LOGIN"Emmh..." rintihku pasrah di tengah lumatan bibir Miko yang kian liar dan beringas.
Aku menepuk-nepuk dadanya dengan pergerakan amat lemas, berharap ia mau menghentikan aksinya. Namun, Miko justru bangkit berdiri sembari menggendong tubuhku tanpa melepas ciumannya yang memaksa.Ia melempar tubuhku ke atas ranjang hotel, lalu melepas kemejanya dengan gerakan terburu-buru.Aku yang sudah tak berdaya akibat pengaruh uap aromaterapi manis itu hanya bisa terbaring pasraKelopak mata Hani bergerak cepat seraya tubuhnya mendadak menegang kaku di tempat.Sementara itu, aku dan Axel yang masih mengintip mereka melalui celah kecil pintu kamar tak kuasa menahan tawa seraya membekap mulut rapat-rapat."Kayaknya mereka makin salah tingkah," bisik Axel tepat di telingaku.Aku hanya mengangguk cepat seraya menutup mulut dengan kedua tangan agar tidak meledakkan suara tawa."M-maksudku... aku ingin kembali ke tenda karena merasa gerah di dalam," lanjut Kak Rayan berusaha meluruskan kalimatnya dengan raut wajah sangat canggung.Hani tertawa garing seraya mengangguk-angguk kaku. "Ohh... itu. Ya sudah kalau begitu, Kak Rayan keluar saja. Aku... mau lanjut tidur. Selamat malam..." pamit Hani terburu-buru dengan tingkah yang masih serba salah."Iya, selamat malam."Mereka akhirnya berpisah di depan pintu kamarku dan melangkah menuju tujuan masing-masing.Axel merapatkan kembali pintu hingga terdengar bunyi klik mengunci. Kami kemudian merebahkan diri di atas ranjang
Pandanganku menyapu area sekitar tebing dengan gelisah. "Xel... lo serius mau melakukannya di sini?"Axel terkekeh kecil. "Kalau iya, memangnya lo mau?" godanya seraya kembali meremas dadaku lembut.Aku spontan menahan tangannya yang bersembunyi di balik kausku seraya menggeleng pelan. "Nggak mau! Gue takut tiba-tiba penjaga villa datang pas kita lagi asyik-asyiknya."Axel tiba-tiba terbahak hingga kepalanya mendongak ke atas. Ia akhirnya menarik keluar tangannya dari dalam kausku. "Kayla... Kayla... bisa-bisanya pikiran lo sampai ke sana.""Ya... bisa saja, kan? Bagaimana kalau penjaga itu sampai melihat tubuh gue?"Axel memicingkan sebelah matanya dengan raut makin posesif. "Hmm... gue nggak bakal ngebiarin cowok mana pun melihat tubuh lo."Aku mengangkat bahu seraya mencebikkan bibir."Kalau begitu, ayo kita pindah ke kamar saja!" Tanpa memberi waktu untuk bersiap, Axel langsung menggotong tubuhku. Ia membiarkan kedua kakiku melingkar erat di pinggang kokohnya. Aku spontan mengalun
"KAYLA!! BERANI-BERANINYA KALIAN BERCIUMAN DI DEPAN KAMI?!"Mendengar jeritan nyaring yang seolah memekakkan telinga itu membuat aku dan Axel seketika terperanjat kaget dan menghentikan ciuman kami secara mendadak.Di belakang tempat duduk Axel, Hani sudah berdiri tegak sambil berkacak pinggang. Matanya mendelik menatap kami dengan raut wajah penuh kejengkolan yang siap meletup."DASAR NGGAK TAHU MALU!!" Hani meraup segenggam kacang polong dari atas piring, lalu menaburkannya ke arah kami seraya merutuk kesal. "Dasar pasangan mesum nggak tahu tempat!""Hani, hentikan!" teriakku seraya memiringkan tubuh dan mengangkat tangan untuk menangkis hujan kacang polong yang ia lempar.Dengan sigap, Axel langsung menarik tubuhku ke dalam dekapan hangatnya, melindungiku seraya ikut menangkis sisa lemparan kacang."Hani... maafkan kami..." ucap Axel seraya terkekeh renyah tanpa rasa bersalah.Bersamaan dengan itu, Kak Rayan yang ikut tertawa gelak segera menahan pergelangan tangan Hani yang hendak
