LOGIN
"Kayla, ambilin handuk!" Suara teriakan Axel terdengar dari kamar mandi, membuat tanganku yang sedang mengoles kream tabir surya ke wajah mendadak terhenti.
Aku menoleh ke arah kamar mandi dengan dahi berkerut. "Ambil aja sendiri! Lo kan punya kaki!"
"Lo mau gue becekin kamar lagi? Nanti lo jangan marah ya!"
"Sialan, lo!" rutukku dengan wajah masam.
Aku meletakkan botol kream ke meja rias dengan gerakan kasar, lalu meraih handuk di kasur untuk mengantarkannya ke kamar mandi.
Dari pintu kamar, aku melihat ruang shower yang tertutup kaca itu penuh dengan uap air hangat yang menutupi sebagian dindingnya, membuat pandanganku ke bagian dalam tampak buram.
Dengan dada yang masih diliputi amarah, aku langsung membuka pintu kaca sambil mengomel.
"Makanya kalau mandi siapin dulu semuanya. Jangan lang—" Kalimatku seketika terhenti setelah mataku menangkap tubuh bugil suamiku yang terekspos begitu jelas tanpa sehelai benang pun.
Mataku sempat membulat dan tertahan di daerah vitalnya selama beberapa detik sebelum akhirnya membuang muka demi membersihkan mataku dari noda dan dosa.
Brengsek! Kenapa aku harus melihat benda itu pagi-pagi begini?
Aku menggigit bibir bawah sambil memejamkan mata, lalu mengulurkan handuk padanya dengan gerakan ragu. "Cepetan ambil!"
Namun, Axel seperti sengaja ingin mengerjaiku. Aku mendengar suara kekehan kecil lolos dari bibirnya disusul suara percikan air bekas langkah kakinya yang mendekat.
"Ngapain lo tutup mata? Bukannya lo udah sering liat gue bugil?"
Benar. Selama hampir satu tahun menjalin pernikahan rahasia dengan sepupuku itu, kami sudah biasa saling melihat tubuh polos kami. Meski begitu, kami sama sekali tidak tertarik untuk melakukan hubungan badan.
Ya mana mungkin kami bernafsu untuk melakukan hubungan itu? Axel adalah kakak sepupuku dari pihak Ibu. Kami yang hanya terpaut usia lima tahun sudah terbiasa bermain bersama sejak kecil. Tapi gara-gara wasiat sialan dari Papaku, kami akhirnya terpaksa menikah.
"Gue geli lihat pentungan lo. Cepet nih, ambil handuknya!" teriakku dengan mata yang masih terpejam erat.
Namun, bukannya mengambil handuk, Axel justru menarik tanganku. Ia memutar tubuhku dengan cepat dan mendekapku erat dari belakang.
Aku bisa merasakan tubuhnya yang masih basah, menembus kain piyamaku yang tipis. Aku bahkan bisa mencium wangi bergamot dari sabun favorit Axel yang maskulin.
Untuk beberapa saat, tubuhku membeku dalam dekapannya. Aku hampir saja lupa, bahwa pria di belakangku ini adalah kakak sepupuku yang menikah denganku karena terpaksa. Sampai akhirnya setetes air jatuh dari ujung rambutnya, tepat mengenai bulatan dadaku yang masih bebas dari balutan BH.
Aku terperanjat dan langsung memberontak sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari kungkungannya. "Axel! Apaan sih, lo?! Lepasin gak?!"
Namun, postur badannya yang jauh lebih tinggi dariku, serta tubuhnya yang tegap membuatku kesulitan untuk melawan. Ia justru semakin mengeratkan dekapannya, hingga membuatku kesulitan untuk bergerak.
"Lo nggak biasanya grogi gini. Jangan-jangan... lo mulai naksir gue, ya?" godanya di ceruk leherku.
Aku berusaha menyikut perutnya sebisa mungkin. "Gak usah kepedean deh, lo!" Lalu menjauhkan wajah untuk menghindari wajah Axel yang semakin mendekat. "Ngapain juga gue naksir sama cowok ingusan kayak lo."
Nada suaraku terdengar ragu di telingaku sendiri. Meski aku yakin tidak mungkin menyukainya, entah kenapa dadaku justru berdesir saat mengucapkan kalimat itu.
"Serius, lo?" godanya lagi tepat di lubang telingaku.
Dalam sekejap, bulu kudukku meremang setelah suaranya yang serak menggelitik lubang telingaku. Ditambah lagi, tonjolan dari kejantannya yang begitu dekat terus menggesek bokongku yang masih belum mengenakan pakaian dalam."Axel, gue nggak bercanda ya. Cepat lepasin gue!"
Bukannya menurut, dia justru mendorong tubuhku hingga menempel ke dinding kaca, mengunci pergerakanku di sana.
"Ah! Axel!" Pekikku begitu tubuhku menempel di dinding kaca. "Sialan lo ya! Lepasin gue bilang!"
