Share

Bab 8

Penulis: Asai
Beberapa hari kemudian, luka-luka Sekar mulai membaik. Dia sudah bisa turun dari tempat tidur dan berjalan.

Renata datang ke Paviliun Samping sambil membawa Noah.

“Kak Sekar, aku benar-benar merasa nggak enak karena beberapa hari lalu kamu harus menjalani hukuman itu. Hari ini cuacanya bagus dan bunga kertas di taman sebelah barat kota sedang bermekaran. Aku mau mengajakmu pergi melihat bunga. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku kepada Kakak, gimana?”

Sekar menggeleng dan menolak. Namun, karena tubuhnya masih terlalu lemah, pada akhirnya dia tetap ditarik pergi oleh Renata yang begitu bersemangat.

Taman bunga kertas dipenuhi bunga-bunga yang sedang bermekaran. Harumnya yang samar memenuhi udara. Para pengunjung pun terus berdatangan.

Renata tampak sangat senang. Dia menunjuk sebuah pohon bunga kertas putih dan berkata, “Pangeran, lihat. Bukankah bunganya bermekaran dengan indah?”

Noah melirik ke arah pohon itu dan mengangguk, tetapi tanpa sadar pandangannya beralih kepada Sekar yang terdiam di samping.

Sekar mengenakan mantel yang sudah agak usang dan berdiri di bawah pohon bunga kertas merah sambil mendongak menatap bunga-bunga di atasnya. Wajahnya tampak kurus dan pucat, ekspresinya begitu datar, seolah dia sama sekali tidak menyatu dengan suasana semarak di sekelilingnya.

Renata tiba-tiba mendesis pelan sambil mengusap lengannya.

“Kamu kedinginan?” Noah langsung bertanya dengan cemas.

“Sedikit,” jawab Renata dengan lembut.

Noah segera berkata kepada pengawal di belakangnya, “Pergi ambilkan mantel dari kereta!”

Setelah itu, tatapan Noah tertuju pada pakaian Sekar yang tipis. Dia mengernyit, lalu menambahkan, “Bawa juga mantel bulu yang sudah disiapkan itu.”

Pengawal itu segera kembali membawa dua mantel.

Salah satunya adalah mantel bulu perak yang biasa dikenakan Renata. Sementara yang satu lagi adalah mantel bulu merah menyala yang masih baru. Sekilas saja sudah terlihat bahwa mantel itu sangat mahal.

Noah sendiri yang mengambil mantel bulu merah itu, lalu menyelimutkannya ke tubuh Sekar.

Sekar tertegun sejenak. Dia tidak menolak, tetapi juga tidak mengucapkan terima kasih.

Renata memandangi mantel merah yang jelas lebih mewah dan mencolok itu. Tatapannya sempat meredup, tetapi senyum di wajahnya tidak berubah.

“Bunga kertas di sini memang indah, tapi jenisnya agak biasa,” ujar Renata dengan lembut. “Aku dengar di bagian dalam taman ini ada bunga kertas hijau yang sangat langka. Bunganya berwarna hijau seperti batu giok dan harum menyegarkan. Entah apa hari ini kita cukup beruntung bisa melihatnya?”

Noah berkata, “Cuacanya dingin. Kalian tunggu di sini dulu. Aku akan ke dalam untuk melihat apakah bunga itu benar-benar ada. Kalau ada, akan kupetik beberapa tangkai dan kubawa kembali.”

Setelah berkata demikian, Noah membawa dua orang pengawal menuju bagian dalam taman bunga kertas.

Setelah Noah pergi, senyum lembut di wajah Renata sedikit memudar.

Dia berjalan menghampiri Sekar dan memandang ke arah Noah yang semakin menjauh. “Kak, sepertinya Pangeran sekarang mulai memperlakukanmu dengan berbeda. Bahkan mantel untukmu pun sudah dia siapkan.”

Sekar memandangi bunga-bunga kertas di ranting tanpa berkata apa-apa.

Renata sama sekali tidak memedulikannya dan melanjutkan ucapannya, “Sayang sekali, sekarang mungkin Pangeran merasa sedikit bersalah dan mau menebus kesalahannya kepadamu, tapi pada akhirnya itu tetap bukan cinta. Orang yang paling penting di hatinya akan selalu aku. Buktinya saat di tepi tebing, dia memilihku. Jadi nanti, apa pun yang terjadi, orang yang akan dia pilih tetap aku.”

