Home / Romansa / Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan / BAB 1 TUBUH POLOS SUAMIKU

Share

Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan
Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan
Author: Libra Syafarika

BAB 1 TUBUH POLOS SUAMIKU

last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-28 21:32:55

"Kayla, ambilin handuk!" Suara teriakan Axel terdengar dari kamar mandi, membuat tanganku yang sedang mengoles kream tabir surya ke wajah mendadak terhenti.

​Aku menoleh ke arah kamar mandi dengan dahi berkerut. "Ambil aja sendiri! Lo kan punya kaki!"

​"Lo mau gue becekin kamar lagi? Nanti lo jangan marah ya!"

​"Sialan, lo!" rutukku dengan wajah masam. 

Aku meletakkan botol kream ke meja rias dengan gerakan kasar, lalu meraih handuk di kasur untuk mengantarkannya ke kamar mandi.

Dari pintu kamar, aku melihat ruang shower yang tertutup kaca itu penuh dengan uap air hangat yang menutupi sebagian dindingnya, membuat pandanganku ke bagian dalam tampak buram.

Dengan dada yang masih diliputi amarah, aku langsung membuka pintu kaca sambil mengomel. 

​"Makanya kalau mandi siapin dulu semuanya. Jangan lang—" Kalimatku seketika terhenti setelah mataku menangkap tubuh bugil suamiku yang terekspos begitu jelas tanpa sehelai benang pun. 

Mataku sempat membulat dan tertahan di daerah vitalnya selama beberapa detik sebelum akhirnya membuang muka demi membersihkan mataku dari noda dan dosa. 

Brengsek! Kenapa aku harus melihat benda itu pagi-pagi begini?

Aku menggigit bibir bawah sambil memejamkan mata, lalu mengulurkan handuk padanya dengan gerakan ragu. ​"Cepetan ambil!"

Namun, Axel seperti sengaja ingin mengerjaiku. Aku mendengar suara kekehan kecil lolos dari bibirnya disusul suara percikan air bekas langkah kakinya yang mendekat.

​"Ngapain lo tutup mata? Bukannya lo udah sering liat gue bugil?"

​Benar. Selama hampir satu tahun menjalin pernikahan rahasia dengan sepupuku itu, kami sudah biasa saling melihat tubuh polos kami. Meski begitu, kami sama sekali tidak tertarik untuk melakukan hubungan badan. 

Ya mana mungkin kami bernafsu untuk melakukan hubungan itu? Axel adalah kakak sepupuku dari pihak Ibu. Kami yang hanya terpaut usia lima tahun sudah terbiasa bermain bersama sejak kecil. Tapi gara-gara wasiat sialan dari Papaku, kami akhirnya terpaksa menikah.

​"Gue geli lihat pentungan lo. Cepet nih, ambil handuknya!" teriakku dengan mata yang masih terpejam erat.

​Namun, bukannya mengambil handuk, Axel justru menarik tanganku. Ia memutar tubuhku dengan cepat dan mendekapku erat dari belakang.

Aku bisa merasakan tubuhnya yang masih basah, menembus kain piyamaku yang tipis. Aku bahkan bisa mencium wangi bergamot dari sabun favorit Axel yang maskulin.

Untuk beberapa saat, tubuhku membeku dalam dekapannya. Aku hampir saja lupa, bahwa pria di belakangku ini adalah kakak sepupuku yang menikah denganku karena terpaksa. Sampai akhirnya setetes air jatuh dari ujung rambutnya, tepat mengenai bulatan dadaku yang masih bebas dari balutan BH. 

Aku terperanjat dan langsung memberontak sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari kungkungannya. ​"Axel! Apaan sih, lo?! Lepasin gak?!" 

​Namun, postur badannya yang jauh lebih tinggi dariku, serta tubuhnya yang tegap membuatku kesulitan untuk melawan. Ia justru semakin mengeratkan dekapannya, hingga membuatku kesulitan untuk bergerak.

​"Lo nggak biasanya grogi gini. Jangan-jangan... lo mulai naksir gue, ya?" godanya di ceruk leherku.

Aku berusaha menyikut​ perutnya sebisa mungkin. "Gak usah kepedean deh, lo!" Lalu menjauhkan wajah untuk menghindari wajah Axel yang semakin mendekat. "Ngapain juga gue naksir sama cowok ingusan kayak lo." 

Nada suaraku terdengar ragu di telingaku sendiri. Meski aku yakin tidak mungkin menyukainya, entah kenapa dadaku justru berdesir saat mengucapkan kalimat itu.

​"Serius, lo?" godanya lagi tepat di lubang telingaku.

Dalam sekejap, bulu kudukku meremang setelah suaranya yang serak menggelitik lubang telingaku. Ditambah lagi, tonjolan dari kejantannya yang begitu dekat terus menggesek bokongku yang masih belum mengenakan pakaian dalam.

​"Axel, gue nggak bercanda ya. Cepat lepasin gue!"

​Bukannya menurut, dia justru mendorong tubuhku hingga menempel ke dinding kaca, mengunci pergerakanku di sana.

