MasukMatahari pagi baru saja memancarkan sinarnya yang hangat saat mobil van hitam milik James memasuki pelataran parkir basement kantor agensi dan terparkir sempurna di tempat biasa. Mesin dimatikan, menyisakan keheningan sesaat di dalam kabin yang temaram.Aku merogoh tas kerjaku, mengeluarkan sebuah kotak perhiasan beludru kecil berwarna hitam yang telah kuisi dengan salah satu anting tindik penyadap milik Xin Yi semalam. Dengan senyum yang dipoles semanis mungkin, aku menyerahkan kotak itu tepat di depan wajah James."Taraa... Kejutan buat kamu!" sapaku riang.James mengerjap beberapa kali, tercengang sejenak sebelum bibirnya merekah membentuk senyuman lebar. "Apa ini?""Biar aku buka untukmu," ucapku antusias.Aku membuka penutup kotak perhiasan itu, lalu mengambil anting tindik hitam minimalis dari dalam bantalannya. Dengan gerakan hati-hati, aku mendekat dan memasangkan tindik tersebut tepat di daun telinga kiri James. "Ini hadiah jadian buat kita. Kamu suka nggak?"James mengangk
"Aku akan mencobanya, Xin Yi," jawabku mantap.Xin Yi akhirnya menyodorkan kantong kain berisi perangkat penyadap mikro canggih itu ke pangkuanku. "Kalau kamu mau, aku bisa meminta temanku untuk ikut turun tangan membantumu."Aku meraba bentuk penyadap yang sangat halus di dalam kantong, menatapnya seraya memeras otak. "Apa... temanmu itu punya akses yang bisa terhubung langsung dengan divisi narkoba?"Dahi Xin Yi mengernyit bingung. "Divisi narkoba?""Aku curiga Inez juga terlibat kejahatan narkoba dan menjebak orang lain," celotehku jujur. "Tapi dia punya benteng pelindung yang sangat kuat di negara ini. Aku tidak yakin bisa mengungkap kejahatannya sendirian.""Siapa pelindungnya?""Kedutaan besar dari negara Indrata."Bibir Xin Yi mengukir senyum miring yang terkesan meremehkan. "Bukankah status Inez sudah resmi jadi buronan di sana?"Aku mengangguk ragu. "Tapi... dia itu keponakan kandung Kedubes.""Secara hukum internasional, dia sama sekali tidak punya kekebalan diplomasi karena
Aku meloloskan tawa garing yang dipaksa, lalu mendongak mendekatkan bibirku tepat ke samping telinga Mama seraya menutupi sisi kiri mulutku dengan telapak tangan. "Bagaimana kalau kita culik dia saja, Ma...?" bisikku penuh rencana gila.Mama menarik kepalanya mundur seketika. Matanya membelalak sempurna menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Benar-benar cerdas! Kamu memang anak Mama, Kayla!"Tubuh kami berdua membeku sesaat, saling melempar pandangan kaku sebelum akhirnya pertahanan kami jebol dan tawa geli meledak bersamaan menanggapi lelucon konyol kami sendiri."Ayo, kita bicara di dalam saja," ajakku mengibaskan tangan pada Xin Yi dengan tawa ringan yang masih tersisa.Kami bertiga akhirnya melangkah masuk membelah lorong vila, merangsek menuju sofa ruang tengah. Kurogoh pandanganku ke arah jemari Xin Yi yang memeluk erat kantong kain misterius itu."Apa barang yang aku minta komplit?" tanyaku tak sabar.Xin Yi mengangkat kantong di genggamannya, menyunggingkan senyum ba
"Kayla beneran nggak selingkuh, Ma..."Aku spontan meloncat mundur, menyembunyikan seluruh tubuhku di belakang punggung Xin Yi demi menghindari jangkauan amukan Mama yang sudah pasang kuda-kuda."Jangan bohong kamu! Pantas saja model itu selalu menjemput ke Villa! Kalau nggak pacaran apa namanya?!" teriak Mama sambil menunjukku murka."Mati kau, Xin Yi..." bisikku panik setengah mati di samping telinganya, lalu mendorong punggung Xin Yi kesal. "Kenapa kamu malah membangunkan serigala yang sedang tertidur pulas, huh?!""Rasakan! Itu hukuman buatmu," sindir Xin Yi sambil terkekeh kecil."Dasar rubah kecil!" rutukku sambil berusaha menghindari jangkauan tangan Mama.Sementara Mama kini melangkah maju dengan mata mendelik lebar, berkacak pinggang hendak menyambar tubuhku sambil mengomel serupa mengomeli anak balita yang ketahuan mencuri permen. "Kamu ini memang benar-benar tidak bisa dinasihati, ya! Berani-beraninya kamu mengkhianati menantu Mama yang tampan itu, Kayla?!""Nggak, Ma! Ngg
Tepat saat desah napas hangat James hampir membelai bibirku, benturan keras dari luar dinding kaca van mendadak melengking nyaring.TOK! TOK!James tersentak kaku, seketika menyentak tubuh tegapnya mundur ke belakang."Kayla... apa itu kau?" suara lantang Xin Yi mengalun menembus kaca mobil yang temaram.Aku spontan menoleh ke samping. Di luar sana, sosok Xin Yi tengah berdiri dengan dahi berkerut, menempelkan kedua tangannya di pinggir kaca berusaha menerawang ke dalam kabin yang gelap.Ya Tuhan, terima kasih! batinku menjerit lega luar biasa, mendadak pasokan oksigen kembali memenuhi paru-paruku. Aku selamat lagi dari jebakan ciuman ini!"Itu... tetanggaku," bisikku pada James.Jemariku baru saja menyentuh tuas pintu mobil, namun dengan cepat jemari kekar James mencekal pergelangan tanganku, menahan pergerakanku."Kenapa kamu kelihatan begitu takut padanya?" selidik James dengan dahi berlipat tajam. "Itu wanita yang tadi pagi, kan?""Iya," sahutku cepat, memutar otak mencari alibi w
James melepaskan pelukannya perlahan. Jemari kekarnya kemudian meraih tanganku, menggenggamnya mesra seraya menuntunku kembali melangkah menuju ruangan desainer.Begitu pintu terhempas menutup, James berbalik memandangku. "Kayla... benarkah kamu mau menjalin hubungan sungguhan denganku?" tanyanya penuh harap. Binar matanya berkilat intens, seolah keinginan itu mencuat murni dari lubuk hatinya yang paling dalam, bukan sekadar sandiwara yang ia susun bersama Inez.Aku menelan ludah, menatapnya ragu. "Apa... kamu benar-benar mau menerimaku yang sudah memiliki seorang anak?"Bibir James mengukir senyum lebar. Tanpa ragu, ia kembali menarik tubuhku masuk ke dalam dekapan hangat yang erat. "Kayla... seperti apa pun keadaanmu, aku akan menerima kau apa adanya. Aku berjanji akan menyayangi anakmu seperti anakku sendiri."Nada suaranya bergetar tulus, meluncur begitu mulus seolah-olah ungkapan itu terlahir dari dasar jiwanya. Jika aku tidak melihat dan mendengar sendiri persekongkolan busuknya