Nada suaranya lembut, tetapi setiap katanya terasa menusuk hati.

Sekar tetap diam, seolah tidak mendengar apa pun.

Renata paling tidak suka melihat sikap Sekar yang tetap tenang dan tak terusik sedikit pun, seolah semua perkataannya tak mampu menggoyahkan ketenangannya. Saat hendak mengatakan sesuatu lagi, tiba-tiba butiran salju halus mulai berjatuhan dari langit.

“Turun salju!” seru para pengunjung di sekitar.

Tak lama kemudian, Noah kembali membawa beberapa tangkai bunga kertas hijau yang langka. Kelopaknya berwarna hijau muda, tampak begitu cantik dan unik.

“Sudah turun salju. Kita pulang dulu.” Noah memberikan bunga kertas hijau itu kepada Renata, lalu melirik Sekar.

Mereka pun kembali ke Kediaman Pangeran.

Begitu turun dari kereta, Renata terbatuk pelan. Wajahnya tampak sedikit pucat.

Noah segera menopangnya dan bertanya dengan cemas, “Kamu masuk angin? Ayo, kita masuk dulu. Biar tabib istana periksa kamu.”

Renata mengangguk patuh, lalu kembali ke Paviliun Angsana dengan ditopang Damini.

Sekar malas memperhatikan mereka dan langsung kembali ke Paviliun Sampingnya.

Belum lama duduk, Noah ternyata datang lagi.

Dia berdiri di ambang pintu. Setelah ragu sejenak, barulah dia berkata, “Sekar, kamu masih ingat? Sup penghangat tubuh yang dulu pernah kamu buat untukku? Renata sedang masuk angin. Kata tabib istana, dia perlu sup itu untuk menghangatkan tubuhnya.”

Sekar mengangkat pandangan dan menatapnya.

Sup penghangat tubuh? Itu adalah sup obat yang dibuat Sekar pada musim dingin di tahun pertama pernikahannya. Saat itu, Noah jatuh sakit. Sekar membolak-balik berbagai buku pengobatan, pergi sendiri ke tempat peracikan obat, lalu berjaga di sisi tungku selama dua jam penuh hingga akhirnya berhasil membuat semangkuk kecil sup obat.

Dia membawakan sup itu untuk Noah dengan hati penuh sukacita. Namun, hanya karena Renata berkata “dadaku terasa sesak”, Noah bahkan tidak sempat melirik sup itu sebelum buru-buru pergi.

Pada akhirnya, sup itu dibiarkan hingga benar-benar dingin, lalu dibuang.

Sekarang, demi Renata, Noah justru datang kepadanya untuk meminta resepnya.

“Ingat.” Sekar mengangguk dengan tenang. Dia berjalan ke meja, mengambil kertas dan pena, kemudian menuliskan resep sup itu berdasarkan ingatannya sebelum menyerahkannya kepada Noah.

Noah menerimanya dan memandangi tulisan Sekar di atas kertas. Tulisan itu masih tampak indah, meski tidak serapi biasanya.

“Makasih.”

Dia membawa resep itu, lalu berbalik dan pergi.

Sekar memandangi punggung Noah hingga menghilang di balik pintu. Setelah itu, dia perlahan duduk dan menuangkan secangkir teh yang sudah lama dingin untuk dirinya sendiri.

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan saling bersahutan tiba-tiba terdengar dari luar, disusul teriakan panik.

Sesaat kemudian, Noah kembali dengan wajah tegang dan mata memerah. Amarah di wajahnya begitu jelas. Dia mendorong pintu hingga terbuka dan langsung menghampiri Sekar.

“Sekar!” Noah membentak sambil mencengkeram pergelangan tangannya. Genggamannya begitu kuat hingga hampir meremukkan tulang Sekar.

“Apa yang kamu masukkan ke dalam resep itu?! Renata minum sup yang dibuat dari resepmu, lalu tiba-tiba muntah darah tanpa henti. Tabib istana bilang dia keracunan parah. Jawab aku! Di mana penawarnya?!”

Pergelangan tangan Sekar terasa sangat sakit akibat cengkeramannya hingga dia mengernyit. “Aku nggak meracuninya.”

“Nggak meracuninya?” Mata Noah memerah. “Sejak awal, Renata cuma minum sup itu. Siapa lagi yang tega melakukan ini padanya selain kamu?!”

“Aku nggak melakukannya.” Sekar tetap hanya mengucapkan tiga kata itu.

