Masuk"Siap, Pa!" sahut Axel dengan nada penuh semangat yang melonjak-lonjak.
Ia menoleh padaku, menyunggingkan seringai licik yang teramat menyebalkan. Sementara aku hanya bisa membeku di tempat, menatapnya dengan kening berkerut dalam dan tatapan horor.Perasaanku mendadak tidak enak. Sepenuhnya diserahkan ke dalam genggaman kekuasaan Axel bukanlah sebuah keputusan yang bijak. Aku tahu betul seberapa jahil dan liciknya otak pria ini. Jangan-jangan... dia benar-benar berencana meJantungku serasa berhenti berdetak seketika. Tanpa memedulikan tatapan aneh dari orang-orang di sekitar lobi, aku langsung mencekal pergelangan tangan model pirang itu dan menariknya paksa menjauh dari kerumunan, membawa tubuhnya mendekati sudut ruangan yang lebih sepi."Apa maksud kamu?!" tanyaku panik dengan suara bergetar.Model pirang itu justru menyunggingkan senyum miring penuh kemenangan. Tanpa bersuara, ia mengusap layar ponsel di genggamannya lalu menyodorkannya tepat di depan wajahku. "Kamu belum lihat artikel gosip pagi ini?"Dengan jemari yang dingin dan gemetar, aku menyambar ponsel itu. Mataku membelalak sempurna menatap tajam ke arah layar. Sebuah judul berita besar tercetak tebal di sana: 'Sang Model Misterius Akhirnya Menunjukkan Sang Kekasih.' Di bawah tagline provokatif itu, terpampang foto jernih bagian samping mobil sedan hitam semalam, menampilkan siluet diriku yang duduk di kursi kemudi di samping James. Meski paras wajahku agak samar karena dibidik dari kejau
Kuurut pelipisku yang mendadak berdenyut nyeri. Kepala ini rasanya mau pecah menghadapi teka-teki gelap yang tak sanggup kutanggung seorang diri. Namun, aku memilih bungkam. Tidak mungkin aku membagi beban ini pada Mama; jika dia sampai mencium keterlibatan James dan kepungan wartawan itu, impian fashion show-ku dipastikan bakal tamat seketika."Kayla... Kamu ada yang disembunyikan dari Mama?"Suara Mama mendadak memecah keheningan. Aku terperanjat kaget, cepat-cepat menyunggingkan senyum paksa demi menutupi kepanikan."Nggak kok, Ma. Kayla cuma lelah banget... pengen istirahat," alibiku pelan.Mama menatapku sejenak, lalu mengangguk tanpa rasa curiga. "Ya sudah, berikan Sira sama Mama. Kamu istirahat saja, gih."Dengan sigap aku bangkit dari sofa, menyerahkan bayi mungilku ke dalam dekapannya. "Makasih ya, Ma. Kayla mau tidur duluan."Begitu pintu kamar tertutup rapat, bukannya merangkak ke atas kasur, aku justru menarik kursi meja kerja.Jemariku langsung menyambar pensil dan kerta
Langkah kakiku tergesa-gesa membelah pelataran rumah sakit. Begitu keluar dari pintu utama, mataku langsung menangkap bayangan mobil SUV hitam milik para wartawan yang masih setia terparkir di seberang jalan. "Taksi!" teriakku pada taksi yang lewat.Sialnya, salah satu dari wartawan itu sempat membidik wajahku dengan lensa panjang tepat saat aku melambaikan tangan mencegat sebuah taksi yang kebetulan melintas.Tanpa membuang waktu, aku langsung merangsek masuk ke dalam kabin taksi, buru-buru menarik pintu hingga tertutup rapat sembari menutupi wajahku menggunakan telapak tangan."Sialan! Ngapain sih mereka terus-menerus mengawasiku?!" gerutuku kesal, menoleh ke kaca belakang, memperhatikan mobil itu yang mulai tertinggal jauh.Namun, beberapa detik kemudian, aku menarik napas panjang, mencoba merilekskan otot-otot bahuku yang menegang. Aku menyandarkan punggung dengan santai ke jok taksi.Bodoh amat! Toh aku bukan siapa-siapa di negara ini. James pasti hanya menggertak dan mengancamk
Ibu James mengulurkan tangannya yang kurus dan gemetar ke arahku, gerakannya begitu lemas dan patah-patah. "Nak... Kemarilah..." bisiknya parau, sepasang matanya yang cekung menatapku penuh pendar harapan.Tubuhku membeku kaku di atas lantai keramik. Jantungku berdegup gila, dihantam badai kebingungan yang teramat sangat. Ya Tuhan, apa-apaan semua ini? Kenapa takdir membawaku ke dalam pusaran kegilaan yang membingungkan ini?James menoleh padaku. Tidak ada sedikit pun riak rasa bersalah di wajah tampannya yang dingin. "Kayla... Kemarilah. Sapa Ibu," perintahnya tenang.Sialan si James! Kenapa pria gila ini sengaja mengunciku dalam situasi serba salah begini?! jerit batinku murka. Kalau aku terang-terangan menolak dan membongkar kebohongannya sekarang, kasihan wanita tua yang sedang kritis itu... tapi kalau aku menuruti sandiwaranya, aku bakal semakin terperangkap jauh dalam permainannya!"Nak... Kemarilah..." panggil sang ibu sekali lagi, suaranya makin nyaris tak terdengar.Terjepi
"Kamu mau berpikir berapa lama lagi, huh?" meluncur gertakan rendah dari bibir James, penuh tekanan yang menghujam tajam. "Sebentar lagi, wartawan-wartawan itu akan makin mendekati mobil ini."Aku terperanjat hebat. Mataku refleks melempar pandangan ke luar jendela, mengawasi gerak-gerik dua pria berjaket gelap di balik pilar parkiran. Kilatan kilat kamera meletup berulang kali di kegelapan sore. Dadaku berpacu gila, rasanya mau meledak tatkala bayangan tubuh para pemburu berita itu benar-benar melakukan pergerakan mendekati posisi mobil ini.Sialan! Sepertinya aku benar-benar tidak punya pilihan lagi selain menuruti gilanya pria ini! batinku menjerit frustrasi.Dengan jemari yang gemetar hebat, aku akhirnya menuruti perintah James. Kutekan tombol start-engine, membuat deru mesin mobil meraung halus. Aku menoleh pada James, melemparkan tatapan sinis penuh kebencian."Ke mana tujuan kita?!" tembakku ketus.James menyeringai penuh kemenangan. Tanpa mengalihkan pandangan dariku, tangann
James tertawa singkat, melayangkan tatapan menggoda yang membuat bulu kudukku meremang. "Mobil kamu? Kamu tidak salah?"Dahiku mengernyit dalam, meradang menatap pria di sampingku dengan amarah yang memuncak. "Kamu tidak usah main-main, James! Ini memang mobilku. Cepat keluar dari sini sebelum aku panggil keamanan!"Namun, bukannya melangkah pergi atau memperlihatkan raut panik, James justru menyandarkan punggungnya santai, menyilangkan kedua tangannya di dada. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya, sarat akan teka-teki yang sengaja ingin memojokkanku. "Apa kamu sudah memastikan... kalau ini benar-benar mobil kamu?"Kalimat dingin itu meluncur begitu tenang, bertolak belakang dengan gemuruh yang mendadak menghantam dadaku. Kenapa dia begitu percaya diri? batinku mulai bergolak penuh kebingungan. Pikiranku mendadak kacau. Memang benar mobil yang kukuasai beberapa hari terakhir ini adalah mobil sewaan yang disiapkan Axel untukku, sebuah sedan hitam dengan interior kelabu kusam yang