"Ah! Axel!" Pekikku begitu tubuhku menempel di dinding kaca. "Sialan lo ya! Lepasin gue bilang!"

​"Kenapa gue harus nurut? Lo kan istri gue. Jadi... gue boleh dong nikmatin tubuh lo."

Deg! Jantungku seketika mencelos. Entah kalimat itu hanya godaan atau bahasa spontan yang lolos begitu saja dari mulut pria normal sepertinya.

Namun yang pasti, kalimat itu sukses membuat detak jantungku semakin tak terkendali. 

'Sial! Aku tidak mungkin punya keinginan untuk bercinta dengannya, kan?' rutukku dalam hati.

Tidak. Jangan sampai itu terjadi. Aku yakin respon tubuhku ini terjadi karena usiaku yang saat ini sudah lebih dari sembilan belas tahun. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh dorongan hormon di tubuhku yang sedang bergejolak.

​"Lo jangan bercanda, Axel. Kita sudah sepakat gak akan ngelakuin itu. Lagipula lo sepupu gue! Lo tega?!"

​"Tapi gue cowok normal, Kayla..." sangkalnya dengan tegas diiringi seringai nakal.

Aku sangat mengerti di usia Axel yang sudah dua puluh empat tahun, ia pasti memiliki keinginan yang besar untuk melakukan seks. Di tambah lagi dia adalah pemain basket yang mempunyai stamina tinggi. 

Tapi tetap saja, aku adalah sepupunya. Rasanya masih sulit dipercaya jika aku harus berhubungan badan dengan pria yang sudah sering bermain denganku sejak kecil.

​Lagipula, di kampus Axel terkenal sebagai cowok playboy yang punya banyak cewek. Aku yakin dia pasti sudah sering berhubungan badan dengan cewek-cewek itu. Jadi... tidak ada alasan dia harus menyentuhku juga.

"Gue nggak mau!" tolakku, lalu berbalik badan menghadapnya saat mendapat celah. "Lo kan punya banyak cewek. Main aja sama mereka. Jangan gue!"

Dengan gerakan cepat, aku menyundul alat vitalnya yang bergelantungan bebas  menggunakan lutut.

"Aww!" Axel memekik sambil mencengkeram keperkasaannya itu dengan kedua tangan.

Bersama dengan itu, aku langsung mendorongnya dan berusaha untuk melarikan diri.

"Kayla!"

"Sorry... gue terpaksa!" Aku berlari sekencang mungkin hingga keluar kamar.

Namun sialnya, Axel berhasil menangkapku tepat di ruang dapur dengan tubuh yang masih telanjang, lalu mendekap tubuhku dari belakang. "Lo pikir bisa lari dari gue?"

"Lepasin gue Axel! Lo nggak benar-benar ingin bercinta sama gue, kan?!"

"Gue mau..." sahutnya, sukses membuatku sangat shock.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Safira Damayanti
Baguss dan aku suka
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 168 PELARIAN KONYOL

    Aku dan Axel sama-sama terperanjat dengan mata membelalak lebar. "PERGI KALIAN SEMUA DARI SINI!!!" teriak Pak De Arga dengan wajah merah padam bagai bara api dan kedua tangan yang mengepal hebat. Aku dan Axel saling berpandangan sejenak, sebelum akhirnya pria itu menggenggam jemariku erat-erat lalu menarikku berlari sekencang mungkin dari tempat itu. Di sepanjang lorong menuju tangga darurat, para karyawan yang melintas sibuk menatap kami yang berlarian dengan mata membulat. Bisik-bisik heboh mereka terdengar riuh dan jelas di telinga. "Eh, ada apa tuh? Kenapa mereka berlarian begitu?" "Wah... manis sekali melihat mereka." "Lucu banget, mirip adegan di film romantis remaja!" Aku dan Axel sempat saling melempar tatapan, lalu menyunggingkan senyum geli bersamaan sambil terus memacu langkah menuju tangga darurat. "Xel... karyawan Lo ngeliatin kita..." ucapku sambil terus berlari dengan napas tersengal-sengal. "Nggak usah pedulikan mereka..." Kami menaiki anak tangga satu per sat

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 167 TIKUS GOT GILA

    "Siap, Pa!" sahut Axel dengan nada penuh semangat yang melonjak-lonjak.Ia menoleh padaku, menyunggingkan seringai licik yang teramat menyebalkan. Sementara aku hanya bisa membeku di tempat, menatapnya dengan kening berkerut dalam dan tatapan horor.Perasaanku mendadak tidak enak. Sepenuhnya diserahkan ke dalam genggaman kekuasaan Axel bukanlah sebuah keputusan yang bijak. Aku tahu betul seberapa jahil dan liciknya otak pria ini. Jangan-jangan... dia benar-benar berencana memanfaatkanku untuk melayani nafsunya setiap saat?!Ah, sialan! Aku benar-benar terjebak dalam perangkap sekarang! Tidak ada hal apa pun yang bisa kulakukan untuk meluluhkan keputusan tegas Pak De Arga, selain menuruti segala kemauan si tikus got ini."Sekarang... bawa Kayla keluar dari ruangan Papa!" perintah Pak De Arga seraya mengayunkan tangannya lelah ke arah pintu keluar. Ia kemudian memijat pelipisnya seraya menundukkan kepala dalam-dalam. "Kepala Papa rasanya m