"Hani! Kapan gue pernah berbagi pria sama lo?!" candaku berpura-pura marah seraya melemparkan tatapan tajam padanya.Hani mengubah posisi duduknya memutar menghadapku lurus. "Hei... waktu lo ketangkap basah ciuman sama Axel di tepi pantai pas acara camping, lo janji bakal ngebebasin gue berfoto sama Axel!" tunjuknya padaku dengan mata membelalak lebar.Suasana di area glamping seketika berubah hening mencekam. Suara gemerisik dedaunan di sekitar tebing mendadak menjadi satu-satunya latar bunyi. Semua terdiam, berusaha mencerna kalimat yang baru saja meluncur liar dari mulut Hani.Deg! Hatiku langsung mencelos seketika. Sialan Hani! Dia malah membongkar aibku di depan Kak Rayan!Kak Rayan sempat melirik aku dan Axel secara bergantian dengan tatapan tak percaya, sebelum ia mencondongkan tubuhnya ke depan seraya menatap Hani dengan raut penasaran yang intens."Maksud kamu... mereka ciuman di pinggir pantai waktu acara camping Mapala?" tanya Kak Rayan memancing informasi lebih dalam.Aku
Aku tertawa garing, berusaha menyembunyikan rasa gelisah. "Kak Rayan sama Hani... nanti bisa mendengar suara kita.""Terus kenapa? Kita kan pasangan suami istri sah," sahut Axel santai seraya menatapku lekat-lekat.Aku menelan ludah dengan susah payah, mencoba mencerna jalan pikiran Axel yang serba nekat. "I-iya, sih..."Axel perlahan melepas pelukannya di pinggangku. Ia kembali merapatkan kerah jaketku dengan senyum tipis yang tertahan. "Lo duluan saja ke tenda. Gue mau ganti baju sebentar."Aku hanya mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum tipis.Sebelum melangkah pergi, Axel sempat mendaratkan kecupan hangat di keningku sebelum akhirnya menghilang masuk ke dalam kamar.Aku pun berjalan kembali menuju area tenda glamping di tepi tebing. Di sana, kudapati Hani sudah nyaman duduk di sofa empuk. Di atas meja, hidangan daging bakar sudah tersaji rapi, lengkap dengan camilan pelengkap serta deretan kaleng minuman dingin."Kayla!!" panggil Hani seraya melambaikan tangannya padaku.K
Hah? Jadi... Kak Rayan sampai berniat pindah ke luar negeri hanya untuk melupakanku?Jika keadaannya sudah seperti ini, mana mungkin aku berani meminta izin pada Axel untuk mengambil beasiswa dan kuliah di luar negeri? Pria itu pasti bakal salah paham dan mengira aku sengaja menyusul Kak Rayan ke sana!Aku kembali menyandarkan punggung ke dinding dingin di belakangku seraya menghela napas panjang. Sepertinya aku memang harus mengubur impian besar itu dalam-dalam. Sudahlah... belajar di dalam negeri saja tidak masalah. Aku tidak harus memaksakan diri mengejar karier di luar negeri hanya demi membuktikan diri sebagai desainer ternama."Lo serius mau kuliah di luar negeri?" suara Axel yang mendadak terdengar ceria kembali bergema di dapur."Emm, tentu saja."Aku kembali memberanikan diri mengintip sedikit dari balik celah tembok. Axel terlihat menghampiri Kak Rayan seraya menepuk bahu sahabatnya itu pelan."Thanks, Bro. Gue sangat berterima kasih kalau lo melakukan semua ini demi gue da