“Pangeran! Nona terus memuntahkan darah. Tabib istana bilang kalau penawarnya tidak segera ditemukan, dia ... dia mungkin tidak akan bertahan.”

Damini berlari masuk sambil menangis, lalu berlutut di lantai. “Pangeran! Kumohon, cepat selamatkan Nona!”

Noah menatap wajah Sekar yang tetap tenang. Amarah dan ketakutan bercampur di dalam dirinya, seolah-olah nyaris melahapnya.

Dia tiba-tiba melepaskan tangan Sekar, lalu membentak para pengawal di luar pintu, “Bawakan cambuk! Cambuk dia sampai dia mau mengatakan di mana penawarnya!”

Dua orang pengawal segera masuk sambil membawa cambuk kulit sapi yang sudah direndam dalam air garam.

Plak!

Cambukan pertama menghantam punggung Sekar dengan keras.

Pakaian tipisnya langsung robek, memperlihatkan luka menganga di punggungnya.

Rasa sakit yang hebat membuat Sekar mengerang tertahan. Tubuhnya sempat terhuyung, tetapi dia tetap berdiri.

“Mau bicara atau tidak?!”

Plak!

Cambukan kedua menghantam kakinya.

Sekar langsung jatuh berlutut.

“Di mana penawarnya?!”

Plak! Plak! Plak!

Cambukan demi cambukan terus menghantam tubuhnya yang sudah dipenuhi luka.

Darah dengan cepat membasahi pakaiannya dan mengalir hingga membentuk genangan merah yang mencolok di lantai.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 21

    Noah mendadak berusaha bangkit untuk duduk, tetapi gerakannya menarik tulang yang patah. Rasa sakit yang hebat membuatnya mengerang tertahan sebelum tubuhnya kembali terhempas ke atas ranjang. Keringat dingin pun seketika membasahi dahinya.“Pangeran! Luka Anda parah, Anda tak boleh bergerak!” Pengawal rahasia itu buru-buru maju hendak menahannya.“Pergi!” Mata Noah memerah. Entah dari mana datangnya kekuatan, dia bahkan berhasil menepis pengawal rahasia itu dengan sekali kibasan tangan. Noah berusaha menyeret tubuhnya dari ranjang sambil menarik kaki yang patah. Namun, tubuhnya justru terjatuh dan terguling ke lantai dalam keadaan mengenaskan. Lukanya kembali terbuka, darah pun dengan cepat merembes membasahi perban.Noah berusaha menopang tubuhnya dengan kedua siku, lalu merangkak perlahan menuju pintu. Rasa sakit seolah sudah tidak lagi dipedulikannya.Noah harus pergi mencarinya. Dia harus menemukan Sekar! Sekar tidak boleh pergi. Dia tidak boleh meninggalkannya begitu saja!Pengaw

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 20

    “Noah!”Sekar terhuyung akibat dorongan kuat itu, lalu jatuh di atas batu yang aman. Lutut dan sikunya lecet, terasa perih menyengat.Di bawah tebing, kabut tebal menyelimuti jurang hingga dasarnya tak terlihat.Sekar sempat mengira Noah sudah hancur berkeping-keping di dasar jurang. Namun, tak lama kemudian, terdengar bunyi dahan patah dari bawah sana, disusul erangan tertahan.Dia menajamkan pandangan. Noah ternyata tidak langsung jatuh ke dasar jurang. Tubuhnya tersangkut pada sebatang pohon kering yang menjulur dari sisi tebing.Namun, pohon itu jelas tidak sanggup menahan benturan dan berat tubuh Noah. Batangnya berderak seperti tak sanggup membawa beban, sementara akarnya mulai terlepas dari tebing. Tubuh Noah tergantung di udara. Punggung dan lengannya terluka akibat terbentur bebatuan tajam, darah mengalir dari luka-luka itu.Dia masih hidup. Namun, keadaannya sangat genting. Sewaktu-waktu, dia bisa jatuh ke dasar jurang.Satria juga bergegas ke tepi tebing. Melihat keadaan itu