"Kenapa gue harus nurut? Lo kan istri gue. Jadi... gue boleh dong nikmatin tubuh lo."
Deg! Jantungku seketika mencelos. Entah kalimat itu hanya godaan atau bahasa spontan yang lolos begitu saja dari mulut pria normal sepertinya.
Namun yang pasti, kalimat itu sukses membuat detak jantungku semakin tak terkendali.
'Sial! Aku tidak mungkin punya keinginan untuk bercinta dengannya, kan?' rutukku dalam hati.
Tidak. Jangan sampai itu terjadi. Aku yakin respon tubuhku ini terjadi karena usiaku yang saat ini sudah lebih dari sembilan belas tahun. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh dorongan hormon di tubuhku yang sedang bergejolak.
"Lo jangan bercanda, Axel. Kita sudah sepakat gak akan ngelakuin itu. Lagipula lo sepupu gue! Lo tega?!"
"Tapi gue cowok normal, Kayla..." sangkalnya dengan tegas diiringi seringai nakal.
Aku sangat mengerti di usia Axel yang sudah dua puluh empat tahun, ia pasti memiliki keinginan yang besar untuk melakukan seks. Di tambah lagi dia adalah pemain basket yang mempunyai stamina tinggi.
Tapi tetap saja, aku adalah sepupunya. Rasanya masih sulit dipercaya jika aku harus berhubungan badan dengan pria yang sudah sering bermain denganku sejak kecil.
Lagipula, di kampus Axel terkenal sebagai cowok playboy yang punya banyak cewek. Aku yakin dia pasti sudah sering berhubungan badan dengan cewek-cewek itu. Jadi... tidak ada alasan dia harus menyentuhku juga.
"Gue nggak mau!" tolakku, lalu berbalik badan menghadapnya saat mendapat celah. "Lo kan punya banyak cewek. Main aja sama mereka. Jangan gue!"
Dengan gerakan cepat, aku menyundul alat vitalnya yang bergelantungan bebas menggunakan lutut.
"Aww!" Axel memekik sambil mencengkeram keperkasaannya itu dengan kedua tangan.
Bersama dengan itu, aku langsung mendorongnya dan berusaha untuk melarikan diri.
"Kayla!"
"Sorry... gue terpaksa!" Aku berlari sekencang mungkin hingga keluar kamar.
Namun sialnya, Axel berhasil menangkapku tepat di ruang dapur dengan tubuh yang masih telanjang, lalu mendekap tubuhku dari belakang. "Lo pikir bisa lari dari gue?"
"Lepasin gue Axel! Lo nggak benar-benar ingin bercinta sama gue, kan?!"
"Gue mau..." sahutnya, sukses membuatku sangat shock.
Aku mendengus kasar, berbalik, dan berniat segera pergi dari tempat itu. Namun, sang manajer bergegas mengejar dan menghadang langkahku."Mbak Kayla, tunggu!" Ia berdiri tepat di hadapanku dengan napas tersengal-sengal. "Apakah... Apakah Mbak mencurigai seseorang di balik aksi Gio?"Aku terdiam sesaat, mengatur napas seraya merangkai cara penyampaian yang paling tepat. "Ya," sahutku singkat nan tajam."Siapa?"Aku meremas sisi celanaku, memberanikan diri untuk mengutarakannya secara terbuka. "Coba selidiki Miko.""Miko? Asisten dosen di Kampus Mayapada itu?" tanyanya dengan kening berkerut dalam.Aku mengangguk mantap. "Cari tahu apa hubungan dia dengan Gio. Hanya itu yang bisa saya sampaikan. Permisi..."Aku langsung menerobos melewatinya begitu saja, melangkah kembali menuju kamar perawatan Axel dengan amarah yang masih mengendap di dada. Namun, begitu melangkah masuk ke ruangan, Pakde Arga sudah terduduk di sisi brankar Axel."Kayla? Dari mana saja kamu, Nak?" tanyanya deng
Aku terperanjat dan langsung bangkit berdiri dari bangku taman. "Eh, Bu... Sudah selesai pembicaraannya?"Sang manajer tim basket Mayapada mengulas senyum ramah. "Sudah. Boleh saya duduk menemani kamu sebentar? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan."Aku mengangguk canggung seraya mengarahkan telapak tanganku ke area kosong di sampingku. "Oh, iya, tentu... Silakan duduk, Bu."Tepat saat sang manajer mendudukkan dirinya di bangku kayu itu, aku bergegas mematikan panggilan telepon dengan Hani secara sepihak, lalu kembali duduk di sampingnya."Mengenai insiden kecelakaan yang menimpa Axel..." ucapnya memulai pembicaraan dengan intonasi penuh simpati.Aku bungkam, menantikan arah pembicaraannya dengan dada berdebar."Kami dari segenap jajaran manajemen tim memohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami berjanji akan menjamin seluruh biaya pengobatan dan perawatan Axel hingga dia benar-benar pulih kembali."Ternyata hanya kompensasi itu yang ingin dia sampaikan? Aku yang mulai kehilan
