk, tetapi gerakannya menarik tulang yang patah. Rasa sakit yang hebat membuatnya mengerang tertahan sebelum tubuhnya kembali terhempas ke atas ranjang. Keringat dingin pun seketika membasahi dahinya.“Pangeran! Luka Anda parah, Anda tak boleh bergerak!” Pengawal rahasia itu buru-buru maju hendak menahannya.“Pergi!” Mata Noah memerah. Entah dari mana datangnya kekuatan, dia bahkan berhasil menepis pengawal rahasia itu dengan sekali kibasan tangan. Noah berusaha menyeret tubuhnya dari ranjang sambil menarik kaki yang patah. Namun, tubuhnya justru terjatuh dan terguling ke lantai dalam keadaan mengenaskan. Lukanya kembali terbuka, darah pun dengan cepat merembes membasahi perban.Noah berusaha menopang tubuhnya dengan kedua siku, lalu merangkak perlahan menuju pintu. Rasa sakit seolah sudah tidak lagi dipedulikannya.Noah harus pergi mencarinya. Dia harus menemukan Sekar! Sekar tidak boleh pergi. Dia tidak boleh meninggalkannya begitu saja!Pengaw

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 20

    “Noah!”Sekar terhuyung akibat dorongan kuat itu, lalu jatuh di atas batu yang aman. Lutut dan sikunya lecet, terasa perih menyengat.Di bawah tebing, kabut tebal menyelimuti jurang hingga dasarnya tak terlihat.Sekar sempat mengira Noah sudah hancur berkeping-keping di dasar jurang. Namun, tak lama kemudian, terdengar bunyi dahan patah dari bawah sana, disusul erangan tertahan.Dia menajamkan pandangan. Noah ternyata tidak langsung jatuh ke dasar jurang. Tubuhnya tersangkut pada sebatang pohon kering yang menjulur dari sisi tebing.Namun, pohon itu jelas tidak sanggup menahan benturan dan berat tubuh Noah. Batangnya berderak seperti tak sanggup membawa beban, sementara akarnya mulai terlepas dari tebing. Tubuh Noah tergantung di udara. Punggung dan lengannya terluka akibat terbentur bebatuan tajam, darah mengalir dari luka-luka itu.Dia masih hidup. Namun, keadaannya sangat genting. Sewaktu-waktu, dia bisa jatuh ke dasar jurang.Satria juga bergegas ke tepi tebing. Melihat keadaan itu

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 19

    Satria tetap tenang, sikapnya tidak rendah hati maupun sombong.“Nama saya Satria, hanya seorang tabib pengembara. Yang saya tahu, Nona Sekar yang sedang memulihkan diri di sini adalah seorang wanita yang lajang. Jika Anda masih terus mengganggunya dan mengusik ketenangan pasien, jangan salahkan saya jika saya bersikap kasar.”Ujung jarinya berkilat dingin, beberapa jarum perak masih terselip di antara jemarinya.“Kak Satria.”Sekar tiba-tiba mengulurkan tangan dan menarik lembut ujung lengan baju Satria.Itu adalah sebuah sikap yang menunjukkan kepercayaan dan ketergantungan sepenuhnya.Bahkan dia tidak lagi menoleh kepada Noah, seolah pria itu hanyalah polusi yang tidak perlu diperhatikan.“Kita masuk saja.” Suaranya lembut, tetapi terdengar jelas di telinga Noah, “Tak perlu memedulikan orang yang nggak penting.”Orang yang tidak penting.Empat kata sederhana itu terasa ringan, tetapi bagi Noah, kata-kata tersebut seperti belati beracun yang menghujam tepat ke jantungnya, lalu diputa

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 18

    “Tidak! Aku tidak pernah menyetujuinya! Itu tidak sah!” Noah buru-buru memotong ucapannya. Suaranya meninggi karena emosi dengan kepanikan yang tak lagi mampu disembunyikannya. “Sekar, aku tahu aku salah! Sekarang aku sudah tahu semuanya! Aku tahu semua yang dilakukan Renata, kejadian di penjara bawah tanah, apa yang terjadi di tebing itu .... Aku bodoh! Aku buta! Aku yang telah berbuat salah kepadamu! Maafkan aku, ya? Kita mulai lagi dari awal. Mulai sekarang aku hanya akan memperlakukanmu dengan baik, hanya mempercayaimu, hanya mencintaimu seorang ....”Ucapannya begitu kacau dan tidak beraturan. Dia menumpahkan seluruh penyesalan, penderitaan, dan kerinduan yang telah menghantuinya selama berhari-hari tanpa sedikit pun menyembunyikannya. Seolah berusaha meraih harapan terakhir yang masih bisa menyelamatkannya.Sekar sedikit mengernyit.Namun bukan karena hatinya tergerak.Melainkan karena merasa terganggu.Ketika melihat tangan pria itu terulur dan hendak meraih lengannya, tubuh Sek

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 17

    Usianya kira-kira 25 atau 26 tahun. Tubuhnya tegap, tetapi pembawaannya lembut dengan raut wajahnya yang tampak bersih dan teduh, seperti mata air jernih di pegunungan dan angin sejuk di tengah hutan.Di tangannya terdapat sebuah mangkuk keramik kasar yang dari dalamnya mengepul uap hangat.Dia adalah Satria Gunendra.Dia berjalan ke sisi kursi rotan, lalu langsung berjongkok di sana secara alami. Dia meletakkan mangkuk obat di atas meja kecil di sampingnya. Gerakannya sangat lembut untuk menopang kaki Sekar yang terluka dan perlahan membuka kain bersih yang membalutnya.Jantung Noah seketika mencelos, napasnya mendadak memburu.Telapak kaki itu masih memperlihatkan daging baru berwarna merah muda yang tampak mengerikan, serta bekas luka berwarna gelap. Namun, jelas sekali kondisinya sudah jauh lebih baik karena dirawat dengan cermat. Itu sama sekali tidak seperti gambaran yang diceritakan para pelancong di kedai teh sebagai kaki yang “membusuk hingga tidak ada bagian yang masih utuh”.

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 16

    Plak!Suara tamparan yang nyaring tiba-tiba terdengar di kedai teh.Beberapa pelancong yang sedang mengobrol terkejut dan menoleh. Pria yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka, meski tampak letih dan lusuh tetap tak mampu menyembunyikan wibawa bangsawannya, ternyata baru saja menampar dirinya sendiri dengan keras. Begitu kuat tamparan itu hingga darah langsung merembes dari sudut bibirnya.Namun, Noah seakan tak merasakannya. Tatapannya hanya terpaku pada api tungku yang berkelap-kelip, dipenuhi rasa sakit dan penyesalan yang begitu besar hingga nyaris menghancurkannya.Malam itu, di tengah daerah terpencil, angin dingin menusuk hingga ke tulang.Noah duduk seorang diri di samping api unggun. Cahaya api menerangi matanya yang dipenuhi urat merah serta janggut yang tumbuh berantakan di dagunya.Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dari balik pakaiannya. Tersimpan sisa abu dari kotak besi itu bersama serpihan kantong wewangian yang hangus terbakar di dalamnya.U

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status