Se connecterTepat saat jemari Inez hendak menjangkau bibir Axel, Rayan dan seorang senior pria di sampingnya menggoda heboh.
"Cieee... kayaknya sebentar lagi ada yang mau jadian nih!" goda Rayan disusul derak tawa renyah.Aku melirik raut wajah Inez yang mendadak memerah merona sembari menundukkan kepala malu-malu, sementara Axel justru bergeming canggung tanpa ada niat sedikit pun untuk mengonfirmasi atau menolak.Dasar playboy ingusan! Kumat lagi kan penyakit lenjehnya!<Pintu ruang pemeriksaan mendadak terbuka lebar. Langkah-langkah tergesa para perawat menggema saat brankarku kembali didorong keluar, melaju cepat menuju koridor ruang operasi."Kayla!"Suara serak itu memecah kegentingan. Axel menyambar sisi brankar, menyelaraskan langkah pincangnya dengan sekuat tenaga. Wajahnya terlihat pucat pasi dengan peluh dingin yang membasahi pelipisnya. Tangannya yang gemetar menggenggam erat jemariku yang mendingin karena ketakutan."Jangan takut, ya? Lo kuat, Kayla. Gue ada di sini... gue nggak bakal ke mana-mana," ucapnya dengan napas terengah-engah. Senyum lebar terukir di wajahnya meski matanya berkaca-kaca.Aku hanya bisa mengangguk dengan senyum tipis.Genggaman jemari Axel cukup menyalurkan kehangatan tipis sebelum akhirnya terlepas paksa saat brankar yang membawaku didorong melewati batas pintu steril ruang operasi. "Sampai di sini saja ya, Pak," pinta sang perawat pada Axel.Pintu ganda itu tertutup rapat, memutus pandanganku dari sosoknya.Begitu
"Kayla... ada apa?" tanya Axel panik. Tangannya gemetar, ikut meraba perutku yang rasanya makin melilit hebat seperti diperas dari dalam.Namun semakin lama, pasokan udara di paru-paruku seolah menguap. Napasku terasa kian pendek dan memburu hingga tubuhku ambruk, terduduk kaku di kursi samping Axel."Nggak tahu... rasanya sakit banget..." rintihku, mencengkeram lengan bajunya demi mengalihkan rasa nyeri yang teramat sangat."Sepertinya istri Anda mau melahirkan," timpal dokter fisioterapi yang menyadari perubahan wajahku. "Saya akan menghubungi bagian kandungan untuk membantu istri Anda sekarang."Dokter itu dengan cepat meraih gagang telepon di meja, lalu mengetikkan nomor internal rumah sakit. "Tolong ke bagian fisioterapi sekarang! Ada pasien yang hendak melahirkan!"Bersama dengan ucapan itu, sebuah sensasi hangat merembes deras membasahi kakiku. Ketubanku pecah—tepat setelah aku baru saja meyakinkan Axel bahwa bayi kami akan lahir setelah dia benar-benar sembuh. Namun kenyataan
"Aku tidak yakin," sahutku dengan nada lemas, menatap Mr. Sam dengan senyum getir. "Sekalipun Axel akhirnya sembuh, tapi dia adalah seorang direktur. Mana mau dia mau berjalan di depan orang banyak.""Tidak apa-apa, Kayla. Jika Axel tidak bersedia, aku akan mencarikanmu model yang mempunyai tubuh mirip seperti suamimu," sahut Mr. Sam menenangkan, sembari menepuk pelan bahuku.Meski kata-kata itu menenangkan, entah kenapa dadaku terasa sesak. Ada ruang hampa yang mendadak menyeruak di dalam hati. Bagaimanapun, aku sungguh ingin Axel mengenakan desain busana yang aku buat. Busana itu lahir dari tiap tetes harapan dan doa yang kupanjatkan di malam-malam tersulit kami. Aku sudah bisa membayangkan, betapa kerennya hasil desainku jika menempel di tubuh atletis Axel—menampilkan sosok suami gagah yang selalu menopang hidupku."Baik, Mister. Kalau begitu aku pamit dulu."Setelah menandatangani kontrak kerja sama, aku akhirnya berpamitan pulang dan kembali ke villa. Hari demi hari berlalu beg