Begitu aku menerobos masuk dengan napas memburu, seorang wanita berpenampilan berkelas dengan usia kisaran tiga puluh tahunan terperanjat kaget, menatap heran ke arah pintu.Si-siapa wanita ini? batinku panik. Aku mendadak menggaruk tengkukku yang sama sekali tidak gatal, diliputi rasa malu luar biasa karena sudah mendobrak pintu dengan cara yang sangat kasar.Sebelumnya, aku menduga wanita yang datang menjenguk adalah Inez atau Lintang. Tapi... kenapa yang berada di dalam justru sosok asing berparas anggun ini?"Kayla? Ada apa?" tanya Axel dengan kening berkerut heran menatap tingkahku.Aku bungkam membatu, mati-matian menahan canggung dan malu atas aksi konyolku sendiri. Tak lama kemudian, Beni mengekor masuk dan berdiri kaku di sampingku."Beliau... adalah manajer tim basket Mayapada, Mbak..." bisik Beni dengan raut wajah penuh penyesalan.Aku spontan menyikut bahunya gemas. "Kenapa nggak bilang dari tadi?!" bisikku dengan gigi bergemeletuk menahan geram."Ya... Mbak Kayla k
Pakde Arga merapikan selimut Axel seraya mengulas senyum lebar yang menenangkan. "Axel... jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Kamu percaya saja pada instruksi dokter, ya...""Tapi, Pa...""Axel... benar kata Pakde," potongku cepat demi menyapu bersih kegelisahan di benaknya. Aku mengikis jarak, menggenggam erat jemarinya yang dingin untuk menyuntikkan kekuatan. "Lo nggak usah mikirin hal yang aneh-aneh dulu. Pokoknya... ke mana pun lo harus pergi berobat, gue akan selalu setia ada di samping lo."Axel akhirnya mengulas senyum tipis, perlahan guratan cemas di wajahnya mulai meluntur."Kayla... Pakde mau bicara sebentar di kantin. Sekalian kamu makan malam dulu, ya," ajak Pakde Arga.Aku menoleh menatap Axel sejenak, terasa begitu berat untuk melangkah meninggalkannya walau hanya sebentar."Gue nggak apa-apa. Lo istirahat dan makan dulu aja," rewel Axel lirih menenteramkan hatiku."Beni sebentar lagi juga sampai di sini. Jadi... kamu tidak perlu cemas meninggalkan Axel se
"Bisa Bapak ikut saya ke kantor sebentar?" pinta sang dokter dengan raut wajah datar yang sulit diartikan.Sebelum Pakde Arga sempat memberikan jawaban, brankar yang membawa tubuh Axel didorong keluar oleh tim perawat dari ruang operasi."Kayla... kamu jaga Axel dulu, ya. Biar Pakde yang bicara langsung dengan dokter," pintanya lembut."Iya, Pakde..."Aku, Hani, dan Kak Rayan berlari kecil mengekor di belakang para perawat yang mendorong brankar Axel menuju ruang perawatan VIP.Setelah petugas medis menyelesaikan tugasnya dan meninggalkan ruangan, aku langsung menarik kursi, duduk di samping tempat tidur Axel, lalu menggenggam erat telapak tangannya."Axel... lo kuat, kan? Cepatlah sadar..." bisikku seraya menempelkan punggung tangannya ke pipiku, sesekali mendaratkan kecupan hangat di sana.Raut wajahnya tampak begitu pucat membiru. Aku merogoh tisu dari atas nakas, menyapu pelan bulir keringat dingin yang mengembun di keningnya."Kay... lo yang sabar, ya. Axel sosok yang tan
"Maaf, saya harus segera masuk ke ruang operasi," pamit sang dokter sebelum bergegas meninggalkan kami.Aku, Pakde Arga, dan Hani berlari kecil mengekor di belakang langkah cepat tim medis menuju koridor ruang operasi. Di atas pintu ganda ruangan itu, lampu penanda menyala merah terang—menandakan tindakan bedah sedang berlangsung. Pakde Arga dan Hani akhirnya duduk di bangku tunggu, mencoba bersikap tenang meski raut panik tak sanggup mereka sembunyikan.Sementara itu, aku tidak sanggup untuk sekadar duduk. Aku terus berjalan mondar-mandir di depan pintu seraya menggaruk tepian kukuku gelisah. Sesekali mataku menatap nanar ke arah lampu merah itu, berharap pintu segera terbuka dan dokter keluar membawa kabar baik."Kayla... duduklah dulu. Operasinya pasti memakan waktu lama," pinta Pakde Arga lembut.Aku hanya menggeleng pelan seraya tetap memutar langkah dengan napas sesak. Bagaimana mungkin aku bisa duduk tenang sementara di dalam sana suamiku sedang berjuang mempertaruhkan mas