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 19

    Satria tetap tenang, sikapnya tidak rendah hati maupun sombong.“Nama saya Satria, hanya seorang tabib pengembara. Yang saya tahu, Nona Sekar yang sedang memulihkan diri di sini adalah seorang wanita yang lajang. Jika Anda masih terus mengganggunya dan mengusik ketenangan pasien, jangan salahkan saya jika saya bersikap kasar.”Ujung jarinya berkilat dingin, beberapa jarum perak masih terselip di antara jemarinya.“Kak Satria.”Sekar tiba-tiba mengulurkan tangan dan menarik lembut ujung lengan baju Satria.Itu adalah sebuah sikap yang menunjukkan kepercayaan dan ketergantungan sepenuhnya.Bahkan dia tidak lagi menoleh kepada Noah, seolah pria itu hanyalah polusi yang tidak perlu diperhatikan.“Kita masuk saja.” Suaranya lembut, tetapi terdengar jelas di telinga Noah, “Tak perlu memedulikan orang yang nggak penting.”Orang yang tidak penting.Empat kata sederhana itu terasa ringan, tetapi bagi Noah, kata-kata tersebut seperti belati beracun yang menghujam tepat ke jantungnya, lalu diputa

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 18

    “Tidak! Aku tidak pernah menyetujuinya! Itu tidak sah!” Noah buru-buru memotong ucapannya. Suaranya meninggi karena emosi dengan kepanikan yang tak lagi mampu disembunyikannya. “Sekar, aku tahu aku salah! Sekarang aku sudah tahu semuanya! Aku tahu semua yang dilakukan Renata, kejadian di penjara bawah tanah, apa yang terjadi di tebing itu .... Aku bodoh! Aku buta! Aku yang telah berbuat salah kepadamu! Maafkan aku, ya? Kita mulai lagi dari awal. Mulai sekarang aku hanya akan memperlakukanmu dengan baik, hanya mempercayaimu, hanya mencintaimu seorang ....”Ucapannya begitu kacau dan tidak beraturan. Dia menumpahkan seluruh penyesalan, penderitaan, dan kerinduan yang telah menghantuinya selama berhari-hari tanpa sedikit pun menyembunyikannya. Seolah berusaha meraih harapan terakhir yang masih bisa menyelamatkannya.Sekar sedikit mengernyit.Namun bukan karena hatinya tergerak.Melainkan karena merasa terganggu.Ketika melihat tangan pria itu terulur dan hendak meraih lengannya, tubuh Sek

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 17

    Usianya kira-kira 25 atau 26 tahun. Tubuhnya tegap, tetapi pembawaannya lembut dengan raut wajahnya yang tampak bersih dan teduh, seperti mata air jernih di pegunungan dan angin sejuk di tengah hutan.Di tangannya terdapat sebuah mangkuk keramik kasar yang dari dalamnya mengepul uap hangat.Dia adalah Satria Gunendra.Dia berjalan ke sisi kursi rotan, lalu langsung berjongkok di sana secara alami. Dia meletakkan mangkuk obat di atas meja kecil di sampingnya. Gerakannya sangat lembut untuk menopang kaki Sekar yang terluka dan perlahan membuka kain bersih yang membalutnya.Jantung Noah seketika mencelos, napasnya mendadak memburu.Telapak kaki itu masih memperlihatkan daging baru berwarna merah muda yang tampak mengerikan, serta bekas luka berwarna gelap. Namun, jelas sekali kondisinya sudah jauh lebih baik karena dirawat dengan cermat. Itu sama sekali tidak seperti gambaran yang diceritakan para pelancong di kedai teh sebagai kaki yang “membusuk hingga tidak ada bagian yang masih utuh”.

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 16

    Plak!Suara tamparan yang nyaring tiba-tiba terdengar di kedai teh.Beberapa pelancong yang sedang mengobrol terkejut dan menoleh. Pria yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka, meski tampak letih dan lusuh tetap tak mampu menyembunyikan wibawa bangsawannya, ternyata baru saja menampar dirinya sendiri dengan keras. Begitu kuat tamparan itu hingga darah langsung merembes dari sudut bibirnya.Namun, Noah seakan tak merasakannya. Tatapannya hanya terpaku pada api tungku yang berkelap-kelip, dipenuhi rasa sakit dan penyesalan yang begitu besar hingga nyaris menghancurkannya.Malam itu, di tengah daerah terpencil, angin dingin menusuk hingga ke tulang.Noah duduk seorang diri di samping api unggun. Cahaya api menerangi matanya yang dipenuhi urat merah serta janggut yang tumbuh berantakan di dagunya.Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dari balik pakaiannya. Tersimpan sisa abu dari kotak besi itu bersama serpihan kantong wewangian yang hangus terbakar di dalamnya.U

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status