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 166 ANAK KERAS KEPALA

    "Lantas... kenapa kamu bisa berakhir di kantor ini sebagai cleaning service, Kayla?" tanya Pak De Arga dengan nada suara dingin yang menusuk kalbu.Aku menundukkan kepala dalam-dalam. Rasanya teramat berat dan memalu untuk membeberkan kenyataan yang sebenarnya. Jemariku saling meremas gelisah di atas pangkuan.Namun, celotehan Axel yang terlewat percaya diri tiba-tiba kembali mengusik telingaku. "Udah... jujur aja. Nggak apa-apa kalau lo kerja di kantor ini demi gue. Papa nggak bakal marah, kok."Aku spontan menoleh padanya dengan dada kembang kempis menahan sesak dan kesal. "Gue kerja di sini memang bukan karena lo! Gue terpaksa, Axel!" bentakku lirih, sebelum akhirnya kembali menundukkan wajah penuh penyesalan. "Itu sebabnya gue menyamar jadi Surti... supaya kalian semua nggak tahu siapa gue yang sebenarnya.""Jadi kamu sungguh-sungguh memilih pekerjaan sebagai cleaning service? Bukan karyawan kafe seperti yang kamu katakan pada Pak De kemarin?!

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 165 SENGAJA MENYEBAR GOSIP

    Aku membeku sesaat, menatap wajah Axel yang mendadak berubah teramat serius. Tidak ada keraguan sedikit pun di balik sorot matanya.Mungkinkah... dia benar-benar yakin dengan hubungan kami? Ah... entahlah. Aku memang mencintainya. Tetapi, jauh di dalam relung jiwaku, terasa begitu sulit untuk percaya bahwa pria sesempurna Axel bisa memiliki perasaan yang sedemikian gilanya padaku."M-maaf, Pak... Saya mau membersihkan ruangannya sekarang," ucap sang petugas cleaning service senior dengan tatapan canggung dan salah tingkah."Hm, bersihkan saja. Kami akan segera keluar," sahut Axel dengan suara tegas berwibawa. Tanpa ragu sedikit pun, ia langsung meraih dan mengunci jemari tanganku erat-erat di hadapan wanita itu. "Apa pun yang kamu lihat di ruangan ini hari ini... boleh kamu sampaikan ke karyawan yang lain."Wanita itu spontan mendongak kaget dengan mata membelalak lebar, sebelum akhirnya kembali menunduk dalam-dalam karena sungkan.

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 164 TAK TAHAN

    "Kamu itu sudah dewasa, Axel! Bisa-bisanya kamu memperlakukan Kayla seperti ini di kantor?!" bentak Pak De Arga seraya menunjuk wajah putranya dengan gulungan berkas di tangan.Namun, bukannya merasa bersalah atau menggeletar ketakutan, Axel justru menoleh padaku sambil menyunggingkan seringai tipis. "Aku cuma kasih sedikit hukuman buat Kayla, Pa. Lagian... siapa suruh dia membohongi kita berdua selama satu bulan penuh?"Pak De Arga kembali memukul lengan kekar Axel dengan gulungan kertas itu. Puk! "Tetap saja kamu tidak boleh melakukan hal tak senonoh seperti itu di area kantor!""Aku... cuma sudah nggak tahan karena harus puasa sebulan," sahutnya santai dengan cengiran nakal yang memprovokasi.Rahang Pak De Arga terlihat mengeras. Ia menatap Axel dengan alis menyatu tajam, lalu melirikku seraya menggeleng-gelengkan kepala diiringi helaan napas berat."Cih! Papa heran sekali sama kalian berdua. Sebentar bertengkar bagai kucing dan anjing

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 163 DASAR ANAK NAKAL!

    "Axel... kamu di dalam?!" suara teriakan Pak De Arga kembali menggelegar dari balik pintu tebal.Ceklek! Ceklek!"Xel... bokap lo..." bisikku panik setengah mati sambil menepuk-nepuk pundaknya yang masih basah oleh peluh.Dengan cekatan, Axel menurunkanku dari gendongannya. Ia meraih kain panjang yang terlipat rapi di atas sofa—selimut tebal yang biasa ia gunakan untuk tidur siang di kantor.Ia membungkus tubuh polosku rapat-rapat dari dada hingga kaki dengan selimut itu. Setelah memastikan aku aman, Axel berlari kilat ke kamar mandi dalam ruangan dan keluar beberapa detik kemudian hanya dengan selembar handuk yang melilit pinggangnya.Brak!Suara pintu dijebol paksa mendadak membelah keheningan ruangan."Axel?!" teriak Pak De Arga dengan mata membelalak sempurna. Mata tuanya bergantian menatapku dan Axel yang tampak acak-acakan luar biasa. "Kalian..."Aku dan Axel seketika membeku bagaikan patung. Sementara itu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status