"Waahh... wanita cantik ini istri kamu?" tanya Tuan Xin dengan wajah penuh kekaguman.Axel mengangguk sambil tersenyum sungkan. "Benar Xin Shényī. Namanya Kayla. Sekarang sedang hamil tujuh bulan."Tuan Xin menghampiriku dengan mata berbinar ramah. Ia mengelus perutku dengan sangat lembut. "Wahh... Aku tidak menyangka kamu akan segera memiliki momongan, Axel," ucapnya sambil terkekeh renyah. "Kalau begitu... kamu harus segera sembuh. Kamu pasti ingin menggendong bayi kamu tanpa tongkat, kan?""Benar Shényī. Saya sudah tidak sabar untuk bisa berjalan tanpa tongkat.""Papa! Kenapa Papa malah ikut senang?" potong Xin Yi dengan nada manja. Ia menghentakkan kakinya di lantai kayu sambil merengek, menatap Axel dengan bibir mengerucut. "Axel... bukannya kamu bilang dia istri sekretarismu?"Aku spontan menoleh pada Axel dengan tatapan tajam membunuh dan wajah yang dipenuhi murka. Dasar tikus got! Apa dia berusaha menyembunyikan statusku?!Axel refleks menoleh padaku dengan raut panik setengah
"Ohh... Axel! Kamu sudah datang?" sapa Tuan Xin begitu pandangannya tertuju pada Axel yang berdiri tak jauh darinya."Ya Shényī. Baru saja sampai," sahut Axel menggunakan bahasa Inggris yang sama lancarnya.Tuan Xin terkekeh pelan, lalu mengulurkan tangannya ke arah deretan bangku. "Duduklah dulu. Aku harus mengobati pasien sesuai antrean.""Baik Xin Shenyi, santai saja."Begitu Tuan Xin masuk kembali ke ruang periksa, aku langsung menyikut lengan Axel tanpa ampun. "Lo bilang keluarga ini cuma bisa bahasa Mandarin. Lantas kenapa tadi Tuan Xin menggunakan bahasa Inggris?" protesku dengan mata melotot membakar.Axel menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil menyunggingkan seringai garing. "Sebenarnya gue nggak pernah bilang Tuan Xin, kan? Gue bilang, Xin Yi yang kurang lancar berbahasa Inggris."Ihh... Alasan aja nih cowok! batinku seraya meliriknya sinis.Lelaki itu kemudian melangkah untuk mendaratkan duduk di bangku dengan bantuan tongkatnya. "Ayo kita duduk sebentar."Tepat setelah
"Lo cemburu?" Axel memiringkan kepalanya, meneliti raut wajahku dengan senyum menggoda.Dasar cowok sialan! Dia senang banget kayaknya melihat aku cemburu. Aku mendengus pelan dengan bibir mengerucut, berusaha menyembunyikan raut wajahku yang sebenarnya."Siapa juga yang cemburu," kelitku sinis.Namun Axel justru menyeringai geli sambil meneliti wajahku dengan tatapan menggoda."Lo gemesin banget, sih kalau lagi marah..." ucapnya sambil mencubit kedua pipiku."Ih... gue nggak marah!" Balasku sambil menepis kedua tangannya dari pipiku.Namun tak terduga, Axel tiba-tiba mengalungkan tangannya di leherku lalu menjatuhkan tubuhku ke atas kasur."Axel!" teriakku berusaha bangkit.Tapi lengan berotot Axel menahan dadaku dengan kuat. Ia membalik wajahku menghadapnya, menatap hangat ke dalam manik mataku."Gue cinta sama Lo, Kayla..." bisiknya dengan suara lembut.Aku yang masih didera kesal hanya menjawab singkat sambil memalingkan wajah. "Udah tahu...""Jadi lo nggak boleh berpikiran macem-







